Serba Terbatas, ini Kisah Perempuan Pendobrak Batas di Dunia STEM
Pratiwi Pujilestari Sudarmono hampir mencatat sejarah sebagai perempuan Indonesia pertama yang pergi ke luar angkasa bersama Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada 1986. Misi tersebut batal terlaksana akibat tragedi meledaknya pesawat Challenger. Meski demikian, nama Pratiwi tetap dikenang sebagai simbol keunggulan perempuan Indonesia di bidang Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM).
Selain Pratiwi, dilansir dari Refo Indonesia, terdapat setidaknya dua perempuan Indonesia lain yang menonjol di dunia STEM, yakni Premana Wardayanti Premadi dan Adi Utarini.
Premana Wardayanti memiliki kontribusi panjang dalam bidang astronomi. Ia dikenal melalui pemahamannya atas konsep slingshot, teknik yang memungkinkan wahana antariksa meningkatkan kecepatan dengan penggunaan bahan bakar minimal. Premana juga tercatat sebagai perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar Doktor Astrofisika dari University of Texas.
Sementara itu, Adi Utarini dinobatkan sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia oleh majalah Time pada 2021. Penghargaan tersebut diberikan atas temuannya terkait metode inokulasi nyamuk menggunakan bakteri yang tidak berbahaya bagi manusia. Inovasi ini terbukti mampu melindungi manusia dari penularan demam berdarah yang disebabkan oleh gigitan nyamuk.
Baca juga: Menciptakan Pilihan untuk Merawat Bumi: Cerita Tania, Perempuan di Dunia Teknologi
Paras Lelaki STEM
Meski memiliki kontribusi signifikan, bidang STEM hingga kini masih kerap didominasi laki-laki. Data UNICEF menunjukkan hanya sekitar lima persen perempuan yang berkarier di bidang STEM. Angka ini mencerminkan tantangan struktural dan hambatan serius yang masih dihadapi perempuan dalam menekuni dunia sains dan teknologi.
Ardi Findyartini, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), menyampaikan saat ini semakin banyak perempuan yang menonjol di bidang STEM, di luar nama Pratiwi, Premana, dan Adi. Pemerintah, menurutnya, terus berupaya meningkatkan akses pendidikan STEM bagi perempuan.
“Melalui beasiswa kuliah, program Sekolah Garuda, serta pengenalan STEM sejak sekolah menengah, kami berupaya meningkatkan kualitas dan jumlah program studi di bidang STEM,” ujarnya usai diskusi ‘STEMpowerment for All: Breaking Barriers, Building Futures’ yang diselenggarakan Plan International di Jakarta, pada (30/1).
Ardi juga menekankan pentingnya kehadiran figur panutan bagi perempuan di bidang STEM. Ia mencontohkan Marie Curie, peraih Nobel di bidang Fisika, yang menjadi satu-satunya ilmuwan perempuan dalam pengembangan awal teori kuantum dunia.
Baca Juga: Protes adalah Hak: Aliansi Perempuan Indonesia Desak Negara Setop Kekerasan
“Di dalam negeri, kita memiliki Prof. Pratiwi dan tokoh-tokoh lainnya. Mereka merupakan inspirasi yang sangat dibutuhkan,” katanya.
Lebih lanjut, Ardi menjelaskan perempuan yang berminat menekuni bidang STEM kerap menghadapi tantangan dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga. Menurutnya, keluarga memegang peran kunci dalam mendukung tumbuh kembang anak perempuan di bidang sains dan teknologi.
“Semuanya berangkat dari keluarga. Ketika akses pendidikan terbuka dan keluarga memahami pentingnya pendidikan, terutama peran ibu dalam mendorong anak berpikir kritis, peluang kesuksesan anak akan jauh lebih besar,” tuturnya kepada Magdalene.
Meski kisah inspiratif perempuan di bidang STEM terus bermunculan, hambatan struktural masih berlangsung. Dikutip dari Jurnal Perempuan dalam tulisan berjudul ‘Status Perempuan dalam STEM’, keterbatasan akses teknologi, minimnya dukungan, serta kurangnya lingkungan yang kondusif menjadi faktor utama yang menghambat remaja dan anak muda perempuan dalam menguasai STEM.
Pakar kepemimpinan Phaedria Marie menilai generasi muda, khususnya Gen Z, memiliki peluang besar untuk merancang masa depan di bidang STEM. Menurutnya, keberanian serta kemampuan Gen Z untuk saling terhubung menjadi kekuatan tersendiri.
“Saya menyukai keberanian Gen Z dalam membicarakan masa depan. Banyak perempuan muda di bidang STEM, seperti pengembangan AI dan perangkat lunak, yang benar-benar memoderasi masa depan dengan perspektif keseimbangan gender,” ujar Phaedria kepada Magdalene (30/1).
Baca Juga: Kenapa Kita Masih Tak Percaya pada Politisi Perempuan?
Ilmuwan yang berkarier di Denmark tersebut juga mengingatkan generasi muda tetap berisiko mengalami demotivasi, namun perlu berani melampaui batas yang ada.
“Tetapkan keberanian, terus berjuang, dan tegaskan keinginan atas masa depan yang lebih baik. Anak muda memiliki ketajaman berpikir yang sangat kuat,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti menegaskan dorongan terhadap perempuan di bidang STEM membutuhkan dukungan lintas sektor, mulai dari akademisi, individu, masyarakat, media, hingga pemerintah.
“Ini tentang membangun pola pikir kritis, menumbuhkan minat, dan menunjukkan pentingnya sains. Selain itu, isu ini bukan hanya soal perempuan, tetapi menyangkut semua orang,” pungkasnya.
Read More










