kenaikan gaji atau promosi jabatan

Job-dropping: Alasan Sebagian Pekerja Menolak Promosi Jabatan

Ketika atasannya menawarkan naik jabatan, keputusan yang diambil seorang pekerja justru di luar dugaan: ia menolaknya. Bukan karena tidak mampu atau kehilangan ambisi, melainkan karena merasa kenaikan jabatan akan membuat hidupnya semakin didominasi pekerjaan.

Dikutip dari The Guardian,  Job-dropping: why employees are turning down high-paying promotions, lewat pengalaman sejumlah pekerja, media tersebut menunjukkan bahwa kenaikan jabatan tidak selalu dipandang sebagai langkah karier yang ideal. Bagi sebagian orang, tambahan gaji dianggap enggak sebanding dengan meningkatnya beban kerja, tekanan, serta berkurangnya waktu untuk keluarga dan kehidupan pribadi.

Fenomena tersebut belakangan dikenal dengan istilah job-dropping, yaitu keputusan untuk menolak promosi atau memilih posisi dengan tanggung jawab yang lebih ringan demi menjaga keseimbangan hidup. Meski belum menjadi istilah resmi dalam literatur psikologi maupun manajemen sumber daya manusia, job-dropping semakin sering digunakan media untuk menggambarkan perubahan cara sebagian pekerja memaknai kesuksesan dalam karier.

Namun, apakah job-dropping benar-benar mencerminkan berkurangnya ambisi pekerja, atau justru menunjukkan bahwa definisi sukses dalam dunia kerja sedang berubah?

Baca Juga: ‘Career Minimalism’: Tren Gen Z yang Menolak ‘Hustle Culture’

Apa Itu Job-Dropping?

Berbeda dengan quiet quitting, job-dropping berkaitan dengan keputusan yang secara sadar diambil seseorang terhadap arah kariernya. Menurut Gallup dalam artikel Is Quiet Quitting Real?, quiet quitting menggambarkan karyawan yang tetap menjalankan tugas sesuai deskripsi pekerjaannya tanpa mengambil beban tambahan di luar tanggung jawab utama. Sementara itu, job-dropping merujuk pada keputusan untuk tidak mengejar promosi atau memilih posisi dengan tanggung jawab yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan hidup.

Fenomena ini juga tidak sama dengan career plateau, yaitu kondisi ketika perkembangan karier terhambat karena terbatasnya peluang promosi atau pengembangan di dalam organisasi. Jika career plateau umumnya dipengaruhi oleh faktor struktural, job-dropping lebih merupakan keputusan pribadi yang lahir dari pertimbangan mengenai keseimbangan hidup, kesehatan mental, atau prioritas keluarga.

Lalu, apa yang membuat semakin banyak pekerja mulai mempertimbangkan keputusan tersebut?

Baca Juga: ‘Quiet Covering’: Tren Tidak Jadi Diri Sendiri di Tempat Kerja

Mengapa Job-dropping Mulai Muncul?

Fenomena job-dropping tidak muncul begitu saja. Perubahan cara pandang terhadap karier dipengaruhi oleh dinamika dunia kerja yang semakin kompleks, meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, serta bergesernya prioritas hidup banyak pekerja.

Salah satu pemicunya adalah semakin kaburnya batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Kemajuan teknologi memang membuat pekerjaan lebih fleksibel, tetapi juga membuat banyak orang tetap terhubung dengan pekerjaan di luar jam kantor. Dalam situasi seperti ini, promosi tidak lagi dipandang semata sebagai peluang untuk berkembang, melainkan juga sebagai kemungkinan bertambahnya beban dan tanggung jawab.

Selain itu, ukuran kesuksesan dalam bekerja mulai berubah. Dalam laporan 2025 Gen Z and Millennial Survey, Deloitte menemukan bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, kesehatan mental, serta fleksibilitas kerja menjadi faktor penting bagi banyak responden dalam menentukan pilihan karier. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan jabatan bukan lagi satu-satunya pertimbangan ketika seseorang mengevaluasi langkah kariernya.

Perhatian terhadap risiko burnout juga ikut memengaruhi keputusan tersebut. World Health Organization (WHO) melalui dokumen Burn-out an occupational phenomenon: International Classification of Diseases (ICD-11) mendefinisikan burnout sebagai sindrom akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Kondisi ini ditandai dengan kelelahan berkepanjangan, meningkatnya sikap sinis terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas kerja.

Meski demikian, job-dropping tidak berarti setiap orang harus menolak promosi. Fenomena ini lebih menunjukkan bahwa sebagian pekerja kini mempertimbangkan lebih banyak faktor sebelum mengambil keputusan karier, termasuk kesehatan, keluarga, dan kualitas hidup, selain peluang memperoleh jabatan atau penghasilan yang lebih tinggi.

Apa yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Menolak Promosi Jabatan?

Meski job-dropping semakin sering dibicarakan, bukan berarti menolak promosi adalah keputusan yang tepat bagi semua orang. Setiap pilihan karier memiliki konsekuensi yang berbeda, sehingga penting untuk mempertimbangkan kondisi pribadi sebelum mengambil keputusan.

Dari sisi individu, menolak promosi dapat membantu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, terutama jika tanggung jawab baru berpotensi meningkatkan tekanan kerja. Namun, keputusan tersebut juga dapat memengaruhi peluang peningkatan pendapatan, pengembangan kompetensi, hingga kesempatan memegang peran strategis di masa depan.

Di sisi lain, fenomena ini menjadi sinyal bagi perusahaan bahwa ekspektasi karyawan mulai berubah. Dalam laporan Deloitte menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja, kesehatan mental, dan peluang pengembangan diri menjadi faktor yang semakin diperhatikan pekerja. Temuan ini mengisyaratkan bahwa mempertahankan talenta tidak cukup hanya melalui promosi atau kenaikan gaji, tetapi juga dengan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan karyawan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah promosi selalu baik atau buruk, melainkan apakah langkah tersebut benar-benar sesuai dengan tujuan karier, kondisi finansial, dan kebutuhan hidup seseorang. Pada akhirnya, keputusan yang tepat akan berbeda bagi setiap individu.

Baca Juga: Di Balik Rangkap Jabatan Pemerintah, Ada Gen Z yang Jadi Pengangguran Tetap

Job-Dropping dan Perubahan Makna Kesuksesan dalam Karier

Fenomena job-dropping menunjukkan bahwa cara orang memaknai kesuksesan dalam bekerja terus berubah. Jika dulu promosi hampir selalu dianggap sebagai tujuan utama, kini sebagian pekerja mulai mempertimbangkan keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan waktu bersama keluarga sebagai bagian dari pencapaian karier.

Namun, perubahan ini bukan berarti promosi kehilangan nilainya. Bagi banyak orang, kenaikan jabatan tetap menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, memperluas tanggung jawab, dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Di sisi lain, ada pula yang merasa pilihan terbaik adalah tetap berada di posisi yang memungkinkan mereka bekerja secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas hidup.

Karena itu, job-dropping sebaiknya dipahami sebagai salah satu respons terhadap perubahan dunia kerja, bukan sebagai tren yang harus diikuti semua orang. Keputusan menerima atau menolak promosi tetap bergantung pada tujuan karier, kondisi finansial, serta prioritas hidup masing-masing individu.

Pada akhirnya, job-dropping bukan tentang berani menolak promosi, melainkan tentang berani menentukan seperti apa kesuksesan yang ingin dijalani. Di tengah dunia kerja yang terus berubah, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi “Seberapa tinggi jabatan yang ingin saya capai?”, tetapi “Karier seperti apa yang benar-benar saya inginkan?”

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Job-dropping: Alasan Sebagian Pekerja Menolak Promosi Jabatan Read More