podcast percaya diri

Kamu Bagus, Kok Gak Pede?

Kamu pernah punya masalah kepercayaan diri? Pernah nggak kamu sadari bahwa itu bisa dipengaruhi oleh pola asuh orang tuamu. 

Hal ini dialami Naning, seorang perempuan pekerja berusia 27 tahun, yang baru sadar punya isu kepercayaan diri saat masuk dunia kerja. Ketika ia menggali kembali masa lalunya, ternyata rasa enggak pede ini terjadi karena sejak kecil, Naning tak mendapat apresiasi yang cukup dari orang tuanya. 

Wah, gimana ya Naning mencoba menghilangkan rasa nggak pedenya? Yuk, simak kisah Naning yang dibawakan oleh Vina Muliana, seorang konten kreator yang juga fokus dalam isu dunia kerja.

Read More

Nangis atau Bengis: Stereotip Perempuan di Sinetron

Kamu pasti familiar banget dengan plot sinetron “Pintu Berkah” dan “Kisah Nyata”, di mana karakter istri di dalam sinetron tersebut selalu digambarkan teraniaya dan terlampau baik. Ketika ia digambarkan menjadi antagonis, sifat jahatnya tampak enggak realistis banget.

Makin ke sini, rasanya banyak sinetron Indonesia yang semakin seragam: Tokoh perempuan digambarkan entah sangat tipikal mulai dari super-pasrah dan terzalimi, tukang gosip, materialis, perayu, pelakor, atau mertua galak.

Ketika ada protes dari penonton soal kualitas plot dan karakter dalam sinetron, pihak industri sering berkilah “Loh kami kan cuma mengikuti selera pasar”. Alasan klasik banget.

Apa iya industri memang memotret selera pasar? Apakah memang benar selera masyarakat selalu monoton dan cenderung menyudutkan perempuan? Lalu apa yang bisa kita lakukan agar kita bisa mendorong keberagaman cerita dalam sinetron?

Read More
Herawati Sudoyo Ilmuwan Perempuan

Herawati Sudoyo Bicara Soal Tantangan Menjadi Ilmuwan Perempuan

Salah satu ilmuwan perempuan yang ikut andil dalam penanganan pandemi virus Covid-19 di Indonesia adalah Herawati Sudoyo, Wakil Kepala Lembaga Eijkman untuk Bidang Penelitian Fundamental. Sejak awal pandemi, keberadaannya di deretan Tim Pakar Medis Gugus Tugas Penanganan Covid-19 menjadi sangat penting. Namun, dalam mencapai posisinya saat ini, Herawati mengalami banyak tantangan menjadi seorang ilmuwan perempuan. 

Baca Juga: Kizzmekia Corbett Ilmuwan Perempuan Kulit Hitam di Garis Depan Pengembangan Vaksin Covid-19

Berbicara dalam Podcast Indonesia  soal tantangan sebagai Ilmuwan Perempuan 

Dalam sebuah podcast Indonesia How Women Lead, Herawati menceritakan perjalanannya menjadi seorang ilmuwan perempuan dan bagaimana ia berkecimpung dalam keilmuan biologi molekuler yang saat itu terbilang bidang baru.

Sebetulnya, sejak kecil Herawati  Herawati memang menyukai dunia sains, tapi ia sebetulnya lebih menyukai bidang arsitektur dan desain interior. Namun, ia kemudian didorong keluarga untuk lebih memilih bidang medis dan Herawati akhirnya berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 

Setelah mendapat gelar dokter, Herawati, yang saat itu bekerja di bagian biologi, Fakultas Kedokteran UI, merasa perlu melanjutkan studinya di dunia pendidikan. Ketika ia menempuh studi doktoral di Departemen Biochemistry Monash University pada 1990, untuk pertama kalinya ia jatuh hati dengan cabang ilmu baru yaitu biologi molekuler.

Podcast Indonesia Tentang Tantangan Sebagai Ilmuwan Perempuan

Biologi molekuler adalah cabang ilmu yang mempelajari keunikan makhluk hidup melalui bagian paling kecil, yaitu DNA dan RNA. Saat mempelajari ilmu ini, Herawati merasa benar-benar dibentuk dan berkembang secara optimal, dan ia merasa ini lah jalan untuknya. Namun, ketika menekuni keilmuan baru ini, ada tantangan yang dihadapi oleh Herawati. 

Baca Juga: Profesor Adi Utarini Ilmuwan Perintis Pembasmian Demam Berdarah Dengue

“Bekerja di bidang yang baru ini membuat saya tidak memiliki panutan. Pada saat itu, orang banyak yang menganggap penelitian itu enggak penting,” ujar Herawati dalam wawancara bersama How Women Lead. 

Ilmuwan Perempuan Herawati Sudoyo Berjasa dalam Identifikasi Tersangka Bom Bunuh Diri Kedubes Australia

Salah satu pencapaian terbesar Herawati adalah ketika ia berhasil mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri di depan Kedubes Australia pada 2004. Pada saat itu, Kepolisian Republik Indonesia ditantang untuk mengidentifikasi secara cepat siapa pelaku di balik bom bunuh diri ini.

Tragedi itu menewaskan 10 korban dan  melukai lebih dari 180 orang. Pelaku bom bunuh diri tersebut menggunakan mobil boks untuk mengangkut bom. Mobil tersebut hancur total dan tidak ada bagian badan yang memungkinkan untuk diidentifikasi menggunakan metode konvensional seperti sidik jari, gigi, hingga pengenalan wajah. 

Karenanya, identifikasi DNA-lah jawabannya. DNA merupakan singkatan dari deoxyribonucleic acid, sebuah rantai informasi genetik yang diturunkan. DNA inti berisi tentang informasi-informasi dari orang tua.

Baca Juga: Akademisi Perempuan Tanggung Beban Lebih Berat Selama Pandemi

Setelah metode ditentukan, untuk membedakan mana pelaku dan korban, tim identifikasi mengembangkan strategi pengumpulan dan pemeriksaan bagian-bagian kecil dari tubuh dengan basis prediksi trajektori ledakan bom dan posisi keberadaan pelaku. Pelaku yang pasti dekat dengan bom, serpihan tubuhnya akan terlontar lebih jauh daripada korban.

Teknik yang dikembangkan oleh tim Herawati dengan Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) ternyata terbukti ampuh. Jaringan tubuh dari tempat-tempat jauh memiliki profil yang sama dengan profil DNA keluarga yang dicurigai. Dalam waktu kurang dari dua minggu, tim Eijkman dan Polri berhasil mengidentifikasi pelaku. 

Herawati Sudoyo dan Beban Ganda Perempuan 

Sebagai seorang ilmuwan perempuan, Herawati mengatakan, tantangan lain yang ia hadapi adalah bagaimana ia bekerja dan meraih gelar doktornya sembari tetap mengurus anak. Ketika bersekolah di Australia, ia harus membawa kedua anaknya ke kampus. Saat itu ia mengambil gelar doktor di satu lab yang pada saat itu merupakan salah satu empat lab di dunia yang mengerjakan topik doktoralnya. 

“Saat itu yang saya rasakan benar-benar sangat kompetitif. Kita diminta untuk benar-benar berkonsentrasi pada pekerjaan. Tetapi di saat yang sama saya pun perlu mengurus anak. Kita harus belajar sendiri bagaimana berbagi konsentrasi pada pekerjaan kita. Saya menjalankan itu selama empat tahun,” ujar Herawati

Herawati “Kantor Perlu Dukung Ilmuwan Perempuan untuk Berkarier”

Dari pengalamannya itu, Herawati banyak sekali mendapat pengalaman dan bagaimana ia harus bersikap dalam memimpin anak buahnya. Ia paham bagaimana perjuangan-perjuangan ilmuwan perempuan untuk meraih posisinya dan terus berkarier.

Baca Juga: 11 Perempuan Berpengaruh dalam Bidang Sains di Dunia

Ketika pertama kali memulai karier, banyak ilmuwan perempuan yang ia kenal mengundurkan diri dan memilih untuk mengurus keluarga. Hal ini menurutnya dapat diatasi dengan adanya dukungan dari kantor tempat ilmuwan tersebut bekerja.

“Ilmuwan perempuan harus di dukung dari luar serta dari dalam, yaitu keluarganya sendiri. Kalau itu tidak dilakukan, akan sangat sulit bagi dia. Sebab di dalam dunia yang masih konservatif ini, walaupun perempuan memiliki karier tinggi ya tetap harus ingat tempatnya. Itu kata-kata yang dipakai untuk saya,” kata Herawati.  

Read More
perempuan dirundung online

Perempuan di Ujung Jempol Netizen

Berlindung di balik anonimitas, jempol warganet gampang banget menuliskan komentar-komentar jahat di akun-akun orang lain, terutama di akun perempuan. 

Episode 4 FTW Media

Kenapa perempuan lebih rentan di-bully di dunia maya, ya? Menurut Dhyta Caturani dari Purple Code, pandangan masyarakat yang masih misoginis telah berujung pada banyaknya ujaran-ujaran misoginis serta seksis di dunia maya. 

Waduh, apa ya dampaknya jika perisakan online seperti ini terus terjadi? Apa iya hanya dengan log out dari media sosial, semua akan beres? Bagaimana seharusnya kita menghadapi hal ini?

Simak selengkapnya dalam episode terbaru podcast FTW Media ini ya!

Read More
kepemimpinan feminin

Apa Itu Kepemimpinan Feminin Serta Apa Manfaatnya

Gaya kepemimpinan yang secara umum dianggap baik adalah gaya kepemimpinan maskulin dan tegas. Hal ini juga karena posisi-posisi kepemimpinan masih diisi sebagian besar oleh laki-laki dengan gaya maskulin, sehingga kepercayaan umum adalah bahwa kepemimpinan yang tegas dan maskulin itu lebih efektif. Padahal pandangan semacam itu terbukti keliru. Salah satu podcast Indonesia berjudul How Women Lead memberikan pemaparan panjang soal ini.  

Apa itu Kepemimpinan Feminin? 

Dalam masyarakat, gaya kepemimpinan maskulin lebih akrab ditemui sehari-hari, padahal belum tentu lebih efektif dalam memimpin sebuah perusahaan, komunitas, atau gerakan. 

Berbeda dari kepemimpinan maskulin seperti yang kita lihat dari beberapa pemimpin dunia saat ini, kepemimpinan feminin memiliki ciri membangun penilaian diri perempuan untuk memperkokoh kepemimpinannya, serta membekali mereka dengan kemampuan, sumber daya, dan akses sehingga mereka dapat membuat sebuah perubahan untuk komunitasnya.

Baca Juga: Perkaya Tema, Baca Nyaring Bantu Orang Tua Ajarkan Kepemimpinan Perempuan

Selain itu, kepemimpinan feminin lebih berfokus pada redistribusi kekuasaan serta tanggung jawab. Tujuan lain dari gaya kepemimpinan ini alih-alih berfokus pada  kompetisi, ia lebih mengutamakan kerja sama dan membangun relasi, sehingga terbentuklah tim yang solid.

Gaya kepemimpinan feminin terbukti lebih efektif karena memiliki spektrum yang patut diseimbangkan. Sebagai seorang pemimpin yang baik, tentu saja dalam memimpin tidak boleh hanya terpatok dengan satu gaya saja. Seorang pemimpin perlu menyeimbangkan antara gaya feminin serta maskulinnya. 

Di kehidupan nyata, sudah banyak sekali contoh-contoh kasus kegagalan sebuah perusahaan, komunitas, bahkan satu negara akibat gaya kepemimpinan super maskulin. Contoh paling baru bisa kita lihat bagaimana kegagalan Amerika Serikat dan Brasil menangani pandemi COVID-19 ketika awal-awal virus tersebut menyebar. Nah sebelum ini, sebetulnya ada contoh nyata banget ini bagaimana kepemimpinan macho atau maskulin menghancurkan sebuah negara, yakni di Islandia.

Kebangkitan Ekonomi Islandia dengan Gaya Kepemimpinan Perempuan

Pada 2008, ketika seluruh dunia mengalami krisis ekonomi, Islandia menjadi salah satu negara yang paling terimbas krisis tersebut. Nilai tukar mata uang melemah, angka pengangguran melonjak, bahkan pasar sahamnya karam. Lebih parah lagi, tiga bank utama di negara tersebut, Kaupthing, Glitnir dan Landsbankinn dibiarkan gagal.

Dalam situasi yang sangat genting itu, ada satu perusahaan investasi yang tidak terkena imbas krisis keuangan besar itu, yakni Audur Capital. Padahal perusahaan ini baru saja setahun berdiri, dibentuk oleh dua orang perempuan, Halla Tómasdóttir dan Kristín Pétursdóttir. 

Baca Juga: Guru Perlu Hapus Stereotip Gender untuk Dorong Kepemimpinan Perempuan

Ada empat kunci keberhasilan dari perusahaan tersebut dalam melewati krisis itu. Dalam Ted Talk di London, Tomasdottir menyampaikan bahwa pertama, kita harus menyadari risiko. Tomasdottir melihat ada perbedaan antara menghindari risiko, tidak mau mengambil risiko,  dan menyadari risiko yang akan dihadapi, yang berarti tidak ingin mengambil risiko yang belum sepenuhnya dipahami. 

Kedua, komunikasi publik yang baik. Tomasdottir mengatakan para pemimpin harus berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat soal aspek bagus dan aspek buruk dalam mengambil keputusan dan hasilnya. Hal ini penting dilakukan agar selamat dari krisis. 

Ketiga, kita boleh memikirkan laba tapi tetap berpegang pada prinsip keberlanjutan. Tomasdottir mengatakan, buat apa mendapat laba tetapi merugikan kondisi sosial serta lingkungan. Ia juga mengatakan bahwa kita perlu melihat jangka panjang dan definisi laba yang lebih luas. 

Prinsip yang terakhir adalah modal emosional, yakni memotivasi, mendukung, dan berhubungan dengan orang-orang yang dia investasikan. Seperti yang ia katakan, “Ketika Anda hanya menginvestasikan uang, tidak banyak yang terjadi.”

Nilai-nilai yang disebutkan oleh Tomasdottir ini termasuk ke dalam gaya kepemimpinan feminin. 

Podcast Indonesia Membahas Gaya Kepemimpinan Feminin

Dalam salah satu episode podcast Indonesia  yang berjudul “Bye Kepemimpinan Macho!” salah satu narasumbernya yaitu dosen Filsafat Universitas Indonesia, Saras Dewi, memaparkan mengapa kepemimpinan super maskulin masih saja dianut padahal jelas-jelas sudah terbukti banyak gagal.

Saras menjelaskan bahwa masyarakat dalam memahami ekonomi, politik,serta budaya lebih mengarah pada perlombaan untuk berkompetisi, menguasai satu di atas lainnya. Padahal seharusnya, alih-alih berkompetisi, kita perlu meniru cara kerja siklus yang mengandung kerja sama, saling menguntungkan, dan saling menciptakan kehidupan yang seimbang serta selaras. 

Baca Juga: Film-film Hayao Miyazaki dan Representasi Kepemimpinan Perempuan

Saras mencontohkan beberapa perjuangan perempuan Indonesia di basis akar rumput seperti perjuangan ibu-ibu Kendeng, dan gerakan menenun yang dilakukan Mama Aleta Baun.  

Dalam sejarahnya, perjuangan yang dilakukan oleh perempuan memang  dua kali lebih keras dari laki-laki dalam meraih posisi di dalam mengambil keputusan. Tidak hanya soal status pendidikan, lingkar keluarga, dan lain-lain, perempuan pun juga harus berjuang melawan segala macam prasangka bahwa perempuan tidak ditakdirkan untuk memimpin. 

Read More
Representasi Perempuan dalam Media Masa

5 Hal yang Tidak Media Massa Katakan Soal Representasi Perempuan

Bagi kamu angkatan 90-an pasti sangat akrab dengan film horor Si Manis Jembatan Ancol yang sering ditayangkan di televisi pada siang hari, atau film-film trio Warkop—Dono, Kasino, Indro (DKI)—yang mengundang tawa kita dulu. Saat itu, tidak terpikir ada sesuatu yang tidak beres dalam film itu. Tapi setelah dilihat lagi, boleh dibilang bahwa penggambaran perempuan di dalam media tersebut adalah buruk.   

Podcast Indonesia Membahas Representasi Perempuan dalam Media Massa

Warkop DKI sering mengkritik rezim Orde Baru dalam lawakannya di panggung atau media lain. Namun sebagian besar film mereka melakukan objektifikasi dan seksualisasi perempuan. “Tradisi” itu dilestarikan oleh versi remake film-film trio tersebut, yakni Warkop DKI Reborn. 

Baca Juga: Sumur, Dapur, Kasur Potret Perempuan dalam Iklan

Tak hanya Warkop, media massa secara umum masih menggambarkan perempuan secara stereotip, diskriminatif, seksis, hingga misoginis. Hal ini dibahas dalam salah satu podcast Indonesia berjudul FTW Media, yang pada setiap episodenya mengeksplorasi bagaimana media massa saat ini merepresentasikan perempuan. 

Masyarakat pada umumnya mungkin juga belum menyadari betapa pentingnya representasi perempuan yang baik di media massa. Berikut ini beberapa hal yang perlu kamu ketahui soal representasi perempuan di beberapa media massa. 

1. Pemberitaan Media Penuh Stereotip dan Kurangnya Representasi Perempuan 

“Guru Cantik Sukses Viral di Sosmed”

“Hakim cantik ini Berhasil Memenangkan Kasus Besar”

“10  Ilmuwan Cantik ini Bikin Kamu Gagal Fokus”

Judul-judul berita seperti itu masih sering ditemukan di media, di mana perempuan lebih sering ditonjolkan penampilan fisiknya ketimbang prestasinya. Belum lagi gaya pemberitaan sensasional yang lagi-lagi melakukan objektifikasi dan seksualisasi pada perempuan, bahkan yang sudah mati sekalipun “Ditemukan Mayat Cantik”). 

Baca Juga: Tidak Pede Jadi Pemimpin? Simak Podcast Indonesia ini

Dari segi representasi, masih sedikit narasumber perempuan yang dikutip oleh media. Sebuah penelitian oleh Tempo Institute dan Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT) menemukan bahwa dari 22.900 narasumber yang dikutip sebuah media, hanya 2.525 atau 11 persen di antaranya adalah perempuan.

Padahal, perempuan pakar tidak kurang jumlahnya, dan mereka pantas mendapatkan panggung yang sama dengan laki-laki.   

2. Efek Kamera yang Mempercantik Perempuan Secara Instan

Kamu ingin wajah seperti artis-artis Korea? Cantik, imut, dengan kulit glowing? Itu bisa kita dapatkan dengan instan lewat aplikasi kamera dan filter kecantikan. Kamu bisa mengubah wajahmu menjadi lebih putih, tanpa kerutan, dengan hidung mancung tanpa oplas. Tapi tahu enggak sih, filter-filter ini walaupun tidak membahayakan, tapi berdampak negatif terhadap pandangan kita pada standar kecantikan.

Standar kecantikan seharusnya beragam, tapi media hanya menggambarkan standar kecantikan tunggal dan kolonial dengan kulit putih, rambut panjang, dan tubuh langsing. Hal ini membuat banyak perempuan tidak percaya diri dengan fisiknya, dan inilah yang mendorong mereka menggunakan filter kamera agar mereka bisa memenuhi standar tersebut. 

3. Lagu-lagu Cinta yang Sebetulnya Toksik

“Kamu di mana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa? “ 

Lagu “Yolanda” dari Kangen Band itu sempat populer karena musiknya enak buat joget dan liriknya catchy dan bucin. Tapi kalau kita dengar kembali dan pahami baik-baik, kok malah memperlihatkan hubungan yang toksik ya? 

Lagu-lagu cinta pada umumnya berkutat pada hubungan posesif dan stereotip terhadap perempuan. Bahkan ada juga yang terang-terangan mempromosikan kekerasan seksual terhadap perempuan. Kalau terus-terusan dibiarkan, hal ini dapat menormalisasi hubungan yang tidak sehat dan toksik sebagai cinta sejati dan romantis. 

4. Iklan-iklan di Media Massa Melanggengkan Stereotip Soal Perempuan 

Kalau kita lihat iklan-iklan sabun pembersih pakaian dan bumbu dapur, apa yang bisa kita tarik benang merahnya dari semua iklan itu? Perempuan selalu dipotret sebagai ibu yang mengurus rumah saja. Kalau pun ada laki-laki yang berperan sebagai ayah, mereka cuma dijadikan peran pendukung dan selalu berada di luar rumah.

Baca Juga: 12 Rekomendasi Podcast Spotify Indonesia 2021

Enggak cuma iklan produk rumah tangga saja sih yang seperti itu, iklan kendaraan bermotor masih saja menampilkan perempuan sebagai model padahal tidak relevan. Banyak sekali alasan yang digunakan untuk tetap melanggengkan iklan seperti ini, salah satunya, “Ini kan cuma iklan, buat narik pembeli.” 

5. Minimnya Representasi Perempuan yang Beragam dalam Film Indonesia 

Seperti yang sudah kita bicarakan di awal artikel ini, penggambaran karakter perempuan di film masih banyak yang bermasalah. Banyak film yang masih menggambarkan pemimpin perempuan super bossy dan judes, atau sangat nelangsa dalam kehidupan percintaannya. Seolah-olah perempuan yang memilih karier akan kandas rumah tangganya. 

Hal ini akan ikut melanggengkan stereotip negatif dan stigma perempuan pekerja. Masyarakat pun akan semakin meragukan profesionalitas perempuan ketika menjadi pemimpin.

Read More
potret perempuan dalam iklan

Sumur, Dapur, Kasur Potret Perempuan dalam Iklan

Pernah enggak kamu memperhatikan iklan-iklan yang cuma memperlihatkan perempuan mengurus rumah tangga aja, sedangkan laki-laki bekerja di luar rumah. Sementara dalam iklan produk kecantikan, perempuan selalu dituntut tampil cantik dan wangi untuk kepentingan laki-laki. 

Iklan televisi bisa dibilang merupakan salah satu media yang efektif buat menyampaikan pesan secara luas. Iklan disampaikan dengan secara persuasif untuk akhirnya mendatangkan recall yang tinggi dan menciptakan keinginan para konsumen akhirnya tertarik untuk membeli.

Potret perempuan dalam iklan sering dipakai dan dibilang sangat efektif untuk membujuk konsumen. Kita pasti sering sekali melihat penggambaran potret perempuan dipakai dalam iklan media elektronik seperti televisi.

Penggambaran perempuan yang sebatas ruang domestik seperti dalam gambar kaleng Khong Guan kayaknya sudah jadi standar atau playbook yang kudu dipatuhi, bahwa kalau pengen produknya dibeli perempuan, ya harus menampilkan perempuan yang distandarisasi juga penggambarannya.

Contohnya, penggambaran perempuan yang ruang geraknya hanya dalam ranah domestik, meja makan atau dapur itu misalnya. Nggak cuma dalam kemasan produk, dalam iklan-iklan produk yang sama, penggambaran semacam itu secara otomatis juga jadi pilihan.

Atau seperti produk-produk yang sebenarnya menyasar kaum pria, tetapi di iklannya sering sekali menampilkan model perempuan seksi yang tidak ada hubungannya dengan produk yang dijual. Potret perempuan dalam iklan ini seperti jadi hal yang biasa di era sekarang ini.

Potret perempuan dalam iklan seakan-akan dibuat menjadi alat untuk memasarkan produk saja. Tubuh yang dieksploitasi hanya untuk melepaskan definisi cantik versi standarisasi market dengan cara memamerkan bagian rambut yang panjang dan lebat untuk iklan shampo atau dalam iklan obat kurus yang menampilkan perempuan dengan fisik yang ramping.

Iklan yang cuma memperlihatkan fisik dari perempuan bisa kita bilang mengandung eksploitasi. Eksploitasi merupakan pengusahaan, pendayagunaan atau pemanfaatan, kalau dilihat memang eksploitasi tidak selalu bersifat buruk tapi bisa punya value yang baik. Tetapi dalam hal ini bergantung dari konteksnya.

Jangan dikira iklan produk itu enggak ada dampaknya, loh. Apa saja dampaknya? Apakah sudah ada perubahan ke arah yang lebih baik? Episode terbaru podcast FTW Media yang satu ini mengupas tuntas soal ini. Cuss dengerin!

Read More
podcast perempuan pemimpin

Tidak Pede Jadi Pemimpin? Simak Podcast Indonesia ini

Beberapa orang bercita-cita untuk menjadi seorang pemimpin namun tidak percaya diri dengan kemampuannya. Ada juga beberapa orang yang  terpaksa menjadi pemimpin dan bingung sekali dengan apa yang harus ia lakukan karena ia merasa tidak kompeten sebagai pemimpin bisnis.  

Hal ini terutama terjadi pada perempuan, yang cenderung lebih tidak percaya diri ketimbang saat laki-laki saat ditunjuk menjadi seorang pemimpin. Banyak faktor yang melatarbelakanginya, termasuk diri sendiri, pendidikan keluarga, dan budaya di lingkungan. Faktor seperti  beban ganda juga menghambat perempuan untuk berkarier serta maju ke pucuk-pucuk kepemimpinan karena dilema antara fokus pada pekerjaan atau mengurus keluarga.  

Menjadi Pemimpin Ideal

Berangkat dari keresahan-keresahan ini, dibuatlah How Women Lead, sebuah podcast yang membahas tentang bagaimana para pemimpin perempuan mendobrak batasan-batasan, membongkar stereotip, serta melampaui ekspektasi masyarakat. Podcast ini terdiri dari 12 episode dan di tiap-tiap episodenya banyak membahas bagaimana menjadi pemimpin yang ideal, serta kisah-kisah inspiratif dari para pemimpin di berbagai sektor. 

Baca Juga: Theresa Kachindamoto Pemimpin Perempuan penyelamat Anak-Anak Perempuan Malawi

Episode pertama podcast indonesia ini membahas tantangan-tantangan yang dihadapi oleh perempuan pekerja pada umumnya, apalagi di sektor-sektor yang diasosiasikan dengan atau didominasi oleh laki-laki. Sering kali suara perempuan tidak didengar serta diremehkan oleh kolega-kolega laki-lakinya, sebab dinilai tidak kompeten. Padahal ini keliru banget. 

Perempuan Bisa Menjadi Pemimpin Ideal

Terlepas dari gendermu, kamu memiliki potensi yang sama untuk menjadi seorang pemimpin ideal. Namun, untuk mencapai ke titik tersebut, perempuan memiliki tantangan yang lebih besar daripada laki-laki. Salah satu contoh yang dibahas dalam podcast Indonesia ini adalah pengalaman Sarah, seorang pekerja dan juga ibu rumah tangga dengan empat anak. Sejak ia mulai bekerja hingga saat ini, tantangan yang ia hadapi beragam. 

Saat baru bekerja, keluarganya selalu menuntut dan bertanya, “Kapan nikah, kan umurnya sudah segini”. Setelah ia menikah permasalahan lain pun muncul, keluarga mulai bertanya-tanya soal kapan ia memiliki anak. 

Baca Juga: 6 Hal yang Membuat Kamu Jadi Pemimpin Idola

“Saat akhirnya punya anak, banyak dilema muncul antara pekerjaan, mengurus suami dan anak, mana tidak ada asisten rumah tangga,” ujar Sarah. 

Beban ganda memang menjadi isu bagi banyak perempuan pekerja. Sejumlah perempuan akhirnya memilih untuk tidak bekerja di luar rumah dan mengurus keluarga saja. Padahal sebetulnya, perempuan tidak perlu sampai memilih antara karier atau keluarga. 

Hambatan Perempuan Menjadi Pemimpin Ideal 

Selain beban ganda, stigma terhadap perempuan yang bekerja atau menjadi seorang pemimpin pun banyak sekali. Ada yang bilang bahwa perempuan yang fokus bekerja bukan perempuan yang baik-baik. Mereka disebut sebagai perempuan egois hingga perempuan yang tidak peduli keluarga. Berbeda sekali dengan kondisi laki-laki yang memang diharuskan bekerja karena dianggap sebagai kepala rumah tangga. 

Pembagian peran gender seperti ini terlalu kaku dan sudah ketinggalan zaman. Dalam episode 2 podcast How Women Lead, ada perbincangan dengan Maya Juwita, Direktur Eksekutif Indonesia Business COalition for Women Empowerment (IBCWE) tentang masalah-masalah umum yang dihadapi oleh perempuan pekerja.

Baca Juga: Guru Perlu Hapus Stereotip Gender untuk Dorong Kepemimpinan Perempuan

Maya mengatakan bahwa peranan reproduksi perempuan sering kali disalahartikan dan mematikan potensi ekonomi perempuan. Ia memberi saran tentang bagaimana hal ini seharusnya direspons.

Jadi kalau peranan reproduksi perempuan untuk keberlangsungan hidup suatu bangsa, mestinya peranan itu jangan mengorbankan potensi ekonomi perempuan. Perempuan seharusnya bisa berdaya secara ekonomi. Memang kenapa perempuan harus memilih antara rumah tangga dan karier? Memang enggak boleh dua-duanya? Boleh dong, bisa dua-duanya.”

Podcast Indonesia tentang Menciptakan Tempat Kerja yang Inklusif

Maya Juwita, yang sudah malang melintang di dunia Human Resource atau Sumber Daya Manusia (SDM), mendorong perlunya kebijakan yang inklusif di tempat kerja untuk mendukung perempuan-perempuan pekerja mencapai puncak kepemimpinan.

Baca Juga: Jejak Perempuan Pemimpin Kerajaan Nusantara

Hal ini didukung oleh hasil penelitian lembaga konsultansi Mckinsey, yang menunjukkan bahwa kesetaraan gender di perusahaan bisa mendongkrak keuntungan bagi perusahaan. Menurut analisis mereka, jika dunia ini dikelola secara lebih setara antara laki-laki dan perempuan, hal ini akan mendatangkan keuntungan senilai US$12 triliun sampai 2025. 

Maya Juwita mengatakan bahwa cita-cita Indonesia untuk menjadi ekonomi terkuat keempat di dunia pada tahun 2045 akan sulit tercapai kalau yang diandalkan hanya laki-laki saja dan tidak ada kesetaraan gender.

Read More
rekomen podcast indonesia

12 Rekomendasi Podcast Spotify Indonesia 2021

Sudah hampir satu tahun masyarakat dunia hidup berdampingan dengan pandemi COVID-19, yang membuat segala aspek kehidupan kita berubah secara drastis. Yang seharusnya di pagi hari kita sudah bersiap berangkat bekerja atau pun berkuliah, sekarang kita menghabiskan seluruh waktu kita #dirumahsaja. Awalnya kita kaget dengan perubahan ini dan sulit untuk menyesuaikan diri. Tapi dengan kebiasaan-kebiasaan baru seperti memasak, bercocok tanam, dan mendengarkan podcast, #dirumahsaja menjadi tidak terlalu membosankan. 

Ya, biasanya kita mendengarkan podcast Indonesia dalam perjalanan menuju tempat kerja kita. Sekarang, kita melakukannya di waktu-waktu senggang kita, seperti saat sedang jalan pagi atau sore. 

Beberapa tahun terakhir, dunia podcast di Indonesia tengah berkembang dengan pesat. Mulai banyak saluran-saluran podcast yang berkembang dengan beragam genre serta tema yang menarik. 

Rekomendasi Podcast Indonesia

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, dunia podcast Indonesia saat ini berkembang dengan pesat, mulai dari genre obrolan politik, gaya hidup, hobi, hingga life hacks atau tips-tips menjalani hidup. Dengan beragam genre terbut, para pendengar mendapat banyak pilihan. 

Tapi sebelumnya, buat kamu yang belum tahu apa itu podcast atau siniar, podcast merupakan sebuah produk media berbasis suara. Pendengarnya dapat mendengar produk tersebut di mana saja dan kapan saja serta tersedia secara on-demand. Jadi, kamu tidak perlu khawatir jika kamu telat mendengar episode terbaru podcast kesayanganmu, karena kamu tinggal mendengar dan atau mengunggah episode tersebut. 

Nah, buat kamu yang baru saja menjelajah podcast-podcast Indonesia, kamu bisa banget mulai dengan 12 rekomendasi podcast berikut. 

1. Podcast Indonesia mengenai Perempuan Pemimpin

Sudah bukan zamannya lagi jika kamu membandingkan mana pemimpin yang lebih kompeten di antara laki-laki atau perempuan. Faktanya, pemimpin yang baik itu bukan berdasarkan jenis kelaminnya tetapi kompetensi dan gaya kepemimpinannya. 

Namun, di masyarakat sendiri, masih banyak prasangka buruk terhadap perempuan yang menjadi pemimpin, mulai dari terlalu emosional,  judes, dan lain sebagainya. Padahal, faktanya, di antara para pemimpin dunia yang berhasil mengendalikan pandemi, sebagian besar adalah perempuan. Di podcast How Women Lead, kamu bakal diajak mengupas tuntas soal isu-isu kepemimpinan perempuan serta tips-tips menjadi pemimpin yang baik. 

2. Podcast Indonesia yang Membahas Kepemimpinan Macho

rekomendasi podcast indonesia

Pemimpin harus tangguh, super maskulin, dan agresif? Aduh, itu pemikiran yang sudah ketinggalan zaman banget. Faktanya, gaya kepemimpinan super macho yang dipercaya efektif digunakan untuk memimpin, ternyata ya jauh dari efektif bahkan cuma bikin pegawai tidak nyaman. 

Bagi kamu yang sedang belajar menjadi pemimpin atau bingung banget ini bagaimana cara menjadi pemimpin yang efektif di situasi pandemi ini, episode “Bye Kepemimpinan Macho” ini bisa banget kamu dengarkan dan untuk melakukan refleksi juga. 

3. Rekomendasi Podcast Indonesia Membahas Buku Inspiratif   

rekomendasi podcast tentang buku inspiratif

Kamu lagi bingung mau baca buku apa di akhir pekan nanti? Sebelum mencari di toko buku daring, ada baiknya kamu mendengarkan episode podcast Indonesia ini soal buku “The Athena Doctrine” dari John Gerzema dan pemenang Pulitzer Prize, Michael D’Antonio. 

Dalam  buku ini, Gerzema dan D’Antonio mengupas tuntas soal bagaimana nilai-nilai feminin seperti empati, agile, serta compassion adalah faktor-faktor yang membuat suatu kepemimpinan efektif. Buku ini mereka susun berdasarkan hasil riset bertahun-tahun di berbagai negara, dengan total 64 ribu responden. Buku ini juga banyak menceritakan cerita dari beberapa pemimpin inspiratif yang berhasil mengatasi krisis ekonomi di negara-negara mereka. Buku ini cocok buat kamu yang sedang membangun bisnis dan perlu banyak bacaan soal mengatasi krisis.  

4. Podcast Indonesia Soal Ilmuwan Indonesia

Podcast Indonesia Soal Ilmuwan Indonesia

Kamu pernah mendengar nama Herawati Sudoyo? Seorang ilmuwan perempuan asal Indonesia yang berhasil meletakkan dasar pemeriksaan DNA forensik untuk mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada 2004 silam. Saat itu pihak kepolisian ditantang untuk segera mengenali pelaku bom bunuh diri tersebut dan mengungkap kelompok mana yang berada di balik kejahatan yang menewaskan 10 orang dan membuat 180 orang luka-luka.

Dalam episode podcast Indonesia ini, dikisahkan bagaimana Herawati saat ini sibuk menangani pandemi COVID-19 di Lembaga Eijkman. Ia bercerita soal tantangan yang ia hadapi saat ini sebagai ilmuwan dan perjalanannya sebagai perempuan bekerja dan ibu dalam menggapai posisinya saat ini. 

Ia mengatakan bahwa sangat penting bagi tempat kerja untuk mendukung pekerja perempuannya karena mereka memiliki kondisi-kondisi yang berbeda dengan laki-laki, termasuk pekerjaan domestik yang dibebankan pada mereka. Nah, buat kamu yang sedang meniti karier sebagai ilmuwan, kamu wajib banget mendengarkan cerita dari Ibu Herawati ini.  

5. Rekomendasi Podcast Membahas Politik di Indonesia

podcast tentang politik indonesia

Obrolan soal politik Indonesia memang enggak ada habisnya. Tapi kalau berbicara soal perempuan dalam politik, isu ini masih kurang menjadi perhatian dalam masyarakat. Nah, salah satu tokoh yang sangat peduli dengan isu ini adalah Titi Anggraini dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem). 

Kita sering mendengar bahwa panggung politik merupakan panggung super maskulin yang sangat patriarkal dan sering kali menghambat keterlibatan perempuan di sektor ini. Padahal, keterlibatan perempuan dalam panggung politik ini sangat penting, loh. Dampaknya sangat besar agar aspirasi-aspirasi perempuan dapat didengar oleh pemerintah. Nah, seperti apa sih tantangan yang dihadapi Titi dalam memperjuangkan keterwakilan perempuan dalam sektor ini? Langsung dengarkan saja podcast-nya ya.

6. Rekomendasi Podcast Soal Tips agar Bisnis Maju

Podcast membahas bisnis

Kamu sedang merintis bisnis atau baru mau memulai bisnis di tengah pandemi seperti ini? Kamu wajib mendengarkan podcast berisi wawancara dengan seorang pengusaha perempuan pendiri perusahaan Sari Ayu, Martha Tilaar beserta anaknya, Wulan Tilaar. Mereka menceritakan bagaimana mereka jatuh bangun membangun bisnis, dan terutama upaya-upaya mereka menavigasi perusahaan mereka di tengah-tengah krisis. 

Jauh sebelum krisis akibat pandemi COVID-19, perusahaan Sari Ayu telah melewati berbagai krisis ekonomi, termasuk pada 1998. Alih-alih terpukul, perusahaan malah meraup keuntungan. Bagaimana caranya? Simak podcastnya, ya. 

7. Podcast Indonesia tentang Menciptakan Ruang Kerja yang Ideal 

membuat ruang kerja ideal

Kamu yang baru mendapat pekerjaan mungkin bingung bagaimana seharusnya ruang kerja yang ideal untuk semua karyawan. Bagaimana dengan karyawan perempuan? Tentu saja perusahaan perlu memenuhi hak-hak pekerjanya seperti hak cuti haid, cuti hamil dan melahirkan, termasuk cuti ayah untuk para suami ketika istri mereka melahirkan.  

Nah, tentu saja hal ini masih agak sulit diterapkan, tetapi setidaknya kamu perlu tahu bagaimana lingkungan pekerjaan yang aman dan ideal tersebut. Yuk, dengarkan podcast-nya ya. Klik tautan di atas. 

8. Podcast yang Membahas Soal Kehidupan Pesantren

podcast membahas tentang pesantren

Orang tuamu sedang berpikir untuk mengirimkan adikmu untuk belajar ke pesantren? Kamu dan orang tuamu bisa banget mendengarkan episode podcast ini. Cerita yang diangkat berdasarkan  pengalaman dari Nyai Masriyah Amva, pemimpin Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy di Cirebon, Jawa Barat.

Awalnya Nyai Masriyah tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang pemimpin pondok pesantren. Namun, karena suaminya meninggal dunia, ia terpaksa menggantikan sang suami untuk memimpin pondok pesantren tersebut. Awalnya banyak yang meremehkan Nyai Masriyah, tetapi ia tidak gentar dan terus maju, melakukan sejumlah terobosan sehingga pesantrennya ini sangat berkembang dan dikenal masyarakat luas. 

9. Podcast Tokoh Inspiratif dari Perusahaan Pan Brothers 

podcast tokoh inspiratif Pan Brothers

Ketika pandemi COVID-19 menimpa Indonesia, banyak perusahaan yang terkena dampaknya, terutama perusahaan padat karya seperti industri tekstil. Namun, PT. Pan Brothers, sebagai salah satu perusahaan tekstil besar di Indonesia, berhasil bertahan dan mengubah kondisi ini menjadi sebuah kesempatan. Hal ini terjadi, salah satunya, berkat aksi cepat tanggap Anne Patricia Sutanto selaku Vice CEO PT Pan Brothers.

Dalam episode ini, Anne menceritakan bagaimana fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi sangat penting diterapkan sebagai pemimpin. Yuk, dengarkan episode podcast Indonesia ini ya.

10. Rekomendasi Podcast Indonesia Tentang Industri Media

podcast tentang industri media

Dalam episode podcast ini, kita diajak melihat perkembangan industri media dari waktu ke waktu, berdasarkan pengalaman mantan wartawan senior yang sekarang menjadi konsultan bisnis, Gabriel Sugrahetty.

Mengawali kariernya sebagai reporter di Tempo pada tahun 1988, Hetty kemudian menduduki berbagai posisi serta divisi dalam perusahaan media ini. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, yang paling Hetty rasakan adalah bagaimana saat itu ruang redaksi masih sangat maskulin dan cenderung meremehkan perempuan. Walaupun tantangannya seperti itu, Hetty tetap tidak pantang menyerah dan terus berjuang. Nah, di sini juga Hetty berbagi tips bagaimana cara menghadapi kolega-kolega yang sering kali meremehkan kita. 

11. Podcast yang Membahas Pengembangan Karier

podcast tentang pengembangan karir

Buat kamu, teman-teman perempuan yang lagi galau ini mau melanjutkan karier atau memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, jangan takut dan gundah, kamu bisa mendengarkan episode podcast ini. Sebetulnya kamu tidak perlu memilih loh, kamu bisa menjalankan keduanya asal lingkungan dan keluargamu mendukung. Bagaimana ya caranya? Nah, dengarkan episode ini ya! 

12. Podcast yang Membahas Soal Perempuan Poso

podcast perempuan poso

Setelah peristiwa kerusuhan Poso, kita jadi bertanya-tanya, bagaimana sih keadaan masyarakat Poso saat ini? Ternyata cerita yang jarang kita dapatkan dari media adalah bagaimana dedikasi para perempuan Poso saling bahu-membahu membantu komunitas antarsuku dan agama. 

Keadaan ini dikisahkan oleh pendiri Institute Mosintuwu, Lian Gogali, yang baru menyadari bahwa mendengarkan itu juga berakar pada kemauan kita untuk memahami kehidupan sehari-hari lawan bicara kita. Ada juga ini beberapa tips dan cerita inspiratif dari Lian tentang perempuan-perempuan Poso. Sangat menyentuh dan inspiratif!

Read More