‘Mid-Career Burnout’: Saat Karier Terasa Mandek dan Pekerjaan Kehilangan Makna
Pernah merasa pekerjaan yang dulu begitu kamu incar sekarang justru terasa melelahkan? Target demi target memang masih bisa diselesaikan, tetapi semangatnya sudah enggak lagi sama. Bagi sebagian orang yang memasuki usia 40-an hingga awal 50-an, kondisi seperti ini bukan hal yang asing.
Di fase ini, tantangan hidup biasanya bertambah. Tanggung jawab di kantor semakin besar, sementara urusan di rumah juga tidak bisa diabaikan. Ada yang sedang membesarkan anak, mendampingi orang tua yang mulai menua, atau menghadapi tekanan finansial yang semakin kompleks. Tidak heran jika banyak pekerja mulai merasa energi mereka terkuras, meski karier terlihat berjalan baik dari luar.
Kondisi tersebut dikenal sebagai mid-career burnout, yaitu kelelahan yang muncul di pertengahan perjalanan karier. World Health Organization (WHO) lewat artikel Burn-out an ‘Occupational Phenomenon’: International Classification of Diseases menjelaskan bahwa burnout merupakan sindrom yang dipicu oleh stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Burnout ditandai dengan rasa lelah yang berkepanjangan, meningkatnya sikap sinis terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas saat bekerja.
Baca juga: Apa itu ‘Mid-career Crisis’ dan Bagaimana Mengatasinya?
Apa Itu Mid-Career Burnout?
Mid-career burnout bukan berarti seseorang tidak lagi mampu bekerja. Justru, banyak orang yang mengalaminya masih tetap datang ke kantor, menyelesaikan tugas, bahkan mempertahankan performa yang baik. Bedanya, pekerjaan yang dulu terasa menantang kini berubah menjadi rutinitas yang dijalani sekadar karena kewajiban.
Perasaan ini biasanya muncul setelah bertahun-tahun menjalani profesi yang sama. Karier mungkin sudah stabil, penghasilan meningkat, dan posisi pun semakin mapan. Namun, di saat yang sama, muncul pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya: Apakah pekerjaan ini masih membuatku berkembang?
Menurut Mayo Clinic dalam artikel Job Burnout: How to Spot It and Take Action, burnout berkembang secara perlahan. Kondisi ini tidak muncul setelah satu atau dua hari bekerja keras, melainkan akibat tekanan yang berlangsung terus-menerus hingga seseorang kehilangan energi, motivasi, dan kepuasan terhadap pekerjaannya.
Mengapa Burnout Sering Muncul di Pertengahan Karier?
Burnout sebenarnya bisa dialami siapa saja. Namun, penyebabnya berubah seiring perjalanan karier.
Pada awal bekerja, tekanan biasanya datang karena proses adaptasi. Kita masih belajar mengenal ritme kerja, membangun reputasi, dan mengejar target. Sementara itu, di pertengahan karier, tantangannya lebih rumit. Bukan lagi soal memahami pekerjaan, melainkan menjaga keseimbangan di tengah tuntutan yang terus bertambah.
Harvard Business Review dalam artikel Burnout Is About Your Workplace, Not Your People menjelaskan bahwa burnout tidak selalu dipicu oleh banyaknya pekerjaan. Lingkungan kerja yang membuat seseorang kehilangan kendali, sulit berkembang, atau tidak lagi menemukan makna dalam pekerjaannya juga dapat meningkatkan risiko burnout.
Karena itu, tidak sedikit pekerja yang mulai merasa seperti berjalan di tempat. Rutinitas terus berulang, tetapi tidak lagi memberikan kepuasan yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya.
Baca juga: ‘Quiet Covering’: Tren Tidak Jadi Diri Sendiri di Tempat Kerja
Penyebab Mid-Career Burnout yang Sering Terjadi
Tanggung Jawab Semakin Besar
Semakin tinggi posisi seseorang di tempat kerja, biasanya semakin besar pula tanggung jawab yang harus diemban. Banyak pekerja di fase ini tidak hanya bertanggung jawab terhadap pekerjaannya sendiri, tetapi juga memimpin tim, mengambil keputusan, hingga memastikan target perusahaan tercapai.
Di saat bersamaan, tanggung jawab di luar pekerjaan juga meningkat. Kombinasi keduanya dapat membuat seseorang terus berada dalam kondisi siaga tanpa memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan energi.
Rutinitas yang Terasa Stagnan
Tidak semua burnout disebabkan oleh pekerjaan yang terlalu berat. Dalam beberapa kasus, penyebabnya justru karena pekerjaan terasa terlalu monoton.
Rutinitas yang sama setiap hari membuat sebagian orang kehilangan rasa antusias. Tantangan baru semakin sedikit, sementara kesempatan untuk berkembang terasa berjalan lebih lambat dibandingkan sebelumnya. Akibatnya, pekerjaan berubah menjadi aktivitas yang dijalani karena kewajiban, bukan lagi karena memberikan kepuasan.
Sulit Menjaga Work-Life Balance
Banyak pekerja di pertengahan karier mulai menghadapi dilema antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Di satu sisi, mereka dituntut mempertahankan performa di kantor. Di sisi lain, keluarga juga membutuhkan waktu dan perhatian.
Ketika sebagian besar energi habis untuk pekerjaan, waktu beristirahat menjadi semakin sedikit. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus tanpa jeda yang cukup, risiko mengalami burnout pun ikut meningkat.
Burnout memang tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini berkembang perlahan melalui tekanan yang terus menumpuk. Karena itu, mengenali penyebabnya sejak awal menjadi langkah penting agar kelelahan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Tanda-Tanda Mid-Career Burnout yang Sering Terlewat
Mid-career burnout tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Pada banyak orang, kondisinya berkembang perlahan hingga akhirnya memengaruhi cara mereka bekerja, berinteraksi, bahkan menjalani kehidupan sehari-hari. Karena prosesnya berlangsung bertahap, gejalanya sering dianggap sebagai rasa lelah biasa atau sekadar efek dari pekerjaan yang sedang padat.
Salah satu tanda yang paling sering dirasakan adalah kelelahan yang tidak kunjung membaik. Meski sudah tidur cukup atau mengambil cuti, tubuh tetap terasa tidak bertenaga. Aktivitas yang sebelumnya terasa ringan mulai menguras energi, sementara pekerjaan yang dulu bisa diselesaikan dengan antusias kini terasa semakin berat.
Menurut Mayo Clinic dalam artikel Job Burnout: How to Spot It and Take Action, burnout umumnya ditandai dengan kelelahan emosional, menurunnya motivasi, hingga munculnya rasa frustrasi terhadap pekerjaan. Kondisi tersebut berkembang secara bertahap sehingga tidak sedikit orang baru menyadarinya ketika produktivitas mulai menurun.
Perubahan lain yang juga sering muncul adalah berkurangnya keterlibatan terhadap pekerjaan. Seseorang mungkin masih mampu menyelesaikan target, tetapi tidak lagi merasakan kepuasan setelah pekerjaan selesai. Rutinitas yang sebelumnya terasa menantang berubah menjadi kewajiban yang dijalani hampir tanpa antusiasme.
Dalam beberapa kasus, burnout juga memengaruhi hubungan dengan orang lain. Tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat seseorang lebih mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, atau memilih menarik diri dari lingkungan kerja. Perubahan tersebut sering kali muncul tanpa disadari karena berkembang secara perlahan.
Mengatasi Burnout Tidak Selalu Berarti Harus Resign
Ketika mulai merasa jenuh dengan pekerjaan, tidak sedikit orang langsung berpikir bahwa jalan keluarnya adalah mengundurkan diri. Padahal, burnout tidak selalu berarti seseorang berada di pekerjaan yang salah.
Harvard Business Review dalam artikel Burnout Is About Your Workplace, Not Your People menjelaskan bahwa burnout lebih sering berkaitan dengan kondisi lingkungan kerja dibanding kemampuan individu menghadapi tekanan. Beban kerja yang tidak seimbang, kurangnya kendali terhadap pekerjaan, atau minimnya dukungan dari organisasi dapat menjadi faktor yang memperburuk kondisi tersebut.
Karena itu, langkah pertama yang bisa dilakukan bukan selalu mencari pekerjaan baru, melainkan memahami apa yang sebenarnya menjadi sumber kelelahan. Pada sebagian orang, penyebabnya adalah beban kerja yang terus bertambah. Pada yang lain, burnout muncul karena pekerjaan sudah tidak lagi memberi ruang untuk berkembang atau kehilangan makna.
Jika penyebabnya mulai terlihat, komunikasi dengan atasan atau tim HR dapat menjadi salah satu pilihan. Banyak perusahaan kini mulai memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan mental pekerja, termasuk melalui pengaturan beban kerja, fleksibilitas jam kerja, atau program pendampingan karyawan.
Di luar pekerjaan, membangun kembali rutinitas yang lebih sehat juga berperan penting dalam proses pemulihan. Menyediakan waktu untuk berolahraga, tidur yang cukup, menjalani hobi, atau sekadar beristirahat tanpa gangguan pekerjaan dapat membantu mengurangi tekanan yang menumpuk.
Hal serupa disampaikan American Psychological Association (APA) dalam artikel Working Through Burnout. Menurut APA, pemulihan burnout membutuhkan kombinasi antara pengelolaan stres, dukungan sosial, dan perubahan kebiasaan yang lebih sehat. Karena itu, istirahat saja sering kali tidak cukup apabila penyebab burnout masih terus berlangsung.
Baca Juga: ‘Financial Burnout’: Ketika Uang Jadi Sumber Lelah dan Stres
Burnout Semakin Banyak Dibicarakan di Dunia Kerja
Kesadaran mengenai burnout dalam beberapa tahun terakhir juga terus meningkat. Semakin banyak perusahaan mulai memasukkan kesehatan mental sebagai bagian dari kesejahteraan karyawan, sementara pekerja semakin terbuka membicarakan tekanan yang mereka hadapi selama bekerja.
Meski demikian, burnout masih sering disalahartikan sebagai tanda seseorang tidak mampu menghadapi tekanan. Padahal, World Health Organization (WHO) melalui artikel Burn-out an ‘Occupational Phenomenon’: International Classification of Diseases menegaskan bahwa burnout merupakan sindrom yang berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Definisi tersebut menunjukkan bahwa burnout tidak hanya dipengaruhi kondisi individu, tetapi juga berkaitan dengan sistem dan lingkungan kerja.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.
‘Mid-Career Burnout’: Saat Karier Terasa Mandek dan Pekerjaan Kehilangan Makna Read More
