Belajar Jadi Pemimpin dan Meniti Karier di Bidang STEM dari Nyoman Anjani


Omongan negatif tentang perempuan pemimpin dan tantangan karier di dunia STEM yang didominasi laki-laki tidak menyurutkan semangat Nyoman Anjani untuk meraih cita-citanya.

Nama Nyoman Anjani menjadi satu dari segelintir perempuan yang berkiprah di dunia STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Di industri tersebut, perempuan memang masih jauh kalah dari segi jumlah dibanding laki-laki karena STEM kerap diidentikkan dengan maskulinitas.

Badan PBB untuk Pendidikan dan Kebudayaan (UNESCO) menyebut hanya ada 30 persen perempuan di bidang STEM dan 29,3 persen untuk perempuan peneliti secara global. Sementara di Asia, jumlah perempuan di bidang STEM hanya mencapai 18 persen.

Nyoman Anjani adalah seorang  peneliti bidang manufaktur di MIT Indonesia Research Alliance (MIRA), badan riset kolaborasi antara Massachusetts Institute of Technology (MIT) di AS dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia. Di tengah kesibukannya sebagai peneliti, Nyoman juga merintis beberapa bisnis di bidang manufaktur consumer goods di Indonesia.

Sebelum berkarier, alumni program studi Teknik Mesin ITB ini pernah menjabat sebagai Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa (K3M) ITB periode 2013-2014. Saat ini, Nyoman sedang mengejar gelar MS, Magister Sains untuk Rekayasa dan Manajemen Bisnis di MIT.

Nyoman menekankan pentingnya peran perempuan di bidang STEM kendati mereka sering kali diremehkan oleh kolega maupun masyarakat yang lebih luas.

“Representasi perempuan penting karena mampu menyeimbangkan proses pengambilan keputusan, kerja sama dalam organisasi, dan analisis untuk suatu masalah. Sebab, perempuan memiliki sudut pandang berbeda dari laki-laki,” ujar perempuan berusia 32 tahun tersebut.

Dalam wawancara dengan Magdalene, Nyoman membagikan lebih lanjut cerita dan perspektifnya tentang perempuan di dunia STEM. Berikut rangkuman hasil wawancara tersebut.

Magdalene:  Mengapa Nyoman tertarik mengambil jurusan Teknik Mesin di ITB?

Ketika saya SMA, saya sudah bercita-cita untuk masuk Teknik Mesin ITB. Pemikirannya waktu itu sangat sederhana. Saya ingin memajukan industri manufacturing di Indonesia karena ayah saya selalu bilang, kalau Indonesia mau maju, industrinya juga harus maju.

Saya lalu memikirkan industri manufacturing karena di masa depan, semuanya dibuat oleh pabrik. Maka dari itu saya memilih Teknik Mesin. Saat itu juga saya berpikir bahwa jurusan Teknik Mesin bisa diterima kerja di bidang apa pun karena pasti membutuhkan seorang engineer. Itu pemikiran saya saat SMA, sangat simpel.

Baca juga: Panutan, Kesempatan di Tempat Kerja Dorong Lebih Banyak Perempuan dalam STEM

Saat masuk di jurusan tersebut, apakah Nyoman sempat menerima komentar negatif?

Kalau komentar negatif tidak ada. Pada dasarnya, orang cenderung amazed atau kagum, anak perempuan mau masuk Teknik Mesin. Waktu itu, angkatan saya (2009) totalnya 140 orang, perempuannya cuma enam orang. Zaman sekarang, sudah lebih banyak ya, perempuan di Teknik Mesin. Jadi, waktu itu, orang cenderung ke arah kaget anak perempuan berani masuk Teknik Mesin.

Sebagai perempuan apakah ada tantangan yang Nyoman alami selama berkuliah di jurusan itu?

Tantangan terbesar, sih, bersaing dengan laki-laki karena mereka mayoritas dan memang pintar juga. Otomatis, yang perempuan harus lebih rajin belajar, lalu harus bisa beradaptasi lebih baik.

Tapi kalau dari segi lingkungan, perempuan sangat dihargai, apalagi di jurusan yang mayoritasnya laki-laki. Jadi, perempuan sangat dilindungi oleh teman-teman laki-laki. Kalau tantangan fisik tidak ada, lebih ke mentalitas bagaimana kita bisa at par  atau memiliki kemampuan yang setara dengan teman kita yang laki-laki.

Saat Nyoman menjabat sebagai K3M ITB, apakah ada yang memberikan omongan negatif?

Waktu itu lebih karena ada pandangan orang-orang yang tidak setuju perempuan menjadi pemimpin di organisasi yang tinggi. Karena itulah, persaingan dalam pemilihan umum (pemilu)-nya sempat berjalan cukup sengit.

Saya terpilih lewat proses pemilu yang memakan waktu empat bulan, sementara standarnya hanya dua bulan untuk pemilihan. Tapi, banyak tantangan dan hal-hal menarik terjadi saat proses pemilu.

Baca juga: Herstory: 6 Perempuan Pionir dalam Teknologi Komputer dan Internet

Pada dasarnya, mahasiswa ITB cenderung lebih open minded, jadi ketika saya sudah terpilih secara demokratis, pemilu by voting dan semua mahasiswa memiliki hak suara, semua orang harus menaati peraturan dan bekerja sama.

Saat saya memimpin pun, saya memilih kepengurusan yang mewakili segala pihak, mewakili segala aspek rumpun mahasiswa yang ada di kampus.

Di ITB juga ada Femme in STEM yang visinya mempromosikan kontribusi dan representasi perempuan di bidang STEM. Apa pendapat Nyoman tentang hal itu?

Saya sangat mendukung perempuan Indonesia masuk ke dunia STEM yang didominasi laki-laki. Saya juga sangat mendukung perempuan agar lebih banyak berani mengambil jurusan STEM. Saya yakin, gerakan Femme in STEM ini bisa menginspirasi banyak perempuan yang masih duduk di bangku SMA agar mau mendaftar jurusan STEM.

Apakah pengalaman memimpin saat kuliah berpengaruh pada karier profesional Nyoman sebagai pengusaha?

Menurut saya, selain bekal akademik, yang terpenting adalah bekal organisasi karena di kampus, kehidupan di organisasi benar-benar membekali kita untuk memiliki soft skill yang lebih kuat. Contohnya, soal bekerja sama dalam tim dan cara berkomunikasi. Malah, soft skill itu yang banyak membantu saya di dunia pekerjaan dulu sebelum saya kuliah S2, bahkan sampai sekarang saya mencoba berwirausaha.

Jadi ada skill komunikasi, berpikir kritis, problem solving dan networking. Dengan networking luas yang dibangun sejak mahasiswa, kita cenderung lebih mudah untuk membaur di lingkungan baru atau mencari teman. Dengan networking juga, orang yang kita kenal bisa membantu ketika mengalami kesulitan di lapangan.

“Representasi perempuan penting karena mampu menyeimbangkan proses pengambilan keputusan, kerja sama dalam organisasi, dan analisis untuk suatu masalah. Sebab, perempuan memiliki sudut pandang berbeda dari laki-laki.”

Dalam dunia penelitian, apa saja tantangan yang Nyoman hadapi?

Kebetulan penelitian saya tentang manufacturing di Indonesia. Nah,lagi-lagi dunia manufakturmasuk bidang STEM, di mana mayoritas praktisi industri adalah laki-laki. Tantangannya menjadi researcher di dunia STEM yang seperti ini bagi perempuan adalah kita harus punya mentalitas yang lebih kuat, lebih berani.

Selain itu, harus punya critical thinking dan logic yang kuat untuk menganalisis masalah. Lalu, kita harus bisa memberikan solusi yang tepat untuk lingkungan kita di industri tersebut.

Terakhir adalah tantangan soal bagaimana perempuan membawa diri dengan baik ketika bekerja, bertingkah laku, mengutarakan pendapat, agar dia bisa didengar oleh koleganya yang kebanyakan laki-laki dan bisa saja orang itu posisinya lebih tinggi. Itu tantangan terbesar untuk menjadi researcher atau praktisioner di bidang STEM.

Ketika perempuan berkarier, selalu ada pandangan miring tentang perempuan yang ambisius. Apakah Nyoman pernah menerima komentar seperti itu?

Orang Indonesia cenderung tidak ada yang bicara frontal di depan orangnya. Tapi, pasti ada yang beranggapan seperti itu. Untuk menanggapinya, kita fokus pada apa yang mau kita kerjakan saja.

Menurut saya, pendapat yang paling harus didengarkan adalah pendapat orang tua. Jadi, selama orang lain atau orang asing berpendapat, kita ambil pesan yang baik. Kalau negatif, ya sudah, didengarkan dan tidak dimasukin ke hati.

Pokoknya, yang selalu menjadi patokan kita adalah nasihat dari orang tua. Selanjutnya fokus saja pada cita-cita yang mau kita capai, karena dari cita-cita itu, ada niat dan tujuan kenapa mau melakukannya. Jangan lupa juga untuk selalu komunikasikan hal itu ke orang tua.

Baca juga: Sains dan Empati: Senjata Keberhasilan Pemimpin Perempuan Kendalikan COVID-19

Dari jawaban tadi, sepertinya orang tua punya porsi besar dalam banyak hal bagi Nyoman. Bagaimana Nyoman memandang peran mereka dalam perjalanan karier?

Keluarga memang support system terdekat kita. Jadi menurut saya, setiap keputusan yang saya buat harus dikomunikasikan [kepada mereka]. Sebelum menikah, saya selalu mengomunikasikannya dengan orang tua. Sekarang setelah menikah, saya harus mengomunikasikannya dengan suami. Saya pikir, itu hal yang sangat penting, berkomunikasi dengan orang terdekat kita dan selalu jujur dengan apa yang ingin kita lakukan.

Keluarga akan menjadi supporting system dan back up system kita, jadi kalau ada apa-apa kembalinya akan ke keluarga lagi.

Selama ini, orang tua mendukung karier dan pendidikan saya dengan cara mendoakan, itu yang paling simpel. Suami dan orang tua menjadi tempat mendengarkan dan berkeluh kesah. Mereka pendukung terbesar saya dalam menjalankan posisi apa pun, baik soal pekerjaan atau sekolah.

Apa pesan yang ingin Nyoman sampaikan kepada perempuan yang berkuliah atau berkarier di bidang STEM dan penelitian, atau yang menjadi pemimpin dalam bidang itu?

Menurut saya, pertama yang pasti kita harus terus belajar. Ketika teman-teman baru masuk dunia kampus, harus punya curiosity untuk belajar hal-hal yang baru. Jangan cuma stuck dengan materi yang diberikan dosen. Banyak membaca, explore, terutama yang terkait STEM dan hal-hal yang berkembang di luar negeri.

Kedua, kita harus lebih rajin. Orang yang ambisius itu memiliki disiplin yang sangat tinggi karena mereka pekerja keras. Karena itu, mereka bisa meraih sesuatu lebih banyak dibanding orang lain.

Terakhir, kita harus selalu punya goal yang ingin dicapai dengan lebih baik dan termotivasi untuk berusaha lebih keras.