tanda perusahaan ramah terhadap pekerja perempuan

Perempuan Breadwinner: Tantangan Jadi Pencari Nafkah Utama dalam Keluarga

Peran sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga selama ini identik dengan laki-laki. Namun, perubahan kondisi ekonomi, meningkatnya partisipasi perempuan di dunia kerja, serta dinamika dalam rumah tangga membuat semakin banyak perempuan mengambil peran tersebut. Mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan diri sendiri, tetapi juga menjadi penopang ekonomi bagi pasangan, anak, maupun anggota keluarga lainnya.

Fenomena ini bukan lagi kasus yang jarang ditemui. Mengutip Diajeng , Perempuan Breadwinner: Tantangan Nyata dan Cara Mengelolanya, yang merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa 14,37 persen pekerja di Indonesia termasuk dalam kategori female breadwinner.

Peran ini paling banyak dijalani oleh istri, disusul perempuan yang menjadi kepala rumah tangga, kemudian anak perempuan atau anggota keluarga lain yang turut menopang ekonomi keluarga.

Female breadwinner merujuk pada perempuan yang menjadi sumber penghasilan utama dalam keluarga, baik karena pendapatannya lebih besar, menjadi orang tua tunggal, maupun berdasarkan pembagian peran yang disepakati. 

Meski semakin umum, perubahan tersebut belum selalu diikuti perubahan cara pandang masyarakat. Dalam laporan UN Women, Progress on the Sustainable Development Goals: The Gender Snapshot 2024, disebutkan bahwa perempuan masih menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan yang tidak dibayar dibandingkan laki-laki. Kondisi ini membuat banyak perempuan tetap memikul tanggung jawab rumah tangga meski juga menjadi pencari nafkah utama.

Akibatnya, perempuan breadwinner sering menghadapi tekanan berlapis. Mereka dituntut menjaga stabilitas ekonomi keluarga sekaligus memenuhi ekspektasi terhadap peran domestik. Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi finansial, tetapi juga menyangkut pembagian peran, relasi dalam keluarga, dan kesehatan mental.

Baca Juga: Gara-gara Stigma Janda Media, Ibu Tunggal Sulit Berkarier

Tantangan Menjadi Perempuan Breadwinner

Menjadi pencari nafkah utama tidak hanya berarti memiliki tanggung jawab finansial yang lebih besar. Banyak perempuan juga harus menghadapi tekanan sosial, beban pengasuhan, dan bias gender yang masih melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Tekanan Sosial dan Ekspektasi Gender

Meski jumlah perempuan breadwinner terus meningkat, anggapan bahwa laki-laki adalah pencari nafkah utama masih kuat. Akibatnya, tidak sedikit perempuan menghadapi komentar atau pertanyaan yang mempertanyakan perannya, baik dari lingkungan sekitar maupun keluarga besar.

Laporan UN Women, Progress on the Sustainable Development Goals: The Gender Snapshot 2024, menunjukkan bahwa norma sosial masih menjadi salah satu hambatan dalam mewujudkan kesetaraan gender, termasuk dalam pembagian peran di rumah dan dunia kerja.

Double Burden dan Bias Gender

Selain menjadi pencari nafkah utama, banyak perempuan tetap memikul sebagian besar pekerjaan domestik dan pengasuhan. Kondisi yang dikenal sebagai double burden ini membuat mereka harus menjalani dua peran sekaligus dalam waktu yang bersamaan. 

International Labour Organization (ILO) dalam laporan Care at Work: Investing in Care Leave and Services for a More Gender Equal World of Work juga menyoroti bahwa tanggung jawab pengasuhan yang belum terbagi secara setara masih menjadi tantangan bagi perempuan di dunia kerja.

Di sisi lain, bias gender juga masih kerap muncul. Perempuan yang sukses secara finansial terkadang dianggap menyimpang dari peran tradisional, sementara laki-laki yang bukan pencari nafkah utama justru menghadapi stigma sosial. Situasi tersebut dapat memengaruhi dinamika hubungan jika tidak diimbangi komunikasi dan pembagian tanggung jawab yang setara.

Baca Juga: Tersandera ‘Glass Cliff’, Perempuan Pekerja Sulit Berkembang

Dampak Menjadi Perempuan Breadwinner terhadap Kesejahteraan dan Kesehatan Mental

Menjadi pencari nafkah utama dapat memberikan rasa percaya diri dan kemandirian finansial. Namun, ketika tanggung jawab ekonomi berjalan bersamaan dengan tuntutan domestik dan tekanan sosial, perempuan juga berisiko mengalami kelelahan fisik maupun emosional.

American Psychological Association (APA) dalam artikel Stress Effects on the Body menjelaskan bahwa stres yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental, mulai dari gangguan tidur hingga kesulitan berkonsentrasi. Risiko tersebut meningkat ketika seseorang menghadapi berbagai tuntutan dalam waktu yang bersamaan.

Laporan ILO, Care at Work: Investing in Care Leave and Services for a More Gender Equal World of Work, juga menunjukkan bahwa perempuan masih menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan pengasuhan yang tidak dibayar dibandingkan laki-laki. Ketimpangan ini membuat banyak perempuan harus tetap mengerjakan pekerjaan pengasuhan dan pekerjaan domestik setelah menyelesaikan pekerjaan formal.

Masih dari Diajeng, perubahan peran ekonomi dalam keluarga juga disebut dapat memunculkan tekanan emosional apabila masih dibayangi ekspektasi tradisional mengenai siapa yang seharusnya menjadi pencari nafkah utama.

Meski demikian, besarnya pendapatan bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kesejahteraan keluarga. Dukungan pasangan, pembagian peran yang adil, dan komunikasi yang terbuka berperan penting agar perempuan dapat menjalani perannya tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Baca Juga: Apa Hukum Perempuan Bekerja di dalam Islam?

Cara Menjalani Peran sebagai Perempuan Breadwinner dengan Lebih Sehat

Menjalani peran sebagai breadwinner tidak berarti harus menanggung seluruh beban sendirian. Sejumlah pakar menilai bahwa komunikasi, pembagian tanggung jawab, dan dukungan sosial merupakan kunci agar peran tersebut dapat dijalani secara berkelanjutan.

Bangun Komunikasi dan Pembagian Peran yang Setara

Komunikasi yang terbuka mengenai kondisi keuangan, pembagian pekerjaan rumah, hingga kebutuhan emosional membantu pasangan membangun pemahaman bersama. Masih dari Diajeng, komunikasi yang jujur disebut sebagai salah satu cara mengurangi konflik akibat perubahan peran dalam keluarga.

Prinsip tersebut juga sejalan dengan laporan ILO, Care at Work: Investing in Care Leave and Services for a More Gender Equal World of Work, yang menekankan pentingnya pembagian tanggung jawab pengasuhan agar perempuan tidak terus menanggung beban ganda.

Jaga Kesehatan Diri dan Bangun Sistem Dukungan

Di tengah kesibukan bekerja dan mengurus keluarga, menyediakan waktu untuk beristirahat, berolahraga, atau melakukan aktivitas yang disukai merupakan bagian dari menjaga kesehatan. APA melalui artikel Stress Effects on the Body menjelaskan bahwa mengelola stres menjadi langkah penting untuk mencegah dampak negatif terhadap kesehatan fisik maupun psikologis.

Selain itu, dukungan dari pasangan, keluarga, teman, atau komunitas dapat membantu mengurangi beban yang dirasakan. Menerima bantuan bukan berarti kurang mandiri, melainkan bagian dari membangun sistem yang memungkinkan seluruh anggota keluarga berbagi tanggung jawab secara lebih adil.

Menjadi Breadwinner Bukan Berarti Menanggung Semuanya Sendiri

Semakin banyak perempuan di Indonesia menjadi pencari nafkah utama keluarga. Perubahan ini menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi rumah tangga tidak lagi ditentukan oleh pembagian peran tradisional, melainkan oleh kemampuan setiap anggota keluarga untuk saling mendukung. Ketika komunikasi berjalan terbuka, tanggung jawab dibagi secara setara, dan perempuan memiliki ruang untuk menjaga kesejahteraan dirinya, peran sebagai breadwinner dapat dijalani tanpa harus mengorbankan kesehatan mental maupun kualitas hubungan dalam keluarga.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Perempuan Breadwinner: Tantangan Jadi Pencari Nafkah Utama dalam Keluarga Read More

Islam Menjawab: Bekerja adalah Hak Semua Bangsa Termasuk Perempuan

Laki-laki memang selalu dianggap sebagai pencari nafkah utama. Pandangan agama dan sosial selalu menomorsatukan laki-laki dalam bekerja. Karena itu perempuan yang bekerja sering dibilang tak pantas untuk mencari nafkah, orang-orang bilang bahwa ini bukanlah hak dan tanggung jawab seorang perempuan.

“Dalam banyak ayat-ayat alquran, bahwa islam itu memandang perempuan sama dengan laki-laki. Al-Qur’an turun pada masyarakat2 patriarki dan penafsirnya patriarki, maka tak heran jika penafsirannya masih patriarkis,” ujar K.H. Jamaluddin Mohammad, Peneliti Senior Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB).

Di sepanjang bulan Agustus hingga September 2020, Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) bersama dengan Investing in Women melakukan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di empat wilayah urban, Bandung, Bekasi, Depok dan Jakarta. Bertujuan untuk melihat bagaimana penerimaan perempuan bekerja yang terdapat di masing-masing wilayah.

Sampel yang dilakukan terdiri dari 600 responden yang dibagi menjadi 150 responden per lokasi wilayah. Dengan rentang umur dari 18 tahun hingga 40 tahun. Para responden ini juga dibagi menjadi tiga kelompok, tidak bekerja, bekerja dari rumah atau paruh waktu <35 jam per minggu dan bekerja di luar rumah atau paruh waktu >35 jam perminggu.

Baca juga: Kenapa Perempuan Dianggap Sebagai Pencari Nafkah Tambahan Saja?

Hasil survei pun disampaikan melalui Seminar Nasional dengan tajuk “Bagaimana Agama Menyapa Perempuan: Maqashid Syariah Lin Nisa sebagai Inovasi Pendekatan Keagamaan untuk Mendukung Perempuan Bekerja” pada Rabu, 29 Maret 2023, di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta. Seminar Nasional ini sekaligus memperingati Hari Perempuan Internasional.

Faktor yang Memengaruhi Penerimaan Perempuan Bekerja

Dari survei yang dilakukan Rumah KitaB ada beberapa faktor yang memengaruhi penerimaan perempuan bekerja. Ada faktor pendidikan, faktor ekonomi, faktor kemoderatan pandangan agama dan faktor sosialisasi atau interaksi sosial. Faktor-faktor ini diukur dengan menggunakan 11 variabel, di antaranya adalah pendapatan responden, pendapatan dan pengeluaran rumah tangga, dan jumlah investasi.

Untuk faktor pendidikan, perempuan dianggap memiliki pendidikan yang relatif baik dari laki-laki. Tapi capaian di Bekasi justru menunjukkan pendidikan laki-laki dan perempuan sama-sama rendah. Sedangkan untuk kondisi pendidikan yang lebih baik dipegang oleh Bandung dan Depok.

Faktor ekonomi juga menunjukkan bahwa kondisi perempuan lebih baik dibandingkan laki-laki. Kecuali di Bekasi, dimana menjadi lokasi dengan ekonomi terendah. Depok menjadi daerah yang memiliki faktor ekonomi terbaik.

Faktor kemoderatan pandangan agama yang dimaksud dalam survei ini diukur dari cara pandang responden terhadap sejumlah pertanyaan. Seperti pandangan agama responden terkait izin suami, kewajiban istri mengurus rumah tangga dan konsep kepala keluarga. Ditarik kesimpulan bahwa perempuan jauh lebih moderat dibandingkan laki-laki di keempat lokasi. Bekasi menunjukkan kondisi terendah, menandakan wilayah paling konservatif.

Baca juga: Perempuan di Simpang Jalan: Pilih Bekerja atau IRT?

Sedangkan untuk faktor sosialisasi atau interaksi sosial dihitung dengan indikator seberapa banyak perempuan bekerja di dalam keluarga inti, keluarga pasangan dan keluarga besar. Survei mengatakan bahwa perempuan lebih tersosialisasi tentang bekerja dibandingkan laki-laki di keempat lokasi.

Kriteria Pekerjaan Ideal bagi Laki-laki dan Perempuan

Laki-laki dan perempuan masing-masing pasti memiliki pemahaman yang berbeda tentang pekerjaan ideal. Mereka memiliki kriterianya masing-masing. Hal ini juga ditemukan melalui survei ini dimana responden laki-laki dan perempuan ditanya terkait isu tersebut.

Responden laki-laki lajang mengatakan bahwa pekerjaan ideal bagi mereka adalah lingkungan kerja yang aman dan nyaman, sesuai dengan pendidikan dan gaji tinggi. Laki-laki yang sudah berkeluarga menambah satu kriteria tambahan yang penting untuk dipertimbangkan, yaitu sesuai dengan ketentuan syariat agama. Mereka juga memandang pekerjaan ideal bagi perempuan baik lajang maupun berkeluarga dengan tiga kriteria. Lingkungan kerja aman dan nyaman, sesuai syariat dan tidak terlalu jauh dari rumah atau tempat tinggal. Ketiganya menjadi hal yang penting.

Pandangan yang diutarakan oleh responden perempuan juga hampir sama dengan para laki-laki tadi. Responden perempuan menambahkan fleksibilitas pekerjaan dan jam kerja menjadi faktor tambahan yang perempuan berkeluarga perlu pertimbangkan. Untuk perempuan lajang selain lingkungan kerja yang aman dan nyaman serta sesuai syariat atau agama, juga penting untuk sesuai dengan pendidikan.

Tapi bagi responden perempuan dan laki-laki, kesesuaian pendidikan dan gaji yang diterima tinggi bukanlah faktor penentu pekerjaan ideal bagi perempuan bekerja.

Hambatan yang Dilalui Perempuan untuk Bekerja

Perempuan yang bekerja sering dianggap tidak pantas apalagi ketika mereka sudah berkeluarga. Anggapan perempuan sebagai sumber fitnah sering dijadikan alasan utama. Padahal laki-laki dan perempuan berpotensi menjadi fitnah satu sama lain. Jadi tidak dapat menjadi landasan melarang perempuan untuk bekerja. Perempuan bukan sumber fitnah.

Apalagi untuk perempuan yang sudah berkeluarga pandangannya akan berbeda dibandingkan dengan perempuan lajang. Ada batasan-batasan yang mereka peroleh. Seperti pembatasan tergantung pada toleransi suami, mertua, dan orang tua. Semakin besar toleran dalam menerima perempuan bekerja, semakin besar adaptasi dalam menyetujui peran gender laki-laki atau suami dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak. Walaupun masih terbilang sulit untuk melibatkan laki-laki dalam urusan domestik.

Selain itu perempuan sering dianggap tidak pantas menjalani peran sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga meskipun ia menjadi satu-satunya pencari nafkah. Mereka selalu dianggap sebagai pencari nafkah tambahan walau jumlahnya lebih besar dari suami atau satu-satunya sumber penghasilan.

Baca juga: Perempuan Bukan Sumber Fitnah, Pentingnya Pahami ‘Mubadalah’

Perempuan berkeluarga dipandang tidak dapat diandalkan komitmen dan keterampilannya. Mereka pun selalu menjadi tenaga cadangan atau pilihan kedua di bawah laki-laki. Dianggap emosional karena tidak bisa membedakan peran sebagai ibu rumah tangga dan menjadi perempuan yang bekerja.

“Masalah budaya juga menjadi masalah utama menghambat perempuan bekerja ini. Mereka selalu ditanya untuk memilih kantor atau anak-anak. Pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan kepada laki-laki. Akibatnya kesempatan berkarier di posisi yang lebih tinggi sulit sekali bagi perempuan,” ujar Iim Fahima Jachja, Founder @queensridersindonesia, hadir dalam Seminar Nasional pada Rabu (29/3).

Juga ada dimensi kelas yang menjadi penghambat dari perempuan untuk bekerja tersebut. Selalu dilihat dari kelas mana mereka, menengah ke atas, menengah dan menengah ke bawah.

“Perempuan makin miskin makin bawah kelasnya, maka makin impossible buat mereka untuk bekerja. Tapi realitas perempuan menengah atas bekerja berbeda dengan perempuan menengah ke bawah, alasannya bukan karena faktor ekonomi tapi presentasi aktualisasi, dan juga lingkungan, ungkap Indrasari Tjandraningsih, Peneliti AKATIGA dan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan yang juga hadir dalam Seminar Nasional ini.

Kebanyakan perempuan yang ada di kelas rendah sering mendapat pekerjaan dengan upah rendah. Mereka juga rentan terhadap pelecehan seksual. Menurut Indrasari, kasus ini sering terjadi pada buruh pabrik. Banyak kasus yang membuat perempuan pekerja buruh pabrik ini ‘rela’ dilecehkan, ‘rela’ direndahkan hanya untuk tetap bekerja. Biasanya karena terlilit faktor ekonomi.

Meningkatkan Partisipasi Perempuan Pekerja

Perempuan menerima Amanah untuk hamil, melahirkan (peran reproduksi biologis), dan menanggung peran sosial untuk merawat dan mengasuh anak (reproduksi sosial). Al-Qur’an menyebutkan peran dan beban itu sangat berat dan berisiko (wahnan ‘ala wahnin). Oleh karena itu, perempuan harus mendapatkan dukungan dari pasangan, keluarga, masyarakat dan perusahaan perlindungan dalam menjalankan reproduksi biologis dan reproduksi sosialnya dengan mengakui keberadaan kedua beban atau peran itu.

Namun kedua peran itu tidak boleh menghalanginya untuk bekerja karena bekerja adalah haknya. Hal yang harus diupayakan adalah tersedianya jaminan keamanan dan kenyamanan berupa aturan atau Undang-undang yang dapat menjamin mereka dalam menjalankan kedua peran itu tanpa kehilangan haknya untuk bekerja.

Pada kenyataannya, bekerja bukan hanya soal kebutuhan ekonomi melainkan juga soal mengasah kemampuan yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Maka itu perlu banyak dukungan bagi perempuan untuk bekerja. Menyediakan sarana dan prasarana yang mumpuni juga baik dalam menunjang semangat mereka untuk bekerja.

Contohnya kebijakan yang mengharuskan tempat kerja atau perusahaan untuk memudahkan perempuan dan laki-laki untuk melakukan kerja pengasuhan ketika bekerja. Seperti adanya tempat penitipan anak di tempat kerja atau ruangan khusus untuk menyusui.

Selain itu mempermudah perempuan dalam mengakses transportasi agar bagi mereka para ibu bisa membawa anak ketika ingin bekerja. Ketersediaan dan transparansi informasi, seperti cuti haid dan cuti melahirkan. Mengangkat pengalaman perempuan sebagai latar belakang untuk dijadikan kebijakan. Hal-hal ini mengadvokasi hak perempuan dalam bekerja. Advokasi ini bisa meningkatkan partisipasi perempuan pekerja.

Sekarang juga sudah banyak tokoh agama dan public figure baik laki-laki maupun perempuan yang bersuara untuk mendukung perempuan bekerja. Media massa serta media sosial sudah mulai banyak menampilkan narasi-narasi positif terkait perempuan bekerja.

Islam Menjawab: Bekerja adalah Hak Semua Bangsa Termasuk Perempuan Read More