cara memberikan feedback ke rekan kerja

Cara Menerima ‘Feedback’ di Kantor Tanpa Merasa Diserang

Pernah merasa suasana hati langsung berantakan setelah atasan bilang hasil kerjamu perlu diperbaiki? Padahal, mungkin kamu sudah menghabiskan berjam-jam untuk menyelesaikan tugas tersebut. Rasanya wajar kalau kamu kecewa, apalagi ketika merasa sudah memberikan usaha terbaik. Namun, mendengar bahwa pekerjaan kita masih punya kekurangan bukan berarti kita tidak kompeten atau gagal menjalankan tanggung jawab.

Dalam dunia kerja, feedback atau umpan balik merupakan bagian dari proses belajar dan berkembang secara profesional. Masukan membantu kita memahami hal-hal yang sudah berjalan baik, bagian yang perlu ditingkatkan, serta ekspektasi yang mungkin belum dipahami sepenuhnya. Masalahnya, menerima masukan tidak selalu mudah. Ada kalanya kita merasa disalahkan, malu karena dikritik di depan rekan kerja, atau kesal karena orang lain tidak memahami situasi yang sedang kita hadapi.

Dikutip dari Journal of Organizational Behavior, Performance Feedback: A Critical Systematic Review, menemukan bahwa feedback positif cenderung mendukung peningkatan kinerja. Sementara itu, feedback negatif membutuhkan kondisi tertentu agar efektif, termasuk hubungan kerja yang baik antara atasan dan karyawan.

Gambaran ini sejalan dengan penelitian Avraham N. Kluger dan Angelo DeNisi yang diterbitkan dalam Psychological Bulletin pada 1996. Mereka menganalisis ratusan hasil penelitian tentang feedback dan menemukan bahwa lebih dari sepertiga intervensi yang diteliti justru menurunkan kinerja. Artinya, masukan tidak otomatis membuat seseorang bekerja lebih baik. Kritik yang diterima juga bisa membuat orang kehilangan fokus pada pekerjaannya, terutama ketika ia merasa dirinya yang sedang dinilai, bukan hasil kerjanya.

Jadi, bagaimana cara menerima feedback di kantor tanpa terus-menerus merasa tersinggung atau kehilangan kepercayaan diri? Kamu tidak harus langsung setuju dengan semua pendapat orang lain. Yang penting, kamu bisa mendengarkan, menilai masukan secara objektif, dan menentukan langkah perbaikan yang masuk akal.

Baca Juga: ‘Positive Culture’: Rahasia Budaya Kerja Sehat yang Bikin Karyawan Betah dan Produktif

Apa Itu Feedback di Kantor dan Mengapa Penting?

Feedback di kantor adalah informasi atau tanggapan mengenai pekerjaan, perilaku profesional, komunikasi, maupun hasil kerja seseorang. Masukan ini bisa datang dari atasan, rekan satu tim, bawahan, klien, bahkan orang dari divisi lain yang bekerja bersama kita. Bentuknya beragam, mulai dari apresiasi atas pekerjaan yang diselesaikan dengan baik hingga koreksi karena hasilnya belum memenuhi standar yang diharapkan.

Misalnya, kamu bekerja sebagai content creator dan atasan memberikan masukan bahwa artikelmu sudah menarik, tetapi pembukaannya terlalu panjang sehingga pembaca mungkin kehilangan minat. Masukan tersebut memberikan gambaran tentang bagian yang perlu diperbaiki. Kamu tidak perlu menebak-nebak alasan tulisanmu diminta direvisi karena ada informasi spesifik yang bisa ditindaklanjuti.

Hal serupa berlaku untuk pekerjaan lain, seperti presentasi, komunikasi dengan klien, atau koordinasi dengan anggota tim.

Feedback juga membantu kita melihat kebiasaan yang mungkin tidak disadari. Kamu mungkin merasa sudah menjelaskan tugas dengan jelas, tetapi rekan kerja ternyata masih kebingungan memahami instruksi. Atau, kamu merasa mampu bekerja di bawah tekanan, tetapi tanpa sadar sering terlambat memberi kabar ketika tenggat waktu terancam. Masukan dari orang lain bisa membantu kita memahami bagaimana cara kerja sendiri memengaruhi orang di sekitar.

Meski begitu, feedback bukan kebenaran mutlak. Orang yang memberikan masukan juga memiliki sudut pandang, keterbatasan informasi, dan kemungkinan bias. Menerima masukan secara profesional bukan berarti menelan semua komentar mentah-mentah. Kita tetap perlu menilai apakah masukan tersebut relevan, berdasarkan fakta, dan sesuai dengan tanggung jawab pekerjaan.

Perbedaan Feedback Konstruktif dan Kritik yang Menjatuhkan

Feedback konstruktif berfokus pada perilaku, hasil kerja, atau hal tertentu yang bisa diperbaiki. Misalnya, atasan mengatakan, “Laporanmu sudah lengkap, tetapi bagian rekomendasinya perlu dilengkapi dengan data pendukung supaya lebih meyakinkan.” Komentar ini menjelaskan bagian yang perlu ditingkatkan dan memberikan gambaran mengenai hasil yang diharapkan.

Sebaliknya, kritik yang menjatuhkan cenderung menyerang pribadi tanpa memberikan arahan yang jelas. Komentar seperti, “Kamu memang tidak pernah becus mengerjakan apa pun,” tidak menjelaskan kesalahan spesifik maupun cara memperbaikinya. Kalimat semacam ini justru bisa membuat seseorang merasa tidak berharga dan kesulitan memahami apa yang sebenarnya perlu dilakukan.

Kita tidak perlu memperlakukan setiap komentar negatif sebagai masukan yang berharga. Jika feedback disampaikan dengan cara yang menyakitkan, kamu tetap bisa mencari informasi yang relevan tanpa harus menerima penghinaan sebagai sesuatu yang wajar. Profesionalisme bukan berarti membiarkan orang lain merendahkan kita, melainkan mampu merespons situasi sambil menjaga batasan dan martabat diri.

Baca Juga: Micro-retirement: Jeda Kerja yang Makin Dilirik Gen Z

Mengapa Menerima Feedback di Kantor Terasa Sulit?

Bagi sebagian orang, mendengar masukan tentang pekerjaan terasa seperti menerima penilaian terhadap seluruh dirinya. Ketika atasan mengatakan presentasi kita kurang terstruktur, misalnya, kita mungkin langsung berpikir bahwa diri sendiri tidak cukup pintar atau tidak pantas berada di posisi tersebut. Padahal, kemampuan menyusun presentasi adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan ditingkatkan.

Reaksi seperti ini bisa muncul karena pekerjaan sering berkaitan erat dengan identitas diri. Kita menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk bekerja sehingga hasilnya terasa personal. Ketika hasil tersebut dikritik, kita pun bisa merasa usaha yang sudah diberikan tidak dihargai. Perasaan itu semakin kuat ketika berada di lingkungan kerja yang kompetitif atau terbiasa dibandingkan dengan rekan lain.

Takut Dianggap Tidak Kompeten

Enggak sedikit karyawan yang merasa harus selalu terlihat mampu di hadapan atasan dan rekan kerja. Mereka khawatir mengakui kekurangan akan membuat orang lain meragukan kemampuan profesionalnya. Akibatnya, ketika menerima feedback, mereka buru-buru menjelaskan alasan di balik kesalahan, mencari pembenaran, atau menunjukkan bahwa sebenarnya mereka sudah bekerja keras.

Padahal, kemampuan menerima masukan justru bisa menjadi bagian dari perkembangan profesional. Tidak ada karyawan yang langsung menguasai seluruh keterampilan sejak hari pertama bekerja. Bahkan, orang yang sudah bertahun-tahun berada di bidangnya masih bisa menemukan cara baru untuk bekerja lebih efektif. Mengakui ada hal yang perlu diperbaiki bukan berarti kamu tidak kompeten, melainkan menunjukkan bahwa kamu mampu mengevaluasi diri.

Coba ubah pertanyaan yang muncul di kepala. Daripada berpikir, “Atasanku mengkritik hasil kerjaku karena aku tidak becus,” kamu bisa bertanya, “Keterampilan apa yang perlu aku tingkatkan agar hasil berikutnya lebih baik?” Perubahan cara berpikir ini tidak otomatis menghilangkan rasa tidak nyaman, tetapi membantu mengarahkan perhatian pada sesuatu yang bisa dikendalikan.

Menganggap Feedback sebagai Serangan Pribadi

Feedback juga bisa terasa menyakitkan ketika disampaikan dengan nada tajam, diberikan secara mendadak, atau muncul setelah kita berusaha keras menyelesaikan pekerjaan. Dalam situasi seperti ini, kita mungkin lebih fokus pada perasaan tersinggung daripada isi masukan. Bahkan, komentar yang sebenarnya relevan bisa sulit diterima karena cara penyampaiannya membuat kita merasa diserang.

Ketika itu terjadi, cobalah memisahkan dua hal: cara orang lain menyampaikan masukan dan substansi yang ingin disampaikan. Kamu boleh merasa tidak nyaman dengan nada bicara atasan, tetapi tetap mengevaluasi apakah ada bagian pekerjaan yang memang perlu diperbaiki. Sebaliknya, jika komentarnya tidak jelas atau mengandung penghinaan, kamu tidak wajib menyimpulkan bahwa semua yang dikatakan orang tersebut benar.

Kamu tidak perlu langsung membantah seluruh masukan hanya karena penyampaiannya kurang menyenangkan. Namun, kamu juga tidak harus menerima perlakuan buruk hanya karena orang tersebut memiliki jabatan lebih tinggi.

Baca Juga: Cara Memberikan Feedback pada Rekan Kerja dengan Tepat

Cara Menindaklanjuti Feedback agar Tidak Berhenti di Percakapan

Setelah menerima masukan, langkah berikutnya adalah menerapkannya dalam pekerjaan sehari-hari. Bagian ini sering kali lebih menantang daripada mendengarkan feedback itu sendiri. Saat percakapan berlangsung, kita mungkin merasa termotivasi untuk berubah. Namun, beberapa hari kemudian, rutinitas kembali padat dan masukan tersebut perlahan terlupakan.

Artikel Harvard Business Review, How to Give — and Receive — Critical Feedback membahas proses memberi dan menerima kritik di tempat kerja. Salah satu hal yang bisa kita tarik untuk praktik sehari-hari adalah pentingnya menjadikan percakapan feedback sebagai proses yang bisa ditindaklanjuti, bukan sekadar momen ketika seseorang menyampaikan kekurangan kita. Ketika masukan terasa terlalu umum, kamu bisa meminta contoh yang spesifik, memastikan bagian pekerjaan yang perlu diperbaiki, dan memperjelas ekspektasi untuk hasil berikutnya.

Agar hal itu tidak berhenti sebagai niat, ubah feedback menjadi tindakan yang realistis. Jika atasan mengatakan kamu perlu meningkatkan komunikasi, jangan berhenti pada keinginan untuk menjadi lebih komunikatif. Tentukan perilaku yang bisa diamati, misalnya mengirim pembaruan proyek setiap dua hari, melaporkan hambatan begitu teridentifikasi, atau mengonfirmasi pembagian tugas sebelum mulai bekerja.

Kamu juga bisa meminta kesempatan untuk mengevaluasi perkembangan setelah menerapkan masukan tersebut. Misalnya, setelah dua minggu, tanyakan kepada atasan apakah format laporan baru sudah lebih mudah dipahami atau apakah pembaruan proyek yang lebih rutin membantu koordinasi tim. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui apakah perubahan yang dilakukan sudah sesuai harapan atau masih perlu disesuaikan.

Jangan mengukur perkembangan hanya dari pujian atau kritik yang kamu terima. Perhatikan juga indikator yang lebih konkret, seperti berkurangnya kesalahan, proses kerja yang lebih teratur, atau berkurangnya miskomunikasi. Masukan lanjutan memang bermanfaat, tetapi kamu juga perlu belajar mengevaluasi hasil pekerjaan secara mandiri.

Bangun Kebiasaan Meminta Feedback secara Proaktif

Kamu tidak harus menunggu evaluasi tahunan atau teguran dari atasan untuk mengetahui kualitas pekerjaanmu. Meminta feedback secara berkala dapat membantu mengidentifikasi masalah lebih awal, ketika perbaikannya masih relatif mudah dilakukan.

Setelah menyelesaikan project, misalnya, kamu bisa bertanya, “Menurutmu, bagian mana dari proses kerja kemarin yang sudah efektif dan apa yang perlu aku perbaiki untuk proyek berikutnya?” Pertanyaan seperti ini lebih berguna daripada sekadar meminta penilaian apakah pekerjaanmu sudah bagus atau belum. Kamu memberi ruang bagi orang lain untuk menjelaskan aspek yang spesifik dan relevan.

Meski begitu, meminta feedback bukan berarti kamu harus terus-menerus mencari validasi dari orang lain. Jika setiap keputusan kecil membuatmu merasa perlu meminta persetujuan, kamu justru bisa kesulitan membangun kepercayaan terhadap kemampuan sendiri. Gunakan masukan sebagai sumber informasi, lalu kombinasikan dengan pertimbangan profesional dan pemahamanmu terhadap pekerjaan.

Kamu juga bisa meminta masukan dari beberapa pihak ketika proyek melibatkan banyak orang. Atasan mungkin memahami target bisnis, sedangkan rekan satu tim bisa memberikan perspektif mengenai koordinasi dan alur kerja. Perbedaan sudut pandang tersebut dapat membantumu memperoleh gambaran yang lebih lengkap, selama masukan yang diberikan relevan dan didasarkan pada pengalaman nyata.

Evaluasi Kemajuan tanpa Menuntut Diri Harus Sempurna

Salah satu jebakan ketika berusaha memperbaiki diri adalah menganggap bahwa setiap feedback harus langsung menghasilkan perubahan besar. Akibatnya, kita mudah kecewa ketika masih melakukan kesalahan yang sama atau belum mampu memenuhi semua ekspektasi dalam waktu singkat. Padahal, perkembangan profesional umumnya membutuhkan latihan, kesempatan mencoba, dan evaluasi berulang.

Coba bandingkan kondisi pekerjaanmu sebelum dan sesudah menerapkan masukan. Jika sebelumnya kamu sering terlambat memberikan pembaruan, apakah sekarang anggota tim lebih mudah mengetahui progres proyek? Jika sebelumnya presentasimu terlalu panjang, apakah kamu mulai mampu menyampaikan poin utama dengan lebih ringkas? Pertanyaan semacam ini membantu kamu melihat kemajuan tanpa harus menunggu hasil yang sempurna.

Kamu juga perlu memahami bahwa tidak semua masukan harus menghasilkan perubahan permanen. Ada saran yang cocok untuk situasi tertentu, tetapi kurang relevan ketika konteks pekerjaan berubah. Ada pula feedback yang ternyata tidak sesuai setelah kamu mengujinya. Karena itu, evaluasi secara berkala apakah tindakan yang kamu ambil benar-benar membantu mencapai tujuan kerja.

Bagaimana Jika Feedback Disampaikan dengan Cara yang Merendahkan?

Tidak semua situasi bisa diselesaikan hanya dengan mengubah cara kita menerima kritik. Jika atasan atau rekan kerja berulang kali menggunakan hinaan, mempermalukanmu di depan orang lain, atau memberikan komentar personal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, masalahnya bukan semata-mata pada kemampuanmu menerima feedback.

Kamu bisa meminta penjelasan mengenai kritik yang disampaikan dan mengarahkan percakapan kembali pada pekerjaan. Misalnya, “Saya ingin memperbaiki hasilnya. Bisa dijelaskan bagian mana yang belum sesuai dan apa yang perlu saya ubah?” Respons ini membantu memperjelas ekspektasi tanpa harus membalas dengan serangan personal.

Jika perlakuan merendahkan terus berulang, catat kejadian yang relevan dan pertimbangkan mencari dukungan dari pihak yang tepat, seperti HR atau atasan lain yang dipercaya, sesuai situasi di tempat kerja. Kamu tidak perlu menganggap penghinaan sebagai konsekuensi normal dari proses belajar.

Pada saat yang sama, cobalah tetap memeriksa apakah ada informasi substantif yang bisa digunakan untuk memperbaiki pekerjaan. Kamu bisa mengambil pelajaran dari kritik yang disampaikan dengan buruk tanpa membenarkan cara orang tersebut memperlakukanmu. Keduanya tidak harus diterima sebagai satu paket.

Menerima Feedback Tanpa Kehilangan Kepercayaan Diri

Menerima feedback di kantor bukan berarti harus selalu mengangguk, meminta maaf, atau mengubah semua hal sesuai keinginan orang lain. Kamu boleh merasa kecewa ketika pekerjaan dikritik, terutama jika sudah mengerahkan banyak tenaga untuk menyelesaikannya. Perasaan itu tidak otomatis membuatmu tidak profesional.

Yang bisa kamu latih adalah memberi jeda sebelum merespons, meminta penjelasan ketika masukan kurang spesifik, lalu menilai bagian mana yang memang perlu diperbaiki. Jika kritiknya relevan, ubah menjadi langkah kerja yang jelas dan lihat apakah perubahan tersebut membantu. Jika komentarnya tidak berdasar atau merendahkan, kamu berhak mempertanyakan dan menetapkan batasan.

Pekerjaanmu mungkin masih membutuhkan revisi, presentasimu mungkin belum cukup ringkas, atau koordinasi timmu masih perlu diperbaiki. Semua itu adalah hal yang bisa dievaluasi tanpa harus menjadi ukuran tunggal atas kemampuan dan harga dirimu.

Kamu tidak harus menjadi pekerja yang sempurna untuk bisa berkembang. Cukup pahami masukan yang layak ditindaklanjuti, lakukan perbaikan yang masuk akal, dan tetap kritis terhadap cara orang lain memperlakukanmu.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi

Cara Menerima ‘Feedback’ di Kantor Tanpa Merasa Diserang Read More