cara membagi waktu kerja full time dan side job

8 Tips Membagi Waktu antara Kerja ‘Full Time’ dan ‘Side Job’

Punya pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama bisa menjadi cara untuk menambah penghasilan, mengasah skill, atau mencoba bidang yang selama ini ingin ditekuni. Namun, menjalankan kerja full time sekaligus side job berarti ada lebih banyak tanggung jawab yang harus masuk ke jadwal yang sama.

Masalahnya, waktu luang setelah jam kantor tidak selalu benar-benar kosong. Ada perjalanan pulang, makan, pekerjaan rumah, waktu bersama keluarga atau pasangan, sampai kebutuhan untuk beristirahat.

Karena itu, membagi waktu antara kerja full time dan side job bukan cuma soal mencari beberapa jam tambahan. Kamu juga perlu menghitung energi, menentukan prioritas, membuat batas, dan memastikan ritme tersebut bisa dijalani dalam jangka panjang.

Baca Juga: Masih Sulit Cari Kerja? Mungkin Beberapa Trik Ini Bisa Dicoba

Kenapa Membagi Waktu Full Time dan Side Job Tidak Mudah?

Secara teori, pembagiannya terlihat sederhana: pekerjaan utama dilakukan siang hari, sementara side job dikerjakan malam atau akhir pekan.

Tapi energi manusia tidak bekerja seperti kalender.

Dua jam setelah pulang kantor belum tentu sama produktifnya dengan dua jam pada pagi hari ketika tubuh masih segar. Kalau pekerjaan utama sudah menguras konsentrasi, menyelesaikan proyek freelance pada malam hari bisa terasa jauh lebih berat meski durasinya sama.

Jenis side job pun beragam, mulai dari freelance menulis, desain, fotografi, penerjemahan, mengajar, mengelola media sosial, membuat konten, hingga berjualan online. Fleksibilitas menjadi salah satu daya tariknya, tetapi fleksibel bukan berarti tidak membutuhkan batas.

Dalam artikel 7 Tips agar Tak Keteteran saat Punya Pekerjaan Sampingan, Glints mengingatkan bahwa pekerjaan sampingan jangan sampai membuat pekerja mengorbankan waktu tidur dan akhir pekan.

Jadi, sebelum mengambil lebih banyak pekerjaan, ada baiknya kamu tahu dulu seberapa banyak waktu dan energi yang benar-benar tersedia.

1. Tentukan Alasan Kamu Mengambil Side Job

Sebelum membuat jadwal atau memilih aplikasi manajemen waktu, coba jawab satu pertanyaan: sebenarnya kamu mengambil side job untuk apa?

Kalau tujuannya menambah dana darurat, misalnya, kamu mungkin tidak membutuhkan side job dengan beban kerja besar. Pekerjaan dengan jam terbatas dan penghasilan cukup konsisten bisa lebih masuk akal.

Kalau tujuanmu membangun portofolio, kamu mungkin lebih membutuhkan proyek yang relevan dengan karier daripada menerima semua tawaran. Sementara jika side job merupakan langkah awal untuk pindah karier, kamu mungkin perlu menyediakan waktu untuk belajar sekaligus mengumpulkan pengalaman.

Tujuan juga bisa menjadi rem ketika tawaran baru datang. Proyek dengan bayaran lebih besar belum tentu layak diambil jika membutuhkan banyak waktu dan membuat pekerjaan utama atau waktu istirahat terganggu.

Side job seharusnya membantu mencapai tujuan tertentu, bukan berubah menjadi pekerjaan kedua yang terus meminta waktu.

2. Hitung Kapasitas Waktu Secara Realistis

Kesalahan yang sering terjadi adalah menghitung waktu kosong, bukan waktu yang benar-benar bisa digunakan untuk bekerja.

Misalnya, kamu selesai bekerja pukul 17.00 dan tidur pukul 23.00. Secara matematis ada enam jam yang terlihat tersedia. Padahal, waktu tersebut masih harus dibagi untuk perjalanan pulang, makan, mandi, pekerjaan rumah, keluarga, atau beristirahat.

Coba lakukan audit waktu selama satu minggu. Catat kapan kamu bekerja, tidur, bepergian, makan, mengurus rumah, berolahraga, bersosialisasi, dan melakukan aktivitas lain. Setelah itu, lihat berapa banyak waktu yang benar-benar fleksibel.

Jangan langsung mengalokasikan semuanya untuk side job. Sisakan buffer time karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai kalender. Pekerjaan kantor bisa mendadak, perjalanan bisa lebih lama, atau kamu mungkin membutuhkan satu malam tanpa laptop.

Dalam artikel Jangan Sampai Menyusahkan Diri, Ini 10 Pertimbangan sebelum Ambil Kerja Sampingan, Glints juga menekankan pentingnya memastikan seseorang punya cukup waktu sebelum mengambil pekerjaan tambahan.

Side job yang sehat sebaiknya dibangun berdasarkan kapasitas nyata, bukan versi ideal dirimu yang selalu produktif.

Baca Juga: Micro-retirement: Jeda Kerja yang Makin Dilirik Gen Z

3. Tetap Prioritaskan Pekerjaan Full Time

Ketika side job mulai menghasilkan uang, ada godaan untuk memperlakukannya sama penting dengan pekerjaan utama. Di sinilah hierarki prioritas perlu dibuat.

Bagi banyak pekerja, pekerjaan full time tetap menjadi fondasi karena berkaitan dengan pendapatan utama dan tanggung jawab profesional. Jangan sampai deadline freelance membuat tugas kantor terbengkalai atau membuatmu sulit fokus selama jam kerja.

Prinsip sederhananya: jangan menggunakan waktu dan fasilitas pekerjaan utama untuk side job.

Hindari mengerjakan proyek klien saat jam kantor atau menggunakan perangkat dan aset perusahaan untuk pekerjaan pribadi tanpa izin.

Sebelum menerima pekerjaan tambahan, cek kontrak kerja dan kebijakan perusahaan. Beberapa perusahaan memiliki aturan mengenai pekerjaan di luar kantor, kerahasiaan data, penggunaan fasilitas, atau konflik kepentingan.

4. Gunakan Timeboxing, Bukan Sekadar To-Do List

To-do list membantu mengetahui apa yang harus dikerjakan. Namun, daftar tugas belum tentu menjawab pertanyaan: kapan pekerjaan itu akan dilakukan?

Di sinilah timeboxing bisa membantu.

Dengan metode ini, kamu menentukan blok waktu tertentu untuk pekerjaan tertentu. Misalnya, Senin sampai Jumat pukul 09.00–17.00 untuk pekerjaan utama, Selasa dan Kamis pukul 19.30–21.00 untuk side job, sementara Sabtu pagi digunakan untuk proyek yang membutuhkan konsentrasi lebih panjang.

Harvard Business Review dalam artikel Use Timeboxing to Improve Your Productivity menjelaskan timeboxing sebagai cara menggabungkan kalender dengan daftar tugas dengan menyediakan waktu khusus untuk pekerjaan yang ingin diselesaikan.

Namun, jangan mengisi kalender sampai setiap menit terasa penuh. Daripada menjadwalkan side job setiap malam, pilih dua atau tiga malam dalam seminggu. Malam lainnya tetap bisa digunakan untuk istirahat atau aktivitas pribadi.

Jadwal yang realistis justru lebih mudah dipertahankan.

5. Sesuaikan Pekerjaan dengan Tingkat Energi

Tidak semua pekerjaan membutuhkan energi mental yang sama.

Menulis, menyusun strategi, mengedit video, atau membuat desain biasanya membutuhkan konsentrasi tinggi. Sebaliknya, membalas email, mengatur file, memasukkan data, atau menjadwalkan unggahan bisa dilakukan ketika energi tidak terlalu besar.

Karena itu, mengatur side job bukan cuma soal time management, tetapi juga energy management.

Kalau masih segar pada malam hari, gunakan waktu tersebut untuk pekerjaan yang membutuhkan kreativitas. Tapi kalau pulang kantor sudah kelelahan, jangan memaksakan tugas berat hanya karena kalender masih menyediakan waktu.

Gunakan sesi pendek untuk pekerjaan administratif dan simpan pekerjaan berat untuk waktu ketika energimu lebih baik.

6. Buat Batas Jam Kerja yang Tegas

Salah satu jebakan side job adalah pekerjaan terasa tidak pernah selesai.

Ketika laptop selalu berada di dekatmu dan klien bisa mengirim pesan kapan saja, kamu mungkin merasa harus selalu siap. Pekerjaan full time selesai sore, side job dimulai malam, lalu sebelum tidur masih mengecek email.

Tentukan jam mulai dan selesai untuk side job. Misalnya, setelah pukul 21.00 kamu tidak lagi mengerjakan freelance, kecuali kondisi darurat yang memang sudah disepakati.

Batas ini juga perlu dikomunikasikan kepada klien.

Dalam artikel 3 Ways To Build A Side Hustle While Working A Full-Time Job, Forbes menekankan pentingnya menetapkan batas dengan klien, termasuk menjelaskan waktu ketersediaan dan ekspektasi sejak awal.

Kamu juga bisa mematikan notifikasi aplikasi kerja di luar jam yang sudah ditentukan. Batas bukan berarti tidak profesional. Justru dengan batas yang jelas, klien tahu kapan bisa mengharapkan respons dan kamu punya ruang untuk memulihkan energi.

7. Jangan Ambil Semua Tawaran yang Datang

Punya side job tidak berarti harus menerima setiap proyek yang ditawarkan.

Sebelum menerima pekerjaan tambahan, lihat kembali jadwal dan beban kerja yang sudah ada. Tanyakan: berapa jam yang dibutuhkan, kapan deadline-nya, dan apa yang harus dikorbankan jika proyek ini diterima?

Dalam artikel 7 Tips agar Tak Keteteran saat Punya Pekerjaan Sampingan, Glints juga menyarankan pekerja tidak mengambil terlalu banyak pekerjaan sekaligus dan tetap memperhatikan waktu istirahat.

Tidak semua uang tambahan harus diambil. Kadang, mengatakan “tidak” pada satu proyek adalah cara untuk menjaga kualitas pekerjaan yang sudah kamu terima.

8. Sisakan Waktu untuk Hidup di Luar Pekerjaan

Ketika sudah bekerja full time dan memiliki side job, waktu luang bisa dengan mudah berubah menjadi jam kerja tambahan.

Padahal, tidak semua aktivitas harus menghasilkan uang.

Kamu tetap membutuhkan waktu untuk tidur, bertemu teman, bersama keluarga, berolahraga, bermain gim, membaca buku, memasak, atau sekadar tidak melakukan apa-apa.

Jangan sampai setiap hobi harus diubah menjadi proyek. Istirahat bukan waktu yang terbuang. Ia bagian dari kapasitas yang memungkinkan kamu kembali bekerja tanpa terus-menerus merasa terkuras.

Baca Juga: Bekerja 15 Jam, Pulang Jadi Buruh Tanpa Bayaran: Lingkaran Setan Perempuan Pekerja

Tanda Kamu Sudah Terlalu Banyak Bekerja

Menjalankan pekerjaan full time dan side job memang membuat jadwal lebih padat. Namun, ada perbedaan antara sibuk dan sudah bekerja melewati kapasitas.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan adalah waktu istirahat terus berkurang, kualitas tidur terganggu, konsentrasi menurun, dan pekerjaan utama mulai terdampak. Kamu mungkin membaca email berkali-kali, lebih sering membuat kesalahan, sulit memulai tugas, atau merasa pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai.

Perhatikan juga kehidupan di luar pekerjaan. Kalau kamu mulai menolak hampir semua ajakan bertemu teman, kehilangan minat pada hobi, atau merasa bersalah setiap kali beristirahat karena menganggap waktu tersebut seharusnya digunakan untuk bekerja, ritme yang dijalani mungkin sudah terlalu berat.

Perubahan emosi juga bisa menjadi sinyal. Pesan dari klien terasa sangat mengganggu, revisi kecil membuatmu mudah kesal, atau kamu semakin kehilangan kesabaran terhadap orang di sekitar.

Tidak semua perubahan emosi otomatis disebabkan oleh pekerjaan. Namun, jika perubahan tersebut muncul bersamaan dengan meningkatnya beban kerja, ada baiknya kamu mengevaluasi kembali ritmemu.

Side job tidak harus membuat hidup berubah menjadi dua pekerjaan full time sekaligus. Kamu boleh bekerja lebih banyak untuk mencapai target finansial atau karier tertentu, tetapi tetap perlu tahu kapan kapasitas sudah mendekati batas.

Mengatur waktu bukan berarti memaksimalkan setiap jam yang tersedia. Kadang, justru berarti memutuskan pekerjaan mana yang tidak perlu diambil, kapan harus berhenti, dan berapa banyak waktu yang ingin tetap kamu simpan untuk hidup di luar pekerjaan.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

8 Tips Membagi Waktu antara Kerja ‘Full Time’ dan ‘Side Job’ Read More
bahaya oversharing di kantor

Oversharing di Kantor: Kapan Cerita Pribadi Mulai Kebablasan?

Pernah ingin sekadar ngobrol santai dengan teman kantor, tetapi percakapannya malah berujung pada cerita soal hubungan, konflik keluarga, masalah keuangan, atau drama dengan atasan?

Situasi seperti ini cukup mudah terjadi. Ketika sudah merasa nyaman dengan rekan kerja, batas antara berbagi cerita dan oversharing bisa menjadi samar. Kita mungkin menganggap cerita pribadi sebagai cara untuk membangun kedekatan, menunjukkan sisi diri yang lebih autentik, atau sekadar mencari tempat untuk melepas stres.

Padahal, tempat kerja tidak selalu menjadi ruang yang tepat untuk membagikan semua hal tentang kehidupan pribadi.

Rekan kerja yang terasa dekat tetap memiliki hubungan profesional dengan kita. Dalam situasi tertentu, hubungan tersebut juga bisa berubah karena pergantian tim, posisi, atasan, atau kepentingan pekerjaan.

Penelitian tentang pengelolaan informasi pribadi di tempat kerja menunjukkan bahwa keputusan seseorang untuk membuka atau menyimpan informasi dipengaruhi oleh budaya organisasi, hubungan dengan orang lain, kebutuhan mendapatkan umpan balik, serta pertimbangan mengenai risiko dan manfaat. 

Temuan ini dibahas Stephanie A. Smith dan Steven R. Brunner dalam studi To Reveal or Conceal: Using Communication Privacy Management Theory to Understand Disclosures in the Workplace yang diterbitkan SAGE Journals. Studi tersebut melibatkan 103 pekerja penuh waktu dari berbagai organisasi dan industri.

Karena itu, persoalannya bukan apakah kita harus menjadi tertutup di kantor. Yang lebih penting adalah mengetahui cerita apa yang ingin dibagikan, kepada siapa, dan seberapa jauh detailnya perlu disampaikan.

Apalagi sekarang komunikasi kantor tidak berhenti di meja kerja. Ada WhatsApp, email, hingga media sosial. Cerita yang awalnya hanya ditujukan kepada satu orang bisa dengan mudah menjangkau audiens yang lebih luas.

Jadi, sebelum mulai bercerita panjang di pantry atau mengetik sesuatu di grup kantor, ada satu pertanyaan sederhana yang bisa dipikirkan: kalau cerita ini diketahui orang lain di kantor, apakah saya masih akan merasa nyaman?

Baca Juga: Ketawa Karier: Saat Tawa di Kantor Justru Bikin Capek Mental

Apa Itu Oversharing di Kantor?

Oversharing adalah kebiasaan membagikan informasi pribadi, emosional, sensitif, atau terlalu detail kepada orang lain ketika informasi tersebut sebenarnya tidak diperlukan dalam situasi tersebut.

Di kantor, bentuknya tidak selalu berupa rahasia besar. Bisa saja dimulai dari hal sederhana seperti terlalu sering mengeluhkan pasangan, menceritakan pertengkaran keluarga, membahas kondisi finansial secara detail, membuka persoalan kesehatan pribadi, atau membicarakan konflik dengan atasan kepada terlalu banyak orang.

The Muse membahas persoalan serupa dalam artikel How to Stop Oversharing at Work—and Still Keep Conversation Flowing. Artikel tersebut menjelaskan bahwa oversharing di tempat kerja bisa muncul karena keinginan mencari koneksi atau validasi, rasa gugup, maupun batas profesional yang belum jelas.

Sekilas, percakapan tersebut mungkin terasa biasa. Masalah muncul ketika informasi pribadi diberikan kepada orang yang kurang tepat, dengan detail berlebihan, atau kepada audiens yang terlalu luas.

Di sinilah oversharing berbeda dari sekadar “banyak bicara”. Persoalannya juga menyangkut konteks.

Cerita yang nyaman disampaikan kepada sahabat belum tentu cocok dibagikan kepada seluruh anggota tim. Curhat kepada satu rekan yang memang dipercaya juga berbeda dengan menuliskan masalah pribadi di grup kantor yang berisi puluhan orang.

Semakin besar audiensnya, semakin sulit kita mengendalikan bagaimana informasi tersebut dipahami, disimpan, atau diteruskan.

Baca Juga: ‘Small Talk’ di Kantor Bukan Basa-basi: Penting untuk Mental dan Kerja Sehat

Terbuka dengan Rekan Kerja Bukan Berarti Oversharing

Menjadi terbuka sebenarnya bukan hal buruk. Sedikit cerita tentang kehidupan di luar kantor justru bisa membuat hubungan dengan rekan kerja terasa lebih hangat.

Kamu bisa bercerita soal hobi, makanan favorit, film yang baru ditonton, rencana liburan, atau bahkan kucing yang baru diadopsi. Informasi seperti ini biasanya tidak terlalu sensitif dan masih relevan dengan percakapan sehari-hari.

Yang membedakan keterbukaan dengan oversharing adalah konteks dan tingkat informasi yang diberikan.

Misalnya, mengatakan, “Akhir-akhir ini gue lagi banyak urusan keluarga, jadi mungkin agak kurang fokus,” bisa menjadi komunikasi yang wajar jika kondisi tersebut memang berdampak pada pekerjaan.

Namun, menceritakan detail pertengkaran dengan pasangan selama 20 menit kepada seluruh tim tentu berbeda.

Keterbukaan yang sehat tidak mengharuskan kita memilih antara menjadi “terbuka total” atau “tertutup total”. Ada ruang di antaranya: tetap ramah, tetap bisa membangun kedekatan, tetapi tahu informasi mana yang sebaiknya disimpan untuk lingkaran yang lebih personal.

Ciri-Ciri Kamu Mulai Oversharing di Kantor

Oversharing sering baru terasa sebagai masalah setelah percakapannya selesai.

Mungkin kamu pernah pulang dari kantor lalu berpikir, “Kenapa tadi gue cerita sebanyak itu, ya?”

Hal tersebut ternyata bukan pengalaman yang sepenuhnya asing bagi pekerja. Dalam artikel Five common career regrets (and how to overcome them), CIPHR menyebut hasil riset mereka menemukan bahwa satu dari 10 orang berusia 25–44 tahun menyesal pernah terlalu banyak bercerita di tempat kerja, dibandingkan 3 persen pekerja berusia di atas 55 tahun.

Ketika suasana kerja sudah akrab, obrolan memang mudah bergeser dari pekerjaan ke hubungan, keluarga, keuangan, atau persoalan pribadi lainnya. Namun, kalau hampir semua orang di kantor mulai mengetahui terlalu banyak tentang kehidupan personalmu, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali batas tersebut.

Cerita Pribadi Mulai Mendominasi Percakapan

Salah satu tandanya adalah ketika cerita tentang masalah pribadi mulai menjadi topik utama setiap kali kamu berbicara dengan rekan kerja.

Hari ini soal pertengkaran dengan pasangan. Besok masalah keluarga. Setelah itu persoalan keuangan atau konflik dengan teman.

Kehidupan pribadi tentu tidak perlu sepenuhnya dipisahkan dari pekerjaan. Kita tetap manusia yang membawa emosi dan pengalaman ke kantor.

Namun, ketika informasi yang sebenarnya tidak berhubungan dengan pekerjaan terus dibagikan kepada banyak orang, batas profesional bisa semakin kabur.

Kamu Sering Menyesal Setelah Bercerita

Perasaan menyesal setelah berbagi cerita juga bisa menjadi tanda bahwa informasi yang diberikan sudah melewati batas nyamanmu.

Kamu mungkin tiba-tiba merasa cemas karena sadar bahwa orang kantor sekarang mengetahui sesuatu yang sebenarnya ingin kamu simpan sendiri.

Hal tersebut tidak otomatis berarti kamu telah melakukan sesuatu yang salah. Bisa jadi kamu sedang membutuhkan validasi, dukungan, atau sekadar seseorang yang mau mendengarkan.

Masalahnya, rasa nyaman dalam satu percakapan belum tentu berarti hubungan tersebut cukup dekat untuk menampung semua cerita personalmu.

Kalau pola “kebablasan cerita” terus berulang, pengalaman itu bisa dijadikan tanda untuk memperlambat diri dalam percakapan berikutnya.

Detail yang Diberikan Sebenarnya Tidak Diperlukan

Bayangkan atasan bertanya mengapa kamu membutuhkan perubahan jadwal. Kamu bisa menjawab bahwa ada urusan keluarga yang perlu diselesaikan.

Tidak selalu perlu menjelaskan seluruh konflik keluarga yang sedang terjadi di rumah.

Hal serupa bisa terjadi ketika rekan kerja bertanya apakah kamu baik-baik saja, lalu pertanyaan sederhana tersebut berubah menjadi cerita panjang tentang hubungan romantis, masalah keluarga, atau kondisi finansial.

Coba tanyakan kepada diri sendiri: apakah detail ini membantu orang memahami situasinya, atau hanya membuat ceritanya semakin panjang?

Kejujuran juga tidak mengharuskan kita menceritakan seluruh kronologi kehidupan pribadi.

Kamu Menceritakan Rahasia Orang Lain

Ini merupakan bentuk oversharing yang perlu diperhatikan.

Saat bercerita, kita terkadang memasukkan pengalaman orang lain ke dalam cerita sendiri. Misalnya membahas masalah rumah tangga teman, kondisi kesehatan saudara, persoalan finansial kolega, atau rahasia yang sebelumnya disampaikan secara pribadi.

Karena informasi itu bukan tentang diri kita, mungkin kita merasa lebih mudah untuk membagikannya. Padahal, mengetahui sebuah informasi bukan berarti kita otomatis berhak menyebarkannya.

Selain berpotensi merusak hubungan, kebiasaan ini juga bisa memengaruhi reputasi profesional.

Rekan kerja mungkin berpikir, kalau cerita orang lain saja dibagikan, bagaimana dengan cerita mereka?

Kantor Menjadi Tempat Utama untuk Curhat

Kantor memang bisa menjadi tempat menemukan teman dekat. Tidak sedikit hubungan pertemanan di tempat kerja yang bertahan lama.

Namun, kamu perlu berhati-hati jika hampir setiap masalah pribadi selalu dibawa ke kantor.

Ketika bertengkar dengan pasangan, rekan kerja menjadi tempat curhat. Saat ada masalah keluarga, kamu kembali mencari mereka. Ketika mengalami persoalan keuangan, kolega juga menjadi orang pertama yang mengetahuinya.

Jika pola tersebut berlangsung terus, batas antara kehidupan profesional dan personal bisa semakin sulit dibedakan.

Untuk persoalan yang sangat pribadi, ada baiknya memiliki ruang dukungan lain di luar kantor. Dengan begitu, semua kebutuhan emosional tidak bergantung pada lingkungan kerja.

Terlalu Banyak Membahas Konflik dengan Atasan

Ketika sedang kesal kepada atasan, menceritakannya kepada teman kantor memang terasa melegakan.

Tetapi curhat bisa berubah menjadi gosip ketika pembicaraan mulai memasukkan asumsi mengenai karakter, kehidupan pribadi, atau motif atasan yang tidak berkaitan dengan persoalan pekerjaan.

Jika memang ada masalah dengan atasan, kamu tetap bisa meminta perspektif dari orang yang dipercaya. Namun, fokuskan pembicaraan pada perilaku, keputusan, atau situasi kerja yang memang bermasalah.

Terlalu Sering Membahas Kondisi Keuangan

Urusan finansial juga termasuk informasi yang perlu dipertimbangkan sebelum dibagikan.

Mengatakan bahwa kamu sedang mencoba lebih hemat tentu berbeda dengan menceritakan secara detail jumlah utang, cicilan, tabungan, atau persoalan finansial keluarga.

Bukan berarti pembicaraan mengenai uang selalu harus dihindari. Dalam konteks tertentu, diskusi tentang gaji, kesenjangan upah, atau kompensasi justru penting.

Yang perlu diperhatikan adalah tujuan dan konteksnya.

Baca Juga: Cara Tepat Mengatasi Gaji yang Hanya Numpang Lewat

Mengapa Oversharing Bisa Jadi Bumerang?

Informasi pribadi yang dibagikan di tempat kerja dapat memengaruhi cara orang lain melihat kita.

Studi Smith dan Brunner dalam To Reveal or Conceal: Using Communication Privacy Management Theory to Understand Disclosures in the Workplace di SAGE Journals menunjukkan bahwa pekerja mempertimbangkan risiko terhadap hubungan dan peran profesional ketika memutuskan apakah akan membuka informasi pribadi di tempat kerja.

Dalam hubungan kerja, persoalan ini menjadi lebih rumit karena hubungan personal dan profesional berjalan bersamaan. Orang yang hari ini menjadi teman satu tim bisa saja menjadi atasan, bawahan, atau kolega lintas divisi di kemudian hari.

Ada pula risiko ketika cerita yang awalnya disampaikan dengan konteks tertentu kemudian dipotong, diteruskan, atau dipahami secara berbeda.

Kita memang tidak bisa mengontrol sepenuhnya bagaimana orang lain memproses informasi tentang diri kita. Karena itu, menjaga batas privasi bukan berarti harus curiga kepada semua orang.

Lebih sederhana dari itu: kita perlu tahu siapa yang memang perlu mengetahui sebuah cerita.

Cara Berhenti Oversharing Tanpa Menjadi Dingin

Berhenti oversharing bukan berarti berubah menjadi orang yang kaku atau selalu menjawab “tidak mau cerita” setiap kali mendapat pertanyaan personal.

Kamu tetap bisa bercanda, berbagi pengalaman sehari-hari, dan membangun pertemanan di kantor. Yang perlu diatur adalah batas informasi yang diberikan.

Bedakan Informasi Personal dan Sensitif

Tidak semua informasi pribadi memiliki tingkat sensitivitas yang sama.

Cerita soal hobi, makanan favorit, film, olahraga, atau tempat liburan biasanya relatif aman dibagikan.

Sebaliknya, konflik rumah tangga, kondisi finansial, persoalan kesehatan, hubungan romantis, trauma, atau masalah keluarga memiliki tingkat privasi yang lebih tinggi.

Kamu bisa membayangkan informasi pribadi seperti beberapa lapisan. Ada informasi yang nyaman diketahui banyak orang, ada yang hanya cocok untuk teman tertentu, dan ada pula yang sebaiknya tetap berada di lingkaran paling dekat.

Beri Jeda Sebelum Menjawab

Oversharing sering terjadi secara spontan.

Ketika seseorang bertanya, “Kok kamu kelihatan capek?”, kita bisa saja langsung menceritakan pertengkaran dengan pasangan, masalah keluarga, sampai persoalan keuangan.

Padahal, mungkin cukup menjawab, “Semalam kurang tidur.”

Memberikan jeda beberapa detik sebelum menjawab memberi kesempatan untuk memilih informasi yang memang ingin dibagikan.

Kamu bisa bertanya: “Gue memang ingin cerita, atau sebenarnya cuma sedang ingin didengarkan?”

Belajar Memberikan Jawaban yang Cukup

Tidak semua pertanyaan membutuhkan penjelasan panjang.

Ketika ditanya mengapa ingin pulang lebih cepat, misalnya, kamu bisa mengatakan ada urusan pribadi yang perlu diselesaikan.

Kamu tidak sedang berbohong karena memilih untuk tidak menjelaskan semuanya.

Jawaban seperti “Belakangan memang agak hectic, tapi gue masih oke” juga bisa memberikan konteks tanpa membuka terlalu banyak informasi.

Privasi bukan berarti tidak jujur. Privasi berarti kamu tetap punya kendali atas informasi tentang dirimu.

Alihkan Percakapan

Kamu juga tidak harus menolak pertanyaan personal secara langsung.

Setelah memberikan jawaban singkat, percakapan bisa dialihkan ke topik lain.

Misalnya, ketika seseorang bertanya soal masalah hubungan, kamu bisa menjawab bahwa memang sedang ada sedikit masalah, tetapi sedang mengurusnya. Setelah itu, kamu bisa bertanya balik soal pekerjaan atau hal lain.

Dengan cara tersebut, hubungan tetap terasa hangat tanpa harus bergantung pada cerita yang sensitif.

Pilih Orang yang Tepat untuk Mendengarkan

Berhenti oversharing bukan berarti semua masalah harus dipendam.

Kita tetap membutuhkan orang untuk bercerita ketika sedang menghadapi masa sulit. Yang perlu diperhatikan adalah siapa yang menjadi tempat cerita dan seberapa banyak informasi yang diberikan.

Tidak semua orang yang ramah di kantor otomatis menjadi tempat curhat yang tepat.

Pertimbangkan hubungan kalian, kemampuan orang tersebut menjaga informasi, serta kemungkinan adanya konflik kepentingan dalam hubungan profesional.

Untuk persoalan yang sangat personal, sahabat, keluarga, atau pihak profesional di luar lingkungan kerja mungkin menjadi ruang yang lebih sesuai.

Sementara itu, dengan rekan kerja, kamu tetap bisa berbagi cerita dalam batas tertentu.

Kamu tidak harus menjadi tertutup untuk menjaga privasi. Kamu hanya perlu lebih sadar bahwa tidak semua orang di kantor perlu mengetahui semua bagian dari hidupmu.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Oversharing di Kantor: Kapan Cerita Pribadi Mulai Kebablasan? Read More
buruh tanpa bayaran

Bekerja 15 Jam, Pulang Jadi Buruh Tanpa Bayaran: Lingkaran Setan Perempuan Pekerja

Nur bekerja di sebuah perusahaan penerbitan. Sehari-hari, ia bisa menghabiskan waktu hingga 15 jam untuk bekerja dengan beban lembur yang mau tak mau harus ditelan karena di lingkarannya tak ada lagi yang bisa diandalkan selain dirinya. Sebagai editor, Nur dituntut sangat teliti dan memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni, tetapi di balik meja kerjanya ia tak punya banyak daya tawar.

Atasannya adalah seorang lelaki dengan kuasa penuh yang secara sepihak mengendalikan rotasi jam kerja pegawai. Dalam relasi kuasa yang toksik dan sarat eksploitasi ini, Nur memilih bertahan karena ia membutuhkan fleksibilitas, lokasi kantor yang dekat dengan rumah, dan pendapatan untuk menopang keluarganya.

Ironisnya, saat pulang, shift kerja Nur justru bertambah. Di rumah, ia kembali menjadi buruh tanpa bayaran atau unpaid labor dengan mengerjakan tumpukan pekerjaan domestik, sering kali karena merasa bersalah sudah menghabiskan terlalu banyak waktu di luar rumah, padahal waktu tersebut ia gunakan untuk bekerja demi keluarga.

Kisah Nur bukan cerita yang berdiri sendiri. Ia menjadi gambaran dari persoalan yang lebih luas, terlihat dalam riset kolaboratif antara Prospera, Universitas Indonesia, dan Macalester College yang bekerja sama dengan International Labour Organization (ILO) dan UN Women.

Data dari riset tersebut menunjukkan hampir 40 persen perempuan di Indonesia menghabiskan lebih dari delapan jam per hari untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan atau unpaid care work, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengawasi anak. Di sisi lain, hampir 40 persen laki-laki menghabiskan kurang dari satu jam per hari untuk pekerjaan serupa.

Jurang pembagian kerja domestik ini masih lebar dan kerap dinormalisasi dengan alasan klise seperti, “laki-laki sudah lelah bekerja mencari nafkah di luar rumah.” Lalu bagaimana dengan pekerja ganda seperti Nur? Apakah lelahnya dianggap kurang penting hanya karena ia perempuan yang secara kultural diharapkan tetap mampu mengurus rumah tangga meski juga menjadi pencari nafkah?

Baca Juga: Stres Ibu Pekerja: Antara Ambisi, Tanggung Jawab, dan Kurangnya Dukungan

Ketika Perempuan Kehabisan Ruang untuk Melawan

Perempuan yang terjebak dalam relasi kuasa buruk di kantor biasanya membutuhkan waktu untuk mencari pekerjaan lain, energi untuk membangun jaringan, atau kesempatan untuk meningkatkan keterampilan. Namun, bagi perempuan seperti Nur, sisa waktu dan energi itu sudah terkuras oleh pekerjaan domestik setelah jam kantor usai, karena manusia bukan robot yang bisa bekerja 24 jam tanpa henti.

Kita sering lupa, agensi atau kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan secara bebas dan membela dirinya sendiri bukan cuma soal keberanian. Agensi membutuhkan energi, kondisi mental yang cukup sehat, serta ruang untuk berpikir dan menentukan pilihan secara mandiri.

Di kantor, perempuan-perempuan ini harus tunduk pada kendali atasan yang dominan sambil menekan ego dan rasa lelah demi mempertahankan pekerjaannya. Di rumah, mereka kembali bekerja mengurus kebutuhan domestik tanpa jeda untuk memulihkan diri, sehingga tidak ada cukup ruang untuk bernapas dan tubuh maupun pikiran terus dipaksa bekerja.

Kondisi tersebut dapat menumpuk menjadi kelelahan dan burnout. Ketika sudah sampai pada titik ini, kapasitas emosional untuk bersuara, melaporkan perlakuan toksik kepada bagian Human Resources Department (HRD), atau melawan ketidakadilan di tempat kerja ikut terkikis.

Pada akhirnya, mereka bisa memilih diam bukan karena tidak tahu sedang diperlakukan tidak adil, tetapi karena energi untuk melawan sudah habis. Sistem patriarki di rumah dan sistem kerja yang eksploitatif di kantor sama-sama mengambil waktu, tenaga, dan ruang perempuan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Relasi kuasa yang buruk di kantor juga dapat mengisolasi pekerja dari rekan sejawat karena mereka saling berhadapan untuk memperebutkan posisi yang lebih layak. Sementara itu, tingginya beban unpaid labor membuat perempuan bahkan tidak punya banyak kesempatan untuk sekadar berbincang, berkumpul, atau membangun jaringan di luar jam kerja.

Tanpa sistem pendukung atau komunitas yang aman untuk bertukar cerita, perempuan pekerja bisa merasa terjebak sendirian. Isolasi seperti ini berbahaya karena membuat situasi eksploitatif perlahan dianggap sebagai hal biasa, bahkan diterima sebagai “nasib” yang harus dijalani dengan ikhlas dan tawakal.

Baca Juga: Kerentanan Perempuan Pekerja

Wajah Nyata Unpaid Labor di Indonesia

Unpaid labor di Indonesia punya bentuk yang luas, mulai dari pekerjaan domestik dan perawatan keluarga hingga pekerjaan dalam usaha atau pertanian keluarga tanpa upah. Beban tersebut masih lebih banyak diletakkan di pundak perempuan, dengan konsekuensi yang ikut memengaruhi kesempatan mereka untuk bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

Bukan cuma ibu rumah tangga, banyak perempuan muda, terutama mereka yang berusia 15–24 tahun, juga terlibat membantu usaha atau pertanian keluarga tanpa menerima gaji resmi. Situasi ini dapat membatasi kesempatan mereka untuk membangun kemandirian finansial sejak usia muda.

Pengawasan dan pengasuhan anak juga menjadi salah satu beban yang memengaruhi peluang perempuan berpartisipasi di sektor formal. Data menunjukkan setiap tambahan satu jam yang dihabiskan perempuan untuk mengasuh anak menurunkan probabilitas mereka untuk bekerja atau mencari upah formal hingga lebih dari enam persen, ditambah tekanan untuk selalu memenuhi standar sebagai ibu yang dianggap baik.

Ketika tuntutan domestik semakin tinggi, pekerjaan di sektor informal kemudian terlihat sebagai pilihan yang lebih masuk akal karena menawarkan fleksibilitas waktu. Masalahnya, fleksibilitas tersebut sering datang bersama minimnya perlindungan sosial, jaminan kesehatan, dan kepastian pendapatan.

Karena itu, lingkaran setan antara tekanan kerja yang eksploitatif dan beban unpaid labor di rumah tidak selesai hanya dengan menyuruh perempuan “berani resign”. Selama kerja perawatan belum dipandang sebagai tanggung jawab bersama dan pembagian pekerjaan domestik masih timpang, perempuan akan terus berhadapan dengan pilihan yang sama-sama berat.

Memutus rantai ini membutuhkan perubahan cara pandang terhadap pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan domestik bukan kodrat perempuan, melainkan tanggung jawab yang semestinya dibagi secara adil, sementara tempat kerja juga membutuhkan kebijakan yang benar-benar memperhitungkan pengalaman perempuan pekerja.

Sebab, jika tidak, akan ada lebih banyak “Nur” yang terus menua dalam kelelahan yang tak dibayar. Mereka terperangkap di antara meja kantor yang menuntut tubuh dan pikiran untuk terus bekerja, serta pekerjaan rumah yang menunggu begitu mereka membuka pintu.

Bekerja 15 Jam, Pulang Jadi Buruh Tanpa Bayaran: Lingkaran Setan Perempuan Pekerja Read More
apa itu fake productivity

‘Fake Productivity’ di Tempat Kerja: Saat Terlihat Sibuk Jadi Ukuran Produktivitas

Pernah merasa harus terus terlihat sibuk di tempat kerja meski pekerjaan utama sebenarnya sudah selesai? Misalnya, sengaja tetap membuka laptop, cepat membalas setiap pesan, atau mengikuti banyak meeting agar tidak dianggap sedang bermalas-malasan.

Fenomena tersebut dikenal sebagai fake productivity atau productivity theater, ketika seseorang terlihat aktif bekerja tetapi aktivitasnya belum tentu menghasilkan kemajuan atau dampak nyata.

Dikutip dari Forbes, survei Software Finder terhadap 1.003 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat menemukan 80 persen pekerja Gen Z mengaku pernah berpura-pura produktif saat bekerja.

Data yang dipublikasikan Software Finder menunjukkan perilaku tersebut tidak hanya terjadi pada Gen Z. Sebanyak 66 persen pekerja yang disurvei mengaku tetap terlihat aktif setelah pekerjaan sebenarnya selesai. Rata-rata pekerja yang melakukan fake productivity menghabiskan hampir lima jam setiap minggu untuk mempertahankan kesan produktif.

Artinya, persoalannya tidak sesederhana pekerja muda yang malas. Justru, fenomena ini memperlihatkan bagaimana budaya kerja dapat membuat terlihat sibuk terasa sama pentingnya dengan menghasilkan pekerjaan.

Baca Juga: ‘Career Minimalism’: Tren Gen Z yang Menolak ‘Hustle Culture’

Gen Z dan Budaya Kerja yang Terlihat Sibuk

Gen Z, yang lahir antara 1997 dan 2012, memasuki dunia kerja setelah menyaksikan berbagai persoalan yang dialami generasi sebelumnya. Mereka melihat budaya hustle, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga kelelahan akibat bekerja berlebihan atau burnout.

Pengalaman tersebut turut membentuk cara generasi ini memandang pekerjaan. Bekerja keras tidak selalu berarti bekerja tanpa batas. Pertanyaan yang muncul kemudian bukan hanya berapa lama seseorang bekerja, tetapi apakah waktu dan energi tersebut benar-benar menghasilkan sesuatu.

Namun, lingkungan kerja dapat membuat pertanyaan tersebut sulit diterapkan. Ketika karyawan merasa harus selalu terlihat aktif agar dianggap berkinerja baik, mereka bisa terdorong melakukan aktivitas yang menunjukkan kesibukan meski tidak banyak berkontribusi terhadap pekerjaan utama.

Fenomena productivity theater sendiri bukan hal baru. Fast Company dalam artikel How to tell if your team is participating in ‘productivity theater’ menggambarkannya sebagai pekerjaan performatif yang lebih mengutamakan aktivitas yang terlihat daripada pekerjaan yang menghasilkan dampak nyata. Contohnya termasuk terlalu banyak berada di email, menghadiri meeting yang tidak diperlukan, dan melakukan riset berlebihan.

Baca Juga: Micro-retirement: Jeda Kerja yang Makin Dilirik Gen Z

Ciri-Ciri Fake Productivity di Tempat Kerja

Fake productivity bisa sulit dikenali karena dari luar seseorang memang terlihat bekerja keras. Ia bisa selalu hadir dalam meeting, cepat membalas pesan, atau menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor.

Persoalannya bukan pada satu aktivitas tertentu, melainkan pada kesenjangan antara aktivitas yang dilakukan dan hasil yang dihasilkan.

  1. Kalender Penuh Meeting, tetapi Minim Keputusan

Meeting dibutuhkan untuk berdiskusi, menyamakan persepsi, memecahkan masalah, atau mengambil keputusan. Namun, rapat yang memenuhi sebagian besar hari kerja tidak otomatis membuat seseorang produktif.

Jika meeting berakhir tanpa keputusan, pembagian tugas, atau langkah konkret, waktu yang dihabiskan belum tentu membuat pekerjaan bergerak maju.

Kalender yang penuh juga dapat mengurangi waktu untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi. Seseorang akhirnya sibuk berpindah dari satu rapat ke rapat lain, sementara pekerjaan utamanya belum tersentuh.

  1. Selalu Online dan Cepat Membalas Pesan

Selalu terlihat online dan cepat membalas WhatsApp, atau email memang memberikan kesan responsif. Namun, respons cepat tidak otomatis berarti pekerjaan selesai dengan baik.

Dikutip dari Hasel, FlowLight & FlowTeams – Fostering Productive Work in Hybrid Workplacesm, notifikasi yang terus masuk juga dapat mengganggu pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi. 

Penelitian tentang interupsi di tempat kerja menunjukkan bahwa gangguan dapat mengurangi waktu fokus; studi lapangan University of Zurich terhadap 449 partisipan menemukan pengurangan interupsi berkaitan dengan peningkatan perasaan produktif.

Karena itu, seseorang bisa merasa sibuk sepanjang hari karena terus berkomunikasi, sementara pekerjaan yang membutuhkan fokus justru berjalan lambat.

  1. Terlihat Sibuk, tetapi Tidak Punya Prioritas Jelas

Seseorang dapat membuka banyak dokumen, mengurus berbagai permintaan, mengikuti sejumlah diskusi, dan membalas puluhan pesan. Namun, ketika ditanya pekerjaan apa yang paling penting untuk diselesaikan, jawabannya belum tentu jelas.

Kondisi tersebut dapat terjadi ketika semua pekerjaan dianggap mendesak. Tugas kecil yang mudah diselesaikan akhirnya mengambil sebagian besar waktu karena memberikan rasa telah menghasilkan sesuatu.

Satu email selesai dibalas, satu dokumen dirapikan, satu notifikasi ditangani. Ada rasa sudah bekerja, tetapi pekerjaan yang memiliki dampak lebih besar masih tertunda.

  1. Banyak Aktivitas, Sedikit Output

Ciri paling penting fake productivity adalah kesenjangan antara aktivitas dan hasil.

Seseorang mungkin menghabiskan waktu untuk riset, diskusi, menyusun draf, dan membuat laporan progres. Namun, setelah beberapa hari atau minggu, proyek masih berada di tahap yang sama.

Bukan berarti semua proses tersebut sia-sia. Pekerjaan kompleks memang membutuhkan waktu. Yang perlu diperhatikan adalah apakah aktivitas yang dilakukan membawa pekerjaan lebih dekat pada tujuan.

Jika tidak, seseorang bisa terjebak dalam busywork, yaitu pekerjaan yang menyita waktu tetapi kontribusinya terhadap hasil akhir relatif kecil.

  1. Sengaja Memperpanjang Pekerjaan

Fake productivity juga dapat muncul ketika pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan lebih cepat sengaja dibuat seolah membutuhkan waktu lebih lama.

Hal tersebut dapat terjadi karena menyelesaikan pekerjaan terlalu cepat justru membuat seseorang khawatir terlihat tidak memiliki cukup beban kerja.

Dalam kondisi seperti ini, efisiensi malah menjadi sesuatu yang perlu disembunyikan. Pekerja mencari aktivitas tambahan agar tetap terlihat memiliki pekerjaan.

Baca Juga: Sibuk Tapi Tidak Sehat: Mengenali Tanda Kantor Toksik dan Cara Menyelamatkan Diri

Cara Menghentikan Siklus Fake Productivity

Mengurangi fake productivity bukan berarti meminta karyawan bekerja lebih lama. Justru, perusahaan perlu mengurangi kebutuhan untuk terus menunjukkan kesibukan dan kembali berfokus pada hasil.

  1. Fokus pada Hasil, Bukan Kesibukan

Pertanyaan “Hari ini sibuk apa?” secara tidak langsung dapat menjadikan kesibukan sebagai ukuran produktivitas.

Pertanyaan seperti “Apa yang berhasil kamu selesaikan hari ini?” atau “Apa progres paling penting minggu ini?” lebih mengarahkan pembicaraan pada hasil.

Seorang content writer, misalnya, tidak perlu membuktikan produktivitas dengan duduk delapan jam di depan laptop. Yang lebih relevan adalah apakah artikel selesai sesuai brief, memenuhi standar kualitas, dan dikumpulkan sesuai tenggat.

  1. Tentukan Prioritas Sebelum Memenuhi Kalender

Kalender yang padat tidak selalu menunjukkan produktivitas. Menentukan satu sampai tiga prioritas utama sebelum mengisi hari dengan meeting, email, dan pekerjaan administratif dapat membantu menjaga fokus.

Pertanyaannya sederhana: jika hanya satu pekerjaan yang berhasil diselesaikan hari itu, mana yang paling memberikan dampak?

Dengan prioritas yang jelas, pekerjaan kecil tidak mudah mengambil waktu dari pekerjaan yang lebih penting.

  1. Kurangi Meeting yang Tidak Punya Tujuan

Tidak semua meeting harus dihilangkan. Namun, setiap rapat sebaiknya memiliki tujuan yang jelas.

Sebelum mengadakan meeting, tim dapat mempertanyakan apakah rapat tersebut benar-benar membutuhkan diskusi bersama, keputusan, atau pemecahan masalah. Jika informasi bisa disampaikan melalui email atau dokumen singkat, rapat mungkin tidak diperlukan.

Meeting yang efektif setidaknya menghasilkan keputusan atau langkah yang dapat ditindaklanjuti.

  1. Berikan Ruang untuk Deep Work

Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi sulit diselesaikan ketika karyawan terus menerima notifikasi, pesan, dan undangan meeting.

Karena itu, pekerja membutuhkan waktu tanpa gangguan untuk menyelesaikan pekerjaan kompleks. Tim dapat menetapkan waktu tertentu tanpa meeting, sementara karyawan mematikan notifikasi ketika membutuhkan konsentrasi.

Tidak langsung membalas pesan juga tidak seharusnya otomatis dianggap sebagai tanda seseorang tidak bekerja.

  1. Jangan Jadikan Status Online sebagai Ukuran Kinerja

Status online, active, atau available sebaiknya tidak menjadi indikator utama produktivitas.

Seseorang bisa terlihat aktif selama delapan jam tetapi tidak menyelesaikan pekerjaan penting. Sebaliknya, seseorang yang mematikan notifikasi selama dua jam mungkin sedang menyelesaikan tugas yang paling strategis hari itu.

Fast Company juga mencatat bahwa productivity theater dapat muncul ketika aktivitas yang mudah terlihat seperti membalas pesan atau menghadiri meeting, lebih dihargai daripada pekerjaan yang benar-benar menghasilkan dampak.

  1. Nilai Karyawan dari Outcome

Perusahaan perlu melihat kembali cara mengevaluasi kinerja. Jika karyawan yang paling lama berada di kantor atau paling sering terlihat online mendapat apresiasi lebih besar, sistem tersebut secara tidak langsung mendorong presenteeism.

Penilaian dapat diarahkan pada pencapaian target, kualitas pekerjaan, kemampuan menyelesaikan masalah, kontribusi terhadap tim, pemenuhan tenggat, dan perkembangan kompetensi.

Dengan begitu, produktivitas tidak lagi diukur dari seberapa sibuk seseorang terlihat, tetapi dari kontribusinya terhadap tujuan pekerjaan.

  1. Bangun Kepercayaan

Micromanagement dapat memperkuat fake productivity. Ketika setiap aktivitas harus dilaporkan dan setiap jam harus dapat dijelaskan, pekerja akan merasa perlu terus membuktikan bahwa dirinya sedang bekerja.

Artikel Forbes, How Workplace Productivity Theater Is Quietly Killing Innovation, juga menunjukkan tekanan untuk terlihat sibuk dapat muncul ketika perusahaan masih membayar dan menilai pekerja berdasarkan waktu atau aktivitas yang terlihat, bukan hasil.

Karena itu, atasan tetap bisa menetapkan target dan melakukan evaluasi tanpa mengawasi setiap menit kerja.

Pada akhirnya, terlihat sibuk tidak selalu berarti pekerjaan benar-benar berjalan. Mengurangi meeting yang tidak perlu, membatasi gangguan, dan fokus pada pekerjaan yang penting bisa jadi lebih berarti daripada terus terlihat aktif.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

‘Fake Productivity’ di Tempat Kerja: Saat Terlihat Sibuk Jadi Ukuran Produktivitas Read More
meningkatkan semangat kerja sehabis liburan

Kerja Lagi Berat? Cara Menjaga Mood di Kantor

Bekerja memang bisa melelahkan. Tekanan target, tenggat waktu, konflik dengan rekan kerja, perubahan prioritas, hingga ketidakamanan pekerjaan dapat memengaruhi kondisi mental seseorang selama menjalani aktivitas sehari-hari. Karena itu, merasa jenuh atau mengalami suasana hati yang buruk di kantor tidak selalu berarti seseorang kurang bersyukur atau tidak mampu menghadapi tekanan.

Menjaga suasana hati di tempat kerja juga bukan berarti memaksa diri untuk selalu positif. Ada hari ketika pekerjaan berjalan lancar, tetapi ada pula saat ketika satu email, revisi, atau rapat terasa lebih berat dari biasanya. Yang lebih penting adalah mengenali emosi, memahami pemicunya, dan menentukan respons yang tidak memperburuk keadaan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam artikel Mental health at work menjelaskan bahwa pekerjaan yang layak dan lingkungan kerja yang aman dapat mendukung kesehatan mental. Sebaliknya, beban kerja berlebihan, rendahnya kontrol terhadap pekerjaan, ketidakamanan kerja, diskriminasi, dukungan yang terbatas, serta kondisi kerja yang buruk termasuk risiko psikososial yang dapat memengaruhi kesehatan mental.

Artinya, menjaga mood di tempat kerja bukan semata-mata tanggung jawab individu. Cara seseorang merespons tekanan memang penting, tetapi kondisi organisasi dan lingkungan kerja juga ikut menentukan pengalaman seseorang selama bekerja.

Baca juga: Hey Hanging: Kebiasaan Chat yang Diam-diam Bikin Rekan Kerja Kesal

Mengapa Suasana Hati Penting di Tempat Kerja?

Kondisi emosional dapat ikut memengaruhi bagaimana seseorang merespons tekanan dan interaksi di tempat kerja. Ketika sedang sangat lelah atau frustrasi, seseorang mungkin menjadi lebih mudah tersinggung atau kesulitan mengambil jarak dari persoalan kecil.

Karena itu, menjaga suasana hati bukan berarti harus terlihat ceria sepanjang hari. Tujuannya adalah menjaga agar emosi tidak langsung menentukan tindakan. Memberi jeda sebelum membalas pesan, misalnya, dapat membantu seseorang merespons persoalan dengan lebih tenang daripada langsung bereaksi ketika sedang marah.

WHO menyebut lingkungan kerja yang aman dan sehat dapat mendukung kesehatan mental, hubungan positif, retensi karyawan, performa, dan produktivitas. Sebaliknya, kondisi kerja yang buruk dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan mental.

Baca Juga: Cara Memberikan Feedback pada Rekan Kerja dengan Tepat

Apa yang Bisa Membuat Mood Memburuk Saat Bekerja?

Suasana hati yang memburuk di kantor tidak selalu berasal dari persoalan pribadi. International Labour Organization (ILO) , Psychosocial risks and Mental Health at Work, menjelaskan bahwa risiko psikososial dapat berkaitan dengan desain pekerjaan, beban dan kecepatan kerja, kontrol terhadap pekerjaan, budaya organisasi, hubungan interpersonal, keamanan kerja, hingga tuntutan pekerjaan dan kehidupan di luar kantor.

Beban Kerja dan Deadline yang Berlebihan

Banyak pekerjaan dalam waktu terbatas dapat membuat seseorang merasa terus-menerus mengejar sesuatu yang belum selesai. Situasinya semakin berat ketika semua tugas diberi label mendesak atau prioritas berubah tanpa penjelasan yang jelas.

ILO dalam artikel Psychosocial risks and stress at work menyebut beban kerja berat, tekanan waktu, tenggat yang terus-menerus, jam kerja panjang, dan rendahnya kontrol atas pekerjaan sebagai sejumlah risiko psikososial di tempat kerja.

Dalam kondisi seperti ini, persoalannya bukan sekadar kemampuan mengatur waktu. Jika kapasitas dan sumber daya tidak sebanding dengan tuntutan pekerjaan, tekanan yang dirasakan pekerja dapat semakin besar.

Konflik dengan Rekan Kerja

Tempat kerja mempertemukan orang dengan gaya komunikasi, kebiasaan, dan cara bekerja yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak selalu menjadi masalah, tetapi dapat berkembang menjadi sumber tekanan ketika terjadi komunikasi buruk, kurangnya dukungan, perundungan, diskriminasi, atau konflik yang tidak terselesaikan.

ILO memasukkan hubungan interpersonal yang buruk, dukungan yang terbatas dari rekan kerja atau atasan, perilaku otoriter, kekerasan, pelecehan, dan perundungan sebagai bagian dari risiko psikososial di tempat kerja.

Karena itu, ketika suasana hati terus memburuk setelah berinteraksi dengan orang tertentu, penting untuk melihat pola yang terjadi. Bisa jadi persoalannya bukan sekadar ketidakcocokan, melainkan masalah komunikasi atau perilaku yang memang perlu ditangani.

Atasan yang Terlalu Mengontrol

Hubungan dengan atasan juga dapat memengaruhi pengalaman seseorang di tempat kerja. Arahan yang tidak jelas, perubahan instruksi secara tiba-tiba, pengawasan berlebihan, atau kurangnya ruang untuk mengambil keputusan dapat membuat pekerjaan terasa lebih menekan.

WHO menyebut rendahnya kontrol terhadap pekerjaan dan dukungan yang terbatas sebagai salah satu risiko psikososial. ILO juga memasukkan kurangnya kontrol terhadap desain pekerjaan maupun beban kerja serta supervisi yang otoriter sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko stres kerja.

Merasa Tidak Dihargai

Kurangnya pengakuan terhadap kontribusi pekerja juga dapat memengaruhi pengalaman seseorang di tempat kerja. Penghargaan tidak selalu berbentuk kenaikan gaji atau promosi. Komunikasi yang menghargai kontribusi, umpan balik yang jelas, serta kesempatan untuk berkembang juga merupakan bagian dari lingkungan kerja yang sehat.

ILO dalam laporan The psychosocial working environment: Global developments and pathways for action yang diterbitkan pada 2026 menempatkan faktor seperti tuntutan pekerjaan, kejelasan peran, otonomi, beban kerja, dukungan, dan proses yang adil sebagai bagian penting dari lingkungan kerja psikososial.

Baca Juga: Kisah Endang dan Diskriminasi pada Pekerja Lansia: Saat Dunia Kerja Belum Ramah Usia

Cara Menjaga Suasana Hati di Tempat Kerja

Menjaga mood bukan berarti menghilangkan semua emosi negatif. Langkah yang lebih realistis adalah mengenali apa yang sedang terjadi dan menentukan respons yang sesuai. Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu mengelola tekanan sehari-hari, meski tidak menggantikan kebutuhan untuk memperbaiki masalah di tingkat organisasi.

Kenali Pemicu Mood sebelum Bereaksi

Ketika tiba-tiba merasa kesal di kantor, jangan langsung menyimpulkan bahwa masalahnya berasal dari orang yang sedang berada di depanmu. Coba perhatikan apa yang terjadi sebelumnya.

Mood mungkin memburuk setelah rapat tertentu, menerima banyak pekerjaan, menghadapi deadline, atau mendapatkan pesan ketika sedang kelelahan. Dengan mengenali pola tersebut, kamu dapat membedakan sumber masalah dan menentukan respons yang lebih tepat.

Jika penyebabnya adalah beban kerja, misalnya, solusi yang dibutuhkan mungkin bukan sekadar “berpikir positif”, tetapi membicarakan prioritas dengan atasan.

Beri Jeda Sebelum Merespons

Tidak semua pesan harus dijawab dalam hitungan detik. Ketika menerima email atau komentar yang membuat emosi meningkat, beri waktu untuk menenangkan diri jika situasinya memungkinkan.

Kamu bisa meninggalkan meja sebentar, minum air, berjalan singkat, atau mengerjakan tugas lain sebelum kembali pada persoalan tersebut. Jeda tidak berarti menghindari masalah, tetapi memberi kesempatan agar respons tidak sekadar mengikuti emosi sesaat.

Bedakan Fakta dan Interpretasi

Komentar atasan seperti “tolong revisi bagian ini” merupakan fakta. Pikiran bahwa komentar tersebut berarti “atasan menganggap saya tidak kompeten” adalah interpretasi.

Keduanya perlu dibedakan. Ketika sedang lelah atau tertekan, seseorang dapat lebih mudah memberikan makna negatif terhadap situasi yang sebenarnya masih terbuka untuk berbagai penafsiran.

Memisahkan fakta dari asumsi tidak berarti mengabaikan perasaan. Cara ini memberi ruang untuk memeriksa situasi sebelum mengambil kesimpulan atau merespons orang lain.

Atur Prioritas Agar Tidak Terus Kewalahan

Jika semua pekerjaan terasa mendesak, tentukan mana yang benar-benar harus selesai lebih dahulu. Ketika prioritas tidak jelas, komunikasikan kapasitas dan minta bantuan atasan untuk menentukan urutan pekerjaan.

Hal ini penting karena persoalan beban kerja tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan manajemen waktu pribadi. ILO menekankan pentingnya pengaturan beban kerja, target yang realistis, komunikasi organisasi, serta partisipasi pekerja dalam pengambilan keputusan sebagai bagian dari pencegahan risiko psikososial.

Jangan Merasa Bersalah karena Beristirahat

Istirahat bukan berarti tidak produktif. Ketika pekerjaan memungkinkan, jeda dapat menjadi bagian dari cara menjaga energi dan konsentrasi.

Tidak perlu membuat rutinitas yang rumit. Berdiri dari meja, minum air, makan tanpa membuka laptop, atau berjalan sebentar dapat menjadi kesempatan untuk mengalihkan perhatian dari pekerjaan sebelum kembali menyelesaikan tugas.

Batasi Notifikasi yang Tidak Mendesak

Pesan dan notifikasi yang terus muncul dapat membuat seseorang sulit mempertahankan fokus. Jika jenis pekerjaan memungkinkan, matikan notifikasi yang tidak mendesak untuk periode tertentu dan tentukan waktu khusus untuk memeriksa pesan.

Tujuannya bukan menjadi tidak responsif, melainkan membedakan persoalan yang benar-benar membutuhkan respons segera dari hal yang sebenarnya dapat menunggu.

Bangun Hubungan Kerja yang Sehat

Tidak semua rekan kerja harus menjadi teman dekat. Namun, lingkungan yang saling menghormati dapat membantu membuat pekerjaan terasa lebih aman dan suportif.

Komunikasi yang jelas, kesediaan membantu ketika diperlukan, serta batasan yang sehat dapat mencegah konflik kecil berkembang menjadi masalah yang lebih besar. WHO dan ILO sama-sama menempatkan dukungan sosial dan hubungan interpersonal sebagai bagian dari kondisi kerja yang berpengaruh terhadap kesehatan mental.

Baca Juga: 4 Penyebab ‘Mood Swing’ Saat Bekerja dan Cara Mengatasinya

Menjaga Mood Bukan Berarti Harus Selalu Positif

Suasana hati di tempat kerja dipengaruhi banyak hal, mulai dari beban kerja dan deadline hingga hubungan dengan rekan kerja, gaya kepemimpinan, keamanan pekerjaan, dan tingkat kontrol terhadap pekerjaan. Karena itu, ketika mood sering memburuk, persoalannya tidak selalu terletak pada kemampuan individu untuk mengelola emosi.

Mengenali pemicu, memberi jeda sebelum bereaksi, mengatur prioritas, dan menjaga batasan dapat membantu menghadapi tekanan sehari-hari. Namun, ketika sumber masalah berasal dari beban kerja yang tidak wajar, perundungan, diskriminasi, atau kondisi kerja yang tidak sehat, penyelesaiannya juga membutuhkan perubahan pada lingkungan kerja.

Pada akhirnya, menjaga suasana hati bukan tentang memaksa diri untuk selalu bahagia di kantor. Yang lebih penting adalah memiliki ruang untuk bekerja secara manusiawi, mengenali batas diri, dan berada dalam lingkungan yang mendukung kesehatan mental.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Kerja Lagi Berat? Cara Menjaga Mood di Kantor Read More
tanda perusahaan ramah terhadap pekerja perempuan

Perempuan Breadwinner: Tantangan Jadi Pencari Nafkah Utama dalam Keluarga

Peran sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga selama ini identik dengan laki-laki. Namun, perubahan kondisi ekonomi, meningkatnya partisipasi perempuan di dunia kerja, serta dinamika dalam rumah tangga membuat semakin banyak perempuan mengambil peran tersebut. Mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan diri sendiri, tetapi juga menjadi penopang ekonomi bagi pasangan, anak, maupun anggota keluarga lainnya.

Fenomena ini bukan lagi kasus yang jarang ditemui. Mengutip Diajeng , Perempuan Breadwinner: Tantangan Nyata dan Cara Mengelolanya, yang merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa 14,37 persen pekerja di Indonesia termasuk dalam kategori female breadwinner.

Peran ini paling banyak dijalani oleh istri, disusul perempuan yang menjadi kepala rumah tangga, kemudian anak perempuan atau anggota keluarga lain yang turut menopang ekonomi keluarga.

Female breadwinner merujuk pada perempuan yang menjadi sumber penghasilan utama dalam keluarga, baik karena pendapatannya lebih besar, menjadi orang tua tunggal, maupun berdasarkan pembagian peran yang disepakati. 

Meski semakin umum, perubahan tersebut belum selalu diikuti perubahan cara pandang masyarakat. Dalam laporan UN Women, Progress on the Sustainable Development Goals: The Gender Snapshot 2024, disebutkan bahwa perempuan masih menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan yang tidak dibayar dibandingkan laki-laki. Kondisi ini membuat banyak perempuan tetap memikul tanggung jawab rumah tangga meski juga menjadi pencari nafkah utama.

Akibatnya, perempuan breadwinner sering menghadapi tekanan berlapis. Mereka dituntut menjaga stabilitas ekonomi keluarga sekaligus memenuhi ekspektasi terhadap peran domestik. Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi finansial, tetapi juga menyangkut pembagian peran, relasi dalam keluarga, dan kesehatan mental.

Baca Juga: Gara-gara Stigma Janda Media, Ibu Tunggal Sulit Berkarier

Tantangan Menjadi Perempuan Breadwinner

Menjadi pencari nafkah utama tidak hanya berarti memiliki tanggung jawab finansial yang lebih besar. Banyak perempuan juga harus menghadapi tekanan sosial, beban pengasuhan, dan bias gender yang masih melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Tekanan Sosial dan Ekspektasi Gender

Meski jumlah perempuan breadwinner terus meningkat, anggapan bahwa laki-laki adalah pencari nafkah utama masih kuat. Akibatnya, tidak sedikit perempuan menghadapi komentar atau pertanyaan yang mempertanyakan perannya, baik dari lingkungan sekitar maupun keluarga besar.

Laporan UN Women, Progress on the Sustainable Development Goals: The Gender Snapshot 2024, menunjukkan bahwa norma sosial masih menjadi salah satu hambatan dalam mewujudkan kesetaraan gender, termasuk dalam pembagian peran di rumah dan dunia kerja.

Double Burden dan Bias Gender

Selain menjadi pencari nafkah utama, banyak perempuan tetap memikul sebagian besar pekerjaan domestik dan pengasuhan. Kondisi yang dikenal sebagai double burden ini membuat mereka harus menjalani dua peran sekaligus dalam waktu yang bersamaan. 

International Labour Organization (ILO) dalam laporan Care at Work: Investing in Care Leave and Services for a More Gender Equal World of Work juga menyoroti bahwa tanggung jawab pengasuhan yang belum terbagi secara setara masih menjadi tantangan bagi perempuan di dunia kerja.

Di sisi lain, bias gender juga masih kerap muncul. Perempuan yang sukses secara finansial terkadang dianggap menyimpang dari peran tradisional, sementara laki-laki yang bukan pencari nafkah utama justru menghadapi stigma sosial. Situasi tersebut dapat memengaruhi dinamika hubungan jika tidak diimbangi komunikasi dan pembagian tanggung jawab yang setara.

Baca Juga: Tersandera ‘Glass Cliff’, Perempuan Pekerja Sulit Berkembang

Dampak Menjadi Perempuan Breadwinner terhadap Kesejahteraan dan Kesehatan Mental

Menjadi pencari nafkah utama dapat memberikan rasa percaya diri dan kemandirian finansial. Namun, ketika tanggung jawab ekonomi berjalan bersamaan dengan tuntutan domestik dan tekanan sosial, perempuan juga berisiko mengalami kelelahan fisik maupun emosional.

American Psychological Association (APA) dalam artikel Stress Effects on the Body menjelaskan bahwa stres yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental, mulai dari gangguan tidur hingga kesulitan berkonsentrasi. Risiko tersebut meningkat ketika seseorang menghadapi berbagai tuntutan dalam waktu yang bersamaan.

Laporan ILO, Care at Work: Investing in Care Leave and Services for a More Gender Equal World of Work, juga menunjukkan bahwa perempuan masih menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan pengasuhan yang tidak dibayar dibandingkan laki-laki. Ketimpangan ini membuat banyak perempuan harus tetap mengerjakan pekerjaan pengasuhan dan pekerjaan domestik setelah menyelesaikan pekerjaan formal.

Masih dari Diajeng, perubahan peran ekonomi dalam keluarga juga disebut dapat memunculkan tekanan emosional apabila masih dibayangi ekspektasi tradisional mengenai siapa yang seharusnya menjadi pencari nafkah utama.

Meski demikian, besarnya pendapatan bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kesejahteraan keluarga. Dukungan pasangan, pembagian peran yang adil, dan komunikasi yang terbuka berperan penting agar perempuan dapat menjalani perannya tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Baca Juga: Apa Hukum Perempuan Bekerja di dalam Islam?

Cara Menjalani Peran sebagai Perempuan Breadwinner dengan Lebih Sehat

Menjalani peran sebagai breadwinner tidak berarti harus menanggung seluruh beban sendirian. Sejumlah pakar menilai bahwa komunikasi, pembagian tanggung jawab, dan dukungan sosial merupakan kunci agar peran tersebut dapat dijalani secara berkelanjutan.

Bangun Komunikasi dan Pembagian Peran yang Setara

Komunikasi yang terbuka mengenai kondisi keuangan, pembagian pekerjaan rumah, hingga kebutuhan emosional membantu pasangan membangun pemahaman bersama. Masih dari Diajeng, komunikasi yang jujur disebut sebagai salah satu cara mengurangi konflik akibat perubahan peran dalam keluarga.

Prinsip tersebut juga sejalan dengan laporan ILO, Care at Work: Investing in Care Leave and Services for a More Gender Equal World of Work, yang menekankan pentingnya pembagian tanggung jawab pengasuhan agar perempuan tidak terus menanggung beban ganda.

Jaga Kesehatan Diri dan Bangun Sistem Dukungan

Di tengah kesibukan bekerja dan mengurus keluarga, menyediakan waktu untuk beristirahat, berolahraga, atau melakukan aktivitas yang disukai merupakan bagian dari menjaga kesehatan. APA melalui artikel Stress Effects on the Body menjelaskan bahwa mengelola stres menjadi langkah penting untuk mencegah dampak negatif terhadap kesehatan fisik maupun psikologis.

Selain itu, dukungan dari pasangan, keluarga, teman, atau komunitas dapat membantu mengurangi beban yang dirasakan. Menerima bantuan bukan berarti kurang mandiri, melainkan bagian dari membangun sistem yang memungkinkan seluruh anggota keluarga berbagi tanggung jawab secara lebih adil.

Menjadi Breadwinner Bukan Berarti Menanggung Semuanya Sendiri

Semakin banyak perempuan di Indonesia menjadi pencari nafkah utama keluarga. Perubahan ini menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi rumah tangga tidak lagi ditentukan oleh pembagian peran tradisional, melainkan oleh kemampuan setiap anggota keluarga untuk saling mendukung. Ketika komunikasi berjalan terbuka, tanggung jawab dibagi secara setara, dan perempuan memiliki ruang untuk menjaga kesejahteraan dirinya, peran sebagai breadwinner dapat dijalani tanpa harus mengorbankan kesehatan mental maupun kualitas hubungan dalam keluarga.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Perempuan Breadwinner: Tantangan Jadi Pencari Nafkah Utama dalam Keluarga Read More
tips membuat cv yang benar

‘Doomjobbing’: Ketika Terlalu Sering Cari Kerja Justru Memicu ‘Burnout’

Di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif, banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari menelusuri portal lowongan, menekan tombol easy apply, hingga terus-menerus nge-refresh halaman pencarian kerja. Alih-alih merasa semakin dekat dengan pekerjaan impian, sebagian justru diliputi kecemasan karena lamaran tak kunjung mendapat respons.

Perasaan tersebut muncul di tengah kondisi pasar kerja yang memang penuh tantangan. Laporan Employ, 2025 Job Seeker Nation Report menunjukkan optimisme pencari kerja mulai menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Meski lebih dari setengah responden masih yakin akan mendapat panggilan wawancara, hanya 44 persen yang menilai pasar kerja saat ini relatif mudah. 

Di sisi lain, lebih dari dua pertiga responden memperkirakan mereka baru akan mendapatkan pekerjaan setelah mengirim maksimal 10 lamaran, sementara 66 persen mengaku mengalami burnout selama proses mencari kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa pencarian kerja kini tidak hanya memerlukan waktu lebih lama, tetapi juga dapat menjadi pengalaman yang melelahkan secara emosional.

Di tengah situasi tersebut, muncul istilah doomjobbing. Istilah ini menggabungkan doomscrolling, kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif di internet, dengan job hunting. Seseorang yang mengalami doomjobbing terus mencari dan melamar pekerjaan bukan lagi karena memiliki strategi yang terencana, melainkan karena rasa cemas dan takut kehilangan peluang.

Dikutip dari Forbes, Doomjobbing’ Is The New Doomscrolling Quietly Derailing Careers, menurut Bryan Robinson, psikolog sekaligus kontributor Forbes, doomjobbing merupakan versi karier dari doomscrolling. Seseorang mungkin tampak produktif karena terus mengirim lamaran, tetapi aktivitas tersebut belum tentu meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan jika dilakukan tanpa strategi yang jelas. 

Dalam artikel yang sama, Robinson mengutip Dan Kejsefman, Talent Director di Avature, yang menjelaskan bahwa rasa mendesak setelah kehilangan pekerjaan atau menghadapi ketidakpastian karier memang merupakan respons yang wajar. Namun, ketika dorongan tersebut berubah menjadi kebiasaan mencari kerja tanpa henti, pencari kerja berisiko terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai “ilusi kemajuan”, terus merasa sibuk, tetapi tidak benar-benar bergerak lebih dekat ke pekerjaan yang diinginkan.

Berbeda dengan proses job hunting yang terencana, doomjobbing tidak memiliki batas yang jelas. Dalam pencarian kerja yang sehat, seseorang biasanya menentukan posisi yang sesuai, menyesuaikan CV dan surat lamaran, lalu menunggu proses rekrutmen sambil menjalankan aktivitas lain. Sebaliknya, doomjobbing membuat seseorang merasa harus terus memantau lowongan baru dan mengirim lamaran setiap saat karena khawatir melewatkan kesempatan.

Baca Juga: Career Gap di CV Bisa Jadi Red Flag?

Mengapa Doomjobbing Semakin Marak?

Fenomena doomjobbing enggak muncul begitu saja. Perubahan kondisi ekonomi, meningkatnya persaingan di pasar kerja, hingga perkembangan teknologi membuat proses mencari pekerjaan terasa semakin kompleks. Laporan Employ, 2025 Job Seeker Nation Report mencatat bahwa hanya 44 persen responden yang menilai mencari pekerjaan saat ini tergolong mudah, turun dibandingkan tahun sebelumnya. Di saat yang sama, kepercayaan diri untuk memperoleh pekerjaan dalam waktu tiga bulan juga ikut menurun.

Meski demikian, ekspektasi pencari kerja masih tergolong tinggi. Laporan yang sama menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga responden (70 persen) memperkirakan mereka akan mendapatkan pekerjaan setelah mengirim maksimal 10 lamaran. Ketika harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, proses pencarian kerja dapat terasa semakin melelahkan dan memicu dorongan untuk terus membuka portal lowongan atau mengirim lamaran baru.

Bryan Robinson dalam artikel Forbes menjelaskan bahwa kondisi tersebut menjadi salah satu latar munculnya doomjobbing. Ia menilai ketidakpastian ekonomi, gelombang pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor, serta persaingan yang semakin ketat membuat sebagian pencari kerja merasa harus terus bergerak agar tidak kehilangan peluang. 

Dalam artikel yang sama, Dan Kejsefman, Talent Director di Avature, mengatakan bahwa dorongan untuk terus mencari pekerjaan memang dapat dipahami, terutama setelah seseorang kehilangan pekerjaan atau menghadapi ketidakpastian karier. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan tanpa strategi yang jelas, pencari kerja berisiko terjebak dalam “ilusi kemajuan”, terus merasa produktif karena mengirim banyak lamaran, padahal peluangnya belum tentu meningkat.

Perubahan teknologi juga turut memengaruhi cara orang memandang pasar kerja. Dalam 2025 Job Seeker Nation Report, 81 persen responden mengatakan mereka perlu mempelajari teknologi baru, termasuk AI, agar tetap kompetitif, sementara 89 persen percaya bahwa menutup kesenjangan keterampilan (skills gap) dapat meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan.

Di sisi lain, AI mulai menjadi bagian dari proses rekrutmen. Laporan Employ menunjukkan bahwa 56 persen responden merasa nyaman jika AI digunakan untuk meninjau CV, meski mayoritas masih lebih mempercayai staf HR dibandingkan AI untuk membimbing mereka selama proses rekrutmen.

Kombinasi antara pasar kerja yang semakin kompetitif, ekspektasi yang tinggi, serta perubahan teknologi inilah yang membuat sebagian orang merasa harus terus mencari peluang baru. Dalam kondisi tersebut, batas antara proses job hunting yang terencana dan doomjobbing menjadi semakin tipis.

Baca Juga: Job-dropping: Alasan Sebagian Pekerja Menolak Promosi Jabatan

Dampak Doomjobbing terhadap Kesehatan Mental

Proses mencari pekerjaan memang dapat menguras waktu dan energi. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan tanpa jeda dan didorong oleh rasa cemas, dampaknya tidak hanya terasa pada produktivitas, tetapi juga kesejahteraan psikologis pencari kerja.

Salah satu temuan yang memperkuat kondisi tersebut berasal dari Employ, 2025 Job Seeker Nation Report. Laporan itu menunjukkan bahwa 66 persen responden mengaku mengalami burnout selama mencari pekerjaan. Temuan ini tidak secara khusus mengukur doomjobbing, tetapi menggambarkan bahwa proses pencarian kerja yang berkepanjangan dapat menjadi pengalaman yang melelahkan bagi banyak orang.

Bryan Robinson menjelaskan bahwa doomjobbing membuat seseorang merasa harus terus mencari peluang baru, meski telah mengirim banyak lamaran. Akibatnya, pencari kerja terus membuka portal lowongan, memantau email, atau memperbarui CV karena khawatir ada kesempatan yang terlewat. Menurut Robinson, kebiasaan tersebut dapat menciptakan kesan seolah-olah seseorang terus membuat kemajuan, padahal aktivitas yang dilakukan sering kali hanya berulang tanpa strategi yang berbeda.

Pandangan serupa juga muncul dalam artikel The Guardian, Doomjobbing: how the modern job hunt became a vicious loop. Artikel tersebut menggambarkan doomjobbing sebagai siklus yang terus berulang: membuka portal lowongan, mengirim lamaran, menunggu balasan, lalu kembali mencari pekerjaan ketika respons tak kunjung datang. Siklus tersebut dapat memicu frustrasi karena pencari kerja merasa selalu sibuk, tetapi sulit melihat hasil yang nyata.

Tekanan tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi pasar kerja yang penuh ketidakpastian. Dalam Employ, 2025 Job Seeker Nation Report, hanya 44 persen responden yang menilai mencari pekerjaan saat ini relatif mudah, sementara optimisme untuk mendapatkan pekerjaan dalam waktu singkat juga menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Ketika proses rekrutmen berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, sebagian pencari kerja terdorong untuk terus meningkatkan intensitas pencarian kerja sebagai respons terhadap ketidakpastian tersebut.

Meski demikian, para pakar menekankan bahwa banyaknya lamaran yang dikirim tidak selalu berbanding lurus dengan peluang diterima bekerja. Karena itu, doomjobbing dipandang bukan sebagai strategi pencarian kerja yang efektif, melainkan sebagai respons terhadap tekanan dan kecemasan yang muncul selama proses mencari pekerjaan.

Baca Juga: Lamaran Kerja Ditolak, Siapa Bertindak: 9 Tanda Wawancaramu Gagal

Cara Menghindari Doomjobbing Tanpa Mengorbankan Peluang Karier

Meski istilah doomjobbing masih tergolong baru, bukan berarti pencari kerja harus berhenti mencari peluang. Sejumlah pakar justru menekankan bahwa proses mencari kerja akan lebih efektif jika dilakukan secara terencana, dengan target yang realistis dan strategi yang jelas.

Bryan Robinson menyarankan agar pencari kerja mengubah fokus dari kuantitas menjadi kualitas. Alih-alih mengirim puluhan lamaran setiap hari, ia mendorong pencari kerja untuk lebih selektif memilih posisi yang sesuai dengan pengalaman, keterampilan, dan tujuan karier. Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan terus-menerus melamar pekerjaan tanpa menyesuaikan CV atau surat lamaran dengan kebutuhan setiap perusahaan.

Pandangan serupa disampaikan Peter Duris, CEO dan Co-founder Kickresume. Menurutnya, mengirim lamaran secara massal sering kali hanya menciptakan kesan produktif tanpa benar-benar meningkatkan peluang diterima bekerja. Sebaliknya, menyesuaikan dokumen lamaran untuk setiap posisi dapat membantu pelamar menunjukkan kompetensi yang paling relevan dengan kebutuhan perusahaan.

Selain strategi melamar, para pakar juga menyoroti pentingnya memberi batas pada aktivitas mencari kerja. Robinson menyarankan pencari kerja menetapkan waktu khusus untuk menelusuri lowongan atau mengirim lamaran, alih-alih memantau portal kerja sepanjang hari. Cara ini membantu menjaga keseimbangan antara upaya mencari pekerjaan dan waktu untuk beristirahat.

Temuan dalam Employ, 2025 Job Seeker Nation Report juga menunjukkan bahwa pencari kerja semakin menyadari pentingnya mengembangkan keterampilan. Sebanyak 89 persen responden percaya bahwa menutup kesenjangan keterampilan (skills gap) dapat meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan, sementara 81 persen menilai mempelajari teknologi baru, termasuk AI, menjadi langkah penting agar tetap kompetitif di pasar kerja.

Pada akhirnya, doomjobbing menunjukkan bahwa tantangan mencari pekerjaan saat ini enggak hanya terletak pada banyaknya lowongan yang tersedia, tetapi juga pada cara seseorang merespons ketidakpastian di pasar kerja.

Terus-menerus mencari pekerjaan belum tentu membuat peluang diterima semakin besar. Sebaliknya, membangun strategi pencarian kerja yang terarah, terus mengembangkan keterampilan, serta memberi ruang untuk beristirahat dapat membantu pencari kerja menjalani proses tersebut secara lebih berkelanjutan tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

‘Doomjobbing’: Ketika Terlalu Sering Cari Kerja Justru Memicu ‘Burnout’ Read More
kenaikan gaji atau promosi jabatan

Job-dropping: Alasan Sebagian Pekerja Menolak Promosi Jabatan

Ketika atasannya menawarkan naik jabatan, keputusan yang diambil seorang pekerja justru di luar dugaan: ia menolaknya. Bukan karena tidak mampu atau kehilangan ambisi, melainkan karena merasa kenaikan jabatan akan membuat hidupnya semakin didominasi pekerjaan.

Dikutip dari The Guardian,  Job-dropping: why employees are turning down high-paying promotions, lewat pengalaman sejumlah pekerja, media tersebut menunjukkan bahwa kenaikan jabatan tidak selalu dipandang sebagai langkah karier yang ideal. Bagi sebagian orang, tambahan gaji dianggap enggak sebanding dengan meningkatnya beban kerja, tekanan, serta berkurangnya waktu untuk keluarga dan kehidupan pribadi.

Fenomena tersebut belakangan dikenal dengan istilah job-dropping, yaitu keputusan untuk menolak promosi atau memilih posisi dengan tanggung jawab yang lebih ringan demi menjaga keseimbangan hidup. Meski belum menjadi istilah resmi dalam literatur psikologi maupun manajemen sumber daya manusia, job-dropping semakin sering digunakan media untuk menggambarkan perubahan cara sebagian pekerja memaknai kesuksesan dalam karier.

Namun, apakah job-dropping benar-benar mencerminkan berkurangnya ambisi pekerja, atau justru menunjukkan bahwa definisi sukses dalam dunia kerja sedang berubah?

Baca Juga: ‘Career Minimalism’: Tren Gen Z yang Menolak ‘Hustle Culture’

Apa Itu Job-Dropping?

Berbeda dengan quiet quitting, job-dropping berkaitan dengan keputusan yang secara sadar diambil seseorang terhadap arah kariernya. Menurut Gallup dalam artikel Is Quiet Quitting Real?, quiet quitting menggambarkan karyawan yang tetap menjalankan tugas sesuai deskripsi pekerjaannya tanpa mengambil beban tambahan di luar tanggung jawab utama. Sementara itu, job-dropping merujuk pada keputusan untuk tidak mengejar promosi atau memilih posisi dengan tanggung jawab yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan hidup.

Fenomena ini juga tidak sama dengan career plateau, yaitu kondisi ketika perkembangan karier terhambat karena terbatasnya peluang promosi atau pengembangan di dalam organisasi. Jika career plateau umumnya dipengaruhi oleh faktor struktural, job-dropping lebih merupakan keputusan pribadi yang lahir dari pertimbangan mengenai keseimbangan hidup, kesehatan mental, atau prioritas keluarga.

Lalu, apa yang membuat semakin banyak pekerja mulai mempertimbangkan keputusan tersebut?

Baca Juga: ‘Quiet Covering’: Tren Tidak Jadi Diri Sendiri di Tempat Kerja

Mengapa Job-dropping Mulai Muncul?

Fenomena job-dropping tidak muncul begitu saja. Perubahan cara pandang terhadap karier dipengaruhi oleh dinamika dunia kerja yang semakin kompleks, meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, serta bergesernya prioritas hidup banyak pekerja.

Salah satu pemicunya adalah semakin kaburnya batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Kemajuan teknologi memang membuat pekerjaan lebih fleksibel, tetapi juga membuat banyak orang tetap terhubung dengan pekerjaan di luar jam kantor. Dalam situasi seperti ini, promosi tidak lagi dipandang semata sebagai peluang untuk berkembang, melainkan juga sebagai kemungkinan bertambahnya beban dan tanggung jawab.

Selain itu, ukuran kesuksesan dalam bekerja mulai berubah. Dalam laporan 2025 Gen Z and Millennial Survey, Deloitte menemukan bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, kesehatan mental, serta fleksibilitas kerja menjadi faktor penting bagi banyak responden dalam menentukan pilihan karier. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan jabatan bukan lagi satu-satunya pertimbangan ketika seseorang mengevaluasi langkah kariernya.

Perhatian terhadap risiko burnout juga ikut memengaruhi keputusan tersebut. World Health Organization (WHO) melalui dokumen Burn-out an occupational phenomenon: International Classification of Diseases (ICD-11) mendefinisikan burnout sebagai sindrom akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Kondisi ini ditandai dengan kelelahan berkepanjangan, meningkatnya sikap sinis terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas kerja.

Meski demikian, job-dropping tidak berarti setiap orang harus menolak promosi. Fenomena ini lebih menunjukkan bahwa sebagian pekerja kini mempertimbangkan lebih banyak faktor sebelum mengambil keputusan karier, termasuk kesehatan, keluarga, dan kualitas hidup, selain peluang memperoleh jabatan atau penghasilan yang lebih tinggi.

Apa yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Menolak Promosi Jabatan?

Meski job-dropping semakin sering dibicarakan, bukan berarti menolak promosi adalah keputusan yang tepat bagi semua orang. Setiap pilihan karier memiliki konsekuensi yang berbeda, sehingga penting untuk mempertimbangkan kondisi pribadi sebelum mengambil keputusan.

Dari sisi individu, menolak promosi dapat membantu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, terutama jika tanggung jawab baru berpotensi meningkatkan tekanan kerja. Namun, keputusan tersebut juga dapat memengaruhi peluang peningkatan pendapatan, pengembangan kompetensi, hingga kesempatan memegang peran strategis di masa depan.

Di sisi lain, fenomena ini menjadi sinyal bagi perusahaan bahwa ekspektasi karyawan mulai berubah. Dalam laporan Deloitte menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja, kesehatan mental, dan peluang pengembangan diri menjadi faktor yang semakin diperhatikan pekerja. Temuan ini mengisyaratkan bahwa mempertahankan talenta tidak cukup hanya melalui promosi atau kenaikan gaji, tetapi juga dengan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan karyawan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah promosi selalu baik atau buruk, melainkan apakah langkah tersebut benar-benar sesuai dengan tujuan karier, kondisi finansial, dan kebutuhan hidup seseorang. Pada akhirnya, keputusan yang tepat akan berbeda bagi setiap individu.

Baca Juga: Di Balik Rangkap Jabatan Pemerintah, Ada Gen Z yang Jadi Pengangguran Tetap

Job-Dropping dan Perubahan Makna Kesuksesan dalam Karier

Fenomena job-dropping menunjukkan bahwa cara orang memaknai kesuksesan dalam bekerja terus berubah. Jika dulu promosi hampir selalu dianggap sebagai tujuan utama, kini sebagian pekerja mulai mempertimbangkan keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan waktu bersama keluarga sebagai bagian dari pencapaian karier.

Namun, perubahan ini bukan berarti promosi kehilangan nilainya. Bagi banyak orang, kenaikan jabatan tetap menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, memperluas tanggung jawab, dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Di sisi lain, ada pula yang merasa pilihan terbaik adalah tetap berada di posisi yang memungkinkan mereka bekerja secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas hidup.

Karena itu, job-dropping sebaiknya dipahami sebagai salah satu respons terhadap perubahan dunia kerja, bukan sebagai tren yang harus diikuti semua orang. Keputusan menerima atau menolak promosi tetap bergantung pada tujuan karier, kondisi finansial, serta prioritas hidup masing-masing individu.

Pada akhirnya, job-dropping bukan tentang berani menolak promosi, melainkan tentang berani menentukan seperti apa kesuksesan yang ingin dijalani. Di tengah dunia kerja yang terus berubah, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi “Seberapa tinggi jabatan yang ingin saya capai?”, tetapi “Karier seperti apa yang benar-benar saya inginkan?”

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Job-dropping: Alasan Sebagian Pekerja Menolak Promosi Jabatan Read More
tips membuat cv yang benar

Career Gap di CV Bisa Jadi Red Flag?

Banyak orang merasa cemas ketika melihat ada jeda dalam riwayat pekerjaan di CV. Tidak sedikit yang khawatir career gap akan membuat rekruter mempertanyakan kompetensi atau komitmen mereka. Padahal, perjalanan karier setiap orang tidak selalu berjalan lurus. Ada fase ketika seseorang memutuskan berhenti bekerja untuk memulihkan diri dari burnout, melanjutkan pendidikan, mengurus keluarga, atau mengeksplorasi peluang baru.

Dalam beberapa tahun terakhir, cara pandang terhadap career gap mulai berubah. Semakin banyak perusahaan menilai kandidat tidak hanya dari lamanya pengalaman kerja, tetapi juga keterampilan dan pengalaman yang diperoleh di luar pekerjaan formal. LinkedIn Talent Solutions dalam artikel How to Explain Employment Gaps on Your Resume menjelaskan bahwa jeda karier bukan lagi hal yang otomatis menjadi penghalang dalam proses rekrutmen, selama kandidat dapat menjelaskan aktivitas dan nilai yang diperoleh selama periode tersebut.

Meski begitu, stigma terhadap career gap belum sepenuhnya hilang. Masih banyak pencari kerja yang merasa perlu “menutupi” jeda karier mereka karena khawatir dianggap kurang produktif. Kondisi inilah yang membuat topik career gap terus menjadi pembahasan, terutama di tengah perubahan dunia kerja yang semakin fleksibel.

Baca juga: ‘Mid-Career Burnout’: Saat Karier Terasa Mandek dan Pekerjaan Kehilangan Makna

Apa Itu Career Gap?

Career gap adalah periode ketika seseorang tidak bekerja dalam pekerjaan formal selama jangka waktu tertentu. Durasinya bisa berbeda-beda, mulai dari beberapa bulan hingga beberapa tahun, tergantung situasi yang dihadapi masing-masing individu.

Namun, career gap tidak selalu berarti seseorang berhenti berkembang. Banyak orang tetap mengembangkan keterampilan melalui kursus, sertifikasi, pekerjaan lepas (freelance), kegiatan sukarela (volunteering), atau membangun proyek pribadi. Karena itu, jeda karier tidak selalu identik dengan berhenti belajar atau kehilangan produktivitas.

Penjelasan serupa disampaikan Indeed Career Guide dalam artikel How To Explain Employment Gaps on Your Resume. Indeed menjelaskan bahwa employment gap dapat terjadi karena berbagai alasan, seperti melanjutkan pendidikan, mengurus keluarga, masalah kesehatan, hingga perubahan arah karier. Yang menjadi perhatian rekruter bukan hanya keberadaan jeda tersebut, tetapi bagaimana kandidat menjelaskan pengalaman selama masa itu secara jujur dan relevan.

Baca Juga: Kalau Kamu Lelah Bekerja, Ambil Jeda Jangan Berhenti

Penyebab Career Gap yang Paling Umum

Ada banyak alasan yang membuat seseorang memiliki career gap, dan sebagian besar merupakan bagian dari dinamika kehidupan maupun perubahan dunia kerja.

Salah satu penyebab yang cukup sering terjadi adalah kehilangan pekerjaan atau pemutusan hubungan kerja (PHK). Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, proses mencari pekerjaan baru dapat memerlukan waktu beberapa bulan. Selama periode tersebut, sebagian orang memilih meningkatkan keterampilan melalui pelatihan atau sertifikasi agar lebih siap menghadapi persaingan kerja.

Alasan lain yang juga banyak ditemui adalah kesehatan fisik maupun kesehatan mental. World Health Organization (WHO) melalui fakta Mental Health at Work menjelaskan bahwa lingkungan kerja yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, termasuk stres kronis dan burnout. Karena itu, sebagian pekerja memilih mengambil jeda karier sebagai bagian dari proses pemulihan sebelum kembali bekerja.

Selain faktor kesehatan, career gap juga dapat terjadi karena tanggung jawab keluarga. Ada yang memutuskan berhenti bekerja sementara untuk merawat anak, mendampingi anggota keluarga yang sakit, atau menjadi pengasuh utama di rumah. Kondisi seperti ini masih banyak dialami, terutama oleh perempuan yang sering menghadapi beban ganda antara pekerjaan dan tanggung jawab domestik.

Tidak sedikit pula yang sengaja mengambil career break untuk mengubah arah karier. Perkembangan teknologi membuat banyak profesi baru bermunculan, sehingga sebagian pekerja memanfaatkan masa jeda untuk mengikuti bootcamp, memperoleh sertifikasi, atau mempelajari keterampilan baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri.

Berbagai alasan tersebut menunjukkan bahwa career gap tidak selalu berkaitan dengan kurangnya kemampuan atau motivasi bekerja. Dalam banyak kasus, jeda karier justru menjadi periode ketika seseorang memperoleh pengalaman, keterampilan, atau perspektif baru yang dapat mendukung perjalanan karier berikutnya.

Baca Juga: Hey Hanging: Kebiasaan Chat yang Diam-diam Bikin Rekan Kerja Kesal

Mengapa Career Gap Masih Sering Dipandang Negatif?

Meski dunia kerja mulai berubah, career gap masih kerap dipersepsikan sebagai tanda kurang produktif. Salah satu penyebabnya adalah pandangan lama yang menganggap perjalanan karier ideal harus berlangsung tanpa jeda. Dalam pola pikir tersebut, seseorang diharapkan lulus pendidikan, bekerja secara berkelanjutan, lalu terus berkembang hingga mencapai jenjang karier tertentu.

Cara pandang ini membuat sebagian rekruter mempertanyakan alasan di balik jeda karier seorang kandidat. Pertanyaan yang muncul umumnya berkaitan dengan apakah kemampuan kandidat masih relevan, bagaimana mereka mengikuti perkembangan industri, atau apa yang dilakukan selama tidak bekerja. 

Indeed Career Guide dalam artikel How To Explain Employment Gaps on Your Resume menjelaskan bahwa employment gap merupakan hal yang umum dibahas dalam proses rekrutmen. Karena itu, kandidat disarankan menjelaskan jeda karier secara terbuka dan mengaitkannya dengan pengalaman maupun keterampilan yang diperoleh selama periode tersebut.

Selain proses rekrutmen, budaya kerja yang mengagungkan produktivitas juga memengaruhi cara masyarakat memandang career gap. Di media sosial, misalnya, pencapaian profesional seperti promosi jabatan, pekerjaan baru, atau proyek besar lebih sering terlihat dibanding cerita tentang seseorang yang mengambil jeda untuk belajar, memulihkan kesehatan, atau mengurus keluarga. Akibatnya, career gap masih sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan atau bahkan dipertahankan.

Padahal, perubahan kebutuhan industri membuat jalur karier semakin beragam. World Economic Forum dalam laporan The Future of Jobs Report 2025 menjelaskan bahwa perubahan teknologi dan transformasi dunia kerja meningkatkan kebutuhan terhadap reskilling dan upskilling. Kondisi tersebut membuat proses belajar tidak lagi selalu berlangsung di tempat kerja, tetapi juga dapat dilakukan melalui pelatihan, sertifikasi, maupun pengalaman di luar pekerjaan formal.

Baca Juga: 8 Tips Cara Membuat CV yang Menarik di Mata Perekrut

Cara Menjelaskan Career Gap di CV

Keberadaan career gap tidak selalu menjadi hambatan dalam proses rekrutmen apabila dijelaskan secara jelas dan relevan. Yang terpenting bukan hanya alasan mengapa seseorang berhenti bekerja, tetapi juga bagaimana mereka memanfaatkan periode tersebut.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menjelaskan career gap secara singkat dan profesional. Misalnya, kandidat dapat menyebutkan bahwa mereka mengambil career break untuk melanjutkan pendidikan, merawat anggota keluarga, memulihkan kesehatan, atau meningkatkan keterampilan melalui kursus dan sertifikasi. Penjelasan seperti ini membantu rekruter memahami konteks di balik jeda karier tanpa harus masuk ke ranah yang terlalu personal.

Selain alasan, aktivitas selama career gap juga sebaiknya dicantumkan dalam CV apabila relevan dengan posisi yang dilamar. Mengikuti pelatihan, mengerjakan proyek freelance, menjadi relawan, atau membangun portofolio pribadi dapat menunjukkan bahwa proses belajar tetap berlangsung meski tidak bekerja secara formal.

LinkedIn Talent Solutions dalam artikel How to Explain Employment Gaps on Your Resume menyarankan kandidat untuk menyoroti keterampilan, pengalaman, dan pencapaian yang diperoleh selama masa jeda. Pendekatan tersebut membantu rekruter melihat kompetensi yang dimiliki kandidat, bukan hanya fokus pada lamanya career gap.

Konsistensi juga menjadi hal yang penting. Informasi mengenai career gap sebaiknya selaras antara CV, profil LinkedIn, dan penjelasan saat wawancara kerja. Dengan begitu, kandidat dapat menunjukkan bahwa mereka mampu menjelaskan perjalanan kariernya secara terbuka dan percaya diri.

Baca Juga: Kerja Satu Kurang, Kerja Banyak Meriang: Kenapa ‘Polyworking’ Dianggap ‘New Normal’

Bisakah Career Gap Menjadi Nilai Tambah?

Perubahan dunia kerja membuat semakin banyak perusahaan mempertimbangkan kemampuan kandidat secara lebih menyeluruh, tidak hanya berdasarkan urutan pengalaman kerja di CV. Selain pengalaman profesional, keterampilan baru, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam proses rekrutmen.

Selama masa career gap, sebagian orang memanfaatkan waktunya untuk mengikuti pelatihan, memperoleh sertifikasi profesional, membangun portofolio, atau mengerjakan proyek independen. Pengalaman tersebut dapat menjadi bukti bahwa proses pengembangan diri tetap berlangsung meski berada di luar pekerjaan formal.

Pandangan serupa disampaikan Harvard Business Review dalam artikel Career Breaks Don’t Have to Derail Your Career. Artikel tersebut menjelaskan bahwa career break tidak selalu menghambat perkembangan karier, terutama apabila seseorang tetap menjaga keterampilan, memperluas jaringan profesional, dan mampu menjelaskan pengalaman yang diperoleh selama masa jeda.

Karena itu, career gap tidak selalu menjadi faktor yang menentukan diterima atau tidaknya seseorang dalam proses rekrutmen. Penjelasan yang jujur, pengalaman yang relevan, serta kemampuan menghubungkan keterampilan dengan kebutuhan pekerjaan sering kali menjadi pertimbangan yang lebih penting dibanding keberadaan jeda karier itu sendiri.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Career Gap di CV Bisa Jadi Red Flag? Read More
ciri ciri burnout

‘Mid-Career Burnout’: Saat Karier Terasa Mandek dan Pekerjaan Kehilangan Makna

Pernah merasa pekerjaan yang dulu begitu kamu incar sekarang justru terasa melelahkan? Target demi target memang masih bisa diselesaikan, tetapi semangatnya sudah enggak lagi sama. Bagi sebagian orang yang memasuki usia 40-an hingga awal 50-an, kondisi seperti ini bukan hal yang asing.

Di fase ini, tantangan hidup biasanya bertambah. Tanggung jawab di kantor semakin besar, sementara urusan di rumah juga tidak bisa diabaikan. Ada yang sedang membesarkan anak, mendampingi orang tua yang mulai menua, atau menghadapi tekanan finansial yang semakin kompleks. Tidak heran jika banyak pekerja mulai merasa energi mereka terkuras, meski karier terlihat berjalan baik dari luar.

Kondisi tersebut dikenal sebagai mid-career burnout, yaitu kelelahan yang muncul di pertengahan perjalanan karier. World Health Organization (WHO) lewat artikel Burn-out an ‘Occupational Phenomenon’: International Classification of Diseases menjelaskan bahwa burnout merupakan sindrom yang dipicu oleh stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Burnout ditandai dengan rasa lelah yang berkepanjangan, meningkatnya sikap sinis terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas saat bekerja.

Baca juga: Apa itu ‘Mid-career Crisis’ dan Bagaimana Mengatasinya?

Apa Itu Mid-Career Burnout?

Mid-career burnout bukan berarti seseorang tidak lagi mampu bekerja. Justru, banyak orang yang mengalaminya masih tetap datang ke kantor, menyelesaikan tugas, bahkan mempertahankan performa yang baik. Bedanya, pekerjaan yang dulu terasa menantang kini berubah menjadi rutinitas yang dijalani sekadar karena kewajiban.

Perasaan ini biasanya muncul setelah bertahun-tahun menjalani profesi yang sama. Karier mungkin sudah stabil, penghasilan meningkat, dan posisi pun semakin mapan. Namun, di saat yang sama, muncul pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya: Apakah pekerjaan ini masih membuatku berkembang?

Menurut Mayo Clinic dalam artikel Job Burnout: How to Spot It and Take Action, burnout berkembang secara perlahan. Kondisi ini tidak muncul setelah satu atau dua hari bekerja keras, melainkan akibat tekanan yang berlangsung terus-menerus hingga seseorang kehilangan energi, motivasi, dan kepuasan terhadap pekerjaannya.

Mengapa Burnout Sering Muncul di Pertengahan Karier?

Burnout sebenarnya bisa dialami siapa saja. Namun, penyebabnya berubah seiring perjalanan karier.

Pada awal bekerja, tekanan biasanya datang karena proses adaptasi. Kita masih belajar mengenal ritme kerja, membangun reputasi, dan mengejar target. Sementara itu, di pertengahan karier, tantangannya lebih rumit. Bukan lagi soal memahami pekerjaan, melainkan menjaga keseimbangan di tengah tuntutan yang terus bertambah.

Harvard Business Review dalam artikel Burnout Is About Your Workplace, Not Your People menjelaskan bahwa burnout tidak selalu dipicu oleh banyaknya pekerjaan. Lingkungan kerja yang membuat seseorang kehilangan kendali, sulit berkembang, atau tidak lagi menemukan makna dalam pekerjaannya juga dapat meningkatkan risiko burnout.

Karena itu, tidak sedikit pekerja yang mulai merasa seperti berjalan di tempat. Rutinitas terus berulang, tetapi tidak lagi memberikan kepuasan yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya.

Baca juga: ‘Quiet Covering’: Tren Tidak Jadi Diri Sendiri di Tempat Kerja

Penyebab Mid-Career Burnout yang Sering Terjadi

Tanggung Jawab Semakin Besar

Semakin tinggi posisi seseorang di tempat kerja, biasanya semakin besar pula tanggung jawab yang harus diemban. Banyak pekerja di fase ini tidak hanya bertanggung jawab terhadap pekerjaannya sendiri, tetapi juga memimpin tim, mengambil keputusan, hingga memastikan target perusahaan tercapai.

Di saat bersamaan, tanggung jawab di luar pekerjaan juga meningkat. Kombinasi keduanya dapat membuat seseorang terus berada dalam kondisi siaga tanpa memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan energi.

Rutinitas yang Terasa Stagnan

Tidak semua burnout disebabkan oleh pekerjaan yang terlalu berat. Dalam beberapa kasus, penyebabnya justru karena pekerjaan terasa terlalu monoton.

Rutinitas yang sama setiap hari membuat sebagian orang kehilangan rasa antusias. Tantangan baru semakin sedikit, sementara kesempatan untuk berkembang terasa berjalan lebih lambat dibandingkan sebelumnya. Akibatnya, pekerjaan berubah menjadi aktivitas yang dijalani karena kewajiban, bukan lagi karena memberikan kepuasan.

Sulit Menjaga Work-Life Balance

Banyak pekerja di pertengahan karier mulai menghadapi dilema antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Di satu sisi, mereka dituntut mempertahankan performa di kantor. Di sisi lain, keluarga juga membutuhkan waktu dan perhatian.

Ketika sebagian besar energi habis untuk pekerjaan, waktu beristirahat menjadi semakin sedikit. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus tanpa jeda yang cukup, risiko mengalami burnout pun ikut meningkat.

Burnout memang tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini berkembang perlahan melalui tekanan yang terus menumpuk. Karena itu, mengenali penyebabnya sejak awal menjadi langkah penting agar kelelahan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Tanda-Tanda Mid-Career Burnout yang Sering Terlewat

Mid-career burnout tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Pada banyak orang, kondisinya berkembang perlahan hingga akhirnya memengaruhi cara mereka bekerja, berinteraksi, bahkan menjalani kehidupan sehari-hari. Karena prosesnya berlangsung bertahap, gejalanya sering dianggap sebagai rasa lelah biasa atau sekadar efek dari pekerjaan yang sedang padat.

Salah satu tanda yang paling sering dirasakan adalah kelelahan yang tidak kunjung membaik. Meski sudah tidur cukup atau mengambil cuti, tubuh tetap terasa tidak bertenaga. Aktivitas yang sebelumnya terasa ringan mulai menguras energi, sementara pekerjaan yang dulu bisa diselesaikan dengan antusias kini terasa semakin berat.

Menurut Mayo Clinic dalam artikel Job Burnout: How to Spot It and Take Action, burnout umumnya ditandai dengan kelelahan emosional, menurunnya motivasi, hingga munculnya rasa frustrasi terhadap pekerjaan. Kondisi tersebut berkembang secara bertahap sehingga tidak sedikit orang baru menyadarinya ketika produktivitas mulai menurun.

Perubahan lain yang juga sering muncul adalah berkurangnya keterlibatan terhadap pekerjaan. Seseorang mungkin masih mampu menyelesaikan target, tetapi tidak lagi merasakan kepuasan setelah pekerjaan selesai. Rutinitas yang sebelumnya terasa menantang berubah menjadi kewajiban yang dijalani hampir tanpa antusiasme.

Dalam beberapa kasus, burnout juga memengaruhi hubungan dengan orang lain. Tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat seseorang lebih mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, atau memilih menarik diri dari lingkungan kerja. Perubahan tersebut sering kali muncul tanpa disadari karena berkembang secara perlahan.

Mengatasi Burnout Tidak Selalu Berarti Harus Resign

Ketika mulai merasa jenuh dengan pekerjaan, tidak sedikit orang langsung berpikir bahwa jalan keluarnya adalah mengundurkan diri. Padahal, burnout tidak selalu berarti seseorang berada di pekerjaan yang salah.

Harvard Business Review dalam artikel Burnout Is About Your Workplace, Not Your People menjelaskan bahwa burnout lebih sering berkaitan dengan kondisi lingkungan kerja dibanding kemampuan individu menghadapi tekanan. Beban kerja yang tidak seimbang, kurangnya kendali terhadap pekerjaan, atau minimnya dukungan dari organisasi dapat menjadi faktor yang memperburuk kondisi tersebut.

Karena itu, langkah pertama yang bisa dilakukan bukan selalu mencari pekerjaan baru, melainkan memahami apa yang sebenarnya menjadi sumber kelelahan. Pada sebagian orang, penyebabnya adalah beban kerja yang terus bertambah. Pada yang lain, burnout muncul karena pekerjaan sudah tidak lagi memberi ruang untuk berkembang atau kehilangan makna.

Jika penyebabnya mulai terlihat, komunikasi dengan atasan atau tim HR dapat menjadi salah satu pilihan. Banyak perusahaan kini mulai memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan mental pekerja, termasuk melalui pengaturan beban kerja, fleksibilitas jam kerja, atau program pendampingan karyawan.

Di luar pekerjaan, membangun kembali rutinitas yang lebih sehat juga berperan penting dalam proses pemulihan. Menyediakan waktu untuk berolahraga, tidur yang cukup, menjalani hobi, atau sekadar beristirahat tanpa gangguan pekerjaan dapat membantu mengurangi tekanan yang menumpuk.

Hal serupa disampaikan American Psychological Association (APA) dalam artikel Working Through Burnout. Menurut APA, pemulihan burnout membutuhkan kombinasi antara pengelolaan stres, dukungan sosial, dan perubahan kebiasaan yang lebih sehat. Karena itu, istirahat saja sering kali tidak cukup apabila penyebab burnout masih terus berlangsung.

Baca Juga: ‘Financial Burnout’: Ketika Uang Jadi Sumber Lelah dan Stres

Burnout Semakin Banyak Dibicarakan di Dunia Kerja

Kesadaran mengenai burnout dalam beberapa tahun terakhir juga terus meningkat. Semakin banyak perusahaan mulai memasukkan kesehatan mental sebagai bagian dari kesejahteraan karyawan, sementara pekerja semakin terbuka membicarakan tekanan yang mereka hadapi selama bekerja.

Meski demikian, burnout masih sering disalahartikan sebagai tanda seseorang tidak mampu menghadapi tekanan. Padahal, World Health Organization (WHO) melalui artikel Burn-out an ‘Occupational Phenomenon’: International Classification of Diseases menegaskan bahwa burnout merupakan sindrom yang berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Definisi tersebut menunjukkan bahwa burnout tidak hanya dipengaruhi kondisi individu, tetapi juga berkaitan dengan sistem dan lingkungan kerja.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

‘Mid-Career Burnout’: Saat Karier Terasa Mandek dan Pekerjaan Kehilangan Makna Read More