Film-film Hayao Miyazaki dan Representasi Kepemimpinan Perempuan

Banyak orang di luar Jepang mungkin baru mengenal sutradara/ainmator Hayao Miyazaki saat karyanya, Spirited Away, meraih penghargaan Academy Awards sebagai Film Animasi Terbaik pada 2003. Berbagai karakter perempuan dalam film-film Hayao Miyazaki dan banyak film Studio Ghibli lainnya menjadi keistimewaan lain karyanya, selain kemampuan teknis yang luar biasa. Tidak jarang Miyazaki menjadikan karakter perempuan keren sebagai tokoh sentral.

Dalam film-filmnya, Miyazaki menggambarkan tokoh perempuannya sebagai sosok yang tangguh, memiliki suara atas diri mereka sendiri, dan agensi diri untuk berkembang secara mandiri. Tidak hanya sebatas itu, secara menarik tokoh-tokoh perempuan di dalam filmnya kerap digambarkan oleh Miyazaki dalam posisi nonbiner-nya. Mereka tidak hanya digambarkan sosok yang kuat dan penuh rasa petualangan, tapi di saat bersamaan juga mengampu sifat-sifat feminin seperti kepedulian dan kasih sayang.  

Baca juga: Tokoh Perempuan Disney Masih Terjebak Stereotip Negatif Perempuan Pemimpin

Misalnya dalam film Mononoke Hime atau Princess Mononoke, Lady Eboshi digambarkan sebagai perempuan pemimpin di sebuah kota tambang besi. Lady Eboshi meleburkan batas stereotip dan norma gender melalui gaya kepemimpinannya yang nonbiner. Selain sebagai seorang pemimpin yang tegas dan tangguh, yang identik dengan gaya kepemimpinan maskulin, Eboshi adalah sosok pemimpin dengan  gaya kepemimpinan feminin yang sangat peduli pada rakyatnya.

Dirinya menampung dan merima dengan penuh afeksi orang-orang buangan di dalam masyarakat seperti pelacur dan orang-orang dengan cacat fisik (penderita kusta). Lady Eboshi mempekerjakan mereka dan memberi mereka mata pencaharian di tambang besi.

Di dalam film ini pun, perempuan selain Lady Eboshi digambarkan sebagai sosok yang mampu bersuara dan berani melawan ketidakadilan yang ada. Ketika seorang utusan dari Lord Asano berkata, “Kalian para perempuan perlu diajari rasa hormat!”, seorang warga perempuan menyahut dengan suara lantang “Hormat? Apa itu? Kami tidak pernah mendapatkan rasa hormat (sebagai seorang perempuan) dari masyarakat sejak lahir!”.

Melalui film Nausicaä of the Valley of the Wind, Hayao Miyazaki mendekonstruksi tokoh putri melalui tokoh Nausicaä yang meleburkan ekspektasi gender yang dilekatkan masyarakat pada seorang perempuan, terutama pada figur putri kerajaan. Nausicaä adlaah potret pemberdayaan perempuan dengan kombinasi kepribadian unik dengan kualitas feminin, yang terlihat dari perilaku lembut dan penuh kasih sayangnya terhadap alam, juga kualitas maskulin yang dapat dilihat dari kemampuan mekanik, kecakapannya dalam pertempuran menggunakan pedang dan mengendarai motor glider bertenaga jet.

Miyazaki secara gamblang telah menghancurkan batas-batas ekspektasi gender yang diamini oleh masyarakat, bahwa menjadi pemimpin dan menjadi agen penggerak perdamaian dunia hanya bisa dilakukan oleh laki-laki.

Tokoh Nausicaä memenuhi ramalan kuno yang disebutkan di awal film bahwa akan ada seorang juru penyelamat yang muncul membawa keseimbangan dan kedamaian di dunia yang sedang mengalami konflik antara manusia dan alam. Dapat dikatakan bahwa Miyazaki secara gamblang telah menghancurkan batas-batas ekspektasi gender yang diamini oleh masyarakat, bahwa menjadi pemimpin dan menjadi agen penggerak perdamaian dunia hanya bisa dilakukan oleh laki-laki.

Perempuan berani dalam film Hayao Miyazaki

Melalui film-film Studio Ghibli, Hayao Miyazaki juga kerap menempatkan tokoh-tokoh perempuannya dalam sebuah situasi di mana mereka memperoleh keberanian dan harga diri melalui penerimaan diri. Dalam Howl’s Moving Castle dan Kiki’s Delivery Service, seluruh narasinya berfokus pada Sophie dan Kiki yang menunjukkan penerimaan diri sebagai kekuatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan kesadaran betapa pentingnya diri mereka sebagai seorang perempuan dan juga seorang individu.

Princess Mononoke, salah satu film karya Hayao Miyazaki.

Di sepanjang film Howl’s Moving Castle misalnya, penampilan fisik Sophie akan berubah menjadi wujud aslinya jika dirinya bertindak lebih tegas dengan bersuara atas dirinya, bersedia membela dirinya sendiri, dan berhenti merendahkan diri.

Dalam film Kiki’s Delivery Service, Miyazaki menggambarkan perjalanan penerimaan diri seorang penyihir muda bernama Kiki. Ia memperlihatkan bagaimana Kiki harus mengatasi keraguan atas dirinya sendiri dan belajar menerima diri sendiri sebagai kekuatan untuk menjadi seorang yang lebih baik untuk mendapatkan kembali kekuatannya.  

Baca juga: Pelajaran Soal Kepemimpinan Perempuan dari Drakor ‘Start-Up’

Melalui karya-karyanya, Hayao Miyazaki memungkinkan perempuan mendapatkan representasi yang baik di dalam media tanpa terjerat oleh stereotip dan ekspektasi gender masyarakat. Ia memperlihatkan sebuah representasi feminis yang positif, yang memungkinkan para perempuan bertindak dan berbicara atas diri mereka sendiri sebagai sosok perempuan yang berdaya.

Karya-karyanya adalah ajakan bagi banyak perempuan di dunia ini untuk tidak takut menjadi apa pun yang mereka inginkan. Film-film Miyazaki memberikan sebuah pelajaran bahwa menjadi perempuan bukanlah tentang bagaimana kita seharusnya menyesuaikan diri kita sendiri dengan standar yang telah diberikan masyarakat terhadap perempuan. Namun, menjadi perempuan adalah tentang bagaimana kita bisa menjadi diri sendiri dengan suara dan kemampuan yang kita miliki.

Jasmine Floretta V.D. adalah seorang BTS ARMY dan pencinta kucing garis keras. Sedang menjalani studi S2 di Kajian Gender UI  dan memiliki minat mendalam pada kajian tentang penggemar dan isu terkait peran ibu.