bahaya oversharing di kantor

Oversharing di Kantor: Kapan Cerita Pribadi Mulai Kebablasan?

Pernah ingin sekadar ngobrol santai dengan teman kantor, tetapi percakapannya malah berujung pada cerita soal hubungan, konflik keluarga, masalah keuangan, atau drama dengan atasan?

Situasi seperti ini cukup mudah terjadi. Ketika sudah merasa nyaman dengan rekan kerja, batas antara berbagi cerita dan oversharing bisa menjadi samar. Kita mungkin menganggap cerita pribadi sebagai cara untuk membangun kedekatan, menunjukkan sisi diri yang lebih autentik, atau sekadar mencari tempat untuk melepas stres.

Padahal, tempat kerja tidak selalu menjadi ruang yang tepat untuk membagikan semua hal tentang kehidupan pribadi.

Rekan kerja yang terasa dekat tetap memiliki hubungan profesional dengan kita. Dalam situasi tertentu, hubungan tersebut juga bisa berubah karena pergantian tim, posisi, atasan, atau kepentingan pekerjaan.

Penelitian tentang pengelolaan informasi pribadi di tempat kerja menunjukkan bahwa keputusan seseorang untuk membuka atau menyimpan informasi dipengaruhi oleh budaya organisasi, hubungan dengan orang lain, kebutuhan mendapatkan umpan balik, serta pertimbangan mengenai risiko dan manfaat. 

Temuan ini dibahas Stephanie A. Smith dan Steven R. Brunner dalam studi To Reveal or Conceal: Using Communication Privacy Management Theory to Understand Disclosures in the Workplace yang diterbitkan SAGE Journals. Studi tersebut melibatkan 103 pekerja penuh waktu dari berbagai organisasi dan industri.

Karena itu, persoalannya bukan apakah kita harus menjadi tertutup di kantor. Yang lebih penting adalah mengetahui cerita apa yang ingin dibagikan, kepada siapa, dan seberapa jauh detailnya perlu disampaikan.

Apalagi sekarang komunikasi kantor tidak berhenti di meja kerja. Ada WhatsApp, email, hingga media sosial. Cerita yang awalnya hanya ditujukan kepada satu orang bisa dengan mudah menjangkau audiens yang lebih luas.

Jadi, sebelum mulai bercerita panjang di pantry atau mengetik sesuatu di grup kantor, ada satu pertanyaan sederhana yang bisa dipikirkan: kalau cerita ini diketahui orang lain di kantor, apakah saya masih akan merasa nyaman?

Baca Juga: Ketawa Karier: Saat Tawa di Kantor Justru Bikin Capek Mental

Apa Itu Oversharing di Kantor?

Oversharing adalah kebiasaan membagikan informasi pribadi, emosional, sensitif, atau terlalu detail kepada orang lain ketika informasi tersebut sebenarnya tidak diperlukan dalam situasi tersebut.

Di kantor, bentuknya tidak selalu berupa rahasia besar. Bisa saja dimulai dari hal sederhana seperti terlalu sering mengeluhkan pasangan, menceritakan pertengkaran keluarga, membahas kondisi finansial secara detail, membuka persoalan kesehatan pribadi, atau membicarakan konflik dengan atasan kepada terlalu banyak orang.

The Muse membahas persoalan serupa dalam artikel How to Stop Oversharing at Work—and Still Keep Conversation Flowing. Artikel tersebut menjelaskan bahwa oversharing di tempat kerja bisa muncul karena keinginan mencari koneksi atau validasi, rasa gugup, maupun batas profesional yang belum jelas.

Sekilas, percakapan tersebut mungkin terasa biasa. Masalah muncul ketika informasi pribadi diberikan kepada orang yang kurang tepat, dengan detail berlebihan, atau kepada audiens yang terlalu luas.

Di sinilah oversharing berbeda dari sekadar “banyak bicara”. Persoalannya juga menyangkut konteks.

Cerita yang nyaman disampaikan kepada sahabat belum tentu cocok dibagikan kepada seluruh anggota tim. Curhat kepada satu rekan yang memang dipercaya juga berbeda dengan menuliskan masalah pribadi di grup kantor yang berisi puluhan orang.

Semakin besar audiensnya, semakin sulit kita mengendalikan bagaimana informasi tersebut dipahami, disimpan, atau diteruskan.

Baca Juga: ‘Small Talk’ di Kantor Bukan Basa-basi: Penting untuk Mental dan Kerja Sehat

Terbuka dengan Rekan Kerja Bukan Berarti Oversharing

Menjadi terbuka sebenarnya bukan hal buruk. Sedikit cerita tentang kehidupan di luar kantor justru bisa membuat hubungan dengan rekan kerja terasa lebih hangat.

Kamu bisa bercerita soal hobi, makanan favorit, film yang baru ditonton, rencana liburan, atau bahkan kucing yang baru diadopsi. Informasi seperti ini biasanya tidak terlalu sensitif dan masih relevan dengan percakapan sehari-hari.

Yang membedakan keterbukaan dengan oversharing adalah konteks dan tingkat informasi yang diberikan.

Misalnya, mengatakan, “Akhir-akhir ini gue lagi banyak urusan keluarga, jadi mungkin agak kurang fokus,” bisa menjadi komunikasi yang wajar jika kondisi tersebut memang berdampak pada pekerjaan.

Namun, menceritakan detail pertengkaran dengan pasangan selama 20 menit kepada seluruh tim tentu berbeda.

Keterbukaan yang sehat tidak mengharuskan kita memilih antara menjadi “terbuka total” atau “tertutup total”. Ada ruang di antaranya: tetap ramah, tetap bisa membangun kedekatan, tetapi tahu informasi mana yang sebaiknya disimpan untuk lingkaran yang lebih personal.

Ciri-Ciri Kamu Mulai Oversharing di Kantor

Oversharing sering baru terasa sebagai masalah setelah percakapannya selesai.

Mungkin kamu pernah pulang dari kantor lalu berpikir, “Kenapa tadi gue cerita sebanyak itu, ya?”

Hal tersebut ternyata bukan pengalaman yang sepenuhnya asing bagi pekerja. Dalam artikel Five common career regrets (and how to overcome them), CIPHR menyebut hasil riset mereka menemukan bahwa satu dari 10 orang berusia 25–44 tahun menyesal pernah terlalu banyak bercerita di tempat kerja, dibandingkan 3 persen pekerja berusia di atas 55 tahun.

Ketika suasana kerja sudah akrab, obrolan memang mudah bergeser dari pekerjaan ke hubungan, keluarga, keuangan, atau persoalan pribadi lainnya. Namun, kalau hampir semua orang di kantor mulai mengetahui terlalu banyak tentang kehidupan personalmu, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali batas tersebut.

Cerita Pribadi Mulai Mendominasi Percakapan

Salah satu tandanya adalah ketika cerita tentang masalah pribadi mulai menjadi topik utama setiap kali kamu berbicara dengan rekan kerja.

Hari ini soal pertengkaran dengan pasangan. Besok masalah keluarga. Setelah itu persoalan keuangan atau konflik dengan teman.

Kehidupan pribadi tentu tidak perlu sepenuhnya dipisahkan dari pekerjaan. Kita tetap manusia yang membawa emosi dan pengalaman ke kantor.

Namun, ketika informasi yang sebenarnya tidak berhubungan dengan pekerjaan terus dibagikan kepada banyak orang, batas profesional bisa semakin kabur.

Kamu Sering Menyesal Setelah Bercerita

Perasaan menyesal setelah berbagi cerita juga bisa menjadi tanda bahwa informasi yang diberikan sudah melewati batas nyamanmu.

Kamu mungkin tiba-tiba merasa cemas karena sadar bahwa orang kantor sekarang mengetahui sesuatu yang sebenarnya ingin kamu simpan sendiri.

Hal tersebut tidak otomatis berarti kamu telah melakukan sesuatu yang salah. Bisa jadi kamu sedang membutuhkan validasi, dukungan, atau sekadar seseorang yang mau mendengarkan.

Masalahnya, rasa nyaman dalam satu percakapan belum tentu berarti hubungan tersebut cukup dekat untuk menampung semua cerita personalmu.

Kalau pola “kebablasan cerita” terus berulang, pengalaman itu bisa dijadikan tanda untuk memperlambat diri dalam percakapan berikutnya.

Detail yang Diberikan Sebenarnya Tidak Diperlukan

Bayangkan atasan bertanya mengapa kamu membutuhkan perubahan jadwal. Kamu bisa menjawab bahwa ada urusan keluarga yang perlu diselesaikan.

Tidak selalu perlu menjelaskan seluruh konflik keluarga yang sedang terjadi di rumah.

Hal serupa bisa terjadi ketika rekan kerja bertanya apakah kamu baik-baik saja, lalu pertanyaan sederhana tersebut berubah menjadi cerita panjang tentang hubungan romantis, masalah keluarga, atau kondisi finansial.

Coba tanyakan kepada diri sendiri: apakah detail ini membantu orang memahami situasinya, atau hanya membuat ceritanya semakin panjang?

Kejujuran juga tidak mengharuskan kita menceritakan seluruh kronologi kehidupan pribadi.

Kamu Menceritakan Rahasia Orang Lain

Ini merupakan bentuk oversharing yang perlu diperhatikan.

Saat bercerita, kita terkadang memasukkan pengalaman orang lain ke dalam cerita sendiri. Misalnya membahas masalah rumah tangga teman, kondisi kesehatan saudara, persoalan finansial kolega, atau rahasia yang sebelumnya disampaikan secara pribadi.

Karena informasi itu bukan tentang diri kita, mungkin kita merasa lebih mudah untuk membagikannya. Padahal, mengetahui sebuah informasi bukan berarti kita otomatis berhak menyebarkannya.

Selain berpotensi merusak hubungan, kebiasaan ini juga bisa memengaruhi reputasi profesional.

Rekan kerja mungkin berpikir, kalau cerita orang lain saja dibagikan, bagaimana dengan cerita mereka?

Kantor Menjadi Tempat Utama untuk Curhat

Kantor memang bisa menjadi tempat menemukan teman dekat. Tidak sedikit hubungan pertemanan di tempat kerja yang bertahan lama.

Namun, kamu perlu berhati-hati jika hampir setiap masalah pribadi selalu dibawa ke kantor.

Ketika bertengkar dengan pasangan, rekan kerja menjadi tempat curhat. Saat ada masalah keluarga, kamu kembali mencari mereka. Ketika mengalami persoalan keuangan, kolega juga menjadi orang pertama yang mengetahuinya.

Jika pola tersebut berlangsung terus, batas antara kehidupan profesional dan personal bisa semakin sulit dibedakan.

Untuk persoalan yang sangat pribadi, ada baiknya memiliki ruang dukungan lain di luar kantor. Dengan begitu, semua kebutuhan emosional tidak bergantung pada lingkungan kerja.

Terlalu Banyak Membahas Konflik dengan Atasan

Ketika sedang kesal kepada atasan, menceritakannya kepada teman kantor memang terasa melegakan.

Tetapi curhat bisa berubah menjadi gosip ketika pembicaraan mulai memasukkan asumsi mengenai karakter, kehidupan pribadi, atau motif atasan yang tidak berkaitan dengan persoalan pekerjaan.

Jika memang ada masalah dengan atasan, kamu tetap bisa meminta perspektif dari orang yang dipercaya. Namun, fokuskan pembicaraan pada perilaku, keputusan, atau situasi kerja yang memang bermasalah.

Terlalu Sering Membahas Kondisi Keuangan

Urusan finansial juga termasuk informasi yang perlu dipertimbangkan sebelum dibagikan.

Mengatakan bahwa kamu sedang mencoba lebih hemat tentu berbeda dengan menceritakan secara detail jumlah utang, cicilan, tabungan, atau persoalan finansial keluarga.

Bukan berarti pembicaraan mengenai uang selalu harus dihindari. Dalam konteks tertentu, diskusi tentang gaji, kesenjangan upah, atau kompensasi justru penting.

Yang perlu diperhatikan adalah tujuan dan konteksnya.

Baca Juga: Cara Tepat Mengatasi Gaji yang Hanya Numpang Lewat

Mengapa Oversharing Bisa Jadi Bumerang?

Informasi pribadi yang dibagikan di tempat kerja dapat memengaruhi cara orang lain melihat kita.

Studi Smith dan Brunner dalam To Reveal or Conceal: Using Communication Privacy Management Theory to Understand Disclosures in the Workplace di SAGE Journals menunjukkan bahwa pekerja mempertimbangkan risiko terhadap hubungan dan peran profesional ketika memutuskan apakah akan membuka informasi pribadi di tempat kerja.

Dalam hubungan kerja, persoalan ini menjadi lebih rumit karena hubungan personal dan profesional berjalan bersamaan. Orang yang hari ini menjadi teman satu tim bisa saja menjadi atasan, bawahan, atau kolega lintas divisi di kemudian hari.

Ada pula risiko ketika cerita yang awalnya disampaikan dengan konteks tertentu kemudian dipotong, diteruskan, atau dipahami secara berbeda.

Kita memang tidak bisa mengontrol sepenuhnya bagaimana orang lain memproses informasi tentang diri kita. Karena itu, menjaga batas privasi bukan berarti harus curiga kepada semua orang.

Lebih sederhana dari itu: kita perlu tahu siapa yang memang perlu mengetahui sebuah cerita.

Cara Berhenti Oversharing Tanpa Menjadi Dingin

Berhenti oversharing bukan berarti berubah menjadi orang yang kaku atau selalu menjawab “tidak mau cerita” setiap kali mendapat pertanyaan personal.

Kamu tetap bisa bercanda, berbagi pengalaman sehari-hari, dan membangun pertemanan di kantor. Yang perlu diatur adalah batas informasi yang diberikan.

Bedakan Informasi Personal dan Sensitif

Tidak semua informasi pribadi memiliki tingkat sensitivitas yang sama.

Cerita soal hobi, makanan favorit, film, olahraga, atau tempat liburan biasanya relatif aman dibagikan.

Sebaliknya, konflik rumah tangga, kondisi finansial, persoalan kesehatan, hubungan romantis, trauma, atau masalah keluarga memiliki tingkat privasi yang lebih tinggi.

Kamu bisa membayangkan informasi pribadi seperti beberapa lapisan. Ada informasi yang nyaman diketahui banyak orang, ada yang hanya cocok untuk teman tertentu, dan ada pula yang sebaiknya tetap berada di lingkaran paling dekat.

Beri Jeda Sebelum Menjawab

Oversharing sering terjadi secara spontan.

Ketika seseorang bertanya, “Kok kamu kelihatan capek?”, kita bisa saja langsung menceritakan pertengkaran dengan pasangan, masalah keluarga, sampai persoalan keuangan.

Padahal, mungkin cukup menjawab, “Semalam kurang tidur.”

Memberikan jeda beberapa detik sebelum menjawab memberi kesempatan untuk memilih informasi yang memang ingin dibagikan.

Kamu bisa bertanya: “Gue memang ingin cerita, atau sebenarnya cuma sedang ingin didengarkan?”

Belajar Memberikan Jawaban yang Cukup

Tidak semua pertanyaan membutuhkan penjelasan panjang.

Ketika ditanya mengapa ingin pulang lebih cepat, misalnya, kamu bisa mengatakan ada urusan pribadi yang perlu diselesaikan.

Kamu tidak sedang berbohong karena memilih untuk tidak menjelaskan semuanya.

Jawaban seperti “Belakangan memang agak hectic, tapi gue masih oke” juga bisa memberikan konteks tanpa membuka terlalu banyak informasi.

Privasi bukan berarti tidak jujur. Privasi berarti kamu tetap punya kendali atas informasi tentang dirimu.

Alihkan Percakapan

Kamu juga tidak harus menolak pertanyaan personal secara langsung.

Setelah memberikan jawaban singkat, percakapan bisa dialihkan ke topik lain.

Misalnya, ketika seseorang bertanya soal masalah hubungan, kamu bisa menjawab bahwa memang sedang ada sedikit masalah, tetapi sedang mengurusnya. Setelah itu, kamu bisa bertanya balik soal pekerjaan atau hal lain.

Dengan cara tersebut, hubungan tetap terasa hangat tanpa harus bergantung pada cerita yang sensitif.

Pilih Orang yang Tepat untuk Mendengarkan

Berhenti oversharing bukan berarti semua masalah harus dipendam.

Kita tetap membutuhkan orang untuk bercerita ketika sedang menghadapi masa sulit. Yang perlu diperhatikan adalah siapa yang menjadi tempat cerita dan seberapa banyak informasi yang diberikan.

Tidak semua orang yang ramah di kantor otomatis menjadi tempat curhat yang tepat.

Pertimbangkan hubungan kalian, kemampuan orang tersebut menjaga informasi, serta kemungkinan adanya konflik kepentingan dalam hubungan profesional.

Untuk persoalan yang sangat personal, sahabat, keluarga, atau pihak profesional di luar lingkungan kerja mungkin menjadi ruang yang lebih sesuai.

Sementara itu, dengan rekan kerja, kamu tetap bisa berbagi cerita dalam batas tertentu.

Kamu tidak harus menjadi tertutup untuk menjaga privasi. Kamu hanya perlu lebih sadar bahwa tidak semua orang di kantor perlu mengetahui semua bagian dari hidupmu.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Oversharing di Kantor: Kapan Cerita Pribadi Mulai Kebablasan? Read More