‘Fake Productivity’ di Tempat Kerja: Saat Terlihat Sibuk Jadi Ukuran Produktivitas
Pernah merasa harus terus terlihat sibuk di tempat kerja meski pekerjaan utama sebenarnya sudah selesai? Misalnya, sengaja tetap membuka laptop, cepat membalas setiap pesan, atau mengikuti banyak meeting agar tidak dianggap sedang bermalas-malasan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai fake productivity atau productivity theater, ketika seseorang terlihat aktif bekerja tetapi aktivitasnya belum tentu menghasilkan kemajuan atau dampak nyata.
Dikutip dari Forbes, survei Software Finder terhadap 1.003 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat menemukan 80 persen pekerja Gen Z mengaku pernah berpura-pura produktif saat bekerja.
Data yang dipublikasikan Software Finder menunjukkan perilaku tersebut tidak hanya terjadi pada Gen Z. Sebanyak 66 persen pekerja yang disurvei mengaku tetap terlihat aktif setelah pekerjaan sebenarnya selesai. Rata-rata pekerja yang melakukan fake productivity menghabiskan hampir lima jam setiap minggu untuk mempertahankan kesan produktif.
Artinya, persoalannya tidak sesederhana pekerja muda yang malas. Justru, fenomena ini memperlihatkan bagaimana budaya kerja dapat membuat terlihat sibuk terasa sama pentingnya dengan menghasilkan pekerjaan.
Baca Juga: ‘Career Minimalism’: Tren Gen Z yang Menolak ‘Hustle Culture’
Gen Z dan Budaya Kerja yang Terlihat Sibuk
Gen Z, yang lahir antara 1997 dan 2012, memasuki dunia kerja setelah menyaksikan berbagai persoalan yang dialami generasi sebelumnya. Mereka melihat budaya hustle, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga kelelahan akibat bekerja berlebihan atau burnout.
Pengalaman tersebut turut membentuk cara generasi ini memandang pekerjaan. Bekerja keras tidak selalu berarti bekerja tanpa batas. Pertanyaan yang muncul kemudian bukan hanya berapa lama seseorang bekerja, tetapi apakah waktu dan energi tersebut benar-benar menghasilkan sesuatu.
Namun, lingkungan kerja dapat membuat pertanyaan tersebut sulit diterapkan. Ketika karyawan merasa harus selalu terlihat aktif agar dianggap berkinerja baik, mereka bisa terdorong melakukan aktivitas yang menunjukkan kesibukan meski tidak banyak berkontribusi terhadap pekerjaan utama.
Fenomena productivity theater sendiri bukan hal baru. Fast Company dalam artikel How to tell if your team is participating in ‘productivity theater’ menggambarkannya sebagai pekerjaan performatif yang lebih mengutamakan aktivitas yang terlihat daripada pekerjaan yang menghasilkan dampak nyata. Contohnya termasuk terlalu banyak berada di email, menghadiri meeting yang tidak diperlukan, dan melakukan riset berlebihan.
Baca Juga: Micro-retirement: Jeda Kerja yang Makin Dilirik Gen Z
Ciri-Ciri Fake Productivity di Tempat Kerja
Fake productivity bisa sulit dikenali karena dari luar seseorang memang terlihat bekerja keras. Ia bisa selalu hadir dalam meeting, cepat membalas pesan, atau menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor.
Persoalannya bukan pada satu aktivitas tertentu, melainkan pada kesenjangan antara aktivitas yang dilakukan dan hasil yang dihasilkan.
- Kalender Penuh Meeting, tetapi Minim Keputusan
Meeting dibutuhkan untuk berdiskusi, menyamakan persepsi, memecahkan masalah, atau mengambil keputusan. Namun, rapat yang memenuhi sebagian besar hari kerja tidak otomatis membuat seseorang produktif.
Jika meeting berakhir tanpa keputusan, pembagian tugas, atau langkah konkret, waktu yang dihabiskan belum tentu membuat pekerjaan bergerak maju.
Kalender yang penuh juga dapat mengurangi waktu untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi. Seseorang akhirnya sibuk berpindah dari satu rapat ke rapat lain, sementara pekerjaan utamanya belum tersentuh.
- Selalu Online dan Cepat Membalas Pesan
Selalu terlihat online dan cepat membalas WhatsApp, atau email memang memberikan kesan responsif. Namun, respons cepat tidak otomatis berarti pekerjaan selesai dengan baik.
Dikutip dari Hasel, FlowLight & FlowTeams – Fostering Productive Work in Hybrid Workplacesm, notifikasi yang terus masuk juga dapat mengganggu pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi.
Penelitian tentang interupsi di tempat kerja menunjukkan bahwa gangguan dapat mengurangi waktu fokus; studi lapangan University of Zurich terhadap 449 partisipan menemukan pengurangan interupsi berkaitan dengan peningkatan perasaan produktif.
Karena itu, seseorang bisa merasa sibuk sepanjang hari karena terus berkomunikasi, sementara pekerjaan yang membutuhkan fokus justru berjalan lambat.
- Terlihat Sibuk, tetapi Tidak Punya Prioritas Jelas
Seseorang dapat membuka banyak dokumen, mengurus berbagai permintaan, mengikuti sejumlah diskusi, dan membalas puluhan pesan. Namun, ketika ditanya pekerjaan apa yang paling penting untuk diselesaikan, jawabannya belum tentu jelas.
Kondisi tersebut dapat terjadi ketika semua pekerjaan dianggap mendesak. Tugas kecil yang mudah diselesaikan akhirnya mengambil sebagian besar waktu karena memberikan rasa telah menghasilkan sesuatu.
Satu email selesai dibalas, satu dokumen dirapikan, satu notifikasi ditangani. Ada rasa sudah bekerja, tetapi pekerjaan yang memiliki dampak lebih besar masih tertunda.
- Banyak Aktivitas, Sedikit Output
Ciri paling penting fake productivity adalah kesenjangan antara aktivitas dan hasil.
Seseorang mungkin menghabiskan waktu untuk riset, diskusi, menyusun draf, dan membuat laporan progres. Namun, setelah beberapa hari atau minggu, proyek masih berada di tahap yang sama.
Bukan berarti semua proses tersebut sia-sia. Pekerjaan kompleks memang membutuhkan waktu. Yang perlu diperhatikan adalah apakah aktivitas yang dilakukan membawa pekerjaan lebih dekat pada tujuan.
Jika tidak, seseorang bisa terjebak dalam busywork, yaitu pekerjaan yang menyita waktu tetapi kontribusinya terhadap hasil akhir relatif kecil.
- Sengaja Memperpanjang Pekerjaan
Fake productivity juga dapat muncul ketika pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan lebih cepat sengaja dibuat seolah membutuhkan waktu lebih lama.
Hal tersebut dapat terjadi karena menyelesaikan pekerjaan terlalu cepat justru membuat seseorang khawatir terlihat tidak memiliki cukup beban kerja.
Dalam kondisi seperti ini, efisiensi malah menjadi sesuatu yang perlu disembunyikan. Pekerja mencari aktivitas tambahan agar tetap terlihat memiliki pekerjaan.
Baca Juga: Sibuk Tapi Tidak Sehat: Mengenali Tanda Kantor Toksik dan Cara Menyelamatkan Diri
Cara Menghentikan Siklus Fake Productivity
Mengurangi fake productivity bukan berarti meminta karyawan bekerja lebih lama. Justru, perusahaan perlu mengurangi kebutuhan untuk terus menunjukkan kesibukan dan kembali berfokus pada hasil.
- Fokus pada Hasil, Bukan Kesibukan
Pertanyaan “Hari ini sibuk apa?” secara tidak langsung dapat menjadikan kesibukan sebagai ukuran produktivitas.
Pertanyaan seperti “Apa yang berhasil kamu selesaikan hari ini?” atau “Apa progres paling penting minggu ini?” lebih mengarahkan pembicaraan pada hasil.
Seorang content writer, misalnya, tidak perlu membuktikan produktivitas dengan duduk delapan jam di depan laptop. Yang lebih relevan adalah apakah artikel selesai sesuai brief, memenuhi standar kualitas, dan dikumpulkan sesuai tenggat.
- Tentukan Prioritas Sebelum Memenuhi Kalender
Kalender yang padat tidak selalu menunjukkan produktivitas. Menentukan satu sampai tiga prioritas utama sebelum mengisi hari dengan meeting, email, dan pekerjaan administratif dapat membantu menjaga fokus.
Pertanyaannya sederhana: jika hanya satu pekerjaan yang berhasil diselesaikan hari itu, mana yang paling memberikan dampak?
Dengan prioritas yang jelas, pekerjaan kecil tidak mudah mengambil waktu dari pekerjaan yang lebih penting.
- Kurangi Meeting yang Tidak Punya Tujuan
Tidak semua meeting harus dihilangkan. Namun, setiap rapat sebaiknya memiliki tujuan yang jelas.
Sebelum mengadakan meeting, tim dapat mempertanyakan apakah rapat tersebut benar-benar membutuhkan diskusi bersama, keputusan, atau pemecahan masalah. Jika informasi bisa disampaikan melalui email atau dokumen singkat, rapat mungkin tidak diperlukan.
Meeting yang efektif setidaknya menghasilkan keputusan atau langkah yang dapat ditindaklanjuti.
- Berikan Ruang untuk Deep Work
Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi sulit diselesaikan ketika karyawan terus menerima notifikasi, pesan, dan undangan meeting.
Karena itu, pekerja membutuhkan waktu tanpa gangguan untuk menyelesaikan pekerjaan kompleks. Tim dapat menetapkan waktu tertentu tanpa meeting, sementara karyawan mematikan notifikasi ketika membutuhkan konsentrasi.
Tidak langsung membalas pesan juga tidak seharusnya otomatis dianggap sebagai tanda seseorang tidak bekerja.
- Jangan Jadikan Status Online sebagai Ukuran Kinerja
Status online, active, atau available sebaiknya tidak menjadi indikator utama produktivitas.
Seseorang bisa terlihat aktif selama delapan jam tetapi tidak menyelesaikan pekerjaan penting. Sebaliknya, seseorang yang mematikan notifikasi selama dua jam mungkin sedang menyelesaikan tugas yang paling strategis hari itu.
Fast Company juga mencatat bahwa productivity theater dapat muncul ketika aktivitas yang mudah terlihat seperti membalas pesan atau menghadiri meeting, lebih dihargai daripada pekerjaan yang benar-benar menghasilkan dampak.
- Nilai Karyawan dari Outcome
Perusahaan perlu melihat kembali cara mengevaluasi kinerja. Jika karyawan yang paling lama berada di kantor atau paling sering terlihat online mendapat apresiasi lebih besar, sistem tersebut secara tidak langsung mendorong presenteeism.
Penilaian dapat diarahkan pada pencapaian target, kualitas pekerjaan, kemampuan menyelesaikan masalah, kontribusi terhadap tim, pemenuhan tenggat, dan perkembangan kompetensi.
Dengan begitu, produktivitas tidak lagi diukur dari seberapa sibuk seseorang terlihat, tetapi dari kontribusinya terhadap tujuan pekerjaan.
- Bangun Kepercayaan
Micromanagement dapat memperkuat fake productivity. Ketika setiap aktivitas harus dilaporkan dan setiap jam harus dapat dijelaskan, pekerja akan merasa perlu terus membuktikan bahwa dirinya sedang bekerja.
Artikel Forbes, How Workplace Productivity Theater Is Quietly Killing Innovation, juga menunjukkan tekanan untuk terlihat sibuk dapat muncul ketika perusahaan masih membayar dan menilai pekerja berdasarkan waktu atau aktivitas yang terlihat, bukan hasil.
Karena itu, atasan tetap bisa menetapkan target dan melakukan evaluasi tanpa mengawasi setiap menit kerja.
Pada akhirnya, terlihat sibuk tidak selalu berarti pekerjaan benar-benar berjalan. Mengurangi meeting yang tidak perlu, membatasi gangguan, dan fokus pada pekerjaan yang penting bisa jadi lebih berarti daripada terus terlihat aktif.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.
‘Fake Productivity’ di Tempat Kerja: Saat Terlihat Sibuk Jadi Ukuran Produktivitas Read More
