Berantakan, Berhenti, Bangkit, Perjalananku Menuju Pulih

“Lembek banget, masalah gitu aja pake bawa-bawa kesehatan mental segala” 

Pernah mendapat komentar serupa dari rekan kerja atau atasanmu pas lagi curhat soal kondisi psikismu? 

Alih-alih bertanya secara empati, kantormu malah menghakimi kamu dan bilang kamu enggak profesional, gara-gara enggak bisa berfungsi di tempat kerja. 

Kali ini Women, Work & Untold Stories akan mengajak kamu menyimak kisah Poppy yang berjuang dengan kondisi kesehatan mentalnya. Bagaimana ya cara Poppy kembali bangkit dari masa-masa kelamnya dan  mampu bertahan?  Cerita Poppy akan dituturkan oleh Hanna Madness, seorang seniman yang juga sangat peduli pada isu kesehatan mental.

Read More

Rehat Pangkal Sehat

Baca cerita sebelumnya di sini.

“Aku capek, tapi aku enggak bisa istirahat dan enggak boleh sakit. Nanti anak sama suamiku gimana? 😭.”

Kamu pernah atau sering merasakan situasi seperti ini? Kamu enggak sendirian, kok. Faktanya, banyak perempuan merasakan hal yang sama, termasuk Indah.

Dalam episode kali ini, kita akan melihat betapa pentingnya dukungan pasangan ketika kesehatan fisik maupun mental kita sedang tidak baik-baik saja, apalagi ketika seseorang baru saja memiliki anak.

Tidak hanya pasangan, kantor juga perlu memberi dukungan pada karyawan terkait dengan penyediaan layanan konseling bagi karyawan yang membutuhkan.

Read More

Ah, itu Biasa!

Baca cerita sebelumnya di sini.

pelecehan seksual di tempat kerja
pelecehan seksual di tempat kerja masih sering terjadi
Cara menghindari pelecehan seksual di tempat kerja
pelecehan seksual di tempat kerja perempuan jangan cuma bersabar

“Ah, biasalah itu. Kamu kan wartawan, harus tahan banting. Digoda sedikit sama narsum laki-laki, gak perlu dibesar-besarin.”

“Maklumi aja, lingkungan kerja kita ini dominasi laki-laki, jadi harus biasa dengan bercandaan mereka yang kadang seksual itu.”

Kita berjumpa lagi dalam cerita Indah dan Dewi yang saat ini tengah mengalami permasalahan lain di kantor mereka. Beberapa kali mereka berdua mengalami pelecehan di tempat kerja, atau malah diremehkan pengalamannya, dan dianggap bahwa hal tersebut lumrah terjadi. Mereka juga disarankan untuk mengalah.

Namun, mau sampai kapan perempuan harus mengalah dan merasa tidak aman ketika bekerja?

Bila kita melihat dalam jurnal penelitian yang dilakukan oleh Australian Human Rights Commission dengan judul The Legal Definition of Sexual Harassment, pelecehan seksual di tempat kerja adalah segala tindakan termasuk dalam lingkungan kerja dan budaya tempat kerja yang bersinggungan dengan perilaku menyimpang seksual serta melanggar hukum adalah pelecehan.

Beberapa contoh yang termasuk dalam kekerasan seksual di tempat kerja adalah berbicara asusila, pornografi, mencibir dengan pembahasan seksual di depan umum, percakapan, sindiran, dan lelucon yang menyangkut seksual sampai menyinggung perasaan seseorang.

Apakah kamu merupakan seorang ibu pekerja? Agar gampang mengenali pelecehan seksual di tempat kerja, berikut ini jenis pelecehan seksual di tempat kerja yang perlu kamu ketahui serta waspada.

Pelecehan Seksual oleh Sesama Pekerja

Pelecehan seksual di tempat kerja enggak cuma bisa dilakukan oleh orang yang sudah berada di posisi manajerial atau yang sudah memiliki jabatan.

Malah ada beberapa kasus kekerasan seksual justru berasal dari teman sesama karyawan.

Lingkungan kerja yang membikin kamu jadi enggak nyaman atas sikap serta tindakan tidak pantas yang dilakukan oleh rekan kerja sehingga berpengaruh terhadap pekerjaan adalah salah satu contoh tempat kerja yang enggak bersahabat dan bisa jadi karena adanya pelecehan seksual.

Beberapa jenis pelecehan seksual termasuk:

  • Memegang bagian tubuh tanpa izin
  • Mengatakan jokes yang terdengar mesum dan menyinggung perasaan
  • Diskriminasi gender
  • Kekerasan seksual lewat verbal
  • Mengirimkan surel, pesan, atau foto yang berbau seksual
  • Bahasa tubuh yang memperlihatkan sikap tidak pantas

Akibatnya, korban akan jadi merasa terancam, enggak nyaman, serta menjadi takut ke kantor. Sikap serta hukuman tegas harus diberikan dan tanggung jawab pada setiap karyawan.

Sehingga tidak akan ada lagi kekerasan seksual ataupun diskriminasi gender yang terjadi di tempat kerja.

Read More
podcast percaya diri

Kamu Bagus, Kok Gak Pede?

Kamu pernah punya masalah kepercayaan diri? Pernah nggak kamu sadari bahwa itu bisa dipengaruhi oleh pola asuh orang tuamu. 

Hal ini dialami Naning, seorang perempuan pekerja berusia 27 tahun, yang baru sadar punya isu kepercayaan diri saat masuk dunia kerja. Ketika ia menggali kembali masa lalunya, ternyata rasa enggak pede ini terjadi karena sejak kecil, Naning tak mendapat apresiasi yang cukup dari orang tuanya. 

Wah, gimana ya Naning mencoba menghilangkan rasa nggak pedenya? Yuk, simak kisah Naning yang dibawakan oleh Vina Muliana, seorang konten kreator yang juga fokus dalam isu dunia kerja.

Read More

Dilema Ibu Bekerja

Baca cerita sebelumnya di sini.

dilema ibu bekerja komik women lead
dilema ibu bekerja harus mengurus rumah tangga
dilema ibu bekerja harus mengurusi rumah serta pekerjaan kantor
dilema ibu bekerja meninggalkan anak
dilema ibu bekerja harus suami juga turun tangan

Kembali dengan cerita Indah. Di tengah prosesnya beradaptasi dalam menjalani peran sebagai ibu baru, ia mendapat kabar baik tentang promosi jabatan yang diraihnya dan menjadi sebuah dilema.

Indah sempat merasa kebingungan tentang posisi barunya itu, apalagi itu akan banyak menyita waktunya, dan mungkin akan membuatnya semakin sulit menghabiskan waktu dengan sang putri yang masih kecil. Beruntung suaminya tidak pernah menyalahkan Indah, dan mau bernegosiasi peran dengannya.

Dilema ibu bekerja yang dialami Indah mungkin juga dialami banyak perempuan di luar sana: Sulitnya membagi waktu sebagai seorang ibu sekaligus ingin mencapai posisi strategis di tempat kerja. Tapi mungkin, tidak semua orang seberuntung Indah yang punya pasangan suportif.

Banyaknya perempuan karir sekarang ini dilema. Sebagai ibu bekerja terkadang harus memlih antara pekerjaan atau rasa bersalah terhadap anak-anak karena tidak bisa menjaga atau mengawasi mereka setiap harinya.

Bila anak di titipkan ke orang lain, kadang juga orang tua akan merasa kawatir dan tidak fokus dalam bekerja. Bahkan Ibu yang bekerja dari rumah atau WFH bisa merasakan hal yang sama. Karena tetap tidak bisa menjaga anak-anak sambil menyelesaikan tugas kantor.

Coba kita telusuri permasalahan ini, agar kita bisa mendapatkan solusi secara tepat dan obyektif. Supaya kita dapat mengubah sudut pandang kita terhadap masalah
yang sedang terjadi ini.

Yuk coba kita lihat masalah yang mendasarinya:

Dilema Ibu Bekerja buat Mendapatkan income tambahan

Dari 20 tahun terkahir, perkantoran yang di kuasai kaum pria pria secara signifikan sudah
berevolusi diisi kaum perempuan, bahkan perempuan ada yang bisa menduduki jabatan manajerial. Anggapan usang tentang perempuan yang sudah menikah cuma bisa dirumah mengurusi segala macam urusan rumah tangga sudah ketinggalan jaman.

Buat para Ibu yang bekerja di rumah-pun mereka harus meluangkan waktu untuk tidak mengurusi anak-anak waktu mereka ada pekerjaan penting di kantor. Jika tidak, pekerjaan kantor mereka malah jadi berantakan karena fokus menjaga anak-anak.

Read More

Sudah Setara?

Baca cerita sebelumnya di sini.

kesenjangan upah antara laki dan perempuan
kesenjangan upah di kantor
kesenjangan upah antara cewek dan pria
kesenjangan upah yang masih terjadi di Indonesia
kesenjangan upah antar gender di indonesia

Kembali lagi dengan cerita keluarga Indah. Kali ini, ada cerita dari Dewi yang sudah mulai kerja sebagai jurnalis.

Ketika ia ingin menulis tentang kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan di dunia kerja, isu tersebut malah dianggap nggak “seksi”. Selain itu, atasannya juga beranggapan bahwa masalah kesenjangan upah tidak terjadi di Indonesia, seiring dengan bidang pekerjaan yang sudah mulai terbuka untuk perempuan.

Padahal realitasnya, data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS 2020 menunjukkan bahwa perempuan menerima upah 23 persen lebih rendah dari laki-laki. Walaupun sama-sama mengantongi ijazah sarjana, rata-rata perempuan mendapat gaji sebesar Rp3,7 juta, sementara laki-laki bisa mencapai Rp5,4 juta.

Read More

Perempuan itu Harus…

Baca cerita sebelumnya di sini.

Ketika perempuan memilih bekerja di luar rumah
perempuan memilih bekerja dan suami dukung
perempuan memilih bekerja di kantor
seorang perempuan yang memilih bekerja

Kembali lagi dengan serial cerita Indah. Kali ini, Indah lagi kumpul keluarga. Selayaknya om dan tante yang kadang suka nyebelin nanya “kapan nikah”, “kapan lulus”, atau “kapan punya anak”, saudara-saudara Indah juga mulai nyinyir karena melihat Indah contoh perempuan yang memilih bekerja dan harus ke kantor. Sementara, suaminya di rumah menjaga anak karena bisa work from home.

Beruntungnya Indah punya suami yang suportif, sehingga ia tidak merasa keberatan saat orang memandang sebelah mata dirinya yang lebih banyak di rumah.

Situasi seperti Indah mungkin juga dialami oleh banyak orang di luar sana. Ketika perempuan memilih bekerja di luar rumah, ia akan diberi beragam pesan tentang bagaimana sebaiknya menjadi “perempuan yang baik”. Padahal, tidak ada yang salah jika seorang ibu ingin menjalani kariernya selama itu hal yang ia inginkan, dan dibicarakan dengan pasangan.

Read More

Yang Muda Yang Menopang

Baca cerita sebelumnya di sini.

Sandwich Generation sekarang ini sudah sering di bahas
kategori traditional sandwich generation berusia 40-50 tahun
komik tentang Sandwich Generation

Sebagian dari kita mungkin banyak yang menjadi sandwich generation, atau berada dalam posisi yang harus menghidupi keluarga kecil kita dan juga menghidupi orang tua. Karena beban berlapis ini, ada beberapa hal yang akhirnya kita korbankan untuk kesenangan diri kita sendiri demi kebahagiaan keluarga dan orang tua kita.

Ketika kamu merasa lelah dengan situasi ini, tidak apa-apa loh untuk bercerita dengan pasanganmu seperti yang dilakukan oleh Indah dan pasangannya. Jangan lupa juga untuk memberikan waktu jeda untuk memikirkan dirimu sendiri dan beristirahat.

Tapi apakah kamu sudah tahu tentang sandwich generation? dikutip dari raizinvest.id sekarang istilah ini memang melekat ke kaum millennial, apa lagi mereka yang sudah menikah dan punya anak. Yuk kita coba bahas lebih mendalam, apakah kamu salah satunya?

Istilah sandwich generation pertama kali muncul pada tahun 1981 yang diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller , seorang professor di Universitas Kentucky, Amerika Serikat. Mereka yang masuk dalam generasi sandwich adalah mereka yang punya tanggung jawab untuk membiayai anak serta orang tuanya. Yang mengakibatkan, generasi ini menjadi mudah stress karena keadaan terjepit yang mereka alami, dan stress ini dapat memberikan efek buruk buat keluarga serta lingkungan sosialnya.

Ada tiga jenis sandwich generation:

Generasi sandwich tradisional


Traditional sandwich generation ada di rentang umur 40 sampai 50 tahun. Mereka ini harus masih menanggung anaknya secara finansial. Tetapi di sisi lain mereka juga harus menanggung serta mengurus orangtua mereka yang sudah lanjut usia.

Generasi club sandwich


Mereka yang termasuk generasi ini berada di umur 50 sampai dengan 60 tahun, dan mereka masih punya beban secara finansial untuk mengurus orang tua mereka yang sudah lanjut usia serta anak mereka yang sudah dewasa, bahkan sampai ke cucu.

Buat yang sudah berumur 30 sampai 40 tahun juga bisa masuk ke kategori ini dan sudah menikah serta sudah punya anak, tetapi harus mengurus orangtua serta kakek-nenek mereka.

Open-faced sandwich generation


Open-faced sandwich generation adalah orang-orang yang bekerja merawat lansia. Sekarang ini diperkirakan ada 25% orang yang mengalami fase ini dalam hidupnya.

Read More