Cerita Cinta Toksik Dalam Fiksi: Yay or Nay?

Siapa yang enggak kenal novel Fifty Shades of Grey dengan karakter Anastasia Steele dan pengusaha muda Christian Grey yang dibumbui aktivitas sadomasokis diterbitkan pada 2011 dan langsung booming di kalangan para pembaca perempuan. DI balik kesuksesan novel yang sudah diadaptasi ke layar lebar ini, banyak juga timbul perdebatan batas antara etika, kekerasan seksual dan emosional.

Ya berbicara soal kekerasan dan hubungan toksik di cerita fiksi romantis memang masih muncul dua kubu, ada yang bilang itu cuma fiksi doang santai dong, tapi ada juga yang bilang fiksi pun bisa jadi mempengaruhi para penikmatnya.

Semua memang kembali ke konsumen sih, tapi ada baiknya kita juga perlu punya saringan supaya cerita toksik semacam itu enggak memengaruhi kita sehingga enggak ada pemakluman terhadap kekerasan. Sebagai konsumen pun kita juga butuh percintaan lain yang enggak melulu toksik.


Nah apa saja yang bisa kita lakukan supaya cerita-cerita percintaah memiliki narasi yang beragam ya? Yuk simak cerita selengkapnya dalam podcast FTW Media episode terbaru ini!

Read More
perempuan dirundung online

Perempuan di Ujung Jempol Netizen

Berlindung di balik anonimitas, jempol warganet gampang banget menuliskan komentar-komentar jahat di akun-akun orang lain, terutama di akun perempuan. 

Episode 4 FTW Media

Kenapa perempuan lebih rentan di-bully di dunia maya, ya? Menurut Dhyta Caturani dari Purple Code, pandangan masyarakat yang masih misoginis telah berujung pada banyaknya ujaran-ujaran misoginis serta seksis di dunia maya. 

Waduh, apa ya dampaknya jika perisakan online seperti ini terus terjadi? Apa iya hanya dengan log out dari media sosial, semua akan beres? Bagaimana seharusnya kita menghadapi hal ini?

Simak selengkapnya dalam episode terbaru podcast FTW Media ini ya!

Read More
potret perempuan dalam iklan

Sumur, Dapur, Kasur Potret Perempuan dalam Iklan

Pernah enggak kamu memperhatikan iklan-iklan yang cuma memperlihatkan perempuan mengurus rumah tangga aja, sedangkan laki-laki bekerja di luar rumah. Sementara dalam iklan produk kecantikan, perempuan selalu dituntut tampil cantik dan wangi untuk kepentingan laki-laki. 

Iklan televisi bisa dibilang merupakan salah satu media yang efektif buat menyampaikan pesan secara luas. Iklan disampaikan dengan secara persuasif untuk akhirnya mendatangkan recall yang tinggi dan menciptakan keinginan para konsumen akhirnya tertarik untuk membeli.

Potret perempuan dalam iklan sering dipakai dan dibilang sangat efektif untuk membujuk konsumen. Kita pasti sering sekali melihat penggambaran potret perempuan dipakai dalam iklan media elektronik seperti televisi.

Penggambaran perempuan yang sebatas ruang domestik seperti dalam gambar kaleng Khong Guan kayaknya sudah jadi standar atau playbook yang kudu dipatuhi, bahwa kalau pengen produknya dibeli perempuan, ya harus menampilkan perempuan yang distandarisasi juga penggambarannya.

Contohnya, penggambaran perempuan yang ruang geraknya hanya dalam ranah domestik, meja makan atau dapur itu misalnya. Nggak cuma dalam kemasan produk, dalam iklan-iklan produk yang sama, penggambaran semacam itu secara otomatis juga jadi pilihan.

Atau seperti produk-produk yang sebenarnya menyasar kaum pria, tetapi di iklannya sering sekali menampilkan model perempuan seksi yang tidak ada hubungannya dengan produk yang dijual. Potret perempuan dalam iklan ini seperti jadi hal yang biasa di era sekarang ini.

Potret perempuan dalam iklan seakan-akan dibuat menjadi alat untuk memasarkan produk saja. Tubuh yang dieksploitasi hanya untuk melepaskan definisi cantik versi standarisasi market dengan cara memamerkan bagian rambut yang panjang dan lebat untuk iklan shampo atau dalam iklan obat kurus yang menampilkan perempuan dengan fisik yang ramping.

Iklan yang cuma memperlihatkan fisik dari perempuan bisa kita bilang mengandung eksploitasi. Eksploitasi merupakan pengusahaan, pendayagunaan atau pemanfaatan, kalau dilihat memang eksploitasi tidak selalu bersifat buruk tapi bisa punya value yang baik. Tetapi dalam hal ini bergantung dari konteksnya.

Jangan dikira iklan produk itu enggak ada dampaknya, loh. Apa saja dampaknya? Apakah sudah ada perubahan ke arah yang lebih baik? Episode terbaru podcast FTW Media yang satu ini mengupas tuntas soal ini. Cuss dengerin!

Read More

(Un)filter Me

Mau bentuk wajah terlihat tirus, Kulit muka terlihat glowing, bulu mata lentik, dan bibir merah merona?Sekarang hal itu bisa kita dapatkan dengan mengutak-atik filter kecantikan di kamera ponsel yang juga sering disebut beauty camera. Poof, kamu langsung bisa cantik dengan instan tanpa perlu susah-susah make up.

Eh tapi tunggu dulu,  semakin canggih  beauty camera atau filter kecantikan ini mengubah bentuk wajah hingga tubuh, hal ini ternyata berdampak sangat buruk bagi individu, apalagi perempuan yang sering menjadi target standar kecantikan yang tidak realistis.

episode terbaru FTW Media

Beauty Camera dan Dampaknya Terhadap Standar Kecantikan Masyarakat

Kalau kamu sendiri, pernah enggak mengubah bentuk wajahmu dengan  filter-filter kecantikan di beauty camera?

Pada 2019 lalu, seorang fesyen fotografer asal Inggris, John Rankin Waddell, menggelar pameran foto bertema “Selfie Harm”. Bersama dengan M&C Saatchi dan MT Art Agency,  Rankin meminta 15 orang remaja untuk mengedit swafoto atau selfie mereka hingga ke tahap yang mereka anggap “social-media friendly”.

Kebanyakan remaja mengubah wajah meniru para idola mereka. Yang diubah adalah hidung yang semakin kecil, mata yang besar, warna kulit yang lebih cerah, bibir yang lebih mungil dan bentuk muka yang semakin tirus.

Jadi penasaran, mengapa banyak orang yang sangat bergantung dengan filter kamera? Dan bagaimana filter kamera ini berdampak pada pandangan kita terhadap ide soal standar kecantikan yang ideal?

Read More

Women in Media and Why You Should Care

Dalam episode perdana FTW Media, kami mengajak kamu untuk kembali melihat bagaimana tiap-tiap media massa menggambarkan perempuan dalam produknya. Iklan bumbu dapur yang selalu memperlihatkan perempuan dalam peran-peran domestik, serial televisi yang lebih banyak menggambarkan perempuan tidak berdaya dan selalu ditindas sang suami, hingga novel-novel populer yang mengglorifikasi karakter laki-laki yang super toksik

Dengarkan podcast FTW Media di Spotify

Selain itu kami juga akan mengajakmu mengeksplorasi solusi-solusi apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah penggambaran perempuan yang lebih baik. Nah, pantengin terus setiap Selasa ya!

Read More

Episode 12 – Reflection

Meski masih menjadi PR besar semua pihak, beberapa perusahaan sudah mulai memiliki kebijakan untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan mendorong keseteraan gender.

Apa saja contohnya dan apa sih keuntungannya bagi perusahaan atau tempat kerja? Lalu apa peran pemerintah dalam mendorong lebih banyak perusahaan untuk melakukan ini?

Cari tahu jawabannya di episode episode terakhir How Women Lead, yang bisa kamu dengarkan di Spotify, Apple POdcast, dan layanan streaming podcast lainnya.
Read More

Episode 11 – What Women Want and Need

Jarang sekali ada pembahasan soal apa yang diinginkan dan dibutuhkan perempuan pekerja. Padahal kendala yang dihadapi perempuan pekerja itu berlapis, termasuk hambatan saat mau menjadi pemimpin.

Kita denger yuk, apa yang diinginkan dan dibutuhkan perempuan, untuk mengembangkan dirinya lebih baik lagi. Simak di podcast How Women Lead, di Spotify, Apple, dan layanan podcast lainnya.
Read More

Episode 10 – Resilience Through Crisis

Mengawali karier sebagai reporter Tempo tahun 1988, Gabriel Sugrahetty telah menduduki berbagai posisi di media tersebut, mulai dari editorial hingga divisi bisnis perusahaan. Setiap tantangan dia hadapi dengan pembelajaran tersendiri, hingga kini, sebagai konsultan bisnis, dia membantu perusahaan-perusahaan media di Indonesia dan Asia Tenggara membangun usaha mereka dan menghadapi krisis.

Di Episode 10 How Women Lead ini, simak bagaimana Hetty mengatasi berbagai tantangan yang sering kali ada karena gendernya, dan kenapa perempuan sering kali ditempati dalam posisi “tebing kaca” ketika perusahaan sedang mengalami situasi yang sulit.
Read More

Episode 9 – Leading with Compassion

Ketika krisis moneter 1997 menghantam Asia, perusahaan Sariayu ikut terpukul. Namun, demi tidak mem-PHK para karyawan, perusahaan melakukan inovasi dan tidak hanya bertahan, tapi mengeruk keuntungan. Di tengah pandemi Covid-19, inovasi kembali dilakukan agar para pekerja tidak terkena imbas krisis.

Pemimpin Martha Tilaar Group, yang memiliki brand kecantikan Sariayu, Martha Tilaar dan Wulan Tilaar, paham bahwa jika bisnis ingin selamat, perusahaan agile, adaptif, juga berani.

Simak kisah kepemimpinan mereka di Spotify dan layanan streaming lainnya.
Read More

Episode 8 – Plan for the Future

Banyak yang meremehkan kemampuan Nyai Masriyah Amva, saat suaminya meninggal dan ia harus mengambil alih kepemimpinan Pesantren Pondok Jambu Al Islamy, Cirebon. Namun dengan dengan sabar, tekun, dan rasa penuh empati, Masriyah membuktikan bahwa ia tidak hanya mampu memimpin pesantren, tapi juga membawanya ke arah yang lebih baik dan progresif.

Simak kisah Nyai Masriyah dalam podcast How Women Lead, di Spotify dan layanan streaming podcast lainnya.
Read More