‘Gaslighting’ di Kantor: Saat Rekan Kerja Bikin Kamu Ragu pada Diri Sendiri

gaslighting di kantor

Bayangkan kamu sudah yakin tugasmu selesai dengan benar, tapi rekan kerja malah bersikeras kamu belum mengerjakannya. Lalu mengatakannya dengan sangat meyakinkan. Lama-lama, kamu mulai ragu pada diri sendiri dan bertanya, “Jangan-jangan aku yang salah?”

Di titik inilah gaslighting mulai bekerja. Cleveland Clinic menekankan gaslighting sering muncul secara halus karena tujuannya memang membuat korban bingung dan terus menebak dirinya sendiri. Kita bahkan bisa konstran mempertanyakan kewarasan, kemampuan mengambil keputusan, sampai rasa percaya terhadap realitas sendiri.

Harvard Business Review juga menyoroti hal serupa dalam artikel How to Intervene When a Manager Is Gaslighting Their Employees, yang menyebut gaslighting di tempat kerja sebagai perilaku ketika satu hal jelas terjadi, tetapi pelaku mencoba meyakinkan korban kalau kejadian itu tidak benar.

Pola gaslighting biasanya terlihat dari penyangkalan fakta, pembalikan cerita, menyalahkan korban, atau meremehkan emosi orang lain. Dampaknya bukan cuma bikin tidak nyaman, tapi juga bisa menggerus kepercayaan diri, kesehatan mental, dan performa kerja.

Dalam podcast Harvard Business Review Gaslighting at Work—and What to Do About It, Mita Mallick menjelaskan gaslighting dapat merusak well-being, performa individu, bahkan organisasi secara keseluruhan. Cleveland Clinic juga mencatat perilaku ini membuat seseorang terus-menerus meragukan keputusan dan penilaiannya sendiri. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi perlahan dapat mengikis rasa aman dan kepercayaan diri di lingkungan kerja.

Yang membuat gaslighting sulit dikenali adalah pelakunya sering terlihat “normal” di depan orang lain. Mereka bisa tampak profesional, ramah, bahkan meyakinkan, sementara di belakang layar justru memelintir fakta. Akibatnya, korban sering merasa sendirian dan bingung apakah yang mereka alami benar terjadi atau tidak. Cleveland Clinic menjelaskan gaslighting memang kerap berlangsung secara subtil, sedangkan Harvard Business Review menyoroti perilaku ini sering datang dari atasan atau rekan kerja yang menyangkal kejadian yang sebenarnya baru saja terjadi.

Fenomena ini juga cukup sering muncul di lingkungan kerja karena dunia profesional dipenuhi tekanan, target, dan kompetisi. Dalam situasi seperti itu, sebagian orang memilih memakai manipulasi untuk terlihat lebih unggul, mempertahankan posisi, atau mengontrol situasi di sekitarnya.

Harvard Business Review dalam artikel How to Intervene When a Manager Is Gaslighting Their Employees menyoroti peran besar relasi kuasa, sementara SHRM dalam artikel Gaslighting in the Workplace menempatkan gaslighting sebagai perilaku yang terkait dengan dinamika tidak sehat di lingkungan kerja. Saat ada jarak kuasa antara senior dan junior, atau ketika budaya kerja membiarkan perilaku buruk lewat tanpa konsekuensi, gaslighting jadi lebih mudah bertahan.

Baca Juga: Bos Red Flag Bikin Stres? Ini Strategi Bertahan di Tempat Kerja

Ciri-ciri Gaslighting dari Rekan Kerja

Mengenali gaslighting di tempat kerja memang tidak selalu mudah karena perilakunya sering dibungkus dalam komunikasi yang tampak normal, sopan, bahkan profesional. Namun, kalau diperhatikan lebih dekat, ada pola yang terus berulang dan perlahan membuat seseorang meragukan dirinya sendiri. Menurut Cleveland Clinic lewat artikel Gaslighting: Definition & How To Spot It dan Psychology Today lewat 7 Signs of Gaslighting at the Workplace, gaslighting bukan soal satu kejadian besar, melainkan rangkaian perilaku manipulatif yang terus mengikis rasa percaya diri dan persepsi korban.

Salah satu tanda paling umum terlihat dari cara bicara yang terdengar sepele, tetapi sebenarnya menjatuhkan. Kalimat seperti “Kamu salah ingat,” “Kamu terlalu sensitif,” atau “Yakin itu yang terjadi?” mungkin terdengar ringan di permukaan. Namun, kalau terus diulang, dampaknya bisa besar karena seseorang mulai meragukan ingatan dan penilaiannya sendiri. Cleveland Clinic dalam artikel Gaslighting: Definition & How To Spot It menjelaskan gaslighting membuat orang mempertanyakan keputusan, ingatan, dan realitas yang mereka alami.

Perilaku manipulatif ini juga dapat muncul lewat sikap non-verbal. Misalnya, rekan kerja yang sering memotong pembicaraan, mengabaikan pendapat saat rapat, pura-pura lupa kontribusi orang lain, atau menunjukkan ekspresi meremehkan ketika seseorang bicara. Harvard Business Review dalam artikel How to Intervene When a Manager Is Gaslighting Their Employees menyoroti gaslighting di kantor sering bekerja lewat penyangkalan yang konsisten, sementara SHRM dalam artikel Gaslighting in the Workplace menjelaskan perilaku ini merupakan bentuk bullying yang membuat target meragukan dirinya sendiri.

Saat tekanan verbal dan non-verbal berjalan bersamaan, efeknya bisa terasa makin kuat. Korban mungkin tidak langsung sadar sedang dimanipulasi, tetapi perlahan merasa kecil, tidak aman, dan serba salah di lingkungan kerja. Karena itu, gaslighting sering terasa seperti tekanan psikologis yang halus, bukan serangan terang-terangan.

Gaslighting juga bukan perilaku acak karena biasanya muncul dalam pola yang terus berulang. Salah satu yang paling sering terjadi adalah memutarbalikkan fakta. Seseorang mungkin merasa sudah bekerja sesuai arahan, tetapi rekan kerja tetap mengatakan instruksi tidak dijalankan. Bahkan ketika ada bukti, pelaku tetap menyangkal dengan percaya diri. Psychology Today dalam artikel How to Deal With Gaslighting From Your Boss menjelaskan gaslighting di tempat kerja memang dirancang untuk menanamkan keraguan terhadap persepsi dan ingatan korban.

Pola lain yang cukup sering muncul adalah blame shifting, yaitu memindahkan kesalahan ke orang lain. Ketika mereka melakukan kesalahan, justru orang lain yang dibuat terlihat bertanggung jawab. Misalnya, mereka terlambat mengirim data, tetapi kamu yang dianggap kurang follow up. SHRM dan Harvard Business Review sama-sama menekankan gaslighting sering berkaitan dengan upaya mempertahankan kuasa dan menghindari tanggung jawab.

Ada juga taktik playing victim, yaitu ketika pelaku tiba-tiba memosisikan diri sebagai korban saat diajak klarifikasi. Kalimat seperti “Aku cuma bercanda, kok kamu terlalu agresif?” atau “Aku merasa kamu enggak menghargai aku” sering dipakai untuk membalik keadaan supaya lawan bicara merasa bersalah dan berhenti speak up. Pola ini selaras dengan penjelasan Psychology Today dalam artikel 7 Signs of Gaslighting at the Workplace, yang menyoroti bagaimana pelaku sering meremehkan, membelokkan, atau mengacaukan percakapan agar korban kehilangan pijakan.

Manipulasi juga sering muncul lewat informasi yang tidak konsisten. Hari ini seseorang mengatakan A, lalu besok menyangkal pernah mengatakannya. Ketika diingatkan, korban justru dibuat terlihat seperti orang yang salah ingat. Menurut Cleveland Clinic lewat Gaslighting: Definition & How To Spot It, pola seperti ini memang tipikal karena tujuan utamanya membuat korban terus mempertanyakan realitasnya sendiri.

Dalam situasi yang lebih ekstrem, gaslighting bahkan dapat mengarah pada isolasi sosial. Pelaku mungkin sengaja tidak mengajak seseorang dalam diskusi penting, membangun narasi negatif di depan rekan kerja lain, atau perlahan menjauhkan korban dari jaringan kerja yang mendukung. SHRM dalam Gaslighting in the Workplace dan Psychology Today dalam berbagai pembahasannya tentang workplace gaslighting menempatkan isolasi serta perusakan rasa percaya diri sebagai bagian dari pola manipulasi yang serius.

Red Flags yang Sering Diabaikan

Banyak orang baru sadar mengalami gaslighting setelah kondisinya cukup berat. Padahal, tanda awal sering muncul lebih dulu, misalnya merasa bingung setiap selesai berbicara dengan orang tertentu atau merasa harus mengecek ulang semua hal karena takut salah. Cleveland Clinic mencatat gaslighting sering membuat seseorang sulit mempercayai keputusan dan penilaiannya sendiri.

Tanda lain yang sering muncul adalah rasa lelah emosional setelah berinteraksi dengan rekan kerja tertentu. Ini bukan sekadar lelah bekerja biasa, tetapi kelelahan mental karena terus-menerus dipertanyakan, dikecilkan, atau dibuat ragu. Psychology Today dalam artikel 2 Clear Signs of Workplace Gaslighting menyebut salah satu ciri pentingnya adalah ketika concern seseorang terus dianggap sepele hingga mereka mulai merasa buruk tentang dirinya sendiri.

Dampaknya juga bisa membuat rasa percaya diri perlahan menghilang. Hal-hal yang dulu terasa jelas mulai tampak abu-abu, bahkan keputusan kecil pun terasa berat karena takut salah. Dalam artikel 2 Signs Your Boss Might Be Gaslighting You at Work, Psychology Today menyoroti workplace gaslighting dapat mengikis rasa percaya diri dan membuat seseorang mengalami emotional exhaustion.

Red flag yang paling sering tidak disadari adalah ketika kamu mulai mencari validasi dari orang lain untuk hal-hal yang sebenarnya sudah kamu tahu jawabannya. Saat itu terjadi, kompas internalmu mulai bergeser, dan kamu jadi terlalu bergantung pada pendapat eksternal.

Baca Juga: Mulai dari Makna Pemberdayaan hingga Eksploitasi, Kompleksnya Istilah ‘Girlboss’

Cara Merespons Gaslighting Secara Profesional

Saat menghadapi gaslighting di kantor, hal pertama yang penting dilakukan adalah tidak langsung terpancing emosi. Cleveland Clinic dalam artikel Gaslighting: Definition & How To Spot It menjelaskan gaslighting dapat membuat seseorang meragukan keputusan dan penilaiannya sendiri. Karena itu, respons terbaik justru dimulai dari tetap tenang dan berpijak pada fakta. Biasakan mengecek ulang apa yang terjadi, menulis kronologi singkat setelah meeting, dan mempercayai intuisi ketika merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Langkah berikutnya adalah membuat jejak tertulis. Harvard Business Review dalam artikel How to Intervene When a Manager Is Gaslighting Their Employees dan HBR Store dalam Ask an Expert: How Do I Deal with Upward Bullying as a New Manager? menekankan pentingnya dokumentasi dan bukti tertulis saat menghadapi perilaku manipulatif di kantor. Karena itu, simpan email, chat, dan catatan rapat, lalu biasakan mengirim follow-up singkat setelah diskusi penting supaya semua pihak memiliki referensi yang jelas.

Selain itu, penting juga menetapkan batas komunikasi yang sehat. Mayo Clinic dalam artikel Being assertive: Reduce stress, communicate better menjelaskan sikap asertif membantu seseorang menyampaikan pendapat secara tegas sambil tetap menghormati orang lain. Dalam praktiknya, percakapan bisa diarahkan ke jalur formal dengan kalimat seperti, “Berdasarkan catatan saya, yang terjadi berbeda,” tanpa perlu masuk ke perdebatan emosional.

Merespons gaslighting secara profesional bukan berarti bersikap pasif. Justru, ini adalah cara untuk menjaga diri sambil tetap terlihat tenang, tegas, dan berbasis fakta di lingkungan kerja.

Website | + posts

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.

About Kevin Seftian

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.

View all posts by Kevin Seftian →