Rekomendasi Kegiatan Setelah Resign

6 Rekomendasi Kegiatan Setelah Resign dan Belum Dapat Kerja Baru

Berhenti bekerja alias resign bisa terjadi karena banyak alasan. Misalnya, karena terkena PHK masal, seperti yang dialami banyak orang selama Pandemi Covid-19. Atau, karena kita ingin ambil jeda untuk mempertimbangkan langkah terbaik selanjutnya di karier. Atau, mungkin karena tak sanggup lagi bekerja di perusahaan dan bos yang toksik.

Apa pun alasannya, tidak lagi punya pekerjaan bisa jadi tantangan tersendiri. Bersikap dan memupuk pikiran positif bisa jadi pilihan yang sangat disarankan. Bagi kamu yang memutuskan dan akhirnya resign, Pertanyaan seperti: “Setelah resign selanjutnya apa, ya?” mungkin saja muncul.

Beberapa rekomendasi di bawah mungkin bisa jadi jawaban yang kamu coba, untuk menjaga diri tetap positif, dan syukur-syukur bisa produktif.

6 Rekomendasi Kegiatan Setelah Resign Kerja

  1. Mempelajari hal baru

Mempelajari hal baru dapat jadi kegiatan yang bikin kamu tetap positif dan produktif setelah resign.

Kamu dapat mulai dengan mencari kegiatan atau kelas online untuk belajar skill baru di luar bidang pekerjaan. Atau bila kamu masih ragu untuk mengeluarkan uang, kamu bisa juga belajar melalu Youtube atau media sosial lainnya.

Baca juga: Apa itu ‘Life Skill’ dan Bagaimana Cara Mengembangkannya?

Mempunyai kegiatan positif ini tidak hanya membuat kamu jadi lebih produktif setelah resign, tapi juga memberi kamu kesempatan memperluas koneksi.

  1. Melakukan hobi

Selain mencoba hal baru, meluangkan waktu untuk melakukan hobi suka setelah resign merupakan opsi kegiatan bermanfaat lainnya.

Di saat kamu masih bekerja, mungkin sulit untuk menyediakan waktu untuk menjalani hobi. Oleh karena itu, saat akhirnya punya waktu luang setelah resign, cobalah untuk menekuni hobimu lagi.

Melakukan kegiatan yang kamu senangi bisa memperbaiki suasana hati dan menghasilkan sudut pandang yang positif.

Selain itu, melakukan hobi juga bisa membuat kamu tetap produktif dan kreatif sekaligus mengasah kembali kemampuanmu. Atau bahkan bisa jadi ide untuk memulai usaha baru.

  1. Gabung dengan komunitas

Jika selama ini waktu kamu hanya terkuras untuk perusahaan, maka setelah resign kamu bisa  punya banyak waktu untuk memikirkan diri sendiri. Bergabung atau ikut ke dalam sebuah komunitas tertentu merupakan hal yang positif. Selain kamu jadi bisa belajar berorganisasi, kamu juga bisa memperluas koneksi pertemanan, yang bisa jadi membuka ke peluang usaha baru.

  1. Traveling

Setelah resign, kamu bisa menggunakan kesempatan ini untuk jalan-jalan ke suatu tempat. Mungkin, buat kamu yang sengaja memilih resign dan punya tabungan, bisa mencoba berwisata ke tempat yang sudah lama kamu ingin kunjungi.

Walaupun tentu saja traveling membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan sekarang ini kamu lagi tidak pemasukan lagi. Tapi, mengambil waktu sejenak untuk liburan merupakan bagian dari mengapresiasi kerja keras diri sendiri selama ini.

Baca Juga: Kokok Dirgantoro: Cuti Ayah Dukung Perempuan Berkarier

  1. Ambil waktu untuk istirahat sejenak

Resign juga merupakan momen yang tepat untuk beristirahat sejenak. Setelah bekerja dalam waktu yang lama serta rutinitas yang padat, maka memberikan waktu diri untuk istirahat juga merupakan opsi yang dirasa tepat.

Bentuk istirahatnya pun beragam, dari cuma tidur di rumah, membaca buku, melakukan hobi, hingga hal-hal yang belum dilakukan karena sibuk kerja.

Jika kamu sebelumnya bekerja pada bidang yang memerlukan stamina fisik yang kuat, kamu jadi dapat memakai banyak waktu untuk istirahat setelah resign.

Atau kalau pekerjaan sebelumnya ternyata memberikan dampak pada kesehatan mental, kamu dapat beristirahat dan fokus pada menyembuhkan pikiran terlebih dahulu.

Baca Juga: Demi Anak, Aku Berhenti Bekerja

  1. Membuat rencana selanjutnya

Setelah menghabiskan waktu untuk beristirahat, healing dan reward untuk diri sendiri, kamu sekarang sudah dapat membuat rencana masa depan. Rencana yang dibuat tentu harus realistis. Contohnya, kamu bisa dengan memulai membuat recana, apakah kamu akab bekerja pada bidang yang sama atau ingin mencoba membuat usaha sendiri.

Bukan hanya menentukan kamu akan berkarier dimana selanjutnya, membuat rencana masa depan juga termasuk:

  • belajar skill baru
  • menentukan kamu akan tinggal dimana
  • membuat timeline hidup beberapa bulan ke depan

Setelah memberi waktu untuk diri sendiri, sekarang waktu yang tepat untuk menentukan langkah selanjutnya dengan pikiran yang lebih baik.

Read More
pengertian timeboxing manajemen waktu

Sulit Mengatur Waktu? Coba Teknik Efektif Bernama Timeboxing

Menyelaraskan hidupmu dan waktu bekerja adalah pekerjaan sulit di zaman ini. Menyeimbangkannya, dan mengelola waktumu jadi efektif, adalah tantangan berat buat kebanyakan orang. Tapi, ada salah satu cara teknik manajemen waktu sederhana yang bisa kamu coba, namanya timeboxing.

Timeboxing merupakan cara simpel dalam mengelola waktu supaya produktivitas kerja kamu meningkat. Cara ini juga bisa menghindarkan kamu dari multitasking yang sering dianggap sebagai faktor penghalang produktivitas. Lantas, apa sebenarnya timeboxing?

Pengertian Timeboxing

Dikutip dari How To Use Timeboxing To Achieve Hyper Productivity, timeboxing merupakan cara untuk mengatur waktu dan tugas yang bersifat goal-oriented atau berfokus pada target. Strategi ini bisa membantu kamu menentukan apa yang harus dilakukan, kapan, dan untuk berapa lama, serta menilai bagaimana hasilnya supaya bisa dimaksimalkan.

Baca Juga: Apa itu ‘Peak Performance’ di Dunia Kerja, Bagaimana Mencapainya

Ketika membuat timebox, kamu perlu mempertimbangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Hal ini akan membuat kamu jadi lebih sadar akan waktu yang dihabiskan, dan apa yang perlu dikerjakan.

Orang-orang sering salah memahami timeboxing dengan time blocking, yang lebih berfokus pada membatas-batasi waktu untuk bermacam aktivitas.

Sementara timeboxing akan memaksa kamu lebih fokus pada tujuan menyelesaikan suatu pekerjaan dalam kurun waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.

Tidak cuma bermanfaat sebagai alat time management pribadi, timeboxing juga sering digunakan oleh para project manager untuk mengatur deadline project dan meeting.

Tipe Timeboxing

Setidaknya terdapat dua jenis timeboxing, yaitu hard timeboxing dan soft timeboxing. Dua tipe ini dapat dibedakan dari cara mengakhiri waktu. Pada saat soft time boxes berakhir, kamu akan memberikan toleransi waktu sampai pekerjaan atau kegiatan tersebut dapat selesai. strategi dirasa lebih cocok bila kamu belum tahu pasti berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Bila kamu memberlakukan hard timeboxing, kamu akan memberhentikan total dan kamu akan mengambil waktu istirahat sebelum akhirnya memulai pekerjaan atau meeting berikutnya. Jenis strategi yang satu ini lebih cocok dipakai untuk kamu yang cenderung perfeksionis.

Manfaat Timeboxing

Beberapa manfaat timeboxing yang bisa kamu peroleh adalah sebagai berikut.

  1. Konsentrasi jadi meningkat

Dengan menyiapkan alokasi waktu untuk mengerjakan pekerjaan A, kamu secara tidak langsung memberi perintah ke otak, kalau sekarang ini harus berkonsentrasi pada pekerjaan A saja, bukan multitasking tugas B, C, dan D.

Sebaliknya, bila tidak melakukan timeboxing, kamu akan jadi gampang terdistraksi dengan beban kerja lain.

  1. Mengurangi kebiasaan menunda pekerjaan

Apakah kamu termasuk orang yang suka menunda pekerjaan? Jika ya, timeboxing merupakan salah satu cara yang bisa membantu kamu, agar tidak lagi menunda pekerjaan. Salah satu faktor mengapa kamu suka menunda adalah karena menyepelekan tingkat kemudahan suatu pekerjaan.

Baca Juga: Apa itu ‘Fatigue Management’: Tips Atasi Lelah Berlebih di Tempat Kerja

Setelah sadar kalau satu pekerjaan ternyata butuh waktu yang tidak sedikit, pasti akan memberikan dorongan ke kamu untuk segera mengerjakannya.

  1. Menghindari sikap perfeksionis yang berlebih

Kamu mungkin ingin setiap pekerjaan yang dikerjakan bisa sempurna. Namun, perfeksionis yang berlebihan juga tidak bagus untuk produktivitasmu. Kamu akan terus menerus berada di satu pekerjaan, jadinya pekerjaan yang jadi tidak selesai.

Lalu, bagaimana cara untuk menilai seberapa bagus kualitas pekerjaanmu? Kamu dapat mengevaluasi pekerjaan dengan catatan setelah pekerjaanmu selesai, atau meminta feedback dari rekan kerja atau atasan.

Cara Membuat Time Boxing

Biarpun terlihat sederhana, ada berapa hal yang perlu kamu perhatikan, supaya strategi time management ini bisa berjalan dengan efektif. Berikut ini beberapa tips yang bisa kamu lakukan.

  1. Jangan lupa untuk istirahat sejenak

Kesalahan paling umum waktu menerapkan timeboxing adalah tidak menyediakan waktu istirahat sama sekali. Padahal, tidak ada time management yang punya tujuan membuat seseorang jadi burnout.

Jadi, tidak masalah untuk istirahat sebentar, misalnya selama 5 menit setiap 20 sampai 30 menit sekali. Ini perlu agar kamu tidak malah jadi stres dan overwhelmed.

Selain itu, waktu istirahat ini juga berguna untuk mengistirahatkan mata dari layar komputer.

  1. Membuat calendar blocking

Waktu memulai timeboxing, kamu bisa melakukan calendar blocking. Menurut Life Hack, How To Master Timeboxing For Increased Productivity, Caroline Dougoud, yang merupakan Productivity and Lifestyle Design Coach, menyatakan kalau calendar blocking merupakan suatu hal yang penting, karena membuat kamu jadi punya gambaran berapa banyak waktu yang harus dihabiskan untuk menyelesaikan sebuah tugas.

Cara yang paling sederhana kamu dapat menggunakan Google Calendar atau aplikasi sejenisnya. Cobalah untuk menyusun pekerjaan yang perlu diselesaikan dalam satu hari. Lalu, berapa lama masing-masing pekerjaan tersebut bisa diselesaikan.

  1. Membuat to-do list ke dalam kalender

Caroline Dougoud juga mengatakan kalau sebaiknya jangan cuma menuliskan agenda di calendar blocking untuk satu hari saja. Namun, kamu dapat mencoba menyusunnya untuk hari-hari kedepannya, dengan membuat dengan membuat to-do list untuk hari berikutnya.

Baca juga: 7 Manfaat Olahraga Jalan Pagi Sebelum Berangkat Kantor

Hal ini bisa membantu kamu untuk mendapatkan gambaran besar mengenai apa yang perlu dikerjakan pada hari itu. Waktu di hari H, kamu jadi tidak akan kebingungan. Selain itu, cara ini juga dapat membantu kamu supaya tidak ada pekerjaan yang terlewat.

  1. Jauhkan diri dari apa pun yang membuat distraksi

Saat kamu sedang mengerjakan pekerjaan, cobalah untuk menjauhkan diri dari apapun yang membuat kamu terdistraksi. Karena jadwal yang terstruktur pun tidak dapat membuat waktumu lebih maksimal, kalau kamu masih tergoda dengan gangguan atau distraksi.

Kamu dapat mematikan notifikasi handphone selama sedang mengerjakan tugas tersebut. Kamu juga perlu menjauhkan beberapa hal atau benda yang bisa menjadi gangguan. Dengan begitu, semua pekerjaanmu bisa terselesaikan sesuai jadwal di calendar blocking.

  1. Menyalakan timer

Saat sedang bekerja dan sudah terlalu fokus, mungkin saja kamu bisa jadi lupa dengan jadwal yang sudah dibuat sebelumnya di calendar blocking. Oleh karena itu, Caroline Dougoud menyarankan untuk selalu menyalakan timer waktu sedang bekerja.

Dengan begitu, saat timer menyala, kamu dapat pindah ke pekerjaan yang selanjutnya. Selain itu, timer pun dapat kamu setel 10 sampai 15 menit sebelum kamu harus mulai bekerja kembali. Sehingga kamu bisa mempersiapkan diri dan menjauhkan semua distraksi sebelum memulai pekerjaan.

Demikian pembahasan lengkap mengenai timeboxing. Hal yang harus kamu ingat waktu meningkatkan kemampuan time management adalah tidak memaksakan satu teknik pada diri sendiri.

Kalau memang teknik timeboxing adalah strategi yang kurang pas diterapkan untukmu, tak apa untuk mencoba strategi lain yang dirasa lebih efektif.

Read More
pengertian peak performance di dunia kerja

Apa itu ‘Peak Performance’ di Dunia Kerja, Bagaimana Mencapainya

Jika kamu adalah pecinta olahraga, tentu familier dengan istilah peak performance. Ternyata, istilah tersebut juga bisa digunakan di dunia kerja.

Secara harfiah, peak performance adalah kinerja puncak atau kinerja paling optimal saat seseorang dapat memperlihatkan hasil kerja yang melebihi rata-rata. Menurut BetterUp dalam artikelnya berjudul 6 surefire ways to reach optimal peak performance, peak performance adalah ketika seorang dapat tampil pada level paling optimal secara fisik, mental, atau keduanya.

Agar lebih jelas, berikut ini penjelasan dari peak performance dan cara mencapainya di dunia kerja, yang sudah kami rangkum dari berbagai sumber.

Pengertian Peak Performance di Dunia Kerja

Seperti disinggung sebelumnya, dalam dunia kerja, peak performance adalah posisi di mana performa individu mencapai pada titik maksimal atau tertinggi dalam pekerjaan.

Baca Juga: Dear ‘Fresh Graduate’, Siapkan Hal Ini untuk Masuk ke Dunia Kerja

Menurut Better Up juga, kinerja karyawan bisa berada dalam kondisi terbaik saat kebutuhan mereka dipenuhi oleh perusahaan. Sebelum akhirnya bisa mencapainya, setiap karyawan biasanya mengalami flow state terlebih dahulu.

Flow state adalah keadaan saat kamu mampu mengerjakan sesuatu dan mengalir begitu saja, sehingga jadi lupa waktu. Ini bukan hal negatif, karena dalam kondisi ini, berarti produktivitas kerja serta regulasi emosionalmu lebih tinggi, serta mendekati kinerja puncak.

Jenis Peak Performance dalam Dunia Kerja

Peak performance di dunia kerja ada beberapa jenis, berikut di antaranya:

1. Individual Peak Performance

Individual peak performance adalah performa yang cuma bisa ditentukan oleh individu itu sendiri. Supaya hal ini dapat tercapai, individu harus melewati proses memahami dirinya sendiri, supaya bisa meraih aktualisasi diri.

Dalam prosesnya, kamu dapat menentukan batasan kinerja seperti apa yang dapat kamu sebut tertinggi bagi versi diri sendiri.

Ketika mencapai individual peak performance, umumnya mereka akan keluar dari zona nyaman yang dimilikinya, seperti tidak melakukan rutinitas yang biasa. Mereka bakal memakai kemampuan untuk lebih produktif, tangguh, bahagia, dan lebih termotivasi.

Baca Juga: Bertanya pada Bos Saat ‘Performance Review’, Kenapa Tidak?

2. Organizational Peak Performance

Beberapa orang beranggapan, organizational peak performance berhubungan erat dengan keuntungan besar yang diperoleh perusahaan.

Namun ternyata, saat perusahaan mendapat profit besar, belum tentu mereka sudah mencapai kinerja puncak.

Organizational Peak Performance adalah keadaan di mana perusahaan bisa memberikan lingkungan kerja yang sehat, serta memberikan setiap karyawannya untuk berkembang, menemukan tujuan, serta menggunakan bakat serta kemampuan diri guna menyelesaikan pekerjaan.

Jadi, saat membicarakan kinerja puncak untuk perusahaan, keuntungan bukanlah suatu komponen yang berperan penting, tapi ada komponen lain yaitu lingkungan kerja.

Tanda Individu atau Perusahaan Mencapai Peak Performance

Ciri yang bisa terlihat waktu individu ataupun perusahaan mencapai kinerja adalah sebagai berikut:

1. Produktivitas kerja meningkat

Produktivitas kerja yang meningkat adalah salah satu tanda dari kinerja puncak. Tentu setiap orang pasti tidak akan selalu berada di level produktivitas 100 persen setiap waktu.

Jadi, ketika merasa lebih produktif dan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan efisien, kemungkinan kamu mencapai tingkat tertinggi performamu. Saat itu, biasanya kamu akan mempunyai banyak waktu untuk meredakan pikiran dan ketegangan karena pekerjaan. Produktivitas yang didapat waktu peak performance akan sejalan dengan kualitas kerja yang dihasilkan.

2. Goals yang tercapai

Seseorang bisa dibilang berada di kinerja paling optimal kala ia bisa mencapai goals-nya.

Namun, perlu digarisbawahi, level tertinggi kinerja seseorang berbeda-beda, tergantung pada bakat, kebutuhan, serta tujuannya.

3. Kepuasan kerja meningkat

Sudah merasa puas dengan pencapaian yang diperoleh juga merupakan tanda dari kinerja puncak. Saat kamu merasa kalau tujuan sudah tercapai, kepuasan kerja kamu pun akan naik. Kebahagiaan dan tingkat kepuasan adalah salah satu reward dari peak performance, baik untuk individu itu sendiri ataupun perusahaan.

4. Bisa mengatur emosi

Penelitian yang dilakukan oleh Better Up memperlihatkan, karyawan yang bisa mengatur emosinya dengan baik, menunjukkan performa 153 persen lebih tinggi.

Baca Juga: Apa itu Mansplaining dan Kenapa Sering Terjadi di Tempat Kerja?

Bisa mengatur emosi adalah kemampuan penting. Kamu akanlebih mengenal diri sendiri, juga peka terhadap lingkungan sekitar. Bila suatu hal tidak terduga terjadi, kamu tetap bisa menghadapinya dengan pikiran yang tenang.

Itulah sedikit informasi mengenai peak performance yang perlu kamu tahu. Apakah kinerjamu sekarang sudah sampai di level tertinggi? Untuk bisa sampai di level tersebut, tentu butuh waktu yang tidak sebentar dan harus melewati proses panjang. Maka, jangan sampai gampang untuk menyerah dan buat standar yang sesuai kemampuanmu.

Read More
cara menerima kritik di tempat kerja

5 Cara Tepat Terima Kritik dari Atasan

Salah satu keterampilan penting di dunia kerja adalah mampu menerima kritik yang diberikan oleh atasan maupun rekan kerja. Sayangnya, banyak orang yang masih menganggap kritik merupakan beban dan melulu negatif. Padahal kritik bisa mendorong diri kita untuk bekerja jadi lebih baik lagi.

Tentu saja, kritik yang baik itu perlu disampaikan dengan intonasi serta penggunakan kata yang tidak menyinggung. Namun, jika kritik sudah terlanjur disampaikan dan ternyata tak berkenan di hati, bagaimana?

Apa yang harus kamu lakukan waktu harus menerima kritik dari atasan yang mungkin tidak mengenakkan?

Kritik di Tempat Kerja Relatif Penting

Kritik yang baik itu mesti bersifat membangun. Kritik yang seperti ini juga merupakan bentuk dari feedback. Menurut Indeed, dalam artikel yang berjudul Why Is Feedback Important in the Workplace? (2022), feedback yang membangun berguna untuk perkembangan karyawan.

Feedback tersebut akan menjelaskan ekspektasi, membantu seseorang untuk belajar dari kesalahan, dan bikin kepercayaan diri meningkat.

Baca Juga: 7 Amunisi Sebelum Kamu Dievaluasi Rutin oleh Atasan

Masalahnya, kritik semacam ini biasanya disalahartikan sebagai kelemahan, sehingga sulit diterima dengan legowo. Padahal, meskipun tidak enak untuk didengar, kritik di tempat kerja bisa membantumu membangun karier yang lebih baik.

Tanpa kritik, kita bakal cenderung berpuas diri dan enggan melakukan pembaruan. Karena itulah, mustahil kita bisa menaikkan performa di tempat kerja.

Cara Menerima Kritik yang Tepat di Tempat Kerja

Untuk dapat bersikap profesional dalam menghadapi kritik dari atasan atau rekan kerja, berikut ini beberapa caranya.

  1. Jangan anggap personal

Saat mendapat kritik dari atasan, mungkin kamu akan refleks tersinggung, apalagi jika itu disampaikan di depan rekan kerja lain. Ini merupakan hal yang wajar. Dalam kondisi seperti ini, harus diusahakan kamu bisa berpikiran terbuka, dan mampu memisahkan lingkungan kerja dengan lingkup pribadi.

Bahwa kritik yang diberikan itu bukan serangan personal, tetapi masukan supaya kamu mengoreksi kinerja. Jadi, jangan sampai langsung emosi atau berasumsi kalau atasan tidak suka dengan kamu.

Terlepas dari itu, dalam ranah profesional, kritik yang baik seharusnya disampaikan dengan sopan. Akan tetapi, jika kamu mendapat kritik yang lumayan keras dari atasan, tetap berikan respon yang baik tanpa perlu melontarkan argumen tambahan.

  1. Memahami kritik yang diberikan

Dibanding langsung menelan kritik bulat-bulat, kamu dapat memberikan sedikit waktu untuk lebih memahami substansinya. Selama kritik tersebut memang membangun, kamu dapat mencoba lebih terbuka dan memahami. Dengan begitu, rekan kerja atau atasan akan jadi lebih nyaman dalam menyampaikan feedback di kemudian hari.

  1. Bertanya kepada atasan

Menurut Indeed, setelah memahami kritik yang diberikan, kamu dapat bertanya lebih jauh untuk mengklarifikasi kritik tersebut. Mungkin kamu setuju, bisa juga tidak. Namun, anggaplah itu sebagai masukan untuk berefleksi.

Baca Juga: Di Balik Menolak Pujian: Rendahnya Kepercayaan Diri Hingga Budaya

Ingat kamu berhak untuk bertanya dan mendiskusikannya supaya lebih jelas. Ini juga penting agar tidak muncul kesalahpahaman di kemudian hari.

  1. Evaluasi kerja

Setelah mendengarkan kritik dan mencatat poin-poin pentingnya, sekarang saatnya untuk menggunakannya sebagai bahan evaluasi kerja. Tujuannya agar kamu tak perlu mengulangi kesalahan yang sama.

Dalam hal ini, ada bagusnya membuat catatan yang berisikan do’s and don’ts dari kritik yang masuk. Lalu kamu perlu menghadapi kritik dengan mengimplementasikannya secara nyata.

  1. Berhati-hati saat memberikan tanggapan

Dalam artikel Indeed yang berjudul Steps to Handle Criticism at Work, kamu perlu lebih hati-hati dalam memberikan respons, baik secara verbal maupun nonverbal.

Contohnya, kalau sedang bertatap muka, hindari menyilangkan tangan dan bernapas dengan tempo yang teratur supaya bisa menurunkan level stres.

Menghadapi kritik memang bukan perkara yang gampang, namun dengan lebih hati-hati dalam merespon, akan membuat kamu jadi lebih profesional.

Read More
manfaat olah raga jalan pagi sebelum bekerja

7 Manfaat Olahraga Jalan Pagi Sebelum Berangkat Kantor

Kegiatan yang padat setiap harinya akan membuat kita terlalu lelah berolahraga. Apalagi buat pekerja yang harus datang ke kantor setiap hari atau Work From Office. Padahal sebenarnya ada olahraga yang tidak butuh banyak waktu dan tenaga, yaitu jalan pagi.

Olahraga jalan pagi sebelum bekerja ternyata punya banyak manfaat untuk tubuh serta pikiran. Dengan jalan pagi secara teratur, kamu bisa berpotensi tidur lebih nyenyak dan badan lebih bugar. Tak cukup sampai di sini, masih ada sejumlah manfaat olahraga lainnya untukmu.

Manfaat Olahraga Jalan Pagi Sebelum Bekerja

  1. Menambah energi

Manfaat jalan pagi yang pertama adalah bisa meningkatkan energi kamu. Dalam hal ini, energi yang meningkat bakal sangat membantu menjalani hari-harimu ketika di kantor. 

Baca Juga: 7 Tips Kembali Produktif Usai Liburan Panjang

Ada beberapa kajian yang menunjukkan, orang dewasa yang rutin olah raga jalan pagi selama 20 menit di luar rumah, akan memperoleh energi lebih, dibandingkan mereka yang cuma berjalan 20 menit dalam ruangan.

Kalau kamu sekarang kerap merasa kurang bersemangat saat bangun di pagi hari, melakukan jalan pagi dapat menjadi aktivitas positif yang dapat dicoba.

  1. Meningkatkan suasana hati

Dikutip dari Healthline, dalam artikel yang berjudul The Benefits of Starting Your Day with a Walk, jalan pagi sebelum berangkat bekerja dapat meningkatkan suasana hati atau mood.

Olah raga jalan pagi selama 20 hingga 30 menit setidaknya 5 hari seminggu, punya manfaat:

  • mengurangi stres
  • menurunkan rasa cemas
  • mengurangi rasa kelelahan
  • meredakan gejala depresi atau mengurangi risiko depresi
  1. Bisa Membantu Berpikir Kreatif

Manfaat olahraga jalan pagi yang selanjutnya adalah membantu kamu untuk berpikir lebih kreatif. Alasannya, saat berjalan, kamu bisa melihat lingkungan dan aktivitas di sekeliling, sehingga bisa mendapatkan ide-ide cemerlang.

Selain bisa memantik untuk berpikir kreatif, jalan pagi juga bisa membuat otakmu lebih jernih. Pasalnya, saat jalan pagi, kamu bisa menghirup udara segar, mengamati suasana dengan warna hijau dari pepohonan.

Jadi, bila kamu mulai merasa kesulitan dan susah menemukan ide, jalan pagi sebelum berangkat bekerja mungkin bisa jadi jalan ninjamu.

Baca Juga: Apa itu Pekerja Kreatif dan Siapa Saja Mereka?

  1. Menurunkan risiko diabetes

Dikutip dari Halodoc, jalan kaki selama 30 menit setiap hari bisa membantu menaikkan kontrol gula darah serta membantu manajemen insulin pada diabetes tipe 2. Berjalan kaki akan membuat sel-sel dalam tubuh memanfaatkan glukosa yang tidak terpakai, sehingga lemak dalam tubuh bisa diolah dengan baik, dan menurunkan risiko obesitas.

  1. Menghilangkan rasa malas

Jalan pagi juga bisa menghilangkan rasa malas kamu. Terlebih jika dilakukan secara rutin, itu membantumu membakar kalori yang tersimpan di tubuh. Hal ini secara tidak langsung bisa mendorong tubuh jadi lebih aktif dan menyegarkan pikiran. Sehingga, kamu akan jadi lebih bersemangat dan produktif saat bekerja di kantor.

  1. Menaikkan fungsi otak

Olahraga jalan pagi juga bisa menaikkan fungsi otak. Pasalnya, sirkulasi darah dan oksigen dalam tubuhmu berjalan lancar saat berolahraga. Tidak cuma itu saja, berjalan kaki juga akan mengurangi tingkat stres.

Baca Juga: ‘Holiday Stress’: Memahami Stres yang Datang Menjelang Liburan

  1. Membantu mengurangi berat badan

Dikutip dari Healthline, berjalan kaki di pagi hari sebelum pergi bekerja ternyata juga bisa membantu menurunkan berat badan.

Berjalan kaki dengan kecepatan sedang selama 30 menit dapat membuang sebesar 150 kalori. Kalau dikombinasikan dengan pola makan yang sehat serta latihan kekuatan, berat badanmu pun dapat berkurang secara efektif.

Read More
kantor berbudaya maskulin

Apa itu Mansplaining dan Kenapa Sering Terjadi di Tempat Kerja?

Belakangan terminologi “mansplaining semakin populer digunakan di media dan media sosial. Hanya dalam waktu enam bulan antara November 2016 dan April 2017, terminologi tersebut muncul dalam paling tidak 10.000 cuitan unik di Twitter.

Mansplaining merupakan singkatan yang menggabungkan antara “man” (laki-laki) dan “explain” (menjelaskan). Ini merujuk pada bagaimana laki-laki memberikan penjelasan yang tak diminta pada perempuan. Perilaku ini ditandai dengan kepercayaan diri si pembicara, nada yang merendahkan, interjeksi atau interupsi, serta asumsi dasar bahwa lawan bicaranya tak punya pengetahuan sebelumnya tentang apa yang sedang dibicarakan.

Terminologi mansplaining pertama kali dipopulerkan oleh Rebecca Solnit pada 2008 melalui esainya yang bertajuk Men Explain Things to Me (Laki-laki Menjelaskan Hal-hal Kepada Saya). Dalam tulisannya, Solnit mendeskripsikan interaksinya dengan seorang lelaki yang menjelaskan premis dan pentingnya sebuah buku, menganggap Solnit tak punya wawasan tentang buku tersebut – yang padahal ditulis oleh Solnit sendiri. Pria tersebut melanjutkan penjelasannya dengan gigih walaupun teman Solnit berulang kali menekankan “Buku itu ditulis olehnya (Solnit).”

Contoh lainnya yang terkemuka adalah ketika seorang ahli astrofisika mencuit tentang perubahan iklim dan diminta untuk “belajar sains sungguhan”, atau ketika cuitan seorang astronot NASA tentang eksperimennya sendiri dikoreksi netizen. Diskursus yang tengah berjalan di media sosial tentang mansplaining dan hubungannya dengan pengalaman profesional perempuan pada akhirnya mempertanyakan apakah perilaku ini juga dapat terjadi di tempat kerja. Dan jika ya, efek apa yang mungkin terjadi.

Baca juga: ‘Mansplaining’: Perilaku Seksis yang Hambat Karier Perempuan

Perundungan Terselubung di Tempat Kerja

Studi menunjukkan bahwa perundungan terselubung di tempat kerja meningkat selama 20 tahun terakhir. Ini kerap dikaitkan dengan meningkatnya kecaman terhadap diskriminasi yang bersifat terang-terangan.

Kebanyakan perundungan di tempat kerja kini umumnya karena kurangnya kesopanan atau pelanggaran terhadap norma sosial – ketimbang perlakuan diskriminatif terbuka, sikap bermusuhan ataupun kekerasan. Perundungan terselubung seperti meremehkan, merendahkan, dan mempermalukan sangat berbahaya karena intensinya yang ambigu.

Kami mengeksplorasi tentang terminologi “mansplaining” dalam diskursus populer seputar tempat kerja. Kami juga ingin tahu apakah mansplaining juga terjadi di luar media sosial, atau hanya sekadar bentuk reaksi negatif terhadap para ahli yang terjadi di jagad maya. Untuk menemukan jawabannya, kami memeriksa prevalensi mansplaining yang terjadi di lingkup kerja.

Terakhir, kami ingin memetakan siapa yang mengalami mansplaining, siapa yang melakukannya, dan potensi dampaknya terhadap target.

Mendefinisikan Mansplaining

Untuk mendefinisikan mansplaining dalam konteks tempat kerja, kami menyusuri Twitter yang memuat terminologi tersebut sembari memasukkan kata-kata yang terkait kerjaan.

Analisis kami memperluas definisi dari mansplaining: seseorang (biasanya laki-laki) yang memberikan penjelasan yang merendahkan atau persisten, tanpa diminta atau bahkan tak dikehendaki, kepada seseorang (biasanya bukan laki-laki). Penjelasan mereka cenderung mempertanyakan wawasan lawan bicaranya, atau mengasumsikan lawan bicaranya kurang berwawasan mengenai persoalan tersebut, terlepas dari kebenaran dari isi penjelasannya.

Kami kemudian melakukan survei terhadap para pekerja di Amerika Utara untuk mengetahui apakah mereka pernah mengalami mansplaining, seberapa sering mereka mengalaminya serta gender dari pelakunya.

Kami secara khusus tertarik untuk mengetahui apakah kata “man” dari mansplaining benar-benar tepat. Karena itu, kami menanyai orang-orang dari kelompok gender manapun soal perilaku yang kami anggap terkait dengan mansplaining, tanpa secara spesifik bertanya tentang mansplaining itu sendiri.

Baca juga: ‘Glass Ceiling’ dan Faktor Lain yang Halangi Perempuan Naiki Jenjang Karier

Lebih dari Media Sosial

Penelitian kami mengindikasikan bahwa mansplaining lebih dari sekadar fenomena di media sosial. Perilaku ini pun terjadi di luar jagad maya dan memengaruhi orang-orang di lingkungan kerjanya.

Hampir tiap orang dalam studi kami – terlepas dari gendernya – pernah menjumpai paling tidak satu perilaku mansplaining. Akan tetapi, perempuan dan minoritas gender mengalami perilaku ini lebih sering dan dalam cakupan yang lebih luas.

Ini menunjukkan mansplaining bisa jadi merepresentasikan adab yang buruk berbasis gender, yang umumnya dialami oleh pekerja perempuan dan minoritas gender, dengan kebanyakan pelakunya adalah laki-laki. Kata “mansplaining” bisa jadi terlalu menggeneralisasi, namun ini tampaknya merefleksikan dengan akurat pengalaman pekerja perempuan dan minoritas gender.

Temuan kami juga menunjukkan, mansplaining punya efek buruk yang signifikan terhadap sasaran perilaku ini — layaknya bentuk adab buruk di tempat kerja lainnya. Tiap pengalaman mansplaining terasosiasi dengan rendahnya komitmen organisasional dan kepuasan kerja, keinginan berpindah kerja yang tinggi, serta kelelahan emosional dan tekanan psikologis.

Baca juga: Perempuan Lebih Emosional dan Mitos-mitos Soal Perempuan di Dunia Profesional

Mansplaining Bukan Sekadar Tren

Organisasi sebaiknya tidak melihat mansplaining sebagai produk adab buruk di media sosial atau sekadar tren yang akan berlalu. Sebaliknya, perilaku ini seharusnya dipahami sebagai permasalahan terkait perilaku buruk selektif yang menyasar individu berdasarkan identitasnya dan membuat mereka merasa tak mumpuni.

Sekalinya diidentifikasi sebagai bentuk adab yang buruk, mansplaining seharusnya dapat disikapi di tempat kerja. Intervensi yang selama ini efektif untuk menghadapi adab buruk bisa jadi ampuh untuk menangani mansplaining.

Pelatihan terkait intervensi kesopanan, penghormatan, dan pelibatan di tempat kerja yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS), misalnya, berusaha mengatasi permasalahan seperti ini dan mendorong perilaku sopan di lingkungan kerja. Sistem rumah sakit di Kanada yang menerapkan intervensi ini menunjukkan adanya peningkatan dalam perilaku menghormati, kepuasan kerja dan kepercayaan terhadap manajemen – sementara tingkat burnout dan kepasifan karyawan mengalami penurunan.Buku Subtle Acts of Exclusion (Tindakan Pengecualian Halus), bisa jadi panduan yang berguna untuk pemimpin maupun karyawan dalam mengatasi bentuk perundungan berbasis gender yang terselubung ini. Buku ini dapat membantu organisasi untuk mencegah agresi mikro agar karyawan merasa nyaman dan diterima di lingkungan kerja mereka.

Bagaimana mengurangi bahaya yang disebabkan oleh mansplaining dan mencegahnya menjadi masalah berulang di tempat kerja merupakan hak organisasi. Namun, perlu diingat bahwa produktivitas dan kesejahteraan karyawan bisa terpengaruh olehnya.

Linda Schweitzer adalah Profesor Manajemen dan Strategi Carleton University; Chelsie J. Smith, PhD Candidate di Manajemen dan Strategi Carleton University, dan Katarina Lauch, PhD Candidate, Sprott School of Business, Carleton University.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Read More
Mengembalikan produktivitas kerja setelah liburan

7 Tips Kembali Produktif Usai Liburan Panjang

Sejumlah pekerja merasa kesulitan mengembalikan produktivitas kerja mereka setelah liburan panjang Natal dan Tahun Baru. Hal ini sebenarnya relatif wajar, sebab biasanya kita masih terngiang-ngiang dengan suasana bersantai liburan yang lebih nyaman.

Meski wajar, kondisi susah kembali fokus 100 persen pada pekerjaan pascaliburan nyatanya tak bisa dibiarkan. Risikonya, pekerjaan bisa terbengkalai, produktivitas juga bakal menurun.

Supaya hal itu tidak sampai terjadi, berikut ini beberapa tips yang dapat mengembalikan produktivitas kerja di kantor setelah asyik liburan.

Tips Meningkatkan Produktivitas Kerja Setelah Liburan

  1. Membuat jadwal kerja di hari pertama

Dikutip dari Huffpost, banyak orang yang datang ke kantor setelah liburan malah jadi stres, karena melihat pekerjaan yang sudah menumpuk di mejanya. Bahkan, banyak juga yang jadi bingung lantaran tak mampu menemukan cara yang tepat untuk membereskan pekerjaan tersebut.

Baca Juga: Apa itu ‘Coping Mechanism’ dan Manfaatnya untuk Pekerja

Karena itulah, untuk mengembalikan produktivitas kerja setelah liburan, kamu perlu membuat jadwal pekerjaan dengan rapi di hari pertama kerja. Hal ini akan sangat membantu ketika menghadapi tumpukan pekerjaan yang menanti.

Membuat daftar sederhana di hari pertama juga akan membuat kamu lebih semangat. Sebab, dengan jadwal kerja yang jelas, pekerjaan akan jadi terasa lebih ringan dan tidak membebankan.

  1. Merapikan meja kerja

Cara selanjutnya untuk mengembalikan produktivitas kerja setelah liburan adalah dengan merapikan meja kerja.

Meja kerja yang rapi tentu akan membuat suasana hatimu jadi baik. Hasilnya, kamu akan jadi lebih semangat saat kembali bekerja di kantor.

  1. Menentukan goals baru

Cara berikutnya kamu dapat membuat goals baru. Dari daftar pekerjaan yang sudah dibuat setiap hari, pastikan kamu membuat target baru yang harus dicapai dari pekerjaan tersebut.

Mengapa hal ini dirasa penting? Sebab, dengan adanya tujuan baru, semangat kerjamu dapat kembali lagi dengan cepat.

Kamu juga nantinya bisa mempunyai pandangan lebih jelas mengenai hal-hal yang harus kamu kerjakan di kantor.

Tujuan ini dapat dibuat dengan cara membandingkan target-target sebelumnya belum sempat terselesaikan.

  1. Menyelesaikan pekerjaan dengan bertahap

Untuk mengembalikan semangat di hari pertama masuk, sangat disarankan untuk tidak langsung berhadapan dengan pekerjaan yang berat. Supaya bisa kembali produktif setelah liburan, sebaiknya kamu menyelesaikan pekerjaan dengan bertahap, dari yang paling gampang sampai yang paling sulit.

Baca Juga: Habis WFH Terbit ‘Workcation’, Ini Fakta-fakta yang Perlu Kamu Tahu

Hal ini perlu dilakukan supaya pikiran dapat beradaptasi dengan deadline dan tumpukan pekerjaan. Bekerja dengan bertahap juga bisa menjadi cara yang tepat untuk menaikkan kualitas kerja setelah berlibur.

  1. Istirahat sebentar di sela-sela pekerjaan

Cara yang berikutnya adalah dengan mengambil waktu sebentar untuk istirahat di kantor. Istirahat di sini bukan berarti istirahat jam makan siang. Namun, kamu dapat mengambil jeda waktu singkat di saat pekerjaan yang menumpuk.

Dengan mengambil istirahat singkat seperti ini, kamu bisa jadi lebih fokus dan disiplin. Sederhananya, memaksa diri untuk bekerja di saat fisik dan mental masih belum siap cuma akan menurunkan kualitas kerja serta membuatmu stres.

  1. Datang ke kantor lebih pagi

Awali hari pertama kembali bekerja dengan datang ke kantor lebih pagi, paling tidak 20 menit lebih awal. Kamu dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk beradaptasi dengan lingkungan kantor yang telah lama ditinggalkan saat liburan.

Kamu dapat membuka kembali folder pekerjaan, untuk mencari tahu pekerjaan terakhir yang ditinggalkan.

  1. Memikirkan liburan yang selanjutnya

Supaya kamu jadi lebih semangat di hari pertama, coba pikirkan, ke mana kira-kira kamu akan liburan berikutnya? Kapan waktu yang tepat untuk kembali mengambil cuti dan melakukan perjalanan lagi? Merencanakan liburan selanjutnya dapat menaikkan produktivitas kerja kamu. Bahkan, lebih baik lagi kalau kamu dapat membuat rencana liburan selama satu tahun, kamu dapat mengatur keuangan dan membagi pekerjaan.

Itulah beberapa tips yang dapat kamu coba untuk meningkatkan produktivitas kerja setelah liburan. Intinya, di hari pertama setelah berlibur, sindrom pascaliburan memang susah untuk dihilangkan secara total.

Namun, jika kamu dapat melakukan tips-tips di atas dengan bertahap, dijamin semangat kerjamu akan kembali dengan sendirinya.

Read More
Kelebihan dan Kekurangan dari Work from Anywhere

‘Work from Anywhere’, Apa Untung Ruginya?

Sebagai karyawan, dulu setiap harinya kita harus datang ke kantor untuk bekerja dan berkoordinasi dengan rekan lain. Namun, setelah pandemi, sistem kerja mau tidak mau harus berubah, untuk menekan angka penyebaran Covid-19. Akhirnya muncul istilah work from home (WFH) dan work from anywhere (WFA).

Apa sebenarnya work from anywhere itu? Apakah cara kerjanya sama dengan WFH dan WFO? Berikut ini penjelasan lengkapnya.

Pengertian Work from Anywhere

Work from anywhere adalah bekerja secara fleksibel, di mana perusahaan mendorong produktivitas kerja karyawannya dengan cara bekerja secara bebas dari mana saja, asal tetap terhubung dan sejalan dengan kultur dan tujuan perusahaan.

Istilah tersebut datang setelah kasus Covid-19 mereda dan pemerintah akhirnya melonggarkan aturan keluar rumah buat masyarakat. Namun, rupanya banyak perusahaan yang masih mempraktikkan sistem kerja remote dan tidak mewajibkan karyawannya bekerja dari kantor.

Baca Juga: Tips Mengatasi ‘Work Anxiety’ atau Rasa Cemas di Tempat Kerja

Dengan demikian, mereka yang sudah merasa jenuh bekerja dari rumah, memilih untuk keluar rumah dan bekerja dari cafe atau mencari workplace. Bahkan, ada yang memilih untuk menginap di hotel, demi menghilangkan kejenuhan bekerja di rumah, tetapi masih aman dari Covid-19.

Mana yang Lebih Baik antara WFH, WFO, atau WFA?

Mana kira-kira yang lebih nyaman antara work from office, work from home, dan work from anywhere? Tentu saja kenyamanan sistem kerja bergantung pada preferensi setiap orang, sehingga sangat subjektif.

Untuk work from office misalnya. Sistem kerja itu mewajibkan kita untuk datang ke kantor setiap hari. Jika jam kerja di kantor kamu mulai jam 8.00 pagi dan kamu datang pada jam 8.10, sudah pasti kamu terlambat dan dapat mengalami pemotongan gaji. Ini belum termasuk dengan rasa lelah berdesak-desakan di moda transportasi umum atau macet-macetan berkendara membelah kota.

Sebaliknya, work from home dan work from anywhere tak mewajibkan kamu datang ke kantor. Namun, work from anywhere akan terasa lebih fleksibel dalam pemilihan tempat, yang ditentukan oleh rasa nyaman karyawan sendiri.

Baca Juga: Habis WFH Terbit ‘Workcation’, Ini Fakta-fakta yang Perlu Kamu Tahu

Dari sisi perusahaan, sistem work from anywhere atau work from home punya manfaat tersendiri. Selain bisa menghemat biaya operasional, seperti biaya penyewaan gedung kantor, perusahaan juga tahu mana karyawan yang loyal dalam pekerjaannya. Jadi, meski tidak dipantau secara langsung dengan bertemu setiap hari, mereka dapat mencapai target kerja dengan baik.

Kelebihan dan Kekurangan Work From Anywhere

Lalu, apa kelebihan dan kekurangan dari WFA? Berikut manfaat yang bisa kamu jika menerapkan sistem kerja WFA:

  1. Kamu jadi lebih hemat biaya

Manfaat WFA yang pertama adalah kamu akan jadi lebih hemat. Kamu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli bensin kendaraan atau bayar biaya transportasi untuk pergi ke kantor.

Kalau dari sisi perusahaan, mereka juga lebih menghemat dengan tidak perlu menyediakan fasilitas kerja, seperti wifi atau makan siang. Sama-sama untung, bukan?

  1. Dapat kerja sambil traveling

Kelebihan dari work from anywhere yang selanjutnya adalah kamu dapat bekerja sambil traveling. Pasalnya, dengan WFA, kamu jadi dapat bekerja dari mana saja, asalkan ada akses internet. Bahkan kalau merasa nyaman, kamu juga dapat bekerja dari dalam kendaraan umum seperti kereta.

  1. Kamu jadi lebih fleksibel dalam mengatur jam kerja

Sebelum adanya sistem work from home atau work from anywhere, perusahaan membayar karyawan berdasarkan jam kerja. Tidak peduli apakah kamu sedang produktif atau tidak memanfaatkan jam kerja, aturan ini sudah berlaku tetap.

Akan tetapi, sejak work from anywhere diterapkan, kamu dapat jadi lebih fleksibel mengatur jam kerja. Jika sedang bersemangat, kamu bisa saja membereskan pekerjaan 8 jam kerja dalam waktu 4 jam WFA. Sisa waktunya dapat kamu manfaatkan untuk hal lain, seperti belajar hal baru, melakukan hobi, atau mengurus keluarga.

Kekurangan dari Sistem WFA

Setelah membahas kelebihan dari work from anywhere, kali ini kita juga akan membahas kekurangannya dari sistem ini. Karena tren bekerja WFA bisa dibilang masih baru, sangat wajar kalau tidak semua orang siap melakukannya.

Baca Juga: Bisa Kerja dari Mana Saja yang Kamu Pilih, Tertarik Jadi ‘Digital Nomad’?

Jadi, buat kamu yang memang ingin mencoba WFA, coba cari tahu solusi dari kekurangan-kekurangan work from anywhere di bawah ini ya.

  1. Work Life Balance dapat terganggu

Menurut beberapa orang, work from anywhere merupakan sistem kerja yang dapat membuat kita jadi lebih produktif dengan waktu kerja lebih singkat. Namun, ada beberapa orang yang malah susah melakukan manajemen waktu, WFA akhirnya dapat mengganggu work life balance.

Kalau kamu termasuk workaholic, WFA juga berpotensi membuatmu jadi kesusahan memisah jam kerja dan istirahat. Akhirnya, tanpa terasa kamu akan bekerja dari siang sampai malam, sampai lupa untuk beristirahat.

  1. Sangat bergantung pada akses internet

Kekurangan selanjutnya dari sistem ini adalah kamu jadi sangat bergantung pada akses internet. Waktu WFA, kamu harus bisa membereskan semua pekerjaan secara online, mulai dari setor pekerjaan sampai meeting. Bila tidak ada jaringan internet yang baik, tentu itu akan menghambat kamu dalam menyelesaikan pekerjaan nantinya.

  1. Meningkatnya risiko terkena depresi

Work from anywhere dapat meningkatkan risiko terkena chronic loneliness atau kesepian kronis. Pada awal WFA, kamu mungkin merasa bahagia karena dapat mengatur jam kerja.

Akan tetapi, tanpa adanya manajemen waktu dan sosial yang baik, kamu justru berpotensi kehilangan koneksi dengan lingkungan sekitar. Akhirnya, kamu dapat merasa kesepian dan berisiko mengalami depresi.

Read More

Emotional Labour: What it is and Why it Falls to Women in the Workplace and Home

Have you ever been asked to make a cup of tea for your colleagues in the workplace? A recent survey commissioned by Samsung of around 2,000 employees in the UK showed that this is about three times more likely to happen to you if you are a woman.

Women are expected to do more non-work office tasks, such as organising staff away days and cards and gifts for colleagues, than men. Even if a woman says no to a task like this, it’s likely that another women will be asked in her place.

Women are fearful of being seen as difficult and more likely to agree to take on the invisible and unpaid labour that detracts from their other responsibilities. They may think, “If I don’t do it, another woman will.” And women have to hide their displeasure or discomfort and pretend to be accommodating even at the cost of their own mental health. This process of managing, modulating, and suppressing one’s emotions to fulfil expectations from others or to achieve professional goals is called “emotional labour”.

American sociologist Arlie Hochschild first introduced the concept of emotional labour in 1983 to mean that emotions have a market and exchange value in our capitalist society. People are required to regulate their emotions to fit in with the emotional norm, and manage their emotions to ensure the smooth flow of business necessary to get a wage.

Emotional labour was never intended to be a gendered term. But invisible unpaid labour, like doing the office tea round, falls disproportionately on women – who then have to manage their emotional response to carrying out unwanted tasks.

As I discuss in my book Hysterical, this is is due to gendered stereotypes that women are more empathetic or nurturing. They lack the “status shield” – the social protection – that men have to act outside what is expected of their role. So women make the tea or organise the office Secret Santa, and pretend that they are happy to do so.

Also read: Proper Child Care Boosts Women’s Participation in The Workforce

Acting out Empathy

There actually seems to be little difference between men and women when it comes to the ability to empathise. However, there is a more significant difference between men’s and women’s motivation to show empathy. Women are more conscious of their social gender roles and the need to conform to them – perhaps in order to advance their careers.

What’s more, while there is pressure on everyone to maintain pleasantness and conform to emotional rules, people of colour feel this pressure much more than others and have to modulate their emotions much more in the workplace.

This is because their regulation of emotions in the workplace is also likely to include having to deal with racially motivated hostility and micro-aggressions – small, subtle instances of discrimination that the perpetrator may not even realise they are doing. The intersection of the pressure placed on them by both their gender and their race means that this emotional labour is magnified for women of colour.

In academia, Black and brown women may have to perform more emotional labour than men and white women. Research has found that Black women scholars are challenged by non-Black students who perceive them as less capable and competent and confer lower status on them.

Despite microaggressions like these, Black and brown women academics have to manage their anger and frustration to appear professional because any anger outburst will only reinforce the stereotype that they are not, in fact, capable and professional.

This work – constantly being on high alert to figure out the emotional norms in the workplace, making an effort to appear to be warm and likeable, and suppressing emotions in order to create comfort for others – all have an impact on the health and wellbeing of women and women of colour in particular.

Also read: Housewives vs Working Mom: Enough with the Arguing!

In the Home

While Hochschild does not extend the definition of emotional labour to the domestic domain, I do not agree. In the home, women often bear the responsibility for the everyday running of the house, childcare and all the niggly organisational tasks.

While taking on these roles, women also often internalise the message that they are expected to be nurturing, that this work of caring is their responsibility and shouldn’t seem so onerous – and that they should never complain, or get angry, tired and frustrated. And so they suppress any discontentment.

This emotional load is never higher than around the festive season. In heterosexual relationships, much of the burden of creating magic for everyone, especially the children, and making everyone feel comfortable and joyous seems to fall to women – even in the most gender-equitable households.

Also read: Can Women Have It All? Working and Mothering in Jakarta

What Can We Do?

A significant part of the responsibility for changing this lies with men. They should reflect on their expectations of women around them in the workplace – and in the home. Men reading this should reflect: Do you treat women differently to your male colleagues? Do you expect them to carry the burden of tasks that are often invisible and unpaid? If so, step up, address your internal biases and become an ally.

For women, it is important to learn to say no. It is true that taking a stand like this is another emotional burden for women to bear. But change has to start somewhere.

Or, another solution might be to just make a really bad cup of tea and not be asked ever again. But that is unlikely to change the systemic problems for everyone. More importantly, women of colour do not have the luxury – or the status shield – to fail.

Pragya Agarwal, Visiting Professor of Social Inequities and Injustice, Loughborough University.

This article was first published on The Conversation, a global media resource that provides cutting edge ideas and people who know what they are talking about.

Read More
pengertian fatigue management

Apa itu ‘Fatigue Management’: Tips Atasi Lelah Berlebih di Tempat Kerja

fatigue management – Kamu pernah enggak merasakan lelah yang sangat saat bekerja? Saking lelahnya, pekerjaan jadi terbengkalai dan kamu bingung dan kerap meragukan banyak hal. “Ngapain aku masih di sini, apa yang lagi aku cari?”

Jika merasakan itu di lingkungan kerja, bisa jadi kamu mengalami fatigue. Dari hasil penelitian National Safety Council, 69 persen pekerja pernah mengalami fatigue di tempat kerja. Karena itu, fatigue management merupakan suatu hal yang penting dilakukan.

Secara sederhana, cara kerja fatigue management adalah perusahaan mesti punya mitigasi dalam menangani problem fatigue para pekerjanya. Strategi ini penting, sebab fatigue tidak cuma berpengaruh pada produktivitas kerja, tapi juga kesehatan mental buat para pekerja.

Supaya hal tersebut jangan sampai terjadi, kenali lebih dalam apa itu fatigue management dan bagaimana melakukannya di tempat kerja.

Pengertian Fatigue Management

Fatigue management adalah usaha untuk mencegah terjadinya fatigue atau rasa lelah, capek, tidak bersemangat, serta turunya motivasi kerja.

Baca Juga: ‘Digital Fatigue’: Kelelahan Digital dan Cara Tepat Mengatasinya

Menurut Psychology Today, fatigue di kantor merupakan penurunan kapasitas kinerja secara mental dan fisik seseorang.

Workplace fatigue ini penyebabnya pun beragam. Berikut beberapa penyebab dari workplace fatigue:

  • insomnia
  • lingkungan kerja yang tidak mendukung untuk fokus
  • jam kerja yang berlebihan

National Safety Council juga melakukan penelitian yang menunjukkan, 13 persen masalah atau kecelakaan kerja yang terjadi di tempat kerja disebabkan oleh fatigue. Ini jadi bukti kalau fatigue management di tempat kerja sangat penting dilakukan oleh perusahaan serta para pekerja.

Strategi Fatigue Management yang Dapat Diterapkan di Tempat Kerja

Berikut ini beberapa strategi untuk menjalankan fatigue management dan mengurangi stres di tempat kerja yang dirangkum dari beberapa sumber:

  1. Atur jadwal dan jam kerja karyawan

Ada banyak pekerja yang sukarela untuk bekerja lembur, maka sangat penting perusahaan untuk memberikan kejelasan dalam kebijakan tim atau perusahaan mengenai jam kerja.

Baca Juga: Apa itu ‘Zoom Fatigue’ dan Bagaimana Cara Menghadapinya?

Perusahaan dapat memberikan arahan ke setiap manajer yang ada di setiap divisi, dengan memberikan batasan mengenai jam kerja, jadwal shift kerja, sampai deadline yang dibuat dalam timnya.

Akan sangat bagus juga bila diberikan sosialisasi mengenai pentingnya work-life balance.

  1. Lakukan komunikasi dengan karyawan

Sangat penting buat perusahaan untuk meningkatkan komunikasi dengan karyawan yang ada. Dalam fatigue management, perusahaan dapat melakukan pendekatan dan membuat kebijakan untuk memfasilitasi komunikasi yang baik. Contohnya, dengan melakukan survei, kuisioner, atau menggunakan kotak saran.

Banyak karyawan yang tidak mengetahui apa yang dibutuhkan untuk mendapatkan solusi dari perasaan fatigue di tempat kerja.

Dengan adanya kebijakan dan pendekatan untuk komunikasi yang lebih baik akan membantu karyawan untuk mendapatkan solusi nantinya.

  1. Memberikan edukasi ke karyawan mengenai istirahat yang cukup

Istirahat dapat menjadi cara mengurangi risiko terjadinya fatigue di tempat kerja. Perusahaan dapat membuat semacam program edukasi kepada karyawannya mengenai pentingnya istirahat.

Saat perusahaan dapat memberikan edukasi tentang hal ini, karyawan akan jadi lebih paham mengenai batasan, juga kebutuhan mereka dalam hal istirahat. Jadi produktivitas kerja mereka juga dapat meningkat.

Baca Juga: 7 Cara Jitu Atasi ‘Mental Fatigue’ di Tempat Kerja

  1. Perusahaan lakukan penilaian tingkat fatigue

Dalam melakukan penilaian, perusahaan dapat melakukan beberapa metode berikut ini:

  • survei: cara yang pertama ini untuk mengidentifikasi area mana yang menyebabkan karyawan stres di tempat kerja dan menyebabkan kelelahan serta hilangnya motivasi dalam bekerja.
  • one-on-one: ini adalah cara penilaian dengan pendekatan yang lebih personal, cara ini dapat dilakukan oleh manajer, yang akan langsung berbicara ke setiap anggota di divisinya.
  • one-to-ten shout outs: cara ini menggunakan semacam survei, dengan mengkategorikan apa yang karyawan rasakan dengan skala angka 1-10 (1 paling buruk dan 10 paling baik)
  1. Membuat program kesejahteraan untuk karyawan

Program ini bisa dibuat berbagai bentuk. Contohnya, dibuat kelas olahraga di kantor seminggu sekali, perusahaan menyediakan alat olah raga, atau mengadakan medical check up sebulan sekali buat para karyawan.

Bukan cuma dengan menyediakan fasilitas saja, fatigue management juga dapat berbentuk dorongan pada anggota tim kamu untuk dapat berkonsultasi. Tepatnya, ketika ada masalah atau perusahaan dapat melakukan kampanye tentang inisiatif yang berkaitan dengan kesejahteraan.

Read More