tips membuat cv yang benar

Career Gap di CV Bisa Jadi Red Flag?

Banyak orang merasa cemas ketika melihat ada jeda dalam riwayat pekerjaan di CV. Tidak sedikit yang khawatir career gap akan membuat rekruter mempertanyakan kompetensi atau komitmen mereka. Padahal, perjalanan karier setiap orang tidak selalu berjalan lurus. Ada fase ketika seseorang memutuskan berhenti bekerja untuk memulihkan diri dari burnout, melanjutkan pendidikan, mengurus keluarga, atau mengeksplorasi peluang baru.

Dalam beberapa tahun terakhir, cara pandang terhadap career gap mulai berubah. Semakin banyak perusahaan menilai kandidat tidak hanya dari lamanya pengalaman kerja, tetapi juga keterampilan dan pengalaman yang diperoleh di luar pekerjaan formal. LinkedIn Talent Solutions dalam artikel How to Explain Employment Gaps on Your Resume menjelaskan bahwa jeda karier bukan lagi hal yang otomatis menjadi penghalang dalam proses rekrutmen, selama kandidat dapat menjelaskan aktivitas dan nilai yang diperoleh selama periode tersebut.

Meski begitu, stigma terhadap career gap belum sepenuhnya hilang. Masih banyak pencari kerja yang merasa perlu “menutupi” jeda karier mereka karena khawatir dianggap kurang produktif. Kondisi inilah yang membuat topik career gap terus menjadi pembahasan, terutama di tengah perubahan dunia kerja yang semakin fleksibel.

Baca juga: ‘Mid-Career Burnout’: Saat Karier Terasa Mandek dan Pekerjaan Kehilangan Makna

Apa Itu Career Gap?

Career gap adalah periode ketika seseorang tidak bekerja dalam pekerjaan formal selama jangka waktu tertentu. Durasinya bisa berbeda-beda, mulai dari beberapa bulan hingga beberapa tahun, tergantung situasi yang dihadapi masing-masing individu.

Namun, career gap tidak selalu berarti seseorang berhenti berkembang. Banyak orang tetap mengembangkan keterampilan melalui kursus, sertifikasi, pekerjaan lepas (freelance), kegiatan sukarela (volunteering), atau membangun proyek pribadi. Karena itu, jeda karier tidak selalu identik dengan berhenti belajar atau kehilangan produktivitas.

Penjelasan serupa disampaikan Indeed Career Guide dalam artikel How To Explain Employment Gaps on Your Resume. Indeed menjelaskan bahwa employment gap dapat terjadi karena berbagai alasan, seperti melanjutkan pendidikan, mengurus keluarga, masalah kesehatan, hingga perubahan arah karier. Yang menjadi perhatian rekruter bukan hanya keberadaan jeda tersebut, tetapi bagaimana kandidat menjelaskan pengalaman selama masa itu secara jujur dan relevan.

Baca Juga: Kalau Kamu Lelah Bekerja, Ambil Jeda Jangan Berhenti

Penyebab Career Gap yang Paling Umum

Ada banyak alasan yang membuat seseorang memiliki career gap, dan sebagian besar merupakan bagian dari dinamika kehidupan maupun perubahan dunia kerja.

Salah satu penyebab yang cukup sering terjadi adalah kehilangan pekerjaan atau pemutusan hubungan kerja (PHK). Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, proses mencari pekerjaan baru dapat memerlukan waktu beberapa bulan. Selama periode tersebut, sebagian orang memilih meningkatkan keterampilan melalui pelatihan atau sertifikasi agar lebih siap menghadapi persaingan kerja.

Alasan lain yang juga banyak ditemui adalah kesehatan fisik maupun kesehatan mental. World Health Organization (WHO) melalui fakta Mental Health at Work menjelaskan bahwa lingkungan kerja yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, termasuk stres kronis dan burnout. Karena itu, sebagian pekerja memilih mengambil jeda karier sebagai bagian dari proses pemulihan sebelum kembali bekerja.

Selain faktor kesehatan, career gap juga dapat terjadi karena tanggung jawab keluarga. Ada yang memutuskan berhenti bekerja sementara untuk merawat anak, mendampingi anggota keluarga yang sakit, atau menjadi pengasuh utama di rumah. Kondisi seperti ini masih banyak dialami, terutama oleh perempuan yang sering menghadapi beban ganda antara pekerjaan dan tanggung jawab domestik.

Tidak sedikit pula yang sengaja mengambil career break untuk mengubah arah karier. Perkembangan teknologi membuat banyak profesi baru bermunculan, sehingga sebagian pekerja memanfaatkan masa jeda untuk mengikuti bootcamp, memperoleh sertifikasi, atau mempelajari keterampilan baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri.

Berbagai alasan tersebut menunjukkan bahwa career gap tidak selalu berkaitan dengan kurangnya kemampuan atau motivasi bekerja. Dalam banyak kasus, jeda karier justru menjadi periode ketika seseorang memperoleh pengalaman, keterampilan, atau perspektif baru yang dapat mendukung perjalanan karier berikutnya.

Baca Juga: Hey Hanging: Kebiasaan Chat yang Diam-diam Bikin Rekan Kerja Kesal

Mengapa Career Gap Masih Sering Dipandang Negatif?

Meski dunia kerja mulai berubah, career gap masih kerap dipersepsikan sebagai tanda kurang produktif. Salah satu penyebabnya adalah pandangan lama yang menganggap perjalanan karier ideal harus berlangsung tanpa jeda. Dalam pola pikir tersebut, seseorang diharapkan lulus pendidikan, bekerja secara berkelanjutan, lalu terus berkembang hingga mencapai jenjang karier tertentu.

Cara pandang ini membuat sebagian rekruter mempertanyakan alasan di balik jeda karier seorang kandidat. Pertanyaan yang muncul umumnya berkaitan dengan apakah kemampuan kandidat masih relevan, bagaimana mereka mengikuti perkembangan industri, atau apa yang dilakukan selama tidak bekerja. 

Indeed Career Guide dalam artikel How To Explain Employment Gaps on Your Resume menjelaskan bahwa employment gap merupakan hal yang umum dibahas dalam proses rekrutmen. Karena itu, kandidat disarankan menjelaskan jeda karier secara terbuka dan mengaitkannya dengan pengalaman maupun keterampilan yang diperoleh selama periode tersebut.

Selain proses rekrutmen, budaya kerja yang mengagungkan produktivitas juga memengaruhi cara masyarakat memandang career gap. Di media sosial, misalnya, pencapaian profesional seperti promosi jabatan, pekerjaan baru, atau proyek besar lebih sering terlihat dibanding cerita tentang seseorang yang mengambil jeda untuk belajar, memulihkan kesehatan, atau mengurus keluarga. Akibatnya, career gap masih sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan atau bahkan dipertahankan.

Padahal, perubahan kebutuhan industri membuat jalur karier semakin beragam. World Economic Forum dalam laporan The Future of Jobs Report 2025 menjelaskan bahwa perubahan teknologi dan transformasi dunia kerja meningkatkan kebutuhan terhadap reskilling dan upskilling. Kondisi tersebut membuat proses belajar tidak lagi selalu berlangsung di tempat kerja, tetapi juga dapat dilakukan melalui pelatihan, sertifikasi, maupun pengalaman di luar pekerjaan formal.

Baca Juga: 8 Tips Cara Membuat CV yang Menarik di Mata Perekrut

Cara Menjelaskan Career Gap di CV

Keberadaan career gap tidak selalu menjadi hambatan dalam proses rekrutmen apabila dijelaskan secara jelas dan relevan. Yang terpenting bukan hanya alasan mengapa seseorang berhenti bekerja, tetapi juga bagaimana mereka memanfaatkan periode tersebut.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menjelaskan career gap secara singkat dan profesional. Misalnya, kandidat dapat menyebutkan bahwa mereka mengambil career break untuk melanjutkan pendidikan, merawat anggota keluarga, memulihkan kesehatan, atau meningkatkan keterampilan melalui kursus dan sertifikasi. Penjelasan seperti ini membantu rekruter memahami konteks di balik jeda karier tanpa harus masuk ke ranah yang terlalu personal.

Selain alasan, aktivitas selama career gap juga sebaiknya dicantumkan dalam CV apabila relevan dengan posisi yang dilamar. Mengikuti pelatihan, mengerjakan proyek freelance, menjadi relawan, atau membangun portofolio pribadi dapat menunjukkan bahwa proses belajar tetap berlangsung meski tidak bekerja secara formal.

LinkedIn Talent Solutions dalam artikel How to Explain Employment Gaps on Your Resume menyarankan kandidat untuk menyoroti keterampilan, pengalaman, dan pencapaian yang diperoleh selama masa jeda. Pendekatan tersebut membantu rekruter melihat kompetensi yang dimiliki kandidat, bukan hanya fokus pada lamanya career gap.

Konsistensi juga menjadi hal yang penting. Informasi mengenai career gap sebaiknya selaras antara CV, profil LinkedIn, dan penjelasan saat wawancara kerja. Dengan begitu, kandidat dapat menunjukkan bahwa mereka mampu menjelaskan perjalanan kariernya secara terbuka dan percaya diri.

Baca Juga: Kerja Satu Kurang, Kerja Banyak Meriang: Kenapa ‘Polyworking’ Dianggap ‘New Normal’

Bisakah Career Gap Menjadi Nilai Tambah?

Perubahan dunia kerja membuat semakin banyak perusahaan mempertimbangkan kemampuan kandidat secara lebih menyeluruh, tidak hanya berdasarkan urutan pengalaman kerja di CV. Selain pengalaman profesional, keterampilan baru, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam proses rekrutmen.

Selama masa career gap, sebagian orang memanfaatkan waktunya untuk mengikuti pelatihan, memperoleh sertifikasi profesional, membangun portofolio, atau mengerjakan proyek independen. Pengalaman tersebut dapat menjadi bukti bahwa proses pengembangan diri tetap berlangsung meski berada di luar pekerjaan formal.

Pandangan serupa disampaikan Harvard Business Review dalam artikel Career Breaks Don’t Have to Derail Your Career. Artikel tersebut menjelaskan bahwa career break tidak selalu menghambat perkembangan karier, terutama apabila seseorang tetap menjaga keterampilan, memperluas jaringan profesional, dan mampu menjelaskan pengalaman yang diperoleh selama masa jeda.

Karena itu, career gap tidak selalu menjadi faktor yang menentukan diterima atau tidaknya seseorang dalam proses rekrutmen. Penjelasan yang jujur, pengalaman yang relevan, serta kemampuan menghubungkan keterampilan dengan kebutuhan pekerjaan sering kali menjadi pertimbangan yang lebih penting dibanding keberadaan jeda karier itu sendiri.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Career Gap di CV Bisa Jadi Red Flag? Read More
cara jitu membangun karier

‘Love-Hate Relationship’ dengan Pekerjaan, Haruskah Karyawan Bertahan?

Begitu menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah, rasanya hampir setiap orang dihadapkan dua pilihan: Bekerja sesuai passion atau mengejar gaji tinggi demi bayar tagihan. Tak sedikit yang memilih opsi kedua, katanya realistis.

Pernyataan ini juga didukung hasil survei Capital One pada 2017, sebagaimana dilansir dari Forbes. Sebanyak 60 persen responden generasi milenial nyatanya termotivasi mendapatkan pekerjaan dengan cepat karena alasan keuangan. Sehingga, mereka mengesampingkan karier yang sesuai nilai-nilai pribadi, seperti kepentingan dan keyakinan diri.

Alhasil, kerapkali pekerjaan yang dilakukan setiap hari hanya sebagai “formalitas” sambil menunggu gajian tiba setiap bulannya.

Baca Juga: Mengejar Karier: Antara Passion dan Realitas

Kondisi ini mengingatkan saya pada seorang teman, “Anas”, pekerja di perusahaan agensi. Ia sebenarnya ingin mengejar keinginannya bekerja sebagai jurnalis, tapi mempertimbangkan penghasilannya yang enggak seberapa, niat itu urung. Saat ia akhirnya memutuskan untuk mengejar uang di bidang kerja lain, ia sendiri mengaku tidak begitu menikmati tanggung jawabnya. Bahkan, ia ingin kembali mengembangkan kemampuannya dalam jurnalisme.

Dari kisah Anas, kita belajar, apabila pekerjaan hanya dilakukan dari hari ke hari untuk memenuhi kebutuhan finansial tanpa makna di dalamnya, pekerja cenderung tidak mencapai kebahagiaan atau karier impian.

Maka dari itu, kami merangkum empat langkah yang bisa kamu lakukan untuk membangun karier yang tidak dibenci.

1. Tentukan Tujuan Berkarier

Menduduki jabatan tinggi, berpenghasilan besar, bekerja di perusahaan ternama, punya bisnis sendiri, menjadi ahli di bidangnya, atau hidup berkecukupan serta sehat fisik dan mental. Hal-hal itu adalah beberapa contoh tujuan berkarier, yang sayangnya tidak dapat dipukul rata bagi setiap pekerja.

Semua itu dapat didasarkan pada sebuah kata tanya, “mengapa?”, yang jawabannya dapat digunakan sebagai pengambilan keputusan, dan membantu menemukan makna dalam pekerjaan.

Tentu bukan perkara mudah, untuk bertanya pada diri sendiri tentang tujuan karier. Namun, jawabannya tidak hanya memengaruhi kehidupan profesional, tetapi juga pribadi. Pasalnya, dalam kehidupan kita, keduanya saling beririsan dan berdampak satu sama lain.

Apabila kesulitan menemukan tujuan berkarier, kamu bisa memulainya dengan beberapa pertanyaan sederhana. Misalnya, siapa sosok yang menginspirasimu untuk melakoni pekerjaan ini, hal-hal yang paling berarti dalam hidup, perubahan yang ingin dicapai melalui pekerjaan, dan kapan kamu merasa paling bangga dengan diri sendiri.

Jika tujuan karier telah tergambarkan, kamu dapat membentuk langkah-langkah kecil yang membantu mencapai titik tersebut. Jangan lupa sebisa mungkin hindari situasi yang menghalangi perkembangan karier.

2. Membangun Karier dengan Perhatikan Momen Bekerja yang Menggairahkan

Merasa jenuh bekerja adalah hal wajar yang dialami seorang pekerja. Terlebih selama pandemi, sudah enggak muncul kegembiraan ketika membayangkan harus bangun pagi setiap hari dan mengulangi rutinitas yang sama.

Baca Juga: Perempuan di Simpang Jalan: Pilih Bekerja atau IRT?

Namun, ada kalanya suatu pekerjaan dirasa menyenangkan, dan tidak membutuhkan usaha ekstra untuk melakukannya.

Bagi seorang reporter media online seperti saya misalnya. Menulis topik yang berkaitan dengan tokoh idola atau dunia hiburan merupakan salah satu hal menggairahkan, membuat bekerja lebih menyenangkan dan hasilnya memuaskan.

Meskipun momen-momen itu tak melulu dapat dilakukan, sebagai pekerja kamu perlu lebih sadar tentang hal-hal dalam pekerjaan yang menggembirakan. Tujuannya sebagai salah satu petunjuk dalam membangun karier jangka panjang. Pun jika pekerjaan saat ini dianggap monoton, ingatlah ada pengalaman dan pengetahuan yang berguna di masa depan.

3. Ketahui Career Trap

Career trap merupakan perilaku yang dilakukan karena sudah familier, padahal berdampak negatif pada pekerjaan. Sering kali, hambatan ini baru disadari ketika seorang pekerja mengalami burnout, pemecatan, jatuh sakit, dan painful boredom—merasa kebosanan dan kecemasan yang menyedihkan hingga tidak dapat berkonsentrasi.

Melansir Harvard Business Review, terdapat beberapa bentuk career trap yang umumnya dialami pekerja.

Baca Juga: Enggak Pede dengan Gaji dan Profesimu? Kamu Perlu Baca Ini

Pertama, expectation trap. Ini terjadi ketika seseorang berusaha memenuhi ekspektasi orang lain, dan enggan mengakui kesulitan baik secara mental maupun menghadapi beban kerja. Alasannya, mereka tidak ingin orang lain mengetahui dirinya tidak mampu mengatasinya.

Kedua, ambition trap pada high-achiever. Mereka terbiasa bekerja keras untuk meraih kesuksesan, dan mengkhawatirkan jika memperlambat cara kerjanya, ia akan berhenti memperoleh pencapaian.

Ketiga, translation trap. Yakni situasi ketika seseorang telah bekerja keras untuk berada di posisinya saat ini, tetapi belum merasa bahagia sebagaimana diperkirakan akan didapatkan. Pada situasi ini, ia juga merasa kesuksesannya tidak sesuai dengan tujuan, juga khawatir untuk “pindah haluan” karena merasa hanya memahami pekerjaan yang dilakukan saat ini.

Keempat, adrenalin trap, yaitu seseorang yang bekerja berlebihan tanpa memperhatikan kesehatan tubuh dan mentalnya.

Kelima, busyness trap. Umumnya seseorang yang senang pekerjaannya dijadikan sebagai bagian dari identitas diri, sehingga selalu mengutamakan pekerjaan. Alhasil, mereka mengorbankan kesehatan dan waktu untuk orang-orang di sekitarnya.

4. Membangun Karier dengan Cari Kesempatan Mengembangkan Diri

Tercapainya tujuan karier tidak lepas dengan usaha untuk mengeksplorasi kemampuan diri, baik soft skill maupun hard skill, yang sesuai dengan goals tersebut. Pengembangan ini tidak hanya berupa pelatihan yang diberikan perusahaan, kamu juga bisa proaktif mencari komunitas atau kegiatan yang dinilai mendukung dan dapat memperluas networking, atau menyesuaikan nilai-nilai diri.

Baca Juga: Apa itu ‘Life Skill’ dan Bagaimana Cara Mengembangkannya?

Misalnya mengambil kursus online bersertifikasi, menjadi volunteer, mencari mentor, atau rutin membaca untuk mengedukasi diri dan selalu bersikap ingin tahu.

Karena untuk mencapai tujuan tersebut, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan diri, melainkan peran orang-orang di sekitar. Mereka akan membantu dalam memperluas sudut pandang dan cara berpikir, memperhatikan kesempatan untuk mengembangkan karier, serta memahami profesi yang ditekuni secara mendalam.

‘Love-Hate Relationship’ dengan Pekerjaan, Haruskah Karyawan Bertahan? Read More