Sebuah Ode untuk Ilmuwan Perempuan Kala Pandemi

Pertandingan tenis antara Novak Djokovic melawan Jack Draper belum juga dimulai, tapi tepuk tangan 7.500 penonton sudah bergemuruh di Stadion Wimbledon, Inggris. Hari itu, 28 Juni 2021, Sarah Gilbert, profesor Universitas Oxford yang melepas hak patennya atas vaksin COVID-19 AstraZeneca jadi sorotan. Sarah bersama rekannya, sesama ilmuwan perempuan, Catherine Green termasuk dua di antara perempuan yang jadi buah bibir karena membantu masyarakat di dunia bisa mengakses vaksin itu dengan lebih mudah dan murah. Video yang diunggah di akun Youtube Wimbledon dan viral itu sendiri telah ditonton oleh lebih dari 70 ribu orang.

Sarah Gilbert adalah contoh ilmuwan yang mendobrak gelas kaca dan membuktikan bahwa perempuan yang berkarier di bidang pengetahuan dan riset juga patut dilirik. Kita mungkin hanya beberapa kali mendengar nama harum ilmuwan perempuan. Marie Curie, pelopor penelitian radioaktivitas dan perempuan pertama yang memenangkan hadiah Nobel contohnya. Lalu ada ilmuwan roket NASA Yvonne Brill yang menemukan pendorong roket hemat bahan bakar yang menjaga satelit tetap di orbit saat ini. Pun, Rosalind Franklin dengan penelitiannya yang paling sohor terkait dengan struktur double-helix DNA.

Ilmuwan perempuan yang berada di garda depan seperti mereka patut diapresiasi, mengingat titik berangkat mereka untuk meniti karier, proses, hingga hambatan yang dihadapi relatif berlapis. Seorang Yvonne Brill masih dianggap sebagai pengekor karier suaminya dan dikenang sebagai ibu dengan tiga anak, kendati ia berjasa buat NASA. Bahkan, obituarinya saat meninggal delapan tahun silam ditulis oleh The New York Times secara seksis dengan menyisipkan keterampikan sebagai ibu rumah tangga dengan diksi mean beef stroganoff (hidangan daging sapi terkenal ala Rusia. Red).

Baca juga: 11 Perempuan Berpengaruh dalam Bidang Sains di Dunia

Apalagi di tengah pandemi saat ini, ilmuwan perempuan dihadapkan pada beban yang jauh lebih berat ketimbang laki-laki. Sebuah riset bertajuk “Only Second-Class Tickets for Women in the COVID-19 Race” yang dilakukan oleh Flaminio Squazzoni dkk. (2020) menyebutkan, perempuan telah menerbitkan lebih sedikit makalah, memimpin lebih sedikit uji klinis, dan menerima lebih sedikit pengakuan atas keahlian mereka selama pandemi. Sebabnya sesuai dugaan: Perempuan mengalami pergolakan emosional dan tekanan pandemi, protes atas rasisme struktural, kekhawatiran tentang kesehatan mental dan pendidikan anak-anak, serta kurangnya waktu untuk berpikir atau bekerja. Celakanya beban semacam ini sudah memberatkan langkah perempuan sejak sebelum pandemi.

Dalam liputan Times, beberapa ilmuwan perempuan di Imperial College yang diwawancara wartawan menyebutkan, harus datang lebih pagi dan pulang ke rumah di waktu petang dalam kondisi sangat lelah. Beruntung jika mitra dan keluarga penuh memberi dukungan untuk mereka berkarier.

Buntung jika mereka terjebak dalam lingkungan yang tak cukup suportif. Ini mirip seperti kumpulan kisah ilmuwan perempuan yang dikutip The New York Times. Daniela Witten, ahli biostatistik di University of Washington di Seattle misalnya menuturkan, yang dihadapi ilmuwan perempuan tak cuma jalan curam untuk mencapai puncak karier mereka atau apresiasi yang sepadan, tapi juga seterotip yang terus menggema di mana-mana. Bahwa perempuan tak sepandai pria, bahwa perempuan yang sukses pastilah melawan kodratnya dan menelantarkan keluarga.

Bagi seorang ilmuwan perempuan yang juga menjadi ibu, tantangan dan stereotip yang dihadapi lebih ngeri-ngeri sedap. Di Amerika, bahkan selama cuti hamil, ilmuwan perempuan diharapkan tetap mengikuti praktikum, persyaratan mengajar, publikasi, dan pendampingan mahasiswa pascasarjana. Ketika mereka kembali bekerja, sebagian besar tidak memiliki penitipan anak yang terjangkau. Di buku Mothers in Science: 64 Ways to Have it All (2008) yang ditulis ahli biologi tanaman Dame Ottoline Leyser, ia menguraikan, sebanyak 64 ilmuwan perempuan terkemuka, merencanakan karier dengan melawan kehidupan rumah tangga mereka. Artinya, kecemasan ibu-ibu yang juga menjadi ilmuwan perempuan adalah valid dan jadi hal jamak.

Baca juga: Kizzmekia Corbett Ilmuwan Perempuan Kulit Hitam di Garis Depan Pengembangan Vaksin Covid-19

Ini belum termasuk dengan diskriminasi berbasis gender di dunia akademis dan riset. Dilansir dari Times, STEM Women, sebuah agen rekrutmen di Inggris mencatat, hanya 35 persen dari lulusan sains, teknologi, teknik, dan matematika adalah perempuan. Pun, perempuan hanya 22 persen dari angkatan kerja STEM. Survei lain tahun lalu oleh perusahaan elektronik RS Components mengklaim bahwa hanya 17 persen profesor sains adalah perempuan. Angka-angka ini cukup beralasan mengingat perempuan kerap dianggap sebagai makhluk kelas dua yang tak akan mampu mengatasi tantangan berat di dunia yang dicap oleh lelaki, maskulin ini.

Kita tentu masih ingat, peraih Nobel Inggris Sir Tim Hunt sempat melontarkan keluhan seksis bahwa ilmuwan perempuan cuma bisa menangis di laboratorium ketika dikritik. Jangankan di dunia akademis, buat saya yang jurnalis, beberapa lapangan kerja memang didesain dan ditahbiskan sebagai tempat kerja lelaki.

Beberapa teman jurnalis pernah bercerita, ia ditempatkan di desk liputan gaya hidup karena dinilai tak mampu bertahan di politik-hukum-nasional, kendati artikel-artikel ia terbilang bernas. Ada juga yang bilang, ia urung masuk tim investigasi di kantornya atau liputan bencana hanya karena ia perempuan, dan sebagaimana lazimnya perempuan, ia disebut-sebut takkan bisa tidur sembarangan di emperan atau depan gerbang rumah narasumber hingga tengah malam.

Buat saya sendiri, beberapa kisah ilmuwan perempuan di atas menjadi pengingat bahwa kondisi yang dihadapi mereka belum cukup ideal. Sehingga, dibutuhkan kebijakan afirmatif yang membuat para ilmuwan perempuan merasa lebih aman dan nyaman dalam mengembangkan kariernya. Dukungan dari teman, keluarga, dan kepercayaan publik juga jadi faktor kunci agar perempuan jadi lebih berdaya berkarier di bidang ini. 

Read More

Perkara Kesetaraan di Balik Kebijakan 4 Hari Kerja per Minggu

Pada 2019 silam, Menteri Keuangan Bayangan di parlemen Inggris, John McDonnel sempat mengingatkan, “Kita mestinya bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja”. Hal ini disampaikannya saat ia mengumumkan bahwa Partai Buruh akan mengurangi jam kerja standar dalam seminggu menjadi 32 jam, tanpa potongan gaji, dalam 10 tahun kepemimpinannya.

Janji itu menyusul sebuah laporan (ditugaskan oleh McDonnell) dari sejarawan ekonomi Robert Skidelsky tentang bagaimana mencapai jam kerja yang lebih pendek.

Skidelsky adalah anggota Majelis Tinggi Parlemen Inggris dan penulis biografi John Maynard Keynes, yang pada 1930 memperkirakan bahwa adanya kemungkinan untuk kerja selama 15 jam per minggu dalam beberapa generasi mendatang.

Laporan ini secara khusus disesuaikan dengan kondisi di Inggris, tapi juga menyajikan agenda dengan daya tarik universal.

Jam kerja yang lebih pendek digambarkan sebagai “win-win” – meningkatkan produktivitas bagi pengusaha dengan memberi karyawan apa yang mereka inginkan.

Terkait manfaat kebijakan jam kerja lebih pendek, ia mengatakan:

Orang mestinya bekerja lebih sedikit untuk mencari nafkah. Harus bekerja lebih sedikit untuk apa yang butuh dilakukan, dan lebih banyak untuk apa yang diinginkan, untuk kesejahteraan materi dan spiritual. Dengan demikian, mengurangi waktu kerja – waktu yang harus digunakan untuk menjaga ‘jiwa dan raga’ – merupakan tujuan etis yang berharga.

Argumen untuk waktu kerja yang lebih pendek biasanya berfokus pada manfaat “ekonomi”, dalam arti alokasi sumber daya yang memaksimalkan keuntungan. Namun, laporan Skidelsky mengatakan bahwa ada alasan yang lebih penting: alasan etis.

Keinginan etis bukan hanya masalah biaya dan manfaat. Ini juga masalah keadilan dan mewujudkan kebaikan bersama (kebaikan bersama yang membutuhkan pertimbangan dan tindakan kolektif).

Argumen yang Tidak Memadai

Mengurangi jam kerja hanya bisa memajukan tujuan etis jika disertai dengan perubahan sosial dan budaya yang lebih dalam.

Pada dasarnya, argumen Skidelsky tentang keinginan etis untuk mengurangi jam kerja adalah:

  • Umumnya, orang lebih bahagia ketika menghabiskan waktu untuk apa yang diinginkan, bukan pada apa yang harus mereka lakukan demi mendapatkan penghasilan
  • Lebih sedikit waktu yang dihabiskan untuk bekerja, dan lebih banyak waktu luang, dengan demikian akan menciptakan kebahagiaan (atau kesejahteraan)
  • Menciptakan kebahagiaan (atau kesejahteraan) adalah sesuatu yang diinginkan secara etis, sehingga diinginkan pula secara etis pengurangan jumlah jam kerja seseorang.

Variasi dari argumen ini – digunakan, misalnya, oleh lembaga riset Outonomy dalam proposal jam kerja mingguan kerja yang lebih pendek – menggantikan kebebasan dengan kebahagiaan.

Dalam pandangan ini, lebih sedikit waktu yang dihabiskan untuk bekerja (yang diharuskan oleh alasan eksternal – penghasilan) berarti lebih banyak waktu untuk melakukan apa yang diinginkan seseorang.

Dari sudut pandang filosofis, tidak ada argumen yang memadai. Masalahnya, mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan untuk bekerja tidak serta-merta meningkatkan jumlah waktu yang tersedia untuk melakukan apa yang Anda inginkan.

Pekerjaan bukan satu-satunya konteks saat tindakan tunduk pada kendala eksternal. Kehidupan berkeluarga, misalnya, melibatkan banyak kegiatan yang perlu dilakukan alih-alih ingin dilakukan.

Masalah lain adalah keinginan etis bukan hanya masalah meningkatkan jumlah total kebutuhan (seperti kebahagiaan atau kebebasan). Ini juga menyangkut distribusi kebutuhan. Suatu hasil tidak hanya harus optimal, tapi juga adil.

Masalah Waktu Luang dan Kesetaraan

Ada argumen yang menarik tentang jam kerja yang lebih pendek secara etis: mereka memperbaiki ketidakadilan yang disebabkan oleh distribusi waktu luang yang tidak merata.

Beberapa penelitian, misalnya, menunjukkan bahwa waktu luang tidak terdistribusi secara merata di antara dua jenis kelamin. Laki-laki menikmati bagian lebih besar dari waktu luang yang tersedia secara sosial, sementara perempuan menghabiskan lebih banyak waktu di luar pekerjaannya untuk tugas-tugas yang berkaitan dengan membesarkan dan merawat anak.

Jam kerja yang lebih pendek mungkin memberi para perempuan lebih banyak waktu luang. Namun, tidak dengan sendirinya waktu tersebut terdistribusi dengan adil dan mereka menikmati manfaat kebijakan jam kerja lebih pendek. Untuk mengatasi ketidakadilan dalam pembagian waktu luang, diperlukan beberapa redistribusi.

Ini bisa saja berarti laki-laki yang diberikan lebih banyak waktu luang, akan melakukan lebih banyak kegiatan rumah tangga. Namun, itu sebuah dugaan. Jika seorang laki-laki mendapat libur pada Sabtu dan Minggu, mengapa mengharapkan sesuatu yang berbeda terjadi jika ia juga mendapat libur pada Jumat?

Ada sesuatu yang lebih mendasar daripada perubahan jumlah waktu.

Mengurangi jam kerja memiliki manfaat, tapi tidak mengatasi masalah ketimpangan yang lebih dalam dari aktivitas kerja itu sendiri. Pengurangan jam kerja tidak berpengaruh dalam menghentikan produksi hal-hal berbahaya, atau hal-hal yang bertentangan dengan kebaikan bersama.

Tujuan kesetaraan yang diinginkan secara etis dan realisasi kebaikan umum membutuhkan perubahan sosial yang lebih dalam dari bagaimana dan untuk apa pekerjaan itu dilakukan. Kemajuan nyata terletak dalam terwujudnya kesetaraan dan kebaikan umum melalui pekerjaan serta memperoleh lebih banyak waktu untuk tidak bekerja.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Nicholas Smith adalah profesor Filsafat, Macquarie University.

Read More

4 Formula Ampuh untuk Memperkuat Kerja Tim

Kita mesti bersepakat, pencapaian besar organisasi atau perusahaan tak bisa dilepaskan dari kerja tim yang baik. Bukan hanya satu-dua pemimpin atau tokoh kunci, kerja tim berarti melibatkan kontribusi semua pihak dengan berbagai keahlian kerjanya. Keberhasilan yang dicapai pun merupakan perwujudan dari tujuan bersama, bukan si pemimpin atau pemilik perusahaan semata.  

Meski luwes menghafal teori di atas, terkadang kita luput memaknai nilai-nilai apa saja yang perlu diterapkan di dalam lingkungan kerja kita. Bukan hanya keterampilan praktikal, tapi juga cara pandang kita, yang secara langsung memengaruhi pengambilan keputusan dalam kerja tim. 

Simak ulasan 4 nilai penting yang perlu diterapkan untuk memperkuat kerja tim di bawah ini.

  1. Bangun Iklim Kerja yang Baik

Iklim kerja yang baik adalah kunci terbentuknya kerja tim nan kuat. Untuk mewujudkan itu, kita bisa bertanya pada tim kerja kita: Budaya kerja seperti apa yang selama ini kita miliki? Apakah itu budaya untuk saling membantu ketika ada pihak tertentu yang kesulitan? Sesederhana budaya makan malam bersama setiap ada anggota tim yang berulang tahun? Pun, justru, budaya senioritas, di mana kenaikan jabatan hanya diprioritaskan pada orang-orang yang sudah lama bekerja di perusahaan, tanpa mempertimbangkan kompetensi profesional individu, sehingga mengeliminasi talenta-talenta muda yang kontribusinya sudah terbukti di perusahaan? 

Setelah menemukan jawabannya, kita bisa berefleksi  pada perkataan Mark Batey, peneliti dan dosen senior bidang Psikologi Srganisasi di Alliance Manchester Business School, Inggiris. Menurut Batey, tempat terbaik untuk bekerja adalah tempat yang membuat orang-orang di dalamnya bisa menjadi versi terbaik diri mereka sendiri, alih-alih berpura-pura menjadi orang lain

Tak jarang kita dengar keluhan banyak orang yang bekerja di perusahaan atau instansi tertentu yang mengungkapkan kelelahan mereka harus selalu menuruti kata-kata atasan, tanpa memberi masukan. Dalam berkomunikasi pun, seolah ada tembok pembatas yang membuat dia harus memaksakan diri terlihat sopan dengan gaya bahasa formal yang kaku, bahkan ketika sebenarnya itu tidak diperlukan. 

Baca juga: Tips Berikan Jawaban Profesional Saat Wawancara Kerja

Lingkungan kerja yang baik, ditandai dengan kehadiran sosok-sosok pemimpin yang terbuka dengan masukan dan menerima ide serta inovasi para karyawan untuk pertumbuhan perusahaan. Karena kerja tim melibatkan banyak kepala, mereka juga akan terbiasa untuk saling mengungkapkan ide dan kritik pribadi, tapi juga tetap berusaha mencari jalan dan keputusan bersama.

“Tempat kerja yang baik memberikan fleksibilitas dan otonomi bagi orang-orang di dalamnya. Mereka diberikan ruang untuk bertumbuh dan diberikan kepercayaan dalam bekerja,” ujar Batey kepada The Guardian.

  1. Hargai Satu Sama lain

Penelitian Harvard Business Review dan World Bank yang dimuat dalam tulisan ‘The Secrets of Great Teamwork’ (2016) menyoroti, satu hal penting yang menjadi karakteristik kelompok-kelompok kerja era kiwari adalah keberagaman latar belakang anggota-anggotanya. Menurut penelitian tersebut, tim kerja yang kuat bisa dibangun bila tim tersebut terdiri atas anggota yang berasal dari berbagai latar belakang, entah itu kebudayaan, tempat tinggal, kelas sosial, agama, adat, dan sebagainya. 

Penelitian tersebut memaparkan studi kasus di mana tim kerja dalam bidang perbankan memiliki tugas membangun proyek pengembangan daerah kumuh di Afrika Barat. Tim itu berisi anggota-anggota dari berbagai latar belakang, yaitu para kosmopolitan, atau orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan dan dari berbagai negara, serta orang-orang lokal, atau penduduk asli daerah tersebut. Ternyata, dinamika kerja tim tersebut terjalin baik.

Para kosmopolitan berkontribusi memberikan pengetahuan serta keahlian teknis dan akademis. Sementara itu, para orang lokal berkontribusi memberikan pengetahuan mereka tentang kondisi sosial, budaya, dan politik di daerah sekitar lokasi proyek. Para orang lokal dengan cara pandang yang lebih membumi dan dekat dengan sasaran, berhasil menguak fakta bahwa penduduk setempat membutuhkan sebuah sistem kredit mikro untuk memudahkan mereka membayar layanan air bersih dan sanitasi baru. 

Baca juga: Pangkas Jam Kerja Panjang untuk Hasil Lebih Optimal, Dorong Kesetaraan Gender

Sementara para orang kosmopolitan, memberikan analisis dan pertimbangan logis yang aplikatif, salah satunya dengan melihat implementasi kebijakan serupa di negara-negara lain. Kolaborasi dua perspektif itu berhasil membuat proyek mereka menjadi lebih sukses dan berkelanjutan (sustainable). 

Dinamika serupa bisa dicapai bila semua anggota tim memandang dan menghargai satu sama lain sebagai manusia yang setara. Hal ini juga penting untuk diwujudkan dalam level yang lebih tinggi dan menyeluruh, sehingga mempengaruhi terciptanya budaya kerja yang kolaboratif dan empatik. Hal ini juga akan melahirkan kesempatan kerja juga pengembangan karier yang setara bagi semua kalangan.

Robin Domeniconi, kepala eksekutif Thread Tales, perusahaan fesyen di Inggris, menyampaikan kiat yang telah berhasil membuatnya mewujudkan budaya kerja yang empatik di perusahaan, yang dinamai M.R.I, atau most respectful interpretation. 

“Tak semua orang harus menjadi sahabat karib. Kamu bisa mengatakan apapun kepada siapapun selama kamu mengatakan itu dengan cara yang tepat dan tidak menghakimi orang lain. Misalnya, ‘Apakah kamu bisa menjelaskan kenapa kamu tidak mau melakukan ini?’ alih-alih langsung memarahinya.”

  1. Bangun Budaya Apresiasi 

Memberikan apresiasi adalah perwujudan terdekat dari rasa hormat dan penghargaan pada orang lain. Hal ini penting untuk dijadikan kebiasaan dan budaya dalam sebuah tim kerja untuk meningkatkan kepercayaan diri setiap anggota tim dan menunjukkan rasa kepedulian terhadap satu sama lain.

Tak berarti harus dimulai dari pencapaian-pencapaian anggota tim dalam ajang atau level yang  besar. Berikanlah apresiasi dari hal-hal kecil yang signifikan terhadap kemajuan kerja tim. Misalnya, apresiasilah para anggota tim yang berhasil memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapi tim, atau mereka yang berhasil menyampaikan ide proyeknya dengan baik dalam rapat kerja.

Baca juga: Sudahkah Kamu Temukan Makna dalam Pekerjaan?

  1. Adakan Sesi Diskusi Intim yang Rutin

Bekerja di tengah situasi krisis seperti pandemi COVID-19 belakangan ini memang jelas menjemukan dan melelahkan bagi banyak orang. Apalagi, kerja itu dilakukan dari rumah masing-masing (work from home). Interaksi yang biasa didapatkan secara tatap muka kini harus terhalang layar biru gawai masing-masing. Oleh karena itu, adakanlah sesi diskusi rutin melalui video conference. Hal ini bertujuan untuk memperkuat komunikasi antar anggota tim, juga membangun alur kerja yang efektif melalui rutinitas baru ini.

Selain itu, penting juga bagi para pemimpin tim untuk mengadakan sesi one-on-one atau tatap muka rutin dengan masing-masing anggota tim. Tak perlu terlalu sering, setidaknya satu kali dalam sebulan, jalin lah komunikasi lisan yang efektif dengan anggota tim untuk mengetahui keadaan fisik dan psikis dia selama bekerja. Ini adalah bentuk perhatian yang sering kali dianggap sepele, padahal dibutuhkan oleh setiap orang. Apalagi, di masa di mana kita tak bisa bertemu secara tatap muka, tak banyak kesempatan untuk bisa mengetahui kondisi rekan-rekan kerja kita bila itu tak dijadikan kebiasaan. 

Read More

What to Know About Disclosing Mental Illness at Work

Deciding to disclose information about a non-obvious disability such as mental ilness at work is complicated and potentially risky, no matter what you do for a living. For people with a mental health issue, like bipolar disorder or PTSD where stereotypes and bias are prevalent, the risk can be even greater.

This has become an important topic as employers try to reach voluntary affirmative action goals around disability employment. Employers are required to try to achieve a workforce including people with disabilities (these include conditions like major depression and bipolar disorder). As a result, employers are considering how to handle disability disclosure like never before.

Affirmative action goals aside, there is a business case to make for disclosure. In USA, workers with depression, for example, cost employers an estimated US$44 billion per year due to absence and reduced on-the job-productivity. Letting employees come forward about their condition to find better work arrangements and support makes financial sense.

Also read: What We Don’t Talk About When We Talk About Mental Illness

Disclosure and Risk

Along with other researchers, I examined disclosure in a study of 600 people with disabilities, half of whom had mental or emotional health conditions. We learned about the perceived risks and actual consequences of disclosure as well as about what may facilitate the decision to disclose and the role employers play.

We found that the concerns of those with mental health issues were not so different from those with other disabilities. People with all types of disabilities feared being fired, of losing out on future opportunities, and of possible ridicule or harassment by coworkers or managers. One respondent said, “I do not want to be viewed as a disabled person and then as an employee … I want to ensure that I am viewed as a valued employee who happens to have a disability.”

Also read: 5 Simple Ways to Approach People With Mental Health Problems

Why Disclose?

Under the Americans with Disabilities Act (ADA), a person must disclose their disability in order to get support or what’s formally known as an accommodation. For an individual with mental illness, this could be time, place or schedule flexibility, a service animal or another easy-to-implement, low-cost or free accommodation. They can help an employee to be more productive and engaged at work and are the biggest reasons people decide to disclose a non-visible disability in the workplace.

The dialogue between employees and their employers about accommodation should be ongoing because what works best may change over time. A flexible, creative and interactive dialogue during the accommodation process can make it more successful.

In fact, respondents rated having a supportive relationship with their supervisor as the second most important factor in deciding to disclose a mental illness. From other research, we know that individuals are much more likely to disclose a disability to a supervisor than to someone from human resources or on equal employment opportunity survey.

But supervisors need support and education to confront biases. Training on disability awareness, the ADA, and accommodation can help prepare supervisors for the disclosure conversation. Knowledge of disability-related resources both within the organization and in the community can build supervisor confidence.

Also read: Mental Health Issue a Feminist Issue Too

Respect and Trust

Despite fears of limited opportunities or harassment, the vast majority of people in our survey had neutral or even positive experiences with their disclosure. We found that those who reported positive disclosure experiences often said things like, “My boss respected me and understood the difficulties I have” and that “[disclosure] depends on the responsiveness of co-workers, supervisors, and general work environment.”

Respondents indicated that visible employer commitment to disability was important in their decision to disclose. Seeing other employees with disabilities succeed, seeing their employer actively recruit people with disabilities, or seeing disability included in a company diversity statement made the decision to disclose easier. However, company policies are not enough.

As one person said, “I would be wary of disclosing until I saw how the employer actually treated employees with mental health issues, not just their stated policy. There would have to be trust in my supervisors and colleagues.”

What and When to Disclose

A colleague compared disability disclosure to peeling an onion: There may be lots of layers to disclosure. What is shared with a coworker may be different from what is shared with human resources. Someone may choose to disclose only one of multiple disabilities to an employer – perhaps only the disability where a workplace accommodation would help. There is also the decision of when to disclose.

In our survey, people said they felt disclosure could be safer later in the employment process. This might mean waiting until after they are hired or have had a chance to prove their value. But, it can be stressful to put off this conversation, as one respondent said, “It is certainly less stressful to have it out in the open than to be concerned about having to hide it and not wanting anyone to find out”.

Disclosure can also have a positive impact for others with similar disabilities. One person said, “I am not ashamed of my disability, and I would hope that my disclosure would help someone else with a disability in seeking employment.”

This article was first published on The Conversation, a global media resource that provides cutting edge ideas and people who know what they are talking about.

Read More

Sulitnya Jadi ‘Gig Worker’ Perempuan Selama Pandemi

Klaim Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa tekanan ekonomi lebih membebani pekerja perempuan, tampaknya bukan pesan kosong. Buktinya, sektor bisnis paling banyak yang terdampak pandemi, diisi oleh para pekerja perempuan. Menurut catatan CNN Indonesia, 40 persen pekerja perempuan, seperti asisten rumah tangga, restoran, perhotelan, hingga akomodasi jadi jauh lebih miskin belakangan. Oleh The New York Times, ini disebut shecession, sebuah kondisi di mana kemerosotan pendapatan ekonomi lebih banyak dialami perempuan, berbeda dengan mancession 2008 di Amerika yang menimpa mayoritas lelaki

Jika sudah begini, perempuan pun terpaksa untuk pontang-panting bertahan hidup. Untungnya, kemajuan teknologi internet sedikit banyak mempermudah akses perempuan untuk memperoleh pendapatan. Tak heran jika kemudian istilah gig economy muncul sebagai ekses kemajuan tersebut. Dalam gig economy, perempuan bisa mencicipi lapangan kerja beragam, mulai dari mitra ojek online, kurir jasa pengiriman, dan kerja kontrak independen lainnya.

Baca Juga: Biru Terong Initiative: Berdayakan Perempuan, Picu Perubahan Sosial Lewat Video

Gig Worker Berawal dari Tuntutan

Bekerja sebagai gig worker menjadi satu-satunya pilihan bagi Natalia (40), seorang pengantar jasa titip makanan UMKM di Jakarta. Ia memilih tempat makan yang terkenal melalui Instagram @darihalte_kehalte. Mulanya, pekerjaan tersebut dilakukan untuk memperoleh penghasilan tambahan. Namun, setelah seminggu tidak menerima penghasilan dari jasa ojek online-nya hingga diputus mitra, ia memutuskan untuk fokus bekerja sebagai jasa titip.

“Saya sudah mempromosikan jasa titip ini sejak 2 bulan sebelum pandemi, cuma sama sekali nggak ada yang pernah beli. Di hari saya putus mitra, kok ya Tuhan kasih jalan, langsung banyak pesanannya,” cerita Natalia.

Pekerjaan ini membuka berbagai peluang baginya. Kini ibu dua anak itu memiliki banyak pelanggan yang sering meminta tolong untuk mengantarkan paket, berbelanja ke pasar, sampai mencari 30 kaleng susu beruang yang sedang langka.

Berbeda dengan Natalia yang bekerja untuk menafkahi keluarga, Citra (30) seorang pedagang kue basah yang menjajakan dagangannya di Instagram @jajanan_salamah, memiliki tujuan berbeda dalam melakukan pekerjaannya. 

“Sebenarnya uang yang diberikan suami sudah cukup, tetapi sebagai perempuan kita harus tetap punya uang pegangan. Hitung-hitung ya penghasilan tambahan sekaligus menutupi kekurangan kalau sewaktu-waktu dibutuhkan,” tuturnya. 

Ia memberlakukan sistem pre-order setiap minggunya dan memilih untuk mengantar pesanan secara langsung ke stasiun terdekat pelanggannya.

“Kalau pelanggan tinggalnya di Cilebut, saya naik Transjakarta lalu lanjut KRL. Nanti di Stasiun Cilebut baru saya pesankan ojek online untuk mengantar pesanan,” ujarnya. Citra mengaku memilih untuk mengantar langsung lantaran ingin mempertahankan kualitas kue sehingga ongkos produksinya di atas rata-rata.

“Setidaknya saya bantu mengurangi pengeluaran konsumen dengan cara seperti itu,” jelasnya.

Baca Juga: ILO: Pekerja Perempuan yang Capai Posisi Atas Masih Minim

Suka dan Duka

Selama 18 bulan terakhir, pekerjaan Natalia dalam layanan jasa titip mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi. Bahkan, ada sebuah peristiwa yang sangat berkesan baginya.

“Waktu itu saya pasrah banget karena harus bayar uang semesteran anak. Eh, selama 3 hari berturut-turut ada pesanan dari Kementerian, seenggaknya sudah bisa membayarkan Rp700 ribu. Enggak lama, ada seseorang yang pesan makanan di Muara Karang, akhirnya saya ambil dengan perjanjian belanja ongkir Rp75 ribu untuk antar sampai Ragunan. Pas pelanggan ini ambil pesanannya, dia kasih uang Rp400 ribu. Jadi kuliah anak saya lunas dibayar sama pelanggan tersebut. Itu saya langsung duduk dan menangis di depan rumah orang,” cerita Natalia.

Nasib berbeda dialami Citra yang justru memikirkan ketidakpastian di masa pandemi ini. Ia mempertimbangkan kehidupannya tidak bisa terus menerus bergantung dengan usaha kue, terlebih selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Keadaan ini membuatnya harus menghentikan pekerjaannya untuk sementara waktu. Keputusan itu diambil karena pekerjaannya yang mengharuskan untuk berbelanja ke pasar hingga mengantar pesanan, sehingga terlalu berisiko untuk kesehatan.

“Sekarang saya mau fokus ikut CPNS tahun ini. Syukur-syukur kalau nanti lolos, uangnya bisa memperluas usaha dan mempekerjakan orang lain. Jadinya kan bisa sekalian memberdayakan perempuan,” ucapnya menaruh harapan.

Baca Juga: ‘Female Gaze’ dan Cara Pandang Dunia Lewat Lensa Perempuan

Masa Depan Gig Worker di Tangan Perempuan

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Hyperwallet pada 2017, 61% perempuan gig workers di Amerika Serikat ingin menjadikan pekerjaannya sebagai karier full-time. Gig work pun dinilai lebih fleksibel, dapat memiliki work life balance yang baik, dan berpotensi mendapatkan pendapatan yang lebih besar serta setara dengan laki-laki.

Terkait lapangan kerja bagi gig worker ini turut dibahas dalam penelitian Katherine Lim dkk. berjudul “Independent Contractors in the U.S.: New Trends from 15 years of Administrative Tax Data” (2019). Mereka menunjukkan kemungkinan adanya pergeseran struktural yang luas di pasar tenaga kerja, terutama bagi perempuan yang diwakili oleh tren pertumbuhan untuk kontraktor independen.

Dengan bekerja sebagai gig worker, perempuan memiliki independensi dan kebebasan dalam menentukan pekerjaan, sehingga dapat menyesuaikan dengan peran dan tanggung jawabnya di dalam keluarga.

Read More

‘Beauty Privilege’ di Tempat Kerja, Bukti Standar Kecantikan Tak Masuk Akal

Kita memang benar-benar punya masalah serius tentang standar kecantikan. Khususnya bagi perempuan, tuntutan agar seseorang bertubuh langsing, tinggi, berwajah mulus tanpa cela, dan berpenampilan feminin sesuai standar yang banyak beredar, selalu membayang-bayangi keseharian sejak dini. Mereka yang dinilai cantik akan mendapatkan banyak keuntungan, sebaliknya, perempuan berwajah biasa saja, tidak pernah mendapat akses akan keuntungan itu.

Penelitian Langlois dkk. berjudul ‘Infant Attractiveness Predicts Maternal Behaviors and Attitudes’ (1995) menunjukkan, bayi yang tampilannya lucu dan menggemaskan (terutama berkulit putih) mendapat lebih banyak ungkapan kasih sayang dari para orang dewasa, termasuk orang tuanya, dibanding bayi yang tampilannya biasa aja.

Beranjak kanak-kanak dan remaja, hal itu semakin kentara, bahkan divalidasi oleh lembaga pendidikan formal termasuk sekolah. Riset Ritts dkk. yang berjudul ‘Expectations, Impressions, and Judgments of Physically Attractive Students: A Review’ (1992) menunjukkan, para guru di sekolah memiliki ekspektasi yang lebih tinggi kepada murid-murid yang penampilannya menarik, cantik, atau tampan, ketimbang murid-murid yang dianggap terlihat biasa saja.

“Bahkan, murid-murid yang punya penampilan menarik cenderung mendapat nilai yang lebih tinggi dan berpeluang lebih besar untuk mendapatkan gelar di universitas ketimbang mereka yang memiliki penampilan fisik biasa saja,” ujar Rachel A. Gordon dkk. dalam penelitiannya yang berjudul ‘Physical Attractiveness and the Accumulation of Social and Human Capital in Adolescence and Young Adulthood Assets and Distractions’ (2013).

Tahukah kamu, hal itu bahkan turut merembet ke dunia kerja profesional? 

Menurut Dario Maestripieri dkk. dalam penelitian mereka ‘Explaining financial and prosocial biases in favor of attractive people: Interdisciplinary perspectives from economics, social psychology, and evolutionary psychology’ (2016), orang-orang yang berpenampilan menarik berpeluang untuk mendapatkan kesempatan kerja lebih besar daripada orang-orang yang berpenampilan biasa saja. Mereka juga memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan kariernya melalui berbagai promosi, bahkan mendapatkan gaji yang lebih banyak. Ketertarikan fisik dalam hal ini juga mencakup orang-orang yang penampilannya mewakilkan standar normalitas dalam kehidupan sosial.

Baca juga: ‘Influencer’ dan ‘Beauty Privilege’: Ketimpangan yang Harus Dibicarakan

Kita mungkin akrab dengan teman-teman kita atau orang-orang di luar sana yang memiliki gaya berpakaian unik. Bukan blus dan rok, ataupun kemeja, dasi, dan celana bahan, ketika berangkat kerja, mungkin mereka lebih memilih mengenakan jaket warna hijau neon yang dipadukan dengan celana kulot berwarna ungu, atau, para lelaki yang menggunakan pakaian berwarna pink dengan model feminin, lengkap dengan tato tubuh yang tampak jelas. Mereka ini termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang tidak memenuhi standar penampilan masyarakat, atau tidak sesuai kriteria estetika dominan masyarakat dalam istilah Maestripieri, sehingga kesempatannya di dunia kerja tak sebanyak mereka yang dianggap sesuai standar tadi. 

Hal ini menunjukkan, beauty privilege atau privilese kecantikan di dunia kerja memang benar-benar ada, dan itu turut menyuburkan lookism, istilah untuk merujuk pemikiran dan kebiasaan yang diskriminatif dalam memperlakukan orang-orang yang dianggap tidak menarik, aneh, dan tidak sesuai standar masyarakat. Pada dasarnya, lookism adalah bentuk lain dari perilaku mengkotak-kotakan manusia serta kebiasaan menghakimi orang lain hasil kemalasan berpikir untuk melihat suatu hal dari berbagai sisi. Mereka yang dinilai superior mendapatkan keuntungan, sementara yang dinilai inferior kehilangan hak-hak mereka, bahkan mengalami kerugian.

Dilanggengkannya hal tersebut oleh perusahaan dan dunia kerja profesional secara umum menunjukkan bagaimana celah ketidakadilan bagi kelompok minoritas itu selalu ada. Hal itu disebabkan karena dunia selalu terkungkung atau bahkan sengaja mengungkung dirinya sendiri dengan cara pandang yang hitam putih, selalu mencari yang salah di antara yang benar. Padahal, tak pernah ada Standar Operasional Prosedur (SOP) ataupun kriteria cantik atau tampan, layak atau tidak layak, yang benar-benar merepresentasikan ide-ide masyarakat tersebut.

Baca juga:  Tantangan Perempuan Bekerja: Standar Ganda dalam Masyarakat

Langgengkan Seksisme dan Rasisme

Kita bisa sepakat penampilan hanyalah satu (bukan kunci) dari banyak hal yang menentukan kualitas diri seorang manusia, terutama dalam dunia kerja profesional. Menjaga dan memperhatikan penampilan memang hal yang penting sebagai bentuk penghargaan dan kasih sayang pada diri sendiri. Namun, penampilan bukanlah satu-satunya penentu kualitas diri seseorang.

Kompetensi dia dalam pekerjaannya, latar belakang pendidikan, soft skill dan hard skill, kemampuan berkomunikasi, empati, dan kerja tim adalah hal-hal yang jauh lebih layak mendapat perhatian besar dalam menilai atau merekrut seorang karyawan.

Namun, kenyataannya tentu tak sesederhana itu. Terlebih bagi perempuan, kompetensi mereka di dunia kerja dan aspek lain dalam ranah publik selalu dibenturkan dengan narasi penampilan ideal, standar kecantikan, dan pembawaan sikap yang submisif dan lemah lembut. 

Ketiga hal tersebut tak selalu, bila tidak sama sekali, menentukan kompetensi seseorang di dunia kerja. Hal itu tercermin dalam lahirnya narasi lowongan karyawan baru yang tak masuk akal, seperti menyertakan kriteria berat badan maksimal, tinggi badan minimal, belum menikah, atau belum mempunyai anak. Padahal, merujuk kajian Organisasi Buruh Internasional (ILO), berjudul ‘ABC of women workers’ rights and gender equality’ (2007) sudah menetapkan larangan bagi perusahaan untuk melakukan rekrutmen pekerja dengan melakukan diskriminasi seks termasuk membuat spesifikasi yang mengatur tinggi dan berat badan minimal, atau status pernikahan dan kehamilan. 

Selain lowongan pekerjaan, beberapa perusahaan bahkan memberlakukan standar pakaian yang sangat seksis. Misalnya, mengharuskan para pekerja perempuan untuk mengenakan sepatu hak tinggi atau high heels untuk menunjang penampilan tubuh menjadi lebih tinggi, kurus, dan menonjolkan bentuk bokongPadahal alas kaki yang tidak nyaman untuk dikenakan serta memiliki dampak buruk bagi kesehatan otot dan tulang kaki. 

Salah satu negara yang memberlakukan peraturan ketat terkait busana para pekerja perempuannya adalah Jepang. Menurut riset the Japanese Trade Union Confederation (Rengo), lebih dari 11 persen perusahaan di Jepang memiliki aturan yang mengharuskan pegawai perempuannya untuk mengenakan high heels

Baca juga: ‘Effortless Beauty’: Standar Ganda Kecantikan yang Mustahil Dicapai

Karena penampilan fisik dan cara berpakaian merupakan ekspresi minat, konsep diri, hingga gender, bawaan lahir dan keturunan, bahkan latar belakang sosial dan ekonomi seseorang, tidak adil rasanya membebankan standar yang sama pada setiap perempuan pekerja. Pada akhirnya, kecantikan menjadi sebuah privilese yang hanya dimiliki oleh segelintir orang. Beauty privilege memberikan akses lebih bagi sekelompok perempuan, tapi menutup akses pada perempuan-perempuan lainnya. 

Beauty privilege juga bekerja dalam melanggengkan rasisme. Standar kecantikan yang beredar di masyarakat di hampir seluruh belahan dunia hari ini berpatokan pada penampilan fisik perempuan dan orang-orang Eropa. Kita akrab menyebut ini dengan standar kecantikan eurocentrist, yang merupakan manifestasi, juga hal yang melanggengkan, rasisme dan kolonialisme.

Kulit putih dan cerah, tubuh tinggi dan langsing, rambut lurus atau ikal pirang, bahkan mata biru, adalah fitur-fitur perempuan Eropa yang berusaha dijadikan acuan oleh masyarakat, bahkan terus-menerus direproduksi oleh berbagai produk di media dan media massa, termasuk di Indonesia. Alhasil, 22 persen orang Indonesia tak merasa puas dan bahagia dengan tubuhnya sendiri, menurut riset YouGov yang dipublikasikan dalam tulisan berjudul ‘Over a third of Brits are unhappy with their bodies’ (2015).

Jadi, bayangkan kalau kamu adalah seorang perempuan Indonesia, berwarna kulit gelap, memiliki tubuh berisi yang tidak terlalu tinggi, berambut keriting, dan berwajah sedikit berjerawat, tapi kamu memiliki segelintir prestasi dan pengalaman kerja yang sesuai dengan kualifikasi posisi sebuah perusahaan.

Apakah adil bila kamu tak diterima bekerja, atau tak mendapatkan promosi di kantor, hanya karena penampilanmu dinilai tak menarik, sementara peluang itu diberikan kepada temanmu yang kurang kompeten tapi dinilai lebih cantik?

Entah budaya, mentalitas, bahkan hasil kerja seperti apa yang akan terbentuk bila kebiasaan ini terus dilestarikan. 

Read More
pengusaha perempuan sukses di dunia

6 Pengusaha Perempuan Sukses dan Ternama Dunia, Idolamu Termasuk?

Menjadi pengusaha sukses memang bukan pilihan mudah, apalagi jika kamu seorang perempuan. Ini dilatarbelakangi oleh maraknya stereotip yang menyebutkan, perempuan kurang cocok terjun di dunia bisnis. 

Ada banyak sekali hambatan yang perempuan hadapi saat ia memutuskan jadi pengusaha, termasuk kesulitan mendapatkan investor. Hambatan lainnya berupa beban ganda sebagai ibu sekaligus pekerja. Selain itu, ada juga hambatan, seperti masalah kepercayaan diri pada pengusaha perempuan akibat stereotip dan diskriminasi yang terus-menerus dialami.

Meskipun banyak hambatan yang dihadapi oleh pengusaha perempuan, ada beberapa perempuan yang membuktikan dirinya mampu terjun dalam dunia bisnis. Bahkan nama mereka sudah dikenal di seluruh dunia. Berikut ini daftar pengusaha perempuan tersukses di dunia.  

Huda Kattan, Pengusaha dan Pemilik Kosmetik Huda Beauty

Lahir di Kota Oklahoma, Amerika Serikat, Huda Kattan merupakan seorang makeup artist  dan juga pendiri bisnis kosmetik Huda Beauty. Untuk mencapai posisinya saat ini, perjalanan Kattan terbilang panjang. 

Dikutip dari USA Today, sebelum menjadi makeup artist, pebisnis perempuan ini pernah bekerja di bidang keuangan dan menjadi HRD, tetapi dia merasa pekerjaan itu bukan untuknya. Beberapa tahun mencari pekerjaan yang pas, Huda pun melabuhkan pilihannya pada makeup. Hal ini membuatnya kembali ke Los Angeles untuk belajar makeup.

Baca Juga: Anne Patricia Sutanto Pebisnis Tangguh yang Bertahan di Tengah Pandemi

Setelah lulus, ia pun kembali ke Dubai dan mulai bekerja keras di bidang ini. Di 2010, atas saran dari adik perempuannya, Huda memulai blog kecantikan yang ia namakan Huda Beauty. Dari blog tersebut kariernya semakin moncer, ia bisa bertemu dengan klien besar seperti artis dan keluarga kerajaan Dubai. 

Kariernya yang semakin meroket membuat Huda ingin membuka bisnis kecantikannya sendiri. Ia pun mulai mengamati pasar yang ada, dan memutuskan untuk membuat bulu mata palsu, yang dikeluarkan melalui brand Sephora. Hal ini pun menjadi awal dari perjalanan bisnis Huda Kattan hingga saat ini. 

Wang Laichun, Pemimpin Produsen Elektronik Luxshare Precision Industry

Dikutip dari  Forbes, Wang Laichun merupakan pemimpin dari produsen elektronik Luxshare Precision Industry, perusahaan yang menyuplai onderdil produk Apple. Pada 2014, The Daily Telegraph mengumumkan, Wang Laichun merupakan salah satu miliarder perempuan termuda di dunia.

Sebelum ini, Wang Laichun berkarier di perusahaan milik Miliarder Taiwan, Terry Gou, Hon Hai Precision Industry (dikenal juga dengan foxconn) selama 10 tahun. Ia keluar pada 1999 dan pada 2004 bersama dengan adiknya, Wang Laisheng ia membeli perusahaan Luxshare. 

Pengusaha Perempuan Sukses Asia Cher Wang, Pendiri HTC

Pengusaha perempuan yang lahir di Taipei, Taiwan ini adalah salah satu perempuan pertama dalam sejarah yang mendirikan perusahaan teknologi (startup) pada akhir 1990-an. Pada 1997, bersama dengan Peter Chou dan H.T Chou, mereka membangun perusahaan teknologi HTC, yang berfokus pada elektronik laptop dan komputer.

Baca Juga: Dian Eka Purnama Sari: Perempuan Pengusaha yang Lawan Stereotip

Perusahaan ini pun mulai berinovasi dan menciptakan produk ponsel pintar. Di 1998, HTC mengeluarkan produk Personal Digital Assistant (PDA), dan menjadi ponsel sentuh nirkabel pertama di dunia. Produk ini menjadi gerbang pertama HTC untuk terjun ke dalam bisnis ponsel pintar.

Dikutip dari TechTimes, beberapa tahun belakangan HTC tengah berada dalam situasi sulit. Untuk mengatasi hal ini, pada 2020 lalu, Cher Wang kembali dipanggil untuk membantu perusahaan ini bangkit kembali. Kembalinya Wang sebagai CEO dan Ketua Dewan perusahaan, membawa  peningkatan sebesar tiga persen pada saham HTC. 

Pengusaha Perempuan Sukses Kiran Mazumdar-Shaw

Lahir di Bangalore, Karnataka, India, Kiran Mazumdar- Shaw seorang pengusaha perempuan yang juga pendiri dari perusahaan Biocon India Group. 

Dikutip dari laman Britannica, awalnya Mazumdar ingin mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi seorang pembuat bir. Namun, ketika ia lulus pendidikan pascasarjana dalam pembuatan bir pada 1975, tak ada perusahaan yang mau menerima pembuat bir perempuan. Saat ia menjalani pekerjaan sebagai konsultan, ia bertemu dengan Leslie Auchincloss, pemilik perusahaan berbasis di Irlandia, Biocon Chemicals. 

Baca Juga: 6 Hal yang Membuat Kamu Jadi Pemimpin Idola

Auchincloss yang terkesan dengan cara kerja serta semangat dari Mazumdar akhirnya merekrut ia sebagai rekan dalam usaha baru, Biocon India pada 1978. Perusahaan ini memproduksi enzim yang digunakan untuk minuman beralkohol, kertas, dan produk lainnya.

Banyak tantangan yang dilalui oleh Mazumdar pada awal-awal ia mendirikan BIocon India Group. Ia banyak mendapatkan pandangan skeptis dan diskriminasi. Saat itu ia kesulitan mencari karyawan yang mau bekerja untuk perempuan dan investor pun juga enggan menanam modal. 

Meskipun tantangannya berat, Mazumdar berhasil membuktikan bisa memimpin perusahaan itu hingga mencapai kesuksesan. Di 2000, The World Economic Forum mengakui Mazumdar sebagai seorang pionir dalam bidang  teknologi.   

Jennifer Hyman CEO Rent The Runway

Hyman merupakan CEO dan pendiri perusahaan mode Rent The Runway, yang berfokus pada jasa penyewaan baju dan aksesoris merek terkenal. Dikutip dari The New York Times, Jennifer Hyman mendapat ide bisnisnya dari pengalaman sang adik yang tersiksa sebab harus membeli merek pakaian mahal untuk ke acara pernikahan. Ia memulai bisnis ini pada 2009.

Baca Juga: Martha Tilaar dan Wulan Tilaar Berbisnis dengan Empati, Selamatkan Pekerja

Hyman juga dikenal peduli dengan isu-isu sosial, terutama isu kekerasan seksual di industri teknologi. Dalam sebuah kolom opini yang ia tulis di The New York Times, Hyman berujar, di perusahaannya akan menyamakan tunjangan untuk semua karyawan. Selain itu, semua karyawannya, mulai dari bagian gudang, toko, dan tim pelayanan pelanggan, akan mendapat cuti orang tua, cuti sakit untuk keluarga, dan cuti berkabung. 

Yang Lan, Pendiri Sun Media Group

Mengawali kariernya sebagai seorang presenter televisi, pengusaha perempuan sukses ini banyak menaruh perhatian pada industri media. Ia kemudian membangun Sun Media Group pada 1999, dan saat ini menjadi salah satu grup media swasta terkemuka di Cina 

Bersama dengan suaminya, pada 2000, mereka meluncurkan Sun TV, sebuah saluran televisi satelit pertama dalam sejarah Cina. Atas prestasinya, Yang banyak mendapatkan penghargaan di antaranya, “Chinese Women of The Year”, “Top Ten Women Entrepreneurs Award”, dan “She Made It” award dari The Paley Center for Media, Columbia University.

Read More
Menjadi Perempuan Karier

Perempuan di Simpang Jalan: Pilih Bekerja atau IRT?

Tak ada lagi pakem bahwa perempuan harus berdiam di rumah dan mengurus kerja-kerja domestik. Perempuan juga berhak meniti karier tinggi, memiliki kemandirian finansial, dan menorehkan prestasi di sana-sini.

Anggapan bahwa perempuan, mau setinggi apapun pendidikannya, cuma akan berakhir di dapur sudah kadaluarsa. Jika perempuan memilih untuk di rumah, tak masalah sepanjang ia memilihnya tanpa tekanan. Toh, kerja-kerja di rumah juga terbilang lebih berat ketimbang mereka yang bergumul di sektor non-domestik. Bayangkan saja, mengurus anak, membersihkan rumah, memasak, semua dilakukan tanpa bayaran selama 24 jam penuh. Beruntung jika perempuan-perempuan ini memiliki support system yang memadai, tapi jika tidak, makin bertambah malang lah mereka.

Baca Juga: Dari Budaya sampai Agama, Ini 4 Hal yang Hambat Perempuan Berkarier

Di sisi lain, jika perempuan memilih berkarier di luar pun, itu tak mengurangi ke-perempuan-an dirinya. Yang bermasalah adalah ketika perempuan tak berada dalam kondisi ideal untuk menentukan nasibnya sendiri. Misalnya, dikungkung norma agama, tak diberi kesempatan oleh keluarga, dalam hal ini suami, dan kondisi-kondisi tak setara lainnya.

Di dalam Islam sekalipun, soal perempuan karier juga telah dijelaskan dengan gamblang. Perempuan punya hak untuk memiliki harta dan membelanjakan, memakai, menyewakan, menjual, atau menggadaikan hartanya. Bahkan, tak ada satu pun fatwa atau ketetapan dalam agama Islam yang menyebutkan, perempuan dilarang bekerja di luar rumah apalagi jika tugas tersebut membutuhkan penanganan perempuan. 

Jika memilih menjadi perempuan karier, tentu ada pertimbangan tersendiri. Misalnya, perempuan ingin lebih berdaya menghidupi dirinya beserta keluarga. Pun, perempuan ingin mengerek kualitas dirinya di sektor-sektor non-domestik. Pilihan ini tak keliru, dan sebagai sesama perempuan, kita wajib memberi dukungan.

Berikut beberapa pertimbangan, kenapa perempuan menjadi perempuan pekerja.

Kapasitas Diri 

Teknologi yang terus berkembang membantu semua orang, termasuk perempuan dan lelaki untuk bisa mengerjakan urusan rumah tangga secara instan dan efisien. Layanan pekerja rumah tangga panggilan pun bisa dengan mudahnya ditemui hari-hari ini. Dengan kondisi ini, baik perempuan dan lelaki bisa memilih untuk mengembangkan dirinya di sektor non-domestik. Selain demi mengetahui potensi dalam diri, bekerja di tempat yang tepat juga bisa membantu kita menggali potensi diri.

Pendidikan Tinggimu Tak Pernah Sia-sia

Menjadi sarjana atau bisa kuliah merupakan kebanggaan tersendiri untuk sebagian kalangan. Jika mengikuti konstruksi publik, mereka dengan pendidikan tinggi, biasanya akan memperoleh pekerjaan yang didukung basis keilmuan cukup. Sebagai perempuan, maupun laki-laki, kamu tentu tak ingin gelar sarjanamu menguap begitu saja bukan? Entah kamu gunakan untuk bekerja sendiri atau untuk orang lain, pendidikan yang susah payah kamu jalani tak pernah jadi hal yang sia-sia. Bahkan jika kamu memilih bekerja sebagai ibu rumah tangga sekalipun, pendidikanmu berguna untukmu mengasuh anak dan mengelola keluarga.

Baca Juga: Women Lead Forum 2021 Digelar untuk Dukung Karier, Kepemimpinan Perempuan

Passion Dalam Menjalani Hidup

Ada anggapan seorang pekerja perempuan dituntut untuk mengejar passion dalam hidupnya. Passion yang dimaksud bisa berwujud antusiasme untuk mendapatkan kesuksesan. Secara spontan, seorang perempuan karier sebaiknya menetapkan tujuan dan memiliki hasrat untuk belajar tanpa henti, dan semangat untuk menjalani hidupnya.

Belajar Berpikir Positif

Selalu punya pikiran positif akan membikin seseorang lebih gampang mendapatkan solusi saat menemukan masalah. Melihat sisi positif dalam setiap tugas, tentu bakal berpengaruh terhadap kenyamanan bekerja seseorang. Rasa nyaman seseorang saat bekerja, akan membikin lebih semangat waktu bekerja. Pastinya kalian akan bekerja dengan hati yang riang.

Perempuan Karier adalah Sosok yang Mandiri

Perempuan karier akan punya kecenderungan sikap yang mandiri. Tak cuma mandiri untuk masalah finansial tapi juga dalam setiap kesehariannya. Inilah bentuk komitmen dari seorang perempuan karier. Perempuan pekerja diharapkan punya pendirian yang kuat akan membuat mereka lebih fokus dengan pekerjaan yang dikerjakannya. Mereka sudah terbiasa untuk melakukan pekerjaan apapun tanpa harus menunggu orang lain. 

Baca Juga: 12 Cara Hilangkan Jenuh dalam Bekerja Agar Tetap Produktif

Solutif dan Pengendalian Emosi

Di dunia pekerjaan, tak cuma masalah kecerdasan dan keterampilan yang menjadi evaluasi dalam merekrut karyawan. Emotional Quotient (EQ) menjadi salah satu pertimbangan dari perusahaan untuk memintamu bergabung. Mereka sadar betul, emosi negatif yang tak diolah dengan baik, berpotensi menjatuhkan, baik menjatuhkan orang lain atau menjatuhkan dirinya sendiri. Tekanan pekerjaan yang terasa berat membikin seseorang gampang stress. Kesulitan akan datang setiap harinya, hingga kamu ditempa lebih kuat dan terbiasa melaluinya.

Seorang perempuan karier lebih condong punya pola pikir yang terbuka dan solutif saat menghadapi permasalahan. Mereka akan lebih gampang saat menyelesaikan masalah, karena mengutamakan ketenangan emosi saat mencari solusi. Karakter ini bisa dibilang merupakan hal yang positif yang harus dipunyai oleh seorang perempuan karier.

Komunikasi dan Negosiasi Kemampuan yang Dimiliki Perempuan Karier

Dibutuhkan ide yang terbuka, cara berbicara yang baik, serta kecakapan bernegosiasi jika kamu ingin makin maju sebagai perempuan karier. Dengan kemampuan tersebut, permasalahan relatif lebih mudah diselesaikan. Pun, untuk punya karier yang bagus, seorang perempuan karier harus punya kemampuan ini. 

Perempuan Karier Harus bisa Menyesuaikan Diri

Dalam lingkungan pekerjaan memang terasa sangat dinamis. Keadaan yang terus bergerak ini akan memaksa seseorang untuk bisa terus menyesuaikan diri. Namun, sebenarnya setiap orang bisa beradaptasi, hanya saja ia mau atau tidak keluar dari zona nyamannya.

Baca Juga: Ketika ‘Ageism’ dan Seksisme Bersinggungan Bagi Perempuan Pekerja

Memilih menjadi perempuan karier memang tidak gampang. Kalian harus punya keinginan untuk mampu beradaptasi. Karena bila kalian ingin punya karier dan posisi yang baik, kalian harus punya kemampuan beradaptasi karena untuk bisa menyesuaikan diri dengan dunia pekerjaan yang terus bergerak.

Read More

Diskriminasi Penerimaan Kerja Berdasarkan Zodiak, Memang Ada?

Pantes aja kerjanya enggak benar. Gemini, sih!”

“Oh, dia ngebohongin atasannya? Enggak heran, sih. Dia kan Virgo.”

Kamu pernah mendengar hal-hal seperti itu saat nongkrong bareng teman atau mungkin, di kantormu sendiri? Kalau pernah, berarti kamu adalah bukti yang mendukung hasil penelitian soal diskriminasi di tempat kerja berdasarkan zodiak.

Hah? Masa beneran ada yang kayak gini?

Berdasarkan riset Jackson G. Lu dkk. berjudul “Disentangling stereotypes from social reality: Astrological stereotypes and discrimination in China” (2020), hal itu memang sungguh terjadi di Cina dan beberapa negara lainnya.

Meski terdengar konyol, tak sedikit perusahaan yang  menjadikan zodiak calon karyawan sebagai pertimbangan besar sebelum menerima mereka untuk bekerja. Setidaknya, 40 persen perekrut di Cina sering mendiskusikan dan mempertimbangkan untuk menerima karyawan berdasarkan zodiak mereka. Penelitian itu juga mengungkapkan, di Cina, ada stereotip kepribadian seseorang berhubungan langsung dengan zodiaknya.

Lu dan kawan-kawan kemudian menguji anggapan tersebut pada 351 perekrut profesional dari 24 industri berbeda di Cina. Mereka menempatkan para perekrut dalam sebuah eksperimen, di mana mereka diminta untuk memilih satu dari beberapa lamaran kerja milik calon pegawai yang mereka nilai cocok untuk dipekerjakan.

Baca juga: Hak untuk Bekerja Tidak Bergender, Stop Larang Perempuan Melakukannya

Lamaran-lamaran kerja yang diberikan itu secara umum serupa dan mengandung elemen pembahasan yang sama, tapi dibuat mengandung keterangan tanggal lahir kandidat. Sebagian calon pegawai memiliki zodiak Virgo, sebagian lagi berzodiak Leo. Ternyata, para perekrut lebih memilih untuk mempekerjakan orang-orang berzodiak Leo daripada Virgo.

Beberapa perekrut secara sengaja tidak memilih orang-orang berzodiak Virgo (lahir antara 23 Agustus sampai dengan 22 September) sebagai teman, pasangan, atau bahkan pegawai, karena stereotip bahwa orang-orang Virgo dianggap memiliki kepribadian yang banyak protes dan sering tidak menyetujui banyak hal.

Bukan hanya Virgo, melansir NBC News, seorang perekrut di sebuah perusahaan pelatihan bahasa bernama Chutian Metropolis Daily di Wuhan, Cina, berkata bahwa dia memiliki pengalaman buruk dengan pekerja berzodiak Scorpio dan Virgo. Kedua zodiak tersebut dinilainya cenderung kritis dan agresif, dan hal itu membuat mereka jadi tidak akrab dengan rekan-rekan kerja lain, sehingga tak bertahan lama bekerja di perusahaan itu. Hal itu membuat sang perekrut memiliki preferensi tertentu dalam merekrut karyawan, yaitu memilih mereka yang memiliki zodiak Capricorn, Libra, dan Pisces.

Kepribadian Manusia Tak Ditentukan oleh Zodiak

Untuk menguji temuan secara lebih lanjut, Lu dkk. dalam penelitian yang sama kemudian menguji, apakah benar zodiak dan astrologi memengaruhi kepribadian seseorang, bahkan menentukan etos dan cara kerjanya di kantor.

Mereka memilih 173.309 sampel yang terdiri atas orang-orang dewasa di Cina untuk melakukan eksperimen. Sampel diminta untuk mengisi serangkaian tes kepribadian yang juga berisi karakteristik kepribadian manusia yang diselaraskan dengan stereotip dari tiap-tiap zodiak. Misalnya, menguji bahwa orang-orang Virgo itu sering mengungkapkan kritik, dan bahwa Gemini itu temperamental dan emosional. Ternyata, hasil penelitian berkata lain. Zodiak tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepribadian seseorang.

Itu juga diperkuat oleh penelitian berjudul “Psychology of Astrology (The relationship between zodiac signs and the personality of an individual)” yang digagas oleh Aaron Arthur G. Azucena, dkk. Penelitian itu menunjukkan, penggambaran kepribadian atau sifat manusia dalam tiap-tiap zodiak memiliki jangkauan yang sangat luas dan general. Misalnya, label “temperamental” sebagai cerminan dari sebuah zodiak itu memuat indikasi yang terlalu umum, karena siapa saja bisa menjadi temperamental tanpa harus memiliki zodiak tertentu.

Baca juga: 3 Alasan Penyandang Disabilitas Intelektual Masih Sulit Dapat Kerja

Hal ini berkaitan dengan The Barnum effect, sebuah istilah dalam psikologi yang mengungkap manusia menerima dan memaknai label maupun deskripsi kepribadian yang diberikan orang-orang kepada mereka, karena label itu sebenarnya juga berlaku pada diri banyak orang lain. Meski begitu, banyak orang yang tidak menyadari label dan deskripsi kepribadian berdasarkan zodiak itu sangat umum dan bisa ditemukan pada diri orang lain. Karena merasa menemukan kesamaan antara kepribadiannya dengan deskripsi bawaan dari sebuah zodiak, akhirnya banyak orang mempercayai bahwa sikap mereka ditentukan oleh bawaan-bawaan sikap dari zodiaknya.

“Kami menyimpulkan zodiak dan astrologi tidak akurat untuk memprediksi kepribadian seseorang karena tidak ada hubungan yang signifikan antara kedua hal tersebut,” demikian catat Azucena dkk. dalam penelitian mereka.

Potensi Diskriminasi Kerja yang Lebih Besar

Temuan dari penelitian-penelitian tersebut menunjukkan adanya kecenderungan diskriminatif dalam perekrutan. Hal itu bahkan dilatar belakangi oleh kepercayaan dan anggapan yang pseudoscientific dalam dunia profesional. Baik rasisme maupun astrologi berangkat dari cara pandang yang serupa, yaitu bahwa manusia bisa dikelompokkan serta dinilai berdasarkan karakteristik individual, seperti warna kulit dan tanggal lahir, alih-alih dinilai berdasarkan kualitas dirinya sebagai manusia atau kualifikasinya sebagai pekerja di bidang tertentu. Seperti halnya seperti orang Afrika-Amerika yang sering dianggap pemalas ataupun kriminal, atau orang-orang berzodiak Scorpio yang sering dianggap hanya memikirkan seks ketika hendak memilih pasangan.

Bila terus-menerus diterapkan, hal ini akan melahirkan alasan-alasan baru untuk membeda-bedakan perlakuan terhadap manusia berdasarkan kelompok atau karakteristik dirinya. Ini tak ubahnya melanggengkan stereotip terhadap kelompok tertentu tanpa alasan mendasar yang kuat.

Baca juga: Perempuan Pengungsi di Indonesia dalam Belenggu Diskriminasi

Padahal, bicara tentang dunia kerja berarti bicara tentang dunia profesional, yang setiap hal dan perkara di dalamnya seharusnya diputuskan berdasarkan pertimbangan logis, ilmiah, dan tidak melanggengkan label-label tidak masuk akal. Keyakinan ini seharusnya jadi pengetahuan mendasar bagi setiap manusia, terlebih pekerja profesional, untuk bisa membangun iklim kerja serta perusahaan yang berkelanjutan dan dapat bekerja optimal berkat kontribusi sumber daya manusianya yang berkualitas.

Banu Guler, chief executive officer di sebuah aplikasi astrologi yang berhasil meraih pendanaan dan modal sebesar lima juta dollar Amerika bernama Co-Star berkata, “Kita lahir di bawah langit yang sama dan di planet yang sama. Astrologi adalah alat yang bisa membantu manusia melihat perannya di dunia, bukan untuk melarang orang-orang lain berpartisipasi di dalamnya.”

Read More

5 Karakter Netflix yang Merepresentasikan Realitas Ibu Bekerja

Nestapa rasanya saat mendengar omongan tetangga dan kerabat yang menilai karakter ibu bekerja sebagai sosok yang kurang menyayangi anaknya, hanya karena mereka memutuskan untuk kembali berkarier. Situasi ini membuat perempuan pekerja seolah dihadapkan pada pilihan antara keluarga dan pekerjaan, lantas dianggap lebih mencintai kariernya dibandingkan sang buah hati. Padahal, setiap ibu pasti ingin hadir untuk anak-anaknya pada setiap kesempatan.

Tak hanya memperlihatkan kapabilitas perempuan dengan karier mereka yang melesat, sebagai sebuah medium, berbagai serial televisi mencoba merepresentasikan realitas yang dihadapi ibu bekerja melalui karakternya. Mulai dari kesulitan mereka untuk memahami anak, bekerja mati-matian untuk memenuhi kebutuhan mereka, hingga rela mengorbankan kehidupannya sendiri.

Berikut lima karakter dalam serial Netflix yang menggambarkan realitas ibu bekerja, sekaligus menjadi pengingat bagi kita untuk lebih mengapresiasi peran ibu dalam hidup sehari-hari.

(Spoiler alert)

1. Kate Mularkey – Firefly Lane

Dalam proses perceraiannya, Kate Mularkey (Sarah Chalke) mencoba untuk kembali bekerja di dunia jurnalisme. Walaupun berhasil kembali bekerja di sebuah majalah, perjalanan karakter ibu pekerja ini untuk memperoleh posisinya tidaklah mudah karena ia sudah tidak bekerja selama satu dekade terakhir. Selain itu, ia hampir melewatkan proses wawancara lantaran harus menjemput putrinya yang berulah di sekolah karena sedang melewati fase pemberontakan akibat perceraian orang tuanya.

Kate pun harus bekerja di bawah kepemimpinan seorang editor yang sangat mementingkan penampilan. Terlebih lagi, ia dimanfaatkan untuk mewawancarai Tully Hart (Katherine Heigl), seorang presenter ternama sekaligus sahabatnya, secara eksklusif.

Sumber: IMBD

Di tengah rumitnya kehidupan Kate sebagai individu, Firefly Lane menunjukkan kompleksnya realitas seorang ibu yang berusaha memberikan segalanya untuk seorang anak, mulai dari mengupayakan kehadirannya, menjalin hubungan baik dengan mantan suami, hingga kembali bekerja untuk mencari nafkah. Meskipun tak berjalan mulus, Kate tetap mencoba untuk memahami putrinya dan menunjukkan bahwa putrinya tersebut adalah prioritasnya.

Baca Juga: Sulitnya Gapai Impian Setelah Jadi Ibu

2. Jen Harding – Dead To Me

Setelah kematian sang suami, Jen Harding (Christina Applegate) harus berperan sebagai ibu tunggal untuk kedua anaknya. Kesehariannya semakin sulit untuk dijalani karena perempuan yang bekerja sebagai agen real estate di California ini masih dalam tahap kesedihan dan terus menyelidiki sosok yang membunuh suaminya dalam insiden tabrak lari. Belum lagi, ia harus menghadapi karakteristik para klien yang membuatnya harus menahan diri saat emosinya tak stabil.

Karakter Jen menampilkan bagaimana seorang ibu harus bersikap tegar di depan keluarganya, meskipun sebenarnya ia membutuhkan ruang untuk berkabung. Ditambah lagi, ia tidak memiliki teman bercerita sebelum bergabung dengan support group, yang akhirnya mempertemukannya dengan Judy Hale (Linda Cardellini).

Dalam menjalani peran sebagai ibu, Jen harus berurusan dengan tingkah laku putra sulungnya, Charlie, yang menginjak usia remaja. Ia terlibat dalam pengedaran narkoba, membawa senjata tersembunyi, pergi meninggalkan rumah, hingga mengendarai mobil tanpa SIM dan tanpa seizin Jen. 

Melalui serial ini, kita juga diingatkan untuk sebisa mungkin bersedia menjadi pendengar bagi orang-orang terdekat yang membutuhkan dukungan dan perhatian agar mereka tidak merasa sendirian.

Baca Juga: Seruan Agar Perempuan Berkarya Jangan Kecilkan Perempuan Tak Berdaya

Sumber: Netflix

3. Kang Hye-soo – Marriage Contract

Dalam drama Korea Marriage Contract, Kang Hye-soo (Uee) berjuang untuk merawat anaknya sekaligus membayar utang suaminya yang telah meninggal. Untuk menanggungnya dan memenuhi kebutuhan hidup, ia bekerja di restoran milik Han Ji-hoon (Lee Seo-jin) yang merupakan seorang konglomerat. Nahasnya, Hye-soo menderita tumor otak yang tak bisa dioperasi. Hal ini membuatnya memikirkan masa depan anaknya.

Kemudian, ia mengetahui bahwa ibu dari atasannya itu membutuhkan transplantasi hati. Ji-hoon pun berencana untuk menikahi si pendonor secara kontrak agar prosesnya terjadi secara legal. Oleh karena itu, Hye-soo menawarkan diri untuk menikahi Ji-hoon dengan sebuah imbalan, yakni menerima sejumlah uang yang cukup untuk menafkahi anaknya hingga dewasa agar ia tak perlu khawatir jika meninggal akibat penyakitnya.

Keputusan yang diambil oleh Hye-soo menggambarkan ketulusan cinta seorang ibu terhadap anaknya dan bersedia melakukan apa saja untuk masa depan yang terjamin, meskipun jalan yang dipilih berisiko untuk nyawanya.

Baca Juga: 6 Alasan Kenapa Pemimpin Perempuan Seperti Jacqueline Carlyle Sungguh Keren

Kang Hye-soo karakter ibu bekerja dalam Marriage Contract
Sumber: MBC

4. Karakter Ibu Bekerja Choi Won-deok dalam Serial Start-Up

Sejak kedua orang tua Seo Dal-mi (Bae Suzy) bercerai dan sang ayah meninggal, Choi Won-deok (Kim Hae-sook) yang merupakan neneknya memberikan figur ibu untuk perempuan tersebut. Agar cucu kesayangannya tidak kesepian, ia rela berbohong sepanjang hidup dengan meminta Han Ji-pyeong (Kim Seon-ho) berperan sebagai teman penanya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Won-deok bekerja sekaligus memiliki sebuah gerai corn dog. Ia pun memutuskan untuk menjual gerainya agar Dal-mi dapat melanjutkan pendidikan, meski pada akhirnya cucunya itu memilih untuk keluar dan melakukan berbagai pekerjaan paruh waktu untuk memberikan neneknya sebuah food truck.

Selelah apa pun Won-deok usai mencari nafkah dan mempersiapkan dagangan untuk keesokan harinya, ia selalu memberikan Dal-mi ruang untuk menceritakan keluh kesahnya. Dengan setia, Won-deok mendukung cucunya dalam merealisasikan ide dan mimpi-mimpinya, serta percaya akan kesuksesan yang akan diraih.

Karakter ibu bekerja Won-deok
Sumber: Neflix

Karakter Won-deok dalam drama Korea Start-Up merefleksikan bagaimana seorang ibu—dalam cerita ini nenek—akan bersikeras untuk memberikan yang terbaik bagi masa depan anaknya, dan memberikan dukungan yang tak melulu bersifat materi, tetapi juga moral. 

5. Georgia Miller – Ginny and Georgia

Dalam serial Netflix Ginny and Georgia, karakter Georgia Miller (Brianne Howey) tampaknya menjadi ibu idaman bagi setiap anak. Cara pendekatannya yang santai dan memosisikan diri sebagai teman dalam menyikapi kehidupan sosial anak sulungnya, Ginny Miller (Antonia Gentry), telah membangun kepercayaan di antara mereka. Bahkan, dengan mudahnya Ginny dapat menceritakan pengalaman mabuk pertamanya dan Georgia meminta agar mereka berdiskusi sebelum putrinya melakukan hubungan seks untuk pertama kali.

Walaupun demikian, masa remajanya yang kelam—saat ia dilecehkan dan harus berjuang untuk bertahan hidup—membuat Georgia bersikap protektif terhadap putrinya. Sesulit apa pun situasinya, Georgia berusaha untuk menghidupi dan melindungi Ginny, sekalipun ibu dari kekasihnya ingin mengambil hak asuh karena menilai dirinya belum siap menjadi orang tua.

GINNY & GEORGIA (L to R) DIESEL LA TORRACA as AUSTIN, BRIANNE HOWEY as GEORGIA, and ANTONIA GENTRY as GINNY in episode 101 of GINNY & GEORGIA Cr. COURTESY OF NETFLIX © 2020

Pengalamannya itu memotivasi Georgia untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Ia mengajak kedua anaknya hidup nomaden dan pindah ke Wellsbury, Massachusetts, kota tempat ia bekerja di kantor walikota. Pekerjaan itu didapatkannya berkat kecerdikannya dalam memberikan solusi atas sebuah permasalahan dalam diskusi orang tua.Sosok cool mom seperti yang direpresentasikan oleh Georgia tentunya kerap didambakan. Namun, caranya menyikapi kehidupan anak-anaknya kembali menarik kita untuk melihat latar belakangnya yang menjadi salah satu faktor dirinya bersikap demikian. Sama seperti para ibu lainnya, Georgia ingin memiliki keterikatan dengan anak-anaknya melalui caranya sendiri dan menjamin mereka menjalani kehidupan yang lebih baik.

Read More