Adelle Odelia Tanuri co founder rahasia gadis

Komunitas Rahasia Gadis Aktif Edukasi dan Dorong Perempuan Muda Jadi Berdaya

Freedom is the meaning of girls empowerment. Freedom from and freedom to. Perempuan bebas dari kecemasan, insecurity, dan segala bentuk perbudakan. Perempuan juga bebas untuk memimpin, menjalani, dan mencapai impian mereka,” ujar co-founder Komunitas Rahasia Gadis, Adelle Odelia Tanuri (24), dalam wawancara bersama Magdalene pada (25/8).

Mendefinisikan diri sebagai komunitas pemberdayaan perempuan muda yang memiliki empati, mempraktikkan self-love, dan mengapresiasi keberagaman, Rahasia Gadis mengawali perjalanannya pada 2014. Mereka secara aktif membagikan tips ringan seputar kebutuhan perempuan di Instagram.

Seiring berjalannya waktu, para co-founder Rahasia Gadis, Adelle dan Dhika Himawan (25), menyadari adanya kapabilitas untuk membentuk komunitas. Hal ini berawal dari para perempuan muda yang hampir setiap hari menceritakan permasalahannya lewat “Confession Room” di situsnya.

Baca Juga: Sebuah Usaha Mendobrak Stigma, Cerita 3 Komunitas

Oleh karena itu, mereka bertekad untuk mengembangkan dan mempererat komunitas perempuan muda di Indonesia lewat Instagram @rahasiagadis.

“I think this is more than an Instagram page. Kekuatan Rahasia Gadis lebih dari itu. Kami bisa membantu perempuan muda untuk lebih teredukasi dan memahami kekuatannya, serta harga diri mereka sebagai perempuan,” kata Dhika.

Strategi Rahasia Gadis dalam Memberdayakan Perempuan Muda

Dalam mencapai kebebasan sebagaimana didefinisikan oleh Adelle, perempuan muda di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan seperti melupakan harga diri, belum mengetahui haknya sebagai perempuan, dan terfokus pada keterbatasan sehingga belum mengenal kekuatannya. Dari situ, Rahasia Gadis berusaha mendorong pemberdayaan perempuan.

Salah satu caranya, tim Rahasia Gadis membagikan cerita hidup mereka untuk menginspirasi komunitasnya, meskipun mereka masih dalam proses membuka diri.

“Awalnya saya lebih suka di balik layar, then we realized the power of storytelling, baik itu menginspirasi orang lain maupun bikin perasaan kita lega. It’s such a struggle for us to share a story,” cerita Dhika.  Ia sendiri membutuhkan waktu satu setengah tahun untuk menceritakan pengalaman panic attack-nya lewat Instagram Rahasia Gadis.

Sementara menurut Adelle, membagikan ceritanya menjadi salah satu proses healing.

“Perjuangan dan kesulitan kita itu jadi sumber kekuatan orang lain, karena mereka merasa enggak sendirian ada di posisi yang sedang dialami,” tuturnya.

Baca Juga: Solidaritas Perempuan Bentuk Ekosistem Pendukung untuk Perempuan Pengusaha

Sebagai komunitas pemberdayaan perempuan muda yang mendorong anggotanya untuk mengembangkan potensi diri, Rahasia Gadis turut mengedukasi lewat konten interaktif di Instagram. Mereka memperkenalkan isu kekerasan seksual, kepemimpinan perempuan, self-love, dan arti menjadi seorang perempuan.

Dikutip dari Kompas.com, pada Maret lalu, dalam peluncuran kampanye virtual “Stand Up Against Street Harassment”, Hollaback! Jakarta menggagaskan metode 5D untuk membantu korban pelecehan seksual, baik bagi saksi maupun korban. Metode 5D yang dimaksud terdiri dari dialihkan, dilaporkan, dokumentasikan, ditegur, dan ditenangkan

Menurut Dhika, dalam metode 5D ini terdapat substansi yang belum dijelaskan di dalamnya.

“Di metode itu udah dipaparkan secara jelas tentang langkah-langkahnya, tapi ada sesuatu yang hilang, yaitu penjelasan tentang apa itu pelecehan seksual. How can we act against something when we don’t know what sexual harassment is?” ujarnya.

Lebih lanjut Dhika memaparkan, sampai saat ini masih banyak perempuan yang belum mengenal pelecehan seksual, consent, haknya sebagai individu di masyarakat, dan perlindungan hukum untuk mereka. 

“Ada banyak media dan key opinion leader yang angkat suara tentang pemberdayaan dan mengedukasi perempuan, tapi mereka belum mendefinisikan hak kita sebagai perempuan, dan itu jauh lebih penting sebelum mengajarkan mereka cara bertindak.”

Oleh karena itu, Rahasia Gadis mengedukasi mulai dari latar belakang suatu isu dan permasalahan untuk membantu pemahaman para perempuan muda.

“Dengan mengenal dasar-dasarnya, nantinya mereka bisa bertindak sendiri tanpa kita ajarkan,” sambungnya.

“There are still needs to be a lot of education in Indonesia. Dan, tidak hanya Rahasia Gadis yang berusaha, tapi semua pihak termasuk laki-laki, media, dan pemegang kebijakan.”

Disambut Antusiasme Tinggi Perempuan Muda 

Adelle percaya, Rahasia Gadis sebagai komunitas pemberdayaan perempuan muda bukanlah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab untuk mendorong kemajuan anggotanya. Mereka juga menekankan pentingnya para perempuan muda yang sudah teredukasi dan berdaya untuk menjadi support system di lingkungannya. Maka itu, Rahasia Gadis mengusung gagasan “Dari Gadis Ke Gadis” sebagai kampanye mereka.

Untuk melatih kepemimpinan perempuan muda, Rahasia Gadis membentuk RG Club yang mendorong anggota komunitasnya untuk menjadi pemimpin, membangun relasi, dan saling mendukung dalam mengekspresikan diri. 

Terdapat beberapa tema RG Club yang dapat diusung setiap klub, seperti women’s health, love and relationship, mental health, skincare and beauty, dan content. Para club leaders pun menerima training setiap bulan untuk membangun klubnya.

Baca Juga: Konferensi Iklim Didominasi Laki-laki, Saatnya Tingkatkan Keterlibatan Perempuan

Rahasia Gadis memilih sistem klub untuk membangun komunitas virtual secara luas.  “Dari sini, baik leaders maupun anggota klubnya bisa saling belajar dan mendukung satu sama lain,” jelas Adelle.

Selain itu, terdapat program “Mission Power”, yakni training virtual dengan cakupan kemampuan, pengetahuan, cara menjaga kesehatan mental, dan membentuk batasan yang harus dimiliki seorang pemimpin. Program ini digelar berdasarkan cerita perempuan muda yang kurang percaya diri atau insecure, dan mendapat tekanan dari luar.

Adelle menjelaskan, ada antusiasme tinggi dari perempuan muda untuk berpartisipasi dalam Mission Power. Ini terlihat dari jumlah partisipannya yang mencapai lebih dari 1000 orang. “Ini kan artinya mereka punya kebutuhan dan ketertarikan untuk jadi pemimpin,” katanya.

Dalam menyusun program-programnya, komunitas pemberdayaan perempuan muda ini selalu membuat kegiatan berdasarkan kebutuhan para perempuan muda yang diketahui lewat survei, focus group discussion, dan obrolan dengan anggota komunitasnya.

Sampai sekarang, jumlah anggota komunitas Rahasia Gadis mencapai puluhan ribu dan tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Hal ini menunjukkan para perempuan muda memiliki kesadaran dan keberanian untuk keluar dari zona nyamannya, merealisasikan cita-cita mereka, sekaligus mendukung sesama perempuan.“Ada perwakilan anggota kami di setiap provinsi, bahkan sampai Papua dan Nusa Tenggara Timur. Maka itu, kami percaya pada kekuatan komunitas dan kami punya value merayakan keberagaman. Walaupun berbeda latar belakang, semua bisa bergabung,” tutup Adelle.

Read More
perempuan pekerja sektor digital

Para Perempuan yang Tergilas Teknologi Digital

Pesatnya perkembangan teknologi meninggalkan jenis-jenis pekerjaan yang tidak lagi relevan. Hal ini berdampak bagi perempuan yang hingga saat ini menghadapi kesenjangan teknologi digital.

Dalam peluncuran dan diskusi publik Jurnal Perempuan berjudul “Perempuan Pekerja di Tengah Krisis dan Perubahan Teknologi” (24/8), dunia kerja mengalami perubahan drastis sejak pandemi COVID-19 pada Maret 2020, karena pekerjaan harus bertransformasi ke digital. Maka itu, perempuan dituntut memiliki kecakapan mengakses teknologi digital yang sifatnya seperti keberlangsungan hidup.

Pada diskusi tersebut, Executive Director Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), Maya Juwita, menceritakan bagaimana trainer perempuan di perusahaannya harus beradaptasi dengan teknologi.

Trainer kami berusia 71 tahun. Akibat pandemi, seluruh aktivitas training beralih ke online, tapi beliau mau belajar menggunakan teknologi, bahkan media sosial untuk hal positif dan kreatif,” katanya.

Maya melihat kemampuan adaptasi itu sebagai penerapan sifat feminin perempuan secara natural.

Namun, tidak semua perempuan dapat beradaptasi mengikuti perubahan teknologi. Ada banyak pembatasan yang dibuat oleh lingkungan sosial, hanya karena seseorang berjenis kelamin perempuan.

Misalnya di industri Science Technology Engineering Math (STEM) yang minim mempekerjakan perempuan sebagai teknisi, karena pekerja laki-laki tidak tega jika perempuan melakukan pekerjaan berbahaya seperti memanjat tower. Niat baik tersebut justru salah satu musuh terbesar kesetaraan gender, karena “menghalangi” perempuan dengan alasan keamanan.

“Padahal, kalau tidak aman untuk perempuan, artinya juga tidak aman untuk laki-laki,” ucap Maya menanggapi peristiwa tersebut.

Baca Juga: Keterasingan Perempuan dalam Transformasi Digital

Keterampilan Perempuan Mengakses Teknologi Digital

Di era globalisasi, penting bagi setiap orang memiliki kemampuan mengakses teknologi, terlebih di masa pandemi karena sebagian besar fasilitas dan kebutuhan dapat dijangkau secara daring, mulai dari informasi kesehatan, transaksi perbankan, pembelian makanan dan obat-obatan, hingga sertifikat vaksin.

Namun, jumlah perempuan yang mengakses internet lebih sedikit ketimbang laki-laki. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2017 menunjukkan sejumlah 48,57 persen perempuan menggunakan internet, sementara laki-laki mendominasi dengan 51,43 persen.

Jika melihat Pulau Jawa dan kota-kota besar lainnya, mungkin kita mempertanyakan hasil survei tersebut, tetapi kita perlu memperhatikan perempuan yang menetap di desa atau kota-kota kecil. Ada pengaruh kondisi sosial ekonomi, letak geografis, kesenjangan upah, norma sosial, dan minimnya pengetahuan yang membatasi ruang gerak perempuan dalam mengakses teknologi digital.

Dalam budaya patriarki, kebanyakan perempuan berperan dalam mengurus pekerjaan domestik, sehingga sedikit yang mampu memanfaatkan teknologi. Menurut  Maya, ini pun terjadi dalam dunia usaha, ketika teknologi menjadi hal merepotkan karena rendahnya digital fluency—kemampuan menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi digital secara efektif dan efisienpada perempuan.

Mengutip situs Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, I Gusti Bintang Darmawati mengatakan, perempuan dapat diberdayakan dalam kewirausahaan berperspektif gender perempuan. Dari situ, akan ada peningkatan partisipasi perempuan dalam ekonomi dan potensi kewirausahaan perempuan yang mengimbangi kemampuannya menggunakan teknologi digital.

Akan tetapi, pemanfaatan teknologi digital pun masih sebatas media sosial, merujuk pada survei APJII pada 2017 yang menunjukkan persentase pengguna media sosial sejumlah 87,13 persen. Ditambah etika warganet Indonesia yang masih kurang, melihat hasil survei Microsoft tentang tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang 2020, ketika Indonesia menduduki posisi 29 dari 32 negara yang disurvei dalam laporan Digital Civility Index (DCI).

Padahal, penting bagi perempuan untuk melek teknologi dan berwawasan luas. Dengan demikian, perempuan dapat saling memberdayakan, menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas lewat pengasuhan anak, dan turut mengedukasi keluarga serta orang-orang di lingkungannya dalam mengoptimalkan penggunaan internet.

Baca Juga: Perempuan Hadapi Banyak Sandungan dalam Dunia Sains di Indonesia

Work From Home Membawa Keuntungan bagi Perempuan Pekerja

Penerapan flexible working selama pandemiatau dikenal dengan work from home (WFH), memberikan keuntungan bagi perempuan karena dapat multitasking, mengingat adanya beban ganda yang dijalani, yaitu perannya sebagai pekerja sekaligus melakukan pekerjaan domestik.

IBCWE telah menerapkan sistem ini sejak 2017, meskipun tanggapan para pengusaha nasional sangat skeptis, karena mereka menilai seseorang melaksanakan pekerjaan, ketika melihat secara langsung. 

Walaupun demikian, berdasarkan survei cepat yang dilakukan oleh IBCWE pada 2020, terkait efektivitas pelaksanaan work from home. “Sebanyak 60 persen responden perempuan menilai bekerja dari rumah lebih efektif. Ini memudahkan mereka dalam mengurus berbagai keperluan,” ujar Maya, mengingat kini perempuan juga berperan sebagai guru ketika mendampingi anak-anaknya sekolah dari rumah.

Dari survei tersebut, kita melihat bagaimana perempuan sebetulnya terbiasa membagi pikirannya dan melakukan beberapa aktivitas dalam suatu waktu, misalnya menyempatkan diri di sela-sela rapat untuk memastikan anak-anaknya sudah makan siang dan mengerjakan tugas sekolah.

Baca Juga: Herstory: 6 Perempuan Pionir dalam Teknologi Komputer dan Internet

Sayangnya, tidak semua perempuan mampu bertahan berjuang menjalani tiga peran sekaligus; pekerja, mengurus keluarga, dan melakukan pekerjaan domestik. Apabila dilihat dari perspektif dunia usaha, banyak perempuan pekerja di bidang manufaktur justru mengundurkan diri. Mereka mengalami kesulitan dalam melakukan kewajibannya.

“Hampir lima ribu pekerja perempuan di salah satu anggota kami memilih resign,” tutur Maya. Ia menceritakan salah satu keluhan mereka ialah meminta pasangannya membantu anak saat sekolah di rumah, supaya sang ibu dapat tetap bekerja.

Selain itu, menurunnya kesehatan mental akibat jam bekerja yang tidak teratur dan cenderung bekerja lebih lama turut menjadi perhatian, lantaran mengaburkan batasan pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Read More
Pedihnya Nasib Ibu Tunggal Lawan Stigma di Kantor

Pedihnya Nasib Ibu Tunggal Lawan Stigma di Kantor

Alih-alih menerima dukungan emosional dari masyarakat, ibu tunggal justru menghadapi stigma perempuan penggoda yang melekat pada dirinya. Seolah-olah tanggung jawab mencari nafkah sekaligus membesarkan anak belum cukup berat untuk dipikul.

Hal ini dihadapi oleh Devina (37). Saat bekerja sebagai account executive di perusahaan konstruksi, ia menerima ketidakadilan dari lingkungan kerjanya. Kejadian itu terjadi pada 2014, berawal dari HRD Manager-nya yang menempel daftar seluruh nama karyawan untuk medical check up. Sayangnya, status pernikahan turut dicantumkan di sana.

“Setelah daftar itu ditempel, sekantor jadi heboh dan sikap mereka berubah. Sebenarnya saya enggak mengingkari status janda atau ibu tunggal, tapi kan enggak perlu diumumkan ke semua orang,” tuturnya pada Magdalene, (3/8).

Sejak hari itu, banyak rekan kerjanya yang menggoda dan mengirimkan pesan di BlackBerry Messenger tengah malam, bahkan ia berhenti diajak makan siang bersama.

Devina mengatakan, ia dapat menghiraukan rekan kerja yang posisinya setara, tapi tidak dengan atasannya. “Atasan saya berusaha melakukan pendekatan, padahal dia sudah beristri. Awalnya saya menghindar, lalu saya tanya maunya apa, dia bilang ingin jadikan saya istri kedua. Ya saya menolak,” ceritanya, yang kemudian dibebani pekerjaan dari atasan tersebut hingga mengganggu kehidupan pribadinya.

Ibu dengan satu anak yang saat itu masih balita ini diminta mengurus proyek besar. Situasi itu memaksanya menangani proyek secara langsung bersama atasannya, bahkan kebanyakan rapat diminta di atas jam kantor. Alasan dari atasannya, yakni klien yang menentukan jadwal dan demi perkembangan karier Devina. 

Baca Juga: Sebuah Usaha Mendobrak Stigma, Cerita 3 Komunitas

Mengingat pekerjaannya saat itu, Devina menilai rekan kerja menganggapnya sebagai “paket komplet”, lantaran status pernikahan dan posisinya yang menuntut berpenampilan menarik dengan pakaian mini, makeup tebal, serta kepribadian akrab dengan semua orang.

“Rekan-rekan juga terlihat enggak suka dengan saya. Atasan saya itu loyal ke karyawan, tapi sejak tahu saya ibu tunggal, dia berhenti bersikap loyal ke yang lain. Mereka pikir dia hanya fokus ke saya, mungkin itu membuat mereka iri, jengkel, dan mengambil kesimpulan sendiri kalau saya godain dia,” ucap perempuan yang kini bekerja sebagai wirausaha. Ia menjelaskan, justru atasannya senang menghampiri mejanya.

Merujuk survei terhadap 7.500 karyawan penuh waktu oleh Gallup, sebuah perusahaan analisis dan penasihat di AS, perlakuan tidak adil di tempat kerja seperti dialami Devina merupakan alasan utama burnout dialami para pekerja.

Ketidakadilan ini termasuk bias, pilih kasih, menerima perlakuan buruk dari rekan kerja, hingga pemberian kompensasi yang tidak adil dan kebijakan perusahaan. Ikatan psikologis yang membuat pekerjaan bermakna akan rusak, ketika karyawan tidak memercayai rekan kerja dan atasannya.

Oleh karena itu, Devina memutuskan undur diri setelah mencoba bertahan selama setahun sejak kejadian tersebut. Hingga dia angkat kaki dari kantor sampai sekarang, tak pernah ada “maaf” dari HRD Manager atas kekeliruannya.

Perbedaan Perilaku pada Ibu dan Ayah Tunggal

Dalam keseharian, kita bisa melihat adanya bias perilaku masyarakat terhadap ibu dan ayah tunggal. Hal ini diutarakan oleh Marriage & Family Therapist dan Professor of Human Development and Family Science, Amanda Haire dan Christie McGeorge, dalam penelitian berjudul “Negative Perceptions of Never-Married Custodial Single Mothers and Single Fathers: Applications of a Gender Analysis for Family Therapists”.

Ayah tunggal dianggap memiliki sikap mengagumkan, karena memilih menghadapi tantangan dalam mengasuh anak sekaligus menyeimbangkan dating life. Sementara ibu tunggal diasumsikan harus mengasuh anak sebagai tanggung jawab atas perbuatan dan karakternya yang buruk sebagai individu, seperti kehamilan tidak diinginkan atau gagal mempertahankan hubungan.

Baca Juga: Mulai dari Makna Pemberdayaan hingga Eksploitasi, Kompleksnya Istilah ‘Girlboss’

Bias tersebut turut dialami oleh Devina. Rekan kerjanya justru bersimpati dengan seorang ayah tunggal di divisinya.

“Dia tidak dianggap sebagai seseorang “berbahaya”, bahkan mereka bersikap baik dengannya. Terkadang, rekan-rekan perempuan memberikan makan siang dan menanyakan kabar anaknya,” ujar Devina.

“Kami sama-sama orang tua tunggal, bekerja di divisi Marketing, berpenampilan menarik karena tuntutan pekerjaan, dan bersikap humble. Tapi kenapa mereka enggak bisa memperlakukan saya seperti bapak itu?”

Sebagai masyarakat, kita memiliki peran dalam menghapus pandangan tersebut, karena baik ibu dan ayah tunggal memiliki kesulitannya dalam mengasuh anak. Tak hanya stigma pada ibu tunggal, pemikiran parenting pada perempuan bersifat natural dibandingkan laki-laki, secara tidak langsung telah meremehkan kemampuan mereka.

Pentingnya Dukungan Perusahaan

Perusahaan memiliki peran dalam menciptakan safe space untuk seluruh pekerjanya tanpa terkecuali, dan perlu membuat budaya kerja inklusif. Mengutip Harvard Business Review, perusahaan sebaiknya mempertimbangkan pemberian kompensasi terhadap orang tua tunggal, jika mereka diharapkan bekerja atau menghadiri acara kerja di luar jam kerja. Ini dikarenakan mereka perlu memberikan perhatian tambahan dalam mengatur pekerjaan.

Saat bekerja di perusahaan India selama dua tahun, Devina justru mengalaminya.  Atasannya meminta ia mengecek dokumen selama 1 jam setelah jam pulang kantor, ia pun menerima upah tambahan sebesar 30 persen dari upah bulanan.

Baca Juga: Ibu Tunggal dan Pencarian Cinta Kedua

Selain itu, ia merasa perusahaan lebih toleran terhadap perannya sebagai ibu tunggal. “Terkadang saya datang agak terlambat dan atasan saya bisa memaklumi, katanya urusan saya lebih banyak daripada pekerja perempuan lainnya,” ucapnya.

Bagi Devina, perusahaan dapat memberikan dukungan pada ibu tunggal sesederhana memperlakukan mereka seperti pekerja lainnya.

“Kami enggak minta diperlakukan khusus, minimal perlakukan seperti pekerja lainnya. Dukungan juga enggak harus berwujud materi, dengan kata-kata dan perhatian sudah cukup,” ujarnya.

Ia berharap tidak ada perusahaan lain yang mengumumkan status pernikahan ke semua orang, sebagaimana dialaminya. “Setiap ibu tunggal kesiapannya berbeda, ada yang bersedia memberi tahu dan enggak, tergantung proses healing masing-masing. Jangan sampai kejadian itu membuat ibu tunggal semakin terpukul,” tutupnya.

Read More
perempuan gig worker

Sulitnya Jadi ‘Gig Worker’ Perempuan Selama Pandemi

Klaim Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa tekanan ekonomi lebih membebani pekerja perempuan, tampaknya bukan pesan kosong. Buktinya, sektor bisnis paling banyak yang terdampak pandemi, diisi oleh para pekerja perempuan. Menurut catatan CNN Indonesia, 40 persen pekerja perempuan, seperti asisten rumah tangga, restoran, perhotelan, hingga akomodasi jadi jauh lebih miskin belakangan. Oleh The New York Times, ini disebut shecession, sebuah kondisi di mana kemerosotan pendapatan ekonomi lebih banyak dialami perempuan, berbeda dengan mancession 2008 di Amerika yang menimpa mayoritas lelaki

Jika sudah begini, perempuan pun terpaksa untuk pontang-panting bertahan hidup. Untungnya, kemajuan teknologi internet sedikit banyak mempermudah akses perempuan untuk memperoleh pendapatan. Tak heran jika kemudian istilah gig economy muncul sebagai ekses kemajuan tersebut. Dalam gig economy, perempuan bisa mencicipi lapangan kerja beragam, mulai dari mitra ojek online, kurir jasa pengiriman, dan kerja kontrak independen lainnya.

Baca Juga: Biru Terong Initiative: Berdayakan Perempuan, Picu Perubahan Sosial Lewat Video

Gig Worker Berawal dari Tuntutan

Bekerja sebagai gig worker menjadi satu-satunya pilihan bagi Natalia (40), seorang pengantar jasa titip makanan UMKM di Jakarta. Ia memilih tempat makan yang terkenal melalui Instagram @darihalte_kehalte. Mulanya, pekerjaan tersebut dilakukan untuk memperoleh penghasilan tambahan. Namun, setelah seminggu tidak menerima penghasilan dari jasa ojek online-nya hingga diputus mitra, ia memutuskan untuk fokus bekerja sebagai jasa titip.

“Saya sudah mempromosikan jasa titip ini sejak 2 bulan sebelum pandemi, cuma sama sekali nggak ada yang pernah beli. Di hari saya putus mitra, kok ya Tuhan kasih jalan, langsung banyak pesanannya,” cerita Natalia.

Pekerjaan ini membuka berbagai peluang baginya. Kini ibu dua anak itu memiliki banyak pelanggan yang sering meminta tolong untuk mengantarkan paket, berbelanja ke pasar, sampai mencari 30 kaleng susu beruang yang sedang langka.

Berbeda dengan Natalia yang bekerja untuk menafkahi keluarga, Citra (30) seorang pedagang kue basah yang menjajakan dagangannya di Instagram @jajanan_salamah, memiliki tujuan berbeda dalam melakukan pekerjaannya. 

“Sebenarnya uang yang diberikan suami sudah cukup, tetapi sebagai perempuan kita harus tetap punya uang pegangan. Hitung-hitung ya penghasilan tambahan sekaligus menutupi kekurangan kalau sewaktu-waktu dibutuhkan,” tuturnya. 

Ia memberlakukan sistem pre-order setiap minggunya dan memilih untuk mengantar pesanan secara langsung ke stasiun terdekat pelanggannya.

“Kalau pelanggan tinggalnya di Cilebut, saya naik Transjakarta lalu lanjut KRL. Nanti di Stasiun Cilebut baru saya pesankan ojek online untuk mengantar pesanan,” ujarnya. Citra mengaku memilih untuk mengantar langsung lantaran ingin mempertahankan kualitas kue sehingga ongkos produksinya di atas rata-rata.

“Setidaknya saya bantu mengurangi pengeluaran konsumen dengan cara seperti itu,” jelasnya.

Baca Juga: 7 Perempuan Inspiratif Indonesia yang Layak jadi Panutan

Suka dan Duka

Selama 18 bulan terakhir, pekerjaan Natalia dalam layanan jasa titip mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi. Bahkan, ada sebuah peristiwa yang sangat berkesan baginya.

“Waktu itu saya pasrah banget karena harus bayar uang semesteran anak. Eh, selama 3 hari berturut-turut ada pesanan dari Kementerian, seenggaknya sudah bisa membayarkan Rp700 ribu. Enggak lama, ada seseorang yang pesan makanan di Muara Karang, akhirnya saya ambil dengan perjanjian belanja ongkir Rp75 ribu untuk antar sampai Ragunan. Pas pelanggan ini ambil pesanannya, dia kasih uang Rp400 ribu. Jadi kuliah anak saya lunas dibayar sama pelanggan tersebut. Itu saya langsung duduk dan menangis di depan rumah orang,” cerita Natalia.

Baca Juga: Kesehatan Mental Pekerja Masih Diabaikan, Perusahaan Perlu Buat Perubahan Kebijakan

Nasib berbeda dialami Citra yang justru memikirkan ketidakpastian di masa pandemi ini. Ia mempertimbangkan kehidupannya tidak bisa terus menerus bergantung dengan usaha kue, terlebih selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Keadaan ini membuatnya harus menghentikan pekerjaannya untuk sementara waktu. Keputusan itu diambil karena pekerjaannya yang mengharuskan untuk berbelanja ke pasar hingga mengantar pesanan, sehingga terlalu berisiko untuk kesehatan.

“Sekarang saya mau fokus ikut CPNS tahun ini. Syukur-syukur kalau nanti lolos, uangnya bisa memperluas usaha dan mempekerjakan orang lain. Jadinya kan bisa sekalian memberdayakan perempuan,” ucapnya menaruh harapan.

Baca Juga: ‘Female Gaze’ dan Cara Pandang Dunia Lewat Lensa Perempuan

Masa Depan Gig Worker di Tangan Perempuan

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Hyperwallet pada 2017, 61% perempuan gig workers di Amerika Serikat ingin menjadikan pekerjaannya sebagai karier full-time. Gig work pun dinilai lebih fleksibel, dapat memiliki work life balance yang baik, dan berpotensi mendapatkan pendapatan yang lebih besar serta setara dengan laki-laki.

Terkait lapangan kerja bagi gig worker ini turut dibahas dalam penelitian Katherine Lim dkk. berjudul “Independent Contractors in the U.S.: New Trends from 15 years of Administrative Tax Data” (2019). Mereka menunjukkan kemungkinan adanya pergeseran struktural yang luas di pasar tenaga kerja, terutama bagi perempuan yang diwakili oleh tren pertumbuhan untuk kontraktor independen.

Dengan bekerja sebagai gig worker, perempuan memiliki independensi dan kebebasan dalam menentukan pekerjaan, sehingga dapat menyesuaikan dengan peran dan tanggung jawabnya di dalam keluarga.

Read More

5 Karakter Netflix yang Merepresentasikan Realitas Ibu Bekerja

Nestapa rasanya saat mendengar omongan tetangga dan kerabat yang menilai karakter ibu bekerja sebagai sosok yang kurang menyayangi anaknya, hanya karena mereka memutuskan untuk kembali berkarier. Situasi ini membuat perempuan pekerja seolah dihadapkan pada pilihan antara keluarga dan pekerjaan, lantas dianggap lebih mencintai kariernya dibandingkan sang buah hati. Padahal, setiap ibu pasti ingin hadir untuk anak-anaknya pada setiap kesempatan.

Tak hanya memperlihatkan kapabilitas perempuan dengan karier mereka yang melesat, sebagai sebuah medium, berbagai serial televisi mencoba merepresentasikan realitas yang dihadapi ibu bekerja melalui karakternya. Mulai dari kesulitan mereka untuk memahami anak, bekerja mati-matian untuk memenuhi kebutuhan mereka, hingga rela mengorbankan kehidupannya sendiri.

Berikut lima karakter dalam serial Netflix yang menggambarkan realitas ibu bekerja, sekaligus menjadi pengingat bagi kita untuk lebih mengapresiasi peran ibu dalam hidup sehari-hari.

(Spoiler alert)

1. Kate Mularkey – Firefly Lane

Dalam proses perceraiannya, Kate Mularkey (Sarah Chalke) mencoba untuk kembali bekerja di dunia jurnalisme. Walaupun berhasil kembali bekerja di sebuah majalah, perjalanan karakter ibu pekerja ini untuk memperoleh posisinya tidaklah mudah karena ia sudah tidak bekerja selama satu dekade terakhir. Selain itu, ia hampir melewatkan proses wawancara lantaran harus menjemput putrinya yang berulah di sekolah karena sedang melewati fase pemberontakan akibat perceraian orang tuanya.

Kate pun harus bekerja di bawah kepemimpinan seorang editor yang sangat mementingkan penampilan. Terlebih lagi, ia dimanfaatkan untuk mewawancarai Tully Hart (Katherine Heigl), seorang presenter ternama sekaligus sahabatnya, secara eksklusif.

Sumber: IMBD

Di tengah rumitnya kehidupan Kate sebagai individu, Firefly Lane menunjukkan kompleksnya realitas seorang ibu yang berusaha memberikan segalanya untuk seorang anak, mulai dari mengupayakan kehadirannya, menjalin hubungan baik dengan mantan suami, hingga kembali bekerja untuk mencari nafkah. Meskipun tak berjalan mulus, Kate tetap mencoba untuk memahami putrinya dan menunjukkan bahwa putrinya tersebut adalah prioritasnya.

Baca Juga: Sulitnya Gapai Impian Setelah Jadi Ibu

2. Jen Harding – Dead To Me

Setelah kematian sang suami, Jen Harding (Christina Applegate) harus berperan sebagai ibu tunggal untuk kedua anaknya. Kesehariannya semakin sulit untuk dijalani karena perempuan yang bekerja sebagai agen real estate di California ini masih dalam tahap kesedihan dan terus menyelidiki sosok yang membunuh suaminya dalam insiden tabrak lari. Belum lagi, ia harus menghadapi karakteristik para klien yang membuatnya harus menahan diri saat emosinya tak stabil.

Karakter Jen menampilkan bagaimana seorang ibu harus bersikap tegar di depan keluarganya, meskipun sebenarnya ia membutuhkan ruang untuk berkabung. Ditambah lagi, ia tidak memiliki teman bercerita sebelum bergabung dengan support group, yang akhirnya mempertemukannya dengan Judy Hale (Linda Cardellini).

Dalam menjalani peran sebagai ibu, Jen harus berurusan dengan tingkah laku putra sulungnya, Charlie, yang menginjak usia remaja. Ia terlibat dalam pengedaran narkoba, membawa senjata tersembunyi, pergi meninggalkan rumah, hingga mengendarai mobil tanpa SIM dan tanpa seizin Jen. 

Melalui serial ini, kita juga diingatkan untuk sebisa mungkin bersedia menjadi pendengar bagi orang-orang terdekat yang membutuhkan dukungan dan perhatian agar mereka tidak merasa sendirian.

Baca Juga: Seruan Agar Perempuan Berkarya Jangan Kecilkan Perempuan Tak Berdaya

Sumber: Netflix

3. Kang Hye-soo – Marriage Contract

Dalam drama Korea Marriage Contract, Kang Hye-soo (Uee) berjuang untuk merawat anaknya sekaligus membayar utang suaminya yang telah meninggal. Untuk menanggungnya dan memenuhi kebutuhan hidup, ia bekerja di restoran milik Han Ji-hoon (Lee Seo-jin) yang merupakan seorang konglomerat. Nahasnya, Hye-soo menderita tumor otak yang tak bisa dioperasi. Hal ini membuatnya memikirkan masa depan anaknya.

Kemudian, ia mengetahui bahwa ibu dari atasannya itu membutuhkan transplantasi hati. Ji-hoon pun berencana untuk menikahi si pendonor secara kontrak agar prosesnya terjadi secara legal. Oleh karena itu, Hye-soo menawarkan diri untuk menikahi Ji-hoon dengan sebuah imbalan, yakni menerima sejumlah uang yang cukup untuk menafkahi anaknya hingga dewasa agar ia tak perlu khawatir jika meninggal akibat penyakitnya.

Keputusan yang diambil oleh Hye-soo menggambarkan ketulusan cinta seorang ibu terhadap anaknya dan bersedia melakukan apa saja untuk masa depan yang terjamin, meskipun jalan yang dipilih berisiko untuk nyawanya.

Baca Juga: 6 Alasan Kenapa Pemimpin Perempuan Seperti Jacqueline Carlyle Sungguh Keren

Kang Hye-soo karakter ibu bekerja dalam Marriage Contract
Sumber: MBC

4. Karakter Ibu Bekerja Choi Won-deok dalam Serial Start-Up

Sejak kedua orang tua Seo Dal-mi (Bae Suzy) bercerai dan sang ayah meninggal, Choi Won-deok (Kim Hae-sook) yang merupakan neneknya memberikan figur ibu untuk perempuan tersebut. Agar cucu kesayangannya tidak kesepian, ia rela berbohong sepanjang hidup dengan meminta Han Ji-pyeong (Kim Seon-ho) berperan sebagai teman penanya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Won-deok bekerja sekaligus memiliki sebuah gerai corn dog. Ia pun memutuskan untuk menjual gerainya agar Dal-mi dapat melanjutkan pendidikan, meski pada akhirnya cucunya itu memilih untuk keluar dan melakukan berbagai pekerjaan paruh waktu untuk memberikan neneknya sebuah food truck.

Selelah apa pun Won-deok usai mencari nafkah dan mempersiapkan dagangan untuk keesokan harinya, ia selalu memberikan Dal-mi ruang untuk menceritakan keluh kesahnya. Dengan setia, Won-deok mendukung cucunya dalam merealisasikan ide dan mimpi-mimpinya, serta percaya akan kesuksesan yang akan diraih.

Karakter ibu bekerja Won-deok
Sumber: Neflix

Karakter Won-deok dalam drama Korea Start-Up merefleksikan bagaimana seorang ibu—dalam cerita ini nenek—akan bersikeras untuk memberikan yang terbaik bagi masa depan anaknya, dan memberikan dukungan yang tak melulu bersifat materi, tetapi juga moral. 

5. Georgia Miller – Ginny and Georgia

Dalam serial Netflix Ginny and Georgia, karakter Georgia Miller (Brianne Howey) tampaknya menjadi ibu idaman bagi setiap anak. Cara pendekatannya yang santai dan memosisikan diri sebagai teman dalam menyikapi kehidupan sosial anak sulungnya, Ginny Miller (Antonia Gentry), telah membangun kepercayaan di antara mereka. Bahkan, dengan mudahnya Ginny dapat menceritakan pengalaman mabuk pertamanya dan Georgia meminta agar mereka berdiskusi sebelum putrinya melakukan hubungan seks untuk pertama kali.

Walaupun demikian, masa remajanya yang kelam—saat ia dilecehkan dan harus berjuang untuk bertahan hidup—membuat Georgia bersikap protektif terhadap putrinya. Sesulit apa pun situasinya, Georgia berusaha untuk menghidupi dan melindungi Ginny, sekalipun ibu dari kekasihnya ingin mengambil hak asuh karena menilai dirinya belum siap menjadi orang tua.

GINNY & GEORGIA (L to R) DIESEL LA TORRACA as AUSTIN, BRIANNE HOWEY as GEORGIA, and ANTONIA GENTRY as GINNY in episode 101 of GINNY & GEORGIA Cr. COURTESY OF NETFLIX © 2020

Pengalamannya itu memotivasi Georgia untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Ia mengajak kedua anaknya hidup nomaden dan pindah ke Wellsbury, Massachusetts, kota tempat ia bekerja di kantor walikota. Pekerjaan itu didapatkannya berkat kecerdikannya dalam memberikan solusi atas sebuah permasalahan dalam diskusi orang tua.Sosok cool mom seperti yang direpresentasikan oleh Georgia tentunya kerap didambakan. Namun, caranya menyikapi kehidupan anak-anaknya kembali menarik kita untuk melihat latar belakangnya yang menjadi salah satu faktor dirinya bersikap demikian. Sama seperti para ibu lainnya, Georgia ingin memiliki keterikatan dengan anak-anaknya melalui caranya sendiri dan menjamin mereka menjalani kehidupan yang lebih baik.

Read More

Petani Perempuan di Garda Depan Industri Kopi

Urusan kopi, mulai dari penikmat, pebisnis, hingga petani, kerap dicap maskulin karena didominasi para lelaki. Bahkan, keterlibatan petani kopi perempuan tak otomatis membuat industri ini menjadi lebih setara. Pasalnya, mayoritas penentu keputusan, dari menentukan harga kopi sampai transaksi jual beli, masih dikontrol oleh laki-laki.

Untuk menggeser kesan maskulin di industri kopi, yang dibutuhkan adalah melibatkan perempuan lebih banyak serta menciptakan sistem yang adil untuk mereka. Dalam sebuah diskusi daring, peneliti dan spesialis gender World Agroforestry (ICRAF), Elok Mulyoutami menuturkan, kesetaraan gender dapat dihasilkan dalam sistem agroforestri kopi.

Sistem ini telah diterapkan dalam skala nasional dan internasional, dengan menanam pohon atau tanaman pelindung sesuai dengan jarak tanam yang diatur sedemikian rupa. Tujuannya untuk menggenjot produksi kopi sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.

Mengapa sistem agroforestri ini perlu diimplementasikan pada kopi? Karena para petani kopi hanya menikmati hasil panen sebanyak satu kali dalam setahun. Karenanya, tanaman yang digunakan sebagai alternatif pun bersifat komersial, seperti rempah-rempah, buah, dan sayur.

Dari situlah, kata Elok, diharapkan ada pembagian relasi yang adil antara lelaki dan perempuan.

“Misalnya dalam pembagian tugas dalam berkebun kopi, pembagian pendapatan, akses terhadap kehidupan rumah tangga, manajemen waktu, keuangan, pengambilan keputusan rumah tangga, serta akses untuk mendapatkan pembangunan kapasitas,” ujarnya.

Baca Juga: Tak Ada Tanah dan Air untuk Perempuan

Intervensi Gender Mendesak dalam Pertanian Kopi

Berdasarkan data Lota Bertulfo dalam “The Conference Board of Canada” terkait peranan gender di industri kopi, sebagian besar tugas dalam produksi kopi masih dilakukan oleh petani laki-laki. Jika diperinci, kelompok ini mengerjakan sembilan rangkaian kerja, dari persiapan lahan, pembenihan, hingga penyimpanan. Sementara, tugas petani perempuan terbagi menjadi lima bagian, dari penanaman hingga pemilihan.

Dari pembagian itu saja sudah tampak ada perbedaan peran, di mana laki-laki lebih difokuskan untuk mengurus lahan. Intervensi gender di sini diperlukan sebagai salah satu langkah untuk menjembatani ketimpangan peran itu. 

ICRAF meneliti 125 responden pada September hingga Oktober 2020 di Kecamatan Dempo Tengah dan Dempo Utara dan terbukti, intervensi gender dalam sistem agroforestri kopi tidak berdampak negatif pada kualitas rumah tangga. Suami istri petani kopi justru jadi saling mendukung dan melengkapi. Namun, masih ada risiko ketidakseimbangan hubungan, mengingat lelaki masih dianggap sebagai kepala rumah tangga yang memegang kunci terakhir pengambilan keputusan.

Merespons ini, Do Ngoc Sy, Sustainability Manager Jacobs Douwe Egberts (JDE) menjelaskan, peran perempuan harus selalu ada dalam sistem rantai nilai kopi. 

“Jika diabaikan, maka kita akan kehilangan potensi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan bagi keluarga petani secara keseluruhan,” ujarnya.

Baca Juga: Akibat Stigma, Kelompok Minoritas Masih Sulit Mengakses Kesempatan Kerja

Keterlibatan Petani Perempuan dalam Agroforestri Kopi

Berikutnya, kerja sama antara perempuan dan laki-laki dinilai mampu mengembangkan produktivitas usaha kopi. Hubungan ini didukung oleh S&D SUCDEN COFFEE sebagai green coffee merchant berskala global.

“S&D SUCDEN COFFEE telah bekerja sama dengan beberapa mitra dalam program peningkatan kapasitas praktik pertanian yang baik, bagi para petani, khususnya petani perempuan agar dapat membuka peluang bagi mereka dalam meningkatkan kapasitasnya,” ujar Veronika Semelkova, Sustainability Manager S&D SUCDEN COFFEE.

Sayangnya, sejauh ini keterlibatan perempuan dalam agroforestri kopi tergolong masih minim. Sartika Monalisa, Robusta Master Trainer Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) berujar, di Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan, hanya terdapat 20 persen kelompok petani perempuan dengan perwakilan tiga kelompok per desa. Padahal, petani perempuan memiliki pengaruh dalam kemajuan perekonomian keluarga. Mereka bisa melakukan sembilan pekerjaan laki-laki di kebun saat sedang dibutuhkan, sehingga produksi jalan terus dan pendapatan keluarga tetap stabil.

Lalu apa solusinya?

Dengan menyelenggarakan pelatihan yang tepat, kepercayaan diri, kemampuan, dan keterampilan perempuan cenderung mudah ditingkatkan. Mereka juga bisa memiliki kesadaran tentang kapabilitas diri agar terbentuk keinginan untuk terlibat.

Baca Juga: Seabad Lebih Setelah Kartini Gagas Emansipasi Perempuan, Kesetaraan Gender Masih Jadi PR

“Ada stigma di masyarakat kalau perempuan enggak perlu ikut pelatihan, lebih baik di rumah saja, sehingga mereka merasa tidak berhak mendapatkan kesempatan tersebut,” tutur Elok

Dengan memberikan ruang kontribusi lebih besar bagi perempuan, cakupan yang dibantu tak hanya sebatas perekonomian keluarga. Perempuan juga memiliki kemampuan lebih baik untuk berbagai pengetahuan secara detil kepada orang lain.

“Sudah saatnya perempuan diberikan kesempatan untuk berperan optimal sebagai aktor utama dalam menciptakan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan,” pungkas Elok.

Read More
sebelum jadi anak magang

5 Hak Anak Magang yang Perlu Dipahami Sebelum Tanda Tangan Kontrak

Tak sedikit pengalaman buruk yang dibagi para mahasiswa yang melakukan praktik kerja magang. Ada yang melakukan pekerjaan tidak sesuai dengan yang dideskripsikan pada awal rekrutmen, bekerja di luar jam kantor, tidak menerima upah, hingga melakukan pekerjaan karyawan lainnya yang tidak menjadi kewajibannya.

Cerita serupa yang datang dari start-up Ruangguru meramaikan Twitter di pertengahan Maret lalu. Sebagian warganet menuding perusahaan tersebut dengan sengaja mempekerjakan karyawan magang karena upahnya lebih rendah.

Kejadian-kejadian tersebut membuktikan bahwa tampaknya perusahaan masih abai dalam penerapan hak dan kewajiban karyawan magang. Tentunya kita dapat belajar dari pengalaman mereka sehingga tidak perlu mengalaminya, serta bersikap lebih kritis dan selektif dalam membaca hak dan kewajiban yang diberikan oleh perusahaan.

Karenanya, kita perlu memahami lima hak anak magang berikut ini sebelum memulai praktik kerja magang. Hak-hak ini penting untuk dipahami sebelum menandatangani kontrak, agar dapat menghindar dari eksploitasi pekerjaan, yakni dipekerjakan dengan upah rendah atau tidak sama sekali, dan beban kerja yang terlalu berat untuk seorang anak magang.

Baca Juga: Sudahkah Kamu Temukan Makna dalam Pekerjaan?

1. Menerima Uang Saku atau Uang Transpor

Meskipun bukan karyawan tetap, karyawan magang juga memiliki hak untuk menerima uang saku sebagaimana yang diatur dalam Pasal 22 Ayat (2) UU Ketenagakerjaan. Sering kali hak yang satu ini berada di ranah abu-abu dan anak magang pun hanya pasrah dan diam saat perusahaan tidak dapat memberikan upah. Hal ini karena mereka lebih mengutamakan pengalaman bekerja sebagai modal yang dicantumkan dalam CV-nya nanti. Memang sih, anak magang akan mendapatkan pengalaman berharga yang akan mempersiapkan mereka sebelum masuk ke dunia kerja. Tapi apa iya, dibayar dengan pengalaman itu sudah cukup?

2. Memperoleh Jaminan Sosial Tenaga Kerja

Diatur dalam UU No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, yang dimaksud jaminan sosial di sini adalah jaminan kecelakaan kerja dan kematian.

Dicantumkannya hak ini dalam UU merepresentasikan pentingnya jaminan sosial tenaga kerja. Dengan adanya jaminan sosial, anak magang tak perlu khawatir apabila risiko yang tidak diinginkan terjadi karena tidak mendapat pertanggungjawaban dari perusahaan. Jaminan sosial juga menjadi kebutuhan mendasar yang layak diterima.

3. Mendapatkan Bimbingan dari Supervisor Magang

Anak magang tentunya membutuhkan peran seorang supervisor dalam melaksanakan pekerjaannya. Peran ini dibutuhkan untuk memberikan arahan terkait sistem dan rangkaian pekerjaan yang harus dilakukan, menyampaikan ilmu terkait bidang pekerjaan dan realitas dalam dunia kerja, serta mengevaluasi kinerja agar dapat dikembangkan. Supervisor juga yang akan memastikan kalau praktik kerja magang yang dilakukan berjalan dengan lancar.

Apabila tidak ada keterlibatan seorang supervisor, anak magang akan kehilangan ilmu yang seharusnya bisa mereka peroleh. Meskipun mereka dapat bertanya dan belajar dari karyawan lainnya, komunikasi utama yang harus dibangun dalam lingkungan kerja tersebut ialah dengan supervisor-nya.

Baca Juga: 10 Tips Buat Kamu yang Baru Lulus dan Mau Lamar Kerja

4. Anak Magang harus Mendapatkan Jobdesk atau Pekerjaan yang Jelas

Di sebagian tempat kerja, karyawan magang kerap dianggap sebagai sosok yang gampang disuruh-suruh. Padahal, sebagaimana karyawan tetap, mereka juga butuh kejelasan dalam hal deskripsi kerja dan kewajiban utamanya. Karyawan tetap sering kali menyuruh anak magang melakukan ini itu demi meringankan kerja mereka sendiri, tapi tidak memikirkan beban kerja si karyawan magang.

Maka itu, penting bagi karyawan magang untuk memahami dan memastikan bahwa pekerjaan yang dilakukannya masuk ke dalam cakupan deskripsi pekerjaan secara tertulis yang dijelaskan sebelum periode magang dimulai.

Bila masih tetap disuruh mengerjakan hal-hal di luar deskripsi kerjanya, sebaiknya anak magang mengomunikasikannya kepada pembimbing magang agar kejadian tersebut tidak terulang dan karyawan lain pun berhenti untuk berperilaku sesukanya.

4. Anak Magang Berhak Mendapatkan sertifikat magang

Berdasarkan hak dan kewajiban anak magang yang diatur dalam UU Ketenagakerjaan Pasal 22 Ayat (2), seorang anak magang juga berhak untuk mendapatkan sertifikat magang apabila lulus pada akhir program.Tentunya sertifikat ini berguna sebagai bukti bahwa mereka telah memiliki pengalaman kerja secara resmi di sebuah perusahaan. Kinerja karyawan magang juga dapat dilihat dalam sertifikat tersebut, yang kemudian akan jadi pertimbangan bagi perusahaan tempat mereka melamar pekerjaan berikutnya.

Read More

Kesehatan Mental Pekerja Masih Diabaikan, Perusahaan Perlu Buat Perubahan Kebijakan

Akhir Mei lalu, seorang pengusaha meramaikan jagat Twitter dengan sebuah video yang diunggahnya di TikTok. Ia mengatakan bahwa karyawan yang kebanyakan izin sakit sebenarnya hanya ingin menyabotase perusahaan. Menurutnya, apabila seseorang masih bisa bangun, jalan, makan, dan naik motor, artinya bisa ke kantor. Ini mengindikasikan bagaimana kesehatan mental karyawan belum dianggap penting oleh pengusaha tersebut. 

Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan sudah tertera dengan jelas bahwa dalam mempekerjakan tenaga kerja, pemberi kerja wajib memberikan perlindungan yang mencakup kesejahteraan, keselamatan, dan kesehatan baik mental maupun fisik tenaga kerja. Sayangnya, UU tersebut belum diimplementasikan oleh banyak perusahaan dalam konteks kesehatan mental. 

Baca Juga: Kiat-kiat Kantor Dukung Kesehatan Mental Karyawan yang Patut Dicoba

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kesehatan Mental Karyawan

Sejatinya, bekerja memiliki dampak positif untuk kesehatan mental seseorang. Alasannya, dengan bekerja, kita bisa mengaktualisasi diri selain mendapat upah untuk menunjang hidup. Bekerja juga membentuk struktur dan tujuan hidup seseorang yang membuat orang-orang termotivasi untuk melanjutkan hidup karena ada yang dikejar. Di samping itu, bekerja juga membuka kesempatan untuk bersosialisasi dengan orang lain dan menjalin pertemanan, serta sebagai sarana untuk meningkatkan harga diri seseorang dengan dihargai oleh orang lain.

Namun, dalam situasi tertentu seperti lingkungan kerja yang toksik, terus bekerja justru menimbulkan tekanan hingga memicu gangguan kecemasan, dan depresi.

Di berbagai kasus, ada bos-bos menilai beban kerja seorang karyawan tak begitu banyak sehingga tidak akan ada risiko kesehatan apa pun yang akan muncul. Tapi,  masih ada faktor lain yang menyebabkan karyawan tidak bekerja sebagaimana biasanya, yang luput dari perhatian. Lingkungan kerja toksik yang mencakup interaksi dengan kolega yang buruk di kantor, budaya kantor yang minim apresiasi, tidak memperhatikan kebutuhan khusus karyawan per individu secara psikologis bisa menjadi faktor-faktor lain pemicu masalah kesehatan mental karyawan.

Kita ambil contoh, jika seorang pekerja menerima pelecehan atau dirundung oleh rekan-rekan kerjanya hingga ia merasa tak nyaman, sangat mungkin dia mengalami penurunan performa kerja. 

Masalah jam kerja juga menjadi faktor yang mempengaruhi kesehatan mental karyawan. Sebagian perusahaan memberlakukan jam kerja yang fleksibel. Hal ini jadi dua sisi mata uang. Di satu titik, jam kerja fleksibel memungkinkan karyawan memenuhi target kerjanya, terlebih bagi perempuan pekerja yang sudah berkeluarga dan punya anak. Adanya kebijakan jam kerja ini membuat mereka bisa mengatur kapan harus berhadapan dengan laptop atau ponsel untuk bekerja, dan kapan harus mengurus anak dan rumah. 

Tapi di titik lain, khususnya selama pandemi ini, jam kerja fleksibel juga berarti kita mesti siap dipanggil, rapat, atau mengumpulkan tugas kantor kapan pun. Sebagian orang masih mengisi waktu istirahat malamnya atau mengorbankan waktu main dengan anaknya karena perusahaan masih berorientasi pada hasil. Ujungnya,work-life balance karyawan pun jadi berantakan, dan ini berisiko pada penurunan kesehatan mentalnya. 

Baca Juga: 7 Tips Menjaga ‘Work-Life Balance’ Buat ‘Fresh Graduate’

Kenapa Perusahaan Perlu Sadari Pentingnya Kesehatan Mental Karyawan?

Masih banyak pihak, termasuk perusahaan, yang perlu disadarkan bahwa kesehatan manusia tidak hanya dilihat dari fisik saja, tetapi juga mental. Kantor menjadi salah satu tempat yang memengaruhi kesehatan mental seseorang karena adanya beban kerja berlebih yang diemban para pekerja.

Saya sering menemukan sebuah kalimat yang sepertinya dijadikan pengingat oleh para pengguna Twitter, “kerja sewajarnya karena kalau sakit, mati, keluarga yang sedih. Kantor mah tinggal cari karyawan lagi.”

Terkadang, beban kerja memang sering membuat kita lupa dengan kesehatan. Mengerjakan sesuatu sesuai deadline seperti dianggap sebagai keutamaan, tak peduli alarm burnout si karyawan sudah berbunyi. 

Alih-alih terus melanggengkan kondisi memprihatinkan seperti ini, perusahaan punya peran penting dalam membuat kebijakan yang mendukung pemenuhan kesehatan mental karyawannya. Jika tidak, ujung-ujungnya perusahaan juga merugi. 

Selain performa karyawan tak optimal lagi sehingga kurang produktif, reputasi perusahaan yang tak peduli masalah kesehatan mental juga tercoreng. Belum lagi perusahaan mesti mencari karyawan baru bila karyawan lamanya tidak tahan lagi mengemban beban kerjanya dan memutuskan resign

Perusahaan juga dapat berkontribusi positif terhadap kesehatan mental karyawan dengan menyosialisasikan cara mengelola stres serta cara berinteraksi dengan orang lain sebelum membuat keputusan terkait kerja.Komunikasi terbuka soal masalah mental pekerja dan inklusi menjadi kunci kesuksesan perusahaan, khususnya yang melibatkan kerja tim yang tinggi. 

Baca Juga: Diskriminasi di Tempat Kerja Hantui Orang dengan Gangguan Bipolar

Apa yang Perlu Dilakukan Perusahaan?

Jika seorang pekerja yang mengalami radang sendi langsung berobat ke dokter, mengapa saat dia mengalami burnout, depresi, dan kecemasan lebih memilih untuk menyimpan situasi tersebut pada diri sendiri dan terus memaksakan diri bekerja?

Bisa jadi mereka ragu untuk mengungkapkannya ke perusahaan karena khawatir tidak mendapat toleransi. Bisa jadi pula, masalah kesehatan mental di kantor hanya dikaitkan dengan kurangnya seseorang beribadah, terlalu ‘lembek’ saat diberi pekerjaan menantang, dan berbagai persepsi keliru lainnya.

Untuk mengubah kondisi itu, pihak perusahaan perlu membuat perubahan atau inisiasi kebijakan dalam menyikapi kesehatan mental karyawan. Mereka dapat membentuk ruang dengar untuk menerima keluh kesah pekerjanya dan memberikan fasilitas yang sama dengan kesehatan fisik. Bagi sebagian perusahaan, hal ini hanya membuang-buang anggaraan saja, padahal ditegakkannya kesadaran atas pentingnya kesehatan mental bisa berdampak positif dalam jangka panjang.

Sebuah regulasi dapat ditetapkan untuk mendukung kesehatan mental para pekerja. Misalnya, dengan membentuk Employee Assistance Program (EAP). Menurut sekelompok peneliti dari Illinois, Amerika Serikat, program ini berfungsi sebagai layanan pendampingan untuk membantu para pekerja dalam mengenal dan menyelesaikan permasalahan yang menghambat produktivitas kerja. Permasalahan yang pekerja hadapi sampai mengalami penurunan kesehatan mental bisa disebabkan oleh gangguan emosional, stres, kesehatan fisik, keuangan, keluarga, atau masalah pribadi yang memengaruhi kinerja.

Toleransi Perusahaan pada Karyawan Bermasalah Mental

Meskipun masih terganjal stigma, isu kesehatan mental semakin menjadi kesadaran masyarakat selama beberapa tahun terakhir. Hal ini dialami oleh Agni Larasati (40), yang berprofesi sebagai seorang pekerja media. Beban kerja yang berat di industri media membuatnya seperti tidak memiliki batasan antara kehidupan dan pekerjaan karena dapat dihubungi kapan pun.

Saat ia menyadari bahwa kesehatan mentalnya sedang tidak baik-baik saja, Agni memilih untuk menceritakan situasinya setelah hasil medis keluar karena saat itu, kondisinya tidak semua orang paham tentang kesehatan mental.

“Saya pergi ke psikiater dan melakukan sejumlah tes. Ternyata hasilnya memang buruk sehingga enggak bisa bekerja dengan kompeten untuk sementara waktu. Saya pun mengajukan resign karena kalau cuti tak berbayar, takutnya masih dihubungi kantor untuk urusan pekerjaan dan jadi beban untuk segera pulih,” tuturnya.

Agni mengatakan bahwa perusahaannya sempat memberikan beberapa opsi selain cuti tak berbayar, seperti diizinkan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan si pekerja saat itu. Namun, rehat dari seluruh aktivitasnya saat itu menjadi hal yang paling diperlukan.

Ia pun menyatakan bahwa perusahaannya justru memberikan dukungan untuk memulihkan kesehatan mental. “Dari kantor memang belum ada fasilitas kesehatan mental, tetapi mereka memberikan kelonggaran untuk mengatur jadwal pekerjaan dan ruang bagi pekerjanya untuk mengomunikasikan kondisi diri yang tengah dialami. Selain itu, kami juga bisa me-reimburse biaya konseling,” ceritanya.

Berdasarkan pengalaman Agni, tampaknya langkah baik memang sudah dimulai oleh beberapa perusahaan di Indonesia dengan memfasilitasi layanan EAP untuk para pekerja. Setidaknya hal ini telah dilakukan oleh Allianz, AirNav Indonesia, dan PTPN. Ketiganya menyadari bahwa di tengah ketidakpastian yang disebabkan oleh situasi pandemi, kesehatan pekerjanya semakin perlu diprioritaskan karena mereka adalah aset terpenting bagi perusahaan.

Bukan tanpa sebab, tapi korporasi yang melek dengan kesehatan mental dan berusaha untuk memberikan fasilitas, akan menciptakan pekerja yang sadar akan kesejahteraannya. Lingkungan pekerjaan pun menjadi lebih positif, serta mendorong dan memberdayakan mereka untuk lebih bersemangat dalam bekerja.

Read More

4 Film yang Gambarkan ‘Ageism’ terhadap Perempuan Pekerja

Saat menjadi pembawa acara penghargaan film Golden Globes 2014, komedian Tina Fey menyindir diskriminasi usia atau ageisme yang marak di industri film Hollywood dalam monolog pembuka perhelatan tersebut.

“Meryl Streep brilian banget di film August: Osage County. Membuktikan bahwa masih ada peran-peran dahsyat di Hollywood untuk Meryl Streep setelah berusia 60 tahun,” ujarnya disambut gelak tawa hadirin.

Pernyataan itu akurat menggambarkan ageism atau diskriminasi usia terhadap perempuan di industri film tersebut. Aktris yang telah berumur biasanya lebih sulit mendapatkan pekerjaan, digantikan oleh wajah-wajah baru yang jauh lebih muda yang secara fisik dianggap lebih menarik. Hanya ada satu-dua pengecualian, seperti pada aktris peraih Oscar, Meryl Streep. 

Baca Juga: 10 Rekomendasi Film tentang Perempuan Pemimpin

Di dunia kerja secara umum, diskriminasi usia terhadap perempuan juga marak. Perempuan yang berada di usia reproduksi aktif sering kali dihadapkan dengan stereotip tentang status mereka sebagai seorang istri dan ibu sehingga dianggap tidak dapat melakukan beban kerja sebanyak pria. Sementara perempuan yang berusia lebih dari 40 tahun cenderung dikategorikan sebagai pekerja dengan performa yang kurang baik.

Meskipun sebagian di antaranya disampaikan secara tersirat, empat film ini telah menyuarakan isu ageisme terhadap perempuan di tempat kerja. Melalui karakter dan alur ceritanya, kita dapat mempelajari cara memperjuangkan hak untuk tetap bekerja jika suatu saat harus berhenti dipekerjakan karena alasan ageisme.

1. What Men Want (2019)

Film tentang ageisme What Men Want (2019)
Kredit: IMDb

Film tentang ageisme pertama yang saya bahas adalah What Men Want. What Men Want menceritakan tentang Ali Davis (Taraji P. Henson), seorang agen atlet yang sukses, yang merasa dikucilkan oleh rekan-rekan kerjanya yang sebagian besar adalah laki-laki. Ia tidak pernah mendapatkan promosi jabatan karena sang atasan menganggapnya kurang mampu berhubungan baik dengan laki-laki.

Davis kemudian memutuskan untuk pergi ke paranormal agar ia dapat mengetahui isi pikiran pria. Tak disangka, kemampuan itu ia miliki setelah mengalami kecelakaan sepulang dari rumah sang paranormal.

Film ini menampilkan stereotip bagaimana perempuan cenderung suka hal-hal “mistis”. Namun, film ini menggambarkan bagaimana perempuan hanya perlu memprioritaskan dan memahami perasaan dan isi kepalanya sendiri, tanpa harus berupaya keras memahami isi pikiran pria, karena keberadaan mansplaining sudah sangat menjelaskan perspektif mereka.

2. The Intern (2015)

Film Ageisme The Intern (2015)
kredit: IMDb

Selain karakter Ben Whittaker (Robert De Niro) yang mengalami ageisme sebagai seorang lansia, Jules Ostin (Anne Hathaway) selaku founder dan CEO sebuah perusahaan rintisan tempat Ben magang pun merasakan hal yang sama. Ia diminta untuk memberikan jabatannya ke orang lain lantaran para investor menganggap dirinya yang perempuan dan seorang ibu sudah tidak dapat mengatasi beban kerja.

Baca Juga: Film-film Hayao Miyazaki dan Representasi Kepemimpinan Perempuan

Padahal, Ostin telah mengembangkan startup itu menjadi sebuah perusahaan besar hanya dalam 18 bulan. Ia pun mempertimbangkan untuk melepaskan jabatan tersebut demi menyelamatkan pernikahannya

3. Film Tentang Ageisme Terhadap Perempuan Pekerja: The Devil Wears Prada (2006)

The Devil Wears Prada (2006)
Kredit: IMDb

Posisi Miranda Priestly (Meryl Streep) selaku pemimpin redaksi Runway Magazine nyaris digantikan karena jajaran direksi menganggap perannya perlu dipegang oleh sosok perempuan yang lebih muda, yakni Jacqueline Follet (Stephanie Szostak). 

Baca Juga: 5 Film yang Menunjukkan Kompleksitas Perceraian

Meskipun harus mengorbankan seorang rekan kerja demi menyelamatkan posisinya, Priestly dapat mengatasinya dengan memberikan opsi bagi Follet untuk mengisi bangku Creative Director bersama seorang desainer. Alhasil ia tetap menggerakkan Runway.

Memang terkesan licik, tapi karakter Priestly mencerminkan perempuan yang harus memperjuangkan haknya apalagi jika ia sudah berumur. Ia membuktikan bahwa usia bukan batasan bagi seorang perempuan untuk berhenti berkarya.

4. Duty Free (2021)

Duty Free (2021)
Kredit: IMDb

Mencari pekerjaan di usia lanjut merupakan salah satu kesulitan yang akan dihadapi seseorang karena dianggap optimalisasi dalam melakukan pekerjaan yang jauh berkurang. Hal ini terbukti melalui Duty Free, sebuah film dokumenter dengan karakter utama Rebecca Danigelis, yang dipecat dari profesinya sebagai seorang housekeeping supervisor di sebuah hotel. 

Baca Juga: ‘Perempuan Tanah Jahanam’: Kemiskinan sebagai Sumber Horor

Kehilangan pekerjaan membuatnya merasakan sesuatu yang kurang dalam dirinya, sedangkan ia merasa tidak dapat berbuat apa pun, sesederhana menyusun daftar riwayat hidup untuk kembali mencari pekerjaan.
Hati kita akan dibuat pilu akibat harus menyaksikan seorang perempuan yang mengalami ketidakadilan akibat ageism, saat ia hanya ingin memiliki sumber penghidupan agar merasa aman di lingkungan sosial. Untunglah anak sulungnya menghibur sang ibu dengan mengajaknya berkeliling ke dua benua.

Read More
Peran Laki-laki dorong kepemimpinan perempuan

6 Peran Laki-laki dalam Mendorong Kepemimpinan Perempuan

Meskipun kini perempuan sudah turut melibatkan diri sebagai pemimpin, perjalanan melawan konstruksi budaya belum berakhir. Lingkungan sosial masih beranggapan bahwa kepemimpinan yang baik hanya dapat dilaksanakan dengan baik oleh peran laki-laki.

Data dari Badan PBB untuk perempuan, UN Women, menunjukkan bahwa hanya 22 perempuan yang menjabat sebagai kepala negara atau kepala pemerintahan, sedangkan 119 negara tidak pernah memiliki pemimpin perempuan sama sekali. 

Sementara di industri bisnis, menurut laporan Grant Thornton International yang dipublikasikan pada 2019, secara keseluruhan, perempuan memegang 29 persen kepemimpinan senior secara global, angka yang hanya naik 10 persen dalam 15 tahun terakhir. Selain itu, hanya 15 persen bisnis di dunia yang memiliki perempuan CEO. Posisi senior yang paling banyak dijabat perempuan adalah direktur sumber daya manusia, yaitu 43 persen.

Berdasarkan data tersebut, dapat dikatakan bahwa perempuan masih tertinggal dalam urusan kepemimpinan. Untuk meningkatkan kepemimpinan perempuan, perlu ada kontribusi laki-laki sebagai pihak yang mendominasi banyak sektor, terutama di masyarakat yang masih patriarkal ini. Kontribusi laki-laki dapat dimulai dari lingkungan keluarga hingga institusi. 

Berikut peran laki-laki yang dapat membantu dalam membentuk kepemimpinan perempuan.

1. Ayah Mengambil Peran Laki-laki Di Rumah yang Bisa Mendorong Anak Perempuan jadi Pemimpin

Seorang ayah harus bisa mengambil peran laki-laki yang dapat mendampingi, mengajari dengan kesabaran, dan menanamkan nilai-nilai serta kepercayaan diri penting agar anak memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Hal-hal tersebut merefleksikan sifat yang dibutuhkan dalam menjalankan kepemimpinan, yakni kemampuan untuk mengobservasi, berani mengambil keputusan, dan mendengarkan anggota timnya, bukan hanya memberikan evaluasi kinerja tanpa adanya arahan.

Baca Juga: Theresa Kachindamoto Pemimpin Perempuan penyelamat Anak-Anak Perempuan Malawi

Tak hanya itu, peran laki-laki yang dapat memperlakukan pasangannya sebagai mitra yang setara akan menjadi contoh baik kepada anak perempuan soal pentingnya kesetaraan dan itu sesuatu yang harus dituntut dari lingkungannya. 

Selain itu, seorang ayah juga perlu membebaskan anak dalam menentukan cita-cita tanpa mengkritisi pilihannya. Hal ini merupakan wujud dukungan sehingga muncul keberanian dan tekad dalam diri anak. Hindari memberikan opini yang seolah menjadi risiko apabila perempuan ingin berperan sebagai seorang pemimpin, seperti sulit menemukan pasangan atau kewajiban perempuan ialah mengurus rumah tangga.

2. Peran Kakak Laki-laki yang Dapat Mengajari Adik Perempuan

Hubungan kakak beradik menjadi salah satu lingkungan pertama anak-anak dalam mempelajari hubungan sosial. Melalui hubungan ini, peran kakak laki-laki dibutuhkan dalam memberikan pemahaman terkait lingkungan sosial. Ia dapat menyampaikan bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara dan sama, adik perempuan bisa main apa saja seperti dirinya, dan perempuan bisa menjadi apa pun yang dia mau, bahkan di bidang studi atau sektor yang didominasi laki-laki. 

Kakak laki-laki juga bisa memberikan contoh-contoh pengetahuan tentang perempuan-perempuan inspiratif. Atau menjadi teman berdiskusi yang baik untuk mengajarkan adiknya agar berani berpendapat di lingkungan keluarga maupun sekolah. 

3. Teman yang Ada Bagi Sahabat Perempuan

Sebagaimana peran seorang teman, keberadaan atau peran laki-laki dapat mendorong perempuan untuk berani maju dan mengambil risiko dalam melakukan pekerjaan. Dukungan tersebut akan memberikan kenyamanan dan menciptakan mindset positif sehingga perempuan siap untuk melakukan perubahan dalam kariernya, misalnya.

Baca Juga: Contoh Pemimpin Idola yang Bisa Dijadikan Panutan

Dalam menjalankan kepemimpinan, tentunya terdapat banyak tuntutan sehingga memengaruhi kesehatan fisik dan mental. Pada situasi ini, dukungan seorang teman tak kalah penting untuk work-life balance. Oleh karena itu, sebaiknya luangkan waktu sejenak dan ajak mereka untuk bersenang-senang, serta berikan ruang untuk saling menceritakan keseharian. Aktivitas ini dapat mengembalikan energi sekaligus memperkuat ikatan interpersonal yang dimiliki.

Kemudian, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan pada saat tertentu, seperti merayakan keberhasilan untuk mengapresiasi kinerja dan dampak kepemimpinan yang diciptakan dalam pekerjaannya.

4. Pasangan yang Menjadi Mitra Sejajar

Sebuah studi dari Vannoy dan Philliber pada 1992 menemukan bahwa harapan seorang suami, identitas peran gender, dan dukungan terhadap istri yang bekerja berkaitan dengan kualitas pernikahan.

Suami dapat menunjukkan kontribusinya dalam karier istri, yakni dengan bertukar pikiran untuk mendiskusikan topik atau permasalahan yang berkaitan dengan pekerjaannya dan bekerja sama dalam menjaga anak. Dukungan emosional pun dapat diwujudkan, seperti berperan sebagai pendengar yang baik, serta memahami dan percaya pada tujuan kariernya. Selain itu, memberi pengakuan atas pekerjaannya pun mampu membuat mereka merasa dihargai karena afirmasi dikategorikan sebagai hal yang penting.

Baca Juga: Belajar Jadi Pemimpin dan Meniti Karier di Bidang STEM dari Nyoman Anjani

Dengan demikian, istri akan merasakan keterlibatan suami, baik dalam pengembangan diri maupun pencapaian karier.

5. Atasan yang Menjadi Mentor

Pada 2010, hasil riset Personnel Psychology, sebuah lembaga penelitian yang memusatkan risetnya pada kondisi psikologis orang-orang di tempat kerja, menunjukkan bahwa bimbingan yang diberikan oleh atasan laki-laki mampu memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesuksesan karier perempuan, terutama bagi mereka yang bekerja di industri yang didominasi laki-laki.

Sebagai atasan dalam lingkungan kerja, laki-laki dapat melibatkan dirinya sebagai seorang mentor. Melalui peran tersebut, ia mampu menggunakan otoritasnya dalam memberikan pengembangan profesional guna membekali anggotanya dalam mengembangkan skill kepemimpinan. Kegiatan tersebut akan membantu para perempuan untuk menemukan kapabilitas dalam dirinya.

6. Kolega yang Mendukung Perempuan

Kenyamanan lingkungan kerja menjadi tanggung jawab seluruh anggota tim di mana setiap orang berkeinginan dan perlu dihargai. Oleh karena itu, para kolega pun perlu memberi ruang bagi perempuan untuk menyampaikan aspirasinya dan melibatkan mereka untuk berkontribusi dalam mengambil berbagai keputusan. Dengan demikian, tak ada yang merasa diasingkan atau diperlakukan sebagai minoritas dalam lingkungan kerja.

Baca Juga: 8 Tanda Kantor Dukung Perempuan yang Patut Dicontoh

Untuk mendukung perempuan dalam kepemimpinan, para kolega juga dapat memberikan mereka kesempatan untuk memimpin berbagai project. Dengan memberikan kesempatan, perempuan akan menemukan keunggulannya, hal yang disukai, dan menunjukkan potensi kepemimpinannya. Para atasan perusahaan pun akan memberikan pengakuan dan promosi untuk kariernya.

Itulah beberapa peran laki-laki yang dibutuhkan dalam membentuk kepemimpinan perempuan. Perlu dilakukan kerja sama untuk membuat suatu perubahan dalam menciptakan kesetaraan gender sehingga keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin yang baik.

Read More