istilah fear of success di dunia kerja

‘Self-Doubt’ di Tempat Kerja: Kenapa Kita Sering Merasa Tak Cukup, dan Cara Mengatasinya

Pernah gak kamu setelah selesai mengerjakan tugas penting, dapat pujian dari atasan, bahkan nembus target—tapi tiba-tiba kepikiran, “Ah, mungkin gue cuma beruntung aja?” Atau waktu melihat rekan kerja maju presentasi dengan tenang, kamu malah membandingkan diri sendiri dan merasa selalu selangkah tertinggal? Itu bukan sekadar overthinking biasa. Perasaan enggak layak atau ragu kayak gitu umum banget, terutama di dunia kerja yang penuh tekanan, cepat, dan kompetitif.

Menurut artikel Self-doubt and Impostor Syndrome di Workplace Strategies for Mental Health, perasaan meragukan diri seperti ini justru bisa muncul meskipun kamu sudah berhasil dan sering dikaitkan dengan fenomena imposter syndrome—di mana kamu merasa enggak sepantasnya mendapat pujian itu padahal kenyataannya kamu sangat kompeten.

Di tempat kerja, standar “karyawan ideal” sering terasa kayak target super tinggi: harus multitasking, peka dengan tren terbaru, selalu cepat belajar, dan nyaris tanpa kesalahan. Jadi enggak heran kalau banyak orang—termasuk yang sebenarnya punya kemampuan—berakhir dengan berpikir “gue belum cukup baik.” Energi yang seharusnya kamu gunakan untuk meningkatkan kemampuan malah habis dipakai untuk mempengaruhi diri sendiri.

Ketika itu terjadi, kerja bukan lagi soal berkarya atau berkembang, tapi cuma soal menahan rasa cemas dan berpikir terus “apa gue beneran layak di sini?” Penelitian dari MDPI, Impostor Phenomenon Unveiled: Exploring Its Impact on Well-Being, Performance, and Satisfaction Among Employees, bahkan menunjukkan kalau tingkat imposterism yang tinggi berkorelasi dengan menurunnya kepuasan kerja, kesejahteraan personal, dan evaluasi kinerja diri sendiri—yang berdampak buruk ke perkembangan karier.

Baca Juga: Semangat Baru: Tips Agar Performa Kerja Melesat Pasca-Liburan

Self-Doubt: Musuh yang Sering Gak Kita Sadari

Self-doubt itu bukan jeritan dramatis yang langsung bikin kamu berhenti kerja. Ia lebih mirip suara kecil dalam pikiran yang terus nge-repeat, kayak “Jangan sok jago deh,“Takut salah duluan aja deh,” atau “Kayaknya bukan lo yang paling pantas.” Suara kecil ini, kalo dibiarkan, bisa mengubah cara kamu melihat diri sendiri di lingkungan profesional. Menurut artikel Pengertian Self Doubt dan Cara Mengatasinya di QuBisa, self-doubt sering muncul karena suara internal negatif yang membuat kamu merasa tidak yakin dengan kemampuan sendiri, bahkan saat bukti suksesnya jelas banget.

Masalahnya, self-doubt sering diselimuti bungkus positif kayak “gue tuh hati-hati banget,” atau “gue rendah hati banget.” Padahal kalau enggak dibedakan dengan jernih, self-doubt bisa jadi penghalang besar buat kamu ambil peluang, menerima tantangan baru, atau ngomongin ide kamu sendiri. Ini ibarat rem tangan yang enggak pernah kamu lepas—bikin karier kamu jalan pelan, bahkan stagnan.

Apa Itu Self-Doubt (Keraguan Diri)?

Self-doubt atau keraguan diri adalah kondisi ketika seseorang merasa enggak yakin dengan kemampuan, penilaian, atau keputusan sendiri. Secara psikologis, self-doubt enggak cuma sekadar ragu sesaat, tapi berkaitan dengan cara kita melihat nilai diri dan kompetensi pribadi kita di situasi tertentu. Orang yang sering merasakan self-doubt sebenarnya bukan berarti enggak kompeten, justru banyak orang pintar dan berprestasi yang tetap merasa ragu dalam banyak hal meskipun kenyataannya mereka mampu. Menurut artikel Pengertian Self Doubt dan Cara Mengatasinya dari QuBisa, self-doubt muncul karena suara internal negatif yang bikin kita sering mempertanyakan kemampuan sendiri.

Di lingkungan profesional atau tempat kerja, self-doubt biasanya muncul waktu kita harus menghadapi sesuatu yang baru atau kompleks—misalnya tanggung jawab yang lebih besar, tugas yang belum pernah dikerjakan, atau ekspektasi yang tiba-tiba meningkat. Alih-alih melihat itu sebagai proses belajar, pikiran kita sering langsung loncat ke asumsi negatif seperti “Aku enggak cukup pintar” atau “Gue pasti akan salah.” Saat hal ini terus-menerus terjadi, self-doubt bukan sekadar gangguan pikiran kecil, tapi bisa memengaruhi cara kita bekerja, berkomunikasi, bahkan membuat keputusan penting sepanjang hari.

Self-Doubt vs Rendah Diri: Beda Tapi Sering Tertukar

Dikutip dari berkeleywellbeing.com, Self-Doubt: Definition, Causes, & How to Overcome Doubts, meski sering dianggap sama, sebenarnya self-doubt dan rendah diri itu konsep yang berbeda. Self-doubt lebih situasional: muncul hanya di momen tertentu dan sering mereda ketika situasinya sudah jelas atau kita sudah merasa lebih siap. Contohnya, kamu bisa saja sangat yakin menyelesaikan tugas rutinitas harian, tapi tiba-tiba ragu saat diminta memimpin rapat besar yang belum pernah kamu jalani sebelumnya.

Sementara itu, rendah diri cenderung lebih menetap dan general—bukan hanya di situasi tertentu. Orang yang mengalami rendah diri punya campuran perasaan “aku enggak berharga” atau “aku selalu kalah” yang sudah jadi bagian dari cara mereka memandang diri secara keseluruhan. Rendah diri biasanya datang bersama perasaan negatif yang terus-menerus, enggak hanya saat tantangan baru muncul.

Kenapa Self-Doubt dan Rendah Diri Sering Tertukar?

Keduanya sering dianggap sama karena tanda-tandanya mirip: bikin kita merasa enggak cukup, cemas, dan takut dinilai orang lain. Tapi ada perbedaan penting: self-doubt sering datang dengan pembenaran logis seperti “Aku cuma realistis” atau “Aku enggak mau sok percaya diri duluan.” Padahal itu sering hanya cara kita menutupi ketidaknyamanan menghadapi rasa ragu yang sebenarnya.

Sayangnya, banyak yang salah kaprah menganggap self-doubt sebagai bentuk profesonalisme atau rendah hati. Padahal kalau dibiarkan terus-menerus, self-doubt bisa jadi hambatan besar buat kita ambil peluang baru, nge-pitch ide kreatif, atau bersuara ketika kita tahu punya perspektif yang unik dan penting. Ini justru bikin kita terus menahan diri, alih-alih tumbuh dan berkembang.

Baca Juga: 11 Akibat Buruk Terlalu Percaya Diri di Tempat Kerja

Penyebab Self-Doubt di Lingkungan Kerja

Self-doubt jarang muncul begitu saja — hampir selalu ada pemicu yang saling terkait, baik dari dalam diri maupun dari konteks kerja itu sendiri. Lingkungan kerja yang kita jalani ternyata bisa berkontribusi besar terhadap cara kita menilai diri sendiri, terutama ketika suasana kantor kurang mendukung dan terlalu fokus pada hasil saja. Menurut artikel Self-doubt and Job Performance: Effects and Ways to Help You Cope di MindTales, self-doubt di tempat kerja bisa jadi hasil dari perhatian yang berlebihan terhadap kelemahan sendiri, ketakutan akan kegagalan, atau bahkan rasa kebutuhan terus-menerus untuk mendapat validasi dari luar. Semua ini bikin seseorang cenderung terus meragukan kemampuan dirinya meskipun secara objektif dia kompeten.

Budaya Kerja yang Tidak Sehat

Budaya kerja yang minim apresiasi dan terlalu menekankan kesalahan sebagai fokus utama bisa menjadi pemupuk subur self-doubt. Saat kerja keras jarang diapresiasi, tapi kesalahan kecil langsung disorot. Artikel Self-doubt and Impostor Syndrome di Workplace Strategies for Mental Health bahkan menyebut bahwa lingkungan kerja yang kompetitif tinggi, di mana kesalahan tidak pernah dimaklumi atau dijadikan pembelajaran, sangat berpotensi memicu keraguan diri secara internal karena kita terus merasa enggak cukup baik.

Budaya kerja yang terlalu kompetitif juga bisa bikin rasa aman diri runtuh. Alih-alih kolaboratif, suasana kerja jadi penuh perbandingan — siapa yang paling cepat naik jabatan, siapa yang paling sering dipuji, dan lain-lain. Ketika penilaian diri kayak gitu jadi standar utama, itu otomatis bikin banyak orang mempertanyakan kemampuan mereka sendiri dibandingkan rekan kerja yang tampak lebih cemerlang.

Pengalaman Gagal di Masa Lalu

Pengalaman gagal di masa lalu yang belum benar-benar diproses bisa hadir sebagai “bayangan” mental dalam pekerjaan berikutnya. Misalnya, pernah dimarahi atasan secara keras, proyek yang gagal total, atau penilaian kerja yang enggak memuaskan — hal-hal ini bisa meninggalkan narasi internal yang negatif seperti “Aku pernah gagal, jadi besar kemungkinan aku akan gagal lagi.” masih dari MindTales, salah satu alasan self-doubt muncul adalah karena fear — ketakutan akan kegagalan, ditambah kecenderungan otak kita yang memang lebih kuat mengingat pengalaman negatif dibandingkan keberhasilan.

Ini yang sering bikin satu momen buruk bisa menutup puluhan pengalaman sukses yang sebelumnya sudah kita raih. Akhirnya, daripada fokus pada keberhasilan, kita malah terlalu mikirin risiko gagal dan terus memukul diri sendiri secara internal.

Perbandingan Sosial yang Terlalu Sering

Di tempat kerja, hampir enggak mungkin kita enggak membandingkan diri dengan orang lain. Tapi ketika perbandingan ini jadi kebiasaan, dampaknya bisa sangat merusak. Melihat rekan kerja yang lebih cepat naik jabatan atau tampak lebih “menonjol” sering membuat kita mempertanyakan kemampuan sendiri. Artikel 7 Golden Tips to Overcome Self-Doubt and Be Resilient in the Workplace dari eLearningIndustry menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya punya kecenderungan buat membandingkan diri dengan orang lain, dan ketika kita merasa “lebih rendah” dari mereka, self-doubt sering kali muncul sebagai respons otomatis.

Padahal setiap orang punya ritme perkembangan, pengalaman, serta tantangan yang berbeda-beda. Kalau kita terus mengukur proses diri sendiri berdasarkan hasil akhir orang lain, kita cuma bikin ruang bagi keraguan diri untuk semakin tumbuh dan memperlambat langkah kita sendiri.

Baca Juga: 7 Self Reward yang Baik untuk Diri Sendiri Tanpa Biaya Mahal

Cara Mengatasi Self-Doubt di Tempat Kerja

Mengatasi self-doubt bukan berarti menghapusnya sepenuhnya—soalnya jujur saja, itu hampir enggak mungkin terjadi. Tujuan yang realistis adalah belajar mengelola keraguan supaya enggak lagi menguasai cara kita bekerja, berinteraksi, atau berkembang dalam karier. Kabar baiknya, ada langkah-langkah praktis yang bisa kamu mulai dari hal-hal kecil sehari-hari. Menurut artikel 10 Cara Ampuh Mengatasi Keraguan Diri agar Tak Minder di Glints, langkah seperti mengenali pikiran negatif, fokus pada kekuatan diri, dan mencari dukungan dari orang lain bisa membantu membangun kepercayaan diri secara bertahap.

  1. Sadar & Kenali Pola Pikiran Negatif

Langkah pertama buat melawan self-doubt adalah menyadari diri saat pola pikiran negatif mulai muncul. Biasanya, keraguan itu datang dalam bentuk pikiran otomatis yang terasa “wajar” padahal belum tentu benar—kayak “Aku pasti bikin kacau” atau “Orang lain pasti lebih kompeten.” Coba berhenti dulu sejenak dan tanya ke diri sendiri: ini fakta atau asumsi saja? Dengan melihat pikiran itu secara objektif, kamu bisa mulai ambil jarak dari pikiran yang enggak produktif.

Strategi ini mirip dengan yang disarankan dalam artikel Self-doubt and Job Performance: Effects and Ways to Help You Cope di MindTales, yakni dengan mengidentifikasi dan menantang pikiran negatif supaya enggak menguasai kamu sepenuhnya.

  1. Bangun Dialog Internal yang Lebih Sehat

Cara kita “ngomong” ke diri sendiri itu penting banget. Kalau kamu terus-terusan memberi kritik pedas ke diri sendiri, jelas self-doubt malah makin kuat. Bayangkan kamu lagi memberikan dukungan ke sahabat yang lagi ragu—bahasanya pasti lebih lembut dan suportif, kan? Coba pakai gaya bicara itu ke diri sendiri juga. Daripada bilang “Aku payah,” ubah jadi “Aku masih belajar dan itu wajar.”

  1. Ubah “Aku Tidak Bisa” Jadi “Aku Sedang Belajar”

Bahasa yang kita pakai punya pengaruh besar ke cara otak kita merespons tantangan. Ungkapan “Aku tidak bisa” bikin tantangan terasa kayak pintu yang terkunci rapat. Bandingkan dengan “Aku sedang belajar,” yang justru memberi ruang buat berkembang. Mengubah cara berbicara ke diri sendiri ini bisa bikin tantangan kerja enggak lagi terasa mengancam, tapi sebagai proses yang bisa dilewati. Ini sejalan dengan saran praktis yang sering disebut di berbagai sumber self-improvement untuk reframing pikiran negatif jadi lebih positif dan membangun.

  1. Kumpulkan Bukti Nyata atas Kemampuan Diri

Kalau self-doubt menyerang, otak kita seringnya cuma mengingat kesalahan saja. Nah, lawan ini dengan bukti nyata: simpan catatan pencapaian, daftar feedback positif, atau proyek yang berhasil kamu selesaikan. Bukti konkret ini bisa jadi pengimbang saat pikiran mulai nge-down grade diri sendiri. Dalam artikel 5 Ways to Overcome Self-Doubt at Work di Lean In, disebutkan bahwa mengakui dan mencatat pencapaian kita sendiri bisa bantu menumbuhkan rasa percaya diri dan mengurangi keraguan secara signifikan.

  1. Berani Bertanya & Minta Feedback

Banyak orang takut bertanya karena khawatir keliatan enggak kompeten. Padahal, bertanya justru menandakan kamu peduli sama kualitas kerja kamu. Feedback dari orang lain bisa bantu meluruskan asumsi negatif yang cuma berputar di kepala. Daripada nebak-nebak sendiri dan overthinking, minta kejelasan langsung dari rekan atau atasan jauh lebih efektif buat kamu tahu seberapa baik kerja kamu sebenarnya.

Cara ini juga sejalan dengan tips umum dalam mengatasi self-doubt di lingkungan profesional yang menyarankan keterbukaan dan komunikasi sebagai alat penting buat nge-break pola pikir negatif.

Read More