‘Doomjobbing’: Ketika Terlalu Sering Cari Kerja Justru Memicu ‘Burnout’
Di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif, banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari menelusuri portal lowongan, menekan tombol easy apply, hingga terus-menerus nge-refresh halaman pencarian kerja. Alih-alih merasa semakin dekat dengan pekerjaan impian, sebagian justru diliputi kecemasan karena lamaran tak kunjung mendapat respons.
Perasaan tersebut muncul di tengah kondisi pasar kerja yang memang penuh tantangan. Laporan Employ, 2025 Job Seeker Nation Report menunjukkan optimisme pencari kerja mulai menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Meski lebih dari setengah responden masih yakin akan mendapat panggilan wawancara, hanya 44 persen yang menilai pasar kerja saat ini relatif mudah.
Di sisi lain, lebih dari dua pertiga responden memperkirakan mereka baru akan mendapatkan pekerjaan setelah mengirim maksimal 10 lamaran, sementara 66 persen mengaku mengalami burnout selama proses mencari kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa pencarian kerja kini tidak hanya memerlukan waktu lebih lama, tetapi juga dapat menjadi pengalaman yang melelahkan secara emosional.
Di tengah situasi tersebut, muncul istilah doomjobbing. Istilah ini menggabungkan doomscrolling, kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif di internet, dengan job hunting. Seseorang yang mengalami doomjobbing terus mencari dan melamar pekerjaan bukan lagi karena memiliki strategi yang terencana, melainkan karena rasa cemas dan takut kehilangan peluang.
Dikutip dari Forbes, Doomjobbing’ Is The New Doomscrolling Quietly Derailing Careers, menurut Bryan Robinson, psikolog sekaligus kontributor Forbes, doomjobbing merupakan versi karier dari doomscrolling. Seseorang mungkin tampak produktif karena terus mengirim lamaran, tetapi aktivitas tersebut belum tentu meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan jika dilakukan tanpa strategi yang jelas.
Dalam artikel yang sama, Robinson mengutip Dan Kejsefman, Talent Director di Avature, yang menjelaskan bahwa rasa mendesak setelah kehilangan pekerjaan atau menghadapi ketidakpastian karier memang merupakan respons yang wajar. Namun, ketika dorongan tersebut berubah menjadi kebiasaan mencari kerja tanpa henti, pencari kerja berisiko terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai “ilusi kemajuan”, terus merasa sibuk, tetapi tidak benar-benar bergerak lebih dekat ke pekerjaan yang diinginkan.
Berbeda dengan proses job hunting yang terencana, doomjobbing tidak memiliki batas yang jelas. Dalam pencarian kerja yang sehat, seseorang biasanya menentukan posisi yang sesuai, menyesuaikan CV dan surat lamaran, lalu menunggu proses rekrutmen sambil menjalankan aktivitas lain. Sebaliknya, doomjobbing membuat seseorang merasa harus terus memantau lowongan baru dan mengirim lamaran setiap saat karena khawatir melewatkan kesempatan.
Baca Juga: Career Gap di CV Bisa Jadi Red Flag?
Mengapa Doomjobbing Semakin Marak?
Fenomena doomjobbing enggak muncul begitu saja. Perubahan kondisi ekonomi, meningkatnya persaingan di pasar kerja, hingga perkembangan teknologi membuat proses mencari pekerjaan terasa semakin kompleks. Laporan Employ, 2025 Job Seeker Nation Report mencatat bahwa hanya 44 persen responden yang menilai mencari pekerjaan saat ini tergolong mudah, turun dibandingkan tahun sebelumnya. Di saat yang sama, kepercayaan diri untuk memperoleh pekerjaan dalam waktu tiga bulan juga ikut menurun.
Meski demikian, ekspektasi pencari kerja masih tergolong tinggi. Laporan yang sama menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga responden (70 persen) memperkirakan mereka akan mendapatkan pekerjaan setelah mengirim maksimal 10 lamaran. Ketika harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, proses pencarian kerja dapat terasa semakin melelahkan dan memicu dorongan untuk terus membuka portal lowongan atau mengirim lamaran baru.
Bryan Robinson dalam artikel Forbes menjelaskan bahwa kondisi tersebut menjadi salah satu latar munculnya doomjobbing. Ia menilai ketidakpastian ekonomi, gelombang pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor, serta persaingan yang semakin ketat membuat sebagian pencari kerja merasa harus terus bergerak agar tidak kehilangan peluang.
Dalam artikel yang sama, Dan Kejsefman, Talent Director di Avature, mengatakan bahwa dorongan untuk terus mencari pekerjaan memang dapat dipahami, terutama setelah seseorang kehilangan pekerjaan atau menghadapi ketidakpastian karier. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan tanpa strategi yang jelas, pencari kerja berisiko terjebak dalam “ilusi kemajuan”, terus merasa produktif karena mengirim banyak lamaran, padahal peluangnya belum tentu meningkat.
Perubahan teknologi juga turut memengaruhi cara orang memandang pasar kerja. Dalam 2025 Job Seeker Nation Report, 81 persen responden mengatakan mereka perlu mempelajari teknologi baru, termasuk AI, agar tetap kompetitif, sementara 89 persen percaya bahwa menutup kesenjangan keterampilan (skills gap) dapat meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan.
Di sisi lain, AI mulai menjadi bagian dari proses rekrutmen. Laporan Employ menunjukkan bahwa 56 persen responden merasa nyaman jika AI digunakan untuk meninjau CV, meski mayoritas masih lebih mempercayai staf HR dibandingkan AI untuk membimbing mereka selama proses rekrutmen.
Kombinasi antara pasar kerja yang semakin kompetitif, ekspektasi yang tinggi, serta perubahan teknologi inilah yang membuat sebagian orang merasa harus terus mencari peluang baru. Dalam kondisi tersebut, batas antara proses job hunting yang terencana dan doomjobbing menjadi semakin tipis.
Baca Juga: Job-dropping: Alasan Sebagian Pekerja Menolak Promosi Jabatan
Dampak Doomjobbing terhadap Kesehatan Mental
Proses mencari pekerjaan memang dapat menguras waktu dan energi. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan tanpa jeda dan didorong oleh rasa cemas, dampaknya tidak hanya terasa pada produktivitas, tetapi juga kesejahteraan psikologis pencari kerja.
Salah satu temuan yang memperkuat kondisi tersebut berasal dari Employ, 2025 Job Seeker Nation Report. Laporan itu menunjukkan bahwa 66 persen responden mengaku mengalami burnout selama mencari pekerjaan. Temuan ini tidak secara khusus mengukur doomjobbing, tetapi menggambarkan bahwa proses pencarian kerja yang berkepanjangan dapat menjadi pengalaman yang melelahkan bagi banyak orang.
Bryan Robinson menjelaskan bahwa doomjobbing membuat seseorang merasa harus terus mencari peluang baru, meski telah mengirim banyak lamaran. Akibatnya, pencari kerja terus membuka portal lowongan, memantau email, atau memperbarui CV karena khawatir ada kesempatan yang terlewat. Menurut Robinson, kebiasaan tersebut dapat menciptakan kesan seolah-olah seseorang terus membuat kemajuan, padahal aktivitas yang dilakukan sering kali hanya berulang tanpa strategi yang berbeda.
Pandangan serupa juga muncul dalam artikel The Guardian, Doomjobbing: how the modern job hunt became a vicious loop. Artikel tersebut menggambarkan doomjobbing sebagai siklus yang terus berulang: membuka portal lowongan, mengirim lamaran, menunggu balasan, lalu kembali mencari pekerjaan ketika respons tak kunjung datang. Siklus tersebut dapat memicu frustrasi karena pencari kerja merasa selalu sibuk, tetapi sulit melihat hasil yang nyata.
Tekanan tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi pasar kerja yang penuh ketidakpastian. Dalam Employ, 2025 Job Seeker Nation Report, hanya 44 persen responden yang menilai mencari pekerjaan saat ini relatif mudah, sementara optimisme untuk mendapatkan pekerjaan dalam waktu singkat juga menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Ketika proses rekrutmen berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, sebagian pencari kerja terdorong untuk terus meningkatkan intensitas pencarian kerja sebagai respons terhadap ketidakpastian tersebut.
Meski demikian, para pakar menekankan bahwa banyaknya lamaran yang dikirim tidak selalu berbanding lurus dengan peluang diterima bekerja. Karena itu, doomjobbing dipandang bukan sebagai strategi pencarian kerja yang efektif, melainkan sebagai respons terhadap tekanan dan kecemasan yang muncul selama proses mencari pekerjaan.
Baca Juga: Lamaran Kerja Ditolak, Siapa Bertindak: 9 Tanda Wawancaramu Gagal
Cara Menghindari Doomjobbing Tanpa Mengorbankan Peluang Karier
Meski istilah doomjobbing masih tergolong baru, bukan berarti pencari kerja harus berhenti mencari peluang. Sejumlah pakar justru menekankan bahwa proses mencari kerja akan lebih efektif jika dilakukan secara terencana, dengan target yang realistis dan strategi yang jelas.
Bryan Robinson menyarankan agar pencari kerja mengubah fokus dari kuantitas menjadi kualitas. Alih-alih mengirim puluhan lamaran setiap hari, ia mendorong pencari kerja untuk lebih selektif memilih posisi yang sesuai dengan pengalaman, keterampilan, dan tujuan karier. Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan terus-menerus melamar pekerjaan tanpa menyesuaikan CV atau surat lamaran dengan kebutuhan setiap perusahaan.
Pandangan serupa disampaikan Peter Duris, CEO dan Co-founder Kickresume. Menurutnya, mengirim lamaran secara massal sering kali hanya menciptakan kesan produktif tanpa benar-benar meningkatkan peluang diterima bekerja. Sebaliknya, menyesuaikan dokumen lamaran untuk setiap posisi dapat membantu pelamar menunjukkan kompetensi yang paling relevan dengan kebutuhan perusahaan.
Selain strategi melamar, para pakar juga menyoroti pentingnya memberi batas pada aktivitas mencari kerja. Robinson menyarankan pencari kerja menetapkan waktu khusus untuk menelusuri lowongan atau mengirim lamaran, alih-alih memantau portal kerja sepanjang hari. Cara ini membantu menjaga keseimbangan antara upaya mencari pekerjaan dan waktu untuk beristirahat.
Temuan dalam Employ, 2025 Job Seeker Nation Report juga menunjukkan bahwa pencari kerja semakin menyadari pentingnya mengembangkan keterampilan. Sebanyak 89 persen responden percaya bahwa menutup kesenjangan keterampilan (skills gap) dapat meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan, sementara 81 persen menilai mempelajari teknologi baru, termasuk AI, menjadi langkah penting agar tetap kompetitif di pasar kerja.
Pada akhirnya, doomjobbing menunjukkan bahwa tantangan mencari pekerjaan saat ini enggak hanya terletak pada banyaknya lowongan yang tersedia, tetapi juga pada cara seseorang merespons ketidakpastian di pasar kerja.
Terus-menerus mencari pekerjaan belum tentu membuat peluang diterima semakin besar. Sebaliknya, membangun strategi pencarian kerja yang terarah, terus mengembangkan keterampilan, serta memberi ruang untuk beristirahat dapat membantu pencari kerja menjalani proses tersebut secara lebih berkelanjutan tanpa mengorbankan kesehatan mental.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.
‘Doomjobbing’: Ketika Terlalu Sering Cari Kerja Justru Memicu ‘Burnout’ Read More
