apa itu rage applying

Rage Applying: Ketika Frustrasi Kerja Bikin Kita Asal Lamar

Baru saja dimarahi atasan, kenaikan gaji yang ditunggu ternyata batal, atau pekerjaan tambahan kembali diberikan tanpa banyak penjelasan. Hari kerja belum benar-benar selesai, tapi kepala sudah penuh. Malamnya, kamu membuka LinkedIn atau situs lowongan kerja dan mulai melamar.

Satu lowongan. Dua. Lima. Sepuluh.

Semakin kesal, semakin banyak tombol “Apply” yang ditekan. Beberapa posisi sebenarnya tidak terlalu menarik, bahkan ada yang tidak benar-benar sesuai pengalaman. Namun, saat itu rasanya satu hal yang penting: segera keluar dari pekerjaan sekarang.

Kebiasaan melamar banyak pekerjaan secara impulsif ketika sedang marah atau frustrasi ini dikenal sebagai rage applying. Istilah tersebut menggambarkan dorongan mencari pekerjaan baru setelah seseorang merasa sudah terlalu kesal dengan situasi di tempat kerjanya.

Menurut SHRM, What is Rage Applying in HR and How to Deal With It?, rage applying berkaitan dengan ketidakpuasan kerja ketika karyawan merasa tidak dihargai, terlalu banyak bekerja, atau diabaikan. Istilahnya mungkin terdengar baru, tetapi perilakunya sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.

Yang berubah adalah cara orang membicarakannya. Media sosial membuat pengalaman seseorang mengirim puluhan lamaran setelah kesal dengan pekerjaannya lebih mudah menjadi cerita yang kemudian ikut menyebarkan istilah rage applying.

Baca Juga: ‘Doomjobbing’: Ketika Terlalu Sering Cari Kerja Justru Memicu ‘Burnout’

Apa Itu Rage Applying?

Sederhananya, rage applying adalah ketika seseorang melamar banyak pekerjaan dalam waktu singkat karena sedang marah, kecewa, frustrasi, atau sudah merasa tidak tahan dengan pekerjaannya.

Keinginan untuk pindah kerja tentu bukan masalah. Bisa saja memang ada alasan yang masuk akal untuk meninggalkan perusahaan sekarang. Persoalannya adalah bagaimana keputusan tersebut dibuat.

Ada perbedaan antara mencari pekerjaan karena sudah mempertimbangkan langkah karier berikutnya dan mencari pekerjaan karena sedang ingin kabur dari situasi yang membuatmu marah.

Dalam pencarian kerja yang lebih terencana, kamu mungkin sudah tahu posisi yang ingin dituju, kisaran gaji yang dibutuhkan, sistem kerja yang cocok, atau kemampuan yang ingin dikembangkan. Kamu juga masih punya waktu untuk membaca deskripsi pekerjaan, mencari tahu perusahaan, dan mempertimbangkan apakah posisi tersebut memang sesuai.

Sementara ketika sedang rage applying, pertimbangannya bisa menyusut menjadi satu kalimat sederhana: yang penting enggak kerja lagi di sini.

Misalnya, setelah mengetahui promosi yang sudah diharapkan ternyata batal, kamu membuka situs lowongan dan mulai melamar posisi marketing, social media specialist, account executive, sampai copywriter. Beberapa pekerjaan bahkan tidak pernah masuk rencana kariermu. Namun karena sedang berpikir, “Apa saja deh, asal bukan di kantor ini,” semuanya terasa layak dicoba.

Besoknya, setelah emosi mereda, kamu mungkin baru sadar bahwa sebagian besar pekerjaan yang dilamar sebenarnya tidak kamu inginkan.

Di situlah persoalan rage applying bukan sekadar jumlah lamaran. Yang perlu diperhatikan adalah apakah keputusan mencari pekerjaan baru masih masuk akal setelah emosi yang memicunya sudah mereda.

Baca Juga: Ratusan Kali Melamar Kerja, Ditolak karena Gendut

Kenapa Kita Bisa Sampai Rage Applying?

Rage applying biasanya tidak muncul begitu saja setelah satu hari kerja yang buruk. Satu kejadian memang bisa menjadi pemicu, tetapi rasa frustrasinya sering kali sudah menumpuk jauh sebelumnya.

Kamu mungkin sudah berulang kali lembur, merasa gaji tidak sebanding dengan tanggung jawab, jarang mendapat apresiasi, atau tidak melihat kesempatan berkembang. Selama beberapa waktu, semuanya masih bisa ditahan. Sampai kemudian datang satu kejadian lagi yang membuat batas kesabaran terasa habis.

Salah satu pemicunya adalah perasaan tidak dihargai. Penghargaan tentu tidak selalu berarti uang. Seseorang juga bisa merasa tidak dihargai ketika kontribusinya tidak pernah diakui, idenya diambil orang lain tanpa kredit, promosi diberikan tanpa penjelasan yang jelas, atau pekerjaan tambahan terus datang seolah-olah itu kewajiban yang tidak perlu dibicarakan.

Lama-lama muncul pertanyaan, “Kalau usaha gue di sini enggak dianggap, kenapa gue harus terus bertahan?”

Beban kerja yang tidak masuk akal juga bisa mendorong seseorang mencari jalan keluar. Ketika pekerjaan tidak pernah selesai, pesan kantor terus masuk di luar jam kerja, tenggat datang berdekatan, dan prioritas berubah hampir setiap hari, energi mental perlahan terkuras.

Pada awalnya, mungkin kamu masih berpikir bagaimana menyelesaikan semuanya. Setelah berlangsung cukup lama, pertanyaannya bisa berubah menjadi, “Gimana caranya gue bisa keluar dari sini?”

Survei Robert Walters pada 2023 memberikan gambaran mengenai hubungan antara pengalaman di tempat kerja dan dorongan mencari pekerjaan baru. Dalam artikel 67% of professionals admit to ‘rage-applying’ to new roles, Robert Walters melaporkan hasil survei terhadap 2.000 profesional di Amerika Serikat. Sebanyak 67 persen responden mengaku pernah melakukan rage applying, sementara lingkungan kerja yang toksik disebut sebagai pemicu utama oleh 51 persen responden.

Angka tersebut bukan data terbaru dan tidak bisa dianggap mewakili pekerja Indonesia saat ini. Namun, survei tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman buruk di tempat kerja dapat berkaitan dengan dorongan untuk mencari jalan keluar.

Ada pula orang yang tidak menghadapi konflik besar, tetapi mulai merasa kariernya jalan di tempat. Pekerjaannya aman dan rekan kerja baik, tetapi kesempatan belajar semakin sedikit dan tidak ada gambaran jelas tentang langkah berikutnya. Ketika situasi seperti ini bertemu dengan satu kejadian yang mengecewakan, frustrasi yang selama ini dipendam bisa muncul sekaligus.

Penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa pertimbangan terhadap perusahaan dan pekerjaan ikut memengaruhi minat seseorang untuk melamar. Dalam artikel INOBIS: Jurnal Inovasi Bisnis dan Manajemen Indonesia, Pengaruh Employer Attractiveness dan Ekspektasi Kerja Terhadap Minat Melamar Pekerjaan Mahasiswa, employer attractiveness dan ekspektasi terhadap pekerjaan ditemukan berpengaruh terhadap minat melamar.

Penelitian tersebut tidak secara khusus membahas rage applying. Namun, temuan ini memberi konteks bahwa ketika mulai mempertimbangkan pekerjaan baru, calon pekerja tidak hanya melihat apakah ada lowongan, tetapi juga bagaimana mereka memandang perusahaan dan pekerjaan yang ditawarkan.

Apakah Rage Applying Selalu Buruk?

Melamar pekerjaan ketika sedang marah memang bisa membuat seseorang mengambil keputusan terlalu cepat. Namun, rasa marah itu sendiri tidak selalu keliru. Kadang, justru rasa marah membuat seseorang sadar bahwa ada sesuatu yang sudah terlalu lama tidak beres di tempat kerjanya.

Anggap saja rasa marah sebagai alarm. Suaranya mungkin mengganggu dan membuat kita ingin segera melakukan sesuatu, tetapi alarm enggak otomatis berarti kita harus berlari keluar tanpa melihat keadaan. Kita tetap perlu mencari tahu apa yang membuatnya berbunyi.

Begitu juga dengan rage applying. Setelah emosi mereda, coba tanyakan lagi: apakah aku memang sudah enggak cocok dengan pekerjaan ini, atau aku hanya sedang kesal karena satu kejadian?

Kalau rasa tidak puas sudah muncul berulang kali, ceritanya bisa berbeda. Mungkin kamu memang sudah terlalu lama menghadapi masalah yang sama dan kejadian terakhir hanya menjadi pemicunya.

Ada kondisi ketika keinginan untuk pergi juga bukan sekadar reaksi sesaat. Misalnya, kamu terus menghadapi atasan yang merendahkan, perlakuan yang tidak adil, pelecehan, atau lingkungan kerja yang membuatmu merasa tidak aman.

Dalam situasi seperti ini, nasihat untuk tidak mengambil keputusan saat sedang marah memang terdengar masuk akal. Namun, bukan berarti kamu harus mengabaikan alasan mengapa kamu ingin pergi.

Kalau masalahnya sudah menjadi pola, pernah dibicarakan, dan tidak menunjukkan tanda-tanda membaik, mencari pekerjaan baru bisa menjadi pilihan yang rasional.

Yang penting, keinginan untuk pergi tidak membuatmu asal memilih tempat berikutnya.

Kalau masalah utama di kantor sekarang adalah budaya lembur, misalnya, jam kerja dan work-life balance bisa menjadi kriteria penting ketika mencari pekerjaan berikutnya. Kalau masalahnya adalah atasan tertentu, informasi tentang gaya kepemimpinan dan budaya tim calon perusahaan mungkin justru lebih penting daripada sekadar nama jabatan.

Dengan begitu, rasa marah tetap bisa menjadi informasi. Hanya saja, ia tidak dibiarkan menjadi satu-satunya pengambil keputusan.

Bagaimana Mencari Kerja Tanpa Terjebak Rage Applying?

Berhenti rage applying bukan berarti kamu harus berhenti mencari pekerjaan. Kalau memang sudah tidak nyaman dengan pekerjaan sekarang, mencari peluang baru tetap bisa menjadi langkah yang masuk akal.

Yang perlu diubah adalah caranya.

Beri Jeda Sebelum Mengirim Lamaran

Kalau baru saja mengalami kejadian yang membuatmu sangat marah, tidak ada salahnya menunda tombol “Apply”.

Setelah emosi mereda, buka lagi lowongan yang tadi ingin kamu lamar dan tanyakan: kalau kejadian di kantor tadi tidak terjadi, apakah posisi ini tetap akan menarik buatku?

Kalau jawabannya iya, lanjutkan. Kalau setelah membaca ulang deskripsinya kamu malah berpikir bahwa sebenarnya tidak tertarik, mungkin yang dibutuhkan saat itu bukan lamaran baru, melainkan waktu untuk menenangkan diri.

Cari Tahu Masalah yang Sebenarnya

Sebelum memutuskan pindah, coba cari tahu apa yang sebenarnya membuatmu ingin pergi.

Apakah gaji? Atasan? Beban kerja? Jam kerja? Kurangnya kesempatan berkembang? Konflik dengan rekan kerja? Tidak adanya work-life balance? Atau kamu memang sudah tidak tertarik dengan bidang pekerjaan tersebut?

Jawabannya akan menentukan langkah berikutnya.

Kalau masalahnya gaji, kamu bisa mencari perusahaan dengan kompensasi yang lebih sesuai. Kalau masalahnya atasan tertentu, mungkin pindah tim sudah cukup. Kalau kamu memang sudah tidak tertarik dengan bidang pekerjaanmu, pindah perusahaan dalam industri yang sama belum tentu menyelesaikan masalah.

Tanpa mengetahui sumber frustrasinya, ada risiko kamu hanya memindahkan masalah lama ke tempat baru.

Tentukan Apa yang Kamu Cari?

Setelah tahu alasan ingin pergi, buat daftar hal yang benar-benar penting buatmu. Misalnya gaji minimum, jenis pekerjaan, sistem kerja, jam kerja, kesempatan belajar, budaya perusahaan, atau gaya kepemimpinan.

Daftar ini bisa menjadi filter ketika melihat lowongan.

Dengan begitu, prosesnya berubah dari “apa saja asal keluar” menjadi “gue sedang mencari tempat yang memang lebih cocok”.

Riset Perusahaan, Bukan Cuma Lowongannya

Ketika sedang rage applying, mudah untuk terlalu fokus pada posisi yang ditawarkan.

Judul pekerjaan terlihat menarik. Gajinya sesuai. Ada fasilitas remote. Selesai.

Padahal, pekerjaan baru bukan cuma soal job description. Cari tahu bagaimana reputasi perusahaan sebagai tempat kerja, seperti apa gaya manajemennya, bagaimana pengalaman orang yang pernah bekerja di sana, dan apakah ekspektasi pekerjaannya masuk akal.

Informasi dari internet tentu tidak akan memberi gambaran lengkap. Namun, riset tetap lebih baik daripada memilih hanya berdasarkan kesan pertama.

Kamu juga tidak perlu mengirim puluhan lamaran hanya untuk merasa sedang bergerak. Lebih baik menghabiskan energi untuk posisi yang memang sesuai, menyesuaikan CV, dan mempersiapkan diri menghadapi proses seleksi.

Baca Juga: Pernah Resign Lalu Balik Lagi? Ini Plus-Minus Boomerang Career Moves

Kapan Saatnya Benar-benar Pergi?

Kamu tidak harus menunggu sampai benar-benar tidak tahan untuk mulai mencari pekerjaan baru.

Justru, mencari peluang ketika kondisi masih relatif baik bisa membuat prosesnya lebih tenang. Kamu bisa memperbarui CV, memperluas jaringan profesional, melihat perkembangan gaji di bidangmu, atau memantau lowongan yang menarik tanpa tekanan untuk segera pindah.

Yang lebih penting daripada satu kejadian adalah pola.

Kalau masalah yang sama terus muncul, sudah pernah dibicarakan tetapi tidak berubah, dan kamu tidak melihat tanda-tanda kondisi akan membaik, mencari pekerjaan baru bisa menjadi pilihan yang masuk akal.

Begitu juga ketika pekerjaan sekarang semakin bertentangan dengan kebutuhan yang menurutmu penting. Mungkin kamu membutuhkan jam kerja yang lebih manusiawi, kesempatan berkembang yang lebih jelas, atau lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan cara kamu bekerja.

Sebaliknya, kalau kamu baru mengalami satu hari buruk dan sebenarnya masih menyukai sebagian besar pekerjaanmu, tidak ada salahnya menunggu sampai kepala lebih dingin sebelum mengambil keputusan besar.

Kamu tetap boleh membuka situs lowongan. Kamu bahkan boleh menyimpan beberapa posisi yang menarik.

Tidak semua lowongan harus langsung dilamar.

Kalau rasa marah membuatmu sadar bahwa ada sesuatu yang perlu berubah, dengarkan. Tapi setelah itu, biarkan pertimbangan yang lebih tenang menentukan ke mana kamu ingin pergi.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi

Rage Applying: Ketika Frustrasi Kerja Bikin Kita Asal Lamar Read More