Bias Gender dan Objektivitas di Dunia Kesehatan

bias gender di dunia kesehatan

Lalu ada posisi-posisi terfeminisasi (segregasi horizontal) karena pembagian pekerjaan, “ini kerja laki-laki, ini kerja perempuan”. Contoh, perawat kebanyakan perempuan karena pekerjaannya berkaitan dengan nurturing, caring, dan sebagainya yang berhubungan dengan stereotip perempuan. 

Bidan juga enggak ada yang cowok, ini juga jadi perdebatan. Tapi menariknya, kenapa dokter obgyn kebanyakan cowok di Indonesia, bidan semuanya perempuan. Power in decision making-nya, penghargaannya, dan image peran kedua penolong kelahiran itu berbeda. Secara sistem sosial ada strata yang dibangun di masyarakat, siapa yang lebih tinggi atau rendah.

Kemudian ada perspektif dari klien. Jadi segala twitwar di poster kemarin itu kan berfokus pada representasi dokter, tapi sebetulnya masalahnya lebih jauh lagi. Kita juga bicara perspektif dari klien/pasiennya. Ada perspektif yang namanya client-centered approach, pendekatan yang mengutamakan perspektif klien dalam segala hal yang dilakukan di dunia kesehatan. Jadi klien sentral dari semua hal yang kita kerjakan, termasuk suaranya, aspirasinya, pengalamannya, perspektifnya harus diutamakan.

Kemudian ada yang menyatakan dalam twitwar itu bahwa dunia kedokteran/kesehatan itu objektif dan tidak bias gender. Setujukah dengan itu, Mbak?

Itu omong kosong abad ini. Bias gender dunia kesehatan sudah ada sejak bidang itu lahir dan besar, karena dari sejarahnya juga memang patriarkal. Profesi kedokteran adalah sesuatu yang elite. Di masyarakat yang bias gender, dari dulu sampai sekarang, pasti profesi elite lebih banyak didominasi laki-laki. 

Ketika ada yang bilang tidak ada bias gender dunia kesehatan, masalahnya dia menyadari apa enggak. Banyak orang enggak sadar soal itu. 

Soal histeria perempuan bisa jadi contoh yang bagus. Ini karena ada konstruksi gender bahwa perempuan lebih emosional, tidak stabil, dan sebagainya, itu juga masuk dalam bagaimana dunia kedokteran menganalisis sesuatu. Itu kan unconscious bias yang bisa merugikan perempuan

Baca juga: Tenaga Kesehatan Perempuan Banyak, Namun Masih Tersisihkan

Ada salah satu riset menyatakan bahwa nyeri pada perempuan itu diremehkan karena dianggap berhubungan dengan histeria. Akibatnya, keluhan nyeri pada perempuan jadi undermanaged, tidak diterapi dengan baik. Balik lagi ke nyeri haid yang dianggap normal, akibatnya banyak perempuan termasuk nakes, dianggap kurang tough waktu mengeluh soal nyeri haid. Kadang disuruh minum anti nyeri aja, atau dibilang “Kalau nikah nanti juga hilang nyerinya”. Hal-hal kayak gitu kan cerminan bias gender dunia kesehatan.

Lalu kalau kembali bicara soal objektivitas di dunia medis, kita bisa lihat juga dari contoh kasus orientasi seksual non-hetero yang dianggap sebagai suatu hal tidak normal dulunya. Itu kan ada bias kultur dan agama. Baru tahun 1970-an dianggap bukan gangguan jiwa. 

Karena bias tadi enggak disadari, ketika ada orang “mencolek” supaya mereka sadar, pasti ada resistensi. 

Dalam twitwar kemarin sempat juga akun @dayatia menyebut beberapa nama perempuan yang berposisi tinggi dan dihormati ya di dunia kedokteran? Seolah itu jadi simbol bahwa representasi perempuan sudah ada di dunia kedokteran dan tidak ada bias gender. Tanggapan Mbak bagaimana soal ini?

Gampang soal itu. Segelintir profesor perempuan yang luar biasa di sebuah bidang, itu sesuatu yang bagus. Tapi itu tidak menjelaskan atau membuktikan representasi gender di dunia kedokteran sudah fair. Segelintir orang itu kan enggak bisa jadi gambaran as a whole. Itu (pendapat @dayatia) jadi anekdot saja. 

Tetap bagus saat perempuan bisa jadi profesor di suatu bidang, bisa jadi inspirasi bagi perempuan lain. Tapi PR-nya kan enggak berhenti sampai situ, bukan masalah kuota saja. Ketika ada segelintir perempuan bisa naik ke atas sementara banyak perempuan lainnya yang punya kemampuan mumpuni, kan harus bertanya juga kenapa?

Hambatan perempuan dalam masuk dunia kerja kan bukan hanya kemampuan, bukan hanya merit-based. Tapi adanya beban ganda perempuan menjadi hambatan tersendiri untuk mereka bekerja di dunia yang enggak kenal waktu siang-malam. 

Pendekatan “kuota” cuma titik awal. Yang lebih krusial ada dua menurutku. Pertama, menyuarakan pengalaman perempuan (dan gender lain) yang menjadi tenaga kesehatan, contohnya soal fleksibilitas, beban ganda, dan menstrual experience yang kita obrolin tadi. Dengan demikian, kebijakan didorong untuk mengakomodasi dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif buat nakes perempuan berkarya

Kedua, mendobrak bias dan norma gender tradisional yang masih ada dalam dunia kesehatan menjadi lebih berkeadilan gender. Menurutku ini gol utama dari sesuatu yang dimulai dari representasi.  

Selama norma gendernya enggak berubah, jangan heran kalau masih ada nakes perempuan yang bias gender karena itu representasi [perempuan di posisi atas] hanyalah first step.