pengusaha perempuan sukses di dunia

6 Pengusaha Perempuan Sukses dan Ternama Dunia, Idolamu Termasuk?

Menjadi pengusaha sukses memang bukan pilihan mudah, apalagi jika kamu seorang perempuan. Ini dilatarbelakangi oleh maraknya stereotip yang menyebutkan, perempuan kurang cocok terjun di dunia bisnis. 

Ada banyak sekali hambatan yang perempuan hadapi saat ia memutuskan jadi pengusaha, termasuk kesulitan mendapatkan investor. Hambatan lainnya berupa beban ganda sebagai ibu sekaligus pekerja. Selain itu, ada juga hambatan, seperti masalah kepercayaan diri pada pengusaha perempuan akibat stereotip dan diskriminasi yang terus-menerus dialami.

Meskipun banyak hambatan yang dihadapi oleh pengusaha perempuan, ada beberapa perempuan yang membuktikan dirinya mampu terjun dalam dunia bisnis. Bahkan nama mereka sudah dikenal di seluruh dunia. Berikut ini daftar pengusaha perempuan tersukses di dunia.  

Huda Kattan, Pengusaha dan Pemilik Kosmetik Huda Beauty

Lahir di Kota Oklahoma, Amerika Serikat, Huda Kattan merupakan seorang makeup artist  dan juga pendiri bisnis kosmetik Huda Beauty. Untuk mencapai posisinya saat ini, perjalanan Kattan terbilang panjang. 

Dikutip dari USA Today, sebelum menjadi makeup artist, pebisnis perempuan ini pernah bekerja di bidang keuangan dan menjadi HRD, tetapi dia merasa pekerjaan itu bukan untuknya. Beberapa tahun mencari pekerjaan yang pas, Huda pun melabuhkan pilihannya pada makeup. Hal ini membuatnya kembali ke Los Angeles untuk belajar makeup.

Baca Juga: Anne Patricia Sutanto Pebisnis Tangguh yang Bertahan di Tengah Pandemi

Setelah lulus, ia pun kembali ke Dubai dan mulai bekerja keras di bidang ini. Di 2010, atas saran dari adik perempuannya, Huda memulai blog kecantikan yang ia namakan Huda Beauty. Dari blog tersebut kariernya semakin moncer, ia bisa bertemu dengan klien besar seperti artis dan keluarga kerajaan Dubai. 

Kariernya yang semakin meroket membuat Huda ingin membuka bisnis kecantikannya sendiri. Ia pun mulai mengamati pasar yang ada, dan memutuskan untuk membuat bulu mata palsu, yang dikeluarkan melalui brand Sephora. Hal ini pun menjadi awal dari perjalanan bisnis Huda Kattan hingga saat ini. 

Wang Laichun, Pemimpin Produsen Elektronik Luxshare Precision Industry

Dikutip dari  Forbes, Wang Laichun merupakan pemimpin dari produsen elektronik Luxshare Precision Industry, perusahaan yang menyuplai onderdil produk Apple. Pada 2014, The Daily Telegraph mengumumkan, Wang Laichun merupakan salah satu miliarder perempuan termuda di dunia.

Sebelum ini, Wang Laichun berkarier di perusahaan milik Miliarder Taiwan, Terry Gou, Hon Hai Precision Industry (dikenal juga dengan foxconn) selama 10 tahun. Ia keluar pada 1999 dan pada 2004 bersama dengan adiknya, Wang Laisheng ia membeli perusahaan Luxshare. 

Pengusaha Perempuan Sukses Asia Cher Wang, Pendiri HTC

Pengusaha perempuan yang lahir di Taipei, Taiwan ini adalah salah satu perempuan pertama dalam sejarah yang mendirikan perusahaan teknologi (startup) pada akhir 1990-an. Pada 1997, bersama dengan Peter Chou dan H.T Chou, mereka membangun perusahaan teknologi HTC, yang berfokus pada elektronik laptop dan komputer.

Baca Juga: Dian Eka Purnama Sari: Perempuan Pengusaha yang Lawan Stereotip

Perusahaan ini pun mulai berinovasi dan menciptakan produk ponsel pintar. Di 1998, HTC mengeluarkan produk Personal Digital Assistant (PDA), dan menjadi ponsel sentuh nirkabel pertama di dunia. Produk ini menjadi gerbang pertama HTC untuk terjun ke dalam bisnis ponsel pintar.

Dikutip dari TechTimes, beberapa tahun belakangan HTC tengah berada dalam situasi sulit. Untuk mengatasi hal ini, pada 2020 lalu, Cher Wang kembali dipanggil untuk membantu perusahaan ini bangkit kembali. Kembalinya Wang sebagai CEO dan Ketua Dewan perusahaan, membawa  peningkatan sebesar tiga persen pada saham HTC. 

Pengusaha Perempuan Sukses Kiran Mazumdar-Shaw

Lahir di Bangalore, Karnataka, India, Kiran Mazumdar- Shaw seorang pengusaha perempuan yang juga pendiri dari perusahaan Biocon India Group. 

Dikutip dari laman Britannica, awalnya Mazumdar ingin mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi seorang pembuat bir. Namun, ketika ia lulus pendidikan pascasarjana dalam pembuatan bir pada 1975, tak ada perusahaan yang mau menerima pembuat bir perempuan. Saat ia menjalani pekerjaan sebagai konsultan, ia bertemu dengan Leslie Auchincloss, pemilik perusahaan berbasis di Irlandia, Biocon Chemicals. 

Baca Juga: 6 Hal yang Membuat Kamu Jadi Pemimpin Idola

Auchincloss yang terkesan dengan cara kerja serta semangat dari Mazumdar akhirnya merekrut ia sebagai rekan dalam usaha baru, Biocon India pada 1978. Perusahaan ini memproduksi enzim yang digunakan untuk minuman beralkohol, kertas, dan produk lainnya.

Banyak tantangan yang dilalui oleh Mazumdar pada awal-awal ia mendirikan BIocon India Group. Ia banyak mendapatkan pandangan skeptis dan diskriminasi. Saat itu ia kesulitan mencari karyawan yang mau bekerja untuk perempuan dan investor pun juga enggan menanam modal. 

Meskipun tantangannya berat, Mazumdar berhasil membuktikan bisa memimpin perusahaan itu hingga mencapai kesuksesan. Di 2000, The World Economic Forum mengakui Mazumdar sebagai seorang pionir dalam bidang  teknologi.   

Jennifer Hyman CEO Rent The Runway

Hyman merupakan CEO dan pendiri perusahaan mode Rent The Runway, yang berfokus pada jasa penyewaan baju dan aksesoris merek terkenal. Dikutip dari The New York Times, Jennifer Hyman mendapat ide bisnisnya dari pengalaman sang adik yang tersiksa sebab harus membeli merek pakaian mahal untuk ke acara pernikahan. Ia memulai bisnis ini pada 2009.

Baca Juga: Martha Tilaar dan Wulan Tilaar Berbisnis dengan Empati, Selamatkan Pekerja

Hyman juga dikenal peduli dengan isu-isu sosial, terutama isu kekerasan seksual di industri teknologi. Dalam sebuah kolom opini yang ia tulis di The New York Times, Hyman berujar, di perusahaannya akan menyamakan tunjangan untuk semua karyawan. Selain itu, semua karyawannya, mulai dari bagian gudang, toko, dan tim pelayanan pelanggan, akan mendapat cuti orang tua, cuti sakit untuk keluarga, dan cuti berkabung. 

Yang Lan, Pendiri Sun Media Group

Mengawali kariernya sebagai seorang presenter televisi, pengusaha perempuan sukses ini banyak menaruh perhatian pada industri media. Ia kemudian membangun Sun Media Group pada 1999, dan saat ini menjadi salah satu grup media swasta terkemuka di Cina 

Bersama dengan suaminya, pada 2000, mereka meluncurkan Sun TV, sebuah saluran televisi satelit pertama dalam sejarah Cina. Atas prestasinya, Yang banyak mendapatkan penghargaan di antaranya, “Chinese Women of The Year”, “Top Ten Women Entrepreneurs Award”, dan “She Made It” award dari The Paley Center for Media, Columbia University.

Read More
Wulan Tilaar

Martha Tilaar dan Wulan Tilaar Berbisnis dengan Empati, Selamatkan Pekerja

Seperti perusahaan lainnya, brand produk perawatan tubuh dan kecantikan Martha Tilaar yang sekarang dipimpin oleh Wulan Tilaar juga mengalami masa-masa yang sulit saat menghadapi pandemi COVID-19. Perusahaan kosmetik yang juga memiliki salon kecantikan ini harus memutar otak bagaimana tetap bisa bertahan di tengah masa-masa yang tidak menentu. 

Ini bukan kali pertama mereka menghadapi krisis, Martha Tilaar sudah pernah mengalami jatuh bangun dalam menjalankan bisnis selama beberapa dekade. Salah satu krisis terbesar yang pernah dilalui adalah krisis moneter tahun 1997. Semua ini diceritakan oleh Martha dan Wulan Tilaar dalam wawancara bersama podcast How Women Lead.

Saat krisis finansial menghantam Asia pada tahun 1997 dan membuat rupiah anjlok, Martha sebagai pendiri perusahaan tetap teguh untuk tidak mem-PHK karyawan yang berjumlah ribuan. Sebagai gantinya, perusahaan meluncurkan beragam produk inovatif, seperti lipstik empat warna dengan harga terjangkau. Dari situ, perusahaan mendapatkan keuntungan 400 persen ketika banyak industri manufaktur  sedang amburadul. Selain itu, mereka bahkan bisa mengakuisisi sejumlah perusahaan. 

Baca Juga: Anne Patricia Sutanto Pebisnis Tangguh yang Bertahan di Tengah Pandemi

Tindakan dan keputusan yang diambil perempuan pengusaha inspiratif itu merupakan salah satu wujud dari bagaimana pemimpin seharusnya bersikap, yakni berempati terhadap para pekerjanya. Ia memiliki kepedulian tinggi yang diimplementasikan di berbagai  anak perusahaannya.

Martha Tilaar Pemimpin Perempuan Penuh Empati 

Martha pertama kali memulai bisnis kecantikannya sepulang dari mendampingi sang suami yang melanjutkan sekolah di Amerika Serikat. Di sana, ia tidak ingin hanya membantu suami, tapi juga menambah ilmu dan keterampilan dengan berkuliah di sebuah sekolah kecantikan. Saat itu, salah satu tugasnya adalah meneliti budaya kecantikan tradisional. 

Martha memilih untuk meneliti tentang budaya kecantikan Jepang. Alih-alih nilai bagus, yang didapat Martha adalah teguran sang dosen karena ia abai terhadap akar budaya negaranya sendiri. Teguran itu menjadi sebuah shocking therapy untuk Martha, karena ia benar-benar tidak tahu apa-apa soal budaya kecantikan Indonesia. 

Baca Juga: Susi Pudjiastuti Pengusaha Perempuan Pantang Menyerah

“Saya menangis. Bagaimana, nih, kalau saya enggak lulus. Aku sudah enggak punya uang. Jujur. I don’t know about my culture. Shame on you. Baru saya sadar. Tuhan, kalau aku pulang nanti aku akan lestarikan budayaku dalam bidang kecantikan,” ujar Martha pada tim Magdalene

Sepulangnya ke Indonesia, bermodal uang saweran kakak-kakaknya dan uangnya sendiri, Martha membuka salon kecantikan berukuran 4×6 meter persegi di garasi rumahnya pada tahun 1972. Karena letaknya yang strategis di daerah Kuningan, Jakarta, ia berhasil menggaet istri-istri diplomat asing yang sangat puas dengan pelayanan salon Martha.

Definisi Cantik Indonesia ala Martha Tilaar dan Wulan Tilaar

Berdekade lamanya Martha menjalani bisnis kecantikan, ia mengamati bagaimana masih banyak orang Indonesia yang lebih berkiblat pada dunia kecantikan luar negeri. Namun semangatnya tidak surut dan malah semakin membara dalam meracik bahan-bahan tradisional asli Indonesia. 

“ Saya bingung, kalau di Amerika kan penuh di library. Tetapi ternyata eyang saya, itu 107 tahun umurnya, dia ahli jamu. Jadi dia bilang, ya sudah kamu pergi saja ke dukun-dukun beranak supaya kamu belajar langsung dari mereka. Bagaimana setelah melahirkan, (mengonsumsi) parem, pilis,” kata Martha. 

Baca Juga: Diajeng Lestari, Pengusaha Muslimah Sukses dengan Brand HIJUP

Sayangnya, penelusurannya ke ahli-ahli kearifan lokal ini malah memunculkan gosip bahwa Martha main dukun agar cepat kaya. Ini adalah tantangan yang dihadapi oleh perempuan pekerja, bahkan ketika mereka sudah berada di pucuk kepemimpinan, seperti yang dihadapi oleh Martha. 

“Jangan ke salon dia, nanti kamu kena pelet,” ujar Martha, menirukan ucapan-ucapan para penggosip.

“Tapi suami saya, dia adalah guru kehidupanku. (Dia bilang) coba lihat catatanmu (mengenai ramuan tradisional) dan sebagainya. Teruskan, sebab kalau satu dukun meninggal, satu perpustakaan terbakar,” ujarnya, menirukan nasihat mendiang suaminya. 

Kegigihan dan rasa empati yang Martha tanamkan juga ia turunkan kepada anak-anaknya, termasuk Wulan Tilaar. Ia merupakan generasi kedua Martha Tilaar Group dan penerus sang ibunda sekaligus ikon brand Martha Tilaar.

“Saya merasa beauty ini bukan pupur dan lipstik saja, dan banyak sekali di luar sana ya memang cuma jualan profit, and lost. Dan itu yang juga saya syukuri. Martha Tilaar itu enggak begitu. We’re not just selling cosmetics,” kata Wulan. 

Tips Membangun Bisnis Sukses ala Wulan Tilaar 

Pemimpin perempuan inspiratif Wulan Tilaar sudah sejak kecil ia diajari sang ibu mengenai bagaimana menjalankan bisnis ini. Sepulang sekolah, ia selalu pergi ke kantor ibunya, atau ke salon atau sekolah kecantikan Sari Ayu.

“Jadi sudah biasa banget ngeliatnya. Itu saya syukuri sih pengalaman observasi itu. Tapi ternyata itu enggak cukup untuk bisa berkecimpung dan terlibat dalam perusahaan karena harus punya a set of competency,” kata Wulan.

Wulan adalah lulusan Boston University dalam bidang Mass Communication-Advertising. Ia mulai terjun ke bisnis keluarga secara profesional pada tahun 2005. Wulan tidak langsung diberi kepercayaan untuk memegang perusahaan secara penuh, namun mengawali kariernya di departemen seni sebab bagian tersebut masih berkaitan dengan bidang perkuliahannya.

Baca Juga: Anne Patricia Sutanto Pebisnis Tangguh yang Bertahan di Tengah Pandemi

Wulan benar-benar belajar dan tekun dalam menjalankan pekerjaannya. Ia memperhatikan betul dan langsung terjun melihat bagaimana pekerjanya dilatih.

“Saya tahu bagaimana mereka dilatih, alatnya apa saja. Bagaimana ala tersebut berfungsi. Pertama kali ya kaget juga, tetapi sebagai terapis profesional kita enggak boleh kayak begitu. Saya juga belajar tentang macam-macam penyakit kutil. Semua saya ikuti dan saya menghargai prosesnya,” kata Wulan. 

Dengan belajar secara detail tersebut, Wulan jadi paham apa saja tantangan yang dihadapi oleh para terapisnya yang sebagian besar adalah perempuan di salon dan spa milik perusahaan Martha Tilaar. Ia tahu betul untuk menghadapi pelanggan butuh banyak upaya

Selama berkecimpung dalam bisnis keluarganya, Wulan tidak serta-merta memiliki jalan yang mulus sebagai seorang pebisnis perempuan. Ia banyak menghadapi tantangan sebagai ibu pekerja dan juga pemimpin perempuan. “Enggak semudah itu, karena tantangannya beda ya. Saya bukannya mengecilkan challenge ibu saya ya, sebab dia menciptakan sesuatu yang tidak ada jadi ada. Tapi anggapan, ‘Ah generasi kedua mah enak tinggal nerusin. It’s not easy. Sebab kita biar bagaimana pun harus menghidupi jiwa sang founder. Itu yang terus kita pelihara,” Wulan ini.

Read More
contoh pemimpin idola

Contoh Pemimpin Idola yang Bisa Dijadikan Panutan

Menjadi seorang pemimpin memang tidak mudah, namun tantangan yang dihadapi akan semakin besar bagi perempuan. Demi mencapai posisi strategis, banyak sekali hambatan yang dihadapi perempuan, mulai dari faktor budaya, sosial, hingga politik dan agama. 

Jangankan dalam dunia kerja, akses pendidikan pun masih terhambat dan pemikiran dan budaya patriarkal juga mencari pembenaran dalam nilai keagamaan yang berujung menghambat perempuan berkarier.

Jadilah Pemimpin Perempuan Idola Bagi Tim Kamu

Dari banyaknya tantangan yang dihadapi, ada juga perempuan yang berhasil menduduki posisi strategis di organisasi maupun perusahaan tempat mereka bekerja. Ketika mereka mencapai posisi strategis ini, mereka umumnya membantu karyawan perempuan mereka dengan kebijakan yang inklusif, bahkan membuat inisiatif di luar perusahaan mereka.

Baca Juga: 8 Cara Menjadi Pemimpin yang Baik dan Bijaksana dalam Perusahaan

Pemimpin perempuan seperti ini tidak hanya bisa ditemui di dunia bisnis, namun juga di dunia politik, sains, sampai hiburan. Banyak sekali pelajaran yang bisa diangkat dari kisah dan perjuangan mereka. Yuk, simak beberapa cerita dari mereka. 

Contoh Pemimpin Idola dalam Bidang Politik: Jacinda Ardern

contoh pemimpin idola dalam bidang politik

Contoh pemimpin yang menjadi idola yang akan kita bahas adalah Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Kate Laurell Ardern, yang juga merupakan pemimpin dari Partai Buruh. Setahun belakangan ini, nama Ardern menjadi perbincangan hangat  warga dunia sebab ia berhasil mengendalikan pandemi COVID-19 di negaranya berkat respons cepat dan cara berkomunikasi dengan rakyat dengan penuh empati. 

Lahir di Hamilton, Selandia Baru pada Juni 1980, Ardern memulai karier politiknya berkat perekrutan oleh bibinya, Marie Ardern yang sudah lebih dulu berkecimpung dalam dunia politik sebagai anggota Partai Buruh. 

Baca Juga: Perempuan dalam Politik Kantor, ‘Dos and Don’ts’ dari Pemimpin Perempuan

Saat ini Ardern sudah sukses menduduki posisi strategis di Selandia baru, dan beberapa kali ia mengeluarkan kebijakan yang inklusif, terutama untuk perempuan. Salah satunya adalah pengesahan RUU Amandemen Persamaan Gaji yang memastikan semua pekerja tidak dibayar lebih rendah karena gendernya. 

Peraturan ini tidak hanya memastikan tidak ada kesenjangan gaji di antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga memastikan pekerja perempuan dalam industri yang didominasi oleh perempuan menerima gaji yang sama dengan laki-laki dalam pekerjaan yang berbeda tetapi bernilai sama. 

Contoh Pemimpin Idola yang Berhasil Tangani Pandemi: Tsai Ing Wen

Contoh Pemimpin Idola yang Berhasil Tangani Pandemi

Seperti halnya Ardern, Tsai Ing Wen adalah pemimpin dunia yang menjadi buah bibir berkat keberhasilannya mengendalikan pandemi di Taiwan. Lahir di Taipei pada Agustus 1956, Tsai adalah anak bungsu dari 11 bersaudara dari ayah seorang pengusaha bengkel mobil dan ibu seorang ibu rumah tangga.

Tsai Ing Wen adalah perempuan pertama yang menjadi presiden di Taiwan. Dalam Pemilihan Presiden 2020, Tsai kembali memenangkan masa jabatan keduanya. Di saat yang sama, keterwakilan perempuan di pemerintah Taiwan mencapai rekor tertinggi, dengan 42 persen legislator adalah perempuan. Ini yang membuat Taiwan berada di peringkat teratas se-Asia. 

Ketika pandemi COVID-19 menghantam, Taiwan adalah salah satu negara yang secara sigap menekan kasus virus ini. Lewat kepemimpinan Tsai, Taiwan dengan cepat mengontrol perbatasan dan mengimplementasikan pembelajaran dari kasus wabah SARS pada 2002. 

Suzy Hutomo

Suzy Hutomo

Suzy Hutomo adalah CEO dan Executive Chairwoman The Body Shop Indonesia. Ia tidak hanya seorang pebisnis, namun juga pegiat isu lingkungan hidup dan kesetaraan gender. Sebagai brand yang mengedepankan prinsip feminisme, Suzy menerapkan kebijakan-kebijakan yang mendukung karyawan perempuannya untuk mengembangkan kariernya. Selain yang mendasar seperti ruang laktasi dan izin saat anak sakit, kebijakan tersebut termasuk larangan untuk melakukan rapat malam hari agar semua karyawan memiliki waktu untuk keluarga. 

Baca Juga: Jadi Perempuan Pemimpin di Kampus Bantu Persiapkan Diri Di Dunia Kerja

Kami sedang dalam proses tanda tangan dengan UN Women, ada dokumen-dokumen tentang kebijakan untuk perempuan, saat ini sedang kita proses untuk menetapkan kebijakan yang lebih formal untuk memastikan ada kesetaraan gender di dalam perusahaan kita,” ujar Suzy pada Magdalene dalam podcast Magdalene’s Mind.

Risa E. Rustam

kepemimpinan perempuan

Risa Effenita Rustam adalah Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia salah satu dari sedikit perempuan yang menjabat posisi strategis dan tinggi dalam industri jasa keuangan di Indonesia.

Memiliki pengalaman panjang dalam sektor ini, perempuan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada ini sudah merasakan beragam tantangan yang dihadapi sebagai pekerja perempuan dalam industri ini.

Menurut Risa, sangat penting bagi perusahaan untuk mengedepankan keberagaman dan inklusivitas, serta memastikan agar semua karyawan mendapat akses yang setara terhadap kesempatan yang ditawarkan perusahaan.

Baca Juga: Apa Itu Kepemimpinan Feminin Serta Apa Manfaatnya

Selain itu, Risa juga memastikan agar perusahaan juga mendukung karyawan-karyawannya dengan menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung seperti  daycare, dan layanan kesehatan mental.

Azizah Assatari

Azizah Assatari

Dalam podcast  FTW Media garapan Magdalene, Pendiri dan CEO Lentera Nusantara Azizah Assattari berbagi pengalamannya mendapatkan perlakuan seksis selama merintis karier di dunia pengembangan game.

Ia bercerita bagaimana saat ia berkuliah di Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB, ia dianggap kurang kompeten dibandingkan teman-teman yang laki-laki.

“Aku sampai rela part time di sebuah perusahaan game untuk tugas kelompok. Setelah itu aku juga mengajarkan teman-teman laki-laki yang lain. Pada akhirnya mereka yang dapat A sedangkan aku B. Alasannya karena mereka enggak percaya aku yang bikin,” kata Azizah dalam wawancara bersama Magdalene.

Namun, pengalaman-pengalaman tersebut membuat Azizah pantang menyerah. Ia bahkan mendorong adik-adik kelasnya yang perempuan untuk masuk ke jurusan ini, karena ia percaya bahwa perempuan juga bisa.

Ines Atmosukarto

Dr. Ines Atmosukarto contoh pemimpin idola

Dalam wawancara dengan podcast Magdalene’s Mind, Doktor Ines Atmosukarto menceritakan bagaimana tantangan perempuan ilmuwan dalam meniti karier di bidang sains dan teknologi. Ines adalah CEO Lipotek Pty, Ltd, perusahaan rintisan di bidang bioteknologi yang berpusat di Canberra, Australia.

Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi oleh pekerja perempuan dalam bidang STEM adalah beban ganda yang mereka emban sebagai ibu, istri, dan juga seorang pekerja. Karenanya, ia mengatakan sangat penting bagi perusahaan untuk menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung para ilmuwan perempuan ini. 

Tidak hanya itu, sebagai seorang ilmuwan yang kini juga aktif meningkatkan kesadaran masyarakat tentang vaksin lewat akun media sosialnya, Ines juga berpesan pada rekan ilmuwan lainnya untuk selalu bersikap rendah hati.

Baca Juga: Tidak Pede Jadi Pemimpin? Simak Podcast Indonesia ini

“Kita harus menyadari bahwa kita enggak tahu segalanya dan kita bisa saja salah. Kita juga perlu belajar dari ilmuwan sosial. Peneliti ilmu pasti harus juga bersinergi dengan antropolog serta ilmuwan sosial untuk bisa menemukan cara dalam mengedukasi masyarakat,” kata Ines.

Read More
tips mendapatkan work life balance

7 Tips Menjaga ‘Work-Life Balance’ Buat ‘Fresh Graduate’

Tahun ini kita sudah memasuki tahun kedua hidup dalam kondisi pandemi. Masih banyak kantor yang melakukan kerja jarak jauh atau work from home (WFH) dan sebagian juga sudah ada yang kembali melakukan aktivitas work from office, mudah-mudahan dengan protokol kesehatan yang ketat. Sepertinya kita tidak bisa memungkiri bahwa dunia ini enggak bakal kembali lagi seperti tahun 2019, ini fakta yang masih sulit banget kita hadapi. 

Di awal pandemi tahun lalu kita memang masih sangat sulit untuk beradaptasi dengan gaya hidup baru kita, harus terjebak di rumah, tidak bisa traveling ketika liburan, tidak bisa nongkrong bareng teman-teman dan lain sebagainya. Sebagian dari kita bahkan mungkin mengalami cabin fever dan membuat kesehatan mental kita menurun dan membuat jenuh bekerja akibat terlalu lama tidak keluar rumah. 

Apa itu Work Life Balance

Secara singkat work life balance merupakan sebuah kondisi di mana individu memprioritaskan tuntutan karier dan tuntutan kehidupan pribadinya secara setara. Memang sekilas seperti mustahil dilakukan tetapi, sangat penting bagi kita untuk menjaga agar kita tidak berlebihan dalam bekerja dan berakhir sakit-sakitan. 

Baca Juga: Tips Usaha Sendiri dari Pebisnis Perempuan Sukses Cynthia Tenggara

Bagi seorang fresh graduate yang belum memiliki pengalaman bekerja, penting bagi kamu untuk mulai membaca bagaimana kondisi kerja industri yang akan kamu masuki serta bagaimana untuk tetap sehat jasmani dan mental saat bekerja.  

Kamu Perlu Mengatur Ekspektasi Kamu

Bagi beberapa orang kerja secara remot ini surga banget, tetapi bagi sebagian orang bekerja remot malah membuat mereka tertekan dan malah tidak se-produktif sebelum pandemi. 

Saya pernah berada di kondisi tersebut dan hal ini membuat saya merasa sangat bersalah dan bersedih. Akan tetapi, saya kembali mengingat bahwa saat ini kondisinya berbeda, dan saya perlu mengatur ekspektasi saya serta memaafkan diri saya. 

Untuk kamu yang baru memasuki dunia kerja pasti akan berbeda pengalamannya. Maka dari itu ada baiknya kamu pun juga mengatur pencapaianmu. Setiap hari kamu juga perlu membuat to do list agar kamu bisa melihat apa saja yang akan dan sudah kamu kerjakan hari itu. 

Jika Kamu Bekerja dari Rumah Buatlah Tempat Khusus untuk Bekerja

Nah, bagi kamu yang baru saja masuk ke Nia kerja dan harus bekerja dari rumah, kamu perlu banget memperhatikan hal ini. Sebaiknya, kamu buat sudut khusus untuk bekerja agar kamu bisa memisahkan antara waktu bekerja dan waktu untuk berisitrahat. Jika kamu masih tinggal dengan orang tuamua, pastikan bahwa orang rumah tahu bahwa sudut tersebut tempat kamu bekerja. 

Baca Juga: 12 Cara Hilangkan Jenuh dalam Bekerja Agar Tetap Produktif

Ciptakan Penanda Kapan Kamu Mulai Bekerja dan Berhenti Bekerja 

Karena bekerja dari rumah, terkadang kita enggak sadar setelah bangun tidur kita langsung cek whatsapp kantor lalu buru-buru buka laptop. Ini enggak baik loh, sebab kita jadi merasa kalau kita itu non-stop bekerja tanpa ada istirahat sama sekali.

Kamu perlu memastikan untuk membuat jeda-jeda tersebut, usahakan jika istirahat makan siang, tinggalkan saja ponsel-mu dan makanlah dengan khidmat. Jangan juga makan siang di depan laptop, tentunya jadi enggak nikmat. Memiliki jeda 10-15 menit dari pekerjaan dapat membuat kamu merasa refreshed dan siap untuk kembali produktif.

Ciptakan Rutinitas Baru Supaya Terbentuknya Work Life Balance

Membuat rutinitas baru dan menjadwalkan apa saja yang akan kamu lakukan dalam sehari itu, bisa angket loh membantu kamu dalam bekerja. Dengan kedua hal ini kita merasa punya kontrol dalam hidup kita dan tidak hilang arah ketika bekerja. Tetapi yang perlu kamu ingat adalah buatlah jadwalmu dengan sedikit fleksibilitas. 

Ciptakan Work Life Balance dengan Berbaik Hati pada Diri Anda

Bagi kamu yang masih fresh graduate mungkin kondisi kerja seperti ini merupakan hal yang tidak pernah kamu bayangkan. Kamu merasa dengan bekerja di rumah malah membuatmu bekerja terus menerus dan tidak ada rekan kerja yang bisa kamu ajak ngobrol. Hal ini membuat kesehatan mentalmu menurun bahkan mengalami burnout

Baca Juga: Mahalnya Biaya Ibu Bekerja, Sebagian Putuskan ‘Resign’

Jika kamu merasa seperti ini, kamu perlu menyadari bahwa penting untuk kamu memantau emosi dan kondisi fisikmu dan jangan lupa untuk melakukan self care dengan cara menonton filmkah, mendengarkan musik, atau membaca komik atau pun novel. Akan tetapi, jika hal ini tetap tidak mempan dan kamu masih mengalami burnout, sebaiknya kamu perlu mencari bantuan profesional dan berkonsultasi ke psikolog.

Atur Pola Makan dan Berolahraga 

Poin ini masih berhubungan untuk menjaga kesehatan jasmani dan mental kita loh. Dengan makan yang teratur juga sehat serta mengurangi snack ini bisa membuat kamu lebih sehat dan hormonmu menjadi teratur.

Baca Juga: Kenyamanan, Kesempatan Kerja bagi Perempuan: Kunci Adaptasi Perusahaan Era Pandemi

Ada beberapa makanan dan minuman yang bis memicu perasaan cemas dan gelisah misalnya, minuman yang mengandung kafein. Selain itu, dengan berolahraga secara teratur kita juga dapat membuat peredaran darah kita lebih lancar.  

Kurangi Penggunaan Media Sosial 

Tips terakhir untuk mendapatkan work life balance tentunya berkaitan dengan digital well being kamu. Karena pandemi, aktivitas digital orang semakin meningkat apalagi dengan adanya work from home, ini yang mbikin kita semakin susah lepas dari gadget. Mungkin sebagian dari kita menganggap main hape dikala istirahat itu merupakan hiburan, tetapi ini enggak baik loh. 

Baca Juga: 5 Tips Jadi HRD Profesional untuk Lingkungan Kerja Setara

Alih-alih merasa segar, ketika kita melihat media sosial kita yang bising banget apalagi kalau kamu mengikuti akun-akun yang suka ribut dan julid, wah itu sih malah bikin kita kembali emosi. Daripada kesehatan mental kita terganggu, lebih baik kita puasa medsos dulu deh.

Sebaiknya atur juga berapa lama kamu membuka setiap media sosial kamu  agar kamu lebih sadar ketika membuka medsos tersebut. daripada bermain ponsel dan melihat medsos, mungkin kamu bisa membaca buku atau tidur ayam  10 sampai 15 menit saja untuk mengistirahatkan mata sejenak.  Nah itu beberapa tips untuk mendapatkan work life balance atau keseimbangan kehidupan kerja yang bisa kalian coba terapkan untuk sekarang ini. Intinya, apa pun yang terlalu berlebihan itu tidaklah baik, termasuk bekerja terlalu keras.

Read More
Rekomendasi Novel untuk perempuan pekerja

5 Rekomendasi Novel Terbaik Untuk Perempuan Pekerja

Banyak sekali tantangan yang dihadapi perempuan pekerja, mulai dari urusan pekerjaan, keluarga, percintaan, berbagi tugas domestik dan tempat kerja, stigma sebagai lajang, pertanyaan kapan menikah/punya anak/punya anak kedua, dan seterusnya. 

Beginilah situasi dan kondisi masyarakat patriarkal, membuat tantangan perempuan pekerja lebih besar daripada laki-laki, terutama karena adanya beban berlipat. Masyarakat cenderung menuntut perempuan menjadi seorang ibu dan mengurus rumah tangga  dengan alasan itu adalah kodrat seorang perempuan. Ini yang membuat banyak perempuan kesulitan untuk mengembangkan kariernya di kantor. 

Tantangan menjadi Perempuan Pekerja  

Selain dari lingkungan keluarga dan masyarakat, saat ini lingkungan kerja masih belum terlalu ramah terhadap pekerja perempuan. Ketiadaan fasilitas pendukung untuk ibu bekerja, kekerasan seksual di tempat kerja dan lain-lain, membuat perempuan sulit untuk mencapai posisi-posisi strategis perusahaan. 

Baca Juga: Ketimpangan Gender dan Kerentanan Perempuan di Sektor Pertambangan

Isu-isu terkait tantangan yang dihadapi perempuan pekerja sudah banyak menjadi tema buku fiksi dari para perempuan penulis di banyak negara. Menariknya (atau mirisnya), hampir semua mengalami tantangan yang sama dengan konteks yang berbeda. 

Berikut adalah beberapa novel yang kami rekomendasikan, yang ditulis oleh perempuan Asia atau keturunan Asia, dan membahas tentang perempuan pekerja. Novel-novel ini tidak cuma bercerita tentang perempuan pekerja kantoran, ada juga beberapa cerita yang berfokus pada individu yang harus memilih antara melanjutkan usaha orang tua atau kembali hidup sendiri. 

Rekomendasi Novel terbaik Goodbye, Vitamin dari Rachel Khong

Rekomendasi Novel terbaik Goodbye, Vitamin dari Rachel Khong

Ketika Ruth Young memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya untuk membantu mengurus ayahnya yang terkena penyakit Alzheimer, keputusan tersebut juga bagian dari usahanya untuk lari dari hidupnya yang sedang berantakan karena diselingkuhi tunangan dan banyak kendala di tempat kerja. 

Baca Juga: 7 Rekomendasi Buku Motivasi untuk Perempuan Pekerja

Ibunya kemudian memohon Ruth untuk menetap selama satu tahun di rumah mereka, untuk membantu merawat sang ayah yang masih bersikeras mengatakan kondisinya baik-baik saja. Ruth dan ibunya pun memulai mencari pengobatan yang cocok untuk ayahnya. Walaupun temanya kelihatannya agak berat, membahas Alzheimer, namun banyak sindiran lucu dan momen-momen menarik yang dikemas seperti sebuah diari, membuat ceritanya lebih ringan dan buku ini dapat dibaca dengan cepat. 

Strange Weather in Tokyo dari penulis Jepang Hiromi Kawakami

Rekomendasi novel Strange Weather in Tokyo

Tsukiko adalah seorang perempuan pekerja berusia 30an yang tidak memiliki teman dan jarang mengunjungi keluarganya. Dia juga sudah lelah menjalani hubungan romantis dengan laki-laki karena selalu berakhir kandas.

Suatu hari, saat sedang nongkrong sendirian di sebuah bar sake, ia bertemu dengan mantan guru SMA-nya, yang ia lupa namanya. Tsukiko pun memanggil lelaki itu dengan sebutan “sensei” (guru), dan obrolan ringan di bar berlanjut menjadi pertemuan rutin setelahnya. Ditulis dengan lancar dan menyentuh, ini adalah kisah cinta klasik di tengah modernitas Jepang. 

Rekomendasi Novel Tentang Perempuan Penulis: “Days of Distraction” oleh Alexandra Chang

Days of Distraction oleh Alexandra Chang

Buat kamu yang bekerja di perusahaan teknologi rintisan pasti akan sangat terhubung dengan karakter protagonis utama dalam Days of Distraction karya Alexandra Chang. Buku ini mengisahkan seorang perempuan berusia 24 tahun yang bekerja sebagai seorang penulis di sebuah penerbitan terkenal yang membahas soal teknologi. Ia seorang karyawan yang berdedikasi, namun ketika ia meminta kenaikan gaji, perusahaan mengabaikannya. 

Baca Juga: Cerita Cinta Toksik Dalam Fiksi: Yay or Nay?

Ketika pacarnya  mengatakan akan pindah karena ingin melanjutkan sekolahnya, ia menemukan jalan untuk  berhenti dan lari dari kondisi tersebut. Pindah ke sebuah daerah yang baru seharusnya menjadi sebuah gestur komitmen dan jalan untuk membentuk ulang dirinya. Namun ternyata banyak tantangan yang dia hadapi, terutama terkait identitasnya sebagai perempuan keturunan Asia di Amerika.

Chemistry oleh Weike Wang

Novel Chemistry oleh Weike Wang

Rekomendasi Novel yang ini membahas perempuan yang bekerja di bidang STEM. Protagonis utama dalam novel Chemistry ini adalan perempuan pekerja keturunan Cina, yang sedang menjalani pendidikan S3 di bidang Kimia. Hidupnya terkesan sempurna—otak brilian, orang tua yang bangga dengan pencapaiannya, serta pacar yang sangat mendukung kariernya baru saja melamarnya.

Tapi alih-alih merasa penuh harap, ia tertekan dengan kehidupan pekerjaannya dan merasa bimbang menjawab permintaan pacarnya untuk menikah.

Soy Sauce for Beginners oleh Kirstin Chen 

Soy Sauce for Beginners oleh Kirstin Chen

Gretchen Lin adalah perempuan berusia 30 tahun yang memutuskan untuk meninggalkan San Francisco menyusul pernikahannya yang kandas, dan kembali ke rumah orang tuanya di Singapura. Ia kemudian menghadapi dua masalah besar yang sudah lama ia hindari yaitu, ibunya yang kecanduan alkohol dan intrik dalam bisnis kecap yang dijalankan sang ayah.

Baca Juga: Aktivis perempuan dan penulis novel “Perempuan di Titik Nol”

Gretchen pun dihadapkan antara ambisi personalnya dan tanggung jawabnya sebagai seorang anak. Rekomendasi novel terbaik ini menggambarkan tentang pengorbanan seorang perempuan yang sedang mencari tempat yang ia sebut “rumah”. Sebuah cerita tentang pencinta kuliner yang akan memberikan apresiasi yang tulus kepada pembaca atas kesetiaan keluarga, serta awal yang baru. 

Read More
Cara Jadi HRD Profesional

5 Tips Jadi HRD Profesional untuk Lingkungan Kerja Setara

Menciptakan lingkungan kerja yang setara, terutama dalam hal gender, memerlukan dukungan semua elemen tempat kerja. Salah satu pihak yang menjadi aktor utama pencapaian kesetaraan gender di tempat kerja adalah adanya Human Resources Department (HRD) alias departemen sumber daya manusia yang profesional.

Tugas HRD ini beragam, mulai dari, perencanaan sumber daya manusia, rekrutmen dan seleksi, pengembangan karyawan, manajemen performa, penggajian, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Bentuk Diskriminasi Gender di Tempat Kerja dan Cara Mengatasinya

Direktur Eksekutif Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), Maya Juwita mengatakan, banyak sekali keuntungan untuk perusahaan jika perusahaan mulai memperbaiki kebijakannya agar lebih ramah terhadap pekerja perempuan. Ia mengakui memang masih banyak perusahaan menganggap memberikan akses lebih untuk perempuan di tempat kerja adalah biaya, padahal itu justru akan memberi perusahaan lebih banyak keuntungan. 

“Memberikan cuti melahirkan enam bulan, misalnya. Waduh, [mereka pikir] itu nanti cost-nya gimana? Padahal, kalau mereka bikin regression analysis aja, enggak semua perempuan dalam perusahaan itu akan melahirkan lagi. Dan belum tentu ada yang  berencana mau melahirkan, atau enggak juga dalam waktu yang bersamaan semuanya cuti melahirkan,” kata Maya kepada Magdalene dalam acara BiSiK Kamis di Instagram bertema “Women on Top: Tantangan dan Peluang“. 

Fakta lainnya, kesetaraan di tempat kerja juga membantu perusahaan untuk bertahan menghadapi pandemi. Legal Counsel Citi Indonesia serta Co-Chairwoman Citi Indonesia Women’s Network (IWN), Vera Sihombing mengatakan salah satu kunci agar perusahaan bertahan di tengah pandemi adalah mewujudkan  kebijakan serta kegiatan yang meningkatkan profesionalitas pekerja perempuan. 

Baca Juga: Berkaca dari Australia: Cara Menangani Pelecehan Seksual di Tempat Kerja

“Perempuan merupakan pilar kemajuan perusahaan. Jadi perusahaan harus memberikan mereka kesempatan aktualisasi diri untuk mencapai pencapaian yang maksimal di kantor,” kata Vera.

Agar lingkungan kerja lebih setara gender, kami memiliki tips jitu buat kamu yang bekerja sebagai HRD profesional di perusahaanmu, berikut ini.

1. HRD Profesional Merekrut Karyawan Baru dengan Prinsip Kesetaraan Gender

Beberapa kali kita melihat iklan lowongan kerja dengan syarat-syarat yang tidak relevan dan seksis, karena kaitannya dengan fisik calon pekerja, misalnya berpenampilan menarik, berusia tertentu, tinggi badan sekian, dan sebagainya. Padahal penampilan tidak ada sangkut pautnya dengan kemampuan seseorang dalam sebuah bidang. 

Baca Juga: Kantor Berbudaya Maskulin Tambah Beban bagi Pekerja Perempuan

Sebaiknya tidak menaruh hal-hal yang berkaitan dengan penampilan untuk syarat calon pelamar. Selain itu, di dalam proses rekrutmen, sebelum daftar para calon diajukan ke manajemen, sebaiknya nama dan gender disembunyikan dulu. Hal ini sangat membantu agar manajemen terhindar dari bias implisit. Pada tahap wawancara, pastikan ada keragaman opini di dalam ruangan. Dapatkan opini kedua dan ketiga. 

2. HRD Profesional Perlu Menerapkan Kebijakan yang Setara dan Adil 

Staf HRD profesional perlu berlaku adil dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat. Apa pun latar belakang karyawan dan gender karyawannya, HRD profesional harus merangkul perbedaan sebab tenaga kerja yang lebih beragam juga lebih menguntungkan. 

Kita juga perlu menanamkan pemahaman bahwa kebijakan yang adil gender akan menguntungkan kedua belah pihak baik pihak karyawan laki-laki maupun perempuan. Adakan juga pelatihan tentang kesetaraan gender di tempat kerja supaya cara pandangnya berubah.  

3. Tanamkan Keutamaan Work-Life Balance pada Karyawan

Bekerja memang sebuah kewajiban, tapi jangan sampai lupa istirahat. Para staf HRD profesional perlu menanamkan prinsip work-life balance kepada seluruh karyawan termasuk kepala-kepala divisi. Ingatkan mereka untuk saling menghormati waktu istirahat masing-masing apalagi jika sedang cuti. 

Baca Juga: 12 Cara Hilangkan Jenuh dalam Bekerja Agar Tetap Produktif

Selain itu, HRD pun perlu jeli bahwa kondisi fisik dan mental antara karyawan perempuan dan laki-laki berbeda. Utamakan juga melihat permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi dengan pendekatan dan perspektif gender, sebab sering kali permasalahan yang dihadapi tertutup oleh lapisan ketidaksetaraan yang dihadapi oleh perempuan.  

4. Buat Kebijakan dan SOP yang Ketat dan Efektif Terhadap Pelecehan dan Pelanggaran di Tempat Kerja

Ini masih menjadi pekerjaan rumah bersama di berbagai perusahaan, sebab pelecehan seksual di perusahaan masih luput dalam pembicaraan. Sebagai HRD profesional, kita perlu membicarakan isu ini dengan serius. 

Dalam riset yang dilakukan oleh Never Okay Project di tahun 2018, hanya 4 persen perempuan pekerja yang tidak pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja. Bahkan, sebanyak 40 persen responden pernah mengalami pelecehan seksual secara fisik di tempat kerjanya. Temuan lain dari riset tersebut sebagian besar pelakunya merupakan atasan atau rekan kerja senior. 

Angka tersebut merupakan puncak gunung es dari banyaknya kasus yang terjadi. Sering kali korban terhambat untuk melapor sebab tidak adanya standard operational procedure (SOP) khusus yang menangani isu kekerasan seksual. Jika pun ada, SOP tersebut masih belum memihak kepada korban. 

Baca Juga: Apa Hukum Perempuan Bekerja di dalam Islam?

Karenanya, HRD profesional perlu membuat kebijakan khusus terkait dengan isu kekerasan seksual, dan yang terpenting kebijakan ini berpihak kepada korban. 

5. Dorong Kepemimpinan Perempuan 

Penting bagi HRD profesional untuk melihat apakah perusahaan sudah memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk mencapai pucuk kepemimpinan. Seperti yang kita tahu, jumlah pemimpin perempuan masih minim disebabkan oleh banyak tantangan salah satunya, beban ganda yang mereka emban. 

Untuk membantu mereka mencapai pucuk kepemimpinan perusahaan perlu memberikan dukungan terhadap perempuan, seperti misalnya waktu kerja yang fleksibel, dan layanan penitipan anak.

Read More
perempuan dalam iklan

Stereotip Gender dalam Periklanan Indonesia dan Global

Beberapa tahun lalu, ada satu iklan cat merek lokal yang membuat dahi saya berkerut. Iklan tersebut memperlihatkan seorang perempuan menggunakan gaun putih sedang berjalan di taman dan memutuskan untuk duduk di sebuah kursi taman biru.

Sesaat setelah duduk, seorang tukang cat langsung berteriak “Awas cat basah” dan si perempuan langsung buru-buru mengangkat roknya hingga pahanya tersibak dan kamera menyoroti daerah pahanya.

Iklan ini hanya salah satu contoh yang memperlihatkan bahwa perempuan masih diseksualisasi dalam industri periklanan.

Isu dalam periklanan Indonesia dan global tidak hanya berhenti pada seksualisasi perempuan. Ada juga peran-peran gender kaku dalam skenario iklan yang memperkuat stereotip gender. Salah satu contoh yang paling legendaris adalah pada gambar kemasan kaleng biskuit Khong Guan, yang menggambarkan ibu beserta anak-anaknya yang sedang makan bersama ini banyak mengundang pertanyaan, “Loh, bapaknya ke mana?”.

Baca Juga: Nangis atau Bengis: Stereotip Perempuan di Sinetron

Ilustrator gambar kaleng biskuit yang melegenda itu, Bernadus Prasodjo, mengatakan kepada media bahwa ia hanya mengikuti arahan dari pihak Khong Guan untuk gambar itu. Tapi ia punya teori sendiri: Itu cara Khong Guan untuk memengaruhi ibu rumah tangga agar membeli produk mereka. Jadi, karakter yang penting dalam ilustrasi tersebut adalah sang ibu, karena toh yang belanja ibu.

Dikutip dari laman Campaign setidaknya ada enam stereotip gender terhadap perempuan yang sering kali ditemukan dalam periklanan.

  1. Domestik obsessive: stereotip yang menggambarkan perempuan sangat bersemangat penuh energi ketika mengerjakan pekerjaan domestik yang biasanya berhubungan dengan membersihkan rumah.

  2. Selfless nurturer: stereotip karakter perempuan yang digambarkan mengutamakan keluarga ketimbang dirinya, biasanya karakter tersebut digambarkan sebagai seorang ibu.

  3. Sex object: Ini seperti yang terjadi pada iklan cat di awal, bagaimana karakter perempuan digambarkan sangat menggoda dengan atribut-atribut sensual.

  4. Unattainable goddes: perempuan digambarkan sangat sempurna, tidak ada kekurangan sama sekali secara fisik, sangat ideal tapi tidak realistis.
     
  5. The fraught juggler: stereotip karakter perempuan, khususnya ibu, yang digambarkan super sibuk dengan banyak pekerjaan yang ia kerjakan dari domestik hingga publik, dan ia terlihat tidak bahagia.

  6. The bit part: karakter perempuan hanya dijadikan peran pendukung karakter laki-laki.

Potret Laki-Laki yang Gagah dalam Iklan

Lalu bagaimana dengan laki-laki dalam skenario-skenario iklan? Bapak di kaleng Khong Guan menghilang entah ke mana, dan biasanya dalam iklan pembersih pakaian pun bapak juga absen. Apakah memang skenario tersebut masih relevan dalam situasi sekarang?  

Dalam podcast FTW Media episode “Stereotip Perempuan dalam Iklan”, Fauzan, dari komunitas Aliansi Laki-Laki Baru (ALB),  sebuah gerakan laki-laki untuk kesetaraan gender, mengatakan hingga saat ini ia masih belum melihat perubahan yang signifikan dalam iklan.

Baca Juga: Guru Perlu Hapus Stereotip Gender untuk Dorong Kepemimpinan Perempuan

“Meski terkadang ada beberapa konten menggambarkan perempuan di ruang publik seperti di perkantoran dan sekor bisnis, tetap saja mereka belum banyak digambarkan sebagai pembuat keputusan,” ujar Fauzan.

Ia menambahkan, laki-laki yang diposisikan di ranah domestik, mereka hanya digambarkan sebagai pembantu ibu atau bahkan cuma menonton televisi atau berkegiatan lain sementara ibu memasak.

“Pesan-pesan yang disampaikan dalam visual seperti ini bisa melanggengkan pemikiran patriarkal dalam masyarakat, dan sebetulnya sudah tidak relevan dengan keadaan seperti ini. karena pada kenyataannya peran laki-laki dan perempuan itu bisa dipertukarkan,” kata Fauzan.

Mengapa ini Terus Terjadi

Jika produsen dan pembuat iklan selalu berdalih bahwa iklan yang mereka buat sesuai dengan keinginan pasar, secara pribadi Fauzan merasa tidak terwakili oleh iklan-iklan seperti itu.

“Nyatanya yang ditampilkan dalam iklan tersebut jauh dari realitas yang ada, sebab peran laki-laki dan perempuan sangat cair banget dan bisa saling mengisi dan bisa berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.

Sebagai konsumen, Fauzan mengatakan bahwa iklan yang masih menggunakan skenario yang stereotip gender seperti ini juga bisa mempengaruhi keputusan konsumen secara sadar atau tidak sadar.

Baca Juga: Tokoh Perempuan Disney Masih Terjebak Stereotip Negatif Perempuan Pemimpin

“Iklan yang seperti itu bisa menimbulkan pengelompokan produk berdasarkan jenis kelaminnya misalnya, kebutuhan dapur itu yang tahu hanya perempuan, lalu iklan susu anak pun juga sama diperlihatkan hanya ibu saja yang paham. Ketika laki-laki ingin mencari referensi  soal produk-produk tersebut, ya dia jadi bingung sendiri,” katanya.

Liestianingsih dari Pusat Penelitian Studi Wanita Lembaga Penelitian Universitas Airlangga, mengatakan bahwa narasi-narasi penuh stereotip gender ini seperti lingkaran setan yang agak sulit untuk diputus sebab terkadang stereotip tersebut juga datang dari pihak produsen.

“Agak sulit untuk keluar dari konstruksi seperti ini. produsen dan biro iklan perlu melihat lagi  sekarang di masyarakat sudah ada perubahan loh. Laki-laki ada juga yang mengerjakan pekerjaan domestik dan perempuan yang bekerja. Ini kan menjadi menarik  ketika dihadirkan dalam sebuah iklan. Dan ini butuh waktu yang panjang untuk membongkar cara pandang seperti ini,” ujarnya.

Walaupun Kecil Perubahan Tetap Ada


Meski pekerjaan rumahnya masih sangat banyak, beberapa produsen dan biro iklan sudah memulai melakukan perubahan sedikit demi sedikit. Salah satu iklan yang viral dibicarakan masyarakat adalah iklan kecap ABC dengan kampanyenya “Suami Sejati” yang menggambarkan para suami mulai memasak di dapur.

Eldon D’Cruz, Planning Lead dari  Eldon D’Cruz, Planning Lead VML&R, agensi pemasaran digital yang bekerja bersama kecap ABC dalam menggarap kampanye tersebut, mengatakan bahwa iklan yang progresif seperti kampanye ABC tadi lebih berarti bagi masyarakat sebab iklan tersebut bermakna. Hal ini secara otomatis menjadi pembeda bagi Band yang bersangkutan yang pada akhirnya berpengaruh juga pada market share serta penjualan.

Baca Juga: Pelecehan Seksual di Industri Film dan Kenapa Perlu Lebih Banyak Pekerja Film Perempuan

Sebetulnya sudah ada panduan bagi pengiklan dalam membuat iklan yang non-stereotip. Di Indonesia, panduan tersebut sudah tertuang dalam bentuk Etika Pariwara Indonesia yang dibuat oleh  Dewan Periklanan Indonesia yang anggotanya termasuk perusahaan pengiklan, perusahaan periklanan atau agensi, dan media periklanan.

RTS Masli, Mantan Direktur Eksekutif Dewan Periklanan Indonesia sekaligus Ketua Umum Dewan Perguruan Periklanan Indonesia, aturan itu termasuk idak boleh mempertentangkan atau membiaskan kesetaraan hak gender dalam segala aspek kehidupan sehari-hari.

“Contohnya nih ya, dari segi kewenangan, laki-laki dan perempuan memiliki kewenangan yang setara,” kata Masli.

Read More
Nawal El Saadawi tutup usia

Nawal El Saadawi Aktivis Perempuan Legendaris dari Mesir

Aktivis perempuan terkemuka dari Mesir, Nawal El Saadawi, yang buah pikirannya telah menginspirasi dan memengaruhi banyak feminis di dunia, tutup usia pada Minggu, 21 Maret 2021. Semasa hidupnya, ia mengabdikan diri pada perjuangan membela hak perempuan, selain sebagai psikiater dan ahli kesehatan masyarakat.  

Baca Juga: Maria Ulfah Santoso, Sosok Menteri Perempuan Pertama di Indonesia

Ia banyak sekali menulis tentang isu perempuan dalam Islam dan sangat menaruh perhatian terhadap praktik sunat perempuan dalam masyarakat Mesir, yang juga ia alami. 

El Saadawi adalah penulis produktif, telah menghasilkan lebih dari 55 buku yang mengangkat isu gender dalam masyarakat yang konservatif. Bukunya yang paling berpengaruh dan telah diterjemahkan ke banyak bahasa di dunia adalah Women at Point Zero (Perempuan di Titik Nol) pada 1975.

Profil Penulis Feminis Mesir Nawal El Saadawi 

Nawal El Saadawi lahir pada 27 Oktober 1931 di sebuah desa bernama Kafr Tahla dan merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara. 

Pada tahun 1955 ia lulus sebagai dokter dari Universitas Kairo. Di tahun itu juga El Saadawi menikah dengan Ahmad Helmi yang ia kenal saat kuliah. Pernikahan tersebut dikaruniai seorang anak bernama Mona Helmi. 

El Saadawi tak hanya mendedikasikan pengetahuannya di dalam dunia kedokteran untuk pelayanan kesehatan, namun juga untuk menyoroti masalah kesehatan perempuan secara fisik dan psikologis yang disebabkan oleh budaya opresif yang mereka terima, seperti patriarki dan opresi kelas. 

Baca Juga: Nyai Masriyah Amva, Ulama Perempuan Inspiratif dari Cirebon

Ia mengamati secara langsung bagaimana opresi terhadap perempuan sangat memengaruhi kesehatan fisik dan psikologis mereka saat ia membuka praktik di kampung halamannya. Saat itu, salah seorang pasiennya mengalami kekerasan domestik dan ia mencoba untuk melindungi pasiennya tersebut. Setelah kejadian tersebut ia dipanggil pulang ke Kairo dan menjadi seorang direktur di Kementerian Kesehatan Masyarakat. 

Merupakan Penulis Kontroversial mengenai Feminisme

El Saadawi punya ciri feminisme yang sangat terbuka. Dia menulis soal topik-topik kontroversial di Mesir, termasuk isu poligami serta sunat pada perempuan.

Karena kritis pada pemerintah, ia sempat dipenjara, dan juga mengalami persekusi baik dari pihak pemerintah dan kelompok Islamis. Itu sebabnya pada tahun 1993, El Saadawi menempuh pendidikan di Universitas Duke, North Carolina, Amerika Serikat, dan kemudian menjadi pengajar di sana selama tiga tahun. Ia juga menjadi pengajar di University of Washington. 

Tidak hanya di dua universitas itu saja, Saadawi juga memegang posisi seperti Universitas Kairo, Harvard, Yale, Columbia, Sorbonne, dan universitas bergengsi lainnya. 

Baca Juga: 10+ Jurnalis Perempuan Hebat dari Berbagai Belahan Dunia

Ia kemudian kembali ke Mesir dan memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi presiden pada tahun 2005. Tetapi rencana itu batal, terhalang oleh persyaratan yang super ketat untuk calon-calon baru. 

Buku-bukunya yang kritis sudah berhasil diterbitkan ke dalam banyak bahasa dan juga menjadi rujukan untuk para feminis Barat, termasuk kawannya, Gloria Steinem. Ia juga mengkritik kebijakan yang dianut para pemimpin negara seperti penyerangan mantan Presiden AS, George W. Bush ke Irak dan Afghanistan.

Karier Nawal El Saadawi sebagai Penulis dan Aktivis Pembela Hak Perempuan

Saat bekerja di Kementerian Kesehatan, pada tahun 1972, Saadawi menerbitkan sebuah buku berjudul Women and Sex yang mengonfrontasi serta mengontekstualisasi berbagai agresi terhadap tubuh perempuan, salah satunya praktik sunat perempuan. Buku ini menjadi salah satu fondasi gerakan feminisme gelombang kedua. Namun buku ini membuat Saadawi dipecat dari Kementerian Kesehatan.

Baca Juga: Sonia Sotomayor Hakim Agung Perempuan dalam Pelantikan Presiden Amerika Joe Biden dan Kamala Harris

Setelah ia kehilangan posisinya di Kementerian dan Asosiasi Kesehatan Mesir, ia bekerja di Fakultas Kedokteran Ain Shams University pada 1973 hingga 1976. Pada 1979 hingga 1980, ia ditunjuk menjadi Penasihat PBB untuk program berkaitan dengan isu perempuan di Afrika dan Timur Tengah.

Tantangan Saadawi sebagai Aktivis Pembela Hak Perempuan 

Dari banyak advokasi yang ia jalankan dan sikap kritisnya terhadap pemerintah Mesir yang opresif saat itu, Saadawi dipenjara pada tahun 1981 Saadawi oleh Presiden  Mesir Anwar Sadat. Ia ditahan di penjara Qanatir.  

Baca Juga: 11 Perempuan Berpengaruh dalam Bidang Sains di Dunia

Meski tubuhnya dipenjara, semangatnya untuk membela hak-hak perempuan tidak pernah padam. Ia dilarang memegang pensil atau alat tulis lainnya, tetapi ia tetap menuangkan pemikiran-pemikirannya pada kertas tisu toilet menggunakan pinsil alis. Ia dibebaskan tiga bulan kemudian dan pada tahun 1982 mendirikan Asosiasi Solidaritas Perempuan Arab. 

Fase ini menjadi salah satu basis dari memoarnya yang berjudul Memoirs from the Women’s Prison. Sembilan tahun sebelum ia dipenjara, ia pernah berkontak dengan salah satu tahanan di sana dan kontak ini menjadi sebuah inspirasi dari novel Woman at Point Zero

Read More
Nyai Masriyah Amva

Nyai Masriyah Amva, Ulama Perempuan Inspiratif dari Cirebon

Masriyah Amva, biasa dipanggil Nyai Masriyah, adalah pemimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy di Cirebon, Jawa Barat. Beliau dikenal ramah serta sangat dikagumi oleh para santrinya, karena melakukan banyak terobosan. Ia adalah ulama perempuan inspiratif, namun tentu saja ia menghadapi banyak tantangan.

Dibesarkan di lingkungan pesantren, ayah dan kakek Nyai Masriyah adalah para ulama terpandang di Cirebon. Orang tuanya cukup progresif, sang ayah Amrin Khanan menginginkan semua anaknya menjadi ulama. Nyai Masriyah kemudian menimba ilmu di Pesantren Al-Muayyad Solo dan Pesantren Al-Badi’iyyah Pati di Jawa Tengah, serta Pesantren Dar Al-Lughah wa Da’wah di Bangil, Jawa Timur.

“Bapak ibu saya ini orang yang cerdas. Walaupun belum ada istilah ulama perempuan, dan meski anak-anaknya perempuan semua, mereka berdoa dengan keras anak-anaknya bisa menjadi ulama,” ujar Nyai Masriyah Amva, dalam wawancara dengan podcast How Women Lead.

Namun, tantangan pertama datang dari para kerabat yang mendorong orang tuanya untuk menikahkan Masriyah. Ini memang merupakan salah satu tantangan perempuan dalam berkarier. Masriyah akhirnya dinikahkan dengan seorang kiai pengasuh Pesantren Kebon Melati. 

“Kata pakde saya, sayang kalau dilewatkan mumpung ada laki-laki yang berilmu tinggi menginginkan saya. Pakde memaksa saya kawin. Di situlah orang tua saya merasa gagal mewujudkan cita-citanya untuk menjadikan saya ulama perempuan,” ujar Nyai Masriyah.

Baca Juga: 5 Tokoh Perempuan Pembuat Kebijakan di Sektor Ekonomi dan Keuangan

Setelah menikah, Nyai Masriyah bersama dengan sang suami, Kiai Haji Muhammad, mendirikan Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy. Namun, pada 2007, suaminya meninggal dunia, meninggalkan Nyai Masriyah dalam keadaan limbung.

Kepemimpinan Membumi Ulama Perempuan Masriyah Amva 

Dalam suasana berduka yang besar, Masriyah harus dihadapkan pada tanggung jawab keberlangsungan pesantren. Namun, saat itu banyak yang tidak mempercayai perempuan berkompeten menjadi pemimpin, sehingga banyak santri yang memilih untuk keluar. 

“Waktu itu saya kaget sekali saat santri-santri meninggalkan saya. Tapi saya terpaksa tampil walaupun saya tidak memiliki modal sosial, tidak dipercaya oleh masyarakat. Saya katakan kepada mereka, saya sudah menemukan pendamping saya, yaitu Allah SWT,” kata Nyai Masriyah.

Baca Juga: Theresa Kachindamoto Pemimpin Perempuan penyelamat Anak-Anak Perempuan Malawi

Di awal kepemimpinannya, ia banyak sekali mendapat cemoohan dari masyarakat, bahkan ulama-ulama besar. Nyai Masriyah kerap kali dihadapkan pada laki-laki yang melakukan mansplaining padanya, padahal saat itu ia sudah menjadi seorang pemimpin dan juga tidak kalah berilmu.

“Banyak sekali laki-laki yang menafikan kerja saya. Pernah ada yang datang ke rumah, ketika ada sebuah kegiatan semacam reuni. Enggak ada angin enggak ada hujan tiba-tiba dia ngomong di depan saya, ‘Kamu tahu enggak kalau kamu itu nol besar. Kamu bukan siapa-siapa. Pesantren ini bisa berdiri dan berkembang karena anak-anak (santri laki-laki) dan berkat alumni yang solid’,” Masriyah mengatakan.

“Saya iya-iya saja,” ia menambahkan. 

Masriyah tidak menyangkal bahwa ada saat-saat dia merasa tidak percaya diri menjadi seorang pemimpin akibat hal-hal tersebut. Namun, ia tetap berteguh dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT agar selalu diberikan kekuatan.

Pemimpin Inspiratif Nyai Masriyah Amva Memimpin Pesantren Kebon Jambu di Kala Pandemi 

Sudah 13 tahun Nyai Masriyah Amva memimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy di Cirebon. Selain tantangan dari masyarakat, selama setahun ini ia juga menghadapi tantangan besar karena pandemi COVID-19. Pembelajaran yang seharusnya dilakukan secara tatap muka tidak bisa lagi dilakukan.

Pada empat bulan pertama pandemi, Nyai Masriyah Amva memutuskan untuk memberhentikan sementara semua aktivitas pesantren. Dengan sekuat tenaga dan penuh empati, Nyai Masriyah berusaha keras agar orang-orang yang bekerja di pesantren tetap bisa hidup. 

Baca Juga: Jejak Pemimpin Perempuan dalam Islam: Dari Khadijah sampai Fatima Al-Fihri

“Alhamdulillah, kami masih bisa memberi makan pekerja kami, dan bisa bertahan,” ujar Nyai Masriyah Amva dalam perbincangannya bersama dengan podcast How Women Lead. 

Nyai Masriyah tidak hanya bergulat menghidupi para pekerjanya. Warga di sekitar pesantren yang terkena dampak pandemi pun ia bantu dengan sepenuh hati. Ia membantu mereka dengan mempromosikan barang-barang yang dijual warga di grup-grup WhatsApp. 

“Ada yang jualan kerupuk , ikan asin, macem-macem lah. Jadi sampai sekarang situasi sudah normal perdagangan masih jalan. Kalau petani jamur, kita jualkan jamurnya, jagung, semua kita jalani,” ujarnya.

Setelah libur sekian lama, para santri kemudian datang bertahap untuk kembali mondok. 

“Minta surat kesehatan biasa. Kalau rapid e mahal ya, duitnya mereka enggak ada. Suhunya kemudian kita periksa, sampai sekarang sudah pada kembali semua,” ujarnya.

Masriyah Ulama Perempuan yang Ingin Jadi Perempuan Mandiri

Sebagai seorang ulama perempuan yang berteguh pada interpretasi ajaran Islam yang berkesetaraan gender, Nyai Masriyah bukanlah sosok yang suka memaparkan banyak teori. Ia lebih banyak mencontohkan dalam perbuatan sehari-hari atau lewat obrolan santai bersama santri dan guru. 

Baca Juga: Tidak Pede Jadi Pemimpin? Simak Podcast Indonesia ini

Masriyah selalu mendorong para santri perempuannya untuk selalu percaya diri dan tidak minder ketika berkompetisi dengan laki-laki. Hal ini juga merupakan salah satu contoh bagaimana mendidik anak perempuan menjadi pemimpin.

“Saya sering mengarahkan mereka bahwa perempuan dan laki-laki itu memiliki kesadaran dan kesempatan yang sama, kalau sandaran kita sama. Kalau perempuan bersandarnya kepada Tuhan, laki-laki juga begitu. Maka kekuatannya sama,” kata Masriyah

Selama 13 tahun, ulama perempuan Masriyah Amva bekerja sebagai pemimpin pondok pesantren. Ketika ada hal-hal yang membuatnya gundah, Masriyah menemukan ketenangan dalam bentuk menulis puisi. 

Hingga saat ini tercatat cukup banyak buku puisi karya Nyai Masriyah, termasuk Ketika Aku Gila Cinta, Cara Mudah Menggapai Impian, dan Matematika Allah.

Read More
Lian Gogali

Lian Gogali: Suara dari Perempuan Poso

Merlian “Lian” Gogali merupakan aktivis yang berfokus  membangun perdamaian di Poso, Sulawesi Tengah, dengan memberdayakan perempuan di daerah yang pernah dilanda konflik mematikan tersebut. 

Baca Juga: Titi Anggraini: Perempuan Dukung Perempuan untuk Karier yang Lebih Baik

Lian lahir di Taliwan, Poso pada 28 April 1978. Saat konflik Poso pecah pada akhir dekade 1990an dan awal 2000, ia sedang melanjutkan pendidikan masternya di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketika ia pulang ke kampung halamannya, ia terpukul melihat dampak konflik pada masyarakat, terutama perempuan. 

Podcast tentang Tips Membangun Koneksi dan Kolaborasi ala Lian Gogali

Dari pengalaman tersebut, Lian pun bertekad untuk mencari tahu apa penyebab konflik tersebut. Ia melakukan penelitian untuk tesisnya dan mewawancarai perempuan dan anak-anak di Poso. Setiap komunitas ia tanyai dan ia perhatikan bagaimana mereka berinteraksi. Dari situ Lian menemukan bahwa para perempuan Poso turut andil dalam menciptakan perdamaian  antar komunitas. 

Setelah menyelesaikan tesisnya, Lian bekerja di beberapa lembaga swadaya masyarakat hingga akhirnya ia mendirikan Institut Mosintuwu pada 2010. Dalam wawancara bersama dengan podcast Indonesia, How Women Lead, Lian mengatakan fokus dari Mosintuwu Institute adalah emansipasi ekonomi, sosial budaya dan politik masyarakat Poso, melalui pemberdayaan perempuan dan anak.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Film tentang Perempuan Pemimpin

Agar berjalan dengan lancar, Lian menggunakan metode dengan konteks lokal agar kurikulum sekolah pembaharu desa dari Mosintuwu Institute bisa relevan dengan perempuan Poso. Di sinilah Lian mulai memahami betapa membangun koneksi dengan warga lokal sangat penting untuk kemajuan desa. 

Membangun Koneksi dengan Menjadi Pendengar Aktif

Selama mengembangkan Mosintuwu Institute, Lian banyak mendapatkan pelajaran ketika berbincang dengan perempuan-perempuan Poso. Salah satunya adalah mengenai pentingnya mendengarkan secara aktif saat kita berbicara dengan orang lain. Menurut Lian,  mendengarkan berarti memberi ruang bagi orang terutama perempuan, untuk bersuara. 

Bagi Lian, mendengarkan itu bukan hanya upaya satu orang saja, tetapi dua orang yang memiliki kemauan untuk memahami hidup sehari-hari antara satu sama lain. Lian mengatakan, mendengarkan merupakan prinsip dasar dalam berkomunikasi.

Baca Juga: Jadi Perempuan Pemimpin di Kampus Bantu Persiapkan Diri Di Dunia Kerja

“Apalagi kalau kita mendengarkan cerita perempuan, itu seperti radio, padat sekali frekuensinya. Nah, untuk mendapatkan saluran yang tepat, kita perlu berhati-hati karena lapisannya banyak. Sering kali apa yang dibicarakan perempuan itu malah bukan suara mereka,” ujar Lian kepada How Women Lead

Suara perempuan sering kali tidak terdengar, menurutnya, karena mereka mengadopsi suara-suara di sekitar mereka yang sebagian besar adalah laki-laki. Padahal, Lian melihat bahwa perempuan memiliki suaranya sendiri serta memiliki cara berpikir sendiri. 

“Nah, di sekolah ini pelajaran paling pertama adalah belajar mendengarkan. Sebab mendengarkan itu sulit, soalnya semua orang ingin bercerita,” kata Lian. 

Lian Gogali: Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Membangun Koneksi

Sebelum kita menyadari pentingnya mendengarkan secara teliti dan tekun apa yang ingin lawan bicara kita sampaikan, Lian menyadari ada beberapa pilihan bahasa atau slogan yang digunakan oleh lawan bicara kita, dan kita perlu memahami pilihan bahasa tersebut.

“Misalnya, kata damai. Ketika berbicara tentang damai, damai yang mereka bicarakan itu adalah damai yang ditawarkan kepada mereka untuk mereka mini sebagai keyakinan mereka. Kita perlu memeriksa betul konsep bahasa yang digunakan oleh perempuannya, apakah memang benar konsep tersebut benar-benar apa yang ingin mereka sampaikan,” kata Lian.

Baca Juga: Perempuan Indonesia Pascakemerdekaan: Perjuangkan Kesetaraan dalam Pernikahan

Menurutnya, penggunaan bahasa yang dekat dengan lawan bicara kita adalah salah satu jalan terbaik dalam membangun koneksi. Berdasarkan pengamatan Lian, selama ini pemerintah gagal terhubung dengan masyarakat sebab menggunakan bahasa yang tidak memiliki akar emosional dengan masyarakat.

“Apalagi kalau berkaitan dengan kebijakan nasional, yang paling dekat itu ngomongin soal social distancing saja, ini orang-orang desa bakal bertanya, loh itu apa? Apalagi kalau penjelasannya panjang dengan bahasa Indonesia. Itu yang membuat masyarakat memahaminya berbeda dengan yang kita tawarkan,” ujarnya.

Dari hasil pengamatan itu,  Lian pun jadi paham bahwa penggunaan bahasa lokal itu sangat penting dalam penyampaian informasi-informasi untuk warga desa.

Membangun Koneksi dan Memberdayakan Perempuan Poso

Berkat inisiatif yang dilakukan oleh Lian Gogali, saat ini banyak perempuan-perempuan Poso yang terbantu. Sekolah Perempuan dari Institut Mosintuwu tidak hanya mengajarkan cara mendengarkan yang baik, tapi juga bagaimana menguatkan ekonomi solidaritas antar perempuan. Hal ini Lian lakukan sebab ia ingin perempuan Poso mandiri secara ekonomi. 

Baca Juga: 5 Tokoh Perempuan Pembuat Kebijakan di Sektor Ekonomi dan Keuangan

“Ketika dipraktikkan di lapangan, dia enggak bisa sendirian. Mereka perlu juga bekerja bersama-sama. Salah satu contohnya pasar Salukaya yang didirikan oleh ibu-ibu di sekolah perempuan. Jadi kemampuan yang diajarkan di sekolah perempuan harus dapat menjawab konteks daerah tersebut. Dari sini terlihat ini ah pentingnya untuk berkolaborasi dengan semua pihak,” kata Lian

Read More