Kerja Satu Kurang, Kerja Banyak Meriang: Kenapa ‘Polyworking’ Dianggap ‘New Normal’
Belakangan ini, istilah polyworking makin sering terdengar, terutama di kalangan Generasi Z dan Milenial. Tren ini muncul seiring berkembangnya teknologi digital dan sistem kerja yang semakin fleksibel. Bekerja tidak lagi harus terikat pada satu kantor, satu jam kerja, atau satu kontrak.
Masih banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya polyworking itu, dan mengapa makin banyak anak muda memilih menjalaninya. Secara sederhana, polyworking merujuk pada praktik menjalani lebih dari satu pekerjaan aktif dalam waktu bersamaan, bahkan bisa beberapa pekerjaan penuh waktu sekaligus, dengan tujuan menjaga pendapatan tetap stabil dan mencukupi.
Polyworking berbeda dengan side hustle. Jika side hustle kerap dijalani untuk menyalurkan minat atau hobi dengan pendapatan tambahan, polyworking menjadikan kerja ganda sebagai strategi utama bertahan hidup. Pelakunya tidak terpaku pada satu perusahaan dan lebih terbuka mencari peluang kerja di berbagai tempat. Bagi mereka, loyalitas pada satu kantor bukan lagi prioritas utama. Yang lebih penting adalah penghasilan aman dan masa depan lebih terjamin.
Baca Juga: #MerekaJugaPekerja: Bekerja 100 Jam Per Minggu tapi Tak Dianggap Produktif
Dari Fleksibilitas ke Strategi Bertahan Hidup
Pilihan menjalani polyworking bukan semata soal ambisi. Banyak anak muda melakukannya sebagai bentuk adaptasi terhadap dunia kerja yang kian tidak pasti. Tren ini semakin menguat setelah pandemi Covid-19 mengguncang pasar kerja global. Banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja, kondisi ekonomi goyah, dan persaingan lowongan kerja makin ketat.
Generasi Z menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak, karena banyak dari mereka baru lulus atau baru memasuki dunia kerja saat pandemi melanda. Dalam situasi seperti itu, mengandalkan satu pekerjaan terasa berisiko. Polyworking kemudian dipandang sebagai pilihan yang masuk akal: Lebih fleksibel, membuka lebih banyak peluang, dan memungkinkan penghasilan datang dari berbagai arah.
Dalam praktiknya, pelaku polyworking bisa merangkap berbagai profesi, mulai dari dosen paruh waktu, penulis, koreografer, hingga pekerja korporat. Salah satu contohnya adalah Gianluca Russo, Gen Z asal Amerika Serikat, yang bekerja penuh waktu di LinkedIn, sekaligus menjadi koreografer tari dan instruktur sepeda.
Menurutnya, memiliki lebih dari satu pekerjaan kini sudah menjadi hal yang normal. “Kebebasan finansial dari polyworking itu luar biasa manfaatnya,” ujarnya kepada Harper’s Bazaar. Russo juga menilai dunia kerja saat ini sangat berbeda dengan generasi orang tuanya yang bisa bertahan puluhan tahun di satu perusahaan. “Sekarang, ‘pekerjaan impian’ yang baru sebenarnya adalah keseimbangan antara pekerjaan korporat dan pekerjaan sampingan,” katanya.
Baca Juga: Nasib ‘Host Live Shopping’: ‘Live’ Berjam-jam dan Hak Seperti Buruh Magang
Biaya Hidup Naik, Jam Kerja Ikut Panjang
Selain ketidakpastian kerja, biaya hidup yang terus meningkat ikut mendorong tren ini. Dikutip dari Kompas.id, Germaine, 25 tahun, pekerja Gen Z asal Singapura, menjalani dua pekerjaan penuh waktu di perusahaan daring dan layanan digital untuk membiayai kuliah sekaligus meningkatkan kualitas hidup.
“Bekerja di dua pekerjaan membantu saya mewujudkannya. Ke depannya, dengan gelar yang saya punya, saya bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik,” katanya.
Data dari Harper’s Bazaar menunjukkan tren polyworking cukup signifikan. Sekitar 33 persen pekerja mengerjakan empat pekerjaan atau lebih. Di kalangan Milenial, 52 persen bekerja dengan lebih dari satu pekerjaan. Sementara di kalangan Gen Z, 47 persen memiliki tiga pekerjaan atau lebih. Angka ini terus meningkat dari waktu ke waktu.
Bagi banyak pelakunya, polyworking dianggap sepadan. Masih mengutip Harper’s Bazaar, 58 persen responden menyatakan akan terus bekerja di beberapa pekerjaan sekaligus dan tidak melihat kerugian besar dari gaya kerja ini. Rasa lelah dianggap terbayar oleh rasa aman menghadapi masa depan, peluang karier yang lebih luas, dan penghasilan yang lebih stabil.
Kini, polyworking bukan lagi sekadar tren sementara, melainkan bentuk adaptasi terhadap dunia kerja modern. Di tengah biaya hidup yang mahal dan ketidakpastian ekonomi, satu pekerjaan sering kali tidak cukup. Maka, bekerja di banyak tempat menjadi strategi bertahan hidup—bukan sekadar ambisi.
Ilustrasi oleh Karina Tungari
Read More
