Bekerja 15 Jam, Pulang Jadi Buruh Tanpa Bayaran: Lingkaran Setan Perempuan Pekerja

buruh tanpa bayaran

Nur bekerja di sebuah perusahaan penerbitan. Sehari-hari, ia bisa menghabiskan waktu hingga 15 jam untuk bekerja dengan beban lembur yang mau tak mau harus ditelan karena di lingkarannya tak ada lagi yang bisa diandalkan selain dirinya. Sebagai editor, Nur dituntut sangat teliti dan memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni, tetapi di balik meja kerjanya ia tak punya banyak daya tawar.

Atasannya adalah seorang lelaki dengan kuasa penuh yang secara sepihak mengendalikan rotasi jam kerja pegawai. Dalam relasi kuasa yang toksik dan sarat eksploitasi ini, Nur memilih bertahan karena ia membutuhkan fleksibilitas, lokasi kantor yang dekat dengan rumah, dan pendapatan untuk menopang keluarganya.

Ironisnya, saat pulang, shift kerja Nur justru bertambah. Di rumah, ia kembali menjadi buruh tanpa bayaran atau unpaid labor dengan mengerjakan tumpukan pekerjaan domestik, sering kali karena merasa bersalah sudah menghabiskan terlalu banyak waktu di luar rumah, padahal waktu tersebut ia gunakan untuk bekerja demi keluarga.

Kisah Nur bukan cerita yang berdiri sendiri. Ia menjadi gambaran dari persoalan yang lebih luas, terlihat dalam riset kolaboratif antara Prospera, Universitas Indonesia, dan Macalester College yang bekerja sama dengan International Labour Organization (ILO) dan UN Women.

Data dari riset tersebut menunjukkan hampir 40 persen perempuan di Indonesia menghabiskan lebih dari delapan jam per hari untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan atau unpaid care work, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengawasi anak. Di sisi lain, hampir 40 persen laki-laki menghabiskan kurang dari satu jam per hari untuk pekerjaan serupa.

Jurang pembagian kerja domestik ini masih lebar dan kerap dinormalisasi dengan alasan klise seperti, “laki-laki sudah lelah bekerja mencari nafkah di luar rumah.” Lalu bagaimana dengan pekerja ganda seperti Nur? Apakah lelahnya dianggap kurang penting hanya karena ia perempuan yang secara kultural diharapkan tetap mampu mengurus rumah tangga meski juga menjadi pencari nafkah?

Baca Juga: Stres Ibu Pekerja: Antara Ambisi, Tanggung Jawab, dan Kurangnya Dukungan

Ketika Perempuan Kehabisan Ruang untuk Melawan

Perempuan yang terjebak dalam relasi kuasa buruk di kantor biasanya membutuhkan waktu untuk mencari pekerjaan lain, energi untuk membangun jaringan, atau kesempatan untuk meningkatkan keterampilan. Namun, bagi perempuan seperti Nur, sisa waktu dan energi itu sudah terkuras oleh pekerjaan domestik setelah jam kantor usai, karena manusia bukan robot yang bisa bekerja 24 jam tanpa henti.

Kita sering lupa, agensi atau kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan secara bebas dan membela dirinya sendiri bukan cuma soal keberanian. Agensi membutuhkan energi, kondisi mental yang cukup sehat, serta ruang untuk berpikir dan menentukan pilihan secara mandiri.

Di kantor, perempuan-perempuan ini harus tunduk pada kendali atasan yang dominan sambil menekan ego dan rasa lelah demi mempertahankan pekerjaannya. Di rumah, mereka kembali bekerja mengurus kebutuhan domestik tanpa jeda untuk memulihkan diri, sehingga tidak ada cukup ruang untuk bernapas dan tubuh maupun pikiran terus dipaksa bekerja.

Kondisi tersebut dapat menumpuk menjadi kelelahan dan burnout. Ketika sudah sampai pada titik ini, kapasitas emosional untuk bersuara, melaporkan perlakuan toksik kepada bagian Human Resources Department (HRD), atau melawan ketidakadilan di tempat kerja ikut terkikis.

Pada akhirnya, mereka bisa memilih diam bukan karena tidak tahu sedang diperlakukan tidak adil, tetapi karena energi untuk melawan sudah habis. Sistem patriarki di rumah dan sistem kerja yang eksploitatif di kantor sama-sama mengambil waktu, tenaga, dan ruang perempuan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Relasi kuasa yang buruk di kantor juga dapat mengisolasi pekerja dari rekan sejawat karena mereka saling berhadapan untuk memperebutkan posisi yang lebih layak. Sementara itu, tingginya beban unpaid labor membuat perempuan bahkan tidak punya banyak kesempatan untuk sekadar berbincang, berkumpul, atau membangun jaringan di luar jam kerja.

Tanpa sistem pendukung atau komunitas yang aman untuk bertukar cerita, perempuan pekerja bisa merasa terjebak sendirian. Isolasi seperti ini berbahaya karena membuat situasi eksploitatif perlahan dianggap sebagai hal biasa, bahkan diterima sebagai “nasib” yang harus dijalani dengan ikhlas dan tawakal.

Baca Juga: Kerentanan Perempuan Pekerja

Wajah Nyata Unpaid Labor di Indonesia

Unpaid labor di Indonesia punya bentuk yang luas, mulai dari pekerjaan domestik dan perawatan keluarga hingga pekerjaan dalam usaha atau pertanian keluarga tanpa upah. Beban tersebut masih lebih banyak diletakkan di pundak perempuan, dengan konsekuensi yang ikut memengaruhi kesempatan mereka untuk bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

Bukan cuma ibu rumah tangga, banyak perempuan muda, terutama mereka yang berusia 15–24 tahun, juga terlibat membantu usaha atau pertanian keluarga tanpa menerima gaji resmi. Situasi ini dapat membatasi kesempatan mereka untuk membangun kemandirian finansial sejak usia muda.

Pengawasan dan pengasuhan anak juga menjadi salah satu beban yang memengaruhi peluang perempuan berpartisipasi di sektor formal. Data menunjukkan setiap tambahan satu jam yang dihabiskan perempuan untuk mengasuh anak menurunkan probabilitas mereka untuk bekerja atau mencari upah formal hingga lebih dari enam persen, ditambah tekanan untuk selalu memenuhi standar sebagai ibu yang dianggap baik.

Ketika tuntutan domestik semakin tinggi, pekerjaan di sektor informal kemudian terlihat sebagai pilihan yang lebih masuk akal karena menawarkan fleksibilitas waktu. Masalahnya, fleksibilitas tersebut sering datang bersama minimnya perlindungan sosial, jaminan kesehatan, dan kepastian pendapatan.

Karena itu, lingkaran setan antara tekanan kerja yang eksploitatif dan beban unpaid labor di rumah tidak selesai hanya dengan menyuruh perempuan “berani resign”. Selama kerja perawatan belum dipandang sebagai tanggung jawab bersama dan pembagian pekerjaan domestik masih timpang, perempuan akan terus berhadapan dengan pilihan yang sama-sama berat.

Memutus rantai ini membutuhkan perubahan cara pandang terhadap pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan domestik bukan kodrat perempuan, melainkan tanggung jawab yang semestinya dibagi secara adil, sementara tempat kerja juga membutuhkan kebijakan yang benar-benar memperhitungkan pengalaman perempuan pekerja.

Sebab, jika tidak, akan ada lebih banyak “Nur” yang terus menua dalam kelelahan yang tak dibayar. Mereka terperangkap di antara meja kantor yang menuntut tubuh dan pikiran untuk terus bekerja, serta pekerjaan rumah yang menunggu begitu mereka membuka pintu.

Foggy FF
+ posts