Sains dan Empati: Senjata Keberhasilan Pemimpin Perempuan Kendalikan COVID-19


Penuh empati, kolaboratif, dan mengedepankan kebijakan berbasis sains adalah beberapa faktor keberhasilan para pemimpin perempuan menghadapi pandemi COVID-19.

Walaupun menjadi salah satu contoh negara yang dapat mengendalikan penyebaran virus corona (COVID-19), Selandia Baru tetap tidak melonggarkan kewaspadaan mereka. Dilansir dari media The Guardian, dalam pidatonya minggu lalu, Perdana Menteri Jacinda Ardern mendesak masyarakat agar tidak berpuas diri dengan keadaan saat ini, dan tetap waspada dengan kemungkinan gelombang baru pandemi COVID-19.

Sudah hampir dua bulan negara itu tidak memiliki kasus baru. Menurut data Kementerian Kesehatan Selandia Baru, per 22 Juli 2020, jumlah total kasus terkonfirmasi mencapai 1.555 kasus, pasien sembuh 1.506 orang, dan pasien meninggal adalah 22 orang.

Sejak awal menangani pandemi, Ardern merupakan salah satu pemimpin negara yang secara sigap memberlakukan pembatasan sosial yang ketat, bersamaan dengan pemberlakuan tes massal, ,dan yang terpenting adalah keterbukaan komunikasi publik secara reguler.

Dalam menangani pandemi virus corona bukan hanya cepat menanggapi situasi dunia, setiap menyampaikan informasi kepada publik, Ardern selalu memperlihatkan empati dan kasih sayang. Dalam salah satu pidato publiknya, Ardern juga berkomunikasi kepada anak-anak dengan memberikan analogi peri gigi dan kelinci paskah sebagai pekerja penting yang saat ini harus di rumah saja karena COVID-19.

Selain Selandia Baru, Taiwan juga merupakan negara super sigap dalam penanganan kasus COVID-19. Dibantu oleh Wakil Presiden Taiwan, Chen Chien Jen,  yang juga seorang epidemiolog, kepemimpinan Presiden Tsai Ing Wen secara  drastis menekan kasus COVID-19 di Taiwan. Sampai 22 Juli 2020, kasus positif di Taiwan mencapai 455 kasus, dengan pasien sembuh sebanyak 440 orang dan total kematian tujuh kasus.

Tentu saja respons seperti ini tidak muncul secara spontan. Mengutip The Conversation,  kesigapan Taiwan menghadapi krisis ini merupakan pembelajaran dari penanganan kasus wabah SARS pada tahun 2002. Pemerintah Taiwan secara cepat mengontrol perbatasan mereka dan mengimplementasikan 124 tindakan untuk mencegah penyebaran COVID-19.  

Ardern dan Tsai Ing Wen  merupakan dua contoh pemimpin yang berhasil menavigasi negaranya mengarungi COVID-19. Negara-negara lain adalah Jerman, Denmark, Finlandia, dan Norwegia, yang semuanya dipimpin oleh perempuan. Mereka tidak hanya mengandalkan kebijakan berbasis sains saja, tetapi juga bersikap kolaboratif dan penuh empati dalam penanganan krisis ini.