Cuti Haid bagi Pekerja Perempuan: Problem Klasik yang Masih Mengusik

cuti haid bagi pekerja perempuan

Membahayakan Kesehatan Perempuan, Pengaruhi Performa Kantor

Pembiaran pekerja perempuan untuk terus bekerja saat nyeri haid tidak hanya merugikan dirinya saja, tetapi juga dapat berdampak pada perusahaan. Bagi sang pekerja, memaksakan masuk kantor selagi nyeri hebat ketika haid dan membiarkan itu terus terjadi pada bulan-bulan berikutnya bisa memperparah kondisi kesehatan reproduksinya kelak.

Dalam kasus Er tadi, baru kemudian diketahui bahwa nyeri haid berlebihannya berkaitan dengan penyakit endometriosis yang ia idap tanpa disadari sebelumnya. Di luar sana sangat mungkin kondisi seperti Er dialami pekerja perempuan lainnya. Sementara menurut data dari American Academy of Family Physicians, sebanyak 20 persen perempuan mengaku mengalami kram berlebihan saat haid atau dikenal sebagai dismenorrhea.

Rasa sakit luar biasa yang dirasakan saat perempuan haid ini tentu akan berpengaruh terhadap performa kerjanya. Bukannya menjadi produktif seperti biasa, kinerja mereka sebagai individu maupun dalam tim dapat menurun sehingga kemudian performa perusahaan juga akan terdampak.

Menghapus Anggapan Haid adalah Momok

Secara umum, haid masih kerap dipandang sebagai momok oleh masyarakat. Karena itu, tidak jarang perempuan merasa malu mengungkapkan status haidnya, termasuk untuk meminta hak tidak masuk kerjanya karena nyeri.

Upaya untuk menggeser pandangan seperti ini diperlukan demi kesejahteraan pekerja perempuan. Dalam wawancara dengan BBC, direktur kebijakan dan advokasi WaterAid America, Lisa Schechtman mengatakan, “Dengan menyebut masalahnya secara terbuka dan tanpa rasa malu adalah satu cara untuk membongkar stigma, itu butuh waktu lama.”

Pembuatan kebijakan perusahaan yang memahami kebutuhan perempuan tidak bisa hanya dengan melibatkan pengambil keputusan laki-laki. Schechtman berpendapat, perempuan harus aktif terlibat di dalamnya karena merekalah yang mengalami dampak haid sendiri.

Anggapan haid adalah momok juga bisa dikikis dengan penanaman nilai anti-seksisme di tempat kerja. Salah satunya dengan cara bersikap tegas melarang candaan seputar premenstrual syndrom (PMS) yang kerap dilontarkan kepada pekerja perempuan saat terlihat lebih emosional atau menunjukkan perubahan sikap tertentu.

“Di tempat kita [Citi group], ada pelatihan khusus yang mengajarkan bahwa kita tidak bisa mengatakan hal seperti itu. Itu sangat politically incorrect,” ujar Puni Anjungsari, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia dalam salah satu Instagram Live “Bisik Kamis” Magdalene.

“Meskipun ada saat-saat mood kita [perempuan] berubah waktu sedang PMS, itu enggak bisa dijadikan alasan perempuan enggak bisa bekerja atau jadi pemimpin yang baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, sikap dari pemimpin-pemimpin perusahaan berpengaruh pula pada pandangan terhadap pekerja perempuan.

“Makanya tone from the top itu penting untuk meruntuhkan stereotip,” kata Puni.

Ilustrasi oleh Karina Tungari