‘Solopreneur’: Kerja Sendiri, tapi Bukan Sendirian Hadapi Dunia Kerja

apa itu solopreneur

Dulu, bekerja sendirian kerap dipandang sebelah mata: bisnis tanpa tim besar, tanpa kantor, bahkan tanpa struktur manajerial yang jelas sering dianggap enggak serius atau cuma sekadar “main-main”. Kerja sendiri itu identik dengan risiko dan ketidakpastian—rasanya bukan pilihan karier yang realistis. Namun seiring era digital makin maju dan terkoneksi, persepsi itu mulai runtuh. Sekarang, banyak yang bertanya: kenapa harus ramai-ramai kalau kerja sendiri bisa sukses?

Internet secara signifikan mengubah cara kita bekerja dan mendefinisikan “sukses”. Hanya dengan laptop, ponsel, dan koneksi internet stabil saja, kamu bisa memulai usaha sendiri dari mana pun: dari kamar, coworking space, atau bahkan sambil nongkrong di coffee shop. Laporan Forbes berjudul The Rise Of Solopreneurism Is Changing The Way We Do Business menjelaskan bahwa solopreneurs—orang yang menjalankan bisnis sendiri tanpa struktur perusahaan besar—kini makin banyak karena mereka merombak cara tradisional berwirausaha dan membuka peluang baru dalam ekonomi digital.

Di sinilah solopreneur mulai menemukan momentumnya. Pilihan untuk bekerja sendiri bukan berarti anti kerja tim, melainkan sebuah respons terhadap rasa jenuh yang dirasakan banyak orang terhadap birokrasi panjang, jam kerja yang kaku, dan budaya kerja yang sering menguras tenaga tanpa memberi banyak ruang personal. Bagi generasi muda terutama, kerja mandiri menawarkan fleksibilitas yang lebih besar dan kontrol penuh atas hidup serta waktu. Survei Buffer dalam 2023 State Of Remote Work menunjukkan bahwa sebanyak 98 persen responden pekerja remote ingin terus bekerja secara fleksibel, setidaknya sebagian waktu dalam karier mereka, dan mayoritas menyebut pengalaman kerja remote itu positif.

Tapi tentu saja, kerja sendiri di era digital bukan cerita tanpa konflik. Walau fleksibel dan memberikan otonomi tinggi, solopreneur harus menghadapi tantangan seperti rasa sepi atau kesepian, tekanan untuk selalu produktif, dan batas yang sering kabur antara waktu kerja dan kehidupan pribadi. Laporan Buffer juga menyoroti bahwa salah satu kesulitan terbesar pekerja remote adalah mengatur batas waktu kerja, di mana sebagian besar responden mengaku sering memeriksa pekerjaan di luar jam kerja.

Jadi, pertanyaan yang sebenarnya bukan lagi “bisa atau tidak kerja sendiri?”, tetapi “siap atau tidak kamu menghadapi konsekuensinya?” Siap mengatur ritme sendiri, terus belajar tanpa struktur tradisional, dan memikul tanggung jawab penuh atas semua pilihan yang kamu buat—itu yang membuat solopreneur bukan sekadar tren, tapi juga gerakan kerja yang serius dan relevan di era sekarang.

Baca Juga: Seperti Apa Rasanya Bekerja di Tahun 2030?

Apa Itu Solopreneur?

Solopreneur sering dianggap seperti versi “sendirian” dari entrepreneur—dan memang, pada dasarnya itu benar. Namun maknanya jauh lebih dari sekadar pekerja lepas. Dikutip dari US Chamber, What Is a Solopreneur?, secara ringkas, solopreneur adalah seseorang yang mendirikan, menjalankan, dan mengelola bisnisnya sendiri tanpa karyawan tetap, bertanggung jawab atas semua aspek usaha mulai dari ide, pemasaran, hingga layanan ke klien.

Dalam praktiknya, solopreneur berbeda dari pebisnis biasa yang fokus membangun tim dan struktur organisasi besar. Fokus solopreneur justru adalah memaksimalkan kemampuan, alat, dan sistem yang dimiliki sendiri, tanpa tim internal—meski tetap bisa bekerja sama dengan klien atau pihak ketiga sesuai kebutuhan.

Walau bekerja sendiri, bukan berarti solopreneur anti kolaborasi. Mereka tetap bisa outsourcing atau bermitra untuk tugas tertentu, tetapi tidak dalam struktur hirarkis seperti perusahaan tradisional. Intinya, solopreneur adalah jedi tunggal yang memainkan semua peran bisnis sendiri, dari strategi hingga eksekusi.

Karena itu, personal branding jadi aset penting bagi solopreneur. Produk atau layanan yang mereka jual sering kali melekat pada siapa mereka secara pribadi—bukan hanya sekadar barang atau jasa, tetapi juga cerita, gaya, dan nilai yang mereka bawa.

Namun jadi solopreneur juga berarti siap memakai banyak topi sekaligus: hari ini kamu bisa jadi kreator konten, besok marketer, lusa jadi admin keuangan. Bebas? Ya. Menantang? Juga iya—karena semua keputusan dan risiko ada di tangan sendiri.

Baca Juga: 7 Pertimbangan Sebelum Memutuskan resign untuk Mulai Bisnis

Karakteristik Seorang Solopreneur

Menjadi solopreneur bukan sekadar bekerja tanpa tim—ini soal kepribadian dan cara menghadapi tanggung jawab penuh atas bisnis sendiri. Solopreneur bertindak sebagai pemilik sekaligus pengelola usaha yang mengurus hampir semua aspek bisnis sendirian. Menurut artikel Apa Itu Solopreneur? Kenali Konsep, Contoh, dan Tipsnya di IDN Times, solopreneur biasanya bertanggung jawab atas perencanaan, operasional, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan tanpa ada karyawan tetap.

Mandiri dan Bertanggung Jawab

Solopreneur terbiasa mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan orang lain. Karena bisnis dijalankan seorang diri, setiap hasil—baik sukses maupun tantangan—menjadi tanggung jawab pribadi. Ini berarti kemampuan bertanggung jawab dan kedewasaan dalam pengambilan keputusan sangat penting.

Multitasking dengan Fokus

Karena tidak ada tim internal, solopreneur sering memegang beberapa peran sekaligus: dari strategi, pemasaran, hingga administrasi. Namun istilah multitasking bukan soal sibuk tanpa tujuan, melainkan kemampuan untuk menentukan prioritas dan fokus pada tugas yang berdampak besar terhadap bisnis.

Disiplin Tanpa Pengawasan

Dikutip dari Upwork, What Is a Solopreneur? Basics, Ideas, and How To Become One, tanpa jam kerja resmi atau atasan yang mengawasi, disiplin diri menjadi landasan utama. Solopreneur harus bisa bekerja konsisten dan menjaga ritme harian tanpa tekanan eksternal—suatu kompetensi penting agar usaha berjalan lancar.

Fleksibel dan Cepat Beradaptasi

Dunia bisnis dan teknologi berubah cepat, sehingga kemampuan fleksibel dan adaptif jadi keunggulan solopreneur. Mereka cenderung cepat belajar, menyesuaikan strategi, dan tidak takut mencoba pendekatan baru ketika kondisi pasar bergeser.

Kepemimpinan Risiko yang Terukur

Menjalankan usaha sendiri berarti tidak ada jaminan stabil seperti gaji tetap. Solopreneur mengambil risiko secara terukur—mulai dari investasi waktu sampai menyesuaikan model bisnis—setelah mengevaluasi peluang dan data yang ada. Ini bagian dari strategi agar bisnis bisa bertahan dan berkembang.

Kuat Secara Emosional dan Mental

Kerja mandiri kadang terasa sepi dan melelahkan secara mental. Karena itu, solopreneur yang efektif biasanya punya ketangguhan emosional dan mental: tahu kapan harus istirahat, kapan bangkit dari kegagalan, dan kapan mencari dukungan atau kolaborasi untuk menjaga keseimbangan hidup.

Baca Juga: Masalah Kepercayaan Diri Masih Hantui Perempuan Pemimpin Bisnis

Jenis-Jenis Bisnis Solopreneur

Salah satu alasan konsep solopreneur makin populer adalah fleksibilitas model bisnisnya—enggak ada aturan baku tentang jenis usaha apa yang harus dijalankan. Selama bisnis itu bisa dikelola oleh satu orang tanpa tim tetap, itu sudah termasuk dalam jalur solopreneur. Berikut beberapa jenisnya.

Solopreneur Digital

Ini adalah jenis yang paling sering ditemui, terutama karena teknologi digital memudahkan akses ke pasar luas tanpa harus hadir secara fisik. Dalam dunia digital, solopreneur pakai internet dan platform online untuk menjual jasa atau produk mereka.

Content Creator – Kamu bisa jadi blogger, YouTuber, podcaster, atau kreator konten media sosial yang menjadikan ide, gaya, dan kreativitas sebagai “produk utama”. Monetisasi bisa lewat iklan, sponsor, afiliasi, atau penjualan konten digital seperti e-book atau kelas online. Ini termasuk salah satu contoh solopreneur digital yang umum ditemui.

Freelancer & Konsultan – Banyak keterampilan profesi bisa dijadikan bisnis solopreneur, misalnya sebagai desainer grafis, penulis, manajer media sosial, atau konsultan karier. Intinya, klien membayar keahlian dan solusi, bukan sekadar jam kerja.

Produk Digital Creator Ini adalah tipe solopreneur yang membuat produk sekali dan menjualnya berulang kali, seperti template, preset, worksheet, atau kursus online. Model ini populer karena membuka peluang pendapatan yang lebih stabil tanpa harus menukarkan waktu dengan uang tiap hari.

Solopreneur Non-Digital

Meski internet banyak mendominasi, bisnis solopreneur enggak harus selalu online. Banyak juga yang bergerak di dunia offline tetapi tetap dijalankan secara mandiri.

Jasa Profesional Offline Ini termasuk fotografer, pelatih pribadi (personal trainer), coach, atau tutor privat. Mereka menjalankan layanan secara langsung kepada klien, mengandalkan reputasi dan kualitas layanan untuk membangun basis pelanggan.

Pengrajin dan Produk Fisik – Pengrajin kerajinan tangan, pembuat lilin aromaterapi, ilustrator cetak, atau pembuat produk custom juga termasuk solopreneur. Produk dibuat sendiri dalam skala kecil dengan fokus pada keunikan dan nilai personal dari setiap karya yang dihasilkan.

Website | + posts

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.

About Kevin Seftian

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.

View all posts by Kevin Seftian →