Quiet Cracking di Kantor: Saat Kamu Masih Bekerja, tetapi Sudah Tidak Merasa Terhubung

quiet cracking di tempat kerja

Kamu masih datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan, membalas email, ikut meeting, bahkan sesekali bercanda dengan rekan kerja. Dari luar, semuanya terlihat biasa saja. Tapi di dalam hati, ada sesuatu yang berubah: pekerjaan terasa semakin berat, motivasi menurun, dan setiap Senin seperti membutuhkan tenaga ekstra.

Kamu belum tentu ingin resign. Bisa jadi kamu masih membutuhkan penghasilan, belum menemukan pekerjaan lain, atau sekadar belum tahu harus mulai dari mana. Yang berubah adalah hubunganmu dengan pekerjaan. Kamu masih menjalankannya, tetapi sudah tidak merasa benar-benar terhubung.

Kondisi seperti ini belakangan dikenal sebagai quiet cracking.

Menurut SHRM dalam artikel Disengaged Employees are “Quiet Cracking”: What To Know About This Trend, quiet cracking menggambarkan pekerja yang terus-menerus merasa tidak bahagia atau tidak puas dengan pekerjaannya, tetapi tetap bertahan karena meninggalkan pekerjaan belum tentu menjadi pilihan yang aman.

Istilahnya memang relatif baru. Namun, pengalaman yang digambarkannya sebenarnya bukan sesuatu yang asing di dunia kerja.

Baca Juga: Kerja Satu Kurang, Kerja Banyak Meriang: Kenapa ‘Polyworking’ Dianggap ‘New Normal’

Apa Itu Quiet Cracking?

Quiet cracking bisa dibayangkan seperti retakan kecil yang muncul perlahan pada sebuah bangunan. Tidak langsung terlihat sebagai kerusakan besar, tetapi jika terus dibiarkan, struktur di dalamnya bisa semakin melemah.

Dalam konteks pekerjaan, “retakan” tersebut muncul ketika motivasi, keterikatan emosional, rasa percaya diri, dan pandangan terhadap masa depan di tempat kerja perlahan menurun. Menariknya, seseorang masih bisa terlihat produktif dari luar.

UConn Today, melalui artikel Management Professor Offers Advice on How to Combat ‘Quiet Cracking’ in the Workplace, mengutip profesor manajemen Travis Grosser yang menggambarkan quiet cracking sebagai proses ketika pekerja perlahan kehilangan keterikatan terhadap pekerjaan, tetapi tetap bertahan. Tandanya dapat berupa ketidakbahagiaan yang menetap, merasa tidak dihargai, kehilangan keyakinan terhadap masa depan di organisasi, hingga meningkatnya keinginan untuk berhenti.

Kajian yang diterbitkan International Journal of Organizational Analysis pada Agustus 2026 juga mulai mengembangkan quiet cracking sebagai konsep yang lebih spesifik. Penelitian Organizational predictors of quiet cracking: developing a measurement framework and testing structural risk models in contemporary workplaces menggambarkannya sebagai erosi psikologis yang berlangsung secara perlahan: performa dari luar masih dipertahankan, sementara motivasi, ketahanan emosional, dan pandangan terhadap masa depan mulai menurun.

Artinya, quiet cracking bukan sekadar sedang malas bekerja satu atau dua hari.

Quiet Cracking Beda dengan Quiet Quitting

Istilah quiet cracking sering disamakan dengan quiet quitting. Padahal, keduanya tidak persis sama.

Quiet quitting lebih merujuk pada keputusan untuk tidak lagi memberikan tenaga di luar tanggung jawab pekerjaan. Seseorang tetap mengerjakan tugasnya, tetapi tidak merasa harus selalu lembur, membalas pesan kantor di luar jam kerja, atau mengambil pekerjaan tambahan tanpa batas.

Sementara itu, quiet cracking lebih berkaitan dengan hilangnya keterikatan terhadap pekerjaan secara perlahan.

UConn Today menjelaskan perbedaannya dari sisi intensi. Quiet quitting lebih merupakan tindakan yang disengaja untuk membatasi usaha, sedangkan quiet cracking terjadi ketika seseorang perlahan kehilangan motivasi karena merasa tidak dihargai, tidak punya arah perkembangan, atau terjebak dalam pekerjaannya.

Karena itu, seseorang yang sedang mengalami quiet cracking belum tentu ingin “kerja santai”. Bisa jadi dia justru ingin kembali merasa bersemangat, tetapi sudah tidak tahu bagaimana caranya.

Baca juga: Habis ‘Quiet Quitting’ Terbitlah ‘Loud Quitting’, Tren Baru yang Berbahaya

Tanda-tanda Kamu Mengalami Quiet Cracking

Satu tanda saja tentu tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami quiet cracking. Bosan setelah minggu yang berat atau ingin mengambil cuti adalah hal yang wajar.

Yang perlu diperhatikan adalah pola yang terus berulang dan berlangsung cukup lama.

Kamu Masih Bekerja, tetapi Sudah Tidak Peduli

Deadline tetap dikerjakan. Meeting tetap dihadiri. Email tetap dibalas.

Namun, kamu tidak lagi terlalu peduli dengan hasil akhirnya.

Kalau dulu kamu ingin presentasi terlihat bagus atau mencari cara agar proyek berjalan lebih baik, sekarang yang penting pekerjaan selesai. Kamu bekerja dalam mode autopilot: tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak lagi merasa menjadi bagian penting dari pekerjaan tersebut.

Kamu Sering Berpikir, “Buat Apa Aku Berusaha?”

Kamu pernah memberikan usaha ekstra, tetapi tidak mendapatkan apresiasi atau perkembangan yang diharapkan. Lama-kelamaan, muncul pikiran bahwa usaha lebih keras tidak akan mengubah apa pun.

Akhirnya, kamu memilih melakukan secukupnya.

Ini bukan selalu soal malas. Bisa jadi kamu sudah kehilangan kepercayaan bahwa usaha dan hasil memiliki hubungan yang masuk akal di tempat kerja tersebut.

Inisiatif dan Antusiasme Menurun

Dulu kamu aktif mengajukan ide, menawarkan bantuan, mengikuti pelatihan, atau tertarik mengambil proyek baru.

Sekarang responsmu lebih sering, “Yang penting tugas gue selesai.”

SHRM mencatat bahwa pekerja yang mengalami quiet cracking dapat mulai kehilangan minat terhadap perkembangan karier, merasa kontribusinya tidak berarti, dan menarik diri dari keterlibatan yang sebelumnya mereka lakukan.

Kamu Tidak Bisa Membayangkan Masa Depan di Sana

Gaji mungkin cukup. Rekan kerja juga tidak selalu bermasalah. Tetapi ketika membayangkan dirimu masih berada di posisi yang sama satu atau dua tahun lagi, rasanya tidak menarik.

Pertanyaan seperti “Kalau aku tetap di sini, sebenarnya aku akan berkembang ke mana?” mulai sering muncul.

Perasaan stuck ini penting diperhatikan karena masalahnya mungkin bukan sekadar pekerjaan yang sedang melelahkan, melainkan hilangnya kepercayaan bahwa tempat kerja tersebut masih menyediakan masa depan yang kamu inginkan.

Kamu Hanya Menunggu Jam Pulang dan Hari Gajian

Menunggu jam pulang atau tanggal gajian tentu normal.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika keduanya menjadi hampir satu-satunya hal yang membuatmu bertahan.

Pekerjaan tidak harus selalu menyenangkan. Namun, jika setiap hari terasa seperti sesuatu yang harus dilewati agar bisa menerima gaji, sementara tidak ada lagi rasa berkembang, terhubung, atau bangga terhadap pekerjaan, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi.

Kamu Semakin Sinis terhadap Kantor

Kebijakan baru langsung dianggap buruk. Program baru dianggap tidak akan berhasil. Ketika atasan bicara soal perkembangan karier, kamu sudah tidak percaya.

Sedikit skeptis sebenarnya bukan masalah. Namun, kalau hampir semua hal di kantor otomatis dipandang negatif, bisa jadi ada kekecewaan yang sudah menumpuk.

Kamu Mulai Menarik Diri

Kamu tetap sopan kepada rekan kerja, tetapi mulai jarang ikut makan siang bersama, tidak tertarik mengikuti obrolan kantor, atau lebih sering diam di grup kerja.

Sesekali ingin sendiri tentu wajar. Tetapi jika menarik diri menjadi pola baru karena kamu sudah tidak punya energi untuk terhubung dengan lingkungan kerja, kondisi tersebut layak diperhatikan.

Kenapa Quiet Cracking Bisa Terjadi?

Tidak ada satu penyebab tunggal.

SHRM menyebut beberapa faktor yang dapat mendorong quiet cracking, mulai dari ketidakpastian ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan baru, beban kerja yang tidak terkendali, kurangnya apresiasi, kepemimpinan yang buruk, sampai minimnya kesempatan pengembangan karier.

Itu sebabnya, menyebut seseorang “kurang motivasi” tidak selalu menyelesaikan masalah. Bisa jadi motivasinya terkikis oleh lingkungan kerja yang memang tidak memberi banyak alasan untuk tetap terlibat.

Penelitian terbaru tentang quiet cracking juga menempatkan persoalan organisasi sebagai bagian penting. Kajian di International Journal of Organizational Analysis menemukan bahwa faktor struktural organisasi berkaitan dengan kerentanan terhadap quiet cracking, meski peneliti juga menekankan bahwa validasi pada tingkat individu masih diperlukan.

Jadi, jangan buru-buru menganggap semua masalah berasal dari diri sendiri.

Baca Juga: Mengatasi Toxic Positivity: Menjaga Keseimbangan Emosional di Lingkungan Kerja

Kalau Mengalaminya, Harus Resign?

Belum tentu.

Menyadari bahwa kamu mungkin sedang mengalami quiet cracking justru bisa menjadi kesempatan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya salah.

Mulai dengan pertanyaan sederhana: apa ya yang paling menguras energi?

Apakah workload terlalu besar? Atasan sulit diajak berkomunikasi? Tidak ada kesempatan berkembang? Pekerjaan terasa tidak bermakna? Atau batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sudah terlalu kabur?

Coba catat selama beberapa minggu. Perhatikan pekerjaan atau situasi apa yang membuatmu paling lelah dan kapan kamu justru merasa sedikit lebih bersemangat. Dari situ, masalah yang awalnya terasa seperti satu gumpalan besar bisa menjadi lebih spesifik.

Kalau masalahnya berkaitan dengan workload atau prioritas, kamu mungkin bisa membicarakannya dengan atasan. Jika merasa karier stagnan, kamu bisa meminta feedback atau mencari peluang belajar baru.

Namun, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan mengubah pola kerja pribadi.

Kalau kamu sudah mencoba berbagai cara tetapi lingkungan tetap sama, kesempatan berkembang tidak ada, atau hubungan kerja terus menguras energi, mempertimbangkan pekerjaan lain juga bukan berarti kamu gagal.

Yang penting, jangan membuat keputusan besar hanya karena sedang berada di titik paling lelah. Jika memungkinkan, siapkan langkahnya: perbarui CV, cek kondisi finansial, bangun jaringan profesional, dan cari tahu peluang yang tersedia.

Di sisi lain, jangan memaksakan diri bertahan jika tempat kerja melibatkan pelecehan, diskriminasi, kekerasan, atau kondisi yang mengancam keselamatan dan hakmu.

Quiet cracking tidak selalu terlihat dari seseorang yang berhenti bekerja atau ingin resign. Kadang, seseorang masih mengerjakan semuanya seperti biasa, hanya saja sudah tidak menemukan banyak alasan untuk merasa terlibat.

Kalau perasaan itu terus muncul, mungkin yang perlu dilakukan bukan langsung mengambil keputusan besar. Coba lihat lagi apa yang sebenarnya membuat pekerjaan terasa berat: beban kerja, lingkungan kantor, hubungan dengan atasan, atau mungkin karena kamu memang sudah tidak melihat masa depan di sana.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Website | + posts

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.

About Kevin Seftian

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.

View all posts by Kevin Seftian →