ciri ciri burnout

Apa Itu “Rust-Out” Pekerja? Kenali Tanda dan Cara Mengatasinya

Kalau mendengar kata burnout, yang terbayang biasanya pekerjaan yang tidak ada habisnya. Deadline datang bertubi-tubi, rapat memenuhi kalender, pesan dari kantor masuk sampai malam, dan waktu istirahat makin tipis.

Tapi bagaimana kalau masalahnya justru bukan karena pekerjaan terlalu banyak?

Kamu tetap masuk kantor, menyelesaikan tugas, menghadiri meeting, bahkan mungkin masih punya energi setelah jam kerja. Hanya saja, pekerjaan terasa hambar. Tugas yang sama terus berulang, tidak ada tantangan baru, dan perlahan muncul pikiran, “Sebenarnya aku berkembang di sini atau cuma mengulang hal yang sama?”

Pengalaman seperti ini dikenal sebagai rust-out.

American Psychological Association (APA), dalam artikel The hidden cost of workplace rustout, menjelaskan rust-out sebagai chronic understimulation and boredom at work, yakni kondisi ketika seseorang mengalami kurang stimulasi dan kebosanan di tempat kerja secara terus-menerus. Pekerja bisa merasa kurang tertantang, kemampuannya tidak terpakai, dan akhirnya kehilangan keterlibatan dengan pekerjaan.

Baca Juga: Tanda-tanda Fase ‘Burnout’ Kerja yang Sering Diabaikan

Apa Itu Rust-Out Pekerja?

Secara sederhana, rust-out menggambarkan situasi ketika pekerjaan tidak memberikan cukup tantangan, variasi, stimulasi, atau kesempatan berkembang.

Misalnya kamu punya laptop dengan spesifikasi tinggi, tetapi hampir setiap hari hanya digunakan untuk membuka dokumen yang sama, dipakai untuk balas email, dan mengisi spreadsheet. Laptop itu sebenarnya mampu melakukan lebih banyak hal, tetapi kapasitasnya tidak pernah benar-benar digunakan.

Kurang lebih seperti itulah pengalaman pekerja yang mengalami rust-out.

Dari luar, orang tersebut bisa terlihat baik-baik saja. Ia tetap datang bekerja, menyelesaikan tugas, dan memenuhi target. Namun, pekerjaan tidak lagi terasa membuat penasaran. Ada perasaan bahwa kemampuan yang dimiliki sebenarnya bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih menantang.

Konsep ini berdekatan dengan bore-out, yang lebih dulu banyak dibahas dalam literatur tentang kebosanan kerja. Penelitian di Frontiers in Psychology berjudul Creation and Validation of the First French Scale for Measuring Bore-Out in the Workplace menjelaskan bahwa konsep bore-out yang dikembangkan Rothlin dan Werder mencakup tiga komponen utama: kebosanan, kurangnya tantangan, dan berkurangnya ketertarikan profesional.

Jadi, rust-out bukan sekadar sedang bosan karena hari ini tidak ada pekerjaan menarik. Persoalannya muncul ketika rasa bosan dan stagnasi berlangsung cukup lama hingga memengaruhi cara seseorang memandang pekerjaan dan perkembangan kariernya.

Rust-Out vs Burnout, Apa Bedanya?

Keduanya bisa sama-sama membuat seseorang kehilangan motivasi. Namun, sumber masalahnya berbeda.

Pada burnout, persoalannya lebih dekat dengan tuntutan yang terlalu tinggi. Beban kerja, tekanan terus-menerus, atau tuntutan pekerjaan dapat membuat seseorang merasa kehabisan energi.

Sementara itu, rust-out muncul dari arah sebaliknya: kurangnya stimulasi.

Kalau burnout terasa seperti, “rasanya gw udah capek banget kerja” rust-out bisa terasa seperti, “Gw sebenarnya masih sanggup kerja, tapi kok rasanya enggak ke mana-mana?.”

APA juga menekankan perbedaan tersebut dalam The hidden cost of workplace rustout. Pekerja yang mengalami rust-out dapat terlihat produktif, tetapi secara internal merasa tidak terhubung dengan pekerjaannya. Kurangnya tantangan, variasi, otonomi, dan kesempatan menggunakan kemampuan dapat berkontribusi pada kondisi tersebut.

Meski begitu, keduanya tidak selalu berdiri sendiri. Penelitian Lotta K. Harju, Anahí Van Hootegem, dan Hans De Witte dalam Journal of Vocational Behavior, Bored or burning out? Reciprocal effects between job stressors, boredom and burnout, menunjukkan bahwa kebosanan dan burnout dapat memiliki hubungan timbal balik. Artinya, pengalaman seseorang tidak selalu bisa dimasukkan secara rapi ke satu kategori.

Baca juga: Quiet Cracking di Kantor: Saat Kamu Masih Bekerja, tetapi Sudah Tidak Merasa Terhubung

Tanda-Tanda Kamu Mungkin Mengalami Rust-Out

1. Pekerjaan Terasa Monoton

Kamu sudah tahu apa yang akan dikerjakan bahkan sebelum membuka laptop.

Rutinitas memang tidak selalu buruk. Pekerjaan yang sudah dikuasai bisa membuat proses kerja lebih efisien. Masalahnya muncul ketika hampir tidak ada variasi dan kesempatan mencoba sesuatu yang baru. Setiap hari terasa seperti mengulang hari sebelumnya.

2. Kamu Tidak Lagi Merasa Tertantang

Tugas yang diberikan terasa terlalu mudah. Kamu bisa menyelesaikannya tanpa banyak berpikir dan sudah lama tidak mendapatkan proyek yang membuatmu mempelajari kemampuan baru.

Kalau hanya sesekali, tentu bukan masalah. Namun, ketika berbulan-bulan tidak ada peningkatan tanggung jawab atau kompleksitas pekerjaan, rasa stagnan bisa muncul.

Forbes, dalam artikel 7 Signs You’re Suffering From Career ‘Rust Out,’ Not Job Burnout, memasukkan jarangnya kesempatan belajar dan kurangnya tantangan sebagai tanda yang patut diperhatikan.

3. Kemampuanmu Terasa Tidak Terpakai

Kamu mungkin punya kemampuan menulis, analisis data, desain, komunikasi, memimpin proyek, atau kemampuan teknis tertentu. Namun, pekerjaan sehari-hari hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuan tersebut.

Lama-kelamaan muncul perasaan, “Gw sebenarnya bisa lebih dari ini.”

Perasaan underutilized seperti ini merupakan salah satu karakteristik yang dibahas APA ketika menjelaskan rust-out. Pekerja dapat merasa kurang dimanfaatkan meskipun dari luar pekerjaannya terlihat baik-baik saja.

4. Tidak Punya Alasan untuk Antusias Memulai Hari

Bukan berarti kamu membenci kantor. Hanya saja, tidak ada sesuatu yang benar-benar ingin dikerjakan.

Melihat kalender kerja pun terasa datar. Meeting berjalan seperti biasa, proyek tidak banyak berubah, dan Senin pagi terasa seperti awal dari lima hari yang harus dilewati.

5. Sering Menunda Pekerjaan yang Sebenarnya Mudah

Menunda pekerjaan tidak selalu berarti malas. Ketika sebuah tugas terlalu repetitif atau tidak menarik, perhatian lebih mudah berpindah ke hal lain. Kamu mungkin membuka media sosial, mengecek pesan, atau melakukan pekerjaan kecil lain sebelum kembali ke tugas utama.

APA juga mencatat bahwa kebosanan di tempat kerja dapat berkaitan dengan kesulitan mempertahankan perhatian, mind wandering, dan prokrastinasi.

Kenapa Rust-Out Bisa Terjadi?

Kadang persoalannya bukan pada pekerjanya, melainkan pada bagaimana pekerjaan tersebut dirancang.

Pekerjaan yang sangat repetitif, minim otonomi, terlalu sempit, atau tidak memberikan kesempatan menggunakan kemampuan dapat membuat seseorang semakin tidak terlibat. APA mencatat bahwa desain pekerjaan, termasuk variasi tugas, otonomi, makna, dan kesempatan menggunakan keterampilan, berhubungan dengan keterlibatan pekerja.

Karena itu, solusi rust-out tidak selalu sesederhana “coba lebih produktif”. Kalau sumber masalahnya adalah pekerjaan yang tidak memberikan ruang berkembang, menambah jumlah tugas belum tentu menyelesaikan persoalan.

Baca juga: Merasa Stagnan dan Hilang Semangat, Apa Itu ‘Sophomore Slump’ di Tempat Kerja?

Cara Mengatasi Rust-Out di Tempat Kerja

Cari Tahu Bagian Mana yang Membuatmu Stuck

Sebelum berpikir untuk resign, coba identifikasi sumber kebosananmu. Apakah tugas terlalu repetitif? Tidak ada kesempatan belajar? Pekerjaan terlalu mudah? Atau kamu masih menyukai bidangnya, tetapi sudah tidak cocok dengan posisi sekarang?

Mencatat aktivitas selama satu atau dua minggu bisa membantu menemukan pola. Bisa saja kamu tidak membenci pekerjaan secara keseluruhan, tetapi jenuh karena sebagian besar waktu habis untuk pekerjaan administratif.

Bicarakan Perkembangan dengan Atasan

Kamu enggak harus datang dan berkata, “Saya kayaknya lagi mengalami rust-out.”

Lebih baik bicarakan kebutuhan secara konkret. Misalnya, kamu bisa menyampaikan bahwa pekerjaan rutin sudah cukup dikuasai dan kamu ingin mengembangkan kemampuan tertentu. Kemudian, tanyakan apakah ada proyek yang memungkinkanmu menggunakan kemampuan tersebut.

Kamu juga bisa mengusulkan memimpin proyek kecil, membantu tim lain, mengikuti pelatihan, atau mengambil tanggung jawab baru.

Coba Job Crafting

Kalau perubahan besar belum memungkinkan, kamu bisa mencoba job crafting, yakni menyesuaikan bagian tertentu dari pekerjaan agar lebih sesuai dengan kemampuan dan minatmu.

Misalnya, content writer tidak hanya menulis artikel, tetapi juga menawarkan diri membantu menganalisis performa konten. Pekerja administrasi yang tertarik teknologi bisa mencari proses manual yang memungkinkan diotomatisasi, selama tetap sesuai dengan pekerjaannya.

Tujuannya bukan menambah pekerjaan sebanyak mungkin, melainkan memberi dimensi baru pada pekerjaan yang sudah ada.

Pelajari Skill yang Relevan

Kalau pekerjaan sekarang tidak banyak memberi kesempatan belajar, kamu bisa menciptakan ruang tersebut sendiri.

Pilih kemampuan yang masih berhubungan dengan bidangmu dan sesuai dengan arah karier yang ingin dituju. Tidak harus mengikuti banyak kursus sekaligus. Satu kemampuan yang benar-benar dipraktikkan bisa lebih berguna daripada banyak sertifikat yang tidak pernah digunakan.

Belajar juga bisa dilakukan lewat mentoring, membaca laporan industri, mencoba tools baru, atau mengerjakan proyek kecil.

Cari Peluang Pindah Tim

Kadang yang membuat jenuh bukan profesinya, melainkan posisi atau tim tertentu.

Kalau kamu masih menyukai industri dan perusahaan tempat bekerja, cari tahu apakah ada peluang berpindah peran. Perusahaan dengan banyak divisi mungkin menyediakan kesempatan mencoba pekerjaan yang lebih sesuai dengan kemampuan dan minatmu.

Jangan Menutupi Kebosanan dengan Terlalu Banyak Kerja

Ada jebakan yang cukup umum: mengira semakin banyak pekerjaan berarti semakin sedikit kebosanan.

Padahal, kalau masalahnya adalah kurangnya tantangan atau makna, menambah tugas administratif hanya membuatmu lebih sibuk.

Jangan hanya bertanya, “Berapa banyak pekerjaan yang sudah kuselesaikan?” Coba lihat juga, “Apa yang kupelajari?”, “Kemampuan apa yang berkembang?”, dan “Apakah pekerjaan ini membawaku ke arah karier yang kuinginkan?”

Kapan Perlu Mempertimbangkan Pindah Kerja?

Kalau kamu sudah mencoba meminta tanggung jawab baru, mencari kesempatan belajar, berbicara dengan atasan, dan mengeksplorasi perpindahan tim tetapi tidak ada perubahan, mungkin sudah waktunya mengevaluasi pilihan lain.

Namun, jangan sampai keputusan pindah hanya didorong keinginan untuk kabur dari kebosanan.

Sebelum melamar ke tempat baru, buat daftar tentang hal-hal yang ingin dipertahankan dan diubah dari pekerjaan sekarang. Apakah kamu membutuhkan lebih banyak otonomi? Tantangan yang lebih kompleks? Kesempatan belajar? Jalur karier yang lebih jelas?

Dengan begitu, kamu tidak sekadar mencari pekerjaan baru, tetapi mencari lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan arah perkembanganmu.

Rust-out tidak selalu berarti kamu membenci pekerjaanmu. Bisa jadi kamu hanya sudah terlalu lama melakukan hal yang sama tanpa merasa bertambah jauh dari tempatmu berdiri.

Jadi, sebelum buru-buru menyimpulkan bahwa kamu malas atau salah memilih karier, coba lihat lagi pekerjaanmu. Apakah masih ada ruang untuk belajar, mencoba hal baru, dan memakai kemampuan yang kamu punya? Kalau jawabannya terus-menerus tidak, mungkin memang ada sesuatu dalam pekerjaanmu yang perlu diubah.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Apa Itu “Rust-Out” Pekerja? Kenali Tanda dan Cara Mengatasinya Read More
cara alokasi gaji yang tepat

‘Money Dysmorphia’: Ketika Uang yang Kamu Punya Tak Sesuai dengan yang Kamu Rasakan

Pernah merasa miskin padahal tabungan masih aman?

Kebutuhan bulanan terpenuhi, cicilan masih terkendali, bahkan ada dana yang sengaja disisihkan untuk keadaan darurat. Tapi begitu saldo rekening berkurang karena membeli sesuatu, muncul rasa bersalah. Rasanya seperti baru saja membuat keputusan finansial yang fatal.

Ada juga kondisi sebaliknya. Penghasilan cukup besar, kartu kredit masih bisa dipakai, limit paylater masih tersedia, sehingga merasa kondisi keuangan aman-aman saja. Padahal, ketika semua cicilan dan tagihan dihitung, ruang untuk bernapas sebenarnya sudah tipis.

Dua situasi tersebut punya kemiripan: perasaan tentang kondisi finansial tidak sepenuhnya sejalan dengan angka yang sebenarnya.

Belakangan, kondisi seperti ini banyak dibahas dengan istilah money dysmorphia. Bankrate dalam artikelnya, Money Dysmorphia: What to Know and Who It’s Impacting, menjelaskan money dysmorphia sebagai kondisi ketika persepsi seseorang terhadap status finansialnya tidak sesuai dengan realitas. Istilah ini juga bukan diagnosis klinis resmi.

Jadi, persoalannya bukan sekadar berapa banyak uang yang ada di rekening. Ada pikiran, pengalaman masa lalu, kebiasaan membandingkan diri, sampai cara melihat kesuksesan yang ikut memengaruhi hubungan seseorang dengan uang.

Baca Juga: 5 Film tentang Perempuan dan Dunia Finansial: Tema yang Tidak Boleh Dilewatkan

Apa Itu Money Dysmorphia?

Secara sederhana, money dysmorphia menggambarkan jarak antara bagaimana seseorang merasa tentang kondisi keuangannya dan bagaimana kondisi tersebut terlihat jika dilihat dari angka.

Misalnya, kamu punya penghasilan tetap, dana darurat, tabungan, dan pengeluaran yang masih sesuai anggaran. Namun, setiap kali hendak membeli sesuatu, muncul pikiran, “Gue enggak boleh belanja lagi nih. Nanti bisa miskin.”

Sebaliknya, seseorang bisa merasa cukup kaya karena masih mampu membeli barang atau bepergian dengan kartu kredit, padahal utangnya terus bertambah dan tidak punya dana cadangan.

NerdWallet dalam What Is Money Dysmorphia? When Money Never Feels Like Enough juga menggambarkan money dysmorphia sebagai ketidaksesuaian antara perasaan seseorang tentang keuangannya dan apa yang sebenarnya ditunjukkan angka. Kondisi tersebut dapat muncul dalam dua arah: merasa tidak baik-baik saja ketika sebenarnya mampu, atau mengeluarkan uang melebihi kemampuan.

Karena itu, money dysmorphia bukan sesederhana “terlalu pelit” atau “terlalu boros”. Yang menarik justru hubungan antara persepsi, emosi, dan perilaku finansial.

Money Dysmorphia Bukan Diagnosis Klinis

Penting untuk tidak buru-buru mendiagnosis diri sendiri hanya karena sesekali merasa cemas melihat saldo rekening.

Money dysmorphia bukan diagnosis kesehatan mental resmi. Istilah ini lebih banyak digunakan dalam pembahasan populer tentang hubungan psikologis seseorang dengan uang.

Fidelity dalam artikel What Is Money Dysmorphia and How Do You Overcome It? juga menjelaskan money dysmorphia sebagai ketidakcocokan antara perasaan seseorang mengenai kondisi finansial dan realitas keuangannya. Fidelity menekankan bahwa persoalannya bukan semata-mata soal berapa banyak uang yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang memandang kondisi tersebut.

Lagipula, rasa khawatir soal uang tidak selalu berarti persepsi kita sedang terdistorsi. Kalau biaya hidup memang meningkat, penghasilan tidak stabil, utang menumpuk, atau belum punya dana darurat, merasa cemas bisa menjadi respons terhadap situasi yang memang sedang sulit.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika perasaan dan kondisi objektif terus-menerus berada di dua tempat yang berbeda.

Baca Juga: Trauma Finansial Bebani Perempuan, Apa Jalan Keluarnya?

Seperti Apa Money Dysmorphia dalam Kehidupan Sehari-hari?

Merasa Selalu Kekurangan Meski Kondisi Cukup

Salah satu bentuknya adalah merasa tidak punya cukup uang meski kebutuhan sebenarnya terpenuhi.

Kamu sudah memiliki tabungan dan dana darurat, tetapi tetap panik setiap kali saldo berkurang. Makan bersama teman yang sudah masuk anggaran pun terasa seperti kesalahan besar. Setelah transaksi selesai, pikiran langsung dipenuhi kemungkinan buruk: bagaimana kalau nanti ada kebutuhan mendadak?

Sesekali merasa menyesal setelah belanja tentu wajar. Yang perlu diperhatikan adalah ketika rasa bersalah tersebut muncul hampir setiap kali menggunakan uang, termasuk untuk pengeluaran yang memang sudah direncanakan.

Terus Menabung tetapi Tidak Pernah Merasa Cukup

Menabung merupakan kebiasaan baik. Namun, bagaimana kalau targetnya terus berpindah?

“Kalau tabunganku sudah Rp50 juta, baru boleh santai.”

Setelah angka itu tercapai, target berubah menjadi Rp100 juta. Lalu Rp150 juta. Tidak ada titik ketika uang terasa cukup aman untuk digunakan.

Pada kondisi seperti ini, uang akhirnya hanya terasa sebagai sesuatu yang harus dikumpulkan. Padahal, uang juga punya fungsi untuk membantu seseorang menjalani kehidupan, membayar kebutuhan, mendapatkan pengalaman, belajar sesuatu, beristirahat, atau melakukan hal yang memang dianggap penting.

Terus Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Media sosial membuat standar finansial semakin mudah berubah.

Hari ini melihat teman membeli rumah. Besok melihat orang lain liburan ke luar negeri. Lusa ada unggahan seseorang yang membeli mobil baru atau membuka bisnis.

Tanpa sadar, semuanya bisa dikumpulkan menjadi satu kesimpulan: “Kok hidupku belum sejauh mereka?”

Padahal, kita tidak tahu keseluruhan kondisi finansial orang tersebut. Rumah bisa dibeli dengan KPR, liburan bisa menggunakan tabungan bertahun-tahun, dan barang mahal bisa saja dibeli dengan cicilan.

Dalam artikelnya How to Keep FOMO From Hurting Your Finances, Fidelity juga menjelaskan bahwa media sosial dapat memperkuat fear of missing out dan mendorong keinginan mengikuti gaya hidup orang lain hingga memicu pengeluaran berlebihan.

Masalahnya, standar “cukup” akhirnya tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan dan tujuan hidup sendiri, melainkan oleh apa yang terus muncul di layar.

Merasa Bersalah Saat Membeli Sesuatu untuk Diri Sendiri

Kamu sudah membayar kebutuhan, menabung, dan memenuhi kewajiban finansial. Tapi ketika membeli buku, pakaian, skincare, atau makan di restoran yang disukai, rasa bersalah tetap muncul.

“Harusnya uang ini ditabung.”

Kalimat tersebut terus berulang sampai menggunakan uang untuk diri sendiri terasa seperti tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Padahal, pengeluaran yang sudah direncanakan dan masih sesuai kemampuan tidak otomatis berarti boros. Masalahnya bukan apakah seseorang boleh menikmati uang, melainkan apakah keputusan tersebut sesuai dengan kondisi dan prioritas finansialnya.

Menghindari Melihat Angka karena Takut

Pola lain yang bisa muncul adalah menghindari melihat angka sama sekali. Ini bisa terjadi ketika seseorang merasa terlalu takut untuk melihat saldo rekening, tagihan, atau catatan pengeluaran.

Tagihan kartu kredit dibiarkan. Aplikasi perbankan tidak dibuka. Anggaran tidak pernah dibuat karena rasanya lebih nyaman tidak tahu.

Masalahnya, semakin lama angka dihindari, semakin besar ketidakpastian. Ketidakpastian kemudian membuat kecemasan semakin sulit dikendalikan.

Sebaliknya, ada orang yang justru terus-menerus mengecek saldo karena membutuhkan kepastian bahwa uangnya masih aman. Baik menghindari angka maupun terus mencari kepastian dari angka tersebut bisa membuat hubungan dengan uang terasa melelahkan.

Baca juga: Financial Self-Care: Kelola Uang Tanpa Stres Saat Biaya Hidup Makin Mahal

Kenapa Money Dysmorphia Bisa Terjadi?

Tidak ada satu penyebab tunggal.

Bankrate dalam Money Dysmorphia: What to Know and Who It’s Impacting mengaitkan fenomena ini antara lain dengan kebiasaan membandingkan diri, paparan media sosial, dan pengalaman finansial masa lalu. Orang yang pernah mengalami ketidakamanan finansial juga dapat membawa rasa takut kehilangan uang sampai dewasa.

Pengalaman keluarga juga bisa membentuk cara seseorang melihat uang. Orang yang tumbuh dalam kondisi ekonomi tidak stabil mungkin sangat takut kehabisan uang meski situasinya sekarang sudah jauh lebih aman. Sebaliknya, seseorang yang terbiasa hidup nyaman mungkin tidak terlalu peka terhadap batas antara mampu membeli dan mampu membayar.

Itu sebabnya, memahami hubungan dengan uang tidak cukup hanya dengan melihat nominal penghasilan. Ada cerita yang dibawa seseorang sebelum ia menerima gaji pertamanya.

Baca Juga: Gaji Naik, tapi Tetap Pas-Pasan? Waspadai Lifestyle Creep yang Diam-Diam Ganggu Keuanganmu

Bagaimana Menghadapi Money Dysmorphia?

Langkah pertama bukan memaksa diri untuk “berpikir positif” tentang uang. Lebih berguna kalau kamu mulai memisahkan perasaan dari fakta.

Lihat Angka, Bukan Hanya Perasaan

Coba catat penghasilan, pengeluaran rutin, utang, tabungan, dana darurat, dan kewajiban lain.

Kalau selama ini kamu merasa selalu kekurangan, angka-angka tersebut bisa membantu melihat apakah perasaan itu memang sesuai dengan kondisi yang ada.

Sebaliknya, kalau merasa sangat aman karena masih bisa membeli apa pun, menghitung seluruh cicilan dan kewajiban bisa menunjukkan gambaran yang berbeda.

Tentukan Arti “Cukup” untuk Dirimu

“Cukup” tidak harus berarti punya uang sebanyak orang lain.

Kamu bisa menentukan target berdasarkan kebutuhan sendiri: berapa dana darurat yang dibutuhkan, utang apa yang perlu dilunasi, tujuan apa yang ingin dicapai, dan berapa ruang yang ingin disediakan untuk menikmati hidup.

Dengan begitu, target finansial tidak terus bergerak hanya karena melihat pencapaian orang lain.

Buat Ruang untuk Menikmati Uang

Anggaran tidak harus berisi larangan.

Setelah kebutuhan pokok, tabungan, dan kewajiban terpenuhi, kamu bisa menyediakan budget khusus untuk hiburan atau keinginan pribadi. Dengan begitu, membeli sesuatu yang memang sudah dianggarkan tidak perlu selalu diikuti rasa bersalah.

Uang bukan hanya angka yang harus disimpan. Ia juga alat untuk menjalani kehidupan.

Periksa Kembali Keyakinan tentang Uang

Coba tanyakan kepada diri sendiri: Apakah ketakutan ini berasal dari kondisi sekarang atau pengalaman masa lalu?

Pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan masa lalu. Justru, memahami asal-usul cara pandang terhadap uang bisa membantu melihat apakah keyakinan tersebut masih relevan dengan kehidupan sekarang.

Kalau hubungan dengan uang sudah menimbulkan kecemasan berat, mengganggu pekerjaan, relasi, atau kemampuan mengambil keputusan, mencari bantuan profesional juga bisa dipertimbangkan. Perencana keuangan dapat membantu melihat kondisi finansial secara lebih objektif, sementara psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu jika persoalannya berkaitan dengan kecemasan, rasa bersalah, atau pengalaman masa lalu.

AFCPE melalui program A Therapeutic-informed Financial Counseling Approach to ‘Money Dysmorphia’: Reframing Perceived Financial Insecurity and Unlocking Healthy Financial Behavior juga membahas pendekatan konseling yang membantu seseorang membedakan fakta finansial dari rasa tidak aman yang muncul di dalam diri.

Punya hubungan yang lebih sehat dengan uang bukan berarti kamu harus selalu tenang setiap kali mengeluarkannya. Rasa khawatir, bersalah setelah belanja, atau kebiasaan membandingkan kondisi finansial dengan orang lain tetap bisa muncul.

Tapi ketika perasaan itu muncul, coba jangan langsung menganggapnya sebagai gambaran kondisi keuanganmu. Cek lagi saldo, pengeluaran, kebutuhan, dan tujuan finansialmu. Dari situ, kamu bisa melihat apakah memang ada masalah yang perlu dibereskan atau sebenarnya kamu hanya sedang merasa tidak aman.

Sebab, punya uang dan merasa aman dengan uang adalah dua hal yang berbeda.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

‘Money Dysmorphia’: Ketika Uang yang Kamu Punya Tak Sesuai dengan yang Kamu Rasakan Read More
quiet cracking di tempat kerja

Quiet Cracking di Kantor: Saat Kamu Masih Bekerja, tetapi Sudah Tidak Merasa Terhubung

Kamu masih datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan, membalas email, ikut meeting, bahkan sesekali bercanda dengan rekan kerja. Dari luar, semuanya terlihat biasa saja. Tapi di dalam hati, ada sesuatu yang berubah: pekerjaan terasa semakin berat, motivasi menurun, dan setiap Senin seperti membutuhkan tenaga ekstra.

Kamu belum tentu ingin resign. Bisa jadi kamu masih membutuhkan penghasilan, belum menemukan pekerjaan lain, atau sekadar belum tahu harus mulai dari mana. Yang berubah adalah hubunganmu dengan pekerjaan. Kamu masih menjalankannya, tetapi sudah tidak merasa benar-benar terhubung.

Kondisi seperti ini belakangan dikenal sebagai quiet cracking.

Menurut SHRM dalam artikel Disengaged Employees are “Quiet Cracking”: What To Know About This Trend, quiet cracking menggambarkan pekerja yang terus-menerus merasa tidak bahagia atau tidak puas dengan pekerjaannya, tetapi tetap bertahan karena meninggalkan pekerjaan belum tentu menjadi pilihan yang aman.

Istilahnya memang relatif baru. Namun, pengalaman yang digambarkannya sebenarnya bukan sesuatu yang asing di dunia kerja.

Baca Juga: Kerja Satu Kurang, Kerja Banyak Meriang: Kenapa ‘Polyworking’ Dianggap ‘New Normal’

Apa Itu Quiet Cracking?

Quiet cracking bisa dibayangkan seperti retakan kecil yang muncul perlahan pada sebuah bangunan. Tidak langsung terlihat sebagai kerusakan besar, tetapi jika terus dibiarkan, struktur di dalamnya bisa semakin melemah.

Dalam konteks pekerjaan, “retakan” tersebut muncul ketika motivasi, keterikatan emosional, rasa percaya diri, dan pandangan terhadap masa depan di tempat kerja perlahan menurun. Menariknya, seseorang masih bisa terlihat produktif dari luar.

UConn Today, melalui artikel Management Professor Offers Advice on How to Combat ‘Quiet Cracking’ in the Workplace, mengutip profesor manajemen Travis Grosser yang menggambarkan quiet cracking sebagai proses ketika pekerja perlahan kehilangan keterikatan terhadap pekerjaan, tetapi tetap bertahan. Tandanya dapat berupa ketidakbahagiaan yang menetap, merasa tidak dihargai, kehilangan keyakinan terhadap masa depan di organisasi, hingga meningkatnya keinginan untuk berhenti.

Kajian yang diterbitkan International Journal of Organizational Analysis pada Agustus 2026 juga mulai mengembangkan quiet cracking sebagai konsep yang lebih spesifik. Penelitian Organizational predictors of quiet cracking: developing a measurement framework and testing structural risk models in contemporary workplaces menggambarkannya sebagai erosi psikologis yang berlangsung secara perlahan: performa dari luar masih dipertahankan, sementara motivasi, ketahanan emosional, dan pandangan terhadap masa depan mulai menurun.

Artinya, quiet cracking bukan sekadar sedang malas bekerja satu atau dua hari.

Quiet Cracking Beda dengan Quiet Quitting

Istilah quiet cracking sering disamakan dengan quiet quitting. Padahal, keduanya tidak persis sama.

Quiet quitting lebih merujuk pada keputusan untuk tidak lagi memberikan tenaga di luar tanggung jawab pekerjaan. Seseorang tetap mengerjakan tugasnya, tetapi tidak merasa harus selalu lembur, membalas pesan kantor di luar jam kerja, atau mengambil pekerjaan tambahan tanpa batas.

Sementara itu, quiet cracking lebih berkaitan dengan hilangnya keterikatan terhadap pekerjaan secara perlahan.

UConn Today menjelaskan perbedaannya dari sisi intensi. Quiet quitting lebih merupakan tindakan yang disengaja untuk membatasi usaha, sedangkan quiet cracking terjadi ketika seseorang perlahan kehilangan motivasi karena merasa tidak dihargai, tidak punya arah perkembangan, atau terjebak dalam pekerjaannya.

Karena itu, seseorang yang sedang mengalami quiet cracking belum tentu ingin “kerja santai”. Bisa jadi dia justru ingin kembali merasa bersemangat, tetapi sudah tidak tahu bagaimana caranya.

Baca juga: Habis ‘Quiet Quitting’ Terbitlah ‘Loud Quitting’, Tren Baru yang Berbahaya

Tanda-tanda Kamu Mengalami Quiet Cracking

Satu tanda saja tentu tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami quiet cracking. Bosan setelah minggu yang berat atau ingin mengambil cuti adalah hal yang wajar.

Yang perlu diperhatikan adalah pola yang terus berulang dan berlangsung cukup lama.

Kamu Masih Bekerja, tetapi Sudah Tidak Peduli

Deadline tetap dikerjakan. Meeting tetap dihadiri. Email tetap dibalas.

Namun, kamu tidak lagi terlalu peduli dengan hasil akhirnya.

Kalau dulu kamu ingin presentasi terlihat bagus atau mencari cara agar proyek berjalan lebih baik, sekarang yang penting pekerjaan selesai. Kamu bekerja dalam mode autopilot: tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak lagi merasa menjadi bagian penting dari pekerjaan tersebut.

Kamu Sering Berpikir, “Buat Apa Aku Berusaha?”

Kamu pernah memberikan usaha ekstra, tetapi tidak mendapatkan apresiasi atau perkembangan yang diharapkan. Lama-kelamaan, muncul pikiran bahwa usaha lebih keras tidak akan mengubah apa pun.

Akhirnya, kamu memilih melakukan secukupnya.

Ini bukan selalu soal malas. Bisa jadi kamu sudah kehilangan kepercayaan bahwa usaha dan hasil memiliki hubungan yang masuk akal di tempat kerja tersebut.

Inisiatif dan Antusiasme Menurun

Dulu kamu aktif mengajukan ide, menawarkan bantuan, mengikuti pelatihan, atau tertarik mengambil proyek baru.

Sekarang responsmu lebih sering, “Yang penting tugas gue selesai.”

SHRM mencatat bahwa pekerja yang mengalami quiet cracking dapat mulai kehilangan minat terhadap perkembangan karier, merasa kontribusinya tidak berarti, dan menarik diri dari keterlibatan yang sebelumnya mereka lakukan.

Kamu Tidak Bisa Membayangkan Masa Depan di Sana

Gaji mungkin cukup. Rekan kerja juga tidak selalu bermasalah. Tetapi ketika membayangkan dirimu masih berada di posisi yang sama satu atau dua tahun lagi, rasanya tidak menarik.

Pertanyaan seperti “Kalau aku tetap di sini, sebenarnya aku akan berkembang ke mana?” mulai sering muncul.

Perasaan stuck ini penting diperhatikan karena masalahnya mungkin bukan sekadar pekerjaan yang sedang melelahkan, melainkan hilangnya kepercayaan bahwa tempat kerja tersebut masih menyediakan masa depan yang kamu inginkan.

Kamu Hanya Menunggu Jam Pulang dan Hari Gajian

Menunggu jam pulang atau tanggal gajian tentu normal.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika keduanya menjadi hampir satu-satunya hal yang membuatmu bertahan.

Pekerjaan tidak harus selalu menyenangkan. Namun, jika setiap hari terasa seperti sesuatu yang harus dilewati agar bisa menerima gaji, sementara tidak ada lagi rasa berkembang, terhubung, atau bangga terhadap pekerjaan, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi.

Kamu Semakin Sinis terhadap Kantor

Kebijakan baru langsung dianggap buruk. Program baru dianggap tidak akan berhasil. Ketika atasan bicara soal perkembangan karier, kamu sudah tidak percaya.

Sedikit skeptis sebenarnya bukan masalah. Namun, kalau hampir semua hal di kantor otomatis dipandang negatif, bisa jadi ada kekecewaan yang sudah menumpuk.

Kamu Mulai Menarik Diri

Kamu tetap sopan kepada rekan kerja, tetapi mulai jarang ikut makan siang bersama, tidak tertarik mengikuti obrolan kantor, atau lebih sering diam di grup kerja.

Sesekali ingin sendiri tentu wajar. Tetapi jika menarik diri menjadi pola baru karena kamu sudah tidak punya energi untuk terhubung dengan lingkungan kerja, kondisi tersebut layak diperhatikan.

Kenapa Quiet Cracking Bisa Terjadi?

Tidak ada satu penyebab tunggal.

SHRM menyebut beberapa faktor yang dapat mendorong quiet cracking, mulai dari ketidakpastian ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan baru, beban kerja yang tidak terkendali, kurangnya apresiasi, kepemimpinan yang buruk, sampai minimnya kesempatan pengembangan karier.

Itu sebabnya, menyebut seseorang “kurang motivasi” tidak selalu menyelesaikan masalah. Bisa jadi motivasinya terkikis oleh lingkungan kerja yang memang tidak memberi banyak alasan untuk tetap terlibat.

Penelitian terbaru tentang quiet cracking juga menempatkan persoalan organisasi sebagai bagian penting. Kajian di International Journal of Organizational Analysis menemukan bahwa faktor struktural organisasi berkaitan dengan kerentanan terhadap quiet cracking, meski peneliti juga menekankan bahwa validasi pada tingkat individu masih diperlukan.

Jadi, jangan buru-buru menganggap semua masalah berasal dari diri sendiri.

Baca Juga: Mengatasi Toxic Positivity: Menjaga Keseimbangan Emosional di Lingkungan Kerja

Kalau Mengalaminya, Harus Resign?

Belum tentu.

Menyadari bahwa kamu mungkin sedang mengalami quiet cracking justru bisa menjadi kesempatan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya salah.

Mulai dengan pertanyaan sederhana: apa ya yang paling menguras energi?

Apakah workload terlalu besar? Atasan sulit diajak berkomunikasi? Tidak ada kesempatan berkembang? Pekerjaan terasa tidak bermakna? Atau batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sudah terlalu kabur?

Coba catat selama beberapa minggu. Perhatikan pekerjaan atau situasi apa yang membuatmu paling lelah dan kapan kamu justru merasa sedikit lebih bersemangat. Dari situ, masalah yang awalnya terasa seperti satu gumpalan besar bisa menjadi lebih spesifik.

Kalau masalahnya berkaitan dengan workload atau prioritas, kamu mungkin bisa membicarakannya dengan atasan. Jika merasa karier stagnan, kamu bisa meminta feedback atau mencari peluang belajar baru.

Namun, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan mengubah pola kerja pribadi.

Kalau kamu sudah mencoba berbagai cara tetapi lingkungan tetap sama, kesempatan berkembang tidak ada, atau hubungan kerja terus menguras energi, mempertimbangkan pekerjaan lain juga bukan berarti kamu gagal.

Yang penting, jangan membuat keputusan besar hanya karena sedang berada di titik paling lelah. Jika memungkinkan, siapkan langkahnya: perbarui CV, cek kondisi finansial, bangun jaringan profesional, dan cari tahu peluang yang tersedia.

Di sisi lain, jangan memaksakan diri bertahan jika tempat kerja melibatkan pelecehan, diskriminasi, kekerasan, atau kondisi yang mengancam keselamatan dan hakmu.

Quiet cracking tidak selalu terlihat dari seseorang yang berhenti bekerja atau ingin resign. Kadang, seseorang masih mengerjakan semuanya seperti biasa, hanya saja sudah tidak menemukan banyak alasan untuk merasa terlibat.

Kalau perasaan itu terus muncul, mungkin yang perlu dilakukan bukan langsung mengambil keputusan besar. Coba lihat lagi apa yang sebenarnya membuat pekerjaan terasa berat: beban kerja, lingkungan kantor, hubungan dengan atasan, atau mungkin karena kamu memang sudah tidak melihat masa depan di sana.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Quiet Cracking di Kantor: Saat Kamu Masih Bekerja, tetapi Sudah Tidak Merasa Terhubung Read More
cara membagi waktu kerja full time dan side job

8 Tips Membagi Waktu antara Kerja ‘Full Time’ dan ‘Side Job’

Punya pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama bisa menjadi cara untuk menambah penghasilan, mengasah skill, atau mencoba bidang yang selama ini ingin ditekuni. Namun, menjalankan kerja full time sekaligus side job berarti ada lebih banyak tanggung jawab yang harus masuk ke jadwal yang sama.

Masalahnya, waktu luang setelah jam kantor tidak selalu benar-benar kosong. Ada perjalanan pulang, makan, pekerjaan rumah, waktu bersama keluarga atau pasangan, sampai kebutuhan untuk beristirahat.

Karena itu, membagi waktu antara kerja full time dan side job bukan cuma soal mencari beberapa jam tambahan. Kamu juga perlu menghitung energi, menentukan prioritas, membuat batas, dan memastikan ritme tersebut bisa dijalani dalam jangka panjang.

Baca Juga: Masih Sulit Cari Kerja? Mungkin Beberapa Trik Ini Bisa Dicoba

Kenapa Membagi Waktu Full Time dan Side Job Tidak Mudah?

Secara teori, pembagiannya terlihat sederhana: pekerjaan utama dilakukan siang hari, sementara side job dikerjakan malam atau akhir pekan.

Tapi energi manusia tidak bekerja seperti kalender.

Dua jam setelah pulang kantor belum tentu sama produktifnya dengan dua jam pada pagi hari ketika tubuh masih segar. Kalau pekerjaan utama sudah menguras konsentrasi, menyelesaikan proyek freelance pada malam hari bisa terasa jauh lebih berat meski durasinya sama.

Jenis side job pun beragam, mulai dari freelance menulis, desain, fotografi, penerjemahan, mengajar, mengelola media sosial, membuat konten, hingga berjualan online. Fleksibilitas menjadi salah satu daya tariknya, tetapi fleksibel bukan berarti tidak membutuhkan batas.

Dalam artikel 7 Tips agar Tak Keteteran saat Punya Pekerjaan Sampingan, Glints mengingatkan bahwa pekerjaan sampingan jangan sampai membuat pekerja mengorbankan waktu tidur dan akhir pekan.

Jadi, sebelum mengambil lebih banyak pekerjaan, ada baiknya kamu tahu dulu seberapa banyak waktu dan energi yang benar-benar tersedia.

1. Tentukan Alasan Kamu Mengambil Side Job

Sebelum membuat jadwal atau memilih aplikasi manajemen waktu, coba jawab satu pertanyaan: sebenarnya kamu mengambil side job untuk apa?

Kalau tujuannya menambah dana darurat, misalnya, kamu mungkin tidak membutuhkan side job dengan beban kerja besar. Pekerjaan dengan jam terbatas dan penghasilan cukup konsisten bisa lebih masuk akal.

Kalau tujuanmu membangun portofolio, kamu mungkin lebih membutuhkan proyek yang relevan dengan karier daripada menerima semua tawaran. Sementara jika side job merupakan langkah awal untuk pindah karier, kamu mungkin perlu menyediakan waktu untuk belajar sekaligus mengumpulkan pengalaman.

Tujuan juga bisa menjadi rem ketika tawaran baru datang. Proyek dengan bayaran lebih besar belum tentu layak diambil jika membutuhkan banyak waktu dan membuat pekerjaan utama atau waktu istirahat terganggu.

Side job seharusnya membantu mencapai tujuan tertentu, bukan berubah menjadi pekerjaan kedua yang terus meminta waktu.

2. Hitung Kapasitas Waktu Secara Realistis

Kesalahan yang sering terjadi adalah menghitung waktu kosong, bukan waktu yang benar-benar bisa digunakan untuk bekerja.

Misalnya, kamu selesai bekerja pukul 17.00 dan tidur pukul 23.00. Secara matematis ada enam jam yang terlihat tersedia. Padahal, waktu tersebut masih harus dibagi untuk perjalanan pulang, makan, mandi, pekerjaan rumah, keluarga, atau beristirahat.

Coba lakukan audit waktu selama satu minggu. Catat kapan kamu bekerja, tidur, bepergian, makan, mengurus rumah, berolahraga, bersosialisasi, dan melakukan aktivitas lain. Setelah itu, lihat berapa banyak waktu yang benar-benar fleksibel.

Jangan langsung mengalokasikan semuanya untuk side job. Sisakan buffer time karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai kalender. Pekerjaan kantor bisa mendadak, perjalanan bisa lebih lama, atau kamu mungkin membutuhkan satu malam tanpa laptop.

Dalam artikel Jangan Sampai Menyusahkan Diri, Ini 10 Pertimbangan sebelum Ambil Kerja Sampingan, Glints juga menekankan pentingnya memastikan seseorang punya cukup waktu sebelum mengambil pekerjaan tambahan.

Side job yang sehat sebaiknya dibangun berdasarkan kapasitas nyata, bukan versi ideal dirimu yang selalu produktif.

Baca Juga: Micro-retirement: Jeda Kerja yang Makin Dilirik Gen Z

3. Tetap Prioritaskan Pekerjaan Full Time

Ketika side job mulai menghasilkan uang, ada godaan untuk memperlakukannya sama penting dengan pekerjaan utama. Di sinilah hierarki prioritas perlu dibuat.

Bagi banyak pekerja, pekerjaan full time tetap menjadi fondasi karena berkaitan dengan pendapatan utama dan tanggung jawab profesional. Jangan sampai deadline freelance membuat tugas kantor terbengkalai atau membuatmu sulit fokus selama jam kerja.

Prinsip sederhananya: jangan menggunakan waktu dan fasilitas pekerjaan utama untuk side job.

Hindari mengerjakan proyek klien saat jam kantor atau menggunakan perangkat dan aset perusahaan untuk pekerjaan pribadi tanpa izin.

Sebelum menerima pekerjaan tambahan, cek kontrak kerja dan kebijakan perusahaan. Beberapa perusahaan memiliki aturan mengenai pekerjaan di luar kantor, kerahasiaan data, penggunaan fasilitas, atau konflik kepentingan.

4. Gunakan Timeboxing, Bukan Sekadar To-Do List

To-do list membantu mengetahui apa yang harus dikerjakan. Namun, daftar tugas belum tentu menjawab pertanyaan: kapan pekerjaan itu akan dilakukan?

Di sinilah timeboxing bisa membantu.

Dengan metode ini, kamu menentukan blok waktu tertentu untuk pekerjaan tertentu. Misalnya, Senin sampai Jumat pukul 09.00–17.00 untuk pekerjaan utama, Selasa dan Kamis pukul 19.30–21.00 untuk side job, sementara Sabtu pagi digunakan untuk proyek yang membutuhkan konsentrasi lebih panjang.

Harvard Business Review dalam artikel Use Timeboxing to Improve Your Productivity menjelaskan timeboxing sebagai cara menggabungkan kalender dengan daftar tugas dengan menyediakan waktu khusus untuk pekerjaan yang ingin diselesaikan.

Namun, jangan mengisi kalender sampai setiap menit terasa penuh. Daripada menjadwalkan side job setiap malam, pilih dua atau tiga malam dalam seminggu. Malam lainnya tetap bisa digunakan untuk istirahat atau aktivitas pribadi.

Jadwal yang realistis justru lebih mudah dipertahankan.

5. Sesuaikan Pekerjaan dengan Tingkat Energi

Tidak semua pekerjaan membutuhkan energi mental yang sama.

Menulis, menyusun strategi, mengedit video, atau membuat desain biasanya membutuhkan konsentrasi tinggi. Sebaliknya, membalas email, mengatur file, memasukkan data, atau menjadwalkan unggahan bisa dilakukan ketika energi tidak terlalu besar.

Karena itu, mengatur side job bukan cuma soal time management, tetapi juga energy management.

Kalau masih segar pada malam hari, gunakan waktu tersebut untuk pekerjaan yang membutuhkan kreativitas. Tapi kalau pulang kantor sudah kelelahan, jangan memaksakan tugas berat hanya karena kalender masih menyediakan waktu.

Gunakan sesi pendek untuk pekerjaan administratif dan simpan pekerjaan berat untuk waktu ketika energimu lebih baik.

6. Buat Batas Jam Kerja yang Tegas

Salah satu jebakan side job adalah pekerjaan terasa tidak pernah selesai.

Ketika laptop selalu berada di dekatmu dan klien bisa mengirim pesan kapan saja, kamu mungkin merasa harus selalu siap. Pekerjaan full time selesai sore, side job dimulai malam, lalu sebelum tidur masih mengecek email.

Tentukan jam mulai dan selesai untuk side job. Misalnya, setelah pukul 21.00 kamu tidak lagi mengerjakan freelance, kecuali kondisi darurat yang memang sudah disepakati.

Batas ini juga perlu dikomunikasikan kepada klien.

Dalam artikel 3 Ways To Build A Side Hustle While Working A Full-Time Job, Forbes menekankan pentingnya menetapkan batas dengan klien, termasuk menjelaskan waktu ketersediaan dan ekspektasi sejak awal.

Kamu juga bisa mematikan notifikasi aplikasi kerja di luar jam yang sudah ditentukan. Batas bukan berarti tidak profesional. Justru dengan batas yang jelas, klien tahu kapan bisa mengharapkan respons dan kamu punya ruang untuk memulihkan energi.

7. Jangan Ambil Semua Tawaran yang Datang

Punya side job tidak berarti harus menerima setiap proyek yang ditawarkan.

Sebelum menerima pekerjaan tambahan, lihat kembali jadwal dan beban kerja yang sudah ada. Tanyakan: berapa jam yang dibutuhkan, kapan deadline-nya, dan apa yang harus dikorbankan jika proyek ini diterima?

Dalam artikel 7 Tips agar Tak Keteteran saat Punya Pekerjaan Sampingan, Glints juga menyarankan pekerja tidak mengambil terlalu banyak pekerjaan sekaligus dan tetap memperhatikan waktu istirahat.

Tidak semua uang tambahan harus diambil. Kadang, mengatakan “tidak” pada satu proyek adalah cara untuk menjaga kualitas pekerjaan yang sudah kamu terima.

8. Sisakan Waktu untuk Hidup di Luar Pekerjaan

Ketika sudah bekerja full time dan memiliki side job, waktu luang bisa dengan mudah berubah menjadi jam kerja tambahan.

Padahal, tidak semua aktivitas harus menghasilkan uang.

Kamu tetap membutuhkan waktu untuk tidur, bertemu teman, bersama keluarga, berolahraga, bermain gim, membaca buku, memasak, atau sekadar tidak melakukan apa-apa.

Jangan sampai setiap hobi harus diubah menjadi proyek. Istirahat bukan waktu yang terbuang. Ia bagian dari kapasitas yang memungkinkan kamu kembali bekerja tanpa terus-menerus merasa terkuras.

Baca Juga: Bekerja 15 Jam, Pulang Jadi Buruh Tanpa Bayaran: Lingkaran Setan Perempuan Pekerja

Tanda Kamu Sudah Terlalu Banyak Bekerja

Menjalankan pekerjaan full time dan side job memang membuat jadwal lebih padat. Namun, ada perbedaan antara sibuk dan sudah bekerja melewati kapasitas.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan adalah waktu istirahat terus berkurang, kualitas tidur terganggu, konsentrasi menurun, dan pekerjaan utama mulai terdampak. Kamu mungkin membaca email berkali-kali, lebih sering membuat kesalahan, sulit memulai tugas, atau merasa pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai.

Perhatikan juga kehidupan di luar pekerjaan. Kalau kamu mulai menolak hampir semua ajakan bertemu teman, kehilangan minat pada hobi, atau merasa bersalah setiap kali beristirahat karena menganggap waktu tersebut seharusnya digunakan untuk bekerja, ritme yang dijalani mungkin sudah terlalu berat.

Perubahan emosi juga bisa menjadi sinyal. Pesan dari klien terasa sangat mengganggu, revisi kecil membuatmu mudah kesal, atau kamu semakin kehilangan kesabaran terhadap orang di sekitar.

Tidak semua perubahan emosi otomatis disebabkan oleh pekerjaan. Namun, jika perubahan tersebut muncul bersamaan dengan meningkatnya beban kerja, ada baiknya kamu mengevaluasi kembali ritmemu.

Side job tidak harus membuat hidup berubah menjadi dua pekerjaan full time sekaligus. Kamu boleh bekerja lebih banyak untuk mencapai target finansial atau karier tertentu, tetapi tetap perlu tahu kapan kapasitas sudah mendekati batas.

Mengatur waktu bukan berarti memaksimalkan setiap jam yang tersedia. Kadang, justru berarti memutuskan pekerjaan mana yang tidak perlu diambil, kapan harus berhenti, dan berapa banyak waktu yang ingin tetap kamu simpan untuk hidup di luar pekerjaan.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

8 Tips Membagi Waktu antara Kerja ‘Full Time’ dan ‘Side Job’ Read More
bahaya oversharing di kantor

Oversharing di Kantor: Kapan Cerita Pribadi Mulai Kebablasan?

Pernah ingin sekadar ngobrol santai dengan teman kantor, tetapi percakapannya malah berujung pada cerita soal hubungan, konflik keluarga, masalah keuangan, atau drama dengan atasan?

Situasi seperti ini cukup mudah terjadi. Ketika sudah merasa nyaman dengan rekan kerja, batas antara berbagi cerita dan oversharing bisa menjadi samar. Kita mungkin menganggap cerita pribadi sebagai cara untuk membangun kedekatan, menunjukkan sisi diri yang lebih autentik, atau sekadar mencari tempat untuk melepas stres.

Padahal, tempat kerja tidak selalu menjadi ruang yang tepat untuk membagikan semua hal tentang kehidupan pribadi.

Rekan kerja yang terasa dekat tetap memiliki hubungan profesional dengan kita. Dalam situasi tertentu, hubungan tersebut juga bisa berubah karena pergantian tim, posisi, atasan, atau kepentingan pekerjaan.

Penelitian tentang pengelolaan informasi pribadi di tempat kerja menunjukkan bahwa keputusan seseorang untuk membuka atau menyimpan informasi dipengaruhi oleh budaya organisasi, hubungan dengan orang lain, kebutuhan mendapatkan umpan balik, serta pertimbangan mengenai risiko dan manfaat. 

Temuan ini dibahas Stephanie A. Smith dan Steven R. Brunner dalam studi To Reveal or Conceal: Using Communication Privacy Management Theory to Understand Disclosures in the Workplace yang diterbitkan SAGE Journals. Studi tersebut melibatkan 103 pekerja penuh waktu dari berbagai organisasi dan industri.

Karena itu, persoalannya bukan apakah kita harus menjadi tertutup di kantor. Yang lebih penting adalah mengetahui cerita apa yang ingin dibagikan, kepada siapa, dan seberapa jauh detailnya perlu disampaikan.

Apalagi sekarang komunikasi kantor tidak berhenti di meja kerja. Ada WhatsApp, email, hingga media sosial. Cerita yang awalnya hanya ditujukan kepada satu orang bisa dengan mudah menjangkau audiens yang lebih luas.

Jadi, sebelum mulai bercerita panjang di pantry atau mengetik sesuatu di grup kantor, ada satu pertanyaan sederhana yang bisa dipikirkan: kalau cerita ini diketahui orang lain di kantor, apakah saya masih akan merasa nyaman?

Baca Juga: Ketawa Karier: Saat Tawa di Kantor Justru Bikin Capek Mental

Apa Itu Oversharing di Kantor?

Oversharing adalah kebiasaan membagikan informasi pribadi, emosional, sensitif, atau terlalu detail kepada orang lain ketika informasi tersebut sebenarnya tidak diperlukan dalam situasi tersebut.

Di kantor, bentuknya tidak selalu berupa rahasia besar. Bisa saja dimulai dari hal sederhana seperti terlalu sering mengeluhkan pasangan, menceritakan pertengkaran keluarga, membahas kondisi finansial secara detail, membuka persoalan kesehatan pribadi, atau membicarakan konflik dengan atasan kepada terlalu banyak orang.

The Muse membahas persoalan serupa dalam artikel How to Stop Oversharing at Work—and Still Keep Conversation Flowing. Artikel tersebut menjelaskan bahwa oversharing di tempat kerja bisa muncul karena keinginan mencari koneksi atau validasi, rasa gugup, maupun batas profesional yang belum jelas.

Sekilas, percakapan tersebut mungkin terasa biasa. Masalah muncul ketika informasi pribadi diberikan kepada orang yang kurang tepat, dengan detail berlebihan, atau kepada audiens yang terlalu luas.

Di sinilah oversharing berbeda dari sekadar “banyak bicara”. Persoalannya juga menyangkut konteks.

Cerita yang nyaman disampaikan kepada sahabat belum tentu cocok dibagikan kepada seluruh anggota tim. Curhat kepada satu rekan yang memang dipercaya juga berbeda dengan menuliskan masalah pribadi di grup kantor yang berisi puluhan orang.

Semakin besar audiensnya, semakin sulit kita mengendalikan bagaimana informasi tersebut dipahami, disimpan, atau diteruskan.

Baca Juga: ‘Small Talk’ di Kantor Bukan Basa-basi: Penting untuk Mental dan Kerja Sehat

Terbuka dengan Rekan Kerja Bukan Berarti Oversharing

Menjadi terbuka sebenarnya bukan hal buruk. Sedikit cerita tentang kehidupan di luar kantor justru bisa membuat hubungan dengan rekan kerja terasa lebih hangat.

Kamu bisa bercerita soal hobi, makanan favorit, film yang baru ditonton, rencana liburan, atau bahkan kucing yang baru diadopsi. Informasi seperti ini biasanya tidak terlalu sensitif dan masih relevan dengan percakapan sehari-hari.

Yang membedakan keterbukaan dengan oversharing adalah konteks dan tingkat informasi yang diberikan.

Misalnya, mengatakan, “Akhir-akhir ini gue lagi banyak urusan keluarga, jadi mungkin agak kurang fokus,” bisa menjadi komunikasi yang wajar jika kondisi tersebut memang berdampak pada pekerjaan.

Namun, menceritakan detail pertengkaran dengan pasangan selama 20 menit kepada seluruh tim tentu berbeda.

Keterbukaan yang sehat tidak mengharuskan kita memilih antara menjadi “terbuka total” atau “tertutup total”. Ada ruang di antaranya: tetap ramah, tetap bisa membangun kedekatan, tetapi tahu informasi mana yang sebaiknya disimpan untuk lingkaran yang lebih personal.

Ciri-Ciri Kamu Mulai Oversharing di Kantor

Oversharing sering baru terasa sebagai masalah setelah percakapannya selesai.

Mungkin kamu pernah pulang dari kantor lalu berpikir, “Kenapa tadi gue cerita sebanyak itu, ya?”

Hal tersebut ternyata bukan pengalaman yang sepenuhnya asing bagi pekerja. Dalam artikel Five common career regrets (and how to overcome them), CIPHR menyebut hasil riset mereka menemukan bahwa satu dari 10 orang berusia 25–44 tahun menyesal pernah terlalu banyak bercerita di tempat kerja, dibandingkan 3 persen pekerja berusia di atas 55 tahun.

Ketika suasana kerja sudah akrab, obrolan memang mudah bergeser dari pekerjaan ke hubungan, keluarga, keuangan, atau persoalan pribadi lainnya. Namun, kalau hampir semua orang di kantor mulai mengetahui terlalu banyak tentang kehidupan personalmu, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali batas tersebut.

Cerita Pribadi Mulai Mendominasi Percakapan

Salah satu tandanya adalah ketika cerita tentang masalah pribadi mulai menjadi topik utama setiap kali kamu berbicara dengan rekan kerja.

Hari ini soal pertengkaran dengan pasangan. Besok masalah keluarga. Setelah itu persoalan keuangan atau konflik dengan teman.

Kehidupan pribadi tentu tidak perlu sepenuhnya dipisahkan dari pekerjaan. Kita tetap manusia yang membawa emosi dan pengalaman ke kantor.

Namun, ketika informasi yang sebenarnya tidak berhubungan dengan pekerjaan terus dibagikan kepada banyak orang, batas profesional bisa semakin kabur.

Kamu Sering Menyesal Setelah Bercerita

Perasaan menyesal setelah berbagi cerita juga bisa menjadi tanda bahwa informasi yang diberikan sudah melewati batas nyamanmu.

Kamu mungkin tiba-tiba merasa cemas karena sadar bahwa orang kantor sekarang mengetahui sesuatu yang sebenarnya ingin kamu simpan sendiri.

Hal tersebut tidak otomatis berarti kamu telah melakukan sesuatu yang salah. Bisa jadi kamu sedang membutuhkan validasi, dukungan, atau sekadar seseorang yang mau mendengarkan.

Masalahnya, rasa nyaman dalam satu percakapan belum tentu berarti hubungan tersebut cukup dekat untuk menampung semua cerita personalmu.

Kalau pola “kebablasan cerita” terus berulang, pengalaman itu bisa dijadikan tanda untuk memperlambat diri dalam percakapan berikutnya.

Detail yang Diberikan Sebenarnya Tidak Diperlukan

Bayangkan atasan bertanya mengapa kamu membutuhkan perubahan jadwal. Kamu bisa menjawab bahwa ada urusan keluarga yang perlu diselesaikan.

Tidak selalu perlu menjelaskan seluruh konflik keluarga yang sedang terjadi di rumah.

Hal serupa bisa terjadi ketika rekan kerja bertanya apakah kamu baik-baik saja, lalu pertanyaan sederhana tersebut berubah menjadi cerita panjang tentang hubungan romantis, masalah keluarga, atau kondisi finansial.

Coba tanyakan kepada diri sendiri: apakah detail ini membantu orang memahami situasinya, atau hanya membuat ceritanya semakin panjang?

Kejujuran juga tidak mengharuskan kita menceritakan seluruh kronologi kehidupan pribadi.

Kamu Menceritakan Rahasia Orang Lain

Ini merupakan bentuk oversharing yang perlu diperhatikan.

Saat bercerita, kita terkadang memasukkan pengalaman orang lain ke dalam cerita sendiri. Misalnya membahas masalah rumah tangga teman, kondisi kesehatan saudara, persoalan finansial kolega, atau rahasia yang sebelumnya disampaikan secara pribadi.

Karena informasi itu bukan tentang diri kita, mungkin kita merasa lebih mudah untuk membagikannya. Padahal, mengetahui sebuah informasi bukan berarti kita otomatis berhak menyebarkannya.

Selain berpotensi merusak hubungan, kebiasaan ini juga bisa memengaruhi reputasi profesional.

Rekan kerja mungkin berpikir, kalau cerita orang lain saja dibagikan, bagaimana dengan cerita mereka?

Kantor Menjadi Tempat Utama untuk Curhat

Kantor memang bisa menjadi tempat menemukan teman dekat. Tidak sedikit hubungan pertemanan di tempat kerja yang bertahan lama.

Namun, kamu perlu berhati-hati jika hampir setiap masalah pribadi selalu dibawa ke kantor.

Ketika bertengkar dengan pasangan, rekan kerja menjadi tempat curhat. Saat ada masalah keluarga, kamu kembali mencari mereka. Ketika mengalami persoalan keuangan, kolega juga menjadi orang pertama yang mengetahuinya.

Jika pola tersebut berlangsung terus, batas antara kehidupan profesional dan personal bisa semakin sulit dibedakan.

Untuk persoalan yang sangat pribadi, ada baiknya memiliki ruang dukungan lain di luar kantor. Dengan begitu, semua kebutuhan emosional tidak bergantung pada lingkungan kerja.

Terlalu Banyak Membahas Konflik dengan Atasan

Ketika sedang kesal kepada atasan, menceritakannya kepada teman kantor memang terasa melegakan.

Tetapi curhat bisa berubah menjadi gosip ketika pembicaraan mulai memasukkan asumsi mengenai karakter, kehidupan pribadi, atau motif atasan yang tidak berkaitan dengan persoalan pekerjaan.

Jika memang ada masalah dengan atasan, kamu tetap bisa meminta perspektif dari orang yang dipercaya. Namun, fokuskan pembicaraan pada perilaku, keputusan, atau situasi kerja yang memang bermasalah.

Terlalu Sering Membahas Kondisi Keuangan

Urusan finansial juga termasuk informasi yang perlu dipertimbangkan sebelum dibagikan.

Mengatakan bahwa kamu sedang mencoba lebih hemat tentu berbeda dengan menceritakan secara detail jumlah utang, cicilan, tabungan, atau persoalan finansial keluarga.

Bukan berarti pembicaraan mengenai uang selalu harus dihindari. Dalam konteks tertentu, diskusi tentang gaji, kesenjangan upah, atau kompensasi justru penting.

Yang perlu diperhatikan adalah tujuan dan konteksnya.

Baca Juga: Cara Tepat Mengatasi Gaji yang Hanya Numpang Lewat

Mengapa Oversharing Bisa Jadi Bumerang?

Informasi pribadi yang dibagikan di tempat kerja dapat memengaruhi cara orang lain melihat kita.

Studi Smith dan Brunner dalam To Reveal or Conceal: Using Communication Privacy Management Theory to Understand Disclosures in the Workplace di SAGE Journals menunjukkan bahwa pekerja mempertimbangkan risiko terhadap hubungan dan peran profesional ketika memutuskan apakah akan membuka informasi pribadi di tempat kerja.

Dalam hubungan kerja, persoalan ini menjadi lebih rumit karena hubungan personal dan profesional berjalan bersamaan. Orang yang hari ini menjadi teman satu tim bisa saja menjadi atasan, bawahan, atau kolega lintas divisi di kemudian hari.

Ada pula risiko ketika cerita yang awalnya disampaikan dengan konteks tertentu kemudian dipotong, diteruskan, atau dipahami secara berbeda.

Kita memang tidak bisa mengontrol sepenuhnya bagaimana orang lain memproses informasi tentang diri kita. Karena itu, menjaga batas privasi bukan berarti harus curiga kepada semua orang.

Lebih sederhana dari itu: kita perlu tahu siapa yang memang perlu mengetahui sebuah cerita.

Cara Berhenti Oversharing Tanpa Menjadi Dingin

Berhenti oversharing bukan berarti berubah menjadi orang yang kaku atau selalu menjawab “tidak mau cerita” setiap kali mendapat pertanyaan personal.

Kamu tetap bisa bercanda, berbagi pengalaman sehari-hari, dan membangun pertemanan di kantor. Yang perlu diatur adalah batas informasi yang diberikan.

Bedakan Informasi Personal dan Sensitif

Tidak semua informasi pribadi memiliki tingkat sensitivitas yang sama.

Cerita soal hobi, makanan favorit, film, olahraga, atau tempat liburan biasanya relatif aman dibagikan.

Sebaliknya, konflik rumah tangga, kondisi finansial, persoalan kesehatan, hubungan romantis, trauma, atau masalah keluarga memiliki tingkat privasi yang lebih tinggi.

Kamu bisa membayangkan informasi pribadi seperti beberapa lapisan. Ada informasi yang nyaman diketahui banyak orang, ada yang hanya cocok untuk teman tertentu, dan ada pula yang sebaiknya tetap berada di lingkaran paling dekat.

Beri Jeda Sebelum Menjawab

Oversharing sering terjadi secara spontan.

Ketika seseorang bertanya, “Kok kamu kelihatan capek?”, kita bisa saja langsung menceritakan pertengkaran dengan pasangan, masalah keluarga, sampai persoalan keuangan.

Padahal, mungkin cukup menjawab, “Semalam kurang tidur.”

Memberikan jeda beberapa detik sebelum menjawab memberi kesempatan untuk memilih informasi yang memang ingin dibagikan.

Kamu bisa bertanya: “Gue memang ingin cerita, atau sebenarnya cuma sedang ingin didengarkan?”

Belajar Memberikan Jawaban yang Cukup

Tidak semua pertanyaan membutuhkan penjelasan panjang.

Ketika ditanya mengapa ingin pulang lebih cepat, misalnya, kamu bisa mengatakan ada urusan pribadi yang perlu diselesaikan.

Kamu tidak sedang berbohong karena memilih untuk tidak menjelaskan semuanya.

Jawaban seperti “Belakangan memang agak hectic, tapi gue masih oke” juga bisa memberikan konteks tanpa membuka terlalu banyak informasi.

Privasi bukan berarti tidak jujur. Privasi berarti kamu tetap punya kendali atas informasi tentang dirimu.

Alihkan Percakapan

Kamu juga tidak harus menolak pertanyaan personal secara langsung.

Setelah memberikan jawaban singkat, percakapan bisa dialihkan ke topik lain.

Misalnya, ketika seseorang bertanya soal masalah hubungan, kamu bisa menjawab bahwa memang sedang ada sedikit masalah, tetapi sedang mengurusnya. Setelah itu, kamu bisa bertanya balik soal pekerjaan atau hal lain.

Dengan cara tersebut, hubungan tetap terasa hangat tanpa harus bergantung pada cerita yang sensitif.

Pilih Orang yang Tepat untuk Mendengarkan

Berhenti oversharing bukan berarti semua masalah harus dipendam.

Kita tetap membutuhkan orang untuk bercerita ketika sedang menghadapi masa sulit. Yang perlu diperhatikan adalah siapa yang menjadi tempat cerita dan seberapa banyak informasi yang diberikan.

Tidak semua orang yang ramah di kantor otomatis menjadi tempat curhat yang tepat.

Pertimbangkan hubungan kalian, kemampuan orang tersebut menjaga informasi, serta kemungkinan adanya konflik kepentingan dalam hubungan profesional.

Untuk persoalan yang sangat personal, sahabat, keluarga, atau pihak profesional di luar lingkungan kerja mungkin menjadi ruang yang lebih sesuai.

Sementara itu, dengan rekan kerja, kamu tetap bisa berbagi cerita dalam batas tertentu.

Kamu tidak harus menjadi tertutup untuk menjaga privasi. Kamu hanya perlu lebih sadar bahwa tidak semua orang di kantor perlu mengetahui semua bagian dari hidupmu.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Oversharing di Kantor: Kapan Cerita Pribadi Mulai Kebablasan? Read More
buruh tanpa bayaran

Bekerja 15 Jam, Pulang Jadi Buruh Tanpa Bayaran: Lingkaran Setan Perempuan Pekerja

Nur bekerja di sebuah perusahaan penerbitan. Sehari-hari, ia bisa menghabiskan waktu hingga 15 jam untuk bekerja dengan beban lembur yang mau tak mau harus ditelan karena di lingkarannya tak ada lagi yang bisa diandalkan selain dirinya. Sebagai editor, Nur dituntut sangat teliti dan memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni, tetapi di balik meja kerjanya ia tak punya banyak daya tawar.

Atasannya adalah seorang lelaki dengan kuasa penuh yang secara sepihak mengendalikan rotasi jam kerja pegawai. Dalam relasi kuasa yang toksik dan sarat eksploitasi ini, Nur memilih bertahan karena ia membutuhkan fleksibilitas, lokasi kantor yang dekat dengan rumah, dan pendapatan untuk menopang keluarganya.

Ironisnya, saat pulang, shift kerja Nur justru bertambah. Di rumah, ia kembali menjadi buruh tanpa bayaran atau unpaid labor dengan mengerjakan tumpukan pekerjaan domestik, sering kali karena merasa bersalah sudah menghabiskan terlalu banyak waktu di luar rumah, padahal waktu tersebut ia gunakan untuk bekerja demi keluarga.

Kisah Nur bukan cerita yang berdiri sendiri. Ia menjadi gambaran dari persoalan yang lebih luas, terlihat dalam riset kolaboratif antara Prospera, Universitas Indonesia, dan Macalester College yang bekerja sama dengan International Labour Organization (ILO) dan UN Women.

Data dari riset tersebut menunjukkan hampir 40 persen perempuan di Indonesia menghabiskan lebih dari delapan jam per hari untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan atau unpaid care work, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengawasi anak. Di sisi lain, hampir 40 persen laki-laki menghabiskan kurang dari satu jam per hari untuk pekerjaan serupa.

Jurang pembagian kerja domestik ini masih lebar dan kerap dinormalisasi dengan alasan klise seperti, “laki-laki sudah lelah bekerja mencari nafkah di luar rumah.” Lalu bagaimana dengan pekerja ganda seperti Nur? Apakah lelahnya dianggap kurang penting hanya karena ia perempuan yang secara kultural diharapkan tetap mampu mengurus rumah tangga meski juga menjadi pencari nafkah?

Baca Juga: Stres Ibu Pekerja: Antara Ambisi, Tanggung Jawab, dan Kurangnya Dukungan

Ketika Perempuan Kehabisan Ruang untuk Melawan

Perempuan yang terjebak dalam relasi kuasa buruk di kantor biasanya membutuhkan waktu untuk mencari pekerjaan lain, energi untuk membangun jaringan, atau kesempatan untuk meningkatkan keterampilan. Namun, bagi perempuan seperti Nur, sisa waktu dan energi itu sudah terkuras oleh pekerjaan domestik setelah jam kantor usai, karena manusia bukan robot yang bisa bekerja 24 jam tanpa henti.

Kita sering lupa, agensi atau kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan secara bebas dan membela dirinya sendiri bukan cuma soal keberanian. Agensi membutuhkan energi, kondisi mental yang cukup sehat, serta ruang untuk berpikir dan menentukan pilihan secara mandiri.

Di kantor, perempuan-perempuan ini harus tunduk pada kendali atasan yang dominan sambil menekan ego dan rasa lelah demi mempertahankan pekerjaannya. Di rumah, mereka kembali bekerja mengurus kebutuhan domestik tanpa jeda untuk memulihkan diri, sehingga tidak ada cukup ruang untuk bernapas dan tubuh maupun pikiran terus dipaksa bekerja.

Kondisi tersebut dapat menumpuk menjadi kelelahan dan burnout. Ketika sudah sampai pada titik ini, kapasitas emosional untuk bersuara, melaporkan perlakuan toksik kepada bagian Human Resources Department (HRD), atau melawan ketidakadilan di tempat kerja ikut terkikis.

Pada akhirnya, mereka bisa memilih diam bukan karena tidak tahu sedang diperlakukan tidak adil, tetapi karena energi untuk melawan sudah habis. Sistem patriarki di rumah dan sistem kerja yang eksploitatif di kantor sama-sama mengambil waktu, tenaga, dan ruang perempuan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Relasi kuasa yang buruk di kantor juga dapat mengisolasi pekerja dari rekan sejawat karena mereka saling berhadapan untuk memperebutkan posisi yang lebih layak. Sementara itu, tingginya beban unpaid labor membuat perempuan bahkan tidak punya banyak kesempatan untuk sekadar berbincang, berkumpul, atau membangun jaringan di luar jam kerja.

Tanpa sistem pendukung atau komunitas yang aman untuk bertukar cerita, perempuan pekerja bisa merasa terjebak sendirian. Isolasi seperti ini berbahaya karena membuat situasi eksploitatif perlahan dianggap sebagai hal biasa, bahkan diterima sebagai “nasib” yang harus dijalani dengan ikhlas dan tawakal.

Baca Juga: Kerentanan Perempuan Pekerja

Wajah Nyata Unpaid Labor di Indonesia

Unpaid labor di Indonesia punya bentuk yang luas, mulai dari pekerjaan domestik dan perawatan keluarga hingga pekerjaan dalam usaha atau pertanian keluarga tanpa upah. Beban tersebut masih lebih banyak diletakkan di pundak perempuan, dengan konsekuensi yang ikut memengaruhi kesempatan mereka untuk bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

Bukan cuma ibu rumah tangga, banyak perempuan muda, terutama mereka yang berusia 15–24 tahun, juga terlibat membantu usaha atau pertanian keluarga tanpa menerima gaji resmi. Situasi ini dapat membatasi kesempatan mereka untuk membangun kemandirian finansial sejak usia muda.

Pengawasan dan pengasuhan anak juga menjadi salah satu beban yang memengaruhi peluang perempuan berpartisipasi di sektor formal. Data menunjukkan setiap tambahan satu jam yang dihabiskan perempuan untuk mengasuh anak menurunkan probabilitas mereka untuk bekerja atau mencari upah formal hingga lebih dari enam persen, ditambah tekanan untuk selalu memenuhi standar sebagai ibu yang dianggap baik.

Ketika tuntutan domestik semakin tinggi, pekerjaan di sektor informal kemudian terlihat sebagai pilihan yang lebih masuk akal karena menawarkan fleksibilitas waktu. Masalahnya, fleksibilitas tersebut sering datang bersama minimnya perlindungan sosial, jaminan kesehatan, dan kepastian pendapatan.

Karena itu, lingkaran setan antara tekanan kerja yang eksploitatif dan beban unpaid labor di rumah tidak selesai hanya dengan menyuruh perempuan “berani resign”. Selama kerja perawatan belum dipandang sebagai tanggung jawab bersama dan pembagian pekerjaan domestik masih timpang, perempuan akan terus berhadapan dengan pilihan yang sama-sama berat.

Memutus rantai ini membutuhkan perubahan cara pandang terhadap pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan domestik bukan kodrat perempuan, melainkan tanggung jawab yang semestinya dibagi secara adil, sementara tempat kerja juga membutuhkan kebijakan yang benar-benar memperhitungkan pengalaman perempuan pekerja.

Sebab, jika tidak, akan ada lebih banyak “Nur” yang terus menua dalam kelelahan yang tak dibayar. Mereka terperangkap di antara meja kantor yang menuntut tubuh dan pikiran untuk terus bekerja, serta pekerjaan rumah yang menunggu begitu mereka membuka pintu.

Bekerja 15 Jam, Pulang Jadi Buruh Tanpa Bayaran: Lingkaran Setan Perempuan Pekerja Read More
apa itu fake productivity

‘Fake Productivity’ di Tempat Kerja: Saat Terlihat Sibuk Jadi Ukuran Produktivitas

Pernah merasa harus terus terlihat sibuk di tempat kerja meski pekerjaan utama sebenarnya sudah selesai? Misalnya, sengaja tetap membuka laptop, cepat membalas setiap pesan, atau mengikuti banyak meeting agar tidak dianggap sedang bermalas-malasan.

Fenomena tersebut dikenal sebagai fake productivity atau productivity theater, ketika seseorang terlihat aktif bekerja tetapi aktivitasnya belum tentu menghasilkan kemajuan atau dampak nyata.

Dikutip dari Forbes, survei Software Finder terhadap 1.003 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat menemukan 80 persen pekerja Gen Z mengaku pernah berpura-pura produktif saat bekerja.

Data yang dipublikasikan Software Finder menunjukkan perilaku tersebut tidak hanya terjadi pada Gen Z. Sebanyak 66 persen pekerja yang disurvei mengaku tetap terlihat aktif setelah pekerjaan sebenarnya selesai. Rata-rata pekerja yang melakukan fake productivity menghabiskan hampir lima jam setiap minggu untuk mempertahankan kesan produktif.

Artinya, persoalannya tidak sesederhana pekerja muda yang malas. Justru, fenomena ini memperlihatkan bagaimana budaya kerja dapat membuat terlihat sibuk terasa sama pentingnya dengan menghasilkan pekerjaan.

Baca Juga: ‘Career Minimalism’: Tren Gen Z yang Menolak ‘Hustle Culture’

Gen Z dan Budaya Kerja yang Terlihat Sibuk

Gen Z, yang lahir antara 1997 dan 2012, memasuki dunia kerja setelah menyaksikan berbagai persoalan yang dialami generasi sebelumnya. Mereka melihat budaya hustle, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga kelelahan akibat bekerja berlebihan atau burnout.

Pengalaman tersebut turut membentuk cara generasi ini memandang pekerjaan. Bekerja keras tidak selalu berarti bekerja tanpa batas. Pertanyaan yang muncul kemudian bukan hanya berapa lama seseorang bekerja, tetapi apakah waktu dan energi tersebut benar-benar menghasilkan sesuatu.

Namun, lingkungan kerja dapat membuat pertanyaan tersebut sulit diterapkan. Ketika karyawan merasa harus selalu terlihat aktif agar dianggap berkinerja baik, mereka bisa terdorong melakukan aktivitas yang menunjukkan kesibukan meski tidak banyak berkontribusi terhadap pekerjaan utama.

Fenomena productivity theater sendiri bukan hal baru. Fast Company dalam artikel How to tell if your team is participating in ‘productivity theater’ menggambarkannya sebagai pekerjaan performatif yang lebih mengutamakan aktivitas yang terlihat daripada pekerjaan yang menghasilkan dampak nyata. Contohnya termasuk terlalu banyak berada di email, menghadiri meeting yang tidak diperlukan, dan melakukan riset berlebihan.

Baca Juga: Micro-retirement: Jeda Kerja yang Makin Dilirik Gen Z

Ciri-Ciri Fake Productivity di Tempat Kerja

Fake productivity bisa sulit dikenali karena dari luar seseorang memang terlihat bekerja keras. Ia bisa selalu hadir dalam meeting, cepat membalas pesan, atau menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor.

Persoalannya bukan pada satu aktivitas tertentu, melainkan pada kesenjangan antara aktivitas yang dilakukan dan hasil yang dihasilkan.

  1. Kalender Penuh Meeting, tetapi Minim Keputusan

Meeting dibutuhkan untuk berdiskusi, menyamakan persepsi, memecahkan masalah, atau mengambil keputusan. Namun, rapat yang memenuhi sebagian besar hari kerja tidak otomatis membuat seseorang produktif.

Jika meeting berakhir tanpa keputusan, pembagian tugas, atau langkah konkret, waktu yang dihabiskan belum tentu membuat pekerjaan bergerak maju.

Kalender yang penuh juga dapat mengurangi waktu untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi. Seseorang akhirnya sibuk berpindah dari satu rapat ke rapat lain, sementara pekerjaan utamanya belum tersentuh.

  1. Selalu Online dan Cepat Membalas Pesan

Selalu terlihat online dan cepat membalas WhatsApp, atau email memang memberikan kesan responsif. Namun, respons cepat tidak otomatis berarti pekerjaan selesai dengan baik.

Dikutip dari Hasel, FlowLight & FlowTeams – Fostering Productive Work in Hybrid Workplacesm, notifikasi yang terus masuk juga dapat mengganggu pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi. 

Penelitian tentang interupsi di tempat kerja menunjukkan bahwa gangguan dapat mengurangi waktu fokus; studi lapangan University of Zurich terhadap 449 partisipan menemukan pengurangan interupsi berkaitan dengan peningkatan perasaan produktif.

Karena itu, seseorang bisa merasa sibuk sepanjang hari karena terus berkomunikasi, sementara pekerjaan yang membutuhkan fokus justru berjalan lambat.

  1. Terlihat Sibuk, tetapi Tidak Punya Prioritas Jelas

Seseorang dapat membuka banyak dokumen, mengurus berbagai permintaan, mengikuti sejumlah diskusi, dan membalas puluhan pesan. Namun, ketika ditanya pekerjaan apa yang paling penting untuk diselesaikan, jawabannya belum tentu jelas.

Kondisi tersebut dapat terjadi ketika semua pekerjaan dianggap mendesak. Tugas kecil yang mudah diselesaikan akhirnya mengambil sebagian besar waktu karena memberikan rasa telah menghasilkan sesuatu.

Satu email selesai dibalas, satu dokumen dirapikan, satu notifikasi ditangani. Ada rasa sudah bekerja, tetapi pekerjaan yang memiliki dampak lebih besar masih tertunda.

  1. Banyak Aktivitas, Sedikit Output

Ciri paling penting fake productivity adalah kesenjangan antara aktivitas dan hasil.

Seseorang mungkin menghabiskan waktu untuk riset, diskusi, menyusun draf, dan membuat laporan progres. Namun, setelah beberapa hari atau minggu, proyek masih berada di tahap yang sama.

Bukan berarti semua proses tersebut sia-sia. Pekerjaan kompleks memang membutuhkan waktu. Yang perlu diperhatikan adalah apakah aktivitas yang dilakukan membawa pekerjaan lebih dekat pada tujuan.

Jika tidak, seseorang bisa terjebak dalam busywork, yaitu pekerjaan yang menyita waktu tetapi kontribusinya terhadap hasil akhir relatif kecil.

  1. Sengaja Memperpanjang Pekerjaan

Fake productivity juga dapat muncul ketika pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan lebih cepat sengaja dibuat seolah membutuhkan waktu lebih lama.

Hal tersebut dapat terjadi karena menyelesaikan pekerjaan terlalu cepat justru membuat seseorang khawatir terlihat tidak memiliki cukup beban kerja.

Dalam kondisi seperti ini, efisiensi malah menjadi sesuatu yang perlu disembunyikan. Pekerja mencari aktivitas tambahan agar tetap terlihat memiliki pekerjaan.

Baca Juga: Sibuk Tapi Tidak Sehat: Mengenali Tanda Kantor Toksik dan Cara Menyelamatkan Diri

Cara Menghentikan Siklus Fake Productivity

Mengurangi fake productivity bukan berarti meminta karyawan bekerja lebih lama. Justru, perusahaan perlu mengurangi kebutuhan untuk terus menunjukkan kesibukan dan kembali berfokus pada hasil.

  1. Fokus pada Hasil, Bukan Kesibukan

Pertanyaan “Hari ini sibuk apa?” secara tidak langsung dapat menjadikan kesibukan sebagai ukuran produktivitas.

Pertanyaan seperti “Apa yang berhasil kamu selesaikan hari ini?” atau “Apa progres paling penting minggu ini?” lebih mengarahkan pembicaraan pada hasil.

Seorang content writer, misalnya, tidak perlu membuktikan produktivitas dengan duduk delapan jam di depan laptop. Yang lebih relevan adalah apakah artikel selesai sesuai brief, memenuhi standar kualitas, dan dikumpulkan sesuai tenggat.

  1. Tentukan Prioritas Sebelum Memenuhi Kalender

Kalender yang padat tidak selalu menunjukkan produktivitas. Menentukan satu sampai tiga prioritas utama sebelum mengisi hari dengan meeting, email, dan pekerjaan administratif dapat membantu menjaga fokus.

Pertanyaannya sederhana: jika hanya satu pekerjaan yang berhasil diselesaikan hari itu, mana yang paling memberikan dampak?

Dengan prioritas yang jelas, pekerjaan kecil tidak mudah mengambil waktu dari pekerjaan yang lebih penting.

  1. Kurangi Meeting yang Tidak Punya Tujuan

Tidak semua meeting harus dihilangkan. Namun, setiap rapat sebaiknya memiliki tujuan yang jelas.

Sebelum mengadakan meeting, tim dapat mempertanyakan apakah rapat tersebut benar-benar membutuhkan diskusi bersama, keputusan, atau pemecahan masalah. Jika informasi bisa disampaikan melalui email atau dokumen singkat, rapat mungkin tidak diperlukan.

Meeting yang efektif setidaknya menghasilkan keputusan atau langkah yang dapat ditindaklanjuti.

  1. Berikan Ruang untuk Deep Work

Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi sulit diselesaikan ketika karyawan terus menerima notifikasi, pesan, dan undangan meeting.

Karena itu, pekerja membutuhkan waktu tanpa gangguan untuk menyelesaikan pekerjaan kompleks. Tim dapat menetapkan waktu tertentu tanpa meeting, sementara karyawan mematikan notifikasi ketika membutuhkan konsentrasi.

Tidak langsung membalas pesan juga tidak seharusnya otomatis dianggap sebagai tanda seseorang tidak bekerja.

  1. Jangan Jadikan Status Online sebagai Ukuran Kinerja

Status online, active, atau available sebaiknya tidak menjadi indikator utama produktivitas.

Seseorang bisa terlihat aktif selama delapan jam tetapi tidak menyelesaikan pekerjaan penting. Sebaliknya, seseorang yang mematikan notifikasi selama dua jam mungkin sedang menyelesaikan tugas yang paling strategis hari itu.

Fast Company juga mencatat bahwa productivity theater dapat muncul ketika aktivitas yang mudah terlihat seperti membalas pesan atau menghadiri meeting, lebih dihargai daripada pekerjaan yang benar-benar menghasilkan dampak.

  1. Nilai Karyawan dari Outcome

Perusahaan perlu melihat kembali cara mengevaluasi kinerja. Jika karyawan yang paling lama berada di kantor atau paling sering terlihat online mendapat apresiasi lebih besar, sistem tersebut secara tidak langsung mendorong presenteeism.

Penilaian dapat diarahkan pada pencapaian target, kualitas pekerjaan, kemampuan menyelesaikan masalah, kontribusi terhadap tim, pemenuhan tenggat, dan perkembangan kompetensi.

Dengan begitu, produktivitas tidak lagi diukur dari seberapa sibuk seseorang terlihat, tetapi dari kontribusinya terhadap tujuan pekerjaan.

  1. Bangun Kepercayaan

Micromanagement dapat memperkuat fake productivity. Ketika setiap aktivitas harus dilaporkan dan setiap jam harus dapat dijelaskan, pekerja akan merasa perlu terus membuktikan bahwa dirinya sedang bekerja.

Artikel Forbes, How Workplace Productivity Theater Is Quietly Killing Innovation, juga menunjukkan tekanan untuk terlihat sibuk dapat muncul ketika perusahaan masih membayar dan menilai pekerja berdasarkan waktu atau aktivitas yang terlihat, bukan hasil.

Karena itu, atasan tetap bisa menetapkan target dan melakukan evaluasi tanpa mengawasi setiap menit kerja.

Pada akhirnya, terlihat sibuk tidak selalu berarti pekerjaan benar-benar berjalan. Mengurangi meeting yang tidak perlu, membatasi gangguan, dan fokus pada pekerjaan yang penting bisa jadi lebih berarti daripada terus terlihat aktif.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

‘Fake Productivity’ di Tempat Kerja: Saat Terlihat Sibuk Jadi Ukuran Produktivitas Read More
meningkatkan semangat kerja sehabis liburan

Kerja Lagi Berat? Cara Menjaga Mood di Kantor

Bekerja memang bisa melelahkan. Tekanan target, tenggat waktu, konflik dengan rekan kerja, perubahan prioritas, hingga ketidakamanan pekerjaan dapat memengaruhi kondisi mental seseorang selama menjalani aktivitas sehari-hari. Karena itu, merasa jenuh atau mengalami suasana hati yang buruk di kantor tidak selalu berarti seseorang kurang bersyukur atau tidak mampu menghadapi tekanan.

Menjaga suasana hati di tempat kerja juga bukan berarti memaksa diri untuk selalu positif. Ada hari ketika pekerjaan berjalan lancar, tetapi ada pula saat ketika satu email, revisi, atau rapat terasa lebih berat dari biasanya. Yang lebih penting adalah mengenali emosi, memahami pemicunya, dan menentukan respons yang tidak memperburuk keadaan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam artikel Mental health at work menjelaskan bahwa pekerjaan yang layak dan lingkungan kerja yang aman dapat mendukung kesehatan mental. Sebaliknya, beban kerja berlebihan, rendahnya kontrol terhadap pekerjaan, ketidakamanan kerja, diskriminasi, dukungan yang terbatas, serta kondisi kerja yang buruk termasuk risiko psikososial yang dapat memengaruhi kesehatan mental.

Artinya, menjaga mood di tempat kerja bukan semata-mata tanggung jawab individu. Cara seseorang merespons tekanan memang penting, tetapi kondisi organisasi dan lingkungan kerja juga ikut menentukan pengalaman seseorang selama bekerja.

Baca juga: Hey Hanging: Kebiasaan Chat yang Diam-diam Bikin Rekan Kerja Kesal

Mengapa Suasana Hati Penting di Tempat Kerja?

Kondisi emosional dapat ikut memengaruhi bagaimana seseorang merespons tekanan dan interaksi di tempat kerja. Ketika sedang sangat lelah atau frustrasi, seseorang mungkin menjadi lebih mudah tersinggung atau kesulitan mengambil jarak dari persoalan kecil.

Karena itu, menjaga suasana hati bukan berarti harus terlihat ceria sepanjang hari. Tujuannya adalah menjaga agar emosi tidak langsung menentukan tindakan. Memberi jeda sebelum membalas pesan, misalnya, dapat membantu seseorang merespons persoalan dengan lebih tenang daripada langsung bereaksi ketika sedang marah.

WHO menyebut lingkungan kerja yang aman dan sehat dapat mendukung kesehatan mental, hubungan positif, retensi karyawan, performa, dan produktivitas. Sebaliknya, kondisi kerja yang buruk dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan mental.

Baca Juga: Cara Memberikan Feedback pada Rekan Kerja dengan Tepat

Apa yang Bisa Membuat Mood Memburuk Saat Bekerja?

Suasana hati yang memburuk di kantor tidak selalu berasal dari persoalan pribadi. International Labour Organization (ILO) , Psychosocial risks and Mental Health at Work, menjelaskan bahwa risiko psikososial dapat berkaitan dengan desain pekerjaan, beban dan kecepatan kerja, kontrol terhadap pekerjaan, budaya organisasi, hubungan interpersonal, keamanan kerja, hingga tuntutan pekerjaan dan kehidupan di luar kantor.

Beban Kerja dan Deadline yang Berlebihan

Banyak pekerjaan dalam waktu terbatas dapat membuat seseorang merasa terus-menerus mengejar sesuatu yang belum selesai. Situasinya semakin berat ketika semua tugas diberi label mendesak atau prioritas berubah tanpa penjelasan yang jelas.

ILO dalam artikel Psychosocial risks and stress at work menyebut beban kerja berat, tekanan waktu, tenggat yang terus-menerus, jam kerja panjang, dan rendahnya kontrol atas pekerjaan sebagai sejumlah risiko psikososial di tempat kerja.

Dalam kondisi seperti ini, persoalannya bukan sekadar kemampuan mengatur waktu. Jika kapasitas dan sumber daya tidak sebanding dengan tuntutan pekerjaan, tekanan yang dirasakan pekerja dapat semakin besar.

Konflik dengan Rekan Kerja

Tempat kerja mempertemukan orang dengan gaya komunikasi, kebiasaan, dan cara bekerja yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak selalu menjadi masalah, tetapi dapat berkembang menjadi sumber tekanan ketika terjadi komunikasi buruk, kurangnya dukungan, perundungan, diskriminasi, atau konflik yang tidak terselesaikan.

ILO memasukkan hubungan interpersonal yang buruk, dukungan yang terbatas dari rekan kerja atau atasan, perilaku otoriter, kekerasan, pelecehan, dan perundungan sebagai bagian dari risiko psikososial di tempat kerja.

Karena itu, ketika suasana hati terus memburuk setelah berinteraksi dengan orang tertentu, penting untuk melihat pola yang terjadi. Bisa jadi persoalannya bukan sekadar ketidakcocokan, melainkan masalah komunikasi atau perilaku yang memang perlu ditangani.

Atasan yang Terlalu Mengontrol

Hubungan dengan atasan juga dapat memengaruhi pengalaman seseorang di tempat kerja. Arahan yang tidak jelas, perubahan instruksi secara tiba-tiba, pengawasan berlebihan, atau kurangnya ruang untuk mengambil keputusan dapat membuat pekerjaan terasa lebih menekan.

WHO menyebut rendahnya kontrol terhadap pekerjaan dan dukungan yang terbatas sebagai salah satu risiko psikososial. ILO juga memasukkan kurangnya kontrol terhadap desain pekerjaan maupun beban kerja serta supervisi yang otoriter sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko stres kerja.

Merasa Tidak Dihargai

Kurangnya pengakuan terhadap kontribusi pekerja juga dapat memengaruhi pengalaman seseorang di tempat kerja. Penghargaan tidak selalu berbentuk kenaikan gaji atau promosi. Komunikasi yang menghargai kontribusi, umpan balik yang jelas, serta kesempatan untuk berkembang juga merupakan bagian dari lingkungan kerja yang sehat.

ILO dalam laporan The psychosocial working environment: Global developments and pathways for action yang diterbitkan pada 2026 menempatkan faktor seperti tuntutan pekerjaan, kejelasan peran, otonomi, beban kerja, dukungan, dan proses yang adil sebagai bagian penting dari lingkungan kerja psikososial.

Baca Juga: Kisah Endang dan Diskriminasi pada Pekerja Lansia: Saat Dunia Kerja Belum Ramah Usia

Cara Menjaga Suasana Hati di Tempat Kerja

Menjaga mood bukan berarti menghilangkan semua emosi negatif. Langkah yang lebih realistis adalah mengenali apa yang sedang terjadi dan menentukan respons yang sesuai. Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu mengelola tekanan sehari-hari, meski tidak menggantikan kebutuhan untuk memperbaiki masalah di tingkat organisasi.

Kenali Pemicu Mood sebelum Bereaksi

Ketika tiba-tiba merasa kesal di kantor, jangan langsung menyimpulkan bahwa masalahnya berasal dari orang yang sedang berada di depanmu. Coba perhatikan apa yang terjadi sebelumnya.

Mood mungkin memburuk setelah rapat tertentu, menerima banyak pekerjaan, menghadapi deadline, atau mendapatkan pesan ketika sedang kelelahan. Dengan mengenali pola tersebut, kamu dapat membedakan sumber masalah dan menentukan respons yang lebih tepat.

Jika penyebabnya adalah beban kerja, misalnya, solusi yang dibutuhkan mungkin bukan sekadar “berpikir positif”, tetapi membicarakan prioritas dengan atasan.

Beri Jeda Sebelum Merespons

Tidak semua pesan harus dijawab dalam hitungan detik. Ketika menerima email atau komentar yang membuat emosi meningkat, beri waktu untuk menenangkan diri jika situasinya memungkinkan.

Kamu bisa meninggalkan meja sebentar, minum air, berjalan singkat, atau mengerjakan tugas lain sebelum kembali pada persoalan tersebut. Jeda tidak berarti menghindari masalah, tetapi memberi kesempatan agar respons tidak sekadar mengikuti emosi sesaat.

Bedakan Fakta dan Interpretasi

Komentar atasan seperti “tolong revisi bagian ini” merupakan fakta. Pikiran bahwa komentar tersebut berarti “atasan menganggap saya tidak kompeten” adalah interpretasi.

Keduanya perlu dibedakan. Ketika sedang lelah atau tertekan, seseorang dapat lebih mudah memberikan makna negatif terhadap situasi yang sebenarnya masih terbuka untuk berbagai penafsiran.

Memisahkan fakta dari asumsi tidak berarti mengabaikan perasaan. Cara ini memberi ruang untuk memeriksa situasi sebelum mengambil kesimpulan atau merespons orang lain.

Atur Prioritas Agar Tidak Terus Kewalahan

Jika semua pekerjaan terasa mendesak, tentukan mana yang benar-benar harus selesai lebih dahulu. Ketika prioritas tidak jelas, komunikasikan kapasitas dan minta bantuan atasan untuk menentukan urutan pekerjaan.

Hal ini penting karena persoalan beban kerja tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan manajemen waktu pribadi. ILO menekankan pentingnya pengaturan beban kerja, target yang realistis, komunikasi organisasi, serta partisipasi pekerja dalam pengambilan keputusan sebagai bagian dari pencegahan risiko psikososial.

Jangan Merasa Bersalah karena Beristirahat

Istirahat bukan berarti tidak produktif. Ketika pekerjaan memungkinkan, jeda dapat menjadi bagian dari cara menjaga energi dan konsentrasi.

Tidak perlu membuat rutinitas yang rumit. Berdiri dari meja, minum air, makan tanpa membuka laptop, atau berjalan sebentar dapat menjadi kesempatan untuk mengalihkan perhatian dari pekerjaan sebelum kembali menyelesaikan tugas.

Batasi Notifikasi yang Tidak Mendesak

Pesan dan notifikasi yang terus muncul dapat membuat seseorang sulit mempertahankan fokus. Jika jenis pekerjaan memungkinkan, matikan notifikasi yang tidak mendesak untuk periode tertentu dan tentukan waktu khusus untuk memeriksa pesan.

Tujuannya bukan menjadi tidak responsif, melainkan membedakan persoalan yang benar-benar membutuhkan respons segera dari hal yang sebenarnya dapat menunggu.

Bangun Hubungan Kerja yang Sehat

Tidak semua rekan kerja harus menjadi teman dekat. Namun, lingkungan yang saling menghormati dapat membantu membuat pekerjaan terasa lebih aman dan suportif.

Komunikasi yang jelas, kesediaan membantu ketika diperlukan, serta batasan yang sehat dapat mencegah konflik kecil berkembang menjadi masalah yang lebih besar. WHO dan ILO sama-sama menempatkan dukungan sosial dan hubungan interpersonal sebagai bagian dari kondisi kerja yang berpengaruh terhadap kesehatan mental.

Baca Juga: 4 Penyebab ‘Mood Swing’ Saat Bekerja dan Cara Mengatasinya

Menjaga Mood Bukan Berarti Harus Selalu Positif

Suasana hati di tempat kerja dipengaruhi banyak hal, mulai dari beban kerja dan deadline hingga hubungan dengan rekan kerja, gaya kepemimpinan, keamanan pekerjaan, dan tingkat kontrol terhadap pekerjaan. Karena itu, ketika mood sering memburuk, persoalannya tidak selalu terletak pada kemampuan individu untuk mengelola emosi.

Mengenali pemicu, memberi jeda sebelum bereaksi, mengatur prioritas, dan menjaga batasan dapat membantu menghadapi tekanan sehari-hari. Namun, ketika sumber masalah berasal dari beban kerja yang tidak wajar, perundungan, diskriminasi, atau kondisi kerja yang tidak sehat, penyelesaiannya juga membutuhkan perubahan pada lingkungan kerja.

Pada akhirnya, menjaga suasana hati bukan tentang memaksa diri untuk selalu bahagia di kantor. Yang lebih penting adalah memiliki ruang untuk bekerja secara manusiawi, mengenali batas diri, dan berada dalam lingkungan yang mendukung kesehatan mental.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Kerja Lagi Berat? Cara Menjaga Mood di Kantor Read More
tanda perusahaan ramah terhadap pekerja perempuan

Perempuan Breadwinner: Tantangan Jadi Pencari Nafkah Utama dalam Keluarga

Peran sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga selama ini identik dengan laki-laki. Namun, perubahan kondisi ekonomi, meningkatnya partisipasi perempuan di dunia kerja, serta dinamika dalam rumah tangga membuat semakin banyak perempuan mengambil peran tersebut. Mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan diri sendiri, tetapi juga menjadi penopang ekonomi bagi pasangan, anak, maupun anggota keluarga lainnya.

Fenomena ini bukan lagi kasus yang jarang ditemui. Mengutip Diajeng , Perempuan Breadwinner: Tantangan Nyata dan Cara Mengelolanya, yang merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa 14,37 persen pekerja di Indonesia termasuk dalam kategori female breadwinner.

Peran ini paling banyak dijalani oleh istri, disusul perempuan yang menjadi kepala rumah tangga, kemudian anak perempuan atau anggota keluarga lain yang turut menopang ekonomi keluarga.

Female breadwinner merujuk pada perempuan yang menjadi sumber penghasilan utama dalam keluarga, baik karena pendapatannya lebih besar, menjadi orang tua tunggal, maupun berdasarkan pembagian peran yang disepakati. 

Meski semakin umum, perubahan tersebut belum selalu diikuti perubahan cara pandang masyarakat. Dalam laporan UN Women, Progress on the Sustainable Development Goals: The Gender Snapshot 2024, disebutkan bahwa perempuan masih menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan yang tidak dibayar dibandingkan laki-laki. Kondisi ini membuat banyak perempuan tetap memikul tanggung jawab rumah tangga meski juga menjadi pencari nafkah utama.

Akibatnya, perempuan breadwinner sering menghadapi tekanan berlapis. Mereka dituntut menjaga stabilitas ekonomi keluarga sekaligus memenuhi ekspektasi terhadap peran domestik. Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi finansial, tetapi juga menyangkut pembagian peran, relasi dalam keluarga, dan kesehatan mental.

Baca Juga: Gara-gara Stigma Janda Media, Ibu Tunggal Sulit Berkarier

Tantangan Menjadi Perempuan Breadwinner

Menjadi pencari nafkah utama tidak hanya berarti memiliki tanggung jawab finansial yang lebih besar. Banyak perempuan juga harus menghadapi tekanan sosial, beban pengasuhan, dan bias gender yang masih melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Tekanan Sosial dan Ekspektasi Gender

Meski jumlah perempuan breadwinner terus meningkat, anggapan bahwa laki-laki adalah pencari nafkah utama masih kuat. Akibatnya, tidak sedikit perempuan menghadapi komentar atau pertanyaan yang mempertanyakan perannya, baik dari lingkungan sekitar maupun keluarga besar.

Laporan UN Women, Progress on the Sustainable Development Goals: The Gender Snapshot 2024, menunjukkan bahwa norma sosial masih menjadi salah satu hambatan dalam mewujudkan kesetaraan gender, termasuk dalam pembagian peran di rumah dan dunia kerja.

Double Burden dan Bias Gender

Selain menjadi pencari nafkah utama, banyak perempuan tetap memikul sebagian besar pekerjaan domestik dan pengasuhan. Kondisi yang dikenal sebagai double burden ini membuat mereka harus menjalani dua peran sekaligus dalam waktu yang bersamaan. 

International Labour Organization (ILO) dalam laporan Care at Work: Investing in Care Leave and Services for a More Gender Equal World of Work juga menyoroti bahwa tanggung jawab pengasuhan yang belum terbagi secara setara masih menjadi tantangan bagi perempuan di dunia kerja.

Di sisi lain, bias gender juga masih kerap muncul. Perempuan yang sukses secara finansial terkadang dianggap menyimpang dari peran tradisional, sementara laki-laki yang bukan pencari nafkah utama justru menghadapi stigma sosial. Situasi tersebut dapat memengaruhi dinamika hubungan jika tidak diimbangi komunikasi dan pembagian tanggung jawab yang setara.

Baca Juga: Tersandera ‘Glass Cliff’, Perempuan Pekerja Sulit Berkembang

Dampak Menjadi Perempuan Breadwinner terhadap Kesejahteraan dan Kesehatan Mental

Menjadi pencari nafkah utama dapat memberikan rasa percaya diri dan kemandirian finansial. Namun, ketika tanggung jawab ekonomi berjalan bersamaan dengan tuntutan domestik dan tekanan sosial, perempuan juga berisiko mengalami kelelahan fisik maupun emosional.

American Psychological Association (APA) dalam artikel Stress Effects on the Body menjelaskan bahwa stres yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental, mulai dari gangguan tidur hingga kesulitan berkonsentrasi. Risiko tersebut meningkat ketika seseorang menghadapi berbagai tuntutan dalam waktu yang bersamaan.

Laporan ILO, Care at Work: Investing in Care Leave and Services for a More Gender Equal World of Work, juga menunjukkan bahwa perempuan masih menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan pengasuhan yang tidak dibayar dibandingkan laki-laki. Ketimpangan ini membuat banyak perempuan harus tetap mengerjakan pekerjaan pengasuhan dan pekerjaan domestik setelah menyelesaikan pekerjaan formal.

Masih dari Diajeng, perubahan peran ekonomi dalam keluarga juga disebut dapat memunculkan tekanan emosional apabila masih dibayangi ekspektasi tradisional mengenai siapa yang seharusnya menjadi pencari nafkah utama.

Meski demikian, besarnya pendapatan bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kesejahteraan keluarga. Dukungan pasangan, pembagian peran yang adil, dan komunikasi yang terbuka berperan penting agar perempuan dapat menjalani perannya tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Baca Juga: Apa Hukum Perempuan Bekerja di dalam Islam?

Cara Menjalani Peran sebagai Perempuan Breadwinner dengan Lebih Sehat

Menjalani peran sebagai breadwinner tidak berarti harus menanggung seluruh beban sendirian. Sejumlah pakar menilai bahwa komunikasi, pembagian tanggung jawab, dan dukungan sosial merupakan kunci agar peran tersebut dapat dijalani secara berkelanjutan.

Bangun Komunikasi dan Pembagian Peran yang Setara

Komunikasi yang terbuka mengenai kondisi keuangan, pembagian pekerjaan rumah, hingga kebutuhan emosional membantu pasangan membangun pemahaman bersama. Masih dari Diajeng, komunikasi yang jujur disebut sebagai salah satu cara mengurangi konflik akibat perubahan peran dalam keluarga.

Prinsip tersebut juga sejalan dengan laporan ILO, Care at Work: Investing in Care Leave and Services for a More Gender Equal World of Work, yang menekankan pentingnya pembagian tanggung jawab pengasuhan agar perempuan tidak terus menanggung beban ganda.

Jaga Kesehatan Diri dan Bangun Sistem Dukungan

Di tengah kesibukan bekerja dan mengurus keluarga, menyediakan waktu untuk beristirahat, berolahraga, atau melakukan aktivitas yang disukai merupakan bagian dari menjaga kesehatan. APA melalui artikel Stress Effects on the Body menjelaskan bahwa mengelola stres menjadi langkah penting untuk mencegah dampak negatif terhadap kesehatan fisik maupun psikologis.

Selain itu, dukungan dari pasangan, keluarga, teman, atau komunitas dapat membantu mengurangi beban yang dirasakan. Menerima bantuan bukan berarti kurang mandiri, melainkan bagian dari membangun sistem yang memungkinkan seluruh anggota keluarga berbagi tanggung jawab secara lebih adil.

Menjadi Breadwinner Bukan Berarti Menanggung Semuanya Sendiri

Semakin banyak perempuan di Indonesia menjadi pencari nafkah utama keluarga. Perubahan ini menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi rumah tangga tidak lagi ditentukan oleh pembagian peran tradisional, melainkan oleh kemampuan setiap anggota keluarga untuk saling mendukung. Ketika komunikasi berjalan terbuka, tanggung jawab dibagi secara setara, dan perempuan memiliki ruang untuk menjaga kesejahteraan dirinya, peran sebagai breadwinner dapat dijalani tanpa harus mengorbankan kesehatan mental maupun kualitas hubungan dalam keluarga.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Perempuan Breadwinner: Tantangan Jadi Pencari Nafkah Utama dalam Keluarga Read More
tips membuat cv yang benar

‘Doomjobbing’: Ketika Terlalu Sering Cari Kerja Justru Memicu ‘Burnout’

Di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif, banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari menelusuri portal lowongan, menekan tombol easy apply, hingga terus-menerus nge-refresh halaman pencarian kerja. Alih-alih merasa semakin dekat dengan pekerjaan impian, sebagian justru diliputi kecemasan karena lamaran tak kunjung mendapat respons.

Perasaan tersebut muncul di tengah kondisi pasar kerja yang memang penuh tantangan. Laporan Employ, 2025 Job Seeker Nation Report menunjukkan optimisme pencari kerja mulai menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Meski lebih dari setengah responden masih yakin akan mendapat panggilan wawancara, hanya 44 persen yang menilai pasar kerja saat ini relatif mudah. 

Di sisi lain, lebih dari dua pertiga responden memperkirakan mereka baru akan mendapatkan pekerjaan setelah mengirim maksimal 10 lamaran, sementara 66 persen mengaku mengalami burnout selama proses mencari kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa pencarian kerja kini tidak hanya memerlukan waktu lebih lama, tetapi juga dapat menjadi pengalaman yang melelahkan secara emosional.

Di tengah situasi tersebut, muncul istilah doomjobbing. Istilah ini menggabungkan doomscrolling, kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif di internet, dengan job hunting. Seseorang yang mengalami doomjobbing terus mencari dan melamar pekerjaan bukan lagi karena memiliki strategi yang terencana, melainkan karena rasa cemas dan takut kehilangan peluang.

Dikutip dari Forbes, Doomjobbing’ Is The New Doomscrolling Quietly Derailing Careers, menurut Bryan Robinson, psikolog sekaligus kontributor Forbes, doomjobbing merupakan versi karier dari doomscrolling. Seseorang mungkin tampak produktif karena terus mengirim lamaran, tetapi aktivitas tersebut belum tentu meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan jika dilakukan tanpa strategi yang jelas. 

Dalam artikel yang sama, Robinson mengutip Dan Kejsefman, Talent Director di Avature, yang menjelaskan bahwa rasa mendesak setelah kehilangan pekerjaan atau menghadapi ketidakpastian karier memang merupakan respons yang wajar. Namun, ketika dorongan tersebut berubah menjadi kebiasaan mencari kerja tanpa henti, pencari kerja berisiko terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai “ilusi kemajuan”, terus merasa sibuk, tetapi tidak benar-benar bergerak lebih dekat ke pekerjaan yang diinginkan.

Berbeda dengan proses job hunting yang terencana, doomjobbing tidak memiliki batas yang jelas. Dalam pencarian kerja yang sehat, seseorang biasanya menentukan posisi yang sesuai, menyesuaikan CV dan surat lamaran, lalu menunggu proses rekrutmen sambil menjalankan aktivitas lain. Sebaliknya, doomjobbing membuat seseorang merasa harus terus memantau lowongan baru dan mengirim lamaran setiap saat karena khawatir melewatkan kesempatan.

Baca Juga: Career Gap di CV Bisa Jadi Red Flag?

Mengapa Doomjobbing Semakin Marak?

Fenomena doomjobbing enggak muncul begitu saja. Perubahan kondisi ekonomi, meningkatnya persaingan di pasar kerja, hingga perkembangan teknologi membuat proses mencari pekerjaan terasa semakin kompleks. Laporan Employ, 2025 Job Seeker Nation Report mencatat bahwa hanya 44 persen responden yang menilai mencari pekerjaan saat ini tergolong mudah, turun dibandingkan tahun sebelumnya. Di saat yang sama, kepercayaan diri untuk memperoleh pekerjaan dalam waktu tiga bulan juga ikut menurun.

Meski demikian, ekspektasi pencari kerja masih tergolong tinggi. Laporan yang sama menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga responden (70 persen) memperkirakan mereka akan mendapatkan pekerjaan setelah mengirim maksimal 10 lamaran. Ketika harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, proses pencarian kerja dapat terasa semakin melelahkan dan memicu dorongan untuk terus membuka portal lowongan atau mengirim lamaran baru.

Bryan Robinson dalam artikel Forbes menjelaskan bahwa kondisi tersebut menjadi salah satu latar munculnya doomjobbing. Ia menilai ketidakpastian ekonomi, gelombang pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor, serta persaingan yang semakin ketat membuat sebagian pencari kerja merasa harus terus bergerak agar tidak kehilangan peluang. 

Dalam artikel yang sama, Dan Kejsefman, Talent Director di Avature, mengatakan bahwa dorongan untuk terus mencari pekerjaan memang dapat dipahami, terutama setelah seseorang kehilangan pekerjaan atau menghadapi ketidakpastian karier. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan tanpa strategi yang jelas, pencari kerja berisiko terjebak dalam “ilusi kemajuan”, terus merasa produktif karena mengirim banyak lamaran, padahal peluangnya belum tentu meningkat.

Perubahan teknologi juga turut memengaruhi cara orang memandang pasar kerja. Dalam 2025 Job Seeker Nation Report, 81 persen responden mengatakan mereka perlu mempelajari teknologi baru, termasuk AI, agar tetap kompetitif, sementara 89 persen percaya bahwa menutup kesenjangan keterampilan (skills gap) dapat meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan.

Di sisi lain, AI mulai menjadi bagian dari proses rekrutmen. Laporan Employ menunjukkan bahwa 56 persen responden merasa nyaman jika AI digunakan untuk meninjau CV, meski mayoritas masih lebih mempercayai staf HR dibandingkan AI untuk membimbing mereka selama proses rekrutmen.

Kombinasi antara pasar kerja yang semakin kompetitif, ekspektasi yang tinggi, serta perubahan teknologi inilah yang membuat sebagian orang merasa harus terus mencari peluang baru. Dalam kondisi tersebut, batas antara proses job hunting yang terencana dan doomjobbing menjadi semakin tipis.

Baca Juga: Job-dropping: Alasan Sebagian Pekerja Menolak Promosi Jabatan

Dampak Doomjobbing terhadap Kesehatan Mental

Proses mencari pekerjaan memang dapat menguras waktu dan energi. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan tanpa jeda dan didorong oleh rasa cemas, dampaknya tidak hanya terasa pada produktivitas, tetapi juga kesejahteraan psikologis pencari kerja.

Salah satu temuan yang memperkuat kondisi tersebut berasal dari Employ, 2025 Job Seeker Nation Report. Laporan itu menunjukkan bahwa 66 persen responden mengaku mengalami burnout selama mencari pekerjaan. Temuan ini tidak secara khusus mengukur doomjobbing, tetapi menggambarkan bahwa proses pencarian kerja yang berkepanjangan dapat menjadi pengalaman yang melelahkan bagi banyak orang.

Bryan Robinson menjelaskan bahwa doomjobbing membuat seseorang merasa harus terus mencari peluang baru, meski telah mengirim banyak lamaran. Akibatnya, pencari kerja terus membuka portal lowongan, memantau email, atau memperbarui CV karena khawatir ada kesempatan yang terlewat. Menurut Robinson, kebiasaan tersebut dapat menciptakan kesan seolah-olah seseorang terus membuat kemajuan, padahal aktivitas yang dilakukan sering kali hanya berulang tanpa strategi yang berbeda.

Pandangan serupa juga muncul dalam artikel The Guardian, Doomjobbing: how the modern job hunt became a vicious loop. Artikel tersebut menggambarkan doomjobbing sebagai siklus yang terus berulang: membuka portal lowongan, mengirim lamaran, menunggu balasan, lalu kembali mencari pekerjaan ketika respons tak kunjung datang. Siklus tersebut dapat memicu frustrasi karena pencari kerja merasa selalu sibuk, tetapi sulit melihat hasil yang nyata.

Tekanan tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi pasar kerja yang penuh ketidakpastian. Dalam Employ, 2025 Job Seeker Nation Report, hanya 44 persen responden yang menilai mencari pekerjaan saat ini relatif mudah, sementara optimisme untuk mendapatkan pekerjaan dalam waktu singkat juga menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Ketika proses rekrutmen berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, sebagian pencari kerja terdorong untuk terus meningkatkan intensitas pencarian kerja sebagai respons terhadap ketidakpastian tersebut.

Meski demikian, para pakar menekankan bahwa banyaknya lamaran yang dikirim tidak selalu berbanding lurus dengan peluang diterima bekerja. Karena itu, doomjobbing dipandang bukan sebagai strategi pencarian kerja yang efektif, melainkan sebagai respons terhadap tekanan dan kecemasan yang muncul selama proses mencari pekerjaan.

Baca Juga: Lamaran Kerja Ditolak, Siapa Bertindak: 9 Tanda Wawancaramu Gagal

Cara Menghindari Doomjobbing Tanpa Mengorbankan Peluang Karier

Meski istilah doomjobbing masih tergolong baru, bukan berarti pencari kerja harus berhenti mencari peluang. Sejumlah pakar justru menekankan bahwa proses mencari kerja akan lebih efektif jika dilakukan secara terencana, dengan target yang realistis dan strategi yang jelas.

Bryan Robinson menyarankan agar pencari kerja mengubah fokus dari kuantitas menjadi kualitas. Alih-alih mengirim puluhan lamaran setiap hari, ia mendorong pencari kerja untuk lebih selektif memilih posisi yang sesuai dengan pengalaman, keterampilan, dan tujuan karier. Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan terus-menerus melamar pekerjaan tanpa menyesuaikan CV atau surat lamaran dengan kebutuhan setiap perusahaan.

Pandangan serupa disampaikan Peter Duris, CEO dan Co-founder Kickresume. Menurutnya, mengirim lamaran secara massal sering kali hanya menciptakan kesan produktif tanpa benar-benar meningkatkan peluang diterima bekerja. Sebaliknya, menyesuaikan dokumen lamaran untuk setiap posisi dapat membantu pelamar menunjukkan kompetensi yang paling relevan dengan kebutuhan perusahaan.

Selain strategi melamar, para pakar juga menyoroti pentingnya memberi batas pada aktivitas mencari kerja. Robinson menyarankan pencari kerja menetapkan waktu khusus untuk menelusuri lowongan atau mengirim lamaran, alih-alih memantau portal kerja sepanjang hari. Cara ini membantu menjaga keseimbangan antara upaya mencari pekerjaan dan waktu untuk beristirahat.

Temuan dalam Employ, 2025 Job Seeker Nation Report juga menunjukkan bahwa pencari kerja semakin menyadari pentingnya mengembangkan keterampilan. Sebanyak 89 persen responden percaya bahwa menutup kesenjangan keterampilan (skills gap) dapat meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan, sementara 81 persen menilai mempelajari teknologi baru, termasuk AI, menjadi langkah penting agar tetap kompetitif di pasar kerja.

Pada akhirnya, doomjobbing menunjukkan bahwa tantangan mencari pekerjaan saat ini enggak hanya terletak pada banyaknya lowongan yang tersedia, tetapi juga pada cara seseorang merespons ketidakpastian di pasar kerja.

Terus-menerus mencari pekerjaan belum tentu membuat peluang diterima semakin besar. Sebaliknya, membangun strategi pencarian kerja yang terarah, terus mengembangkan keterampilan, serta memberi ruang untuk beristirahat dapat membantu pencari kerja menjalani proses tersebut secara lebih berkelanjutan tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

‘Doomjobbing’: Ketika Terlalu Sering Cari Kerja Justru Memicu ‘Burnout’ Read More