cara meningkatkan kemampuan leadership di tempat kerja

Kepemimpinan Empatik: Cara Memimpin yang Tegas, tapi Manusiawi

Di dunia kerja yang makin cepat dan penuh tuntutan, cara memimpin juga berubah drastis. Dulu pemimpin sering dilihat sebagai sosok paling berkuasa yang suaranya harus mutlak—emosi dianggap pengganggu profesionalisme. Dikutip dari Harvard Business Review, Preventing Burnout Is About Empathetic Leadership, tapi sekarang pendekatan otoriter seperti itu makin dipertanyakan karena terbukti bisa menimbulkan masalah serius, termasuk kelelahan dan turunnya performa tim.

Dikutip dari McKinsey & Company, The future of work after COVID-19, tekanan kerja yang meningkat, pola kerja yang berubah setelah pandemi, dan meningkatnya kesadaran soal kesehatan mental membuat banyak orang mulai mempertanyakan: apakah gaya memimpin yang “keras” benar-benar efektif? Pandemi mempercepat tren kerja jarak jauh dan model hybrid, sehingga peran manajer juga berubah—bukan cuma mengawasi output, tetapi juga mengatur cara tim bekerja dan saling terhubung.

Di sinilah kepemimpinan berbasis empati masuk—bukan sebagai pelicin yang “lembek”, melainkan respons realistis terhadap kondisi manusiawi di kantor. Menurut World Health Organization, Mental health at work, pemimpin yang empatik mampu membaca suasana batin tim, mengenali beban yang sering tak terlihat, dan menciptakan rasa aman supaya orang bisa bekerja optimal tanpa harus menutup-nutupi kesulitan mereka. Dukungan seperti ini juga sejalan dengan rekomendasi kesehatan kerja internasional: organisasi perlu aktif mempromosikan kesehatan mental dan mengurangi risiko psikososial di tempat kerja.

Memimpin dengan empati sama sekali bukan berarti mengorbankan target—malahan, bukti menunjukkan empati justru meningkatkan keterlibatan, retensi, dan produktivitas. Dikutip dari Forbes, Empathy Is The Most Important Leadership Skill According to Research, ketika orang diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar “resource”, hasil kerja cenderung berkelanjutan karena motivasi tumbuh dari dalam, bukan dipaksa.

Baca Juga: 7 Gaya Kepemimpinan yang Disukai Karyawan

Apa Itu Kepemimpinan Berbasis Empati?

Kepemimpinan berbasis empati adalah pendekatan memimpin yang menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap keputusan kerja. Fokusnya bukan hanya pada pencapaian target atau angka performa, tetapi juga pada kondisi emosional, kebutuhan psikologis, serta pengalaman individu di balik proses kerja tersebut. Pemimpin yang empatik memahami bahwa performa tim sangat dipengaruhi oleh rasa aman, kesehatan mental, dan perasaan dihargai di lingkungan kerja. Perspektif ini juga didukung oleh Harvard Business Review dalam artikel Preventing Burnout Is About Empathetic Leadership, yang menekankan bahwa empati dari pemimpin berperan penting dalam mencegah burnout sekaligus menjaga produktivitas tim.

Dalam praktik sehari-hari, kepemimpinan empatik terlihat dari kebiasaan sederhana namun berdampak besar: mendengar sebelum menilai, memahami konteks sebelum menyalahkan, serta melihat masalah tidak hanya dari sudut pandang otoritas, tetapi juga dari pengalaman manusia yang terdampak. Ini bukan berarti pemimpin harus selalu mengiyakan semua keinginan tim, melainkan membuat keputusan dengan kesadaran penuh terhadap konsekuensi emosional dan sosialnya. Pendekatan ini sejalan dengan temuan Center for Creative Leadership dalam artikel Empathetic Leadership: The Key to a Compassionate Workplace, yang menunjukkan bahwa empati membantu membangun kepercayaan, meningkatkan kolaborasi, dan memperkuat hubungan kerja.

Definisi Empati dalam Konteks Kepemimpinan

Dalam konteks kepemimpinan, empati adalah kemampuan untuk memahami perspektif dan perasaan orang lain tanpa kehilangan objektivitas dalam mengambil keputusan. Pemimpin empatik mampu membaca dinamika emosional tim, mengenali tanda kelelahan yang tidak selalu diungkapkan, serta merespons situasi dengan cara yang suportif sekaligus tetap profesional. Penelitian Gallup dalam artikel Why Empathy Is an Essential Leadership Skill menunjukkan bahwa karyawan yang merasa dipahami oleh pemimpinnya cenderung lebih engaged, loyal, dan produktif.

Empati juga berarti menyadari bahwa setiap individu membawa latar belakang, tekanan personal, dan kapasitas yang berbeda ke tempat kerja. Dengan kesadaran ini, pemimpin tidak memimpin berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan pemahaman yang lebih dalam terhadap realitas timnya. Pendekatan tersebut turut didukung oleh World Economic Forum dalam artikel Why Empathy Is a Critical Leadership Skill, yang menyoroti bahwa empati menjadi kompetensi penting bagi pemimpin modern untuk menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin kompleks dan beragam.

Baca Juga: Sains dan Empati: Senjata Keberhasilan Pemimpin Perempuan Kendalikan COVID-19

Mitos: Pemimpin Harus Selalu Tegas

Banyak orang masih percaya kalau pemimpin yang “baik” itu harus galak, tegas terus, dan jarang menunjukkan empati. Anggapan ini memunculkan citra wibawa = dingin, seolah memperlihatkan sisi manusiawi akan merusak otoritas. Padahal, mindset seperti itu justru sering melahirkan budaya kerja yang tidak sehat dan berisiko tinggi menimbulkan burnout serta kebencian diam-diam di dalam tim.

Ketegasan Tanpa Empati Hanya Kepatuhan Semu

Ketegasan yang hanya mengandalkan tekanan sering memberi hasil instan: orang patuh nampak di depan, tapi di balik layar ada rasa takut, kelelahan, dan jarak emosional. Budaya seperti ini mematikan inisiatif, menurunkan kreativitas, dan mendorong komunikasi yang tidak jujur—karyawan “hadir fisik” tapi absen secara mental.

Dikutip dari Harvard Business Review, Leaders, Stop Rewarding Toxic Rock Stars, memuliakan performa sekaligus mentolerir perilaku toksik justru merugikan organisasi secara luas.

Tegas ≠ Kejam—Bedakan Itu

Tegas yang sehat artinya jelas soal arah, konsisten pada standar, dan adil saat menegakkan aturan. Kejam adalah mengabaikan kondisi manusia, merendahkan, dan memakai otoritas untuk menekan. Pemimpin yang tegas tapi empatik:

• Menyampaikan ekspektasi dengan gamblang
• Memberi umpan balik tanpa mempermalukan
• Fokus pada solusi, bukan mencari kambing hitam

Dikutip dari Gallup, Empathy: Developing Your Leadership Skills, data dari lembaga riset tentang kepemimpinan menunjukkan bahwa empati di level manajerial berkorelasi dengan keterikatan (engagement) dan produktivitas karyawan.

Ketakutan Sebagai Alat Kontrol Itu Racun Jangka Panjang

Memakai takut sebagai motivator memang bisa memaksa hasil cepat, tapi efeknya rapuh: orang berhenti berani ambil risiko, tidak berinovasi, dan memilih “aman”—bukan solusi terbaik. Menurut Harvard Business Review, How to Protect Your Team From a Toxic Work Culture, organisasi yang ingin bertahan butuh ide, keberanian, dan keterlibatan emosional—bukan kepatuhan karena takut. Banyak tulisan manajemen menyarankan agar pemimpin aktif membangun kultur aman yang meminimalkan praktik yang memicu stress psikososial.

Ketegasan tidak harus identik dengan intimidasi. Pemimpin yang berani mendengar, mengakui kelelahan tim, dan bertindak adil justru seringkali lebih dihormati—bukan ditakuti. Ketegasan yang efektif lahir dari kejelasan peran, konsistensi kebijakan, dan empati yang nyata.

Baca Juga: Tidak Bekerja sampai Bukan Pemimpin, 4 Miskonsepsi Kodrat Perempuan

Cara Membangun Kepemimpinan Empatik

Kepemimpinan empatik bukan bakat langka—ini keterampilan yang bisa dilatih. Intinya: memimpin itu bukan sekadar mengatur tugas, tapi juga mengelola manusia dengan seluruh kompleksitas emosinya. Beberapa langkah praktis berikut bisa membantu pemimpin jadi lebih empatik dan efektif dalam jangka panjang.

Melatih Active Listening (Mendengar yang Aktif)

Active listening lebih dari sekadar mendengar kata-kata; ini soal hadir secara mental dan emosional saat orang bicara. Praktiknya simpel: jangan memotong, tahan reaksi defensif, ulangi inti pembicaraan untuk memastikan paham, dan beri respons yang relevan, bukan reaktif.

Pemimpin yang mendengar tanpa menghakimi membuat tim merasa aman—dan dari rasa aman itu, kepercayaan tumbuh. Dikutip dari Harvard Business Review, Five Steps to Identify the Right Emotional Response for Each Moment, mendengarkan adalah fondasi hubungan kerja yang sehat.

Mengelola Emosi Diri

Sulit memberi empati kalau emosi sendiri belum dikelola. Pemimpin yang gampang meledak atau memendam stres sering bereaksi berlebihan. Mulai dari hal kecil: kenali pemicu emosi, ambil jeda sebelum merespons, dan jujur saat sedang kewalahan. Mengelola emosi bukan berarti pura-pura “kuat”, tapi menyadari dan menyalurkan perasaan dengan sehat—ini membantu respons yang lebih bijak dan konstruktif.

Self-Awareness sebagai Pondasi

Sadar diri (self-awareness) bikin pemimpin lebih peka terhadap dampak kata dan tindakan mereka. Pemimpin yang tahu kekuatan dan blind spot-nya cenderung lebih otentik dan efektif. Dengan awareness, kamu bisa bertanya: “Apakah gaya komunikasi saya membuat orang merasa aman?” atau “Apakah keputusan ini adil?” Ada studi dari Gallup, Leadership authenticity starts with knowing yourself, menunjukkan bahwa self-awareness berkorelasi kuat dengan keterlibatan dan performa tim.

Biasakan Bertanya—Bukan Menghakimi

Pemimpin empatik memakai pertanyaan untuk membuka dialog. Daripada langsung menyalahkan—“Kenapa kamu enggak fokus?”—coba tanyakan, “Ada hal yang mengganggu fokusmu?” Pertanyaan membuka ruang solusi; penghakiman menutupnya. Kebiasaan kecil ini membantu memahami akar masalah, bukan cuma reaksi permukaan. Dalam artikel dari Harvard DCE, Building Empathetic Leadership, menyarankan gaya inquisitive (bertanya) untuk membangun budaya belajar dan perbaikan terus-menerus.

Konsistensi Antara Kata dan Tindakan

Empati bukan hanya niat—tetapi konsistensi antara ucapan dan tindakan. Jika pemimpin bilang “kami peduli”, tapi sering menunda janji atau tidak menepati aturan yang sama, kepercayaan akan terkikis. Menepati janji kecil, menghargai waktu tim, dan bersikap adil setiap hari adalah bentuk empati nyata yang membangun kepercayaan organisasi.

Memberi Ruang untuk Menjadi Manusiawi

Berikan ruang bagi tim untuk tidak selalu “on top”. Ada hari produktivitas turun; ada masanya seseorang butuh dukungan ekstra. Kepemimpinan empatik menyeimbangkan tuntutan hasil dengan penerimaan atas kondisi manusiawi—jadinya karyawan merasa cukup aman untuk jujur, cukup didukung untuk berkembang, dan cukup dihargai untuk bertahan. Pendekatan ini memperkuat keterlibatan dan inovasi dibanding memaksakan performa lewat tekanan.

Kepemimpinan Empatik: Cara Memimpin yang Tegas, tapi Manusiawi Read More
Bare Minimum Mondays di tempat kerja

Apa Itu Quiet Promotion? Kenali Tanda dan Cara Menghadapinya

Pernah enggak kamu datang ke kantor dengan jobdesk yang jelas, lalu perlahan berubah tanpa ada diskusi? Awalnya cuma “bantuin saja”, lalu jadi “pegang juga”, sampai akhirnya kamu yang disalahkan kalau ada masalah. Beban kerja naik, ekspektasi bertambah, tapi jabatan dan gaji tetap sama. Rasanya seperti diberi kunci mobil baru tapi harus isi bensin sendiri — itulah pintu masuk umum ke fenomena quiet promotion.

Baca Juga: Beban Pekerja Perempuan Generasi ‘Sandwich’ Berlapis

Kepercayaan? Atau kewajiban yang diselubungi?

Seringkali staf melihat perubahan tugas ini sebagai bukti kepercayaan dari atasan. Wajar — siapa yang enggak suka terlihat dipercaya? Masalah muncul ketika kepercayaan itu datang tanpa aturan: tak ada perubahan struktur, tak ada dokumen resmi, bahkan tak ada pembicaraan soal kompensasi. Semua berjalan diam-diam seolah normal dan harus diterima begitu saja.

Kenapa quiet promotion muncul sekarang?

Dunia kerja sekarang serba cepat dan menuntut efisiensi. Perusahaan ingin ramping, target ditekan, dan satu orang sering dipaksa memegang banyak peran. Di kondisi seperti ini quiet promotion jadi ‘solusi’ praktis: memindahkan tanggung jawab kepada staf tanpa menambah sumber daya atau kompensasi yang jelas.

Dampaknya — terlihat berkembang, tapi bisa berbahaya

Di atas kertas, kamu terlihat “naik level”. Namun di belakang layar banyak yang kelelahan. Tanggung jawab setara level senior diberikan tanpa dukungan setara. Bukan kebetulan jika quiet promotion sering berujung pada burnout—terutama bagi orang yang perfeksionis, loyal, atau susah bilang tidak. Awalnya manis, tapi kalau dibiarkan lama-lama bisa sangat merugikan.

Baca Juga: Burnout Sampai Jadi Robot di Kantor? Bisa Jadi Kamu ‘Office Zombie’

Apa itu quiet promotion?

Quiet promotion terjadi ketika tanggung jawab kerjamu bertambah signifikan—tugas lebih strategis, keputusan lebih besar—tetapi tidak disusul perubahan jabatan, gaji, atau benefit. Singkatnya: kamu “naik level” secara tugas, tapi tidak formal. Menurut artikel 5 Problems With “Quiet Promotions”—and 5 Ways to Avoid Them di Inc., fenomena ini biasanya muncul tanpa dokumentasi resmi dan seringkali bersifat permanen atau berkepanjangan.

Dibungkus pakai kata-kata manis

Perusahaan atau atasan sering membungkusnya dengan kata-kata positif: “ini kesempatan belajar”, “biar kamu siap naik level”, atau “anggap saja pengembangan karier”. Tapi tanpa kejelasan kompensasi dan struktur, yang semula terlihat sebagai investasi karier bisa berubah jadi beban—kamu bekerja lebih keras tapi pengakuan formal hilang. Artikel Leaders need to take responsibility and stop giving quiet promotions di Fast Company mengingatkan bahwa pola komunikasi dan janji tanpa follow-up inilah yang membuat karyawan terkadang terjebak.

Bedanya dengan promosi resmi

Perbedaan utama: pengakuan dan kompensasi. Promosi resmi jelas tercatat—title berubah, tanggung jawab tertulis, ada penyesuaian gaji/benefit, serta ekspektasi dua arah antara karyawan dan perusahaan. Sebaliknya, quiet promotion berjalan di wilayah abu-abu: kamu mungkin memimpin proyek besar atau tim, tapi secara struktur namamu tetap di posisi lama. Harvard Business Review dalam artikel When There’s Nowhere to Promote a Star Employee menjelaskan bahwa ketika organisasi tidak punya jalur karier yang jelas, manajemen kerap “memindahkan” tugas ke staf tanpa promosi formal—solusi jangka pendek yang berisiko bagi retensi dan kesejahteraan karyawan.

Baca Juga: Tanda-tanda Fase ‘Burnout’ Kerja yang Sering Diabaikan

Ciri-Ciri Quiet Promotion di Tempat Kerja

Quiet promotion hampir enggak pernah datang dengan pengumuman besar. Ia menyusup pelan, baru terasa ketika beban sudah menumpuk. Banyak orang baru ngeh setelah terlanjur capek. Di bawah ini tanda-tanda paling umum yang perlu kamu waspadai.

Beban kerja naik drastis

Tanda paling jelas: tugas yang dulu tersebar ke banyak orang tiba-tiba mengerucut ke kamu. Mulai dari minta “bantuin” sampai akhirnya kamu yang memegang seluruh proyek—padahal jobdesk resmi tak pernah diubah. Masih dari Inc, fenomena beban bertambah tanpa kompensasi ini sering disebut sebagai bentuk silent promotion yang bikin risiko burnout meningkat.

Kamu diminta bertindak setara level di atas

Kamu mulai diminta berpikir strategis, ambil keputusan besar, atau memimpin lintas divisi—padahal secara struktur masih di posisi lama. Organisasi yang flat atau tak punya jalur promosi sering “memindahkan” tugas senior ke staf tanpa title atau otoritas resmi. Ini situasi yang sering muncul ketika perusahaan bilang “kita enggak bisa promosi sekarang” padahal ekspektasi sudah setinggi level yang lebih tinggi.

Apresiasi hanya lewat kata-kata

Sering dipuji di meeting, jadi “orang andalan”, tapi saat bicarakan kenaikan gaji atau title, topiknya menguap. Pujian verbal itu menyenangkan—tapi enggak mengubah tagihan listrik atau jam tidurmu. Dikutip dari ZenHR Blog, Silent Promotion: Are You Doing More Without Getting Paid?, memperingatkan bahwa pujian tanpa tindakan nyata membuat perusahaan memetik hasil kerja tanpa memberi pengakuan yang setara.

Tak ada kejelasan status atau timeline

Saat kamu tanya, jawaban yang sering diberikan adalah: “lihat performa dulu”, “tunggu kondisi perusahaan”, atau “nanti kita bahas lagi.” Tanpa target waktu yang jelas, kamu terjebak di fase menggantung—selalu berusaha lebih, namun tak tahu sampai kapan harus sabar. Dikutip dari Chartered Accountants Worldwide, Say no to quiet promotion … Tips for protecting your career, menekankan pentingnya struktur dan kejelasan supaya fenomena ini tidak jadi kebiasaan.

Tugas tambahan datang tanpa diskusi

Tugas baru sering hadir sebagai instruksi, bukan hasil kesepakatan. Kamu jarang diajak bicara soal kapasitas, dampak pada pekerjaan lain, atau dukungan yang disediakan. Kurangnya dialog dua arah ini membuat beban kerja jadi asumsi sepihak—dan itu yang bikin loyalitas dieksploitasi.

Baca Juga: Stres Ibu Pekerja: Antara Ambisi, Tanggung Jawab, dan Kurangnya Dukungan

Cara Menghadapi Quiet Promotion dengan Sehat

Menghadapi quiet promotion enggak harus langsung meledak emosi atau resign. Lebih aman kalau kamu bertindak sadar, strategis, dan tetap jaga kesehatan mental. Berikut langkah-langkah praktis yang bisa langsung dipakai.

  1. Sadari nilai dan peranmu

Langkah pertama: kenali kontribusi nyata yang kamu beri. Kalau tugas dan keputusanmu sudah setara level atas, perlakukan kontribusimu sebagai nilai yang bisa diukur — bukan sekadar “kerja tambahan” yang pantas diabaikan. Refleksi ini penting sebelum kamu mulai negosiasi atau dokumentasi.

  1. Ajukan diskusi terbuka dengan atasan — pakai data, bukan emosi

Bicarakan perubahan peran secara profesional. Pilih waktu yang tepat, bawakan fakta: daftar tugas baru, proyek yang kamu pimpin, dan dampaknya pada tim/perusahaan. Jangan lupa jelaskan apa yang kamu minta: title, kenaikan gaji, atau timeline evaluasi. Dalam artikel Forbes, How To Ask For A Promotion In The Most Compelling And Convincing Way, menekankan pentingnya membingkai permintaan sebagai keuntungan bagi organisasi, bukan semata soal kebutuhan personal.

  1. Dokumentasikan semua pekerjaan tambahan

Simpan catatan konkret: proyek, keputusan penting, metrik hasil, dan testimoni singkat dari rekan/klien. Dokumen ringkas ini — sering disebut “brag document” atau accomplishment log — jadi bukti objektif saat negosiasi.

  1. Evaluasi dampaknya pada kesehatan mental

Perhatikan tanda-tanda kelelahan: energi menipis, sulit fokus, sinisme, atau produktivitas turun. Dikutip dari WHO, burn-out as an occupational phenomenon, burnout adalah fenomena kerja yang nyata — bukan sekadar lelah biasa — dan sudah diakui sebagai isu pekerjaan oleh badan kesehatan internasional.

Apa Itu Quiet Promotion? Kenali Tanda dan Cara Menghadapinya Read More
rekan kerja di kantor

10 Hal yang Tidak Boleh Kamu Katakan Terhadap Rekan Kerja di Kantor

Menjaga relasi profesional di kantor memang gampang-gampang susah ketika dijalankan. Ada saja tantangan bahkan hambatan yang kita hadapi di kantor apalagi  kaitannya dengan rekan kerja di kantor. Mungkin ini pengalaman pertamamu bekerja, dan kamu bingung apa yang perlu kamu lakukan agar tetap profesional. Atau mungkin saja ini kantor keduamu setelah resign dari kantor lama yang super toksik. 

Perusahaan Inklusif serta Ramah Perempuan

Semua orang pasti mendambakan punya kantor yang ideal, di mana perusahaan menghormati hak-hak pekerjanya serta memiliki peraturan penanganan kekerasan seksual. Tapi, tentu saja enggak semua perusahaan bisa ideal seperti itu. 

Baca Juga: Berkaca dari Australia: Cara Menangani Pelecehan Seksual di Tempat Kerja

Berkaitan dengan kantor yang ideal, ini juga berhubungan dengan rekan kerjamu. Sia-sia juga punya kantor yang ideal, namun rekan kerjanya nyebelin, bahkan toksik.  Karena itu, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan waktu berinteraksi dengan rekan kerja.

Nah sebelum lanjut membaca tips dari kami, kamu juga bisa mampir ke salah satu podcast How Women Lead untuk mengetahui sejauh mana sih, perusahaan Indonesia menciptakan ruang yang inklusif untuk pekerjanya. 

Berikut ini beberapa hal yang jangan kamu katakan ke rekan kerjamu agar kehidupan kerjamu bisa damai. 

1. Rahasiakan Akun Media Sosial Kepada Rekan Kerja

Ini adalah hal pertama yang perlu kamu lakukan di kantor barumu. Please, jangan langsung bagikan akun sosial pribadi kamu ke rekan kerja. 

Loh, memang kenapa? Iya sih betul ada fitur Close Friend di Instagram, dan akun Twitter bisa digembok. Tapi, kami tetap menyarankan kamu untuk tidak melakukan hal tersebut. Media sosialmu adalah wilayah pribadi kamu, yang mending enggak kamu umbar-umbar dengan rekan kerja. 

2. Tidak Perlu Bawa-Bawa Pandangan Politik

Ini adalah hal klasik, tetapi sangat vital dalam menjaga relasi profesional. Kalian pasti punya satu atau dua orang teman yang ngomongin soal pandangan politik, lalu akhirnya berantem sendiri. Enggak cuma bikin geleng-geleng kepala, ini juga membuang-buang waktu dan tenaga. Alih-alih mendapat info dengan bertukar pendapat, eh ujung-ujungnya debat kusir enggak karuan. 

Baca Juga: Kebijakan SDM yang Lebih Inklusif Dorong Keberagaman di Tempat Kerja

Boleh-boleh saja membicarakan politik. Tetapi, jangan sampai pandangan politik yang berbeda malah bikin kalian berantem dan berakibat pada kinerja tim yang turun. 

3. Dilarang Bertanya Jumlah Gaji Rekanmu

Kamu orangnya kepo atau ingin tahu banget? Ya jangan sampai bertanya soal gaji saja.

Memang sih, di titik tertentu obrolan soal gaji sesama pekerja ini bisa membuka mata kita juga soal kesenjangan upah antargender. Tapi kalau sebenarnya di kantormu enggak ada isu itu, obrolan soal gaji rekan kerja malah bisa memicu pertengkaran di antara kalian sendiri.  

Selain enggak sopan, pertanyaan ini juga supersensitif. Lagipula, buat apa juga kamu tahu gaji rekan kerjamu? Lebih baik fokus saja bagaimana cara mengembangkan kariermu agar kamu juga bisa mendapat kenaikan gaji. 

4. Stop Melempar Lelucon Seksis

Kamu suka ngelawak tetapi leluconmu malah bikin risi rekan kerja perempuan? Yuk, mulai berhenti melemparkan lelucon seksis. Lelucon seksis merupakan sebuah lelucon yang merendahkan gender tertentu.

Tidak hanya lelucon saja, kadang-kadang di grup kantor ada saja yang melempar stiker Whatsapp atau konten seksual yang bikin  kita risi. Bukannya dianggap lucu, kamu malah bisa dianggap sebagai orang yang super nyebelin dan enggak sensitif sama rekan kerja. 

5. Jangan Bertanya Umur Rekan Kerjamu

Pertanyaan soal umur ini bagi sebagian orang juga sangat sensitif. Pakar-pakar SDM mengatakan bahwa sebagai pekerja, sebaiknya kamu menghindari bertanya soal ini kepada rekan kerjamu. 

Baca Juga: 7 Rekomendasi Buku Motivasi untuk Perempuan Pekerja

Dia mungkin saja berpikir kamu sedang mempertanyakan otoritas atau kemampuannya, bahkan yang lebih buruk lagi ia menganggap kamu mendiskriminasi orang berdasarkan umur. 

6. Jangan Curhat Soal Hubungan Personal dengan Rekan Kerja

Hal lainnya yang enggak perlu kamu umbar ke rekan kerja adalah hubungan personal, entah itu dengan pacar, istri, suami, atau keluarga. Bisa jadi, dari curhatan itu malah tersebar informasi-informasi yang sebetulnya enggak mau kamu bagikan atau yang keliru ke orang banyak.

Jarang sekali curhatan soal hubungan personal berpengaruh baik terhadap citra profesionalmu atau mempererat hubungan antar pekerja di kantor. Jadi, sebaiknya kamu simpan saja hal itu untuk diri sendiri.

7. Jangan Memulai Kalimat dengan Kata “Kayaknya” Saat Berbicara dengan Rekan Kerja  

Nah, hal ini sering kita enggak sadari ketika kita menjawab pertanyaan dari rekan kerja. Ya untuk situasi-situasi tertentu boleh saja menggunakan kata ‘kayaknya’, tetapi hanya  jika kamu benar-benar enggak terlalu yakin. 

Baca Juga: 4 Cara Hadapi ‘Mansplaining’ dan Interupsi dari Rekan Kerja

Ketika kamu menggunakan kata ‘kayaknya’, kamu bakal terlihat plin-plan atau enggak yakin di depan teman kerjamu. Akan lebih baik  kamu berbicara secara langsung dan straight to the point.

8. Jangan Menyebarkan Rumor dan Gosip dengan Rekan Kerja

Kamu mau memiliki banyak teman di kantor? Jangan menggunakan gosip buat mewujudkan hal itu. Selain itu perbuatan yang buruk, kamu bisa saja mencelakai rekan kerja yang kamu gosipkan. Belum lagi itu bisa berdampak pada kesehatan mental temanmu. Duh, pokoknya jangan. 

Jika kamu berkomentar negatif apalagi sampai menyebarkan gosip ke rekan kerjamu, kamu malah bakal dicap enggak baik atau lebih buruk dari orang yang kamu gosipkan. 

9. Dilarang Melakukan Kekerasan Seksual di Kantor

Baik laki-laki atau pun perempuan bisa berpotensi menjadi pelaku kekerasan seksual. Saat bicara tentang kekerasan seksual, bukan berarti bentuknya hanya yang melibatkan kontak fisik saja, loh.

Sebelum ini kita sudah membahas soal lelucon seksis. Ini termasuk bentuk pelecehan seksual verbal yang menjadi bagian kekerasan seksual juga. Selain lelucon seksis, pelecehan seksual bisa berupa cat call atau komentar terhadap tubuh dan penampilan rekan kerja hingga mengarah ke hal mesum.

Baca Juga: Kerja Jarak Jauh Kian Populer, Tapi Potensi Stres Saat Melakukannya Juga Besar

Nah, ketika kita melanggengkan pelecehan seksual, kita sebenarnya juga sudah melanggengkan budaya pemerkosaan.

Penting buat kita untuk menyadari jamaknya hal ini di kantor. Selain memulai dari diri sendiri untuk enggak melakukan hal itu, kita pun harus selalu mengingatkan atau mencegah rekan kerja kita agar tidak melakukannya. 

10. Jangan Bertanya Soal Lowongan Kerja  

Kamu mau resign tetapi masih bingung belum mendapat pekerjaan baru? Sementok-mentoknya dirimu, please jangan bertanya soal lowongan tempat kerja lain kepada rekan kerjamu. Hal ini bisa banget membuat hubungan profesional kalian merenggang, dan bikin kinerja tim enggak maksimal. 

10 Hal yang Tidak Boleh Kamu Katakan Terhadap Rekan Kerja di Kantor Read More