5 Film tentang Perempuan dan Dunia Finansial: Tema yang Tidak Boleh Dilewatkan

Beberapa tahun terakhir, narasi tentang perempuan di dunia kerja makin kuat dan beragam. Kalau dulu perempuan sering ditempatkan sebagai tokoh pendukung, sekarang banyak film mulai meletakkan mereka di pusat cerita: sebagai pemimpin, pengambil keputusan, atau sosok yang harus bertahan di ruang kerja penuh tekanan.

Konteks ini juga sejalan dengan data World Bank dalam artikel Indonesia Gender Equality Program, yang menyebut partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih sekitar 53 persen pada 2021.

Cerita yang dekat dengan realitas kerja seperti naik jabatan, negosiasi gaji, atau tarik-ulur antara karier dan kehidupan pribadi jadi makin sering muncul di layar. Tema finansial perempuan juga ikut mendapat ruang, karena uang bukan cuma soal angka, tapi juga soal kuasa, kontrol, dan kemandirian.

Dari sini, film-film berikut bisa dibaca sebagai potret bagaimana perempuan menghadapi kerja, tekanan sosial, dan ambisi ekonomi dalam sistem yang belum sepenuhnya setara. 

Baca Juga: Pelecehan Seksual di Industri Film dan Kenapa Perlu Lebih Banyak Pekerja Film Perempuan

Film tentang Perempuan dan Keuangan

Film-film ini bukan cuma hiburan, tapi juga jendela kecil untuk melihat bagaimana perempuan diposisikan di dunia kerja dan urusan uang.

Working Girl: Ambisi, Kelas Sosial, dan Dunia Korporat

Perempuan karier ambisius di kantor New York dalam film Working Girl 1988

Kalau bicara film klasik tentang perempuan, karier, dan ambisi, Working Girl hampir selalu masuk daftar penting. Di American Film Institute Catalog, artikel Working Girl menggambarkan Tess McGill sebagai sekretaris asal Staten Island yang bekerja di perusahaan keuangan Wall Street dan punya mimpi besar untuk naik kelas. Dari sini saja sudah kelihatan, film ini bukan sekadar soal kerja kantoran, tapi juga soal batas sosial yang sering dihadapi perempuan kelas pekerja.

Yang bikin Working Girl tetap relevan adalah cara film ini menunjukkan bahwa ide bagus saja tidak cukup. Tess punya kemampuan, tapi ia juga harus menghadapi lingkungan kerja yang meremehkan perempuan dan struktur kantor yang tidak selalu adil. Di titik ini, film ini terasa dekat dengan banyak pengalaman perempuan: harus lebih berani, lebih taktis, dan sering kali bekerja dua kali lebih keras untuk diakui.

Dari sisi finansial, Working Girl juga kuat karena memperlihatkan bahwa uang bukan cuma soal penghasilan, melainkan juga soal kontrol atas hidup sendiri. Tess ingin keluar dari keterbatasan ekonomi dan punya pilihan yang lebih luas. Itulah kenapa film ini masih terasa relevan: ia bicara tentang kemandirian, mobilitas sosial, dan keinginan perempuan untuk menentukan arah hidupnya sendiri.

Samjin Company English Class: Saat Perempuan Diremehkan Balik Mengguncang Sistem

Tiga perempuan pekerja pabrik mengikuti kelas bahasa Inggris dalam Samjin Company English Class

Kalau kamu mencari film yang ringan tapi tetap tajam secara kritik sosial, Samjin Company English Class layak masuk daftar. Di Korean Film Biz Zone, artikel Samjin Company English Class Assembles in First Place menjelaskan bahwa film ini berlatar 1990-an dan mengikuti para pekerja perempuan yang mengambil kelas bahasa Inggris perusahaan demi peluang promosi, sambil mengungkap korupsi di dalam kantor.

Yang menarik, film ini menunjukkan bahwa perempuan sering dianggap “biasa saja” di ruang kerja, padahal justru mereka yang paling peka melihat ketidakadilan di sekelilingnya. Ketika tiga tokoh utamanya bergerak bersama, film ini terasa seperti pengingat bahwa solidaritas perempuan bisa jadi alat paling kuat untuk melawan sistem yang timpang.

Baca Juga: 4 Film yang Gambarkan ‘Ageism’ terhadap Perempuan Pekerja

Home Sweet Loan 

Kisah realistis generasi muda menghadapi cicilan rumah dalam Home Sweet Loan

Home Sweet Loan terasa dekat karena ceritanya sangat membumi: Kaluna, yang diperankan Yunita Siregar, adalah pekerja usia awal 30-an dengan gaji pas-pasan yang ingin punya rumah sendiri.

Dalam artikel CNN Indonesia, Sinopsis Home Sweet Loan, Mimpi Sandwich Generation Miliki Rumah, Kaluna digambarkan sebagai anak bungsu yang tetap harus menanggung beban keluarga sambil mengejar impian pribadi. Di situ, rumah bukan lagi sekadar barang mewah, tapi ruang aman yang memang layak diperjuangkan.

Yang bikin film ini kuat adalah cara ia menunjukkan bahwa urusan uang bagi perempuan jarang berdiri sendiri. Ada soal cicilan, kerja sampingan, sampai pinjaman kantor, tapi ada juga rasa bersalah, tanggung jawab keluarga, dan dorongan buat tetap setia sama diri sendiri.

Karena itu, perjuangan Kaluna terasa relevan: ia bukan cuma sedang mengejar rumah, tapi juga sedang belajar memasang batas dan memilih prioritas tanpa kehilangan empati.

Honest Candidate: Ketika Kejujuran Jadi Bumerang

Politisi perempuan tidak bisa berbohong dalam film komedi Honest Candidate 2020

Kalau Home Sweet Loan bicara soal beban finansial, Honest Candidate masuk ke wilayah yang lebih ramai: politik. Menurut laman resmi Korean Film Council dalam artikel RA Mi-ran, GIM Mu-yeol and NA Moon-hee Campaign for HONEST CANDIDATE, Ra Mi-ran memerankan Joo Sang-sook, politisi yang dikenal lihai berbohong menjelang pemilihan. Lalu, dalam laman film Korean Film Council, HONEST CANDIDATE (2020), ceritanya berubah absurd ketika Sang-sook dikutuk sehingga hanya bisa berkata jujur.

Di titik itu, film ini jadi satir yang lucu sekaligus nyelekit. Ia memperlihatkan bahwa perempuan di ruang politik sering dipaksa menjaga citra, berbicara dengan hati-hati, dan terus tampil meyakinkan.

Begitu semua topeng itu runtuh, yang muncul justru pertanyaan penting: apakah kejujuran benar-benar dihargai, atau justru dianggap berbahaya? Dari situ, Honest Candidate bukan cuma bicara soal reputasi, tapi juga soal risiko, kuasa, dan betapa mahalnya kepercayaan dalam karier publik.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Film tentang Perempuan Pemimpin

Equity: Ambisi, Etika, dan Politik di Dunia Keuangan

Adegan film Equity 2016 menampilkan perempuan karier di dunia finansial

Equity menawarkan sudut pandang yang jarang muncul di film drama finansial: dunia Wall Street dari perspektif perempuan yang harus bertahan di sistem yang penuh bias. 

Di laman Apple TV berjudul Equity, film ini digambarkan sebagai drama Wall Street tentang seorang investment banker perempuan yang berusaha naik ke puncak di tengah tekanan besar, sementara Rotten Tomatoes dalam artikel Equity juga merangkum ceritanya sebagai perjuangan seorang investment banker yang berhadapan dengan praktik korup di sekelilingnya.

Tokoh Naomi Bishop, yang diperankan Anna Gunn, berada di posisi yang serba rumit: dia ambisius, kompeten, tetapi juga terus berhadapan dengan ruang kerja yang tidak netral. 

The Guardian lewat artikel Equity review: hotly toxic tale of women on Wall Street is a greedy treat menyoroti bagaimana film ini terasa segar karena menukar perspektif klasik Wall Street dengan pengalaman perempuan yang harus bekerja ekstra keras untuk diakui. 

Di sini, tekanan kantor bukan cuma soal target dan angka, tapi juga soal bagaimana perempuan dipersepsikan di ruang yang masih sering dianggap maskulin.

Yang bikin Equity menarik adalah dilema moralnya. Naomi tidak cuma berjuang mengejar sukses, tapi juga terus ditarik ke situasi yang menguji batas integritas. 

Time dalam artikel Women of Wall Street Face Off in Exclusive Clip From Equity menulis bahwa film ini menampilkan ambisi, pride, trust, dan realitas seksisme di dunia kerja finansial. Artinya, film ini bukan hanya soal siapa yang paling pintar membaca pasar, tapi juga siapa yang sanggup tetap jujur saat sistem mendorong orang untuk kompromi.

Equity juga tidak jatuh ke gambaran yang terlalu sederhana soal sisterhood. Hubungan antarkarakter perempuan di film ini terasa realistis: ada dukungan, tapi ada juga kompetisi dan rasa saling curiga. Justru di situ letak kuatnya. 

Film ini menunjukkan bahwa perempuan tidak selalu berada dalam posisi yang sama, dan ketika sistemnya timpang, mereka pun bisa ikut terdorong untuk saling bersaing demi bertahan. Itu yang bikin narasinya terasa lebih jujur, kompleks, dan dekat dengan realitas kerja hari ini.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

5 Film tentang Perempuan dan Dunia Finansial: Tema yang Tidak Boleh Dilewatkan Read More