Pernah merasa miskin padahal tabungan masih aman?
Kebutuhan bulanan terpenuhi, cicilan masih terkendali, bahkan ada dana yang sengaja disisihkan untuk keadaan darurat. Tapi begitu saldo rekening berkurang karena membeli sesuatu, muncul rasa bersalah. Rasanya seperti baru saja membuat keputusan finansial yang fatal.
Ada juga kondisi sebaliknya. Penghasilan cukup besar, kartu kredit masih bisa dipakai, limit paylater masih tersedia, sehingga merasa kondisi keuangan aman-aman saja. Padahal, ketika semua cicilan dan tagihan dihitung, ruang untuk bernapas sebenarnya sudah tipis.
Dua situasi tersebut punya kemiripan: perasaan tentang kondisi finansial tidak sepenuhnya sejalan dengan angka yang sebenarnya.
Belakangan, kondisi seperti ini banyak dibahas dengan istilah money dysmorphia. Bankrate dalam artikelnya, Money Dysmorphia: What to Know and Who It’s Impacting, menjelaskan money dysmorphia sebagai kondisi ketika persepsi seseorang terhadap status finansialnya tidak sesuai dengan realitas. Istilah ini juga bukan diagnosis klinis resmi.
Jadi, persoalannya bukan sekadar berapa banyak uang yang ada di rekening. Ada pikiran, pengalaman masa lalu, kebiasaan membandingkan diri, sampai cara melihat kesuksesan yang ikut memengaruhi hubungan seseorang dengan uang.
Baca Juga: 5 Film tentang Perempuan dan Dunia Finansial: Tema yang Tidak Boleh Dilewatkan
Apa Itu Money Dysmorphia?
Secara sederhana, money dysmorphia menggambarkan jarak antara bagaimana seseorang merasa tentang kondisi keuangannya dan bagaimana kondisi tersebut terlihat jika dilihat dari angka.
Misalnya, kamu punya penghasilan tetap, dana darurat, tabungan, dan pengeluaran yang masih sesuai anggaran. Namun, setiap kali hendak membeli sesuatu, muncul pikiran, “Gue enggak boleh belanja lagi nih. Nanti bisa miskin.”
Sebaliknya, seseorang bisa merasa cukup kaya karena masih mampu membeli barang atau bepergian dengan kartu kredit, padahal utangnya terus bertambah dan tidak punya dana cadangan.
NerdWallet dalam What Is Money Dysmorphia? When Money Never Feels Like Enough juga menggambarkan money dysmorphia sebagai ketidaksesuaian antara perasaan seseorang tentang keuangannya dan apa yang sebenarnya ditunjukkan angka. Kondisi tersebut dapat muncul dalam dua arah: merasa tidak baik-baik saja ketika sebenarnya mampu, atau mengeluarkan uang melebihi kemampuan.
Karena itu, money dysmorphia bukan sesederhana “terlalu pelit” atau “terlalu boros”. Yang menarik justru hubungan antara persepsi, emosi, dan perilaku finansial.
Money Dysmorphia Bukan Diagnosis Klinis
Penting untuk tidak buru-buru mendiagnosis diri sendiri hanya karena sesekali merasa cemas melihat saldo rekening.
Money dysmorphia bukan diagnosis kesehatan mental resmi. Istilah ini lebih banyak digunakan dalam pembahasan populer tentang hubungan psikologis seseorang dengan uang.
Fidelity dalam artikel What Is Money Dysmorphia and How Do You Overcome It? juga menjelaskan money dysmorphia sebagai ketidakcocokan antara perasaan seseorang mengenai kondisi finansial dan realitas keuangannya. Fidelity menekankan bahwa persoalannya bukan semata-mata soal berapa banyak uang yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang memandang kondisi tersebut.
Lagipula, rasa khawatir soal uang tidak selalu berarti persepsi kita sedang terdistorsi. Kalau biaya hidup memang meningkat, penghasilan tidak stabil, utang menumpuk, atau belum punya dana darurat, merasa cemas bisa menjadi respons terhadap situasi yang memang sedang sulit.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika perasaan dan kondisi objektif terus-menerus berada di dua tempat yang berbeda.
Baca Juga: Trauma Finansial Bebani Perempuan, Apa Jalan Keluarnya?
Seperti Apa Money Dysmorphia dalam Kehidupan Sehari-hari?
Merasa Selalu Kekurangan Meski Kondisi Cukup
Salah satu bentuknya adalah merasa tidak punya cukup uang meski kebutuhan sebenarnya terpenuhi.
Kamu sudah memiliki tabungan dan dana darurat, tetapi tetap panik setiap kali saldo berkurang. Makan bersama teman yang sudah masuk anggaran pun terasa seperti kesalahan besar. Setelah transaksi selesai, pikiran langsung dipenuhi kemungkinan buruk: bagaimana kalau nanti ada kebutuhan mendadak?
Sesekali merasa menyesal setelah belanja tentu wajar. Yang perlu diperhatikan adalah ketika rasa bersalah tersebut muncul hampir setiap kali menggunakan uang, termasuk untuk pengeluaran yang memang sudah direncanakan.
Terus Menabung tetapi Tidak Pernah Merasa Cukup
Menabung merupakan kebiasaan baik. Namun, bagaimana kalau targetnya terus berpindah?
“Kalau tabunganku sudah Rp50 juta, baru boleh santai.”
Setelah angka itu tercapai, target berubah menjadi Rp100 juta. Lalu Rp150 juta. Tidak ada titik ketika uang terasa cukup aman untuk digunakan.
Pada kondisi seperti ini, uang akhirnya hanya terasa sebagai sesuatu yang harus dikumpulkan. Padahal, uang juga punya fungsi untuk membantu seseorang menjalani kehidupan, membayar kebutuhan, mendapatkan pengalaman, belajar sesuatu, beristirahat, atau melakukan hal yang memang dianggap penting.
Terus Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Media sosial membuat standar finansial semakin mudah berubah.
Hari ini melihat teman membeli rumah. Besok melihat orang lain liburan ke luar negeri. Lusa ada unggahan seseorang yang membeli mobil baru atau membuka bisnis.
Tanpa sadar, semuanya bisa dikumpulkan menjadi satu kesimpulan: “Kok hidupku belum sejauh mereka?”
Padahal, kita tidak tahu keseluruhan kondisi finansial orang tersebut. Rumah bisa dibeli dengan KPR, liburan bisa menggunakan tabungan bertahun-tahun, dan barang mahal bisa saja dibeli dengan cicilan.
Dalam artikelnya How to Keep FOMO From Hurting Your Finances, Fidelity juga menjelaskan bahwa media sosial dapat memperkuat fear of missing out dan mendorong keinginan mengikuti gaya hidup orang lain hingga memicu pengeluaran berlebihan.
Masalahnya, standar “cukup” akhirnya tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan dan tujuan hidup sendiri, melainkan oleh apa yang terus muncul di layar.
Merasa Bersalah Saat Membeli Sesuatu untuk Diri Sendiri
Kamu sudah membayar kebutuhan, menabung, dan memenuhi kewajiban finansial. Tapi ketika membeli buku, pakaian, skincare, atau makan di restoran yang disukai, rasa bersalah tetap muncul.
“Harusnya uang ini ditabung.”
Kalimat tersebut terus berulang sampai menggunakan uang untuk diri sendiri terasa seperti tindakan yang tidak bertanggung jawab.
Padahal, pengeluaran yang sudah direncanakan dan masih sesuai kemampuan tidak otomatis berarti boros. Masalahnya bukan apakah seseorang boleh menikmati uang, melainkan apakah keputusan tersebut sesuai dengan kondisi dan prioritas finansialnya.
Menghindari Melihat Angka karena Takut
Pola lain yang bisa muncul adalah menghindari melihat angka sama sekali. Ini bisa terjadi ketika seseorang merasa terlalu takut untuk melihat saldo rekening, tagihan, atau catatan pengeluaran.
Tagihan kartu kredit dibiarkan. Aplikasi perbankan tidak dibuka. Anggaran tidak pernah dibuat karena rasanya lebih nyaman tidak tahu.
Masalahnya, semakin lama angka dihindari, semakin besar ketidakpastian. Ketidakpastian kemudian membuat kecemasan semakin sulit dikendalikan.
Sebaliknya, ada orang yang justru terus-menerus mengecek saldo karena membutuhkan kepastian bahwa uangnya masih aman. Baik menghindari angka maupun terus mencari kepastian dari angka tersebut bisa membuat hubungan dengan uang terasa melelahkan.
Baca juga: Financial Self-Care: Kelola Uang Tanpa Stres Saat Biaya Hidup Makin Mahal
Kenapa Money Dysmorphia Bisa Terjadi?
Tidak ada satu penyebab tunggal.
Bankrate dalam Money Dysmorphia: What to Know and Who It’s Impacting mengaitkan fenomena ini antara lain dengan kebiasaan membandingkan diri, paparan media sosial, dan pengalaman finansial masa lalu. Orang yang pernah mengalami ketidakamanan finansial juga dapat membawa rasa takut kehilangan uang sampai dewasa.
Pengalaman keluarga juga bisa membentuk cara seseorang melihat uang. Orang yang tumbuh dalam kondisi ekonomi tidak stabil mungkin sangat takut kehabisan uang meski situasinya sekarang sudah jauh lebih aman. Sebaliknya, seseorang yang terbiasa hidup nyaman mungkin tidak terlalu peka terhadap batas antara mampu membeli dan mampu membayar.
Itu sebabnya, memahami hubungan dengan uang tidak cukup hanya dengan melihat nominal penghasilan. Ada cerita yang dibawa seseorang sebelum ia menerima gaji pertamanya.
Baca Juga: Gaji Naik, tapi Tetap Pas-Pasan? Waspadai Lifestyle Creep yang Diam-Diam Ganggu Keuanganmu
Bagaimana Menghadapi Money Dysmorphia?
Langkah pertama bukan memaksa diri untuk “berpikir positif” tentang uang. Lebih berguna kalau kamu mulai memisahkan perasaan dari fakta.
Lihat Angka, Bukan Hanya Perasaan
Coba catat penghasilan, pengeluaran rutin, utang, tabungan, dana darurat, dan kewajiban lain.
Kalau selama ini kamu merasa selalu kekurangan, angka-angka tersebut bisa membantu melihat apakah perasaan itu memang sesuai dengan kondisi yang ada.
Sebaliknya, kalau merasa sangat aman karena masih bisa membeli apa pun, menghitung seluruh cicilan dan kewajiban bisa menunjukkan gambaran yang berbeda.
Tentukan Arti “Cukup” untuk Dirimu
“Cukup” tidak harus berarti punya uang sebanyak orang lain.
Kamu bisa menentukan target berdasarkan kebutuhan sendiri: berapa dana darurat yang dibutuhkan, utang apa yang perlu dilunasi, tujuan apa yang ingin dicapai, dan berapa ruang yang ingin disediakan untuk menikmati hidup.
Dengan begitu, target finansial tidak terus bergerak hanya karena melihat pencapaian orang lain.
Buat Ruang untuk Menikmati Uang
Anggaran tidak harus berisi larangan.
Setelah kebutuhan pokok, tabungan, dan kewajiban terpenuhi, kamu bisa menyediakan budget khusus untuk hiburan atau keinginan pribadi. Dengan begitu, membeli sesuatu yang memang sudah dianggarkan tidak perlu selalu diikuti rasa bersalah.
Uang bukan hanya angka yang harus disimpan. Ia juga alat untuk menjalani kehidupan.
Periksa Kembali Keyakinan tentang Uang
Coba tanyakan kepada diri sendiri: Apakah ketakutan ini berasal dari kondisi sekarang atau pengalaman masa lalu?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan masa lalu. Justru, memahami asal-usul cara pandang terhadap uang bisa membantu melihat apakah keyakinan tersebut masih relevan dengan kehidupan sekarang.
Kalau hubungan dengan uang sudah menimbulkan kecemasan berat, mengganggu pekerjaan, relasi, atau kemampuan mengambil keputusan, mencari bantuan profesional juga bisa dipertimbangkan. Perencana keuangan dapat membantu melihat kondisi finansial secara lebih objektif, sementara psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu jika persoalannya berkaitan dengan kecemasan, rasa bersalah, atau pengalaman masa lalu.
AFCPE melalui program A Therapeutic-informed Financial Counseling Approach to ‘Money Dysmorphia’: Reframing Perceived Financial Insecurity and Unlocking Healthy Financial Behavior juga membahas pendekatan konseling yang membantu seseorang membedakan fakta finansial dari rasa tidak aman yang muncul di dalam diri.
Punya hubungan yang lebih sehat dengan uang bukan berarti kamu harus selalu tenang setiap kali mengeluarkannya. Rasa khawatir, bersalah setelah belanja, atau kebiasaan membandingkan kondisi finansial dengan orang lain tetap bisa muncul.
Tapi ketika perasaan itu muncul, coba jangan langsung menganggapnya sebagai gambaran kondisi keuanganmu. Cek lagi saldo, pengeluaran, kebutuhan, dan tujuan finansialmu. Dari situ, kamu bisa melihat apakah memang ada masalah yang perlu dibereskan atau sebenarnya kamu hanya sedang merasa tidak aman.
Sebab, punya uang dan merasa aman dengan uang adalah dua hal yang berbeda.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.
Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.


