FTW Media Episode 12

Menjadi Konsumen Media yang Berdaya

Enggak terasa FTW Media sudah sampai episode terakhir aja, nih. Dari perjalanan kami mengupas representasi perempuan di media, ternyata masih banyak di antaranya yang nggak sensitif gender dalam pemberitaannya. 

Masalahnya beragam banget, mulai dari seksisme, seksualisasi, stereotipe, hingga yang suara perempuan yang masih minim terwakilkan di media. Memang sih, saat ini sudah ada beberapa perubahan dengan inisiatif menarik seperti Womenunlimited.id, sebuah database berisi narasumber peeempuan di berbagai sektor. Dalam iklan kita juha bisa melihat kampanye suami sejati dari kecap ABC, dan lain-lain. 

Tapi perubahan kayak gini nggak akan menjamur kalau konsumen kayak kita juga enggak mendukungnya. Kita bisa lho, mendorong produsen atau media untuk menggambarkan gender dengan lebih fair.

Yuk simak episode terakhir FTW Media ini! 

Nah, kamu punya komentar, masukan atau pertanyaan terkait bahasan ini? Kamu bisa sampaikan melalui [email protected] atau bisa melalui pesan di media sosial kami ya!

Read More
Representasi Perempuan dalam Media Masa

5 Hal yang Tidak Media Massa Katakan Soal Representasi Perempuan

Bagi kamu angkatan 90-an pasti sangat akrab dengan film horor Si Manis Jembatan Ancol yang sering ditayangkan di televisi pada siang hari, atau film-film trio Warkop—Dono, Kasino, Indro (DKI)—yang mengundang tawa kita dulu. Saat itu, tidak terpikir ada sesuatu yang tidak beres dalam film itu. Tapi setelah dilihat lagi, boleh dibilang bahwa penggambaran perempuan di dalam media tersebut adalah buruk.   

Podcast Indonesia Membahas Representasi Perempuan dalam Media Massa

Warkop DKI sering mengkritik rezim Orde Baru dalam lawakannya di panggung atau media lain. Namun sebagian besar film mereka melakukan objektifikasi dan seksualisasi perempuan. “Tradisi” itu dilestarikan oleh versi remake film-film trio tersebut, yakni Warkop DKI Reborn. 

Baca Juga: Sumur, Dapur, Kasur Potret Perempuan dalam Iklan

Tak hanya Warkop, media massa secara umum masih menggambarkan perempuan secara stereotip, diskriminatif, seksis, hingga misoginis. Hal ini dibahas dalam salah satu podcast Indonesia berjudul FTW Media, yang pada setiap episodenya mengeksplorasi bagaimana media massa saat ini merepresentasikan perempuan. 

Masyarakat pada umumnya mungkin juga belum menyadari betapa pentingnya representasi perempuan yang baik di media massa. Berikut ini beberapa hal yang perlu kamu ketahui soal representasi perempuan di beberapa media massa. 

1. Pemberitaan Media Penuh Stereotip dan Kurangnya Representasi Perempuan 

“Guru Cantik Sukses Viral di Sosmed”

“Hakim cantik ini Berhasil Memenangkan Kasus Besar”

“10  Ilmuwan Cantik ini Bikin Kamu Gagal Fokus”

Judul-judul berita seperti itu masih sering ditemukan di media, di mana perempuan lebih sering ditonjolkan penampilan fisiknya ketimbang prestasinya. Belum lagi gaya pemberitaan sensasional yang lagi-lagi melakukan objektifikasi dan seksualisasi pada perempuan, bahkan yang sudah mati sekalipun “Ditemukan Mayat Cantik”). 

Baca Juga: Tidak Pede Jadi Pemimpin? Simak Podcast Indonesia ini

Dari segi representasi, masih sedikit narasumber perempuan yang dikutip oleh media. Sebuah penelitian oleh Tempo Institute dan Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT) menemukan bahwa dari 22.900 narasumber yang dikutip sebuah media, hanya 2.525 atau 11 persen di antaranya adalah perempuan.

Padahal, perempuan pakar tidak kurang jumlahnya, dan mereka pantas mendapatkan panggung yang sama dengan laki-laki.   

2. Efek Kamera yang Mempercantik Perempuan Secara Instan

Kamu ingin wajah seperti artis-artis Korea? Cantik, imut, dengan kulit glowing? Itu bisa kita dapatkan dengan instan lewat aplikasi kamera dan filter kecantikan. Kamu bisa mengubah wajahmu menjadi lebih putih, tanpa kerutan, dengan hidung mancung tanpa oplas. Tapi tahu enggak sih, filter-filter ini walaupun tidak membahayakan, tapi berdampak negatif terhadap pandangan kita pada standar kecantikan.

Standar kecantikan seharusnya beragam, tapi media hanya menggambarkan standar kecantikan tunggal dan kolonial dengan kulit putih, rambut panjang, dan tubuh langsing. Hal ini membuat banyak perempuan tidak percaya diri dengan fisiknya, dan inilah yang mendorong mereka menggunakan filter kamera agar mereka bisa memenuhi standar tersebut. 

3. Lagu-lagu Cinta yang Sebetulnya Toksik

“Kamu di mana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa? “ 

Lagu “Yolanda” dari Kangen Band itu sempat populer karena musiknya enak buat joget dan liriknya catchy dan bucin. Tapi kalau kita dengar kembali dan pahami baik-baik, kok malah memperlihatkan hubungan yang toksik ya? 

Lagu-lagu cinta pada umumnya berkutat pada hubungan posesif dan stereotip terhadap perempuan. Bahkan ada juga yang terang-terangan mempromosikan kekerasan seksual terhadap perempuan. Kalau terus-terusan dibiarkan, hal ini dapat menormalisasi hubungan yang tidak sehat dan toksik sebagai cinta sejati dan romantis. 

4. Iklan-iklan di Media Massa Melanggengkan Stereotip Soal Perempuan 

Kalau kita lihat iklan-iklan sabun pembersih pakaian dan bumbu dapur, apa yang bisa kita tarik benang merahnya dari semua iklan itu? Perempuan selalu dipotret sebagai ibu yang mengurus rumah saja. Kalau pun ada laki-laki yang berperan sebagai ayah, mereka cuma dijadikan peran pendukung dan selalu berada di luar rumah.

Baca Juga: 12 Rekomendasi Podcast Spotify Indonesia 2021

Enggak cuma iklan produk rumah tangga saja sih yang seperti itu, iklan kendaraan bermotor masih saja menampilkan perempuan sebagai model padahal tidak relevan. Banyak sekali alasan yang digunakan untuk tetap melanggengkan iklan seperti ini, salah satunya, “Ini kan cuma iklan, buat narik pembeli.” 

5. Minimnya Representasi Perempuan yang Beragam dalam Film Indonesia 

Seperti yang sudah kita bicarakan di awal artikel ini, penggambaran karakter perempuan di film masih banyak yang bermasalah. Banyak film yang masih menggambarkan pemimpin perempuan super bossy dan judes, atau sangat nelangsa dalam kehidupan percintaannya. Seolah-olah perempuan yang memilih karier akan kandas rumah tangganya. 

Hal ini akan ikut melanggengkan stereotip negatif dan stigma perempuan pekerja. Masyarakat pun akan semakin meragukan profesionalitas perempuan ketika menjadi pemimpin.

Read More