5 Perempuan Inspiratif di Bidang Energi dan Pertambangan


Sektor energi dan pertambangan identik dengan laki-laki, namun beberapa perempuan ini menunjukkan bahwa mereka bisa unggul di sektor tersebut.

Meskipun dunia pertambangan sering diidentikkan dengan maskulinitas, semakin banyak perempuan Indonesia yang berani untuk terjun ke bidang tersebut. Jumlah mereka memang masih kalah jauh dibanding laki-laki: Hanya kurang dari 10 persen dari total pekerja di bidang tersebut menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2019.

Namun segelintir perempuan tangguh berhasil meniti karier mereka di sektor ini selama bertahun-tahun hingga akhirnya bisa duduk di posisi atas. Ada juga dari mereka yang menginisiasi komunitas yang merangkul para perempuan yang bekerja di industri pertambangan.

Berikut ini beberapa profil perempuan inspiratif di bidang pertambangan yang kami rangkum.

1. Perempuan Inspiratif dalam Bidang Pertambangan: Retno Nartani

Alumni Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini telah terjun di bidang pertambangan selama lebih dari tiga dekade. Ia pernah menduduki beragam posisi di bidang tersebut, mulai dari engineer, superintendent, general manager, hingga direktur.

Sekarang, ia menjabat sebagai Direktur HSE Corporate di Sinar Mas Mining. Sebelumnya, perempuan inspiratif ini juga pernah menjadi direktur operasional di PT Borneo Indo Bara.

Retno Nartani, Corporate HSE Director PT. Golden Energy Mines Tbk. (Sumber: @sinarmas_mining)

Kiprah Retno di bidang pertambangan membuahkan penghargaan untuknya pada 2020 lalu sebagai Best Woman in Mining dalam ajang Temu Profesi Tahunan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) ke-29.

“Ini [bidang pertambangan] dunia laki-laki. Kita bisa kerja dan kita enggak manja. Ngerjain kerjaan laki-laki ya ngerjain, ngebor ya ngebor… Kita berusaha menjadi agent of change karena perempuan memegang kunci untuk generasi berikutnya,” kata Retno dalam sebuah video di kanal YouTube Sinar Mas Mining yang diunggah untuk memperingati Hari Perempuan Internasional 2019.

Baca juga: Ketimpangan Gender dan Kerentanan Perempuan di Sektor Pertambangan

2. Febriany Eddy

Perempuan satu ini menuntaskan studi sarjananya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, kemudian melanjutkan studi magister di National University of Singapore. Saat ini, Febriany menjabat sebagai Vice President Director/Deputy Chief Financial Officer di PT Vale Indonesia, Tbk. Ia sempat juga menjabat sebagai Chief Executive Officer di tempat yang sama.

Karier Febriany diawali dengan bekerja di sebuah kantor akuntan publik. Saat itu, ia mendapat kepercayaan untuk memegang klien dari industri energi dan pertambangan. Sejak itulah Febriany berkenalan dengan bidang tersebut hingga akhirnya melanjutkan kariernya di perusahaan pertambangan.

Vice President Director/Deputy Chief Financial Officer di PT Vale Indonesia, Tbk Febriany Eddy. (Sumber: Vale)

Nama Febriany tercatat sebagai salah satu dari dua perempuan Inspiratif Indonesia yang dinobatkan sebagai Asia’s Top Sustainability Superwomen 2019. Predikat ini diberikan oleh CSRWorks International, sebuah perusahaan konsultan berbasis di Singapura, kepada 27 pemimpin perempuan di Asia.

“Sebagai leader perempuan, saya punya visi untuk menyetarakan peluang karier di PT Vale. Bekerja di industri pertambangan yang didominasi oleh pria membuat penghargaan ini menjadi penting bagi leaders perempuan seperti saya,” ujar Febriany setelah menerima penghargaan seperti dikutip dari Antara Sultra (5/9/2019).

3. Rara Nastiti

Perempuan inspiratif yang akrab disapa Inez ini juga merupakan lulusan Teknik Pertambangan ITB. Ia kini menjabat sebagai Mining Engineering Department Head di PT Adaro Jasabara Indonesia. Inez juga menjadi Mining Manager di PT Bhakti Energi Persada.

Pengalaman kariernya di luar negeri antara lain sebagai senior mining consultant di AMEC, di Santiago de Chile, Perth, Australia, dan specialist mining engineer di Rio Tinto Iron Ore di kota yang sama.

Inez Rara Nastiti, Mining Engineering Department Head di PT Adaro Jasabara Indonesia. (Sumber: IA Tambang ITB)

Rekam jejak Inez di dunia pertambangan tidak hanya sebagai pekerja di suatu perusahaan. Inez bersama beberapa rekannya juga menginisiasi Women in Mining and Energy (WIME) Indonesia. Komunitas ini bertujuan untuk melahirkan berbagai kerja sama dengan perusahaan, pemerintah, dan pemegang kepentingan lainnya untuk mendukung pengarusutamaan gender di sektor energi dan pertambangan lewat edukasi.

Baca juga: 6 Perempuan Muslim yang Sukses Mendobrak Bidang STEM

4. Meidawati

perempuan inspiratif Meidawati
Meidawati, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE). (Sumber: @pertamina)

Sejak 2018, Meidawati ditetapkan sebagai Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Perempuan ini merupakan lulusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya.

Meidawati pernah menjabat bermacam-macam posisi strategis di perusahaan, salah satunya sebagai vice president bagian perencanaan dan manajemen risiko PT Pertamina EP tahun 2011. Sebelum menjadi direktur utama PHE, Meidawati menjabat sebagai senior vice president Upstreaming Strategic Planning and Operation Evaluation PT Pertamina (Persero) sejak 2014.

Meidawati menambah daftar perempuan pemegang jabatan penting di Badan Usaha Milik Negara tersebut di samping Nicke Widyawati (direktur utama Pertamina sekarang), dan sebelumnya ada Karen Agustiawan di posisi serupa Nicke.

5. Perempuan Inspiratif: Frila Berlini Yaman

perempuan inspiratif Frila Berlini Yaman
Frila Berlini Yaman, presiden direktur di PT Bonum Amicitia Internasional. (Sumber: Geni.com)

Frila merupakan presiden direktur di PT Bonum Amicitia Internasional, sebuah perusahaan konsultan yang bergerak di bidang energi. Sebelumnya Frila pernah menjabat sebagai presiden direktur PT Medco E&P Indonesia pada 2011-2015. Frila juga sempat menjadi general manager business development di Shell Indonesia Exploration & Production dan menjabat sejumlah posisi strategis selama bekerja di beberapa cabang mancanegara perusahaan minyak British Petroleum.

Dilansir Katadata, saat Frila pertama bekerja di industri energi, yakni di Arco Indonesia tahun 1982, hanya ada dua engineer perempuan di perusahaan tersebut. Situasi kompetitif di perusahaan yang didominasi laki-laki tersebut menuntutnya untuk bekerja lebih keras dan membuktikan diri mampu menjalani pekerjaan di sana.    “Kesetaraan itu harus dimunculkan. Kalau tidak, perempuan tetap harus bekerja dua tiga kali lebih keras dari laki-laki untuk mendapat kesempatan dan gaji yang setara,” kata Frila.