teman kerja resign

Merasa Kehilangan Saat Teman Kerja Resign, Apa yang Bisa Dilakukan?

“Han, gue ada kabar buruk yang mau disampaikan. Gue sudah ngirim surat resign. Bulan depan gue terakhir di sini.” 

Di saat kami sedang beristirahat setelah menghabiskan akhir pekan di luar kota, kata-kata itu tiba-tiba diucapkan oleh teman kerja sekaligus teman serumah saya. Rasa lelah yang saya rasakan langsung terganti perasaan kaget karena mendengar hal itu. Sebetulnya, saya sudah tahu bahwa dia ada rencana untuk resign dan ingin fokus pada penyembuhan diri karena selama ini ia sedang berjibaku dengan depresi, tapi tetap saja, I did not see it coming this fast

Meski sudah dari lama mengantisipasi saat teman saya ini benar-benar resign, perasaan kehilangan itu cukup membuat saya terpukul. Di kantor mungkin kami hanya sebatas rekan kerja, tapi di luar itu kami dan teman-teman yang lain sering menghabiskan waktu bersama. Rasanya aneh ketika nanti berkumpul tak ada kehadirannya. 

Sebetulnya, rasa kehilangan seperti ini bukan pertama kali saya rasakan. Setahun lalu, managing editor saya juga memutuskan untuk tak lagi terlibat di redaksi. Beberapa bulan setelahnya, disusul editor lain yang juga ikut hengkang. Tak mudah bagi saya untuk overcome kepergian mereka, mengingat keduanya adalah teman diskusi dan editor pertama saya semenjak memutuskan terjun ke dunia jurnalistik.

Baca juga: Kesehatan Mental Pekerja Masih Diabaikan, Perusahaan Perlu Buat Perubahan Kebijakan

Walaupun saya tahu, keputusan itu merupakan jalan terbaik yang sudah mereka pilih, pada akhirnya saya hanya bisa memberi dukungan. Akan tetapi, selayaknya menghadapi proses patah hati dengan pasangan, rasa kehilangan juga sangat mungkin dirasakan saat teman kerja kita resign. Di minggu pertama kepergian mereka misalnya, saya merasa hampa, gelisah, dan tidak nyaman. Hal serupa juga dirasakan teman kerja lain. Dia bahkan menyuruh saya bertanya pada editor sebelumnya, apakah tidak mau balik lagi saja ke redaksi. Saya bisa paham, karena memang proses beradaptasi dengan orang baru itu sangat melelahkan, apalagi jika kita sudah nyaman dengan orang lama. 

Psikolog organisasi asal New York, Amerika Serikat, Dr. Orbe-Austin, mengatakan bahwa perasaan kehilangan itu merupakan hal wajar karena kita sudah melewati banyak keseharian dengan rekan kerja. 

“Kita membagikan momen-momen sedih, kecewa, dan menggembirakan dengan rekan kerja. Ada semacam koneksi, support dan hubungan sosial yang terjalin,” ujarnya kepada The New York Times.

Meski merupakan perasaan yang wajar, kebanyakan orang masih sering kali enggan mengekspresikannya karena menganggap hal itu hanya bagian dinamika pekerjaan. Padahal, sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa rasa kehilangan bisa memengaruhi kinerja kita dan produktivitas. Tak jarang, kehilangan rekan kerja juga bisa membuat pekerja lain punya keinginan untuk resign

Dr. Brandon Koh dalam tulisannya Colleagues Who Resign Create an Emotional Hole in the Teams They Leave Behind juga mengatakan bahwa selain bisa berpengaruh secara psikologi, kehilangan rekan kerja bisa mempengaruhi cara kerja tim. Apalagi, jika penggantinya ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Lingkungan kerja dan teman kerja sekarang ini jadi salah satu aspek penting yang jadi pertimbangan pekerja bisa bertahan di suatu perusahaan. 

“Mereka yang ditinggalkan akan mulai berpikir bahwa tempat kerja yang dulu nyaman kini tak lagi sama,” tulis psikologi industri-organisasi dan dosen Singapore University of Social Sciences itu, seperti dikutip dari Channel News Asia.

Baca juga: Kenyamanan, Kesempatan Kerja bagi Perempuan: Kunci Adaptasi Perusahaan Era Pandemi

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Menghadapi Rasa Kehilangan Teman Kerja yang Resign?

Hal pertama, yang penting dilakukan adalah meregulasi emosi yang dirasakan. Daripada menginvalidasi perasaan sedih dan kehilangan karena cuma tidak mau dianggap “lebay”.

Pahami bahwa apa pun yang dirasakan itu valid. Dalam tulisannya, Koh juga menyarankan untuk membicarakan apa yang kita rasakan ke sesama rekan kerja lain. Namun tentunya, kita juga harus memikirkan apakah orang yang nanti diajak bicara juga punya kesiapan mental yang sama dalam merespons hal ini. 

Selain membicarakan secara terbuka apa yang kamu rasakan, berikut ini beberapa hal lain yang juga kamu bisa lakukan: 

1. Menjaga relasi dengan rekan kerja meski sudah tidak satu kantor

Ketika mengungkapkan kesedihan setelah teman kerja saya mengabarkan resign, dia menegaskan bahwa kepergiannya dari perusahaan tak lantas membuat hubungan pertemanan kami kandas. Ia masih mau ikut berkumpul saat saya dan teman-teman lain makan bersama selepas kerja, atau sekadar nongkrong untuk melepas penat. 

Meski mungkin, ini tidak semudah yang dibayangkan karena pasti nantinya kita akan punya kesibukan masing-masing. Namun, penting untuk memahami bahwa di luar pekerjaan, kita tetap teman. Kita bisa mulai dengan menjaga relasi baik walau di keseharian sudah tak ada hubungan kerja.

2. Mungkin rekan kerjamu hanya butuh dukungan

Kamu mungkin merasa sedih kehilangan rekan kerja karena tidak akan menemuinya lagi di kantor, tapi jangan lupa bahwa hal yang ia butuhkan adalah dukungan. Apalagi, jika alasan rekan kerjamu hengkang karena masalah kesehatan mental. 

Keputusannya pergi bisa jadi sudah dipikirkan matang dengan segala konsekuensinya. Pada akhirnya, kita hanya bisa mendukung mereka. 

Baca juga: 10 Hal yang Tidak Boleh Kamu Katakan Terhadap Rekan Kerja di Kantor

3. Merefleksikan kembali posisi dan pekerjaan

Kepergian rekan kerja sering kali membuat kita berpikir tentang posisi dan pekerjaan yang sedang kita jalani. Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan hal itu. Kepergian dan kedatangan memang membuat kita berpikir bahwa kita tidak akan selamanya bekerja di tempat kerja sekarang. 

Memetakan karier, posisi, dan value dalam diri penting agar kamu tahu apa yang akan dilakukan ke depannya. 

4. Bicarakan dengan atasan

Proses resign seseorang biasanya diikuti dengan obrolan dan evaluasi dengan atasan. Orang yang akan pergi memberikan masukan agar perusahaan punya kebijakan yang lebih baik untuk pekerjanya.

Namun, selain orang yang resign, sebetulnya penting juga untuk kita terbuka pada atasan tentang apa yang dirasa setelah rekan kerja pergi. Tujuannya, untuk evaluasi tempat kerja yang sekarang, karena bukan tidak mungkin, kepergian mereka dipengaruhi faktor lingkungan kerja yang tidak suportif atau mungkin karena politik kantor. 

5. Proses adaptasi yang harus pelan-pelan dijalani

Sama halnya dengan proses orang untuk move on, kita pasti harus melalui pendekatan dengan orang baru. The truth is, fase ini tidaklah mudah untuk dijalani, apalagi jika kasusnya ternyata orang baru ini sangat berbeda dengan rekan kerja sebelumnya. Kita mungkin akan membandingkan bagaimana kenyamanan antara rekan kerja sekarang dengan sebelumnya. Hal itu berpotensi membuat kita semakin mengingat rekan kerja yang dulu. 

Daripada begitu, lebih baik kita melakukan penyesuaian pelan-pelan. Jangan bebankan ekspektasi yang sama terhadap orang baru, karena cara orang mengatasi pekerjaan itu berbeda-beda.

Read More
FTW Media Episode 12

Menjadi Konsumen Media yang Berdaya

Enggak terasa FTW Media sudah sampai episode terakhir aja, nih. Dari perjalanan kami mengupas representasi perempuan di media, ternyata masih banyak di antaranya yang nggak sensitif gender dalam pemberitaannya. 

Masalahnya beragam banget, mulai dari seksisme, seksualisasi, stereotipe, hingga yang suara perempuan yang masih minim terwakilkan di media. Memang sih, saat ini sudah ada beberapa perubahan dengan inisiatif menarik seperti Womenunlimited.id, sebuah database berisi narasumber peeempuan di berbagai sektor. Dalam iklan kita juha bisa melihat kampanye suami sejati dari kecap ABC, dan lain-lain. 

Tapi perubahan kayak gini nggak akan menjamur kalau konsumen kayak kita juga enggak mendukungnya. Kita bisa lho, mendorong produsen atau media untuk menggambarkan gender dengan lebih fair.

Yuk simak episode terakhir FTW Media ini! 

Nah, kamu punya komentar, masukan atau pertanyaan terkait bahasan ini? Kamu bisa sampaikan melalui [email protected] atau bisa melalui pesan di media sosial kami ya!

Read More

Di mana Suara Perempuan dalam Pemberitaan Media

Pernah nggak sih, kamu memperhatikan berapa jumlah narasumber perempuan dalam berita-berita yang kamu baca setiap hari? Satu? Dua? Memang jarang ya, kita melihat narasumber perempuan dikutip dalam artikel serius, apalagi terkait topik seperti politik dan ekonomi?

Ini bukan kebetulan, loh. Faktanya, fenomena macam ini terjadi di banyak negara termasuk di Indonesia. Laporan dari Tempo Institute menyatakan bahwa dari 22.900 narasumber yang dikutip media, hanya 11 persen atau 2.525 orang di antaranya yang perempuan.


Kenapa ya, masih sedikit narasumber perempuan yang dikutip media? Kenapa sih, suara mereka penting untuk dimunculkan? Terus, gimana dong caranya meningkatkan suara narasumber perempuan dari berbagai sektor?

Read More

Marking dan Stereotyping Perempuan di Media

Pernah enggak sih kamu perhatiin orang-orang melanesia atau Indonesia Timur lebih sering digambarkan sebagai preman, atau orang jahat di sinetron dan film.

Kalau pun mereka tidak digambarkan jahat, biasanya dijadikan bahan olok-olokan dan digambarkan tidak bisa tertib dan suka membuat onar. Penampilan mereka pun biasanya digambarkan sebagai orang berkulit gelap dengan rambut yang keriting.Padahal tidak semua Melanesia berpenampilan seperti itu loh.

Alih-alih memberikan edukasi dan representasi yang baik untuk teman-teman minoritas, media malah menyebarkan representasi keliru seperti ini yang ujungnya bakal sangat merugikan kelompok minoritas.

Lantas, apa sih yang bisa kita lakukan untuk mengurangi representasi keliru ini? Sebetulnya, sudah sejauh mana sih media memperbaiki isu ini agar mereka lebih inklusif terhadap kelompok minoritas?

Read More

Seksploitasi Penyanyi Perempuan

Di dunia dangdut, bukan hal langka mendapati penyanyi perempuan bergoyang erotis dan kerap mendapat pelecehan dari penonton laki-laki. Mulai dari saweran yang diselipkan di belahan dada hingga aksi meraba bagian tubuh si penyanyi perempuan saat si penonton laki-laki berjoget bersamanya di panggung. Emang harus banget ya seperti ini? Bagaimana dengan genre musik yang lain?

Sayangnya di genre lain pun, sebagian penyanyi perempuan enggak luput dari eksploitasi, mulai secara ekonomi sampai seksual.

Apa memang mustahil bagi penyanyi perempuan untuk mendapatkan ruang aman untuk berkarya? Apa saja yang bisa kita lakukan agar ruang aman tersebut dapat terwujud?

Read More

Realita, Cinta, dan Romantisasi Kekerasan di Layar Lebar

Tahun lalu, film asal Polandia “365 Days” sempat ramai diperbincangkan setelah tayang di Netflix. Bercerita tentang romansa antara mafia Italia Massimo Torricelli dengan Laura Biel, seorang direktur penjualan sebuah hotel di Warsawa, Polandia, film ini menuai banyak kritik

karena dianggap mengglorifikasi kekerasan seksual terhadap perempuan.

Kritik terhadap film tersebut juga berlaku untuk banyak film yang mengangkat tema kekerasan seksual lainnya, baik dari dalam maupun luar negeri.

Apa saja akibat pelanggengan kekerasan terhadap perempuan dalam film ya? Ada enggak sih, film-film lain yang ngomong soal kekerasan terhadap perempuan tapi enggak diglorifikasi?

Read More

Nangis atau Bengis: Stereotip Perempuan di Sinetron

Kamu pasti familiar banget dengan plot sinetron “Pintu Berkah” dan “Kisah Nyata”, di mana karakter istri di dalam sinetron tersebut selalu digambarkan teraniaya dan terlampau baik. Ketika ia digambarkan menjadi antagonis, sifat jahatnya tampak enggak realistis banget.

Makin ke sini, rasanya banyak sinetron Indonesia yang semakin seragam: Tokoh perempuan digambarkan entah sangat tipikal mulai dari super-pasrah dan terzalimi, tukang gosip, materialis, perayu, pelakor, atau mertua galak.

Ketika ada protes dari penonton soal kualitas plot dan karakter dalam sinetron, pihak industri sering berkilah “Loh kami kan cuma mengikuti selera pasar”. Alasan klasik banget.

Apa iya industri memang memotret selera pasar? Apakah memang benar selera masyarakat selalu monoton dan cenderung menyudutkan perempuan? Lalu apa yang bisa kita lakukan agar kita bisa mendorong keberagaman cerita dalam sinetron?

Read More

Cerita Cinta Toksik Dalam Fiksi: Yay or Nay?

Siapa yang enggak kenal novel Fifty Shades of Grey dengan karakter Anastasia Steele dan pengusaha muda Christian Grey yang dibumbui aktivitas sadomasokis diterbitkan pada 2011 dan langsung booming di kalangan para pembaca perempuan. DI balik kesuksesan novel yang sudah diadaptasi ke layar lebar ini, banyak juga timbul perdebatan batas antara etika, kekerasan seksual dan emosional.

Ya berbicara soal kekerasan dan hubungan toksik di cerita fiksi romantis memang masih muncul dua kubu, ada yang bilang itu cuma fiksi doang santai dong, tapi ada juga yang bilang fiksi pun bisa jadi mempengaruhi para penikmatnya.

Semua memang kembali ke konsumen sih, tapi ada baiknya kita juga perlu punya saringan supaya cerita toksik semacam itu enggak memengaruhi kita sehingga enggak ada pemakluman terhadap kekerasan. Sebagai konsumen pun kita juga butuh percintaan lain yang enggak melulu toksik.


Nah apa saja yang bisa kita lakukan supaya cerita-cerita percintaah memiliki narasi yang beragam ya? Yuk simak cerita selengkapnya dalam podcast FTW Media episode terbaru ini!

Read More
ketua osis perempuan

Budaya Patriarkal, Konservatisme Agama Hambat Perempuan Jadi Ketua OSIS

Tahun lalu, ketika ada pemilihan ketua Organisasi Intra Sekolah (OSIS) di sebuah SMA negeri di Kabupaten Garut, Jawa Barat, “Nadhifa” memberanikan diri untuk maju menjadi calon ketua. Ia memiliki pengalaman menjadi pengurus OSIS selama setahun dan prestasi akademiknya juga baik.

Namun, ia kemudian memutuskan mundur karena dua kandidat lain adalah laki-laki dengan citra cukup bagus dan dikagumi banyak murid. Nadhifa merasa pencalonannya akan sia-sia karena hampir tidak pernah ada murid perempuan yang menjadi ketua OSIS di sekolahnya. Nilai-nilai agama di sekolahnya masih sangat kental sehingga banyak yang percaya laki-laki lebih baik untuk memimpin.

“Akhirnya saya enggak jadi nyalon, karena saya pesimis. Walaupun teman-teman enggak langsung ngomong ke saya, tapi mereka suka ngasih kode kalau pemimpin tuh baiknya laki-laki. Padahal, saya juga sudah jadi pengurus OSIS hampir setahun,” ujar perempuan berumur 16 tahun itu kepada Magdalene.

Qurrota Ayyun yang bersekolah di SMA swasta berbasis Islam lebih beruntung. Ia terpilih menjadi ketua OSIS di SMA IT Adzkia Sukabumi, Jawa Barat, setelah mengalahkan kandidat laki-laki dan perempuan. Ia menjadi perempuan kedua yang terpilih menjadi ketua OSIS di sekolahnya, setelah tahun-tahun sebelumnya kursi kepemimpinan itu selalu diisi oleh laki-laki.

Menurutnya, keberhasilannya itu bisa terjadi karena sekolahnya masih baru, jumlah siswa yang sekolah masih terbatas, sehingga pemilihan kandidat calon ketua OSIS pun dipilih atas musyawarah guru, bukan inisiatif siswanya.

“Dari catatan pemilihan sebelumnya, biasanya memang yang laki-laki suka dapat suara tinggi. Tahun kemarin yang terpilih juga laki-laki karena satu kandidat lagi teman saya (perempuan) justru enggak mau jadi ketua OSIS karena merasa enggak layak,” ujar Qurrota kepada Magdalene.

Baca juga: Konservatisme Agama di Sekolah dan Kampus Negeri Picu Intoleransi

Konservatisme Agama di Sekolah Hambat Perempuan Jadi Ketua OSIS

Kurangnya kepercayaan diri dan narasi bahwa laki-laki lebih baik sebagai pemimpin seperti yang dialami Nadhifa dan teman Qurrota masih menjadi hambatan bagi perempuan sejak di level sekolah. Hal ini tidak hanya terjadi di daerah saja, Jakarta sebagai kota metropolitan yang paling plural pun masih menghadapi masalah yang sama.

Hasil penelitian Sri Wahyuningsih dari Universitas Negeri Jakarta yang bertajuk Gaya Kepemimpinan Perempuan (Studi Pada Ketua OSIS di SMA Se-Jakarta Timur), menunjukkan pada 2014, dari 123 SMA di Jakarta Timur hanya 32 sekolah yang mempunyai pemimpin OSIS perempuan. Sri mengambil data dari 40 SMA Negeri dan 83 SMA swasta. Perempuan yang menjadi ketua OSIS di sekolah negeri menjadi yang paling sedikit angkanya.

Minimnya representasi perempuan sebagai pemimpin di sekolah juga ditemui Program Manager Girls Leadership Academy dari Yayasan Plan Indonesia, Lia Toriana. Dalam berbagai program pelatihan kepemimpinan bagi siswi SMA yang dijalaninya, Lia mengatakan bahwa selain nilai patriarkal yang menciutkan rasa percaya diri perempuan, konservatisme agama di sekolah yang semakin meningkat menjadi penghambat besar lainnya yang harus dihadapi perempuan.

“Kalau sekolah swasta, apalagi yang sudah berstandar nasional itu biasanya lebih terbuka. Sekolah negeri justru yang titipan nilai-nilai agamanya cukup kental. Narasi agama yang mendorong ketua OSIS itu seharusnya laki-laki karena laki-laki adalah imam itu masih banyak ditemukan,” ujar Lia kepada Magdalene.

Selain itu, ia juga menemukan kecenderungan pemilihan kandidat ketua OSIS yang dikuasai oleh agama mayoritas, misalnya, kandidat yang berasal dari kegiatan ekstrakurikuler Rohani Islam (Rohis) cenderung lebih mendapatkan suara tinggi dibanding kandidat lainnya.

Menurut Lia, implikasi dari iklim pemilihan yang hanya didominasi oleh kelompok agama tertentu bisa memicu intoleransi tidak hanya bagi perempuan, tapi juga kelompok minoritas lainnya. Dalam kasus SMAN 6 Depok, misalnya, seorang siswa non-muslim yang terpilih menjadi ketua OSIS harus rela mundur karena sebagian pihak yang keberatan karena dirinya non-muslim, ujarnya.

Baca juga: Guru BK Berperan Penting dalam Mendeteksi Depresi Siswa

Oktober lalu, sebuah tangkapan layar menjadi viral karena menunjukkan pesan dari seorang guru yang mengajak muridnya untuk tidak memilih kandidat ketua OSIS non-muslim di grup Rohis SMA Negeri 58 Jakarta.

“Padahal kan itu sebuah kemajuan ya kalau misal ada dari non-muslim yang terpilih. Tapi akhirnya banyak yang mundur karena ada tekanan di dalam sekolah itu. Jadi memang ada hambatan pola relasi masyarakat yang masih didominasi oleh masyarakat dengan moral-moral komunal atas nama budaya dan agama,” tambah Lia.

Peran Guru BK dalam Mendorong Kepemimpinan Perempuan di Sekolah

Sebagai pihak yang berhubungan langsung dengan perkembangan siswa, guru punya andil penting dalam mendorong siswa untuk lebih berani bersuara dan maju menjadi pemimpin. Hal ini dibenarkanoleh Qurrota.

Kendati begitu, ia mengatakan peran guru itu seperti dua sisi mata uang, bisa jadi pihak yang meningkatkan kepercayaan diri perempuan, bisa juga jadi pihak yang mematikan potensi mereka, ujarnya.

“Makanya perlu banget didorong oleh guru karena mereka bisa meningkatkan kepercayaan diri siswa-siswanya. Banyak yang maju karena ditekan sama gurunya, banyak juga yang mundur karena tekanan,” ujar Qurrota.

Lia menambahkan, hal itu bisa terjadi karena tidak semua guru punya pemikiran yang sama dalam melihat kepemimpinan perempuan, ada guru yang mendukung ada juga yang tidak, ujarnya. Namun, karena alasan itu pula peran guru bimbingan dan konseling (BK) menjadi krusial untuk mendorong siswi semakin proaktif dalam mendalami nilai-nilai kepemimpinan, tambahnya.

“Guru BK ini kan bukan pihak yang memberi nilai akademik ya, tapi lebih pengembangan dan potensi, jadinya cukup besar sekali peran mereka. Beberapa kali kesempatan kita kerja sama dengan OSIS SMA itu pasti lewat guru BK, jadi mereka yang mencari bakat-bakat kepemimpinan perempuan,” ujar Lia.

Baca juga: Perkaya Tema, Baca Nyaring Bantu Orang Tua Ajarkan Kepemimpinan Perempuan

Dalam hasil penelitian Sri Wahyuningsih juga disebutkan bahwa guru BK berperan memfasilitasi siswi perempuan yang mempunyai peluang atau keinginan untuk menjadi pemimpin, tak hanya di OSIS, tapi di berbagai bidang organisasi sekolah.

“Guru BK bisa jadi pintu gerbang perempuan untuk menjadi pemimpin, mereka harus mampu memfasilitasi siswa dengan informasi, penempatan dan penyaluran bakat dan minat,” tulis Sri.

Peran Orang Tua untuk Mendorong Anak Perempuan Jadi Pemimpin

Selain keterlibatan sekolah dalam mendorong siswa perempuan untuk menjadi pemimpin, orang tua juga punya peran penting untuk mengajarkan anak tentang nilai kepemimpinan sedari dini. Namun, menurut Lia, di banyak kasus, orang tua sekarang ini cenderung memilih sekolah untuk anak yang sesuai dengan ideologi dan kepercayaan mereka.

“Misalnya, ada orang tua yang memilih sekolah eksklusif berbasis Islam atau mungkin juga sekolah Kristen. Itu kan bentuk resonansi dari orang tua untuk menjaga iman dan takwa si anak di sekolah. Sedangkan, unsur-unsur apakah nilai kepemimpinan diajarkan di sekolah itu jarang dipertimbangkan orang tua,” ujar Lia.

Hal tersebut, tambahnya, diperparah dengan pola pikir orang tua yang tak jarang menyerahkan semua beban pendidikan kepada pihak sekolah saja. Padahal, hampir sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah. Peran gender normatif yang masih diberlakukan di rumah, misalnya, secara tidak langsung menjadi salah satu yang membentuk pola pikir anak.

Most of the time ayah yang biasanya ambil keputusan dan wejangan, sedangkan ibu ya dilihatnya sebagai sosok yang ada di dapur masak, atau enggak begitu punya power untuk ambil keputusan. Hal itu yang membuat mereka enggak dapat inspirasi bahwa mereka bisa mengambil keputusan dan jadi pemimpin. Mereka enggak punya contoh itu di keseharian,” kata Lia. 

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Read More
potret perempuan dalam iklan

Sumur, Dapur, Kasur Potret Perempuan dalam Iklan

Pernah enggak kamu memperhatikan iklan-iklan yang cuma memperlihatkan perempuan mengurus rumah tangga aja, sedangkan laki-laki bekerja di luar rumah. Sementara dalam iklan produk kecantikan, perempuan selalu dituntut tampil cantik dan wangi untuk kepentingan laki-laki. 

Iklan televisi bisa dibilang merupakan salah satu media yang efektif buat menyampaikan pesan secara luas. Iklan disampaikan dengan secara persuasif untuk akhirnya mendatangkan recall yang tinggi dan menciptakan keinginan para konsumen akhirnya tertarik untuk membeli.

Potret perempuan dalam iklan sering dipakai dan dibilang sangat efektif untuk membujuk konsumen. Kita pasti sering sekali melihat penggambaran potret perempuan dipakai dalam iklan media elektronik seperti televisi.

Penggambaran perempuan yang sebatas ruang domestik seperti dalam gambar kaleng Khong Guan kayaknya sudah jadi standar atau playbook yang kudu dipatuhi, bahwa kalau pengen produknya dibeli perempuan, ya harus menampilkan perempuan yang distandarisasi juga penggambarannya.

Contohnya, penggambaran perempuan yang ruang geraknya hanya dalam ranah domestik, meja makan atau dapur itu misalnya. Nggak cuma dalam kemasan produk, dalam iklan-iklan produk yang sama, penggambaran semacam itu secara otomatis juga jadi pilihan.

Atau seperti produk-produk yang sebenarnya menyasar kaum pria, tetapi di iklannya sering sekali menampilkan model perempuan seksi yang tidak ada hubungannya dengan produk yang dijual. Potret perempuan dalam iklan ini seperti jadi hal yang biasa di era sekarang ini.

Potret perempuan dalam iklan seakan-akan dibuat menjadi alat untuk memasarkan produk saja. Tubuh yang dieksploitasi hanya untuk melepaskan definisi cantik versi standarisasi market dengan cara memamerkan bagian rambut yang panjang dan lebat untuk iklan shampo atau dalam iklan obat kurus yang menampilkan perempuan dengan fisik yang ramping.

Iklan yang cuma memperlihatkan fisik dari perempuan bisa kita bilang mengandung eksploitasi. Eksploitasi merupakan pengusahaan, pendayagunaan atau pemanfaatan, kalau dilihat memang eksploitasi tidak selalu bersifat buruk tapi bisa punya value yang baik. Tetapi dalam hal ini bergantung dari konteksnya.

Jangan dikira iklan produk itu enggak ada dampaknya, loh. Apa saja dampaknya? Apakah sudah ada perubahan ke arah yang lebih baik? Episode terbaru podcast FTW Media yang satu ini mengupas tuntas soal ini. Cuss dengerin!

Read More