pengertian retail therapy penghilang stres

Apa itu ‘Retail Therapy’: Aku Belanja maka Aku Ada

Saat pikiran sedang sumpek, beberapa orang memilih menghibur diri dengan cara belanja. Dari sana munculah istilah retail therapy. Terapi ini dipilih karena dinilai bisa mengatasi suasana hati yang buruk dengan cepat.

Magdalene merangkum fakta-fakta tentang apa itu retail therapy itu. Apa saja keuntungan serta sampai batas mana belanja bisa menjadi terapi stres.

Apa itu Retail Terapy?

Dikutip dari Webmd.com, retail therapy adalah keadaan di mana kamu memutuskan untuk berbelanja agar merasa lebih baik. Masih dari sumber yang sama, sebanyak 62 persen orang yang berbelanja bertujuan untuk menyenangkan diri sendiri. Sisanya, sebanyak 28 persen pilih berbelanja untuk merayakan sesuatu.

Baca Juga: ‘Digital Fatigue’: Kelelahan Digital dan Cara Tepat Mengatasinya

Pertanyaannya, apakah benar menghabiskan uang untuk belanja bisa membantu seseorang merasa lebih baik? Dikutip dari Health.clevelandclinic.org, psikolog klinis Scott Bea sepakat. Menurutnya, menambahkan barang ke keranjang ketika belanja online atau datang langsung ke toko favorit di mal selama beberapa jam, bisa memberikan dorongan psikologis dan emosional. Dalam hematnya, belanja online bisa membuat kamu merasa jauh lebih bahagia.

Manfaat Retail Therapy

Dikutip dari Webmd.com, ada beberapa manfaat retail therapy asal dilakukan secara sewajarnya dan tidak berlebihan. Keuntungan yang dimaksud antara lain:

  1. Membantu Kamu Merasa Pegang Kendali

Kesedihan sering dihubungkan sebagai sebuah perasaan yang tidak bisa kita kontrol. Para ahli mengatakan, membeli barang-barang yang kamu senangi, bisa 40 kali lebih efektif dalam memberi rasa kendali dalam hidup dibanding tidak berbelanja sama sekali.

Baca Juga: ‘Burnout’ di Tempat Kerja, Ini Ciri dan Tips Mengatasinya

  1. Interaksi sosial

Belanja ke luar rumah seperti ke mal akan membuat kamu bertemu dengan orang lain. Momen seperti ini dapat menjadi medium kamu untuk berinteraksi sosial.

Meskipun kamu pergi sendirian, kamu akan tetap bertemu dengan orang lain di jalan atau saat mengantri di kasir. Kegiatan belanja masih dapat mempunyai sisi-sisi interaksi dengan masyarakat.

  1. Menabung Bisa Jadi Terapi

Saat kamu memilih untuk menabung untuk membeli suatu barang yang kamu idam-idamkan, ini dapat melepaskan hormon dopamin yang dapat menjadi aspek terapeutik bagi pelakunya.

  1. Mengalihkan Stres

Keluar rumah dan pergi berbelanja dapat mengalihkan pikiran kamu dari apa pun yang membuat kamu jadi stres dan sedih.

Dengan melihat-lihat barang yang dipajang dengan menarik di toko, ternyata dapat membawa kamu menjauh dari realita yang sedang dihadapi. Hal ini juga berlaku saat kamu memilih belanja secara online. Produk yang di foto sedemikian menarik di halaman penjual akan mengalihkan perhatian kamu dari rasa stres.

  1. Memberikan Rasa Bahagia

Kamu bisa memperoleh dorongan emosional dan psikologis dari mendatangi department store atau bahkan browsing toko online.

Hal tersebut punya hubungan erat dengan produksi hormon dopamin dalam otak yang akan datang waktu kamu berbelanja. Tetapi kadang-kadang tidak perlu sampai kamu harus belanja, cukup memasukan barang ke keranjang di akun e-commerce itu bisa memancing otak untuk melepaskan hormon dopamin, dan membuat kamu merasa lebih baik.

Tips Retail Therapy Supaya Tidak Kebablasan

Sekarang kamu sudah tahu apa itu retail therapy dan apa manfaatnya. Namun kamu harus tetap berhati-hati saat melakukan kegiatan ini. Jika tidak, bukannya bisa mengobati suasana hati kamu tapi malah kamu harus menghadapi permasalahan baru yaitu pengeluaran jadi tidak terkendali atau impulsive buying.

Berikut ini beberapa tips sederhana yang bisa kamu coba waktu melakukan retail therapy.

  1. Buat Catatan Barang yang Diinginkan dan Dibutuhkan

Tips pertama kamu bisa membuat catatan yang isinya barang-barang yang kamu dibutuhkan dan diinginkan. Jadi waktu kamu mulai berbelanja dalam rangka retail therapy, barang tersebut dibeli bukan karena kepingin saja. Tapi ada unsur kebutuhan juga. Dengan membuat batasan seperti ini, kamu akan terhindar dari penyesalan setelah membeli barang ujung-ujungnya tidak kamu pakai.

  1. Pikirkan dengan Matang Sebelum Akhirnya Membayar

Melakukan retail therapy bukan berarti jadi alasan buat kamu untuk bisa membeli banyak barang supaya menghilangkan stres. Coba pikirkan dengan matang, kalau kamu membeli barang ini, kamu merasa bahagia atau enggak.

Baca Juga: ‘Sunday Scaries’: Rasa Cemas Hari Minggu yang Serang Pekerja

Kalau kamu masih enggak yakin, lebih baik kamu tunggu beberapa waktu sebelum akhirnya membeli barang tersebut. mudah bukan?

  1. Tentukan Anggaran yang Akan Kamu Gunakan untuk Retail Therapy

Jangan sampai kamu overspending bikin pengeluaranmu membengkak. Apalagi kalau kamu sampai menghabiskan limit kartu kredit. Kamu harus sesuaikan anggaran yang akan kamu pakai untuk belanja. Jangan sampai kamu jadi lebih besar pasak daripada tiang.

  1. Mencari Diskon atau Promo

Retail Therapy berbahaya kalau dilakukan tanpa perhitungan. Namun, itu sangat mungkin memberikan keuntungan lantaran membantumu jadi konsumen pintar.

Seperti situasi sekarang ini banyak toko online atau offline yang memberikan banyak diskon dan promo. Jadi kamu harus pintar-pintar memilih tempat belanja untuk retail therapy, toko mana yang lebih banyak memberikan promo. Kesehatan mental terjaga, dompet pun aman.

Read More
apa itu morning person

Apa itu ‘Morning Person’ dan Tips Jadi Salah Satunya

Pernah enggak kamu bangun tidur dengan perasaan nyaman, dan tak sabar menjalani kegiatan di hari itu? Jika iya, mungkin kamu adalah tipikal morning person. Secara umum istilah ini merepresentasikan orang-orang yang terbiasa bangun pagi dan langsung beraktivitas. Orang-orang tipe ini biasanya ajek membuat jadwal aktivitas dari pagi hari.

Ya, kita tahu, bangun di pagi hari memang terasa susah untuk beberapa orang. Belum lagi ketika ia harus menyelesaikan pekerjaannya sampai larut malam. Padahal faktanya bangun pagi punya sejumlah manfaat. Kamu jadi punya waktu yang lebih banyak untuk menyiapkan diri, sebelum akhirnya beraktivitas. Tentu ini bakal membuat badan kamu jadi lebih sehat.

Kami merangkum fakta-fakta morning person untuk kamu. Yuk, disimak.

Pengertian Morning Person

Morning person adalah istilah dari Bahasa Inggris untuk orang-orang yang terbiasa bangun dan mempunyai energi besar dan penuh di pagi hari. Morning person umumnya akan langsung bersemangat melakukan aktivitas harian seperti membalas surel kantor atau pekerjaan rumah tangga di pagi hari.

Sementara itu, kebalikan dari morning person, night owl adalah tipe orang merasa lebih semangat dan aktif pada malam hari, bahkan menjelang pagi.

Menurut Risescience.com, hal yang membuat seseorang menjadi morning person atau night owl adalah siklus alami tubuh serta genetik.

Baca Juga: Terlalu Banyak WFH, Awas Bahaya ‘Cabin Fever

Manfaat Menjadi Morning Person

Berikut manfaat menjadi morning person atau orang yang terbiasa bangun pagi.

1. Menjadi Morning Person dapat Menaikkan Daya Kritis Otak

Bangun lebih awal tidak akan membuat tubuh kamu jadi lebih sehat, tapi otak juga lebih rileks dan jadi lebih optimal dalam bekerja. Penelitian yang dikutip dari Livestrong.com membuktikan, bangun lebih pagi membuat kemampuan problem solving meningkat.

2. Meningkatkan Produktivitas Kerja

Bangun pagi bisa membantu kamu untuk mengatur jadwal dan aktivitas dengan baik. Dengan kondisi tubuh dan pikiran yang masih segar, kamu dapat memulai pekerjaan dengan fokus. Hal ini berpengaruh pada peningkatan produktivitas kerja.

Baca Juga: Agar Tetap Produktif Meski Kerja dari Rumah

3. Meningkatkan Kesehatan Fisik dan Mental

Dilansir dari Insider.com, morning person cenderung mempunyai mental serta fisik yang sehat.

Serta mengurangi risiko kamu terkena diabetes, membantu menurunkan berat badan, juga lebih sehat secara mental.

Kamu pun mempunyai jam tidur yang lebih berkualitas karena rutinitas bangun pagi dan tidur bergeser lebih awal pada malam hari.

4. Menjadi Morning Person Membuat Tidur Lebih Nyenyak

Penelitian dari Appalachian State University menunjukkan, orang yang terbiasa bangun pagi akan memiliki tingkat kelelahan yang tinggi, dibanding mereka yang bangun siang. Sehingga, kualitas tidur pun akan membaik pada malamnya.

5. Kamu Lebih Berenergi Sepanjang Hari

Menurut Lifehack.org, kalau kamu terbiasa bangun pagi, kamu juga akan merasa lebih berenergi sepanjang hari. Karena kamu jadi bisa berolahraga sebelum memulai aktivitas.

Berolahraga dapat membuat tubuh melepaskan endorfin yang memberikan dorongan besar untuk merasa lebih baik sepanjang hari.

Bagaimana Cara Menjadi Morning Person?

Melihat manfaat yang bisa diperoleh dari menjadi morning person, tidak ada salahnya kalau kamu mencoba untuk mengikutinya. Untuk menjadi seorang morning person, kamu dapat mencoba beberapa cara berikut ini:

1. Ubah Jam Tidur

Tidur malam yang nyenyak sangat penting untuk kesehatan. Sangat disarankan untuk mulai tidur dari 20 menit hingga dua jam lebih awal setiap malam. Selama beberapa waktu, pindahkan rutinitas malam hari kamu lebih awal dan usahakan untuk segera membereskannya sebelum jadwal tidur.

Baca Juga: 7 Cara Jitu Atasi ‘Mental Fatigue’ di Tempat Kerja

2. Membuat Rutinitas Pagi

Selain mengubah jam tidur, kamu juga perlu yang namanya morning routine. Kamu dapat melakukan olahraga ringan, membuat list pekerjaan, atau menyiapkan sarapan sebelum berangkat kerja.

Hal-hal ini bisa membuat kamu jadi disiplin waktu sudah bangun di pagi hari.

3. Letakkan Alarm Jauh dari Jangkauan Tangan

Untuk bisa menjadi morning person, sangat disarankan untuk menaruh alarm jauh dari jangkauan tangan. Ketika alarm berbunyi, rata-rata orang dengan otomatis menekan tombol snooze. Kebiasaan ini bisa merusak ritme tidur dan berpotensi membuat kamu terbangun dalam kondisi lelah.

Karena itu, bagusnya meletakan alarm di tempat yang mengharuskan kamu berjalan sedikit dari tempat tidur untuk mematikannya. Cara ini bisa mengundang otak untuk aktif dan mencegah kamu untuk tidur kembali.

Baca Juga: 8 Cara Sederhana Memberikan Motivasi untuk Rekan Kerja

4. Mengatur Jam Makan

Apabila kamu ingin tidur dan bangun lebih awal, kamu harus menyesuaikan jam makan agar tidak terlalu malam. Jangan mengkonsumsi kopi serta makan berlebihan sebelum tidur, karena bisa membuat kamu terjaga dan kesulitan untuk tidur.

5. Hindari Tidur Siang

Biasanya orang kalau sudah tidur di siang maka akan susah mengantuk di malam harinya.

Alhasil, sangat disarankan untuk menghindari tidur siang. Tubuh yang tidak mendapatkan istirahat di siang harinya cenderung akan lebih cepat lelah dan mengantuk di saat malam hari. Manfaatkan itu untuk tidur lebih cepat supaya bangun bisa lebih pagi.

Read More
pengertian zoom fatigue

Apa itu ‘Zoom Fatigue’ dan Bagaimana Cara Menghadapinya?

zoom fatigue – Kasus COVID-19 mulai meningkat, sehingga banyak perusahaan mengevaluasi (lagi) sistem kerja mereka. Pekerja yang dulu harus menghabiskan waktu lima hari seminggu, kini diminta bekerja dari rumah (work from home (WFH)). Tak sedikit juga perusahaan yang mengganti kebijakan menjadi WFH secara permanen. Ada juga yang memilih sistem kerja hybrid atau memadukan antara kerja dari rumah dan kantor.

Meski bisa memangkas waktu perjalanan karena tidak perlu ke kantor, WFH tak selamanya menyenangkan. Apalagi hampir semua komunikasi dan rapat dilakukan lewat zoom atau aplikasi video conference lain. Rapat lewat zoom yang dilakukan sepanjang hari juga bisa bikin sakit kepala (zoom fatigue).

Kenapa zoom fatigue bisa terjadi? Bagaimana cara tepat menangani zoom fatigue? Yuk, kita bahas selengkapnya di bawah ini!

Pengertian Zoom Fatigue dan Penyebabnya

Dikutip dari Psychology Today, zoom fatigue adalah perasaan sangat lelah karena terlalu sering memakai aplikasi meeting online atau obrolan video. Meski istilah ini memakai kata Zoom, tetapi zoom fatigue sendiri juga mencakup orang-orang yang menggunakan aplikasi video conference lain, misalnya skype, google meet, dan yang lainnya.

Baca Juga: Apa itu ‘Cultural Fit’ dan Manfaatnya untuk Para Pekerja?

Penyebab dari zoom fatigue sudah diteliti oleh Profesor Jeremy Bailenson, pendiri Stanford Virtual Human Interaction Lab (VHIL). Dari hasil penelitian yang dimuat di jurnal Technology, Mind and Behavior pada 2021. Di antaranya:

  1. Tubuh jarang bergerak

Ketika kita melakukan percakapan lewat telepon atau audio, kita masih dapat berjalan-jalan atau setidaknya kita masih bisa bergerak. Namun, saat rapat lewat video dan menyalakan kamera, maka mau tidak mau kita harus berada di posisi yang sama supaya kamera bisa menjangkau kita.

Posisi kita yang hanya duduk dan melihat layar, membuat perasaan penat dan pegal gampang muncul. Belum lagi ada adanya faktor radiasi cahaya dari layar serta pencahayaan ruangan yang memengaruhi penglihatan.

  1. Kontak mata yang terlalu lama serta jarak yang terlalu dekat dengan layar

Sudah banyak penelitian yang menyebut layar ponsel maupun komputer punya dampak yang buruk pada mata kita. Jika dalam meeting tatap muka, kita dapat mengalihkan kontak mata sebentar pada orang-orang di sekitar, hal itu tidak bisa dilakukan dalam meeting online.

Selain itu, saat tengah berperan jadi pembicara di meeting, kamu hanya bisa melihat tampilan antarmuka dalam jarak dekat. Hal itu membuat seakan-akan seluruh pandangan terarah kepada kita. Keadaan tubuh yang harus standby di depan komputer juga membuat kita seolah diawasi oleh orang lain. Inilah kenapa kamu selalu khawatir dan bisa jadi sampai stres.

  1. Terus menerus melihat diri sendiri layaknya sedang bercermin di sepanjang meeting

Dalam hasil penelitiannya, Bailenson juga menyebutkan efek dari zoom meeting yang membuat kita terus menerus melihat diri sendiri seperti sedang bercermin. Ada kecenderungan lebih khawatir tentang bagaimana diri kita dilihat dari oleh orang lain. Sementara, saat bertemu langsung, kita hanya bisa melihat orang lain.

Baca Juga: Apa itu ‘Self Acceptance’ dan Pengaruhnya di Dunia Kerja?

Ia melanjutkan bahwa kekhawatiran akan penampilan di depan orang lain itu bisa menimbulkan dampak negatif secara emosional. Apalagi jika orang tersebut sudah punya masalah kepercayaan diri. Hal ini membuat orang seringkali memaksakan diri dan berpikir keras untuk mengatur cara bergerak atau merespons. Jika harus berhadapan dengan layar komputer seharian saja sudah melelahkan, apalagi jika terus memikirkan tampilan kita di hadapan orang lain.

Cara Sederhana yang Bisa Dilakukan untuk Mengatasi Lelah karena Meeting Online

Meski zoom fatigue diakibatkan berbagai macam faktor, namun’ bukan berarti tidak bisa diatasi. Berikut tips yang sudah dirangkum Magdalene.

  1. Cobalah sedikit-sedikit menggerakan tubuh saat meeting

Untuk mengatasi rasa pusing karena harus zoom meeting berjam-jam, cobalah untuk menggerakkan badan sedikit-sedikit agar tidak kaku. Kamu bisa memulai dengan berjalan di sekitar rumah atau peregangan secukupnya.

Saat sedang bergerak, ujar Professor Jeremy Bailenson, kamu dapat mematikan mode kamera sesaat. Jika kamu punya waktu banyak akan lebih baik untuk berolahraga ringan.

  1. Kurangi kontak mata dengan peserta rapat yang lain

Agar tidak terlalu stress karena terus-terusan terjadi kontak mata ketika meeting, kamu bisa mencoba untuk mengecilkan layar zoom kamu, sehingga peserta rapat jadi terlihat lebih kecil. Kamu pun jadi bisa membatasi kontak mata dan bisa mengurangi rasa terintimidasi.

  1. Kurangi durasi video conference

Supaya kamu tidak merasa lelah karena sering melakukan meeting online, kamu dapat mencoba mengurangi durasi meeting online. Caranya sebelum meeting berlangsung, kamu dapat membuat rangkuman tentang poin-poin yang akan kamu sampaikan.

Baca Juga: 8 Cara Sederhana Memberikan Motivasi untuk Rekan Kerja

Selain itu, kamu bisa mengusulkan efektivitas meeting dengan peserta meeting lebih sedikit. Sebab, terlalu banyak peserta akan membuat kewalahan dan tidak efektif. 

  1. Hindari multitasking dan pilih di tempat yang tenang

Mengerjakan pekerjaan lain saat kamu dengan melakukan video conference akan membuat pikiran terbagi. Hal itu akan berpotensi membuatmu cepat lelah. Untuk menghindarinya kamu bisa mengurangi kegiatan lain dan fokus pada hal-hal yang akan disampaikan pada saat rapat. 

Selain itu, sudah banyak penelitian yang membuktikan, multitasking justru membuat kita mudah burnout karena banyaknya pekerjaan yang dilakukan dalam satu waktu.

Read More
apa itu self acceptance dan pengaruh di dunia kerja

Apa itu ‘Self Acceptance’ dan Pengaruhnya di Dunia Kerja?

Kamu pernah merasa benci pada diri sendiri, mencela, dan meragukan kemampuan? Atau pernahkah kamu merasa belum selesai dengan diri sendiri? Jika jawabannya iya, bisa jadi kamu belum melakukan self acceptance. Ini adalah hal penting agar kamu bisa terus bertumbuh sebagai manusia, khususnya tumbuh di lingkungan kerja.

Magdalene telah merangkum fakta-fakta soal self acceptance dan apa saja pengaruhnya di dunia kerja. Yuk, simak selengkapnya!

Arti Self Acceptance

Menurut Huffpost.com, self acceptance atau penerimaan diri, baik dalam aspek positif atau negatif. Orang yang mengenal yang jadi kekurangan serta kelebihannya serta berlapang dada dan menerimanya, bisa jadi ia sudah menerapkan penerimaan diri. 

Baca Juga: Kesehatan Mental Pekerja Masih Diabaikan, Perusahaan Perlu Buat Perubahan Kebijakan

Manfaat Menerima Diri Sendiri

Penerimaan diri membuat kamu lebih mengenal kelebihan serta kekurangan yang kamu miliki. 

Selain itu, kamu juga bisa lebih berdamai dengan fakta bahwa kamu tidak bisa lepas dari ketidaksempurnaan. Proses berdamai inilah yang digadang-gadang berpengaruh baik untuk kesehatan mental.

Menerima diri sendiri juga berperan penting dalam interaksi sosial. Kamu akan jauh lebih percaya diri dan gampang diterima oleh orang lain. Kamu juga sadar setiap orang memang diciptakan berbeda-beda.

Baca Juga: Beda Generasi Milenial dan Generasi Z di Dunia Kerja

Dalam kondisi ketika kamu sedang mencari pekerjaan, hal ini akan terasa berguna sekali. Sebab biasanya, kelebihan dan kekurangan diri adalah pertanyaan wajib yang dilontarkan HRD. Jika kamu sudah mengenali kelebihan dan kekurangan, bukankah ini bisa membantumu lolos dalam interview kerja, bukan?

Ada manfaat lain yang bisa didapat ketika legowo menerima diri. Salah satunya, kamu akan tampil lebih positif, yakin dengan kemampuan yang kamu miliki, dan tetap sehat mental. Interaksi kamu dengan orang lain juga bakal relatif baik, karena penerimaan diri mengerek kepercayaan serta respons saat menerima kritik.

Namun, mengakui kekurangan diri itu bukan sesuatu yang gampang. Kamu perlu belajar untuk mencapainya, mengambil setiap kesempatan, dan terus membuka diri terhadap peluang dan hal-hal baru.

Pengaruh Self Acceptance di Dunia Kerja

Selain manfaat yang sudah disampaikan di atas, ada beragam manfaat lain dari menerapkan self acceptance di tempat kerja:

  1. Bisa menerima kritik atau masukan

Di kehidupan sehari-hari, tampaknya tidak ada orang yang sepenuhnya senang mendapatkan kritik. Meski begitu, kita tetap perlu mengantisipasi ketidaknyamanan menuai kritik dalam dunia kerja.

Sebab, kritik semacam ini dapat menyakitkan hati, apalagi jika kamu merasa sudah bersusah payah melakukan sebuah pekerjaan. Kritik juga akan terasa semakin tidak menyenangkan, kalau sampai membuat kamu jadi ragu dengan kemampuan sendiri.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dengan menerapkan self acceptance, kamu kamu jadi lebih mengenal diri dengan baik. Menerima diri sendiri di sini bukan cuma menerima kekurangan, namun kamu juga mampu untuk memperbaikinya.

Menurut, Thebalancecareers.com, kritik yang diberikan oleh rekan kerja atau atasan bukan berarti mereka tidak senang denganmu secara personal, tetapi sebagai umpan agar kamu berbenah jadi lebih baik.

Baca Juga: Dear ‘Fresh Graduate’, Siapkan Hal Ini untuk Masuk ke Dunia Kerja

Bila kamu sudah menerima diri sendiri, kritikan yang kamu dapat bisa kamu terima dengan suka cita. Tak ada emosi negatif, dan sebaliknya kamu justru punya hasrat kuat untuk memperbaiki diri.

  1. Menjadi lebih profesional 

Menerima diri sendiri membantumu dalam mengatur emosi. Kamu jadi tidak akan gampang terpengaruh oleh emosi negatif yang berasal dari luar pekerjaan. Hal ini akan membuatmu jadi lebih profesional.

  1. Membawa efek positif ke lingkungan kantor

Self acceptance tidak cuma memberikan pengaruh ke diri sendiri, namun juga orang sekitar.

Bila kamu selalu tampil positif, dan selalu yakin dengan kemampuan diri, itu tentu dapat memicu orang di sekitar untuk merasakan hal yang sama terutama, rekan kerjamu.

Read More
motivasi untuk rekan kerja di kantor

8 Cara Sederhana Memberikan Motivasi untuk Rekan Kerja

Biarpun kamu bukan manajer atau team leader, kamu tetap bisa kok, memberikan motivasi untuk rekan kerja yang lain.

Apalagi motivasi kerja ini diberikan supaya mereka dapat bekerja dengan lebih baik dan produktivitas kerja meningkat. Ditambah jika pekerjaan yang mereka lakukan berhubungan dengan orang lain. Kalau sampai tidak semangat, orang lain juga bisa kena dampaknya.

Nah, kalau sekarang kamu merasa dalam situasi seperti ini, berikut beberapa cara sederhana yang dapat dicontoh untuk memotivasi sesame rekan kerjamu.

Cara Sederhana Memotivasi Rekan Kerja

Menyemangati rekan kerja bisa kamu dilakukan kapan pun, dan tidak perlu menunggu rekan kerja curhat atau terlihat susah.

Baca Juga: Dipromosikan, Bagaimana Menjaga Relasi dengan Rekan Kerja?

Kamu dapat memberikan motivasi di bawah ini supaya mereka kembali bersemangat dan dapat menyelesaikan pekerjaannya kembali. Jangan lupa, sesama pekerja harus selalu bersolidaritas karena kekuatan para buruh ada di tangan bersama.

1. Menjadi Pendengar yang Baik

Menurut hcareers.com, tumpukan masalah bisa menyebabkan seseorang jadi lebih banyak diam dan hilangnya motivasi untuk bekerja.

Inilah kenapa waktu merasa rekan kerja mulai tidak bersemangat, kamu dapat mencoba untuk bertanya atau mendengarkan keresahan yang mereka alami.

Meski kamu tidak langsung dapat memberikan solusi, paling tidak mereka jadi tidak merasa sendirian. Kapitalisme sering bikin para buruh mengira masalah mereka adalah problem yang harus dikentaskan sendiri. Jangan lupa, kalau kamu juga dapat memberikan dukungan moral supaya mereka jadi lebih bersemangat.

2. Memahami Minat atau Hobi Rekan Kerja

Menurut The Muse, kadang-kadang seseorang jadi tidak termotivasi karena kehilangan minat atau interest. Hal ini wajar terjadi, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang berdinamika. Kehilangan minat atau semangat bisa dialami siapa saja.

Salah satu cara yang bisa membuat rekan kerjamu jadi termotivasi kembali adalah dengan mengingatkannya kembali pada apa yang bikin dia senang. Contohnya dengan mengingatkan mereka pada hobinya, atau memberi semacam tantantangan/permainan yang bisa membuat motivasi kembali datang.

3. Beri Positive Reinforcement Seperti Pujian atau Bonus

Kadang, hal kecil macam pujian bisa jadi dorongan positif yang bisa membuat seseorang jadi termotivasi lagi dari keterpurukan. Sesama rekan kerja, tak ada salanhnya banyak-banyak menyemangati dan meng-acknowledge pekerjaan mereka. 

Hal ini biasa disebut sebagai positive reinforcement, atau dukungan positif yang diberikan agar rekan kerja atau bawahan semangat ketika melakukan hal positif.

Dikutip dari Bbc.com, bentuk positive reinforcement ini juga kamu lakukan dengan memberikan semacam kritik atau saran. Buat para atasan, bonus bisa jadi salah satu metode yang diberikan pada karyawan agar semangat melakukan hal-hal positif buat perusahaan.

Beri tahu apa saja kapabilitas mereka dan hal yang bisa dilakukan dengan kemampuan itu.

Baca Juga: Merasa Kehilangan Saat Teman Kerja Resign, Apa yang Bisa Dilakukan?

Dengan dorongan ini mereka dapat lebih bersemangat menjalankan apa pun. Karena ada objek yang perlu ditanggulangi yang secara tidak langsung diberikan.

4. Meminta Bantuan ke Rekan Kerja yang Hilang Motivasi

Terkadang seseorang jadi hilang semangat untuk mengerjakan apa pun karena mereka kehilangan tujuan. Namun, kalau kamu mengembalikan tujuan itu, ada kemungkinan motivasinya bisa kembali dengan cepat.

Dikutip dari smallbusiness.chron.com, kamu dapat mengembalikan motivasinya dengan cara meminta pertolongan langsung pada mereka.

Jika itu berhubungan dengan pekerjaan atau keahliannya, mereka akan kembali bersemangat untuk membantu dan menjawab setiap pertanyaan.

5. Menjalin Hubungan yang Baik

Cobalah bersosialisasi dengan rekan kerja yang mulai kehilangan motivasi kerja. Menjalin relasi ini dapat dilakukan dengan mengajak mereka mengobrol di waktu istirahat dan brainstorming.

Wawasan baru yang keluar dari diskusi bisa menaikan kembali semangat dan motivasi kerja yang hilang. Kadang-kadang mendiskusikan projek yang mereka sukai akan membantu membangun kembali semangat yang sempat pudar.

6. Percaya dengan Rekan Kerja

Percaya dengan rekan kerja akan membuatnya jadi lebih termotivasi. Contohnya waktu mengerjakan sesuatu, kamu dapat memberikan mereka rasa percaya untuk membereskannya.

Jadi, mereka merasa memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

7. Memberikan Contoh untuk Meningkatkan Motivasi Rekan Kerja

Untuk meningkatkan motivasi, kamu dapat memberikan contoh secara langsung di depan teman kantor.

Dengan memberikan contoh apa yang perlu dikerjakan agar tetap semangat atau sejenisnya. Dengan begitu, mereka seperti ada harapan untuk berubah.

Baca Juga: Benarkah Kita Dilarang Berteman Dekat dengan Orang Kantor?

Jika hanya berbentuk kata motivasi saja, terkadang agak susah untuk berharap mereka harus menerapkanya secara langsung.

8. Mengusulkan Kegiatan Outing ke Perusahaan

Menurut hrinasia.com, kegiatan outing dapat meningkatkan motivasi karyawan dan bisa menyegarkan pikiran sejenak. Selain itu, hal ini juga bisa membuat relasi di lingkungan kerja menjadi lebih erat dan menjalin kerjasama yang lebih baik.

Itulah beberapa cara memberikan motivasi ke rekan kerja. Dampak rekan kerja yang jadi lebih semangat dan produktif akan dirasakan banyak orang.

Saat semua bisa berjalan dengan baik, pekerjaan tentu dapat terselesaikan dengan cepat dan sesuai goals yang diharapkan.

Jadi, tidak ada salahnya memberikan motivasi meski cuma sekadar memberikan ucapan singkat atau mendengarkan mereka curhat masalah pekerjaan.

Read More
tanda diterima kerja setelah interview

How We Invented ‘Unemployment’ – and Why We’re Outgrowing It

When Labor leader Anthony Albanese couldn’t quote Australia’s unemployment rate in the first week of the election campaign, many said it didn’t matter: the Australian Bureau of Statistics figure was “meaningless”; “fudged”; “manipulated”; and didn’t count all those who had registered for JobSeeker.

The truth is the official measure of unemployment does what it says on the box. It counts those without any work who are available to work and looking for work.

The result of an astonishingly large survey of 26,000 households covering 50,000 people each month, there’s little reason to question its accuracy.

But there are good reasons to question why the bureau does it in the way it does.

“Unemployment” as we have come to understand it is a fairly new concept.

As I outline in my book, Inventing Unemployment, before the second world war censuses tended to divide the population differently – into breadwinners and dependants.

A breadwinner who wasn’t employed would be recorded as a breadwinner rather than unemployed (with their usual occupation noted).

That’s probably because until the 20th century, irregular work was the norm.

Late-19th-century Sydney had no extensive manufacturing. Work such as wool washing, tanning, meat preserving and loading sea cargo was seasonal and tied to rural rhythms.

Even in more stable occupations, many workers were little more than or sub-contractors or day labourers, their work intermittent.

Unemployment as We Know It

The 1947 census introduced three distinct categories: employed, “unemployed” and “not in the labour force”. To be “unemployed” you had to describe yourself as willing and able to work, but without work.

Carried into the quarterly labour force surveys which started in the 1960s and continue monthly to this day, the change enabled the creation of an unemployment rate, which is the number of unemployed divided by the total of the number of employed and unemployed, which is called the “labour force”.

The categorisation made more sense by then as work was becoming full-time and ongoing. Being “unemployed” (workless but in the workforce) had come to be seen as unusual and worthy of government support. The Curtin Labor government introduced unemployment benefits in 1945.

The changes were in line with International Labour Organisation recommendations which themselves followed changes in the United States which in 1937 had asked all non-workers who’d expressed a desire to work whether they were able to work and were actively seeking work.

The context was United States President Franklin D Roosevelt’s determination to fight unemployment through job creation schemes. The advantage of the new measures was that they gave a measure of immediate unmet demand for work.

Excluding both those who were unwilling to work at present and those who had any work at all yielded a measure of the minimum number of jobs needed. Policy drove the definition rather than the other way around.

Messy by Design

But the definitions were messy. Labour markets confound easy distinctions between working and not working, and there’s no particular degree of desire for work that clearly distinguishes the “unemployed” from “not in the labour force”.

Looking back, what was exceptional about the post-war decades is that most of the time the new definitions were easy to apply. If you were in work, the chances were you were in full-time work; if you weren’t in full-time work the chances were you weren’t working at all, and that you were either wanting work or none.

And the idea of the “labour force” summed up fairly stable social categories: men who entered at 15 years and were expected to work or look for work for 50 years, and women who also entered in their mid-teens only to permanently withdraw upon marriage or childbirth.

Not now. As social researcher Monica Threlfall points out, whereas once the labour force was an identifiable category, today it is more like an unbounded space that a variety of people of different ages enter, leave and re-enter at a variety of rates.

When the headline monthly unemployment rate changes, what has moved is often not the numerator – the number of unemployed – but the shape-shifting denominator, which depends on whether people define themselves as looking and available for paid work at the particular time they are asked.

And the main questions don’t pick up underemployment. Australia has one of the largest part-time work forces in the OECD, which is why the Bureau of Statistics also asks workers whether they would like more hours, and reports the answers alongside the unemployment rate.

It also measures “discouraged workers”, people who are available for and wanting work but have given up the search and so aren’t counted as “unemployed”.

The only way to really understand whether we are succeeding or failing in providing paid work is to take all three measures together – unemployment, underemployment and the count of discouraged workers.

Messier by the Month

What this total tells us will be quite different to the count of the number of Australians on unemployment benefits.

After tracking each other closely, the number of “unemployed” and the number on unemployment benefits has diverged over the past 25 years and that divergence became even more pronounced during COVID-19.

Australian experts Peter Whiteford and Bruce Bradbury point out most unemployed people aren’t on benefits, and increasingly unemployment benefits are available to people who are not unemployed.

These days unemployment benefits are available to people not seeking paid work but engaged in voluntary work, study, or providing home schooling.

And people who once would not have been considered unemployed – such as single parents and people with disabilities – are now put on unemployment benefits and required to search for work in order to get them.

After holding together for decades, the post-war administrative and legal construction of unemployment is failing us. We’re outgrowing it.

Anthony O’Donnell, Adjunct Senior Lecturer, School of Law, La Trobe University.

This article was first published on The Conversation, a global media resource that provides cutting edge ideas and people who know what they are talking about.

Read More
perbedaan generasi milenial dan generasi z di tempat kerja

Beda Generasi Milenial dan Generasi Z di Dunia Kerja

Generasi Z golongan pertama sudah masuk usia produktif alias usia kerja. Gelombang berikutnya pun makin dewasa dan siap menjajaki dunia kerja. Konteks waktu bikin tantangan dan situasi yang mereka hadapi sedikit-banyak berbeda.

Sebagai generasi yang ditandai dengan kelahiran internet, karakteristik ini juga tentu saja berbeda dengan generasi sebelum mereka, generasi milenial. Teknologi jadi salah satu faktor besar yang memengaruhi perbedaan tersebut. Contohnya, dalam cara berpikir dan menghadapi tugas atau pekerjaan tertentu.

Berikut beberapa info singkat mengenai dua generasi ini yang kami rangkumkan dari berbagai sumber untuk kamu. Simak, yuk!

Apa itu Generasi Milenial dan Generasi Z?

Dikutip dari businessinsider.com, secara garis besar generasi Y atau yang lebih populer dengan generasi milenial adalah orang yang lahir pada rentang tahun 1980 sampai 1995. Berarti pada tahun 2022, generasi milenial akan berada di rentang umur 27 sampai 42 tahun.

Lantas, mengapa mereka yang lahir di tahun tersebut masuk ke dalam generasi milenial? Jawabannya, generasi ini merupakan satu-satunya yang pernah melewati milenium kedua semenjak teori pertama kali dicetuskan sosiolog Karl Manheim di tahun 1923.

Baca Juga: Beban Pekerja Perempuan Generasi ‘Sandwich’ Berlapis

Sementara itu, untuk gen Z yang lahir pada tahun 1996 sampai 2015. Dengan begitu, rentang umur mereka dari 7 sampai 26 tahun pada tahun 2022. Mereka inilah generasi pertama yang sejak kelahirannya sudah dipengaruhi oleh kehadiran internet.

Faktor yang Membedakan Generasi Milenial dan Generasi Z

Selain dari rentang umur yang berbeda, berikut ini beberapa faktor yang memengaruhi perbedaan antara generasi milenial dan gen Z.

Perilaku ekonomi generasi milenial dan generasi Z

Dikutip dari aihr.com, generasi milenial dan gen Z mempunyai perbedaan pada tingkah laku dalam mengatur keuangan. Kedua generasi tersebut sama pedulinya terhadap keuangan dan berinvestasi, pada hal yang bisa menaikan karir mereka ke depannya, seperti mengejar pendidikan.

Baik milenial dan gen Z dikenal untuk mengoreksi kebiasaan finansial dari generasi sebelumnya. Namun, milenial lebih condong menggunakan uangnya untuk membeli produk atau layanan yang dapat memberikan pengalaman positif. Sementara, gen Z berfokus untuk menabung dan membeli produk praktis. Kalau kamu seorang marketing (markerter), kamu perlu memperhatikan karakter tersebut mengenai cara menggunakan uang.

Generasi milenial dan generasi Z mempunyai motivasi dalam berkarier yang berbeda

Memahami kemampuan kedua generasi dalam bekerja bisa memberikan sedikit gambaran akan keuangan dan apa motivasi sehari-harinya. Milenial dan gen Z berfokus pada pendidikan dan karir yang bertumbuh, tapi tetap memiliki sedikit perbedaan antara keduanya.

Dalam mencari pekerjaan, gen Z dewasa lebih termotivasi secara finansial kalau dibandingkan dengan kaum milenial. Banyak dari gen Z lebih melihat gaji daripada kelebihan lainnya dalam memilih perusahaan. Generasi tersebut juga akan berinvestasi dalam kursus keterampilan, kalau mengetahui akan memperoleh gaji yang lebih besar. Waktu mencari pekerjaan, generasi Z juga lebih agresif daripada milenial.

Durasi dalam mengkonsumsi konten di sosial media

Dalam hal melahap konten media sosial, kebiasaan milenial dan gen Z juga mempunyai perbedaan. Milenial akan memperhatikan konten dalam waktu 12 detik, sedangkan gen Z cuma berfokus pada konten dalam waktu 8 detik. Karena alasan itu, generasi Z lebih senang dengan konten video pendek, seperti Instagram Story. Sementara milenial lebih senang dengan konten yang berdurasi lebih panjang, seperti video detail atau mendengarkan podcast.

Cara pandang generasi milenial dan generasi Z terhadap teknologi

Perbedaan yang sangat terlihat jelas dari milenial dan generasi Z adalah keberadaan teknologi. Milenial tumbuh menggunakan DVD player, komputer dengan monitor cembung, ponsel yang belum berwarna, dan lainnya. Sedangkan, generasi Z sudah mengenal smartphone, WiFi, layanan aplikasi streaming, dan berbagai kemudahan teknologi lainnya. Pengaruh dari kemajuan teknologi, internet, dan sosial media memberikan dampak yang sangat besar dalam pertumbuhan generasi Z.

Pandangan terhadap teknologi yang berbeda juga akan sangat berdampak pada perilaku dari generasi milenial dan generasi Z.

Baca Juga: Dear Karyawan, Kamu Layak Dapat Insentif Jika…

Generasi milenial dan generasi Z memakai sosial media yang berbeda

Generasi milenial dan generasi Z memang sama-sama menyukai dan memakai media sosial. Namun, terdapat perbedaan dalam jenis media sosial yang digunakan. Generasi milenial, sebelumnya sempat memakai Friendster atau Tumblr. Di era sekarang, milenial lebih menikmati platform sosial media seperti Facebook, Instagram, LinkedIn, dan Twitter. Sementara generasi Z lebih senang memakai media sosial berbasis video, seperti Instagram, YouTube, dan TikTok.

TikTok yang terbilang masih baru merupakan salah satu sosial media dengan pertumbuhan paling cepat karena detonasi dari pengguna generasi Z. Generasi milenial dan generasi Z Tersebut juga mempunyai beberapa kemiripan dalam preferensi sosial media yang digunakan, seperti Instagram dan YouTube.

Generasi Z lebih hemat daripada generasi milenial

Generasi milenial lebih banyak menghabiskan uangnya untuk membeli suatu produk. Gen Z menghabiskan lebih sedikit uang waktu melakukan pembelian dan fokus pada pengeluaran yang lebih bertanggung jawab. Sebagian besar generasi Z belum mempunyai kekuatan untuk membeli, namun beberapa penelitian menyatakan kalau generasi tersebut bertujuan untuk mengeluarkan uang secara efisien kalau dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Generasi Z juga lebih sedikit melakukan belanja online kalau dibandingkan dengan kaum milenial, tetapi mereka lebih mengharapkan pelayanan ekstra waktu melakukan pembelian. Seperti, biaya gratis pengiriman atau adanya diskon tambahan. 

Walaupun milenial sedikit kurang hemat darpada generasi Z, bukan berarti mereka lebih gegabah, loh. Walaupun milenial memakai uang untuk membeli beberapa produk, mereka juga mempunyai penghasilan yang lebih banyak dari generasi sebelumnya. Selain itu, juga mereka termasuk ke dalam kelompok usia yang paling berpendidikan dan optimis dengan masa depan.

Perbedaan Generasi Milenial dan Generasi Z di Dunia Kerja

Secara umum, kedua generasi ini sangat dibutuhkan di dunia kerja karena kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan kondisi baru lumayan baik, serta kemampuan yang lebih tinggi dalam berinovasi dan memanfaatkan teknologi.

Untuk detailnya, berikut ini beberapa perbedaan antara gen Z dan milenial dalam dunia kerja yang dirangkum dari indeed.com:

Generasi Z Lebih Kompetitif Dibanding Generasi Milenial

Dalam kelompok, milenial bisa dikatakan lebih kolaboratif dan mengarah pada kerja tim. Mereka ingin bekerja dalam lingkungan yang mengedepankan inklusi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan. Di sisi lain, Gen Z dapat dikatakan didefinisikan oleh daya saingnya. Mereka lebih senang bekerja sendiri dan dinilai berdasarkan kemampuan diri mereka sendiri dan bukan dari tim mereka.

Gen Z Merupakan Multi-taskers yang Baik

Meski dianggap sebagai generasi yang susah untuk fokus, generasi Z mempunyai keunggulan yaitu multi-tasking yang lebih baik. Dengan kemajuan teknologi yang mereka nikmati dari ia kecil, generasi Z dapat bekerja dengan cepat dan efisien.

Mereka sudah terbiasa dengan teknologi. Mereka juga sudah terbiasa menyelesaikan tugas dan bermain dalam waktu bersamaan sehingga lebih cekatan mencari cara tercepat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hal ini akan bisa menguntungkan perusahaan nantinya.

Pola Pikir

Saat mengambil sebuah keputusan, generasi milenial condong lebih menggunakan pola pikir yang optimis dibandingkan gen Z yang lebih senang menghindari resiko. Ini karena generasi ini melihat bagaimana tidak stabilnya generasi milenial, oleh karenanya, gen Z cenderung sangat berhati-hati dibandingkan milenial.

Baca Juga: Untung Rugi Kerja di Perusahaan ‘Startup’

Generasi milenial dianggap mempunyai pola pikir yang lebih imajinatif dan berjiwa entrepreneur. Sedangkan gen Z cenderung memilih jalan yang aman lewat jalur yang sudah terbentuk dengan baik, Sehingga jenjang kesuksesannya sudah lebih terjamin.

Privasi

Milenial berkembang dengan akses yang luas ke internet tanpa pengetahuan penuh akan isu privasi di dalam dunia online. Sedangkan gen Z sudah lebih memiliki pemahaman akan dunia online, termasuk dengan masalah privasi. Hasilnya, milenial bisa lebih terbuka dalam menyatukan kehidupan kerja dan pribadi. Sedangkan gen Z lebih senang membedakan antara kehidupan kerja dan pribadi mereka.

Keadaan Finansial

Milenial dan gen Z sama-sama termotivasi secara finansial. Gen Z melihat keberhasilan secara finansial sebagai cara untuk berkembang. Sedangkan milenial melihatnya sebagai usaha untuk menjejaki ketertinggalan mereka.

Milenial lebih didukung untuk berhutang supaya bisa mendapatkan pendidikan yang baik, lalu masuk ke dunia kerja yang belum tentu menjamin. Sedangkan gen Z lebih berani untuk menunda pendidikan dan memilih untuk mencari pengalaman kerja terlebih dahulu. Dan baru mengejar pendidikan waktu keadaan finansial mereka sudah menjadi lebih baik.

Profesionalitas

Kalau membicarakan profesionalitas, milenial berkembang dengan pandangan yang masih terbatas. Contohnya, orang yang memiliki tato, punya piercing banyak dan memakai baju kasual tidak terlihat profesional dan susah mendapatkan pekerjaan. Makanya, milenial lebih condong untuk berpenampilan formal di tempat kerja.

Baca Juga: Enggak Pede dengan Gaji dan Profesimu? Kamu Perlu Baca Ini

Sedangkan gen Z sudah jauh lebih terbuka. Mereka lebih melihat ke karakter, kemampuan dan performa seseorang dalam bekerja, dibandingkan cuma melihat penampilan luar saja yang dipakai untuk menilai profesionalitas. Makanya, gen Z bisa saja tampil dengan lebih kasual di tempat kerja kalau dibandingkan dengan milenial.

Pendidikan

Perbedaan generasi milenial dan generasi Z juga dapat terlihat dari cara mereka memandang pendidikan. Kebanyakan milenial tumbuh dengan menganggap kuliah adalah sebuah keharusan, terutama untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Sedangkan gen Z lebih mencari alternatif lain untuk menaikan kemampuan atau skill mereka di luar pendidikan formal.

Jadi para milenial lebih berfokus pada apa yang mereka peroleh di bangku sekolah, universitas dan tempat kursus pendidikan akademis. Sedangkan gen Z lebih terdorong untuk belajar dari platform apa saja. Seperti video tutorial, webinar, hingga pengalaman kerja. Dengan bekal ini, mereka berharap bisa meraih tujuan pribadi dengan cara mereka sendiri.

Read More
perbedaan kreatif dan inovatif

Kreatif dan Inovatif, Apa Bedanya?

Mencari tahu lebih dalam mengenai perbedaan kreatif dan inovatif mungkin bisa dianggap hal yang cukup sepele. Meski begitu, banyak orang biasanya akan kesulitan ketika diminta menjelaskan bedanya kreatif dan inovatif.

Kedua kata tersebut mempunyai nilai-nilai yang sering disebut di tempat kerja modern, terutama lingkungan kerja yang bersifat cepat. Jadi, apa sih beda kreatif dan inovatif? Simak penjabaran di bawah ini:

Apa Itu Kreatif?

Dikutip dari keydifferences.com, kreatif adalah hal-hal yang berkaitan dengan upaya mengeluarkan potensi pikiran untuk memperoleh ide, gagasan, cara alternatif, atau kemungkinan-kemungkinan yang unik dan berbeda.

Baca Juga: 7 Rekomendasi Buku Motivasi untuk Perempuan Pekerja

Kreativitas adalah kemampuan untuk membayangkan sesuatu yang tidak terduga, orisinal, dan tidak biasa. Jadi, fokus dari upaya kreatif adalah untuk memperoleh ide atau persepsi.

Pengertian Inovatif

Dikutip dari ideatovalue.com, inovasi adalah perluasan gagasan atau ide yang pernah ada untuk kemudian direalisasikan jadi sebuah tindakan. Inovatif sangat berhubungan dengan kreatif, karena memanfaatkan ide yang diperoleh dari pemikiran kreatif.

Contohnya, ada sebuah perusahaan yang mengenali suatu problem di masyarakat yang belum terselesaikan dengan baik. Ia melihat permasalahan tersebut dan berusaha mendapatkan solusinya.

Ketika solusi tersebut sudah diterapkan dan difungsikan untuk membereskan permasalahan yang ada, hal tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah upaya inovasi.

Kita dapat menggarisbawahi bahwa fokus dari inovasi adalah menghadirkan sesuatu yang baru. Bentuknya bisa berupa ide baru, metode baru, ataupun cara memecahkan masalah yang baru.

Karakteristik Orang yang Inovatif

Dikutip dari smashingmagazine.com, berikut ini ciri-ciri orang yang memiliki sifat inovatif:

  1. Fleksibel atau Mudah Beradaptasi

Ciri pertama adalah fleksibel dan mudah beradaptasi. Orang yang inovatif dapat menerima perubahan, bisa menyesuaikan diri terhadap rencana-rencana yang sudah dibuat, dan menampilkan beragam solusi serta ide.

Baca Juga: 9 Pekerjaan Bergaji Tinggi yang Cocok untuk Orang Introvert

  1. Komitmen untuk Belajar

Seorang yang inovatif akan selalu belajar mencari pengetahuan baru, menyeimbangkan setiap informasi yang ia dapatkan, dan memadankan pengetahuan dan informasi tersebut dengan setiap tindakan yang dilakukan.

  1. Mampu Memotivasi Diri Sendiri

Ciri yang ketiga adalah self-motivated atau bisa meningkatkan motivasi kerja dirinya sendiri. Orang yang kaya akan inovasi akan lebih tanggap atas kebutuhan diri, aktif mencari ide-ide baru, dan memperhitungkan setiap usaha yang dilakukan.

  1. Visionaris

Orang yang kaya akan inovasi cenderung mempunyai pemikiran yang jauh ke depan dan imajinasi yang tinggi. Biasanya, orang-orang yang visionaris ini membuat rencana jangka panjang, yang akan bermanfaat di masa depan.

  1. Berani Ambil Risiko

Ciri yang kelima adalah berani ambil risiko, karena mereka sudah paham dengan konsep manajemen risiko. Orang yang kaya akan inovasi cenderung berani keluar dari zona nyaman dan tidak ragu untuk ambil rsiko. Selain itu, mereka berani mencoba dan tidak takut dengan yang namanya kegagalan.

  1. Presisten

Ciri yang selanjutnya adalah tekun dan ulet. Mereka yang inovatif mempunyai ketekunan yang tinggi dalam mempelajari hal baru. Selain itu, mereka mempunyai kemauan yang tinggi untuk terus mencoba atau tidak gampang menyerah.

Perbedaan Kreatif dan Inovatif

Menurut keydifferences.com, perbedaan kreatif dan inovatif terlihat pada fokusnya.

Fokus utama dari proses kreatif adalah menciptakan ide-ide. Sementara, inovasi lebih menciptakan sesuatu yang baru.

Dengan fokus utamanya yakni mendapatkan ide tanpa embel-embel tertentu, hal tersebut membuat upaya kreatif lebih susah untuk diukur.

Sedikit berbeda dengan upaya-upaya inovatif yang lebih berfokus pada membuat sesuatu yang baru. Keberadaan predikat ‘baru’ itu membuatnya lebih gampang untuk diukur.

Kenapa Kreatif dan Inovatif Penting dalam Bisnis?

Persis seperti penjelasan ideascale.com, kreatif dan inovatif merupakan hal yang terbilang penting pada bisnis serta karier. Melalui dua hal tersebut, sebuah bisnis akan bisa berkembang dengan baik di pasar.

Baca Juga: 7 Pertimbangan Sebelum Memutuskan resign untuk Mulai Bisnis

Beberapa contoh efek dari implementasi kreativitas dan inovasi yang terlaksana dengan baik antara lain adalah sebagai berikut:

  • Membuat bisnis mempunyai karakter tersendiri di pasaran.
  • Terlihat berbeda dengan kompetitor yang ada.
  • Membentuk brand image yang membuat bisnis mempunyai nilai tersendiri di mata konsumen.

Itu tadi akhir dari artikel mengenai perbedaan kreatif dan inovatif. Semoga kamu jadi semakin paham dengan beda dari dua hal yang dimaksud, ya.

Read More
tanda gagal interview kerja

Lamaran Kerja Ditolak, Siapa Bertindak: 9 Tanda Wawancaramu Gagal

tanda gagal interview kerja – Salah satu tahapan rekrutmen yang punya peran atas berhasil atau tidaknya kamu ketika melamar kerja adalah wawancara. Memang, nantinya HRD akan memberi tahu hasil proses ini, tapi sebenarnya ada tanda-tanda yang bisa kamu baca sedari awal.

Simak rangkuman Magdalene yang sudah dikutip dari berbagai sumber berikut.

Perekrut Menyampaikan Kekhawatiran Soal Pengalamanmu

Menurut Indeed.com, tanda kamu gagal waktu interview kerja akan tampak jelas waktu perekrut memberitahumu, mereka cemas dengan pengalaman kerjamu.

Baca Juga: Merasa Kehilangan Saat Teman Kerja Resign, Apa yang Bisa Dilakukan?

Rasa khawatir ini juga mungkin berhubungan dengan jawaban yang kamu berikan waktu sesi wawancara.

Namun, jangan cemas. Kalau interviewer menyampaikan hal ini, artinya mereka memberikan kesempatan buat kamu untuk memberi informasi tambahan. Jadi, gunakanlah kesempatan ini dengan baik. Kalau tidak, kecil kemungkinan kamu dapat lolos ke tahap selanjutnya.

Interviewer Tak Memperlihatkan Ketertarikan

Tanda gagal interview kerja yang paling gampang kamu ketahui adalah interviewer tidak memperlihatkan ketertarikannya kepadamu.

Menurut Topcv.com, perekrut akan memperlihatkan minatnya terhadap apa yang kamu sampaikan lewat bahasa tubuh.

Jadi, kalau interviewer-mu kelihatan kurang bersemangat atau minim bertanya, bisa jadi wawancaramu tidak berjalan baik.

Perekrut Melontarkan Pertanyaan yang tidak Relevan Adalah Tanda Interview Kerja Kurang Mengesankan

Apakah kamu pernah mendapat pertanyaan yang tidak relevan dengan posisi yang kamu lamar? Hati-hati, ini bisa menjadi tanda lain kamu gagal interview kerja.

Menurut Best-job-interview.com, saat wawancara, interviewer akan memberikan beberapa pertanyaan untuk memastikan, apakah kamu mempunyai pengalaman dan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Baca Juga: Apa itu Surat Peringatan Kerja? dan Cara Tepat dalam Menanggapinya

Jika selama sesi wawancara, interviewer memberikan pertanyaan yang tidak relevan, kemungkinan besar mereka tidak tertarik untuk meloloskan kamu.

Perekrut Tak Menanyakan Skills serta Pengalaman Kerja Kamu

Salah satu pertanyaan yang bisa ditanyakan kepada calon pekerja adalah pertanyaan seputar skills dan pengalaman kerja dengan detail. Namun, jika interviewer tak menanyakan hal itu, bisa jadi ini adalah tanda kegagalan yang harus kamu telan.

Umumnya, hal ini terjadi waktu kamu tidak memberikan jawaban yang tepat pada pertanyaan-pertanyaan awal. Karena itu, guna menghindari ini, kamu bisa melatih diri dan mempersiapkan jawaban sebaik mungkin.

Kamu Tak Diberi Banyak Informasi Soal Posisi yang Kamu Lamar

Selanjutnya, kamu dapat melihat tanda kamu gagal waktu interview kerja saat perekrut tidak memberikan informasi yang detail mengenai posisi yang kamu lamar.

Padahal, penjelasan mengenai posisi yang dilamar merupakan hal sangat penting dalam proses wawancara kerja. Penjelasan ini akan membantumu untuk memutuskan apakah posisi ini cocok dengan tujuan kariermu atau tidak.

Dengan begitu, kalau kamu tidak memperoleh informasi ini dari perekrut waktu interview, kemungkinan besar kamu tidak diperhitungkan untuk diloloskan ke tahap selanjutnya.

Baca Juga: Persiapan Masuk Dunia Kerja yang Perlu Diketahui Para Fresh Graduate

Tidak Membicarakan Gaji Juga Salah Satu Tanda Gagal Interview Kerja

Kalau kamu merupakan orang yang tepat untuk perusahaan tersebut, umumnya mereka akan membahas ekspektasi gaji. Namun kalau pembahasan mengenai gaji ini tidak dibahas sama sekali, maka bisa jadi mereka tidak akan memanggil kita lagi untuk masuk ke tahap selanjutnya.

Berfokus pada Kelemahanmu Bisa Jadi Tanda Interview Kamu Gagal

Dalam sesi interview, pertanyaan yang selalu muncul tak jauh-jauh dari kelebihan dan kekuranganmu. Namun jika perekrut hanya membicarakan kelemahan kamu, maka hal ini bukanlah sinyal baik. Sebab, mereka melihat kelemahan yang dapat menghambat kemajuan kamu di posisi yang perusahaan sedang cari.

Perekrut Tidak Membicarakan Langkah Rekrutmen Selanjutnya

Tanda lainnya yang dapat kamu kenali kalau gagal dalam sesi interview kerja adalah interviewer tidak mendiskusikan langkah rekrutmen selanjutnya denganmu.

Umumnya waktu wawancara, interviewer akan memberikan pertanyaan-pertanyaan berikut.

  • Apakah sekarang kamu sedang dalam proses rekrutmen di tempat lain?
  • Kapan kamu sudah bisa mulai masuk kerja?
  • Setelah interview ini kamu akan mengikuti beberapa tes, apakah kamu bersedia?

Biasanya, pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan dilontarkan saat wawancara pertama. Bahkan, jika mereka tertarik denganmu, mereka juga memberikan pertanyaan yang lebih detail, seperti pengalaman serta keterampilan.

Jika interviewer-mu tidak menanyakan pertanyaan di atas, kamu dapat menanyakannya. Ini akan memperlihatkan kalau kamu benar berminat untuk bekerja di perusahaan tersebut.

Wawancara Berlangsung Singkat

Terakhir, kamu dapat melihat tanda gagal interview kerja saat itu berlangsung singkat.

Baca Juga: Apa itu ‘Cultural Fit’ dan Manfaatnya untuk Para Pekerja?

Meskipun wawancara memang tidak memiliki batas waktu, ini dapat terjadi kalau mereka melihat kualifikasi kamu tidak cocok dengan kebutuhan posisi yang kamu lamar.

Kamu mungkin dapat menyadari kalau wawancara terasa singkat dari biasanya atau tidak cukup lama untuk membicarakan hal-hal penting misalnya skills dan pengalamanmu secara detail.

Jika interview cuma sebentar dari yang dijadwalkan, kemungkinan besar mereka tidak berkeinginan untuk melanjutkan kamu ke tahap selanjutnya.

Itulah beberapa tanda kamu gagal dalam interview kerja. Meskipun tidak dapat mengelak sepenuhnya, kamu tetap dapat mempersiapkan diri dengan maksimal supaya wawancaramu punya peluang sukses yang lebih besar.

Read More
tips produktif selama wfh

Hybrid Working Post-COVID: How We Can Optimise Our Time in the Office?

During the pandemic, around 100 million people in Europe switched to working from home – nearly half of them for the first time. This shift was rapid, with employees quickly noticing the benefits of remote work. These can include freedom from commuting, more time for personal wellbeing and increased productivity.

As we move on from pandemic restrictions, we’ve seen a strong, global demand for more flexible forms of working, particularly to retain an element of remote work. While some employees want to work from home permanently, most want what’s coming to be regarded as the best of both worlds: Hybrid working. Only a minority of workers now want to return to the office full time.

One group which may be particularly keen on hybrid working is young professionals. And for this group, time spent in the office could be especially valuable.

Also Read: In a Lockdown, Where Does Work End and Parenting Begin?

Young People and Remote Work

Surveys undertaken during the pandemic indicated that generation Z (those born after 1996) were more likely to say that they were struggling with work-life balance and post-work exhaustion than older generations.

There are several possible reasons for this. Younger people may find it more difficult to establish a good homeworking set up, depending on their living arrangements. Those early in their careers may have smaller professional networks, leading to greater isolation. Or they may simply have less experience managing the boundaries between work and life outside of work, which can be made more difficult when there’s no physical office to leave at the end of the day.

Despite this, emerging evidence suggests that younger workers want remote and flexible work rather than a return to the office full time. Surveys vary, but generally indicate that around two-thirds of members of generation Z working in office jobs want a hybrid working pattern in the future – and they’re prepared to move employers to find it.

According to a recent survey by management consulting company McKinsey, employees aged 18–34 were 59 percent more likely to say they would quit their current role to move to a job with flexible working compared with older employees aged 55–64.

It’s Worth Going into the Office Sometimes

Remote and hybrid working can bring many benefits. For employees, remote work provides the opportunity to reallocate costly and sometimes stressful commuting time into activities that support work-life balance and health. Indeed, more than three-quarters of hybrid and remote workers report improved work-life balance compared with when they worked in an office full time.

Meanwhile, hybrid work provides autonomy and choice for employees. They can combine time at home for focused and independent work with time in the office for collaboration and connection. A hybrid working model can be good for productivity, inclusion, and motivation.

However, the belief that work is best done in an office environment is pervasive – and young people in particular are thought to need to go into the office to build professional networks and to learn.

There could be some truth to the idea that young people early in their careers uniquely benefit from going into the office. Research conducted prior to the pandemic has associated being out of sight while working remotely with also being out of mind. Notably, people who work exclusively at home are less likely to receive promotions and bonuses.

Conversely, being with colleagues in person has been associated with greater career advancement. In part, this is probably because being physically present in the office appears to signal commitment to the organisation.

Can hybrid work address the risks of fully remote work and preserve the rewards associated with face-to-face interactions in the office? Only time will tell.

Also Read: Working Does Not Make You a Lesser Mom

Finding the Right Balance

Before 2020, remote work was still relatively rare. Hybrid working at scale is a new concept.

But throughout the pandemic, perceptions about working from home have improved globally. The latest UK data suggests nearly one-quarter of working adults are now hybrid. So in the future, we’ll need to understand more about the impact of remote work both on organisations and the people who undertake it.

The challenge for younger employees is to identify an effective working pattern that suits both them and their organisation – and supports their career goals. As tempting as it may be to ditch the commute as often as possible, younger employees may instead wish to consider a more strategic approach.

When in the office, they should focus on personal visibility, and building and maintaining relationships with colleagues and managers. Networking and learning must be the focus of working in-person, and wherever possible, online meetings or independent work should be saved for remote working time.

Combine this with good wellbeing practices when working from home, especially around switching off from work, and hybrid might just deliver on its promises of better work for everyone – young and not so young alike.

This article was first published on The Conversation, a global media resource that provides cutting edge ideas and people who know what they are talking about.

Gemma Dale is Lecturer, Faculty of Business and Law, Liverpool John Moores University.

Read More